cover
Contact Name
Gurid Pramintarto Eko Mulyo
Contact Email
gurid@staff.poltekkesbandung.ac.id
Phone
+6281399091484
Journal Mail Official
jurnal.siliwangi@poltekkesbandung.ac.id
Editorial Address
Direktorat Politenik Kesehatan Kemenkes Bandung Jl.Pajajaran No 56 Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Siliwangi
ISSN : -     EISSN : 28071530     DOI : https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1671
Jurnal Kesehatan Siliwangi menerima publikasi dalam makalah penelitian artikel asli, makalah tinjauan, laporan kasus, pengabdian masyarakat, penelitian kualitatif/dan kuantitatif di Indonesia atau negara lain untuk memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan. Ruang lingkup Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini adalah bidang : - Analis Kesehatan/ Teknik Laboratorium Medik - Gizi - Farmasi - Keperawatan Gigi - Keperawatan - Kebidanan - Kesehatan Lingkungan - Promosi Kesehatan
Articles 546 Documents
POLA KEPEKAAN ISOLAT BAKTERI KULTUR PUS PADA INFEKSI KULIT DAN JARINGAN LUNAK TERHADAP BERBAGAI ANTIBIOTIKA
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1505

Abstract

Infeksi kulit dan jaringan lunak adalah infeksi yang umum di Indonesia karena keadaan udara di Indonesia yang lembab dan berdebu, sehingga bakteri dapat dengan mudah tumbuh subur. Kondisi ini didukung dengan keadaan kebersihan yang buruk sehingga mempermudah berkembang biaknya penyakit infeksi. Upaya untuk membantu pemerintah mengurangi resistensi antibiotika yaitu dengan memberikan antibiotika berdasarkan hasil pola bakteri dan uji kepekaan bakteri terhadap antibiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola kepekaan isolat bakteri kultur pus pada infeksi kulit dan jaringan lunak terhadap berbagai antibiotika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif sedangkan desain penelitian ini adalah observasional analitik. Dari hasil penelitian bakteri yang ditemukan terbanyak adalah Staphylococcus aureus (29.7%), Streptococcus pyogenes (12.2%), Escherichia coli (10.8%), Klebsiella pneumoniae ssp pneumoniae (9.5%), Enterococcus faecalis (8.1%), Citrobacter freundii (5.4%), Streptococcus agalactiae (5.4%), Klebsiella oxytoca (4.1%), Pseudomonas aeruginosa (4.1%), Morganella morganii (2.7%), Proteus mirabilis (2.7%), Acinetobacter sp (1.4%), Proteus ssp (1.4%), Staphylococcus epidermidis (1.4%), Streptococcus dysgalactiae (1.4%). Sebagian besar Gram negatif resisten diatas 50% terhadap ampicillin dan sensitif 100% terhadap amikacin, sedangkan sebagian besar Gram positif resisten diatas 50% terhadap oxacillin, dan tetracycline, sensitif 100% terhadap ampicillin, linezolid, tigecycline, ceftriaxone, thrimethoprim supfamethoxazole.
EFEKTIVITAS EKSTRAK KERING BUAH KIWI EMAS (Actinidia chinensis) SEBAGAI ANTIBAKTERI DALAM MENGHAMBAT DAN MEMBUNUH Streptococcus mutans
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1506

Abstract

Buah kiwi adalah buah padat nutrisi yang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, seperti pencernaan yang sehat, kekebalan tubuh, dan metabolisme. Terdapat banyak macam buah kiwi di dunia, salah satunya yaitu buah kiwi emas. Kandungan tertinggi yang ada di dalam buah kiwi yaitu vitamin C sebesar 161,3 mg per 100 g. Vitamin C bermanfaat sebagai antibakteri dengan cara terlibat dalam metabolisme bakteri yang diketahui mampu menghambat pertumbuhan S. aureus dan Streptococcus bahkan di bawah kondisi pH netral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi minimum ekstrak kering buah kiwi emas yang efektif menghambat dan membunuh Streptococcus mutans (S. mutans) dengan waktu inkubasi 24 jam. Metode penelitian yang digunakan adalah perbandingan antar kelompok. Kelompok eksperimen akan mendapat perlakuan yaitu pemberian ekstrak kering buah kiwi dengan variasi konsentrasi 0,1%, 0,3%, 0,5%, 0,7%, dan 0,9% pada media dengan lama inkubasi 24 jam. Sampel yang digunakan adalah ekstrak kering buah kiwi emas yang dilarutkan dalam DMSO 5%. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan hasil terdapat perbedaan atau ekstrak kering buah kiwi emas dapat menghambat S. mutans pada waktu 24 jam. Hasil membuktikan bahwa konsentrasi hambat minimum (KHM) terdapat pada konsentrasi 0,1% tetapi tidak bersifat membunuh.
PENGARUH UKURAN DAN ARAH PEMOTONGAN JARINGAN PAYUDARA TERHADAP KUALITAS PREPARAT
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1507

Abstract

Pemeriksaan histopatologi merupakan alat diagnostik yang sangat penting untuk identifikasi organisme infeksius. Bagian penting dalam mencapai diagnosis yang benar yaitu gross examination. Ukuran pemotongan jaringan saat gross examination tergantung pada arah pisau yang digunakan saat pemotongan. Arah pisau yang digunakan pada penelitian ini yaitu melintang dan membujur. Jaringan yang dipotong secara melintang dengan jaringan yang dipotong secara membujur akan menghasilkan gambaran yang berbeda pada preparat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran dan arah pemotongan jaringan terhadap kualitas preparat jaringan payudara. Metode penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen yang membandingkan kelompok membujur (eksperimen) dengan kelompok melintang (kontrol) untuk diteliti. Sampel yang digunakan pada penelitian adalah jaringan payudara yang dibuat menjadi 24 preparat dari 4 blok yaitu melintang 2 x 2 x 0,3 cm, membujur 2 x 2 x 0,3 cm, melintang 3 x 2 x 0,5 cm dan membujur 3 x 2 x 0,5 cm. Indikator penilaian yang digunakan adalah kualitas preparat berupa nilai kontras warna inti sel dan sitoplasma dengan software imageJ serta kejelasan batas membran sel lemak. Hasil penelitian menunjukan bahwa preparat membujur 2 x 2 x 0,3 cm memiliki kualitas yang paling baik karena nilai kontras yang tinggi antara warna inti sel dan sitoplasma serta batas membran sel lemak yang jelas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh ukuran dan arah pemotongan jaringan payudara terhadap kualitas preparat. Saran penulis adalah perlu dilakukan pembuatan standar nilai OD inti sel dan sitoplasma.
OPTIMASI WAKTU DAN SUHU FIKSASI SPESIMEN TERHADAP KUALITAS PREPARAT JARINGAN
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1508

Abstract

Fiksasi merupakan langkah penting dalam pematangan jaringan yang mencegah autolisis dan mempersiapkan jaringan untuk tahap-tahap pemrosesan selanjutnya. Larutan fiksatif yang umum digunakan adalah neutral buffer formalin 10%. Suhu fiksasi dapat mempengaruhi morfologi jaringan, di mana peningkatan suhu dapat meningkatkan laju fiksasi, tetapi juga meningkatkan autolisis dan difusi elemen seluler. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu dan suhu fiksasi yang optimal untuk mendapatkan kualitas preparat jaringan yang baik. Sampel diambil dari 6 organ hati tikus bagian kanan yang dipotong menjadi 4 bagian sehingga dihasilkan 24 blok jaringan, masing-masing blok jaringan menghasilkan 2 preparat jaringan. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Dalam penelitian ini, 48 preparat jaringan hati tikus dibagi dalam 6 kelompok yang difiksasi pada suhu ruang dan suhu 37°C selama 1,5 jam, 1 jam dan 30 menit dengan fiksasi pada suhu ruang selama 1,5 jam sebagai kontrol. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas preparat adalah kekontrasan intensitas warna inti dan sitoplasma yang diukur menggunakan perangkat lunak ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fiksasi pematangan jaringan pada suhu 37°C selama 1,5 jam memberikan hasil yang terbaik dalam hal kualitas preparat. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami pengaruh waktu dan suhu fiksasi terhadap jaringan lain, seperti jaringan lemak atau jaringan tulang serta diperlukan standar nilai Optical Density (OD) untuk pewarnaan Hematoksilin-Eosin menggunakan ImageJ.
PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENCAIRAN PLASMA SITRAT BEKU TERHADAP PEMERIKSAAN PROTHROMBIN TIME
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1510

Abstract

Pemeriksaan Prothrombin Time digunakan untuk menguji faktor pembekuan darah pada jalur ekstrinsik dan jalur bersama. Spesimen yang digunakan adalah plasma sitrat. Plasma sitrat yang disimpan pada suhu -20°C atau lebih dingin stabil selama 2 minggu. Sebelum dilakukan pemeriksaan, plasma sitrat beku dicairkan pada suhu 37°C selama 10 menit. Setelah cair plasma sitrat dapat digunakan untuk pemeriksaan sampai dengan 24 jam. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan menggunakan plasma sitrat dikerjakan segera, plasma sitrat yang dilakukan penundaan yaitu dibekukan pada freezer suhu -20°C kemudian dicairkan pada suhu 37°C selama 10 menit dan 15 menit serta plasma sitrat beku yang dicairkan pada suhu ruang 20-25°C selama 10 menit dan 15 menit. Penelitian ini bertujuan mengetahui ada tidaknya pengaruh suhu dan waktu proses pencairan plasma sitrat beku terhadap pemeriksaan Prothrombin Time. Subjek penelitian adalah plasma normal. Pemeriksaan Prothrombin Time menggunakan metode Elektromekanik Clot Detection. Dari hasil data penelitian menggunakan uji statistik GLM (Generalized Linear Model), diperoleh nilai signifikan  (α > 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh suhu dan waktu proses pencairan plasma sitrat beku terhadap pemeriksaan Prothrombin Time.
PENGARUH KONSENTRASI DARAH DOMBA DAN WAKTU INKUBASI TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus pneumoniae
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1525

Abstract

Streptococcus pneumoniae (S. pneumoniae) secara mikroskopis Gram positif berbentuk kokus berpasangan, mempunyai kapsul polisakarida, bersifat patogen menyebabkan infeksi pneumonia, bakteriemia, meningitis, dan otitis media akut. Pemeriksaan S. pneumoniae dengan cara kultur yang tumbuh pada media yang diperkaya seperti agar darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi darah dan waktu inkubasi yang optimum untuk pertumbuhan S. pneumoniae. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan membandingkan konsentrasi darah 7%, 9% dan 12% dengan kelompok kontrol 5% yang diinkubasi pada 24 jam dan 48 jam. Diamati jumlah koloni, diameter koloni dan sifat alfa-hemolisis.  Data yang diperoleh diuji statistik dengan ANOVA. Hasil penelitian: Uji homogenitas keseluruhan nilai p ≥ 0.050. Hasil analisis secara statistik perbedaan jumlah S. pneumoniae berdasarkan konsentrasi dan waktu inkubasi diperoleh nilai F hitung 0,194 dan nilai signifikansi 0,900 lebih besar dari taraf signifikansi 0,050, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan Jumlah S. pneumoniae. Perbedaan diameter koloni S. pneumoniae berdasarkan konsentrasi dan waktu inkubasi diperoleh nilai F hitung 5,916 dan nilai signifikansi 0,002 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,050, yang artinya dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan diameter koloni S. pneumoniae. Kesimpulan: Berdasarkan uji statistik, menunjukkan bahwa konsentrasi darah yang optimum untuk pertumbuhan S. pneumoniae adalah 12%, dan waktu inkubasi yang optimum adalah 48 jam.
PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS PEWARNAAN SEDIAAN BASIL TAHAN ASAM (BTA)
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1527

Abstract

Diagnosis penderita yang terindikasi Tuberkulosis (TB) dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan mikroskopis, dimana pemeriksaan sediaan sputum untuk TB harus dilaksanakan oleh laboratorium yang terjalin dalam suatu jejaring pelayanan laboratorium TB. Diagnosis TB bergantung pada mikroskopis sediaan dahak, maka pemeliharaan atas mutu mikroskopi sangat penting untuk memastikan layanan mikroskopi dari Program Pemberantasan TB Nasional yang bisa diandalkan dan akurat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas pewarnaan terhadap sediaan Basil Tahan Asam (BTA) yang disimpan pada suhu ruangan yang menggunakan Air Conditioner (AC) dan suhu ruangan yang tidak menggunakan AC selama 0, 2, 4, 6, dan 8 minggu. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Bandung Barat dengan jumlah sampel sebanyak 5 sampel pada tiap kelompok. Hasil dari penelitian ini adalah rata- rata kualitas pewarnaan sediaan pada suhu ruangan yang menggunakan AC (Air Conditioner) dengan waktu penyimpanan 0, 2, 4, 6 dan 8 minggu adalah 3 dengan nilai p-value ( Sig. Shapiro-Wilk ) < 0,05. Rata- rata kualitas pewarnaan sediaan pada suhu ruangan yang tidak menggunakan AC dengan waktu penyimpanan 0, 2, 4, 6 dan 8 minggu adalah 2,94 dengan nilai p-value ( Sig. Shapiro-Wilk ) < 0,05. Interaksi seluruh variabel > 0,05 ( Taraf Signifikansi ) maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar variabel sehingga tidak ada pengaruh antara suhu dan lama penyimpanan terhadap kualitas pewarnaan sediaan BTA.
PENGARUH VARIASI WAKTU PERENDAMAN DENGAN ALKOHOL TERHADAP KUALITAS PREPARAT PERMANEN LARVA Culex sp
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1533

Abstract

Pembuatan preparat permanen untuk berbagai macam kelompok parasite meliputi perendaman KOH 10%, dehidrasi, clearing, dan terakhir mounting. Dehidrasi bertujuan mengeluarkan cairan dari spesimen menggunakan alkohol bertingkat 30%, 50% dan 96%. Proses dehidrasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan preparat menjadi tidak jelas karena cairan belum sepenuhnya dikeluarkan, namun perendaman alkohol yang terlalu lama dapat menyebabkan kerusakan pada sampel. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi waktu perendaman alkohol terhadap kualitas preparat permanen larva Culex sp dan waktu yang optimum pada perendaman dengan alkohol dalam menghasilkan kualitas preparat permanen yang baik. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan menggunakan variasi waktu perendaman alkohol masing-masing tingkatan 1x15 menit, 2x15 menit dan 3x15 menit. Hasil penelitian ini menunjukkan variasi waktu 1x15 menit menghasilkan preparat permanen lebih baik dibandingkan variasi waktu 2x15 menit dan 3x15 menit. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat pengaruh variasi waktu perendaman dengan alkohol terhadap kualitas preparat permanen larva Culex sp dan waktu optimum yang menghasilkan kualitas preparat permanen larva Culex sp yang baik yaitu waktu 1x15 menit.
PERBANDINGAN JUMLAH TUNGAU DEBU RUMAH MENGGUNAKAN LARUTAN ASAM LAKTAT 90% DAN KOH 10% PADA METODE VOORHORST
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1534

Abstract

Debu rumah berasal dari partikel dan destrimen yang berasal dari rambut, daki, bulu binatang, cat, sisa makanan, serangga, spora jamur, tungau dan lain-lain. Tungau debu rumah (TDR) terdapat dalam debu rumah dan berukuran sangat kecil. TDR merupakan sumber alergen penyebab alergi, misalnya rhinokongjunitivitas alergi, asma, dermatitis atopik, dan penyakit kulit lain. Bagian tubuh tungau debu rumah merupakan sumber allergen seperti kutikula, organ seks dan saluran cerna. Tungau debu rumah (TDR) paling banyak ditemukan di dalam rumah seperti kasur, seprei, selimut, boneka, perabot rumah tangga, karpet dan lain-lain. Suhu dan kelembapan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan TDR. Suhu optimal untuk perkembangan TDR yaitu 25-30 ˚C dengan kelembapan 70-80%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan jumlah tungau debu rumah menggunakan larutan Asam Laktat 90% dan KOH 10% pada metode voorhorst. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test, hasilnya tidak terdapat perbedaan signifikan pada jumlah TDR antara larutan Asam Laktat 90% dan KOH 10%. Jumlah tungau debu rumah menggunakan larutan Asam Laktat 90% pada metode voorhorst yaitu sebanyak 12 ekor tungau. Jumlah tungau debu rumah menggunakan larutan KOH 10% pada metode voorhorst yaitu sebanyak 11 ekor tungau. Tidak terdapat perbedaan jumlah tungau debu rumah menggunakan larutan Asam Laktat 90% dan KOH 10% pada metode voorhorst.
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY M DENGAN PENERAPAN PIJAT OKSITOSIN DI WILAYAH PUSKESMAS BAYONGBONG KABUPATEN GARUT
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1537

Abstract

Asuhan Kebidanan Komprehensif memberikan landasan berkesinambungan kepada ibu pada masa kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir. Pelayanan yang komprehensif memungkinkan bidan memberikan pelayanan yang berkualitas kepada klien sesuai dengan kebutuhannya. Kelancaran pengeluaran ASI penting untuk memenuhi kebutuhan bayi, namun demikian sebagian ibu menyusui  terkendala dengan keterlambatan dan rendahnya produksi ASI. Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan dalam pengeluaran ASI. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pijat oksitosin dalam asuhan kebidanan secara komprehensif. Laporan ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan menjelaskan asuhan kebidanan yang dilakukan  menggunakan pendekatan 7 langkah manajemen kebidanan. Intervensi asuhan dilakukan sesuai dengan diagnosa dan permasalahan yang dimulai pada kehamilan trimester ke 3 sampai dengan minggu ke 4 setelah melahirkan. Pada penelitian ini pijat oksitosin dilakukan pada jam ke 8 setelah persalinan dan dilanjutkan oleh suami pada masa nifas. Evaluasi dilakukan pada hari ke 3 setelah melahirkan dan bayi berhasil menyusui dengan lancar. Asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan tidak hanya meningkatkan mutu pelayanan sesuai kebutuhan ibu tetapi juga meningkatkan kesejahteraan bayi dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam pemberian ASI.