Articles
86 Documents
Gaya Mengajar Interaksional Yesus Sebagai Pola Dalam Menyampaikan Firman Tuhan Di Sekolah Minggu
Samosir, Lidya Octavia;
Kristiana, Pestaria Happy
Jurnal Penggerak Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v5i2.77
This research is aimed at providing exposure to educators, in this case Sunday school teachers, about Jesus' interactional teaching style. It is hoped that by understanding Jesus' interactional teaching style, Sunday school teachers can be more effective in conveying the truth of God's Word. This research is important, considering that the aim of conveying God's Word is life change. However, this goal has not been achieved optimally. This is because individual educators do not understand teaching styles that can make the learning process in Sunday school more interesting and effective. To find this teaching style, researchers used qualitative research methods with literature studies and expositions from the Gospels about Jesus' teaching style. There are 5 principles of Jesus' interactional teaching style, namely: Dialogue, two-way delivery, situational problems, dominant role of students and teachers as facilitators.
IMPLIKASI KONSEP DAN DESAIN KURIKULUM DALAM TUGAS PEMBINAAN WARGA JEMAAT
Bili, Matius Malo
Jurnal Penggerak Vol. 3 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v3i2.28
Bagi Seorang pendidik Kristen sangat penting memahami konsep dandisain kurikulum dalam kaitannya dengan tugas pembinaan jemaat danmemaknainya sebagai tugas yang mendesak. Memakai metodedeskriptif-analitis, penulis memaparkan konsep pembinaan wargajemaat, konsep dan desain kurikulum dalam pembinaanwarga gereja.Hasil penelitian ini menunjukkan 1) Secara umum konsep pembinaanwarga gereja di mana tujuan-tujuan pendidikan Kristen harus dimulaidari penegasan tentang Allah yang diperkenalkan melalui Kristusdalam Alkitab; 2) Konsep dan desain kurikulum dalam pembinaanwargagereja, dengan menyimak begitu banyak segi dari perankurikulum, makagereja tidak mungkin lagi mengabaikan tugas ini.Maka guru PAK di sekolah dan perguruan tinggi juga harusmemikirkan pengembangan kurikulum.
FAKTOR PENDUKUNG KESEMBUHAN ILAHI
Siahaan, Agustinus
Jurnal Penggerak Vol. 3 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v3i1.19
Terjadinya kesembuhan ilahi sangat dipengaruhi oleh beberapafaktor sesuai dengan apa yang telah tercatat dalam Alkitab. Faktor-faktor tersebut adalah: kasih Allah yang menyelamatkan, kasih Allahyang menyembuhkan, kuasa Firman yang hidup, kuasa doa dan puasa,kuasa dalam pujian dan penyembahan, dan kondisi iman yang baik.
NUBUATAN TENTANG MESIAS DARI KITAB PARA NABI
Tengoro, Kuncoro Condro
Jurnal Penggerak Vol. 4 No. 2 (2018): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v4i2.44
Satu kata yang mewakili bahasa Ibrani (mashiah), bahasaAram (meshiha), dan bahasa Yunani (Messias)Arti dasar dari112Mesias ini adalah “orang yang diurapi.”Gelar Mesias ini dipakaiuntuk penyelamatan yang akan datang, dan bahkan orang Yahudipercaya bahwa yang akan menyelamatkan pada masa yang akandatang adalah Allah sendiri. Walaupun ungkapan Mesias ini tidakdigunakan secara langsung, namun ada bermacam-macam dalampenggunaannya dalam rangkaian kata seperti Masias Tuhan (artinyayang diurapi Tuhan). Gagasan mengenai pengurapan seseoranguntuk suatu tugas khusus, muncul beberapa kali, terutama bagi-raja-raja dan imam-imam (Im. 4:3 dan selanjutnya); juga bagi nabi-nabi(1 Raj. 19:16); dan bapak-bapak leluhur Israel (Mzm. 105:15).Pengurapan ini digunakan dalam tugas khusus dan kemudiandigunakan dalam hal yang lebih teknis, hkususnya bagi seseorangyang akan dipilih Allah sebagai alatNya untuk menyelamatkanumatNya.113 George E. Ladd mengungkapkan bahwa pengurapan ituberkaitan dengan penugasan ilahi untuk jabatan teokrasi tertentu dandengan demikian menunjukan bahwa oleh pengurapan itu merekadigolongkan dengan kelompok hamba Allah yang khusus danpribadi mereka suci (1 Taw. 16:22), dan kesuciannya tersebutberkaitan dengan jabatannya.11
Mengupas Konsep Dosa Asal Dalam Hamartiologi Kristen
Fransiska, Ni Nyoman;
Krisdiantoro, Andreas Dwi
Jurnal Penggerak Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v5i1.74
Dosa asal menjadi salah satu topik diskusi yang hangat di kalangan para teolog sejak permulaan kekristenan hingga saat ini. Karena dosa Adam, maka setiap manusia turunannya mempunyai tabiat dosa atau "natur dosa", karena dia adalah bapa dari segenap umat manusia. Dosa asal adalah suatu kerusakan natur secara turun temurun, yang menyebar ke seluruh manusia, yang menjadikan manusia layak dimurkai Allah, dan yang menghasilkan hal-hal jahat di dalam manusia. Dosa adalah kegagalan memenuhi standart Allah. Dosa asal tersebut berdampak terhadap seluruh manusia namun ada solusi dan jalan keluar dari setiap yang telah terjadi dan telah dialami segenap manusia yaitu penebusan oleh Kristus. Salib membuktikan kebesaran kasih Allah dan kebobrokan dosa. Orang berdosa tidak dapat memperbaiki keadaan mereka sendiri. Tuhan Allah menunjukkan kekayaan kemurahan-Nya atas orang berdosa, juga tetap menegakkan kebenaran-Nya yang sempurna. Salib Kristus memberikan jalan dengan mempersembahkan satu-satunya Korban yang sempurna untuk menebus manusia, sekali untuk selamanya. Artikel ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis kualitatif. Metode yang digunakan adalah hermeneutika dengan pendekatan eksegeses dan eksposisi secara sederhana.
PENELITIAN TINDAKAN (Action Research)
Sarapung, Noflin Ester
Jurnal Penggerak Vol. 4 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v4i1.35
Penelitian tindakan adalah penelitian yang berorientasi padapenerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahanmasalah pada suatu kelompok subyek yang diteliti dan mengamatitingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikantindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan ataupenyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yanglebih baik.Dalam pengertian lain metode penelitian tindakan dapatdisebut juga sebagai suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dan decision maker tentang variabel-variabel yangdapat dimanipulasikan dan dapat segera digunakan untuk menentukankebijakan dan pembangunan. Peneliti decision maker bersama-samamenentukan masalah, membuat desain serta melaksanakan program-program tersebut.Ciri utama dari penelitian tindakan adalah tujuannya untukmemperoleh penemuan yang signifikan secara operasional sehinggadapat digunakan ketikakebijakan dilaksanakan. Suatu penemuan yangmenyatakan bahwa pembentukan modal pada suatu negara tidakberkembang karena kebiasaan menyimpan emas, bukanlah suatukesimpulan yang operasional. Akan tetapi, suatu generalisasi dankesimpulan penelitian yang menyatakan bahwa penolakan penggunaankontraseptik disebabkan oleh penolakan istri karena ketakutan akankesehatannva, adalah jenis penemuan yang operasional untuk kebijakanpemerintah secara langsung.
KELUARGA KRISTEN
Mahadewi, I Gusti Ayu Oka
Jurnal Penggerak Vol. 3 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62042/jtp.v3i2.24
Tuhan yang merencanakan perkawinan. Hal itu jelas sekalikarena Allah menjadikan Adam dan Hawa serta menempatkan merekabersama di taman Eden. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan berdampingan denganistrinya, lalu keduanya menjadi satu daging. Dan apa yang telahdipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Matius 19;5-6).Keluarga Kristen diawali dengan perkawinan Kristen.Perkawinan adalah satu komitmen tidak bersyarat 37 yang melibatkandua pribadi, yaitu laki-laki dan perempuan. Komitmen mencakuptindakan, itu sebabnya harus terus berjuang untuk memeliharakomitmen perkawinan sebagai sesuatu yang utama dalam hidup danmelawan tekanan untuk membagi komitmen tersebut dengan segi-segilain dalam hidup bersama. Tingkat komitmen adalah faktor pentingyang menentukan berhasil tidaknya hubungan dalam perkawinan itu.