Articles
80 Documents
KONSEP YANG KELIRU DALAM MEMILIH PASANGAN HIDUP
Mahadewi, I Gusti Ayu Oka
Jurnal Penggerak Vol. 4 No. 2 (2018): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v4i2.40
Ada banyak pemahaman keliru yang berkembang di dalammasyarakat ketika seseorang menentukan siapa yang akan menjadipasangan hidupnya. Filsafat hidup turun temurun dari satu kekuargakepada keluarga yang lain, satu desa kepada desa yang lain, satubangsa kepada bangsa yang lain, satu kepercayaan (agama) serta adatistiadat sangat kuat mempengaruhi seseorang dalam memilihpasangan hidupnya.
Membawa Nilai-Nilai Kekristenan Kepada Masyarakat Hindu Di Bali Melalui Pendekatan Tradisi Panca Sraddha
Fransiska, Ni Nyoman;
Boki, Edmund HP
Jurnal Penggerak Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v5i2.78
Kemajemukan dalam bidang kepercayaan banyak menimbulak permasalahan yang cukup serius di negara Indonesia. Tidak terkecuali di propinsi Bali dimana mayoritas adalah kepercayaan beragama Hindu. Ke-Kristenan memang sudah lama masuk dan diterima di propinsi Bali tetapi sampai dengan saat ini masih banyak kendala untuk ke-Kristenan diambil menjadi milik masyarakat Bali menjadi kepercayaan mereka. Dengan sebuah metode pendekatan terhadap nilai-nilai inti masyarakat Hindu di Bali yaitu panca Sraddha, yaitu pendekatan kesamaan dengan nilai-nilai ke imanan Kristen diharapkan jalan yang lebih terbuka untuk pengenalan nilai ke-Kristenan bisa masuk kedalam kehidupan masyarakat hindu Bali, bahkan Gereja dan Pendidikan Agama Kristen bisa di terima dengan mudah ada dalam lingkungan masyarakat Hindu di Bali.
PERAN ORANG TUA SEBAGAI PENDIDIK SPIRITUAL ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA BERDASARKAN KITAB ULANGAN PASAL ENAM
Manteus, Agus Joko;
Wahyuni, Sara
Jurnal Penggerak Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v5i1.70
God gives a mandate to parents to educate their children to know and love God. Parents as leaders in the family who carry out God's commandments become the first and foremost educators for their children. Forms of education given by parents through oral teaching and exemplary life through real deeds. Every parent is obliged to educate their children from the womb. Childhood is an important period in instilling an integral education. Parents must realize that what happens in the family has a big impact on personality development, faith development and ultimately the development of children's spiritual intelligence. By using a qualitative research approach, to obtain a comprehensive study. The process of children's education must always be built within the framework of Christ's forgiving and redemptive grace, through the work of the Holy Spirit. The application of a biblical pattern of child education is only effective when it is applied to those who have experienced fellowship in Christ.
PERANAN GEMBALA JEMAAT DALAM MENDIDIK ANAK-ANAKNYA DAN KETERKAITANNYA DENGAN KEEFEKTIFAN DALAM PELAYANAN PENGGEMBALAAN
M. Th, MUHADI
Jurnal Penggerak Vol. 3 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v3i2.29
Anak merupakan milik pusaka dari Tuhan yang dititipkankepada setiap orang tua (Mazmur 127:3). Tuhan memberikantanggungjawab penuh kepada setiap orang tua untuk memelihara danmendidik anak-anaknya. Singgih D. Gunarso memberikan penjelasanbahwa: “Dalam kehidupan keluarga, kehadiran orang tua yaitu ayah danibu sangatlah besar artinya bagi perkembangan kepribadian seoranganak
Arti Kasih Karunia
Prabowo, Dr.
Jurnal Penggerak Vol. 3 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v3i1.20
Pandangan Paulus tentang hukum Taurat tidak diragukan lagimerupakan salah satu tantangan hermeneutikal yang paling kompleksyang ditemukan dalam semua tulisannya. Tidak sedikit karya tulis danartikel mengenai teologi Paulus tentang hukum Taurat secaramengherankan terus muncul di sepanjang zaman. Barangkali,sepantasnyalah demikian mengingat kompleksitas dan sulitnya isu-isuyang terlibat di dalamnya. Salah satu contohnya, apakah Paulusberargumentasi tentang penghapusan hukum Musa ataukah validitashukum tersebut tetap berkesinambungan namun berada di bawahpelaksanaan ikatan perjanjian yang baru? Dalam pengertian apa dansampai sejauh mana hukum Taurat tetap berlaku, dan sebaliknya, dalampengertian apa serta sejauh mana hukum itu tidak lagi valid? Jikahukum itu tidak lagi berlaku, apakah kegunaannya bagi orang percayazaman Perjanjian Baru, mengingat bahwa hukum tersebut adalah bagiandari firman yang diinspirasikan?Ini hanya beberapa contohpertanyaan yang dihadapi oleh mereka yang mempelajari teologi biblikadan sistematika.
POLA PENGAJARAN DOKTRIN YANG EFEKTIF BAGI JEMAAT MASA KINI
Kristiana, Pestaria Happy
Jurnal Penggerak Vol. 4 No. 2 (2018): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v4i2.45
Pokok bahasan kali ini adalah “Pola Pengajaran Doktrinyang Efektif bagi Jemaat Masa kini.” Pola pengajaran yangdimaksud adalah bagaimana seorang pendidik di dalam gerejasanggup menciptakan proses belajar mengajar yang efektif bagijemaat. Pokok bahasan ini menjadi penting dikarenakan, prosesbelajar mengajar di dalam gereja cenderung mengalami stagnasiatau sesuatu yang tidak menarik. Untuk itulah diperlukan suatustrategi atau pola yang tepat agar proses belajar mengajar dapatberjalan dengan baik.Penentuan suatu pola pengajaran doktrin yang efektifmemerlukan pemahaman yang tepat tentang bagaimana pesertadidik belajar. Karena untuk dapat membentuk pola pengajaran yangefektif perlu memahami bagaimana orang dewasa belajar sertameramunya dalam bentuk sebuah proses belajar yang efektif. Daripembahasan tersebut didapatkan bahwa untuk menentukan polamengajar efektif tentang doktrin bagi orang dewasa adalah:pengajar memahami secara akurat tentang kebutuhan peserta didik.Pengajar harus mampu menemukan barbagai kebenaran yangsangat dibutuhkan oleh peserta didik. Mengenal Alkitab sebagaisebuah kebutuhan nyata haruslah menjadi penekanan pada polapembelajaran efektif. Akhirnya, orang dewasa membutuhkan ruanguntuk berbagi pengalaman bukan untuk dipenuhi dengan berbagaiilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pengajar harus bisamenjembatani antara pengetahuan dan pengalaman dalam prosesbelajar dan mengajar yang berlangsung.
KEPEMIMPINAN GEREJA YANG KOLABORATIF DAN ADAPTIF DALAM MENGATASI KESENJANGAN ANTARA GENERASI TUA DAN GENERASI MUDA DI ERA DIGITAL
Kobstan, Heintje Barry
Jurnal Penggerak Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v5i1.75
Thegapbetweentheolderandyoungergenerationsneedstobeminimized.George and Nicolas in theirjournalexaminethegenerationalgapinchurchleadershipthatresultsinconflictanddivision.Thereasonisthatthereisawrongconcept in leadership in the church, the young are not consideredsotheyarenotgiventheopportunitytotake part in thechurchespeciallyindevelopingleadership.Tosupport this research with conceptualideasabout the leadership gap between the oldergeneration and theyounger generation with a generationgapapproachsoastoproducecollaborativeandadaptiveleadership,thisarticleiswrittenqualitativelywithadescriptivemethod.In the endtheauthormakesconclusionsbasedonthedescription, analysis,reflectionandofferofsolutionsthathavebeendone.Understanding the bridgesystemor generation gapbetween the leadershipoftheoldergeneration and the youngergenerationwillcreateaCollaborativeandAdaptiveLeadershipstyleinthedigitalera.Acollaborativechurchleadershipstylethatinvolvesolder and youngergenerationsindecision-makingprocessescreatesopportunitiestostrengthenintergenerationalrelationships, listentodiverseviews,andreachbetterdecisions.Generationgap is aconditioncausedbydifferencesinexperience,differences in attitudesbetweendifferentgenerationseventuallyleadtogapsor "distance"Theyoungergenerationismorefamiliarwithtechnologyand the digitalworldthantheoldergeneration.Thisresearchframeworkisnotonlylimited to discussingthegapbetweengenerations, buthowtodevelopcollaborativeandadaptiveleadershipconcepts.
MANAKAH LEBIH PENTING: PENGINJILAN ATAU PEMURIDAN? (SEBUAH STUDI EKSEGESA MATIUS 28:18-20)
M. Th, Prabowo
Jurnal Penggerak Vol. 4 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v4i1.36
Sudah terlalu lama gereja-gereja merisaukan sebuah pertanyaan,manakah lebih penting: penginjilan atau pemuridan? Kekacauan initerjadi oleh karena adanya sikap eksklusif pada salah satu bidang.Sebagian berpendapat bahwa pentingnya orang percaya memberitakanInjil secara langsung sejak dia percaya. Mereka berpendapat bahwapemuridan yang terlalu lama menyebabkan api semangat penginjilanmenjadi padam. Tapi di sisi lain, sebagian orang berkata bahwapemuridan lebih penting. Pertama, oleh karena setiap orang percayaharus dimuridkan dahulu sebelum memberitakan Injil. Kedua, karenapemuridan merupakan bagian terpenting dalam Amanat Agung.Argumentasi yang diangkat biasanya menggunakan kata ???????????(Mat. 28:19) sebagai kata kerja utama dalam Amanat Agung.Pertanyaannya adalah: apakah penginjilan dan pemuridan adalah duahal yang terpisah? Apakah benar Amanat Agung hanya menekankanmengenai pemuridan saja? Jika seseorang memahami dengan benarAmanat Agung dalam Matius 28:18-20 dengan benar, maka dia akanmengerti bahwa penginjilan dan pemuridan adalah dua hal yang takterpisahkan.