cover
Contact Name
Josep Ginting
Contact Email
admin@jurnal.sttii-bali.ac.id
Phone
+6285782445170
Journal Mail Official
admin@jurnal.sttii-bali.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Dalung No.16, Dalung, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80351
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Jurnal Penggerak
ISSN : 24605603     EISSN : 29876826     DOI : 10.62042
Core Subject : Religion,
Jurnal PENGGERAK bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan karya Ilmiah baik tenaga pendidik maupun pendidik sehingga memberi dampak bagi masyarakat luas. Jurnal ini dikemas dalam bentuk penelitian dan pemikiran kritis analitis di bidang Pendidikan dab Teologi Agama Kristen. Jurnal PENGGERAK diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali (STTII BALI) yang merupakan member RJI dan PJTI untuk kemajuan penelitian dan keilmuan Teologi Kristen.
Articles 92 Documents
MELUKAT DAN BAPTISAN:  TITIK TEMU RITUAL PENYUCIAN DALAM TRADISI MASYARAKAT HINDU BALI DAN KEKRISTENAN Cajenino lorenco ximenes; Elio Caetano de Paula Pinto; Domito Samuel Ximenes
Jurnal Penggerak Vol. 8 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62042/itp.v8i122

Abstract

Melukat dalam tradisi Hindu Bali dengan sakramen Baptisan dalam Kekristenan, guna mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dari sisi tujuan, media, prosedur, serta makna teologisnya. Melukat adalah ritual penyucian diri baik secara fisik maupun spiritual yang dilaksanakan dengan menggunakan media air suci di tempat-tempat yang disakralkan, seperti sumber mata air, danau, atau pura. Ritual ini diyakini mampu membersihkan jiwa dari energi negatif, memperbaiki keseimbangan emosional, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam perspektif Hindu Bali, Melukat merupakan bagian integral dari upacara Manusia Yadnya, yang bertujuan untuk menyucikan manusia secara lahir dan batin guna menjalani kehidupan yang selaras dengan dharma. Di sisi lain, dalam tradisi Kristen, Baptisan merupakan sakramen yang melambangkan pembersihan dosa melalui darah Yesus Kristus, kematian terhadap kehidupan lama, dan kebangkitan sebagai ciptaan baru dalam iman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), dengan menganalisis berbagai sumber sekunder yang relevan, termasuk literatur keagamaan, jurnal ilmiah, dan tafsiran kitab suci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kedua tradisi memiliki latar belakang teologis dan prosedur ritual yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan dalam aspek tujuan yakni penyucian diri dari hal-hal negativ serta dalam penekanan pada transformasi spiritual, pertobatan, dan pencarian kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Perbedaan mendasar terletak pada sarana penyucian: Melukat menggunakan air suci dari alam, sedangkan Baptisan mengandalkan kuasa darah Kristus sebagai agen penyucian yang permanen.
REKONSTRUKSI MAKNA KEBEBASAN DALAM DISKURSUS SELF-CARE PADA FENOMENA CHILDFREE MELALUI ANALISIS KRITIS ETIKA KRISTEN DAN ANTROPOLOGI Hendry Mongkau
Jurnal Penggerak Vol. 8 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62042/itp.v8i156

Abstract

Fenomena childfree semakin berkembang sebagai bagian dari diskursus selfcare kontemporer yang menempatkan kebebasan individu sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi makna kebebasan dalam diskursus self-care terkait fenomena childfree, mengkaji kritik antropologi dan etika Kristen terhadap pemahaman tersebut, serta merekonstruksi konsep kebebasan yang lebih holistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka yang bersumber dari artikel ilmiah nasional dan internasional mengenai childfree, self-care, kebebasan, antropologi, feminisme, dan etika Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebebasan dalam diskursus self-care masih didominasi oleh pemahaman sebagai otonomi individu yang berorientasi pada kebebasan memilih, otonomi atas tubuh, dan aktualisasi diri. Perspektif antropologi menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk relasional, sedangkan etika Kristen memandang kebebasan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama. Berdasarkan kedua perspektif tersebut, penelitian ini merekonstruksi kebebasan sebagai konsep multidimensional yang mengintegrasikan otonomi individu, relasionalitas, serta tanggung jawab moral dan spiritual. 

Page 10 of 10 | Total Record : 92