cover
Contact Name
Rio Era Deka
Contact Email
riopascaunisma@gmail.com
Phone
+6282198932510
Journal Mail Official
magisterkenotariatan193@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mayjen Haryono 193 Malang 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
International Significance of Notary
ISSN : -     EISSN : 30253993     DOI : https://doi.org/10.33474/SIGN.v7i3
Core Subject : Social,
International Significance of Notary is an open access and peer-reviewed journal that aims to offer an international academic platform for cross-border legal research in several notary laws, particularly in developing and emerging countries. These may include but are not limited to various fields such as notarial, civil law, criminal law, constitutional and administrative law, customary institution law, religious jurisprudence law, international regime law, legal pluralism governance, and another section related to contemporary issues in legal scholarship.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 129 Documents
KEABSAHAN AKTA HIBAH WASIAT NOTARIS TERHADAP ANAK ANGKAT Suliono Suliono
International Significance of Notary Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i1.9574

Abstract

 The grant of a will is absolute in nature and cannot be withdrawn by the giver as stipulated in Article 1666 of the Civil Code, but problems regarding the validity of wills made by notaries to adopted children do not have clarity or there is still no clarity on the matter. The author raises this problem because of the lack of clarity (obscuur libel) and the unclear legal norms in the implementation of will grants to adopted children. The purpose of this study is to analyze the validity of wills made by notaries for adopted children and to analyze legal protection of wills for adopted children. The results of this study indicate that the legality of wills made by a competent employee in this case is a notary is valid. . According to article 1868 of the Civil Code, it is explained that an authentic deed is a deed which is in the form determined by law, made by or in front of powerful employees, this shows the legality of deeds made by powerful employees are valid. So that a will grant made by a notary to an adopted child has strong legal protection because the testament grant is translated into an authentic deed, where the authentic deed is a deed made by a state official and it is certain that the authentic deed has legal protection and legal force provided that the deed does not violate existing legislation.Keywords : Validity,  Legality, Code of Civil Law, Legality, Testament Pemberian hibah wasiat sifatnya mutlak dengan tidak dapat ditarik kembali oleh pemberinya sebagaimana ketentuan pada Pasal 1666 KUHPerdata, tetapi permasalahan mengenai keabsahan hibah wasiat yang dibuat oleh notaris terhadap anak angkat belum mempunyai kejelasan atau masih terjadi ketidak jelasan terhadap masalah tersebut. Penulis mengangkat masalah ini dilatarbelakangi oleh ketidak jelasan (obscuur libel) ketidak jelasan norma hukum pada pelaksanaan pemberian hibah wasiat terhadap anak angkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keabsahan hibah wasiat yang dibuat oleh Notaris terhadap anak angkat dan Menganalisis perlindungan hukum atas akta hibah wasiat terhadap anak angkat.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa legalitas hibah wasiat yang dibuat oleh pegawai yang berkuasa  dalam hal ini adalah notaris adalah sah. Menurut pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dijelaskan bahwa akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai yang berkuasa, hal ini menunjukkan legalitas akta yang dibuat oleh pegawai yang berkuasa adalah sah.Sehingga hibah wasiat yang dibuat oleh Notaris terhadap anak angkat mempunyai perlindungan hukum yang kuat karena hibah wasiat tersebut dituangkan menjadi akta otentik yang mana akta otentik adalah akta yang dibuat oleh pejabat negara dan sudah pasti akta otentik tersebut mempunyai perlindungan hukum dan kekuatan hukum dengan catatan jika akta tersebut tidak menyimpangi perundang-undangan yang ada.Kata Kunci : Hibah, Keabsahan, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Legalitas, Wasiat. 
PENGUATAN LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK LOKAL (LPPL) AGROPOLITAN TELEVISI i(ATV) iSEBAGAI iMEDIA iTELEVISI iPUBLIK iLOKAL iDAN iPERUSAHAAN iPERS M. Syamsul Arif
International Significance of Notary Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i2.11445

Abstract

 ABSTRACTSo ifar, ias iwith iother iLocal iPublic iBroadcasting iInstitutions i(LPPL) iin ivarious iregions iin iIndonesia, iboth ion itelevision iand iradio, ithe imain iproblem ithat icontinues ito iemerge iis iinstitutional iissues. iLikewise iwith iLPPL iAgropolitan iTelevisi i(atv). iEven ithough iit ihas ibeen ibroadcasting ifor i16 iyears, ithis iproblem icontinues ito iarise, iespecially iwhen idiscussing ithe ibudget iat ithe iRegional iPeople's iRepresentative iCouncil ibuilding. iThe icontinued iemergence iof ithese iproblems iis iinseparable ifrom ithe iincompleteness iof iLaw iNumber i32 iof i2002 iconcerning iBroadcasting iand iGovernment iRegulation iNumber i11 iof i2005 iconcerning iPublic iBroadcasting iInstitutions, ias ithe ilegal ibasis ifor ithe iestablishment iof ithe iLPP, iboth itelevision iand iradio. iAmid ithe iconfusion iregarding ithe iinstitutional idetermination ias imandated iby iLaw iNumber i32 iof i2002 iconcerning iBroadcasting iand iGovernment iRegulation iNumber i11 iof i2005 iconcerning iPublic iBroadcasting iInstitutions, ia iCircular iLetter i(SE) ifrom ithe iPress iCouncil iappears iwhich irequires ithat imedia icompanies ibe ilegally iincorporated ias iLimited iLiability iCompanies, iNumber i01 i/ iSE-DP i/ iI i/ i2014 iconcerning ithe iImplementation iof iLaw iNumber i40 iof i1999 iconcerning ithe iPress, iand ithe iStandard ifor iPress iCompanies, idated iJanuary i16, i2014. iThis iis idone ito iguarantee ithe ineutrality iand iindependence iof ithe iinformation ipresented. iIn iaddition, ito iprovide iwelfare iguarantees ifor iemployees.Keyword: iLocal iPublic iBroadcasting iInstitution, iTelevision iAgropolitan, iTelevision iMedia, iPers. ABSTRAKTerus imunculnya ipersoalan lembaga penyiaran publik lokal  , itidak iterlepas idari ikurang ilengkapnya iUndang-Undang iNomor i32 iTahun i2002 itentang iPenyiaran idan iPeraturan iPemerintah iNomor i11 iTahun i2005 itentang iLembaga iPenyiaran iPublik, isebagai idasar ihukum iatas iberdirinya iLPP ibaik itelevisi imaupun iRadio. iDitengah ikerancuan iakan ipenentuan ikelembagaan isesuai iyang idiamanatkan iUndang-Undang iNomor i32 iTahun i2002 itentang iPenyiaran idan iPeraturan iPemerintah iNomor i11 iTahun i2005 itentang iLembaga iPenyiaran iPublik, imuncul iSurat iEdaran i(SE) idari iDewan iPers iyang imensyaratkan ibahwa iperusahaan imedia iharus iberbadan ihukum iPerseroan iTerbatas, iNomor i01/SE-DP/I/2014 itentang iPelaksanaan iUndang-Undang iNomor i40 iTahun i1999 itentang iPers, idan iStandart iPerusahaan iPers, itertanggal i16 iJanuari i2014. iHal iini idilakukan iuntuk imemberikan ijaminan iakan inetralitas idan iindepedensi iakan isebuah iinformasi iyang idisajikan. iSelain iitu ijuga iuntuk imemberikan ijaminan ikesejahteraan iterhadap ikaryawannya. iPenelitian iini ibertujuan iuntuk imemberikan ideskripsi iuntuk ipenguatan i iLembaga iPenyiaran iPublik iLokal i(LPPL) iAgropolitan iTelevisi isebagai ilembaga ipenyiaran ipublik idi iIndonesia, ibaik isebagai ifungsi ilayanan imasyarakat idan iperusahaan ipers, iyang idikaitkan idengan iUndang-Undang iNomor i40 iTahun i1999 itentang iPersKata iKunci: iLembaga iPenyiaran iPublik iLokal, iAgropolitan iTelevisi, iMedia iTelevisi, iPers. 
AKIBAT HUKUM HIBAH WASIAT TANAH YANG TIDAK DIDAFTARKAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM Ahmad Siddiq Ridha
International Significance of Notary Vol 2, No 2.2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i2.2.12305

Abstract

 Hukum waris akan terbuka jika orang yang memiliki harta peninggalan telah meninggal dunia, namun pada kenyataanya sering kali terjadi sengketa ataupun perselisihan yang membuat hubungan antar saudara dalam keluarga retak. Untuk menghindari perselisihan tersebut, masyarakat Indonesia saat ini memberikan hibah kepada anak-anaknya ataupun yang diinginkanya. Hibah sendiri adalah pemberian sesuatu atau hadiah kepada orang lain, hibah dapat dikatakan sebuah hadiah karena hibah langsung terjadi ketika pemberi hibah memberikan barang kepada penerima hibah, sehingga dapat mengurangi perselisihan waris yang nantinya terjadi. Dari permasalahan diatas, maka dapat diambil rumusan sebagai berikut, pengaturan hibah wasiat, akibat hukum dari hibah wasiat tanah yang tidak didaftarkan menurut hukum perdata dan hukum islam serta penyelesaian sengketa hibah wasiat yang tidak didaftarkan Kata Kunci: Hibah Wasiat, Pendaftaran Tanah, Peralihan Tanah Inheritance law will be open if the person who owns the inheritance has died, but in reality there are often disputes or disputes that make the relationship between siblings in the family fractured. To avoid such disputes, Indonesian people currently give grants to their children or what they want. A grant itself is the giving of something or a gift to another person, a grant can be said to be a gift because the grant directly occurs when the grantor gives goods to the grantee, so as to reduce inheritance disputes that will occur later. From the problems above, the following formulations can be drawn, the arrangement of will grants according to civil law and Islamic law, the legal consequences of land will grants that are not registered according to civil law and Islamic law and dispute resolution of will grants that are not registered according to civil law and Islamic lawKeywords: Will Grant, Land Registration, Land Transfer
KEKUATAN HUKUM PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI (PPJB) TERHADAP TANAH DAN BANGUNAN DENGAN KUASA MENJUAL Kholismu Farida
International Significance of Notary Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i2.11243

Abstract

Tesis ini membahas tiga rumusan masalah dalam penelitian ini. 1 Pertama, Bagaimana kekuatan hukum dari Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dan Kuasa Jual yang di buat Notaris dalam pelaksanaan Jual Beli serta status hukumnya. 2 Kedua BagaimanaKedudukan Hukum PPJB dan Akta Kuasa Menjual dalam Jual Beli dan perlindungan terhadap calon penjual dan calon pembeli, 3 Ketiga Bagaimana perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak-hak para pihak yang melakukan PPJB.            Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian hukum normatif , sumber bahan hukum: a. Bahan Hukum Primer yaitu peraturan-peraturan hukum yang mengikat dan berdiri sendiri serta mempunyai otoritas, b. Bahan Hukum Sekunder yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer terdiri dari buku-buku literatur atau bacaan yang berkaitan dengan penelitian, dan peneliti terdahulu, c. Bahan hukum tesier yaitu bahan bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder yang terdiri dari kamus hukum, kamus besar bahasa indonesia serta arikel-artikel dari internet. Analisis Bahan hukum secara desktitif kuantitatif yakni dilakukan dengan mendepkripsikan atau menjelaskan peraturan perundang-undangan, konsep-konsep hukum di hubungkan dengan analisis terhadap kasus yang ada dan akhirnya di tarik suatu kesimpulan.            Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) merupakan akta otentik karena di buat di hadapan Pejabat Umum dan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dapat melindungi hak dan kewajiban baik penjual maupun pembeli sebelum melakukan penandatangan Akta Jual Beli selain iu dengan adanya Perjanjian Pengikatan Jual Beli dapat juga untuk melindungi dan menghindari pemalsuan tanda tangan, pembatalan transaksi jual beli karena menunggu pajak peralihan terbayar dan sebagainyaKata kunci: PPJB merupakan akta otentik yang mempunyai kekuatan hukum. 
IMPLEMENTASI PENDAFTARAN HAK TANGGUNGAN ELEKTRONIK DI KANTOR NOTARIS/PPAT DAN KANTOR PERTANAHAN Jafar Kholis
International Significance of Notary Vol 2, No 2.2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i2.2.12294

Abstract

 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah juga mengatur mengenai pokok-pokok penyelenggaraaan pendaftaran tanah pada Pasal 5 – Pasal 12, yang pada intinya menyatakan bahwa “pendaftaran tanah diselenggarakan oleh Badan Pertanahan Nasional”. Pada Pasal 6 Ayat (2) disebutkan, “dalam melaksanakan pendaftaran tanah, Kepala Kantor Pertanahan dibantu oleh PPAT dan Pejabat lain yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu menurut Peraturan Pemerintah ini dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan”. Sedangkan pada Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (2) disebutkan, “PPAT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) diangkat dan diberhentikan oleh Menteri” dan “untuk desa-desa dalam wilayah yang terpencil Menteri dapat menunjuk PPAT sementara”. Dalam hal ini yang dimaksud adalah Kepala Kecamatan atau Kepala Kelurahan.Dalam melaksanakan penggantian sertifikat fisik menjadi sertifikat elektronik pada tanah yang telah dilakukan pendaftarannya dan untuk tanah yang telah terdaftar serta dikeluarkan sertifikat atas tanah tersebut seperti hak pengelolaan, hak milik atas satuan rumah susun atau hak wakaf. Maka untuk melakukan penggantian sertifikat yang kemudian dijadikan Sertifikat Elektronik dilaksanakan melalui pengajuan yang ditujukan kepada bagian Pelayanan Pemeliharaan Data Pendaftaran Tanah di masing-masing Kantor Badan Pertanahan Nasional di tiap-tiap daerah di Indonesia.Permasalahan yang diangkat adalah mengenai mekanisme pendaftaran tanah secara elektronik, implementasi pelaksanaan pendaftaran hak tanggungan elektronik di Kabupaten Pasuruan dan faktor yang menjadi hambatan dalam melakukan upaya pendaftaran hak tanggungan secara elektronik. Metode penelitian menggunakan yuridis empiris dan menggunakan teknik analisa deskriptif. Kata Kunci: Badan Pertanahan Nasional, Pendaftaran Tanah Secara Elektronik, Teknologi The Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 24 of 1997 concerning Land Registration also regulates the main points of implementing land registration in Article 5 – Article 12, which essentially states that "land registration is carried out by the National Land Agency". Article 6 Paragraph (2) states, "In carrying out land registration, the Head of the Land Office is assisted by PPAT and other officials assigned to carry out certain activities according to this Government Regulation and the relevant laws and regulations". Whereas in Article 7 paragraph (1) and Article 7 paragraph (2) it is stated, "PPAT as referred to in Article 6 paragraph (2) is appointed and dismissed by the Minister" and "for villages in remote areas the Minister may appoint a temporary PPAT" . In this case what is meant is the Head of the District or the Head of the Village.In carrying out the replacement of physical certificates into electronic certificates on land that has been registered and for land that has been registered and issued a certificate on the land, such as management rights, ownership rights to flat units or waqf rights. So to replace the certificate which is then used as an Electronic Certificate, it is carried out through a submission addressed to the Service for Maintenance of Land Registration Data at each National Land Agency Office in each region in Indonesia.The issues raised are regarding the mechanism of electronic land registration, the implementation of the implementation of electronic mortgage registration in Pasuruan Regency and the factors that become obstacles in making efforts to register mortgage rights electronically. The research method uses empirical juridical and uses descriptive analysis techniques. Keywords: National Land Agency, Electronic Land Registration, Technology
ANALISA YURIDIS AKIBAT HUKUM PERKAWINAN CAMPURAN TERHADAP HAK ANAK PADA KEPEMILIKAN TANAH DI KOTA BLITAR Bagus Prio Utomo
International Significance of Notary Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i1.9555

Abstract

 Kepemilikan tanah pada anak dan pasangan perkawinan campuran sering kali menjadi masalah tersendiri. Pada kepemilikan tanah perkawinan campuran di Indonesia bermasalah karena tidak ada perjanjian perkawinan yang memisahkan harta antara Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing. Kota Blitar menjadi kota terbanyak nomor dua penyumbang Pekerja Migran Indonesia menjadi salah satu alasan banyaknya perkawinan campuran yang terjadi di Kota Blitar.Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini: Pertama, Bagaimana status kepemilikan tanah bagi anak dalam perkawinan campuran di Kota Blitar, Kedua, Bagaimana akibat hukum perkawinan campuran dalam kepemilikan tanah di Kota Blitar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum empiris dengan pendekatan yuridis sosiologis dan pendekatan konseptual. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data sekunder dan data tersier. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.Kesimpulan yang bisa diambil dalam penelitian ini adalah hak atas tanah bagi anak dalam perkawinan campuran bisa dimiliki denga hak milik jika anak tersebut telah terdaftar dalam sistem indonesia dan sudah memilih menyatakan diri sebagai Warga Negara Indonesia setelah berumur 18 tahun atau sudah menikah dan Warga Negara Asing yang menikah dengan Warga Negara Indonesia hanya boleh memiliki hak pakai atas tanah selama tidak memiliki perjanjian perkawinan.Kata Kunci: Perkawinan Campuran, Hak Milik, Warga Negara Asing Land ownership in children and mixed marriage couples is often a problem in itself. In the ownership of mixed marriage land in Indonesia is problematic because there is no marriage agreement that separates the property between Indonesian citizens and foreign nationals. The city of Blitar became the second largest city contributing Indonesian migrant workers to be one of the reasons for the large number of mixed marriages that occurred in the city of Blitar.There are two formulations of problems in this study: First, How is the status of land ownership for children in mixed marriages in the city of Blitar, Second, How is the effect of mixed marriage law in land ownership in the city of BlitarThis research is a type of empirical legal research with a sociological juridical approach and conceptual approach. The data sources used in this study are primary data, secondary data and tertiary data. Data collection techniques in this research are interviews, observations and documentation.The conclusion that can be drawn in this study is that the right to land for children in mixed marriages can be owned with property rights if the child has been registered in the Indonesian system and has chosen to declare himself as an Indonesian Citizen after the age of 18 years or is married and Foreign Nationals who are married to Indonesian Citizens may only have the right to use the land as long as they do not have a marriage agreement.Keywords: Mixed Marriages, Property Rights, Foreign Citizens
ANALISIS YURIDIS EMPIRIS TERHADAP PENGUASAAN TANAH KAWASAN HUTAN NEGARA OLEH MASYARAKAT ADAT SENDI KABUPATEN MOJOKERTO SITI JUWARIYAH HANDAYANI
International Significance of Notary Vol 2, No 1.2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i1.2.10907

Abstract

Komitmen Presiden tersebut merupakan suatu respon atas putusan yang bersifat final dan mengikat Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia yang menetapkan bahwa hutan adat bukan lagi hutan negara, melainkan bagian dari wilayah adat Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini: Pertama, Apa yang melatarbelakangi penguasaan tanah Masyarakat Hukum Adat di wilayah Tahura, Kedua, Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap masyarakat adat yang menguasai di kawasan Tahura. Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif dengan pendekatan kasus. Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Teknik analisa bahan hukum menggunakan teknik preskriptif yaitu memberikan penilaian mengenai benar atau salah tentang apa yang seharusnya menurut hukum terdapat fakta dan peristiwa hukum.Secara yuridis ada cacat hukum bahwa Menteri Kehutanan melalui surat edaran tersebut tidak memiliki kewenangan untuk menghapus kata-kata dalam undang-undang karena kewenangan tersebut hanya dipunyai oleh Legislator. Penguasaan secara sepihak atas tanah adat dengan sistem semacam inilah justru telah dinyatakan melanggar konstitusi oleh Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK 35 tersebut. Peraturan tersebut justru makin mempersulit masyarakat adat untuk mendapatkan hak konstitusional atas wilayah mereka.Kesimpulan yang bisa diambil dalam penelitian ini adalah Putusan Mahkamah Konstitusi dalam pengakuan hak penguasaan masyarakat adat di bidang kehutanan seharusnya ditindak lanjuti dengan peraturan pemerintah dan peraturan operasional untuk menjalankannya. Demikian pula Permenag 5/1999 perlu diubah menjadi Peraturan Pemerintah sehingga lebih tinggi kewenangannya sebagai sarana memastikan mengenai pengakuan terhadap tanah ulayat sekaligus hutan adat. Terbuka peluang pendaftaran tanah hutan adat melalui Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaan Umum, dan Kepala BPN RI, Nomor 79 Tahun 2014, Nomor PB.3/Menhut-11/2014, Nomor 17/PRT/M/2014, Nomor 8/SKB/X/2014, tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang Berada dalam Kawasan HutanKata Kunci: Penguasaan Tanah, Hutan Negara, Masyarakat Adat  The President's commitment is a response to decisions which are final and binding on the Constitutional Court (MK) of the Republic of Indonesia, which stipulates that customary forest is not state forest, but rather part of the indigenous territory. There are two formulation of the problem in this research: First, What is the underlying land tenure of Indigenous Communities in the region of Tahura, Second, How the form of legal protection to indigenous people that master in the region of Tahura. This research is a kind of normative legal research with the approach of the case. Sources of legal materials used in this research are primary legal materials, secondary and tertiary. The technique of analysis of legal materials using the technique of prescriptive, i.e. provide an assessment of right or wrong about what it should be according to the law there are facts and events of the law.In addition to that legally there is a defect of the law that the Minister of Forestry through the circular letter does not have the authority to remove the words in the legislation because the authority is only possessed by the Legislator. Mastery unilaterally indigenous land with a system of this kind it has been expressed in violation of the constitution by the Constitutional Court through the Decision of the COURT 35 the. These regulations even more complicate the indigenous people to get constitutional rights over their territory.The conclusion that can be taken in this research is the Decision of the Constitutional Court in the recognition of tenure rights of indigenous peoples in the forestry sector should be followed up with government regulations and operating rules to run it. Similarly Permenag 5/1999 need to be converted into Government Regulations so that a higher authority as a means of ensuring that for the recognition of customary land while the indigenous forests. Opportunities open up for registration of land of indigenous forests through the Joint Regulation of The Minister of internal Affairs, Minister of Forestry, Minister of Public works, and the Head of BPN RI No. 79 of 2014, the Number NT.3/Menhut-11/2014, 17/PRT/M/2014, Number 8/SKB/X/2014, about the Ordinances of the Settlement of Land Tenure in Forest AreasKeywords: Land Tenure, State Forests, Indigenous Peoples
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN KORBAN MALPRAKTEK MEDIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERDATA Siti Maryam
International Significance of Notary Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i2.12247

Abstract

 This study aims to determine the responsibility of health services or hospitals to patients who are victims of medical malpractice, legal protection for patients as consumers of services in the field of medical services, and legal protection for patients as consumers of services in the field of medical services. The type of research used in this paper is normative legal research or library research. The approach method used in this research is the statutory approach. Secondary research sources used include primary legal materials and tertiary legal materials. Based on the results of the study, it can be concluded that 1) The form of regulation of medical personnel who commit malpractice is regulated in Article 19 paragraph (1) of Law no. 8 of 1999 concerning Consumer Protection and in Article 58 paragraph (1) of Law no. 36 of 2009 concerning Health which discusses compensation for a person, health worker and or health provider who causes losses due to errors or omissions in health services; 2) The form of deviation from the agreement between a doctor and a patient that can harm the patient is a breach of contract or an unlawful act committed by a doctor. The losses suffered by the patient can be in the form of material or immaterial losses; and 3) Civil liability for medical personnel must be from unlawful acts (onrechtmatige daad) in accordance with the provisions of Article 1365 of the Civil Code and the responsibility of hospitals related to vicarious liability under the provisions of Article 1367 of the Civil Code.Keywords: patient losses, patient protection, responsibility of medical personnel/officers (doctors) and health service providers, malpractice Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggungjawab layanan Kesehatan atau RS terhadap pasien korban malpraktek medis, perlindungan hukum bagi pasien sebagai konsumen jasa di bidang pelayanan medis, dan perlindungan hukum bagi pasien sebagai konsumen jasa di bidang pelayanan medis. Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian hukum normatif atau hukum kepustakaan (library research). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan. Sumber penelitian sekunder yang digunakan meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum tersier. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa 1) Bentuk pengaturan terhadap tenaga medis yang melakukan malapraktik diatur dalam Pasal 19 ayat (1) Undang – Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan dalam Pasal 58 ayat (1) Undang – Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang membahas ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan dan atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan; 2) Bentuk bentuk penyimpangan perjanjian antara dokter dengan pasien yang dapat merugikan pasien adalah wanprestasi atau perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh dokter. Kerugian yang diderita pasien dapat berupa kerugian materiil maupun inmateriil; dan 3) Pertanggung jawaban perdata terhadap tenaga medis yaitu harus dari perbuatan yang melawan hukum (onrechtmatige daad) sesuai dengan ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata dan tanggung jawab RS terkait vicarious liability ketentuan pasal 1367 KUHPerdata.Kata Kunci : kerugian pasien, perlindungan pasien, tanggungjawab tenaga/petugas medis (dokter) dan penyedia layanan Kesehatan
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PENYEBARAN BERITA BOHONG DALAM PEMILIHAN PRESIDEN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2016 JO UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK Abang Maulana Rosadi
International Significance of Notary Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v1i2.8964

Abstract

 Penyebaran informasi melalui media sosial ini sering sekali dijadikan alat untuk menyebar kebencian, buli orang, memfitnah orang, dan menyebarkan berita Bohong (Hoax). Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) pada tanggal 17 April 2019 yang lalu, muncul berbagai isu politik dan isu-isu social lainnya yang dapat mengusik ketenangan masyarakat. Dalam pertanggung jawaban pidana maka beban pertanggungjawaban dibebankan kepada pelaku pelanggaran tindak pidana berkaitan dengan dasar untuk menjatuhkan sanksi pidana. Seseorang akan memiliki sifat pertanggungjawaban pidana apabila suatu hal atau perbuatan yang dilakukan olehnya bersifat melawan hukum. Penelitian ini merumuskan tentang konsep, kualifikasi, dan pertanggungjawaban pidana penyebaran berita bohong dalam pemilu presiden berdasarkan Undang-Undang nomor 19 Tahun 2016 jo Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Penelitian ini menggunakan yuridis normatif. Berdasarkan hasil penelitian konsep berita bohong menekankan pada ujaran kebencian, kualifikasi pelaku penyebaran berita bohong adalah orang yang mempulikasikan dan mendistribusikan, dan pertanggungjawaban pidana pada pelaku dikarenakan adanya unsur kesalahan pada pelaku sehingga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.Kata Kunci: Berita Bohong; Pertanggungjawaban; Pemilu Dissemination of information through social media is often used as a tool to spread hatred, blasphemy, slander people, and hoaxes. The Presidential Election (Pilpres) on April 17, 2019, arose various political issues and other social issues that could disturb the peace of society. In criminal responsibility, the burden of responsibility is borne by the perpetrator of the criminal act related to the basis for imposing criminal sanctions. Someone will have the nature of being responsible for an area of things or actions that are against the law. This study formulates the concept, qualifications, and criminal responsibility for spreading fake news in the presidential election based on Law number 19 of 2016 in conjunction with Law number 11 of 2008 on electron transition. This research uses normative juridical. Based on the research results, the concept of fake news emphasizes hate speech, the qualifications of the perpetrators of spreading fake news are those who publish and distribute, and criminal responsibility for the perpetrators is due to an element of error in the perpetrators so that they must be accountable for their actions.Keywords: Fake News; Accountability; Elections
ANALISIS YURIDIS TERHADAP DIBERLAKUKANNYA SERTIPIKAT ELEKTRONIK KAITANNYA SEBAGAI ALAT BUKTI DI PERSIDANGAN Grety Putri Ramadhani
International Significance of Notary Vol 2, No 2.2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2020/ison.v2i2.2.13740

Abstract

Sertifikat sebagai hasil akhir dari proses pendaftaran hak atas tanah memiliki fungsi sebagai bukti kepemilikan serta sebagai alat bukti yang kuat bagi pemilik hak pada saat terjadi sengketa pertanahan. Sertifikat  ini dahulu berbentuk seperti buku yang diterbitkan rangkap 2, yaitu 1 rangkap untuk pemegang hak dan 1 rangkap lainnya disipan sebagai warkah (buku tanah) pada Kantor Badan Pertanahan Nasional daerah tanah tersebut berada. Sertipikat berbentuk buku ini sangat rawan untuk dpalsukan, banyaknya mafia tanah juga banyaknya kasus yang terjadi di bidang pertanahan saat ini yang mendorong pemerintah untuk menerbitkan peraturan terbarunya yang disahnkan pada awal tahun ini yaitu Peraturan Menteri ATR/ Kepala BPN Nomor 1 Tahun 2021 tentang Sertipikat Elektronik. Peraturan ini akan mengubah bentuk sertifikat tanah yang sebelumnya berbentuk seperti buku menjadi sertifikat tanah dalam bentuk dokumen elektronik. Dimana perubahan ini dirasa lebih efisien, juga diharapkan bisa meningkatkan pelayanan kantor BPN. Banyaknya kemudahan yang bisa didapatkan dari pelayanan pertanahan berbasis elektronik seperti ini, seperti kemudahan pencarian arsip jika dibutuhkan.Kata kunci: Sertifikat Elektronik, Alat Bukti Elektronik, Pembuktian, Persidangan Perdata The certificate as the final result of the land rights registration process has a function as proof of ownership as well as strong evidence for the right owner in the event of a land dispute. This certificate used to be in the form of a book that was issued in 2 copies, namely 1 copy for the right holder and 1 copy stored as a warkah (land book) at the National Land Agency Office where the land is located. This book-shaped certificate is very prone to being counterfeited, the large number of land mafias as well as the many cases that occur in the land sector at this time which has prompted the government to issue the latest regulation which was legalized earlier this year, namely Minister of ATR/Head of BPN Regulation No. 1 of 2021 concerning Electronic Certificates. This regulation will change the form of land certificates which were previously shaped like books into land certificates in the form of electronic documents. Where this change is considered more efficient, it is also expected to improve BPN office services. There are many conveniences that can be obtained from electronic-based land services like this, such as the ease of finding archives if needed.Keywords: Keywords: Electronic Certificate, Electronic Evidence Tools, Evidence, Civil Court

Page 3 of 13 | Total Record : 129