cover
Contact Name
Anastasia Putu Martha Anggarani
Contact Email
anastasiamartha88@gmail.com
Phone
+6281548544432
Journal Mail Official
jpkstikvinc@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya Jl. Jambi 12 - 18 Surabaya 60241 Tlp. 031- 5663894
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan
ISSN : 20886764     EISSN : 27236374     DOI : https://doi.org/10.54040/jpk
Core Subject : Health,
Jurnal Penelitian Kesehatan (JPK) merupakan jurnal berkala yang memuat hasil penelitian di bidang kesehatan khususnya Keperawatan, Kebidanan, Fisioterapi, Kedokteran dan bidang kesehatan yang lain. JPK diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember, dengan dua nomor dalam satu kali terbit.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2017): Desember" : 8 Documents clear
PERILAKU ORANG TUA DALAM PEMBERIAN MAKAN DAN PERILAKU MAKAN ANAK USIA 2-5 TAHUN Sr Sri Winarni SSpS; Ni Luh Agustini Purnama
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.103

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan perilaku orang tua dalam pemberian makan dengan perilaku makan anak usia 2-5 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan rancangan cross sectiona. Penelitian dilakukan pada orang tuayang mempunyai anak usia 2-5 tahun yang memenuhikriteria inklusi dan ekslusi di RW 6 Kelurahan Darmo Surabaya. Perilaku orang tua dalam pemberian makan pada anak dinilai dengan menggunakan Comprehensive Feeding Practices Questionnaire (CFPQ) yang terdiri dari 9 aspek.Perilaku makan anak dinilai dengan menggunakan instrument Children’s Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) yang teriri dari dua dimemsi pola makan.Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Perilaku orang tua yang menggunakan makanan sebagai hadiah signifikan berhubungan secara positif dengan perilaku makan anak usia 2-5 tahun pada dimensi food approach (p=0,02 ; ?=0,3) dan food avoidant (p=0,006, ?=0,3).Perilaku orang tua yang menggunakan makanan untuk mengatur emosi anak signifikan berhubungan secara positif dengan perilaku makan anak usia 2-5 tahun pada dimensi food avoidant(p=0,001, ?=0,3).Perilaku orang tua yang melakukan pembatasan asupan makanan untuk mengontrol berat badan signifikan berhubungan secara positif dengan perilaku makan anak usia 2-5 tahun pada dimensi food approach (p=0,001, ?=0,3).
SOMATOTIPE TERHADAP RISIKO DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA LANSIA DI SAWUNGGALING SURABAYA Marcellina Rasemi Widayanti; yuni kurniawaty
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.107

Abstract

Somatotipe merupakan metode untuk menggambarkan tubuh manusia ke dalam bentuk angka yang berhubungan dengan bentuk dan komposisi tubuh. Penelitian ini adalah jenis observasional dengan teknik pengukuran antromometri dengan metode Heath Carter. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran somatotipe pada orang dengan risiko DM tipe 2. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia dengan risiko DM tipe 2 di RW 5 Sawunggaling Surabaya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah lansia di RW 5 Sawunggaling Surabaya dengan kriteria inklusi berisiko DM tipe 2, usia 45 – 90 tahun dan bisa membaca dan menulis. Sampel dalam penelitian ini akan diambil dengan menggunakan teknik quota samplingsejumlah 80 orang. Hasil penelitian didapatkan enam jenis somatotipe pada lansia yang berisiko terhadap kejadian DM tipe 2 di Posyandu Lansia RW 5 Sawunggaling Surabaya yaitu tipe sentral 7,5%, endomorph 3,8%, endomorph-mesomorph 61,3%, mesomorph 22,5%, mesomorphectomorph 2,5%, ectomorph 2,5%. Dari hasil tabulasi silang antara somatotipe dengan risiko DM tipe 2 maka didapatkan nilai endomorph-mesomorph 59,2% memiliki risiko DM tipe 2 kategori ringan. Tipe endomorph-mesomorp merupakan perpaduan dari penumpukan lemak dan tubuh bagian tengah yaitu tulang, otot dan jaringan ikat. Keterkaitan antara somatotipe endomorph dengan kejadian DM tipe 2 terletak pada seberapa besar kandungan lemak yang diukur melalui pengukuran skinfold, sehingga tipe endomorph-mesomorph bukan salah satu tipe yang berisiko tinggi terhadap kejadian DM tipe 2.
PERBEDAAN FUNGSI KOGNITIF LANSIA YANG KATEGORI ELDERLY DENGAN LANSIA KATEGORI OLD Demitrianus Fobia; Arief Widya Prasetya
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.110

Abstract

Peningkatan populasi penduduk lanjut usia menimbulkan berbagai masalah salah satu adalah terganggunya fungsional lansia seperti penurunan fungsi kognitif. Perbedaan usia, jenis kelamin, riwayat penyakit, pendidikan, aktivitas dilaporkan sebagai penyebab penurunan fungsi kognitif. Fenomena ini yang terjadi di PSTW, lansia kesulitan dalam mengingat tanggal lahir, menentukan waktu, pengulangan alamat, dan menghitung mundur. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan perbedaan fungsi kognitif lansia yang elderly dengan lansia yang old. Desain penelitian adalah analitik dengan bentuk studi perbandingan dengan menggunakan simple random sampling. Jumlah responden yaitu 13 lansia yang kategori elderly dan 24 lansia yang kategori old. Instrument yang digunakan adalah kuisoner Mini Mental State Examination yang berisi pertanyaan tertutup sebanyak 30 pertanyaan. Hasil yang didapatkan adalah tingkat kognitif lansia yang kategori elderly 85% responden memiliki fungsi kognitif normal dan fungsi kognitif pada lansia yang kategori old didapatkan 75% responden memiliki fungsi kognitif berat. Hasil uji statistik Mann Whitney Test dengan tingkat signifikan ? = 0,005 dan Z tabel = 1.96 didapatkan p = 0.00 dan nilai Z = -4.824, maka H1 diterima artinya terdapat perbedaan yang signifikan pada fungsi kognitif lansia yang kategori elderly dengan lansia yang kategori old. Faktor usia dan aktivitas fisik merupakan faktor utama penyebab penurunan fungsi kognitif.
HUBUNGAN POLA ASUH DAN POLA MAKAN DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 3-5 TAHUN DI DESA MANCAR KECAMATAN PETERONGAN KABUPATEN JOMBANG Zeny Fatmawati; Hany Puspita Ariyani
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.111

Abstract

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan merupakan masalah yang banyak dijumpai di masyarakat. Contoh keluhan utama yang sering dilaporkan adalah anaknya lebih pendek dari teman sebayanya, kepala kelihatan besar, umur 6 bulan belum bisa tengkurap, umur 8 bulan belum bisa duduk, umur 15 bulan belum bisa berdiri, 2 tahun belum bisa bicara dan lain lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pola makan dengan perkembangan anak usia 3-5 tahun di Desa Mancar Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sampel dari penelitian ini adalah semua orang tua yang memiliki balita di Desa Mancar Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang berjumlah 41 orang yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji statistik uji rank spearman. Sebagian besar responden (68,3%) memiliki pola asuh demokratis, hampir setengah responden (48,8%) memiliki pola makan baik, dan sebagian besar responden (61%) dilaporkan memiliki perkembangan anak sesuai untuk usia 3-5 tahun. Dari hasil uji statistik menggunakan uji rank spearman didapatkan hasil signifikasi p <0,001, r = 0.76 untuk pola makan dengan perkembanga dan p<0.001, r =0.84.
KEMAMPUAN MOBILITAS MERUPAKAN FAKTOR RISIKO JATUH TERKUAT PADA LANSIA Anastasia Putu Martha Anggarani
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.112

Abstract

Proses penuaan menyebabkan penurunan kemampuan fisik yang mengakibatkan kejadian jatuh yang akan menghambat kualitas hidup lansia. Beberapa faktor risiko yang menyebabkan jatuh adalah usia, jenis kelamin, kondisi medis yang dialami dan mobilitas. Tujuan dari penelitian tersebut adalah menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian jatuh pada lansia. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional di lapangan dengan rancangan cross sectional pada 36 lansia dengan menggunakan simple random sampling. Seluruh responden berusia ?60 tahun, bisa berkomunikasi dengan baik, bisa membaca dan menulis dan bisa menjawab pertanyaan dalam alat ukur yaitu kuesioner. Hasil uji statistik didapatkan variabel jenis kelamin dan mobilitas mempunyai hubungan dengan takut jatuh karena p<0,05 (mobilitas p=0,018; B= 0,408 dan gender p= 0,096;B=-1,423. Mobilitas merupakan faktor risiko yang paling kuat yang menyebabkan jatuh.
TERAPI TAWA MENURUKAN DEPRESI LANSIA Ni Putu Esi Pradnyadiansari; Yustina Kristianingsih; Theresia Etik Lusiana
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.113

Abstract

Proses menua menyebabkan perubahan fisik, kognitif, psikososial dan akan menjadi stresor pada lansia. Salah satu penanganan nonfamakologi untuk menurunkan depresi adalah terapi tawa. Fenomena yang terjadi di Panti Werdha Bakti Luhur, beberapa lansia mengungkapkan perasaan kesepian dan bosan, lebih suka menyendiri, insomnia, tidak bahagia tinggal di panti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh terapi tawa terhadap tingkat depresi lansia. Desain penelitian ini adalah pra eksperimental one-group-pre-post test design. Populasi dalam penelitian adalah lansia di panti wedha Bhakti Luhur dan dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 40 responden. Variabel independen adalah terapi tawa dan variabel dependen adalah depresi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian kuesioner Geriatric Depression Scale. Hasil penelitian sebelum diberikan terapi tawa lebih dari 50% (55%) responden mengalami depresi sedang-berat. Sesudah diberikan terapi tawa sebagian besar 68% responden mengalami depresi ringan. 12,5% responden tidak mengalami perubahan tingkat depresi. Hasil uji Wilcoxon dengan tingkat signifikan ? = 0,05 dan harga p = 0,000, nilai p < ? maka ada pengaruh terapi tawa terhadap tingkat depresi lansia. Terapi tawa dapat menurunkan depresi lansia. Oleh karena itu peneliti memberikan saran kepada panti dan lansia di Panti Werdha Bhakti Luhur dalam menangani depresi lansia salah satunya dengan terapi tawa.
CITRA TUBUH DAN FUNGSI SEKSUAL WANITA PENDERITA KANKER PAYUDARA DI YAYASAN KANKER INDONESIA Cristiana Haryanti Putri; Yhenti Widjayanti; Yuni Kurniawaty
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.115

Abstract

Kanker payudara menyebabkan perubahan pada tubuh yang dapat menimbulkan masalah citra tubuh serta fungsi seksual. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan antara citra tubuh dengan fungsi seksual wanita penderita kanker payudara di YKI. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasi dengan pendekatan waktu Cross Sectional. Responden pada penelitian ini adalah 35 pasien kanker payudara yang tinggal di YKI pada bulan Maret sampai Mei 2017 menggunakan teknik consecutive sampling. Data diambil dengan alat ukur BIS (Body Image Scale) dan FSFI (Female Sexual Function Index). Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden (89%) memiliki citra tubuh negatif dan sebagian besar responden (91%) memiliki fungsi seksual buruk. Hasil uji Rank Spearman menggunakan program SPSS 16.0, p = 0,000 (? = 0,05) dimana p ? ? berarti HO ditolak dan H1 diterima dengan koefisien korelasi +0,852 maka ada hubungan positif sangat kuat antara citra tubuh dan fungsi seksual wanita penderita kanker payudara. Saran bagi pengurus YKI untuk melakukan kegiatan konseling seperti kognitif behavior terapi secara pribadi atau kelompok untuk meningkatkan penerimaan diri dan memperbaiki konsep diri.
PERAN PERAWAT DAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TB PARU Maya Puspa Indasari; Raditya Kurniawan Djoar; Simplisia Guarda Mayesti
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v7i2.117

Abstract

Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kesembuhan dan keberhasilan pengobatan dipengaruhi oleh kepatuhan penderita dalam minum obat. Untuk meminimalkan dampak dari ketidakpatuhan, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan peran perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan peran perawat dengan tingkat kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis. Desain penelitian ini menggunakan correlational dengan pendekatan cross-sectional, populasi penelitian adalah penderita tuberkulosis di Puskesmas Sawahan Surabaya. Partisipan penelitian ini adalah 33 responden, dan teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Consecutive Sampling. Instrumen menggunakan kuesioner peran perawat dengan skala Likert serta MMAS-8 digunakan sebagai kuesioner kepatuhan. Hasil persentase dari analisa statistic deskriptif proporsi menunjukkan bahwa lebih dari 58% peran perawat berada dibawah nilai ratarata dan 49% responden memiliki tingkat kepatuhan sedang. menyarankan kepada kepala puskesmas dan perawat untuk menginisiasi keluarga terkait Pengawas Minum Obat serta membentuk paguyupan penderita TB Paru.

Page 1 of 1 | Total Record : 8