Jurnal Kesehatan Siliwangi
Jurnal Kesehatan Siliwangi menerima publikasi dalam makalah penelitian artikel asli, makalah tinjauan, laporan kasus, pengabdian masyarakat, penelitian kualitatif/dan kuantitatif di Indonesia atau negara lain untuk memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan. Ruang lingkup Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini adalah bidang : - Analis Kesehatan/ Teknik Laboratorium Medik - Gizi - Farmasi - Keperawatan Gigi - Keperawatan - Kebidanan - Kesehatan Lingkungan - Promosi Kesehatan
Articles
546 Documents
PENGGUNAAN TEPUNG KACANG KEDELAI HITAM (Glycine soja L. Merr) SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF NUTRIENT AGAR (NA) UNTUK PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1490
Tepung Kacang Kedelai Hitam (Glycine soja L. Merr) sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Staphylococcus aureus: Evaluasi Jumlah Koloni, Konsentrasi Optimum, dan pH. Komposisi nutrisi utama media yang sangat penting untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus terdiri dari karbohidrat dan protein. Kacang kedelai hitam memiliki kandungan protein berkisar 35,2% yang dapat digunakan sebagai nutrisi utama untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menentukan apakah tepung kacang kedelai hitam (Glycine soja L. Merr) dapat digunakan sebagai Media Alternatif untuk pertumbuhan S. aureus dan mengetahui konsentrasi serta pH optimum yang dapat digunakan untuk pertumbuhan S. aureus. Metode penelitian yang digunakan kuasi eksperimen yaitu S. aureus ditanam pada media tepung kacang kedelai hitam dengan variasi konsentrasi 2%, 4% dan 6% dengan variasi pH media 6, 7, dan 8. Hasil pengamatan selanjutnya akan dibandingkan dengan hasil pengamatan pada kelompok kontrol yang digunakan yaitu media Nutrient Agar. Berdasarkan uji Two Way ANOVA didapatkan pada konsentrasi 4% (Sig. 0.558) setara dengan kontrol media NA, sehingga konsentrasi optimum media alternatif adalah 4%. Selain itu, pH optimum media untuk pertumbuhan S. aureus terletak pada pH 7 yaitu dapat dilihat pertumbuhan S. aureus yang meningkat dibandingkan dengan media pH 6 dan pH 8.
VERIFIKASI METODE HEMATOLOGY ANALYZER SYSMEX XN-330 DI LABORATORIUM KLINIK LABORA
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1491
Agar pemeriksaan hematologi memberikan hasil yang cepat dan akurat maka diperlukan alat otomatis yang memiliki tingkat kecepatan dan keakuratan yang cukup tinggi. Pengunaan alat hematology analyzer ini dapat mengurangi kesalahan pada proses pemeriksaan sampel serta memerlukan waktu pemeriksaan yang lebih singkat dibandingkan dengan metode pemeriksaan secara manual. Menurut jurnal Jy Vis & A. Huisman tahun 2016, dikatakan selama proses penerapan hematology analyzer yang baru, laboratorium klinik wajib melakukan proses verifikasi untuk memastikan kinerja analitik yang memenuhi standar. Dalam standar ISO 15189 menyatakan bahwa prosedur pemeriksaan tervalidasi yang digunakan tanpa modifikasi harus dilakukan verifikasi independen oleh laboratorium sebelum digunakan pada pemeriksaan rutin. Tujuan dari penelitian ini untuk memverifikasi metode pemeriksaan hematologi rutin dengan parameter repeatability, akurasi, dan uncertainty dengan menggunakan alat hematology analyzer Sysmex XN-330. Jenis penelitian ini menggunakan jenis eksperimen, data diperoleh dari pengukuran bahan kontrol dan kalibrator. Hasil presisi (repeatability) pada penelitian ini mengukur Coeffisient Variation (CV%) dibandingankan dengan Coeffisient Variation (CV%) pabrikan, menunjukan hasil yang dapat diterima dan dapat dikatakan lulus uji. Hasil akurasi pada penelitian ini mengukur bias (d%) dibandingankan dengan bias (d%) pabrikan, menunjukan hasil akurasi yang dapat diterima dan dapat dikatakan lulus uji. Hasil uncertainty gabungan dengan variasi nilai yang dihasilkan dengan symbol ± menunjukkan ketidakpastian yang terkait dengan besaran ukur tertentu dan bukan kesalahannya.
PERBANDINGAN TITER HASIL PEMERIKSAAN WIDAL METODE SLIDE DENGAN METODE TABUNG
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1492
Typhus abdominalis hingga kini menjadi masalah kesehatan di beberapa negara dengan iklim tropis dan sub tropis seperti Indonesia. Pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis dini demam tifoid dengan uji widal yang terdiri dari dua metode yaitu metode slide dan metode tabung. Metode slide pemeriksaan widal memiliki kelebihan yaitu lebih mudah dan waktu lebih singkat dibandingkan metode tabung dan kelemahannya adalah memiliki angka positif palsu yang tinggi. Uji widal dengan metode tabung memiliki kelebihan yaitu lebih spesifik dan kekurangannya yaitu waktu inkubasi lebih lama. Tujuan pada penelitian ini yaitu untuk melihat apakah terdapat perbedaan hasil titer uji widal metode slide dengan metode tabung. Jenis desain pada penelitian ini yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Imunoserologi Poltekkes Kemenkes Bandung pada bulan Mei-Juni 2023. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 16 spesimen. Data yang didapatkan diolah menggunakan software SPSS Statistics dengan Uji Komparatif Wilcoxon. Pada 16 spesimen yang terkonfirmasi tifoid pada metode slide, setelah dilakukan uji widal dengan metode tabung, didapatkan 9 sampel yang terkonfirmasi positif dan 7 sampel negatif. Hasil uji komparatif Wilcoxon menunjukkan nilai p 0.00, suatu nilai (p<0.05), sehingga adanya perbedaan pada kedua metode tersebut.
PENGARUH SUHU RUANGAN DAN LAMA SIMPAN DARAH SITRAT TERHADAP NILAI LAJU ENDAP DARAH METODE WESTERGREN
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1493
Laju Endap Darah (LED) merupakan pemeriksaan untuk mengukur proses pengendapan sel darah merah dalam spesimen darah dengan satuan millimeter per jam (mm/jam). International committee for Standardization in Haematology (ICSH) merekomendasikan metode Westergren dan antikoagulan natrium sitrat sebagai Gold Standard dalam pemeriksaan laju endap darah. Nilai pemeriksaan laju endap darah dapat dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu ruangan, suhu rata-rata di Jawa Barat 18oC dengan suhu tertinggi 32oC, masih banyaknya fasilitas pelayanan kesehatan yang belum memperhatikan suhu ruangan optimal dalam pemeriksaan laboratorium khususnya LED. Lama simpan juga dapat berpengaruh dalam pemeriksaan LED, oleh sebab itu sebaiknya Pemeriksaan laju endap darah harus segera diperiksa setelah pengambilan darah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh suhu ruangan dan lama simpan darah sitrat terhadap nilai laju endap adrah metode westergren. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experiment (eksperimen semu) dengan desain penelitian rancangan acak kelompok (RAK), dengan memberikan variasi suhu ruangan 18oC dan 28oC dan memberikan perlakuan lama simpan darah sitrat selama segera, 2 jam, dan 3 jam, kemudian dilakukan pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) metode Westergren. Data hasil penelitian yang didapatkan dianalisis secara statistik menggunakan uji General Linear Model (GML)- Repeated Measure. Berdasarkan hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh suhu ruangan dan lama simpan darah sitrat terhadap nilai laju endap darah metode westergren (p>0,05).
TINGKAT POSITIVITAS Mycobacterium tuberculosis PADA HASIL TES CEPAT MOLEKULER DENGAN KONVERSI PENGOBATAN AWAL PASIEN TUBERKULOSIS SENSITIF OBAT
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1494
Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan mikroskopis bakteri tahan asam (BTA) adalah pemeriksaan yang dilakukan pada pasien tuberkulosis (TB). Hasil pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) akan menunjukkan ada tidaknya materi genetik Mycobacterium tuberculosis (M.tb), resistensi rifampisin, serta perhitungan semikuantitatif jumlah M.tb berdasarkan nilai Cycle Threshold (Ct). Semakin banyak M.tb yang dideteksi TCM, artinya tingginya jumlah M.tb pada pasien. Penilaian konversi/tidaknya pasien dilakukan 2 kali yaitu pada akhir tahap awal dan akhir tahap lanjutan. Bila pasien mengalami konversi pada akhir pengobatan tahap awal, dapat dikatakan berhasilnya prediksi pengobatan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat positivitas pada hasil TCM dengan hasil konversi BTA setelah pengobatan tahap awal. Metode penelitian yang digunakan deskriptif analitik. Sampel adalah 68 pasien TB Sensitif Obat (SO) berdasarkan hasil TCM di Rumah Sakit Paru Dr. H. A. Rotinsulu - UPF Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung tahun 2022. Dari 68 subjek penelitian,didapatkan 27 (40%) termasuk ke dalam kategori tingkat positivitas tinggi dan 41 (60%) kategori tingkat positivitas rendah. Kategori positivitas tinggi mengalami kegagalan konversi sebanyak 5 (18.5%) sedangkan kategori positivitas rendah sebanyak 2 (4.9%) pasien. Berdasarkan uji Fisher’s Exact diperoleh nilai sig 0,105 (>0,05). Ini berarti tidak terdapat hubungan antara tingkat positivitas M.tb dengan konversi/tidaknya pasien pada tahap awal pengobatan.
PENGARUH SUHU DAN LAMA INKUBASI PEMERIKSAAN CROSSMATCH METODE GEL TEST PADA SPESIMEN DARAH PASIEN TALASEMIA
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1496
ABSTRAK Talasemia yang bergantung pada transfusi adalah pasien yang membutuhkan transfusi secara teratur seumur hidup. Transfusi berulang dapat menyebabkan terjadinya inkompatibilitas yang menyebabkan sulitnya mendapatkan darah yang cocok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu dan lama inkubasi terhadap hasil pemeriksaan crossmatch metode gel test pada spesimen darah pasien Talasemia. Desain penelitian ini adalah quasy experiment dengan memberikan perlakuan suhu inkubasi 4°C, 22°C -25°C, dan 37°C dan lama inkubasi 15 menit dan 30 menit dengan suhu 37°C serta lama inkubasi 15 menit sebagai kontrol pemeriksaan atau standar pemeriksaanyang digunakan pada pemeriksaan crossmatch metode gel test dengan spesimen darah pasien Talasemia. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada suhu 4°C dengan lama inkubasi 15 menit dan 30 menit didapatkan hasil kompatibel (100%), bahwa pada suhu 22°C-25°C dengan lama inkubasi 15 menit dan 30 menit didapatkan hasil kompatibel (100%), dan 37°C dengan lama inkubasi 15 menit dan 30 menit didapatkan hasil kompatibel (100%). Variasi suhu 4°C, 22°C-25°C, dan 37°C dengan lama inkubasi 15 menit dan 30 menit pada pemeriksaan crossmatch metode gel test terhadap pasien Talasemia yang telah melakukan transfusi sebanyak 5 kali diperoleh hasil yang sama yaitu kompatibel dan tidak terdapat pengaruh pada hasil crossmatch.
PENETAPAN LIMIT DELTA CHECK UNTUK PARAMETER HEMATOLOGI BERDASARKAN EVIDEN BASE DENGAN MEMPERTIMBANGKAN JENIS KELAMIN DI LABORATORIUM
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1497
Laboratorium klinik berperan penting dalam pengambilan keputusan medis pasien, Namun masih terdapat kesalahan yang dapat terjadi pada tahap pra pemeriksaan, pemeriksaan dan pasca pemeriksaan. Kesalahan pada proses pra pemeriksaan serta acak biasanya dikendalikan dengan verifikasi dan bisa diidentifikasi menggunakan delta check. Metode yang membandingkan hasil pasien saat ini dengan hasil tes sebelumnya.Apakah ada perbedaan yang melampaui batas yang telah ditentukan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kecilnya variasi selisih hasil pada parameter hematologi antara laki-laki dan perempuan dan menentukan limit delta check parameter hematologi di Laboratorium RSUD Jampangkulon. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan mengambil data hasil pemeriksaan hematologi rutin 1 Juni s/d 31 Desember 2022.Pada penelitian ini didapatkan hasil tidak terdapat perbedaan variasi selisih hasil yang bermakna pada delta check parameter hematologi antara laki-laki dan perempuan. Pada parameter hemoglobin dan eritrosit variasi perbedaan analit kecil dan fluktuasi kadar analit dipengaruhi oleh waktu sehingga metode delta check yang sesuai adalah Rate Difference. Parameter lekosit variasi perbedaan besar dan fluktuasi analit tidak tergantung pada waktu sehingga metode delta check yang sesuai adalah Delta Percent Change. Parameter trombosit variasi perbedaan besar dan fluktuasi analit dipengaruhi oleh waktu sehingga metode delta check yang sesuai adalah Rate Percent Change serta batas delta check untuk Hb adalah lower limit -2.05 gr/dL/hari, upper limit 2.85gr/dL/hari, Eritrosit adalah lower limit -0.82 106/µL /hari, upper limit 0.9422 106/µL /hari, Leukosit adalah lower limit -60.333 %, upper limit 225.250%, Trombosit adalah lower limit -35.5398 %/hari, upper limit 78.25 %/hari.Penelitian selanjutnya, untuk parameter hematologi yang lebih lengkap.
PEMANFAATAN TEPUNG KACANG TUNGGAK SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF TRYPTICASE SOY AGAR UNTUK PERTUMBUHAN Escherichia coli
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1498
Penggunaan media kultur di laboratorium dapat digunakan untuk perbanyakan bakteri dan untuk menunjang diagnosis suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Mahalnya media yang diimpor, maka dapat dilakukan inovasi untuk mengurangi harga media dengan pemanfaatan sumber daya alam lokal. Kacang tunggak mempunyai keunggulan mengandung protein yang cukup tinggi dan memiliki harga yang cukup terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tepung kacang tunggak dapat digunakan sebagai media alternatif TSA untuk pertumbuhkan E.coli serta menentukan konsentrasi dan pH optimum media alternatif. Jenis penelitian yang dilakukan adalah quasy eksperimental dengan desain Static Group Comparison. Kelompok eksperimen menggunakan tepung kacang tunggak dengan variasi konsentrasi 6%, 8% dan 10% serta variasi pH media 6, 7 dan 8. Kelompok kontrol menggunakan media TSA. Data yang diperoleh dilakukan pengujian statistik dengan uji ANOVA, diperoleh hasil (p<0.05) pada konsentrasi 6% dan 10% yang menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dengan kontrol, sedangkan pada konsentrasi 8% diperoleh nilai sig. 0.102 (p>0.05) menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dengan kontrol. pada pH 6 dan pH 8 diperoleh hasil (p<0.05) menunjukkan ada perbedaan signifikan dengan kontrol, sedangkan pada pH 7 diperoleh nilai sig. 0.320 (p>0.05) menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dengan kontrol. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tepung kacang tunggak dapat digunakan sebagai media alternatif TSA untuk pertumbuhan E.coli dengan konsentrasi optimum 8% dan pH optimum media adalah 7.
PENGARUH WAKTU SIMPAN DARAH DAN JENIS TABUNG TERHADAP NILAI TROMBOSIT
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1500
Pemeriksaan hitung sel darah, salah satunya parameter trombosit, merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan di laboratorium klinik karena memiliki peranan penting, karena berbagai faktor seringkali terjadi penundaan pada proses pemeriksaan. Namun berdasarkan PERMENKES No.43 Tahun 2013 stabilitas trombosit pada suhu kamar tidak boleh lebih dari 2 jam. Dalam proses pemeriksaan tentu tidak dapat dipungkiri pentingnya penggunaan tabung sebagai wadah penampung darah. Selama 50 tahun terakhir, tabung kaca telah menjadi perangkat standar untuk pengujian laboratorium klinis. Seiring perkembangan zaman kepedulian terhadap keselamatan pegawai laboratorium dan pembuangan limbah biologis telah mengarah pada pengembangan tabung plastik. Bahan penelitian ini yakni whole blood EDTA sebanyak 4.5mL dengan variasi lama simpan darah 0 jam, 5 jam ,dan 6 jam, kemudian dilakukan pemeriksaan parameter jumlah trombosit. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh tabung kaca dan tabung plastik dengan variasi penyimpananterhadap jumlah trombosit. Jenis penelitianyang digunakan adalah eksperimen semu. Data diolah menggunakan uji General Linear Model untuk data yang berdistribusi normal, apabila semua atau salah satu variabel data tidak berdistribusi normal maka dilanjutkan dengan Uji Friedman dan Wilcoxon. Hasil pemeriksaan dengan Micro tube berbahan plastik relatif lebih rendah dibandingkan Vacutainer tube berbahan kaca. Secara statistik didapatkan nilai sig >0.05 sehingga diketahui tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada Vacutainer tube K3EDTA dan Micro tube K3EDTA. Sedangkan pada waktu simpan darah 5 jam dan 6 jam terdapat perbedaan dengan nilai sig < 0.05. Dapat disimpulan tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistic, namun terdapat pengaruh secara klinis pada penundaan darah 6 jam dikedua jenis tabung terhadap nilai trombosit. Kata kunci: Jenis Tabung, Variasi Lama Simpan, Jumlah Trombosit
EKSTRAK DAUN JATI (TECTONA GRANDIS) SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI EOSIN DALAM PEMERIKSAAN TELUR CACING GOLONGAN SOIL TRANSMITTED HELMINTHS
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34011/jks.v4i1.1502
Kecacingan masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia dan di belahan dunia lain. Sulitnya penanganan kecacingan karena kurangnya edukasi mengenai pemberian obat cacing, hidup bersih, dan pemeriksaan kecacingan secara merata pada seluruh penduduk. Salah satu cara pemeriksaan telur cacing yang menjadi gold standard adalah pemeriksaan langsung dengan pewarnaan eosin 2%. Eosin memiliki karakteristik warna berwarna merah, yang akan memberi warna merah pada latar belakang, dan keemasan pada permukaan telur cacing. Terdapat zat organik yang memilki warna sama dengan eosin 2% yaitu zat antosinanin, zat ini akan berwarna merah dalam suasana asam. Zat antosianin terdapat cukup tinggi pada daun tanaman jati (Tectona grandis). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pewarnaan telur cacing Soil Transmitted Helminth (STH) dengan memanfaatkan daun jati (Tectona grandis). Penelitian ini bersifat eksperimental, dengan variasi jenis pelarut dalam ekstraksi yaitu ethanol 96%, dan aquades yang keduanya akan ditambahkan dengan HCl pekat, yang kemudian akan dibandingkan dengan eosin 2% sebagai control. Pembuatan ekstrak dilakukan 1x24 jam dengan menggunakan simplisia daun jati (Tectona grandis) dan ekstrak digunakan sebagai pewarna langsung pada sediaan feses dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Pengamatan dilakukan secara mikroskopis untuk dilihat kejernihan, kejelasan lapang pandang dan telur cacing. Hasil data dianalisis dengan uji non-parametrik Kruskal-Wallis Kesimpulan pada penelitian ini adalah pewarnaan dengan ekstrak daun jati (Tectona grandis) dengan pelarut ethanol 96% dengan penambahan HCl pekat, aquades dengan penambahan HCl pekat dan eosin 2% memberikan hasil tidak signifikan (p>0.05).