cover
Contact Name
Gurid Pramintarto Eko Mulyo
Contact Email
gurid@staff.poltekkesbandung.ac.id
Phone
+6281399091484
Journal Mail Official
jurnal.siliwangi@poltekkesbandung.ac.id
Editorial Address
Direktorat Politenik Kesehatan Kemenkes Bandung Jl.Pajajaran No 56 Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Siliwangi
ISSN : -     EISSN : 28071530     DOI : https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1671
Jurnal Kesehatan Siliwangi menerima publikasi dalam makalah penelitian artikel asli, makalah tinjauan, laporan kasus, pengabdian masyarakat, penelitian kualitatif/dan kuantitatif di Indonesia atau negara lain untuk memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan. Ruang lingkup Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini adalah bidang : - Analis Kesehatan/ Teknik Laboratorium Medik - Gizi - Farmasi - Keperawatan Gigi - Keperawatan - Kebidanan - Kesehatan Lingkungan - Promosi Kesehatan
Articles 546 Documents
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN ONIKOMIKOSIS PADA PETANI DESA KEDOKAN GABUS
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1475

Abstract

Onikomikosis dapat menyerang seorang individu yang lingkungan kerjanya lembab juga kotor seperti petani. Kurangnya kesadaran akan pentingnya personal hygiene dan tidak menggunakan alat pelindung diri sangat berisiko terkena jamur terutama pada kuku kaki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan penggunaan alat pelindung diri dan personal hygiene dengan kejadian onikomikosis pada petani Desa Kedokan Gabus. Metode penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil observasi dari 40 responden petani Desa Kedokan Gabus tergambar bahwa petani Desa Kedokan Gabus lebih sedikit yang sadar akan pentingnya penggunaan alat pelindung diri, sebanyak 15 responden (37,5%) menggunakan alat pelindung diri lengkap, diperoleh Nilai sig. 0,033 < 0,05 dan petani Desa Kedokan Gabus lebih menyadari pentingnya melakukan personal hygiene, sebanyak 23 responden (57,5%) melakukan personal hygiene, didapat Nilai sig. 0,00 < 0,05. Gambaran kedua, petani Desa Kedokan Gabus lebih sedikit yang mengalami onikomikosis yaitu sebanyak 18 responden (45%). Gambaran ketiga, jenis jamur yang menginfeksi petani Desa Kedokan Gabus yaitu T. rubrum, T. mentagrophytes dan A. fumigatus.
Hubungan Neutrophil Lymphocyte Ratio dengan Nilai D-Dimer pada Pasien Covid-19
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1479

Abstract

Pandemi coronavirus atau SARS-COV-2 yang menyebar sekitar akhir tahun 2019, teridentifikasi pertama kali di Wuhan, Cina. SARS-COV-2 termasuk virus yang menyerang saluran pernapasan. Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) dapat mendeteksi peradangan yang dipicu oleh virus dan dapat meningkatkan NLR. D-dimer mencerminkan koagulasi, peningkatan nilai D-dimer plasma adalah faktor prognostik untuk hasil yang memperburuk penyakit. NLR dan D-dimer adalah biomarker untuk memprediksi tingkat keparahan Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara NRL dengan nilai D-dimer pada pasien Covid-19. Desain penelitian ini adalah survei analitik atau investigasi bagaimana dan mengapa peristiwa kesehatan terjadi dengan cara pengumpulan data menggunakan data primer, dalam hal ini dengan mengkaji dinamika pengaruh antara nilai NRL dan D-dimer pada pasien Covid-19. Penelitian ini dilakukan di RS. Paru Dr. H.A. Rotinsulu dengan sampel sebanyak 30 orang, cara pengambilan sampel darah vena menggunakan vacutainer. Hasil penelitian menunjukkan gambaran NRL pada 30 pasien Covid-19 yaitu 1 pasien atau 3,33% menunjukkan NLR normal dan 29 pasien atau 96,67% menunjukkan NLR tinggi. Sedangkan gambaran nilai D-dimer pada 30 pasien Covid-19 yaitu 3 pasien atau 10% menunjukkan nilai D-dimer normal dan 27 pasien atau 90% menunjukkan nilai D-dimer tinggi. Hasil uji analisis korelasi Spearman pengaruh antara NRL dan nilai D-dimer pada pasien Covid-19 diperoleh nilai p-value atau sig sebesar 0.893 > 0.05, sehingga disimpulkan terdapat pengaruh yang sangat lemah antara NRL dengan nilai D-dimer pada pasien Covid-19.
Pengaruh Waktu dan Suhu Penyimpanan Trombosit Konsentrat terhadap Jumlah Trombosit di UTD PMI Jakarta
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1480

Abstract

UTD PMI Provinsi DKI Jakarta hingga kini terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Komponen darah yang sering digunakan untuk transfusi adalah trombosit konsentrat yang di mana proses penyimpanan dapat menimbulkan perubahan jumlah trombosit akibat metabolisme trombosit. Tujuan penelitian untuk mengetahui rata-rata jumlah trombosit pada trombosit konsentrat yang disimpan pada suhu refrigerator (2° - 6°C) dan suhu ruang (20° - 25°C) selama 0 hari, 5 hari, dan 10 hari serta pengaruh waktu dan suhu penyimpanan trombosit konsentrat terhadap jumlah trombosit di UTD PMI DKI Jakarta. Penelitian ini bersifat kuasi eksperimen dengan unit penelitian adalah satu kantung trombosit konsentrat yang disimpan dengan tanpa goyangan suhu refrigerator (4 - 6°C) dengan goyangan suhu ruang (20 - 25°C) selama 0 hari, 5 hari,  dan 10 hari, kemudian diperiksa jumlah trombosit setiap perlakuan dengan menggunakan hematology analyzer Sysmex XN-350. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah trombosit pada suhu refrigerator (4 - 6°C) dengan lama simpan 0 hari sebesar 161.900 sel/µL, 5 hari sebesar 143.060 sel/µL dan 10 hari sebesar 131.680 sel/µL. Rata-rata jumlah trombosit pada suhu ruang (20 - 25°C) dengan lama simpan 0 hari sebesar 162.680 sel/µL, 5 hari sebesar 214.240 sel/µL dan 10 hari sebesar 136.160 sel/µL. Hasil uji GLM menunjukkan nilai sig 0,000 < α=0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna suhu simpan trombosit konsentrat pada suhu refrigerator (4 - 6°C) dan  pada suhu ruang (20 - 25°C).
PENGGUNAAN TEPUNG BIJI NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk) SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA Sabouraud Dextrose Agar UNTUK PERTUMBUHAN Trichophyton rubrum
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1481

Abstract

Dermatofitosis adalah penyakit kulit disebabkan oleh jamur dermatofita yang bersifat keratinofilik. Tepung biji nangka memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi tepung biji nangka yang optimal untuk pertumbuhan Trichophyton rubrum. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment dengan empat perlakuan dan tiga pengulangan, yaitu konsentrasi  tepung biji nangka sebesar 6,5%, 8,5% dan 10,5%, serta kontrol menggunakan SDA. Trichophyton rubrum diinokulasikan secara single dot pada media SDA dan media tepung biji nangka, kemudian diamati selama 3, 5, 7, dan 10 hari. Pengamatan dilakukan secara makroskopis (ukuran diameter dan karakteristik jamur) serta mikroskopis (hifa, makrokonidia, dan mikrokonidia). Data hasil penelitian dianalisis secara parametrik menggunakan Two Away Anova. Hasil penelitian ini menunjukkan Konsentrasi tepung biji nangka yang optimum untuk pertumbuhan Trichopyton rubrum adalah 8,5%, dengan diameter koloni rata-rata mencapai 42 mm pada hari ke-10. Hasil ini sebanding dengan pertumbuhan pada media kontrol SDA yang juga memiliki diameter 42 mm pada hari ke-10. Terdapat kesamaan pola pertumbuhan Trichopyton rubrum antara media alternatif tepung biji nangka dan media SDA. Pertumbuhan koloni dimulai sejak hari ke-3 dengan rata-rata diameter 21 mm. Pada konsentrasi tepung biji nangka sebesar 6,5%, pertumbuhan mencapai 21 mm; pada 8,5% sebesar 25 m, dan pada 10,5% sebesar 26 mm.
PERBANDINGAN MORFOLOGI TELUR Taenia saginata YANG DISIMPAN DENGAN VARIASI SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1482

Abstract

Infeksi Taenia saginata (cacing pita sapi), merupakan masalah kesehatan masyarakat. Telur cacing pita dapat menulari manusia melalui berbagai media, diantaranya melalui penggunaan pupuk organik dari kotoran hewan dan konsumsi daging setengah matang. Telur Taenia saginata memiliki morfologi khas yang mempengaruhi daya ketahanan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan morfologi telur Taenia saginata yang disimpan dengan variasi waktu dan suhu penyimpanan. Sampel telur Taenia saginata diperoleh dari kotoran sapi yang disimpan dengan suhu dan waktu penyimpanan. Suhu yang digunakan yaitu 25°C, 50°C, 75°C, dan 100°C dengan waktu penyimpanan 5 menit, 10 menit, 15 menit, 30 menit, dan 60 menit. Perubahan morfologi telur Taenia saginata diamati secara mikroskopis meliputi bentuk, integritas dinding, dan viabilitas embrio. Banyaknya sampel feses sapi yang diambil sebagai bahan penelitian ini sebanyak ± 20 gram. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain uji non parametrik dan uji deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan perubahan morfologi telur Taenia saginata Pada suhu 50°C - 100°C dengan waktu penyimpanan 15 menit hingga lebih mengalami kerusakan  morfologi telur yang disebabkan oleh meningkatnya suhu dan lamanya waktu penyimpanan. Sehingga terdapat perbedaan morfologi telur cacing yang signifikan pada perlakuan tersebut.
PENGARUH LAMA SIMPAN DAN VARIASI KONSENTRASI SUSPENSI DARAH PASIEN TALASEMIA TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN CROSSMATCH METODE TABUNG
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1483

Abstract

Uji pratransfusi meliputi pemeriksaan ABO, RhD, antibodi skrining, dan crossmatch. Pemeriksaan crossmatch dapat dilakukan dengan metode tabung dan metode gel. Hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan ini adalah lama simpan darah dan konsentrasi suspensi darah pasien talasemia. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh lama simpan darah 0 jam (segera), 3 jam, dan 6 jam serta pengaruh konsentrasi suspensi darah pasien talasemia 1%, 3%, dan 5% terhadap hasil pemeriksaan crossmatch metode tabung. Jenis penelitian ini adalah quasy experiment. Dalam penelitian ini menggunakan darah pasien talasemia dan donor. Data hasil penelitian ini diolah menggunakan Uji Friedman. Hasil Penelitian crossmatch metode tabung pada lama simpan 0 jam, 3 jam, dan 6 jam dengan konsentrasi suspensi sel darah merah 1%, 3%, dan 5% menunjukkan hasil kompatibel (100%). Dan hasil uji statistik diperoleh nilai signifikasi Asymp Sig > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang bermakna pada lama simpan dan variasi konsentrasi suspensi darah pasien talasemia terhadap hasil pemeriksaan crossmatch metode tabung.
PENGARUH WAKTU SIMPAN DARAH DAN JENIS ANTIKOAGULAN TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1485

Abstract

Pemeriksaan laboratorium memiliki peranan yang sangat penting dalam skrining, diagnosis, pemantauan penyakit dan pemantauan pengobatan. Pemeriksaan laboratorium yang banyak diminta oleh klinisi salah satunya pemeriksaan trombosit. Berdasarkan PERMENKES No.43 Tahun 2013 Stabilitas pemeriksaan hitung jumlah trombosit tidak boleh lebih dari 2 jam di suhu kamar. Ini terjadi karena agregasi dan adhesi trombosit, yang memiliki masa hidup paling singkat 7–10 hari dibandingkan sel lain. Dalam penelitian ini, diperlukan 5 sampel darah  dengan variasi waktu penyimpanan yaitu diperiksa segera, ditunda 5 jam dan 6 jam. Setelah itu, Semua sampel diperiksa hitung jumlah trombosit. Tujuan penelitian untuk mempelajari bagaimana antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA berdampak pada jumlah trombosit dengan variasi penyimpanan. Eksperimen semu adalah jenis penelitian yang digunakan. Uji yang digunakan adalah GLM. Jika ada beda pada uji GLM di lajutkan uji Bias. Hasil pemeriksaan jumlah trombosit dalam darah dengan K2EDTA dan K3EDTA menunjukkan bahwa hasilnya relatif lebih rendah dengan antikoagulan K3EDTA dibandingkan dengan K2EDTA. Hasil pemeriksaan trombosit dengan nilai sig > 0.05 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan  antara penggunaan antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA. Berdasarkan waktu penyimpanan jumlah trombosit yang di simpan 5 jam dan 6 jam, keduanya ada perbedaan secara statistik, dimana dengan nilai sig < 0.05, terdapat pengaruh waktu simpan darah dan jenis antikoagulan terhadap jumlah trombosit, tetapi secara klinis di tunda selama 5 jam dengan antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA tidak ada perbedaan secara klinis
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN LARVA LALAT Chrysomya megcephala PADA BANGKAI TIKUS Rattus novergicus strain wistar YANG TERPAPAR TRAMADOL DOSIS LETAL DENGAN YANG TIDAK TERPAPAR TRAMADOL
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1487

Abstract

Penyelidikan mengenai kematian tidak wajar salah satunya akibat overdosis, diperlukan untuk menentukan waktu saat setelah kematian (Post Mortem Interval). Banyak faktor yang dapat menentukan waktu kematian, salah satu metodenya adalah menggunakan serangga. Mempelajari serangga yang berhubungan dengan jasad tubuh yaitu menentukan metamorfosis larva lalat yang terdapat pada jenazah. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tramadol terhadap perbedaan pada pertumbuhan larva lalat Chrysomya megacephala pada bangkai tikus Rattus novergicus strain wistar yang terpapar tramadol dosis letal dengan yang tidak terpapar tramadol yang nantinya akan berguna untuk mengetahui apakah paparan obat tersebut dapat mempengaruhi saat dilakukannya estimasi PMI. Jenis penelitian ini berupa true experimental. Desain penelitian yang akan dilakukan adalah membandingkan perbedaan pertumbuhan larva dari lalat Chrysomya megacephala dengan menggunakan media tumbuh berupa bangkai tikus akibat pemberian tramadol dosis letal dan bangkai tikus yang mati dengan dislokasi servikal untuk diamati panjang pertumbuhan larva. Data yang didapat diolah dengan melakukan Mann-Whitney U test. Secara statistik, hasil menunjukkan nilai 0.001 artinya Sig < 0.05 maka terdapat nilai perbedaan yang signifikan pada pertumbuhan panjang larva bangkai yang terpapar tramadol dosis letal dibandingkan yang tidak terpapar tramadol.
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI INDUKTOR GETAH PELEPAH PISANG RAJA (Musa sp.) DAN WAKTU TUNDA PEMERIKSAAN SPESIMEN DALAM SUHU REFRIGERATOR TERHADAP NILAI AGREGASI TROMBOSIT METODE VELASKAR
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1488

Abstract

Nilai agregasi trombosit dapat dipengaruhi oleh konsentrasi induktor dan waktu tunda pemeriksaan spesimen. Getah pelepah pisang mengandung flavonoid yang dapat menghambat terjadinya agregasi trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan induktor alami getah pelepah pisang raja (Musa.sp) dengan variasi konsentrasi 9%, 10% dan 11% dan waktu tunda pemeriksaan spesimen yang disimpan pada suhu refrigerator selama 0 jam, 2 jam dan 4 jam terhadap pemeriksaan agregasi trombosit metode Velaskar. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasy eksperimen. Desain penelitian yang akan dilakukan yaitu dibuatnya variasi konsentrasi getah pelepah pisang 9%, 10% dan 11% dan waktu tunda pemeriksaan spesimen selama 0 jam, 2 jam dan 4 jam, kemudian dilakukan pemeriksaan agregasi trombosit pada sediaan apus darah tepi dengan menggunakan metode Velaskar. Data penelitian yang didapat diolah dengan menggunakan uji statistic metode General Linear Model-Repeated. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara statistik pada nilai agregasi trombosit metode Velaskar yang dilakukan penambahan induktor alami getah pelepah pisang dengan konsentrasi  9% diperoleh hasil Sig < 0,05 dan Tidak terdapat pengaruh secara statistik pada nilai agregasi trombosit metode Velaskar yang dilakukan penambahan induktor alami getah pelepah pisang raja (Musa.sp) dengan konsentrasi 10% dan 11% diperoleh hasil Sig > 0,05 walaupun terjadi penurunan pada nilai agregasi trombosit. Sedangkan pada waktu tunda pemeriksaan spesimen dalam suhu refrigerator selama 0 jam, 2 jam dan 4 jam tidak terdapat pengaruh secara statistik dengan nilai Sig > 0,05.
PERBANDINGAN KUALITAS HASIL PREPARAT HISTOLOGI JARINGAN GINJAL DENGAN FIKSASI MENGGUNAKAN NEUTRAL BUFFER FORMALIN 10% DAN ETANOL 50%
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i1.1489

Abstract

Larutan untuk fiksasi yang biasa digunakan adalah Neutral Buffer Formalin 10%. Etanol 50%  memiliki kandungan  Formaldehide yang memiliki kemampuan untuk mengawetkan jaringan. Penelitian ini bertujuan ialah mengetahui apakah larutan fiksatif Etanol 50% dapat digunakan untuk memfiksasi jaringan  ginjal.  Sampel pada penelitian  ini adalah ginjal mencit yang dibuat menjadi 20 sediaan preparat, yang berasal dari 10 jaringan ginjal difiksasi menggunakan Neutral Buffer Formalin  10% sebagai kontrol dan  10 jaringan ginjal yang difiksasi menggunakan Etanol 50% sebagai pembanding yang sama-sama difiksasi selama 24 jam. Parameter penelitian ini diantaranya pengukuran penyusutan pada jaringan sebelum dan sesudah difiksasi, artefak dan purification yang disebabkan oleh proses fiksasi jaringan. Uji stsatistik yang digunakan  yaitu  Kruskall Wallis jika data yang distribusinya normal dan uji Mann Whitney apabila data tidak terdistribusi secara normal. Distribusi data pada pengamatan penyusutan jaringan dan artefak tidak normal. Berdasarkan hasil nilai uji Mann Whitney, didapatkan nilai Asymp Sig. (2-tailed) yaitu 1.000 yang mana keduanya bernilai >0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara penggunaan Neutral Buffer Formalin 10% dan Etanol 50% sebagai larutan fiksasi jaringan ginjal.