cover
Contact Name
Saputro Edi Hartono
Contact Email
padmaedihartono@gmail.com
Phone
+6282121211075
Journal Mail Official
jurnal.pelitdharma@stabn-sriwijaya.ac.id
Editorial Address
Jalan Edutown BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, 15339
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pelita Dharma
ISSN : 24426482     EISSN : 29628512     DOI : -
Jurnal Pelita Dharma merupakan jurnal yang dikelola oleh Program Studi Kepenyuluhan Buddha yang terbit dua kali dalam setahun yakni bulan Juni dan Desember. Artikel yang masuk dalam jurnal ini merupakan hasil penelitian dan kajian pustaka yang mencakup kajian agama dan keagamaan Buddha.
Articles 49 Documents
Pengaruh Kerpibadian dan Kemampuan Berpikir Kritis Terhadap Sikap Spiritual Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Maya Ika Virdianik
Jurnal Pelita Dharma Vol. 9 No. 1 Edisi Desember 2022
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap spiritual merupakan sikap yang membentuk karakteristik seseorang dalam bentuk perbuatan atas dasar sikap pribadi yang terbentuk dan menjadi suatu faktor pembentukan serta perkembangan terhadap kualitas mental. Sikap spiritual dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diantaranya kepribadian dan kemampuan berpikir kritis. Permasalahan dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya pengaruh kepribadian dan kemampuan berpikir kritis terhadap sikap spiritual mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepribadian dan kemampuan berpikir kritis terhadap sikap spiritual mahasiswa Sekolah Tinggi Agama BuddhaNegeri Sriwijaya Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain noneksperimen yaitu pendekatan metode ex post facto dan menggunakan teknik simple random sampling. Responden penelitian ini adalah mahasiswa aktif dan beragama Buddha di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang yang berjumlah 209 mahasiswa. Data dikumpulkan menggunakan angket yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji prasyarat normalitas dengan menggunakan residual Kormogorov‒Smirnov menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (nilai sebesar 1,272 dengan nilai signifikansi sebesar 0,079). Hasil uji Linieritas menunjukkan bahwa X1 berpengaruh linear terhadap Y (F = 0,907 dan signifikansi = 0,592), X2 berpengaruh linear terhadap Y (F = 3,243 dan signifikansi = 0,000). Dengan kesimpulan variabel bebas pada penelitian ini memiliki pengaruh linear dengan variabel terikat. Hasil uji multikolinieritas menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas atau tidak terdapat hubungan di antara variabel bebas dengan VIF variabel X1 dan X2 = 1,645 10. Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa signifikansi korelasi independen XI = 0,946 dan variabel X2 = 0,722. Dengan kesimpulan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Hasil uji autokorelasi menunjukkan bahwa nilai DW sebesar 1,768 yaitu antara dU = 1,7574 dan (4‒dU) = 2,2426). Dengankesimpulan tidak terjadi autokorelasi. Hasil uji hipotesis simultan menunjukkan bahwa Fhitung = 97,968 Ftabel = 3,06 dengan signifikansi 0,000 0,05. Dengan demikian terdapat pengaruh kepribadian dan kemampuan berpikir kritis terhadap sikap spiritual mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri SriwijayaTangerang dan terdapatnya sumbangan sebesar 57,2%, sedangkan 42,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil uji prasyarat analisis dapat disimpulkan bahwa data dianalisis dengan analisis regresi berganda dan menggunakan bantuan SPSS version 15.0 for windows evaluation version menunjukkan bahwa kepribadian dan kemampuan berpikirkritis berpengaruh terhadap sikap spiritual. Persamaan regresi linear berganda yang diperoleh adalah Y = 23,154 + (1,000)X1 + (0,411)X2. Hasil regresi secara parsial yaitu kepribadian berpengaruh terhadap sikap spiritual jika kemampuan berpikir kritis dapat dikendalikan (t = 8,468 dan nilai signifikansi = 0,000), kemampuan berpikir kritis terhadap sikap spiritual jika variabel kepribadian dapat dikendalikan (t = 3,385 dan nilai signifikansi = 0,001).
Persepsi Umat Buddha di Temanggung, Pati, Dan Banyumas Mengenai Kompetensi Penyuluh Agama Buddha Profesional Madiyono Madiyono; I Ketut Damana; Even Even
Jurnal Pelita Dharma Vol. 5 No. 1 Edisi Desember 2018
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The preservation of Buddhism in Indonesia is greatly influenced by competent and profesional counselors so that the quantity of Buddhists can also increase. In some regions the number of Buddhists experiences ups and downs, along with dedication of Buddhist councelors, assemblies, and the Sangha. Related to this, efforts were made to gather information on various competency of counselors needed by Buddhists in Temanggung, Pati, and Banyumas Districts.Data collection was done in a qualitative way using in-depth interviews, observation, and documentation. Data were analyzed using the Miles and Huberman model. The credibility of the data was done by triangulation, member check, and increasing perseverance.The results of the study show that in general, Buddhists in Central Java understand the duties, roles and functions of Buddhist councelors. The competencies expected by Buddhists in Central Java cover many aspects. Competencies possessed by counselor include: capable to speak in public, capable of preparing guidance material well, master the basic principles of Buddhism, competence in delivering the teaching of the Buddha well, skillfull in carrying out devotional service (rites), competent in applying appropriate methods, skillfull in counseling lay-people. Buddhist councelors must have abilities in other fields, such as: law, the development of social political situations, governance, good communication. In terms of attitude, the councelors must also be able to be role models, be able to maintain harmony between Buddhists and other people of religion. In addition, the councelors must also be competent, humorous, non-sect, responsive, disciplined, diligent, good, open, willing to accept criticism, firm, adjust the condition of the people. Buddhist councelors must be neutral, also expected to have the ability to understand the latest informations, be able to operate a laptop, and other telecommunication and information tools, be able to preserve local culture, such as playing gamelan, singing Badrasanti and singing Javanese Buddhist songs.Pelestarian agama Buddha di Indonesia sangat dipengaruhi oleh penyuluh yang kompeten dan profesional sehingga jumlah umat Buddha juga dapat meningkat jumlahnya. Di beberapa daerah, jumlah umat Buddha mengalami pasang surut, seiring dengan jumlah penyuluh agama Buddha, majelis, dan Sangha. Sehubungan dengan hal tersebut, dilakukan upaya untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai kompetensi penyuluh yang dibutuhkan oleh umat Buddha di Kabupaten Temanggung, Pati, dan Banyumas.Pengumpulan  data  dilakukan  secara  kualitatif menggunakan  wawancara  mendalam,  observasi,  dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis menggunakan  model Miles dan Huberman. Kredibilitas data dilakukan dengan triangulasi, cek anggota, dan meningkatkan ketekunan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, umat Buddha di Jawa Tengah memahami tugas, peran  dan  fungsi dewan agama Buddha. Kompetensi yang diharapkan oleh umat Buddha di Jawa Tengah mencakup banyak aspek.  Kompetensi yang dimiliki oleh penyuluh agama Buddha meliputi: kemampuan berbicara di depan umum, mampu menyiapkan bahan bimbingan dengan baik, menguasai prinsip-prinsip dasar agama Buddha, kompetensi dalam menyampaikan ajaran Buddha dengan baik, terampil dalam melaksanakan pelayanan ritual (ritus), kompetensi dalam menerapkan metode yang tepat, keterampilan dalam konseling umat awam. Penyuluh Agama Buddha juga harus memiliki kemampuan di bidang lain, seperti: hukum, memahami perkembangan situasi sosial politik, pemerintahan, dan keterampilan komunikasi yang baik. Dari segi sikap, penyuluh agama Buddha juga harus bisa menjadi panutan, mampu menjaga keharmonisan antara umat Buddha dan umat beragama lainnya. Selain itu,penyuluh juga harus kompeten, humoris, bersikap non- sekte, responsif, disiplin, rajin, baik, terbuka, mau menerima kritik, tegas, dan dapat beradaptasi dengan kondisi masyarakat. Penyuluh Agama Buddha selain bersikap netral juga diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami perkembangan informasi terbaru, dapat mengoperasikan laptop dan alat telekomunikasi dan informasi lainnya, dapat melestarikan budaya lokal, seperti bermain gamelan, menyanyi Badrasanti dan menyanyikan lagu- lagu Buddha Jawa.
SITUS BATUJAYA SEBAGAI KOMPLEKS AKTIVITAS KEAGAMAAN BUDDHA PAOA ABAD 4 - 6 MASEHI Puji Sulani
Jurnal Pelita Dharma Vol. 1 No. 1 Edisi Desember 2014
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peuelitiau  iui bertujunn merekoustruksi aktivitas keagnmaan Buddha pada nbad4  -  6 Mnselri  di Situs  Bntujayn Karouumg.  Penelitian  ini bersifat  arkeologi lristoris dengan  pendekaian  arkeologi  kontekstual  interpretative.  Toltapan  penelitian  dengan pengumpulan data, anausis data, da11  eksplanasi.   Hasil  peneiitian ini adalah  bahum perbedaan strukiur  ba11gu11a11 candi dipengaruhi oleh fimgsi ba11g1111a11 tidak of.ehpendiri atm,  pe11y1mda11g  dana  pembangnnan  ya11g  betbeda.  Fu11gsi  situs Batujm;a  adalah sebagai kompleks  rirama  ata11  viluirn  yang dibatasi tembok; memiliki stiip«; stamblra (pilar); memiliki [asilitns  b1111g1111a11  sakral berupa candi serta bangu11nn pro/an  berupa tempat tinggal (k11ti)  bltikkhu,  tempat pemandian,  dan tem.bok batas  bn11g1111.m1 caudi. Kompleks  ini   memiliki  batas  simii.   Aktivitas  keagamaan ya11g   dilakukan  meliputi sanghnknmma  di uposatlraglrara  (Segaran VU!); pusat  ritual puja  di Segaran  V dan ritual penghormatan,  prndaksimi ataupun  meditasi  di situs lain.  Aktivitas keagamaa11 diaumli dengan persiapau di Segaran II; menuju Segaran V 1111tuk  pradaksirui, meditasi dengan objek mandala votive tablet serta pembacaan pmtityasanwtpiuin,  dan.  diaklun denga« pradaksina dan meditnsidi  Segarn11 I atm, sebalilazya.
Harmonisasi Keragaman dalam Komunitas Meditasi Kesadaran di Wihara Mendut Waluyo Waluyo
Jurnal Pelita Dharma Vol. 6 No. 1 Edisi Desember 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe harmony in the diversity of the Awareness Meditation community at the Mendut Temple. This study uses a qualitative case study model approach. The subjects of the study are participants in the Awareness Meditation retreat held at Mendut Temple, Magelang. The object of the study is the diversity of the retreat participants' spiritual orientations which were explained in three themes namely the relevance of meditation to the problems of life, their impact on participants, and the meaning of diversity in the Awareness Meditation community. Data collection used non-test technique through observation, interviews, and documentation with observation guidance instruments, interview guidelines, and other supporting documents. The validity of the data uses a test of credibility, transferability, dependability, and confirmability. Data were analyzed using the Miles Huberman model. The results showed that: (a) the relevance of meditation with problems of life for participants in the retreat of awareness meditation at the Mendut Temple is closely related to the participant introduction to meditation, interpersonal comparisons, search stages, ability to identify life problems and problems in attending mindfulness meditation, and suggestions for organizers in supporting the implementation of meditation; (b) the impact of meditation on daily life for retreat participants includes the form of the exercise, the training schedule and time, how to respond to the situation, a higher understanding of mindfulness meditation, the requirements of the practice, the meaning of the impact on participants, and the results of meditation; and (c) the views of the participants of the mindfulness meditation retreat have a close relationship with observance of participating in the retreat, the relationship of fellow participants, the perspective of other religions, the nature of diversity, and the sustainability of the community in the future. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keharmonisan dalam keragaman komunitas Meditasi Kesadaran di Wihara Mendut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif model case study. Subjek penelitian adalah peserta retret Meditasi Kesadaran yang dilaksanakan di Wihara Mendut, Magelang. Objek penelitian adalah keragaman orientasi spiritual peserta retret yang dijelaskan dalam tiga tema yaitu relevansi meditasi dengan permasalahan kehidupan, dampaknya bagi peserta, dan makna keberagaman dalam komunitas Meditasi Kesadaran. Teknik pengumpulan data menggunakan nontes melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan instrumen pedoman observasi, pedoman wawancara, dan dokumen pendukung lainnya. Keabsahan data menggunakan uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Data dianalisis menggunakan model Miles Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) relevansi meditasi dengan permasalahan kehidupan bagi peserta retret meditasi kesadaran di Wihara Mendut berkaitan erat dengan permulaan peserta mengenal meditasi, perbandingan antarguru, tahapan pencarian, kemampuan mengidentifikasi permasalahan kehidupan dan problematika dalam mengikuti meditasi kesadaran, dan saran bagi penyelenggara dalam mendukung pelaksanaan meditasi; (b) dampak meditasi dalam kehidupan sehari-hari bagi peserta retret meliputi bentuk latihan, jadwal dan waktu latihan, cara menanggapi situasi, pemahaman yang lebih tinggi dalam meditasi kesadaran, persyaratan berlatih, makna dampak bagi peserta, dan hasil meditasi; dan (c) pandangan peserta retret meditasi kesadaranmemiliki kaitan erat dengan ketaatan dalam mengikuti retret, hubungan sesama peserta, cara pandang terhadap agama lain, hakikat keberagaman, dan keberlanjutan komunitas di masa mendatang.
RADIKALISME DALAM PERSPEKTIF AJARAN BUDDHA Yayang Hadi Kusno; Nursin Nursin; Shenniwaty Vesakha Putri; Parjono Parjono
Jurnal Pelita Dharma Vol. 9 No. 2 Edisi Juni 2023
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman sangat besar dan dari hal tersebut dapat mengondisikan dari berbagai faktor tumbuh dan berkembangnya paham yang kemudian berorientasi pada tindakan radikal. Beberapa tahun belakangan ini masih maraknya terjadinya kasus radikalisme yang membuat ketidaknyamanan dan mengganggu keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep radikalisme menurut perspektif ajaran Buddha. Metode kajian yang digunakan adalah kajian pustaka  atau library research, yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengelola bahan penelitian. Analisis interpretasi data dalam kajian Tipitaka ini menggunakan teknik hermeneutika. Sejalan dengan Susanto (2016:1) yang menyatakan “dalam tradisi Yunani Kuno kata hermeneuein dipakai dalam tiga makna yaitu “to say, to explain, and to translate”. Penelitian ini dilakukan melalui tiga cara yakni: mengungkapkan, menerangkan, dan menerjemahkan nilai-nilai dalam Tipitaka. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwq dengan tingkat keberagaman yang pada pada bangsa indonesia, menjadi peluang bagi kaum atau kelompok radikal menanamkan pengaruh ekstrimisnya kepada segelintir orang yang memiliki kepentingan individu maupun kelompok dengan membenarkan segala cara. Maka kemudian dampaknya terlihat seperti aksi pengeboman, teror kepada individu maupun sekelomok orang, pembunuhan dan penganiyayaan, kelompok pemberontak yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa serta tanah air Indonesia maupun kejahatan lainya. Buddhadharma menyajikan jawaban atas permasalahan maupun persoalan yang berkaitan dengan radikalisme. Beberapa poin yang hendaknya dipelajari, dipahami dan dimengerti serta dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya yaitu: meningkatkan pemahaman terhadap pandangan benar dan pikiran sesuai Buddhadharma (jalan mulia berunsur delapan); melaksanakan Pancasila Buddhis (menjaga moralitas); membudayakan Hiri dan Ottapa dalam diri; menciptakan dan menjaga kerukunan serta persatuan; tidak berafiliasi dengan orang yang memiliki pemahaman radikal; menghindari pertengkaran; meningkatkan pemahaman dalam Wawasan Kebangsaan, Pancasila dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika; saling bersinergi dengan pihak terkait dalam upaya mencegah maupun mereduksi paham radikal; memperkuat Budaya Lokal (musyawarah secara damai, tolong menolong, gotong royong, dan toleransi); mengaplikasikan Saraniyadhamma (enam faktor yang membawa keharmonisan, kerukunan, persatuan dan kesatuan)Kata kunci: Radikal, Perspektif Ajaran Buddha ABSTRACTIndonesia is a country that has a very large diversity and from this it can condition various factors for the growth and development of understanding which is then oriented towards radical action. In recent years there are still rampant incidents of radicalism that create and disrupt harmony in the life of society, nation and state. The purpose of this study was to determine the concept of Radicalism from the perspective of Buddhism. The study method used is library research or library research, namely activities related to library data collection, reading and recording and managing research materials. The analysis of data interpretation in this Tipitaka study uses hermeneutic techniques. In line with Susanto (2016:1) states "In the ancient Greek tradition the word hermeneuein is used in three meanings, namely "to say, to explain, and to translate". This research was conducted in three ways, namely: expressing, explaining, and translating the values in the Tipitaka. The results in this study show that with the level of diversity in the Indonesian nation, it becomes an opportunity for radical groups or groups to sharpen their extremist influence on a handful of people who have individual or group interests by justifying all means. So then the impact is seen as bombings, terror against individuals and groups of people, murder and persecution, rebel groups who want to divide the unity and integrity of the nation and the homeland of Indonesia and other crimes. Buddhadharma provides answers to problems and issues related to radicalism. There are several points that should be studied, understood and understood and practiced in daily life, including: increasing understanding of right views and thoughts according to Buddhadharma (the noble eightfold path); Implementing Buddhist Pancasila (maintaining morality); Cultivating Hiri and Ottapa within; Creating and maintaining harmony and unity; Not affiliated with people of radical understanding; Avoid quarrels; Increase understanding in National Insight, Pancasila and the Motto Bhinneka Tunggal Ika; Synergize with related parties in an effort to prevent or reduce radicalism; Strengthening Local Culture (peaceful deliberation, mutual assistance, mutual cooperation, and tolerance); Apply the Saraniyadhamma (six factors that bring harmony, concord, unity and oneness).Keywords: Radicalism, Buddhist Perspective
Perspektif Mahasiswa tentang Rasa Puas (Santuṭṭhi) terhadap Pacar: Studi Kasus Mahasiswa STABN Sriwijaya Semester VIII Tahun Akademik 2022/2023 Metta Cris Angel; Muawanah Muawanah; Nyoto Nyoto
Jurnal Pelita Dharma Vol. 10 No. 1 Edisi Desember 2023
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humans are social beings who cannot live alone and cannot be separated  from the influence of other humans because humans need and influence one  another. One of the relationships that are owned is a relationship of love or  courtship. Dating raises several problems, such as at STABN Sriwijaya  Tangerang Banten, it was found several cases of students, especially in the VIII  semester of the 2022/2023 Academic Year, who felt dissatisfied in being in a  relationship, so they changed girlfriends, but there were also students who had  been in relationships for a long time. The purpose of this research is to describe  students' perspectives about satisfaction (santuṭṭhi) to partner for students of  STABN Sriwijaya semester VIII for the 2022/2023 Academic Year. This study uses a qualitative approach with a case study model. The  informants in this study are students of STABN Sriwijaya semester VIII for the  2022/2023 academic year who are Buddhists. Data collection techniques used,  namely observation, interviews, and documentation. Data were analyzed using the  Miles, Huberman, and Saldana models. The data validity technique was carried  out by testing credibility, transferability, dependability, and confirmability. The results of this study concluded (1) Student perspectives about santuṭṭhi  to girlfriends by STABN Sriwijaya students in semester VIII of the 2022/2023  academic year consisting of goals, knowing about santuṭṭhi, meaning, and  importance. The goals of having a romantic relationship include: looking cool,  motivation to study or study, desire, marriage, encouragement, filling in  deficiencies, and finding partners who share the same beliefs. Then students know  or not about santuṭṭhi data obtained include: satisfied with what is owned and do  not know. Students' understanding of santuṭṭhi is the special person we choose,  not feeling lonely, as a home, not there, learning together, encouragement for life,  a place to tell stories of complaints, life partners, family, and motivation. Then  according to students feeling satisfied or santuṭṭhi it is important to have; (2)  Student constraints in expressing satisfaction or santuṭṭhi to boyfriend consists of  personal character, communication problems, not giving a sense of comfort,  changes in the nature of the partner, people talk, differences in thoughts, and  stubbornness; (3) The way students express satisfaction or santuṭṭhi to partners  include: giving gifts, appreciating partners, paying attention, making partners  happy, concrete actions, improving oneself, asking for blessings, and conveying  them directly. Keywords: Perspective, Student, Santuṭṭhi
Makna Pelaksanaan Ritual Puja Bakti Keagamaan Buddha Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak Sekolah Bina Harum Bangsa Tri Nindi Lestari
Jurnal Pelita Dharma Vol. 9 No. 1 Edisi Desember 2022
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem raised in this study is that there is no comprehensive description of the meaning of carrying out Buddhist religious rituals for early childhood in the Kindergarten of Bina Harum Bangsa School. The purpose of this study was to describe the meaning of carrying out Buddhist religious rituals for early childhood in the Kindergarten of Bina Harum Bangsa School. This research uses descriptive qualitative method. The subjects of this study were early childhood children at Bina Harum Bangsa School, early childhood teachers at Bina Harum Bangsa School, and guardians of early childhood students at Bina Harum Bangsa School. This research was carried out in January, February, and June 2021. The data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. Test the validity of the data include credibility, transferability, dependability, and confirmamability. The data that has been obtained were analyzed using the Miles and Huberman model, namely data collection, data condensation, display, and drawing conclusions. The results of this study are: (1) the meaning of implementation is aspects of early childhood development and rituals as supporting aspects of early childhood development; (2) implementation objectives include: (a) school objectives are efforts to achieve the school's vision, mission and goals, and as an effort to implement the curriculum; (b) the aim of the teacher is to strengthen the beliefs of early childhood, to instill the value of respect for those who deserve to be respected, to practice the Buddhist way of worship, to inculcate the teachings of Buddhism, and to support aspects of the moral and religious development of early childhood; (c) the objectives of the guardians are efforts to change the bad character of children, efforts to support early childhood development, and efforts to increase the belief in Buddhist teachings for early childhood; (3) the benefits of implementation include: (a) the benefits received by the school are that the school gains the trust of parents and the community; (b) the benefits received by students are the habit of giving greetings, awareness of giving, practicing meditation, memorizing namakarapatta, practicing Buddhist Pancasila, being diligent in Buddhist Sunday School, being able to get along, being able to behave positively, being able to be tolerant, and being able to respect older people.
Potensi Pendayagunaan Perantau Buddhis untuk Pembinaan Umat Buddha di Desa Purwodadi Kabupaten Kebumen Sabar Sukarno
Jurnal Pelita Dharma Vol. 5 No. 1 Edisi Desember 2018
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Villager migrate to cities with the aim of improving themselves in economics and education. Like other communities, many Buddhists in Purwodadi village also migrated. At present, many Buddhist migrants have been able to improve their quality of life by having good livelihoods and successfully taking higher education, spread at several regions in Indonesia. This is a great potential for the development of Buddhists in Purwodadi village.This article aims to describe the potential of Buddhist migrants from Purwodadi village, their contribution to the development of Buddhists in their hometown, and the program for involving Buddhist migrants in future. The data for this article is obtained by observation, interview, and documentation techniques. Interviews were conducted with religious leaders and Buddhists in Purwodadi village.When it was successful, migrants want to contribute to Buddhist development in their hometown. It was found that Buddhist migrants have supported the development of Buddhism, by providing material and non-material assistance. Buddhists in Purwodadi have been benefited from migrants. However, the involvement of migrants is considered not yet optimal, so more efforts are needed to manage Buddhist migrants. Buddhists in Purwodadi village along with Buddhist migrants have developed programs to increase the involvement of Buddhist migrants.Penduduk desa merantau ke kota dengan tujuan meningkatkan diri dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Seperti halnya masyarakat lain, banyak umat Buddha di desa Purwodadi juga merantau. Saat ini, banyak perantau Buddhis yang sudah mampu meningkatkan kualitas hidup mereka dengan memiliki mata pencaharian yang baik dan berhasil menempuh pendidikantinggi, tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Ini adalah potensi besar bagi pembangunan umat Buddha di desa Purwodadi.Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan potensi perantau Buddhis dari desa Purwodadi, kontribusinya bagi pembangunan umat Buddha di daerah asal, dan program untuk meningkatkan keterlibatan perantau Buddhis di masa depan. Data untuk artikel ini diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan para pembina dan umat Buddha di desa Purwodadi.Ketika berhasil, para perantau ingin berkontribusi bagi pembangunan umat Buddha di kampung halaman. Ditemukan bahwa para perantau Buddhis telah mendukung pembangunan umat Buddha, dengan memberikan bantuan materi dan non- materi. Umat Buddha di Purwodadi telah mendapatkan manfaaat dari para perantau. Namun, keterlibatan perantau dianggap belum optimal, sehingga dibutuhkan lebih banyak upaya  untuk mengelola perantau Buddhis. Umat Buddha di desa Purwodadi bersama dengan perantau Buddhis telah mengembangkan program untuk meningkatkan keterlibatan perantau Buddhis.
STRATEGI PEMBINAAN UMAT OLEH DHARMADUTA Warsito Warsito
Jurnal Pelita Dharma Vol. 1 No. 1 Edisi Desember 2014
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Dharmaduta di Indonesia telah berkembang pesat sejak masa kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Agama Buddha bangkit kembali pada masa pasca kemerdekaan dengan penyebaran Dharma yang dilakukan oleh para Rohaniwan dan pembina yang mengabdikan diri pada Buddha Dharma. Penyiaran agama Buddha dapat diuji dan dibuktikan sendiri, sehingga memungkinkan mereka mencari kebenaran itu sendiri, dilakukan tanpa kekerasan dan cinta damai. Penyiaran agama Buddha melalui dharmaduta harus lebih ditingkatkan melalui banyak hal seperti mengadakan penyuluhan, kelas dhamma dan lain sebagainya. Pada saat ini pengembangan dharmaduta tidak hanya berpusat penyuluhan yang dilaksanakan oleh penyuluh agama yang diangkat dari kementerian agama tetapi terdapat penyuluh honorer yang ditugaskan untuk membantu dalam penyebaran Buddha Dhamma. Pandita juga mempunyai tugas memberikan ceramah dharma bagi pengembangan Buddha Dhamma. Pandita selain memimpin kebaktian dan memberikan ceramah dhamma ada juga yang berperan melakukan pemberkatan kepada umat Buddha yang ingin melangsungkan perkawinan. Dhammaduta memiliki tugas untuk menyebarkan Dhamma kepada umat manusia agar mereka berbahagia. Kecakapan sangat diperlukan dan memegang peranan penting bagi Dharmaduta, sebab ia cepat mengetahui latar belakang para pendengarnya agar uraian yang disampaikan dapat diterima oleh pendengar. Oleh karena itu ia perlu memperhatikan cara-cara dalam membabar dan menerangkan Dharma. Dharmaduta secara khusus bertujuan untuk memperkokoh dan mempertahankan kelangsungan Buddha Dharma, agar para pendengar dapat mengikuti dan melaksanakan Dharma dan Vinaya secara benar, Melindungi Buddha Dharma dari usaha penyelewengan dan pencemaran, sehingga umat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.