cover
Contact Name
Saputro Edi Hartono
Contact Email
padmaedihartono@gmail.com
Phone
+6282121211075
Journal Mail Official
jurnal.pelitdharma@stabn-sriwijaya.ac.id
Editorial Address
Jalan Edutown BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, 15339
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pelita Dharma
ISSN : 24426482     EISSN : 29628512     DOI : -
Jurnal Pelita Dharma merupakan jurnal yang dikelola oleh Program Studi Kepenyuluhan Buddha yang terbit dua kali dalam setahun yakni bulan Juni dan Desember. Artikel yang masuk dalam jurnal ini merupakan hasil penelitian dan kajian pustaka yang mencakup kajian agama dan keagamaan Buddha.
Articles 49 Documents
KONTRIBUSI KEARIFAN LOKAL DAN ETIKA BUDDHA DALAM PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN MODERN Mulyana Mulyana
Jurnal Pelita Dharma Vol. 1 No. 1 Edisi Desember 2014
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Centre  of Java have  various  local wisdom,  one of them related  to leadership sud:  as Sera/ W11la11g  Reh and Asta  Brnta Teaching.  Beside that, Budd/m's  Teaching  in text Jatnka  also concern  011  leadership,  called  Dasa  Raja Dhamma.  This article aim to study the  contribution   of local  wisdom,   specially  Serat W11la11g  Rel, and Asta   Brata Teaching mid  Buddhist   Ethics,  specially   Dasa  Raja  Dhamma   011  leadership  patten, iu modem  era. This research use the qualitatiue approach and libra,y research method
Pengaruh Efikasi Diri, Solidaritas Kelompok, dan Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Minat Pemuda dalam Mengikuti Puja Bakti di Vihara Sobhita Tangerang Endang Siswati
Jurnal Pelita Dharma Vol. 9 No. 1 Edisi Desember 2022
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan puja bakti di vihara menjadi hal yang penting bagi umat Buddha dan dapat diikuti oleh seluruh kalangan umat. Minat pemuda dalam mengikuti puja bakti di vihara dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh efikasi diri, solidaritas kelompok, dan dukungan sosial keluarga terhadap minat pemuda dalam mengikuti kegiatan puja bakti di Vihara Sobhita Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Responden penelitian ini adalah 51 orang pemuda Vihara Sobhita di Tangerang. Data dikumpulkan menggunakan angket valid dan reliabel. Hasil uji prasyarat menunjukan bahwa data berdistribusi normal, ketiga variabel independen terhadap variabel dependen bersifat linear, tidak terjadi autokorelasi, data penelitian dapat dianalisis dengan menggunakan regresi linear berganda, serta tidak terjadi heteroskedastisitas pada setiap variabel. Dengan demikian, analisis data dapat dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa efikasi diri, solidaritas kelompok, dan dukungan sosial keluarga berpengaruh secara simultan terhadap minat pemuda dalam mengikuti puja bakti di Vihara Sobhita Tangerang (Fhitung = 3,580 dan probabilitas signifikansi = 0,000). Persamaan regresi linier berganda yang diperoleh yaitu Y= 4,335 + 0,543X1+ 0,241X2 + 0,450X3. Sumbangan yang diberikan efikasi diri, solidaritas kelompok, dan dukungan sosial keluarga terhadap minat pemuda mengikuti puja bakti di Vihara Sobhita Tangerang sebesar 68,2%. Hasil analisis regresi secara parsial simpulan bahwa: (1) efikasi diri berpengaruh terhadap minat pemuda mengikuti puja bakti di vihara jika variabel solidaritas kelompok dan dukungan sosial keluarga dikendalikan (t = 3,248 dan probabilitassignifikansi = 0,002); (2) solidaritas kelompok tidak berpengaruh terhadap minat pemuda mengikuti puja bakti di vihara jika variabel efikasi diri dan dukungan sosial keluarga dikendalikan (t = 1,035 dan probabilitas signifikansi = 2,012); serta (3) dukungan sosial keluarga berpengaruh terhadap minat pemuda mengikuti puja bakti di vihara jika variabel efikasi diri dan solidaritas kelompok dikendalikan (t =2,726 dan probabilitas signifikansi = 0,009).
Misi dan Tujuan Hidup Manusia Berdasarkan Analisis Teks Tipitaka Sapardi Sapardi
Jurnal Pelita Dharma Vol. 6 No. 1 Edisi Desember 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted to find out why the Mission and Purpose of Human Life is important? What is the Mission and Purpose of Human Life according to Buddhism? And what are the benefits of Human Life's Mission and Purpose according to Buddhism? Research data were collected by identifying texts from the Tipitaka/Tripitaka scriptures that deal with the subject matter.All collected data was analyzed and dissected using hermeneutic theory and the theory of causal relations (paticcasamuppada). These theories are used to compile the Struggle and Mission of Human Life according to Buddhism.The Mission and Purpose of Human Life is important because it is a guide in running the lives of every individual human being. The implementation begins with hiri and ottapa (shame to do evil and fear of the consequences of the crime committed), increasing to a higher level, namely the implementation of the Pancasila Buddhist for ordinary households/community, increasing to the implementation of ten precepts (Dasa Sila) for the samanera/samaneri (prospective monks/nuns), then the highest is the precepts for the monks/ nuns (Patimokkha Sila). The benefits are to provide guidance on living in the development of human character, the development of tolerance and culture, as a motivation for doing good, the development of a spirit of openness, and building social independence and the highest is leading to perfection. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui mengapa misi dan tujuan hidup manusia itu penting. Rumusan masalah yang diajukan adalah: (a) bagaimanakah misi dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Buddha? dan (b) apakah manfaat misi dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Buddha? Data penelitian dikumpulkan dengan mengidentifikasi teks-teks dari kitab suci Tipitaka/Tripitaka yang berhubungan dengan pokok permasalahan. Seluruh data yang terkumpul dianalisis dan dibedah dengan menggunakan teori hermeneutic dan teori hubungan sebab akibat (paticcasamuppada). Teori-teori tersebut digunakan untuk mengompilasi perjuangan dan misi kehidupan manusia menurut ajaran Buddha. Misi dan tujuan hidup manusia menjadi penting karena sebagai panduan dalam menjalankan kehidupan setiap individu manusia. Pelaksanaannya diawali dengan hiri dan ottapa (rasa malu untuk berbuat jahat dan rasa takut akan akibat dari kejahatan yang dilakukan), meningkat ke tingkat lebih tinggi yaitu pelaksanaan Pañcasīla Buddhis untuk perumah tangga/masyarakat biasa, meningkat ke pelaksanaan sepuluh sīla (dasa sīla) bagi para samanera/samaneri (calon bhikkhu/ bhikkhuni), kemudian yang tertinggi yaitu sīla untuk para bhikkhu/bhikkhuni (patimokkha sīla). Adapun manfaatnya adalah memberikan arah pedoman hidup dalam pembangunan karakter manusia, pengembangan toleransi dan budaya, sebagai motivasi berbuat baik, pembangunan spirit keterbukaan, dan membangun kemandirian sosial serta mengarah pada kesempurnaan.
RITUAL KEAGAMAAN MASYARAKAT DAYAK HINDU-BUDHA BUMI SEGANDU INDRAMAYU I Putu Gede Ardhi Gunawan
Jurnal Pelita Dharma Vol. 1 No. 1 Edisi Desember 2014
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dayak's  tribe is which as we know inltabit ttie island  of Borneo, but there arecommunities called themselves Hiruiu-Buddhis!   Dayak Bumi Segandu which is located i11Krimun Vilagge,  Losarang,  lndramayu  district.  Although if is almost similar  to  tirepattern of lifeof the Dayak tribe i11 Borneo in ways that are still traditional,  but  there are interesting things associated  with  religious rituals   iu   this comm1111ity   that adopts Kejawen because this  identity is 1101  affiliated  with any religion wlw haue legitimate recognized in tire  State of Indonesia.  There are two main ritual which  is run by tire community,  the ritual  Kungkum  and  Pepe.  Kw1gkum  is a  ritual that  requires male members of this community  to soak at a time or flow from 11ight until  morning for four months.  Similarly, the ritual Pepe is a ritual  with a physical  body drying under the s1111. The whole ritual is executed with tire  meaning that  as  a human being  should  train themseloes to rid yourself of the body, mind, heart and passion of the world and as ,m attempt   to  overcome  the temptations that often occur  in  man, both physically  and me11tally as well as an attempt  to blend with the natural which luts  berm widely credited for humans.
Strategi Digital Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha di Indonesia Heriyanto Heriyanto
Jurnal Pelita Dharma Vol. 6 No. 1 Edisi Desember 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem in this research is how is the digital strategy of the Buddhist Religious College (PTKB) in Indonesia. The focus of the research is directed at the digital strategy of Buddhist Religious College in Indonesia. The research objective is to describe the digital strategy of Buddhist Religious College in Indonesia. This type of research is qualitative research, by using an exploratory approach. The subjects of the research are the policy holders in colleges, which include elements of the leaders and policy holders of information technology and college information systems. The object of research consists of various forms of digital strategies, ways of working, steps in higher education management in addressing the digital era. Data Collection with non-test techniques using an open questionnaire. Data collection is also done by documentation and observation. The research locations were at the Sriwijaya State Buddhist College in Tangerang Banten, Raden Wijaya State Buddhist College, Syailendra Buddhist College, Dharma Widya Buddhist College, and Kertarajasa Buddhist College. Data analysis was performed using the Miles and Huberman model. The results of the study stated that the digital technology planning of Buddhist Religious College in Indonesia is in the Strategic Plan (Renstra), Master Plan for Development (RIP), Work Program, ICT Blueprint, and contained in the Vision, Mission, and Strategy of the college. Barriers to Buddhist Religious College in implementing digital technology-based services are: 1) Low internet connections and bandwidth, 2) Digital and online-based libraries have not been implemented, 3) Information systems have not been integrated, 4) Technology infrastructure is less reliable, 5) Budget constraints in technologyical development, 6) Budget constraints for Information Technology Human Resources Salary, 7) Lack of Information Technology Human Resources, 8) Low Human Resources digital literacy competence, and 9) No follow-up on technological cooperation undertaken. The digital strategy of Buddhist Religious College in Indonesia consists of: 1) Increasing internet bandwidth, 2) Procurement of Digital Libraries, 3) Making ICT Blueprints, 4) Increasing technology development budgets, 5) Recruitment of Information Technology Human Resources, 6) Organizing seminars, workshops, and training in digital literacy competencies, and 7) Redefining technology cooperation. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah strategi digital Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada strategi digital PTKB di Indonesia. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan strategi digital PTKB di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Subjek penelitian adalah para pemegang kebijakan pada perguruan tinggi, yang meliputi unsur pimpinan serta pemegang kebijakan teknologi informasi dan sistem informasi perguruan tinggi. Objek penelitian terdiri dari berbagai bentuk strategi digital, cara kerja, langkah-langkah manajemen perguruan tinggi dalam menyikapi era digital. Pengumpulan data dengan teknik nontes menggunakan kuesioner terbuka. Pengumpulan data juga dilakukan dengan dokumentasi dan observasi. Lokasi penelitian yaitu pada Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten, Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya, Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, Sekolah Tinggi Agama Buddha Dharma Widya, serta Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa. Analisis data dilakukan dengan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menyatakan perencanaan teknologi digital PTKB di Indonesia tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra), Rencana Induk Pengembangan (RIP), Program Kerja, ICT Blueprint, dan tertuang dalam visi, misi, serta strategi perguruan tinggi. Hambatan PTKB dalam mengimplementasi pelayanan berbasis teknologi digital adalah: (1) koneksi dan bandwith internet rendah, (2) perpustakaan berbasis digital dan online belum terimplementasi, (3) sistem informasi belum terintegrasi, (4) infrastruktur teknologi kurang handal, (5) keterbatasan anggaran dalam pengembangan teknologi, (6) keterbatasan anggaran untuk gaji sumber daya manusia teknologi informasi, (7) kekurangan sumber daya manusia teknologi informasi, (8) kompetensi literasi digital sumber daya manusia rendah, dan (9) tidak adanya tindak lanjut kerja sama teknologi yang dilakukan. Strategi digital PTKB di Indonesia terdiri dari: (1) peningkatan bandwith internet, (2) pengadaan digital library, (3) membuat ICT blueprint, (4) peningkatan anggaran pengembangan teknologi, (5) rekrutmen sumber daya manusia teknologi informasi, (6) mengadakan seminar, workshop, dan pelatihan kompetensi literasi digital, dan (7) pendefinisian ulang kerja sama teknologi yang dilakukan.
Prinsip-Prinsip Manajerial Penyuluh Agama Buddha Di Provinsi Banten Bayu Jati Pamungkas; Edi Ramawijaya Putra; Lalita Vistari
Jurnal Pelita Dharma Vol. 9 No. 2 Edisi Juni 2023
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini penyuluh agama Buddha ketika berceramah menyampaikan materi yang tidak memiliki keterkaitan dengan sutta maupun referensi dalam agama Buddha, selain itu belum diketahuinya penerapan prinsip-prinsip manajerial penyuluh agama Buddha. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan Prinsip-prinsip Manajerial Penyuluh agama Buddha di Provinsi Banten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah Pembimbing Masyarakat Buddha dan Penyuluh Agama Buddha di Provinsi Banten. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah nontes dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa pedoman observasi dan pedoman wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukan adanya penerapan prinsip-prinsip manajerial penyuluh agama Buddha, pemahaman manajerial penyuluh agama Buddha dapat dilihat dari peran dan tugas yang dilakukan sesuai dengan program kerja yang telah disusun, faktor-faktor yang mempengaruhi prinsip-prinsip manajerial penyuluh agama Buddha antara lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Penerapan manajerial di dalam penyuluh agama Buddha dilakukan dengan menjalankan peran sebagai seorang Dharmaduta maupun pemimpin untuk pembacaan paritta di suatu acara. Kendala yang dihadapi dalam penerapan prinsip manajerial antara lain kurangnya sarana prasarana, kurangnya kemampuan berceramah, kurangnya penguasaan terhadap Dhamma dan kurangnya manajemen waktu. Dari penelitian ini dapat disimpulkan penyuluh agama Buddha dalam melaksanakan kegiatan bimbingan menerapkan prinsip-prinsip manajerial, selain itu penyuluh agama Buddha memiliki pemahaman terhadap prinsip-prinsip manajerial, namun dalam pelaksanaanya terdapat beberapa kendala yang terjadi tetapi hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan evaluasi mandiri maupun evaluasi dengan komunitas penyuluh agama Buddha khususnya di Provinsi Banten.
Masyarakat madani (civil society) dalam perspektif Buddhisme Pratna Dian Pratiwi; Pramudita Mei Nata; Krisdiantoro Alfani Bramantio; Sutadi Sutadi
Jurnal Pelita Dharma Vol. 10 No. 1 Edisi Desember 2023
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia membutuhkan tumbuh dan berkembangnya masyarakat madani (civil society), akan tetapi hingga saat ini pembentukan masyarakat madani di Indonesia masih kurang optimal. Berkenaan dengan hal tersebut dalam ajarannya Buddha mengajarkan mengenai hiri dan ottapa sebagai landasan diri dalam menumbuhkan karakteristik sadar hukum, oleh karena itu peneliti merasa tertarik dengan hal tersebut sehingga peneliti ingin melakukan kajian mengenai masyarakat madani (civil society) dalam perspektif Buddhisme. Untuk melakukan kajian ini peneliti menggunakan metode library research atau kajian kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian, dengan demikian peneliti akan mengkaji Tipitaka secara mendalam yang berkaitan dengan masyarakat madani (civil society) melalui sumber primer dari Tipitaka pali dan sekunder yang berasal dari pendapat maupun pembahasan penulis lain.  Hasil dari penelitian ini yaitu dalam pembentukan masyarakat madani (civil society) dalam persepektif Buddhisme membutuhkan pemenuhan terhadap kriteria merujuk pada 7 (tujuh) prinsip suku Vajji, hiri, dan ottapa yang ditunjang dengan pemenuhan prasyarat dalam membentuk masyarakat yang madani.  Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang madani dalam persepektif Buddhisme adalah masyarakat beradab yang mumpuni dalam perkembangan ilmu pengetahuan, merealisasi hiri dan ottapa, serta memenuhi syarat-syarat pembentukan masyarakat yang madani (civil society).
Kajian Mantra Da Bei Zhou untuk Menumbuhkan Keyakinan dalam Diri Umat Buddha Boniran Boniran
Jurnal Pelita Dharma Vol. 5 No. 2 Edisi Juni 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Da Bei Zhou Mantra is one of the most popular mantras among Buddhists especially the Mahayana sect who always recite this mantra at Ce It and Cap Go. This is done by the Mahayana Buddhists especially with the aim of obtaining blessing, health and always getting protection from the gods, in order to avoid danger. The practice of reciting the mantra "Maha Karuna Darani" can be done by making a fixed schedule. and must be practiced consistently. It has become a common sight that there are practitioners who set a daily schedule to recite 3x, 7x, 21x, 49x and even 108x to recite the mantra of Maha Karuna Darani / Ta Pei Cou. If he cannot do it fully on that day, then he must cultivate it again the next day. It aims to practice perseverance and strengthen confidence and determination in each of us. In the Da Bei Zhou Mantra also explained some of the Great Pledges of the Avalokitesvara Bodhisattva, one of which is that they will not realize Buddhahood before all beings in samsara cross to the opposite shore and be happy. The power of the Mantra is not visible, but if it is believed sincerely, the mantra will provide extraordinary power and cannot be reached with the human mind and mind. The power of the spell can prevent various disasters and disasters, as well as illness and suffering, can also change bad luck into good in accordance with the path of truth.Mantra Da Bei Zhou merupakan salah satu mantra yang populer di kalangan Buddhis, khususnya sekte Mahayana yang selalu melafalkan mantra ini pada saat Ce It dan Cap Go. Hal ini dilakukan oleh umat Buddha Mahayana dengan tujuan memperoleh keberkahan, kesehatan serta selalu mendapat perlindungan dari para dewa, agar terhindar dari mara bahaya. Praktik melafal mantra Maha Karuna Darani dapat dilakukan dengan membuat jadwal tetap dan harus dipraktikkan secara konsisten. Sudah menjadi pemandangan umum bahwa ada praktisi yang menetapkan jadwal sehari melafal sebanyak 3, 7, 21,49, bahkan 108 kali melafal kembali mantra Maha Karuna Darani/Ta Pei Cou. Jika seseorang tidak dapat melakukannya secara penuh pada hari tersebut, maka harus memupuknya kembali pada hari berikutnya. Hal ini bertujuan melatih ketekunan dan mengokohkan keyakinan serta tekad dalam diri masing-masing. Di dalam mantra Da Bei Zhou juga dijelaskan beberapa Ikrar Agung Avalokitesvara Bodhisattva, salah satunya tidak akan merealisasikan ke-Buddha-an sebelum semua makhluk di samsara menyeberang ke pantai seberang dan bahagia. Kekuatan mantra memang tidak tampak, namun jika diyakini dengan tulus maka akan memberikan kekuatan luar biasa dan tidak dapat dijangkau dengan akal dan pikiran manusia. Kekuatan mantra dapat menghindarkan berbagai bencana dan malapetaka, juga penyakit dan derita, dapat pula mengubah nasib yang buruk menjadi baik sesuai dengan jalan kebenaran.
Sīla dalam Terapan Kehidupan Bermasyarakat Sapardi Sapardi
Jurnal Pelita Dharma Vol. 5 No. 1 Edisi Desember 2018
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sīla is a fundamental foundation in Buddhist practice. Sila comprises of every good manner and character that is included in Buddha’s moral and ethic tenet. Pañcīalsa (five -precepts) that Buddha teach to his disciples which are called upasaka and upasika is a sikkhapada (steps-of-training). This study aims to describe the practice of Sīla practice in everyday social life.The methodology used in this research is by descriptive- qualitative method. This method is used to describe emphaty for others, right living according to the Buddha's teachings, and how to avoid wrong livelihoods according to Buddhism.The emphaty to others in the modern technological era nowadays is not getting attention. This is indicated by changes in various aspects of society. Therefore, emphaty or caring is urgently in the society. Livelihood is described as every activity that is done to generate income to fulfil human’s daily life. Right livelihood (samma ajiva) is stated in the Sutta Pitaka,  Anguttara Nikâya  III,  208.  In  the  Vedabbāatjaka,  the  Kuddhaka Nikaya Buddha sees that people who choose to live as family person has a very big responsibility. The responsibility for kids, husband or wife, parents, siblings, relatives, even to friends are the kind of responsibilities that has  to be helped and supported with the right livelihood. In the contrary, Buddha suggests avoiding or leaving any work, effort, activity, and wrong livelihood that may cause suffering by torturing and killing a living being. Sīla merupakan dasar utama dalam pelaksanaan ajaran agama Buddha. Sīla mencakup semua perilaku dan sifat baik yang termasuk dalam ajaran moral dan etika agama Buddha. Pañcasīla Buddhis yang diajarkan Buddha kepada para siswa-Nya dalam hal ini yang disebut sebagai upasaka dan upasika adalah suatu sikkhapada (peraturan-pelatihan). Kajian ini bertujuan menjelaskan praktik sīla dalam terapan kehidupan bermasyarakat. Pembahasan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan sikap kepedulian terhadap sesama, penghidupan yang benar menurut ajaran Buddha, dan cara-cara menghindari penghidupan salah menurut ajaran Buddha.Sikap peduli terhadap sesama pada era kemajuan teknologi modern sekarang ini kurang mendapat perhatian. Hal ini ditandai oleh adanya perubahaan tingkah laku dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, sikap kepedulian sangat dibutuhkan dalam masyarakat. Terkait dengan penghidupan atau mata  pencaharian  adalah segala  kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Berpenghidupan benar (samma ajiva) terdapat dalam Sutta Pitaka, Anguttara Nikâya III, 208. Dalam Vedabbajātaka, Kuddhaka Nikaya Buddha melihat bahwa orang yang memilih hidup sebagai perumah tangga memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Tanggung jawab terhadap anak-anak, suami istri, orang tua, saudara, kerabat, sampai kepada teman-teman merupakan suatu tanggung jawab yang harus dibantu dan disokong dengan pekerjaan yang dilakukan. Sebaliknya, Sang Buddha menganjurkan untuk menghindari atau meninggalkan usaha, pekerjaan, aktivitas, dan penghidupan salah yang dapat menyebabkan  penderitaan  dengan  teraniaya  dan  terbunuhnya suatu makhluk hidup.
Memahami Nilai-Nilai Jivaka Sutta Sebagai Pendoman Melaksanakan Dana Yang Luhur Puja Subekti
Jurnal Pelita Dharma Vol. 1 No. 1 Edisi Desember 2014
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umat Buddha secara umum dikelompokan menjadi dua golongan, yaitu golongan para pertapa (Bhikkhu, Bhikkuni, Sramanera dan Sramaneri), kemudian golong perumah tangga (Uphasaka dan Uphasika). Umat perumah tangga yang baik melakukan kebajikan dengan menyokong kehidupan para pertapa. Para pertapa menjalankan kehidupan yang luhur dan menggantungkan pemenuhan kebutuhan pokoknya kepada sokongan umat awam. Kebutuhan pokok para pertapa adalah jubah, tempat tinggal,makanan dan obat-obatan. Umat awam memiliki keyakinan bahwa dengan memberikan dana dalam bentuk kebutuhan pokok para pertapa akan membuahkan kebajikan yang besar. Kebutuhan pokok para pertapa dalam kehidupan sehari-hari adalah makanan, sehingga para umat awam akan sering melakukan kebajikan dengan cara memberi persembahan makanan kepada para pertapa. Harapan yang wajar dari umat yang memberikan persembahan makanan adalah memperoleh berkah yang besar, tetapi jika umat awam memberikan persembahan makanan yang tidak layak bagi para pertapa justru dapat menimbulkan tindakan yang tidak bajik. Ada umat awam yang tidak memahami bahwa mempersembahkan makanan dari hasil pembunuhan makhluk hidup berarti telah memberikan persembahan yang tidak bajik. Menyadari pentingnya pemahaman yang benar tentang cara memberikan persembahan makanan yang bajik maka penulis berusaha untuk memberikan pemahaman melalui analisis Jivaka Sutta.