cover
Contact Name
Teng Sutrisno
Contact Email
tengsutrisno@petra.ac.id
Phone
+6231-2983139
Journal Mail Official
tengsutrisno@petra.ac.id
Editorial Address
Gedung P lantai 5, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya, Jawa Timur 60236, Indonesia.
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : 14109867     EISSN : 26563290     DOI : https://doi.org/10.9744/jtm
Jurnal Teknik Mesin (JTM) merupakan Jurnal Keilmuan dan Terapan Teknik Mesin yang dikelola oleh Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra. JTM terbit pertama pada April 1999. JTM telah mendapatkan akreditasi Jurnal Nasional oleh Dirjen Dikti Depdiknas dengan SK-Nomor: 02/Dikti/Kep/2002, SK-Nomor :43/DIKTI/Kep/2008. JTM diterbitkan setiap bulan April dan Oktober. Tujuan penerbitan jurnal ini antara lain adalah untuk: Menyebarluaskan pengetahuan, pengalaman/terapan dan temuan baru para ilmuwan atau praktisi di bidang teknik mesin. Meningkatkan motivasi para ilmuwan dan praktisi untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu di bidang teknik mesin
Articles 302 Documents
Pengaruh Kecepatan Putar Pada Proses Pengecoran Aluminium Centrifugal Sugiharto Sugiharto; Soejono Tjitro
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 1 (2004): APRIL 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the methods in casting process is centrifugal casting. Generally, it is used to make a product in the form of cylinder or symmetric on spin mold. Thus, it is necessary to discuss further about the influence of rotation velocity variation on the quality of Aluminum casting product that enwrap mechanical characteristic and micro structure. The velocity variations that chosen are 150 rpm, 180 rpm and 200 rpm. This experiment is executed by looking at micro structure that is produced on each rotation variation especially the part of cross section of casting product. Then, it can be done a discussion about micro structure relation towards the hardness number on each rotation variation. In the observation of micro structure, grain structure that is produced by centrifugal casting is generally equiaxed and columnar with the orientation of direction in accordance with the direction of machine velocity. From the result of Vickers hardness test, it can be seen that rotation variation on 200 rpm show higher hardness number rather than another rotation variation. Abstract in Bahasa Indonesia : Salah satu metode dalam proses pengecoran adalah pengecoran centrifugal yang pada umumnya digunakan untuk menghasilkan benda berbentuk silinder atau benda kerja yang simetris pada cetakan yang berputar. Oleh karena itu perlu dikaji lebih lanjut tentang pengaruh variasi kecepatan putar cetakan terhadap kualitas pengecoran alumunium yang meliputi sifat mekanik (kekerasan) dan struktur mikro. Variasi kecepatan yang dipilih sebesar 150 rpm, 180 rpm dan 200 rpm. Percobaan dilakukan dengan melihat hasil struktur mikro yang dihasilkan pada setiap variasi putaran terutama bagian penampang melintang produk cor. Selanjutnya dapat dilakukan pembahasan mengenai hubungan struktur mikro terhadap angka kekerasan setiap variasi putaran tersebut. Pada pengamatan struktur mikro, bentuk butir yang dihasilkan pengecoran centrifugal secara umum berbentuk equiaxed dan columnar dengan orientasi kemiringan sesuai dengan arah putaran mesin. Dari hasil uji kekerasan Vickers, terlihat bahwa variasi putaran 200 rpm menunjukkan angka kekerasan yang lebih besar dibandingkan dengan variasi putaran lainnya. Kata kunci: pengecoran centrifugal, aluminium, kekerasan, struktur mikro.
Pengaruh Ukuran Dan Jumlah Elemen Singular Terhadap Harga Faktor Intensitas Tegangan Untuk Kasus Retak Pojok Eliptik Dengan Metode Elemen Hingga Wajan Berata; Nurul Muhayat
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 1 (2004): APRIL 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stress intensity factor evaluation is needed to evaluate residual strength and crack growth. It developes some methods to evaluate stress intensity factor. In this research, the stress intensity factor is evaluated on the case of part through crack in finite solid with configuration of quarter elliptic corner crack. It is done by ANSYS software which based on finite element method. Crack tip element model is chosen a quarter point isoparametric 20 node three dimension. The result of ANSYS analysis gives the geometry factor (â) close enough to geometry factor (â) of BEASY software result, with maximum error of 7.99% for the 90o - angle. On the other side, comparation of the ANSYS result with the result of Newmann-Raju equation, the error maximum is 3.89% for the 0o -angle. From statistical test is known that the selection of singular element size and number, disposed doesn't seem to influence the result of stress intensity factor calculation.
Pengaruh Arc On dan Arc Off Time Terhadap Kekasaran Permukaan dan Laju Pembuangan Geram Hasil Pemesinan Sinking EDM Suhardjono Suhardjono
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 1 (2004): APRIL 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinking type electro discharge machine (EDM) is the nwst popular non conventional machining method in the current decade based on modern CNC controlled. Although the EDM process has been used for decades, it is still widely misunderstood by many in manufacturing. The EDM is used when the work piece material is too hard, or the shape or location of the detail cannot easily be conventionally machined e.g. high precision mold and die with high surface quality. The performance of this process can be indicated by productivity and quality of product to be machined. An experiment to study the effect of machining parameter on productivity and surface quality has been done by varying the most important parameter arc on and arc off time. For this experiment a Charme Pulse CD-50M type sinking EDM machine is used to perform the machining process of tool steel SKD 11 material (55- 65 HRC) with an copper electrode and esso lector 40 of dielectric fluid that having a density of 6.8 gr / cm3 and 1320C burning temperature for jet side flushing. The constant parameters are current 8 Ampere, voltage 40 volt and depth of machining 0.5 mm. The experimental data is analyzed by statistically program and the result are empirical formulas of the average roughness Ra = 0.624. A0.4. B-0.01 and the metal removal rate MRR = 0.2. A0.25.B0.53%2C where A is arc on time and B is arc off time. Abstract in Bahasa Indonesia : Electrical Discharge Machine (EDM) sinking merupakan salah satu proses permesinan non konvensional yang berbasis komputer sebagai pengendali utamanya. Dimana EDM shinking digunakan untuk membuat rongga cetakan yang memiliki kontur yang kompleks dan kepresisian yang tinggi. Salah satu produk yang sering dikerjakaan oleh mesin EDM adalah dies dan mould yang memiliki kekerasan yang tinggi. Peranan dies dan mould pada proses manufaktur seperti deep drawing, forging, pengecoran dan lain-lain sangatlah berpengaruh terutama pada kualitas ketepatan dimensi, kepresisian dan kekasaran permukaan dies. Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil produk sesuai dengan yang diharapkan maka pengetahuan paramater selama proses permesinan EDM haruslah baik. Suatu eksperimen yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh arc on time dan arc off time terhadap kekasaran permukaan produk dilakukan untuk mengetahui karakteristik mesin EDM sinking. Eksperimen akan dilakukan pada mesin EDM sinking jenis Charme Pulse CD-50M dan benda kerja plat baja SKD 11 dengan kekerasan 55 s/d 61 HRC yang sering digunakan sebagai bahan dies, elektrode yang digunakan tembaga dan fluida dielectric adalah esso lector 40 dengan density 6,8 gr/cm3 pada temperature burning 132oC. Dalam pengujian ini analisa statistiknya untuk variable bebas adalah arc on time, arc of time. Adapun varible terikat (repon) adalah kekasaran permukaan dan MRR (metal removal rate). Parameter pengujian yang konstan adalah arus listrik 8 ampere, voltase 40 volt, kedalaman pemotongan 0.5 mm, metode jet/side flushing dan untuk parameter pengujian yang tidak konstan adalah pulse on time, pulse of time dan waktu eksekusi tiap titik. Data yang diperoleh dianalisa statistik dengan software Minitab untuk mendapatkan persamaan empiris hubungan antara arc time dan arc off time terhadap kekasaran permukaan. Hasil dari pengujian ini didapatkan bahwa untuk off time konstan dan on time yang semakin naik didapatkan nilai kekasaran permukaan semakin besar dan nilai MRR semakin naik, untuk untuk on time yang konstan serta off time yang semakin naik didapatkan nilai kekasaran permukaan yang relatif konstan dan harga MRR semakin turun. Adapaun persamaan empiris yang didapatkan pada software minitab adalah: - Kekasaran Permukaan (Ra) = 0.624.A0.4.B-0.01 - Metal Removal Rate (MRR) = 0.2. A0.25.B-0.53 dimana A (arc on time), B (arc off time) Kata kunci : Arc on time, arc off time, kekasaran permukaan, metal removal rate (MRR), EDM Sinking.
Attic Hatch Model Implementation Using the Bondgraph Zulkifli Hidayat; Hany Ferdinando
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 1 (2004): APRIL 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Bondgraph had been used widely in building and simulating a model. This paper solves a problem in an attic hatch (planar mechanism problem) using Bondgraph approach. Planar mechanisms are idealized systems that can translate and rotate in one plane. In the same way as linear translation or uni-axial rotation, planar motions can be considered as a special case of spatial motions of mechanisms. In the attic hatch system, people have to push with lot of power to open it. Then came up an idea to add a mass-pulley mechanism in order to open and close it easily. Before implementing this idea, it needs to simulate it first, because it needs to adjust many parameter combinations. This will also prevent someone to make unnecessary hole while implementing this idea (such as trial and error). This paper only dealt with building and simulating this idea, not going further in the real implementation. The simulation result shows that several parameters should be chosen carefully in order to achieve the final goal, i.e. to open the hatch easily and fast. The 20-Sim simulation package is used to verify the model. Abstract in Bahasa Indonesia : Bondgraph sudah dipergunakan secara luas untuk mensimulasikan sebuah model dari plant. Makalah ini akan membahas permasalahan yang terjadi dalam membuat sebuah attic hatch (pintu ke atap yang biasanya terdapat di rumah-rumah Eropa) dengan menggunakan bondgraph. Attic hatch merupakan suatu permasalahan dalam planar mechanism. Planar mechanism ada system ideal yang dapat bertranslasi dan berotasi dalam satu bidang datar. Seperti pada translasi linier atau rotasi pada satu sumbu, gerakan planar dapat digolongkan sebaagai kasus khusus dalam mekanik. Pada attic hatch,orang harus mendorong pintu untuk membukanya. Sehingga muncul suatu ide untuk menambahkan katrol dan beban untuk memudahkan proses buka dan tutupnya. Untuk menambahkan katrol dan beban ini, perlu dilakukan suatu simulasi untuk menghindari pembuatan lobang yang tidak perlu. Makalah ini hanya membahas simulasi dari sistemnya tanpa memasukkan implementasi secara nyata. Dari hasil simulasi, didapatkan bahwa beberapa parameter harus dipilih secara hati-hati untuk dapat membuka dan menutup pintu dengan mudah. Dalam simulasi ini dipergunakan software 20-Sim. Bond graph, simulation, 20-Sim. Kata kunci: bondgraph, simulasi, 20-Sim
Pengembangan Sistem Transmisi Otomatis Pada Sepeda Motor Suzuki Joni Dewanto; Felix Pasila; Heri Susanto
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 1 (2004): APRIL 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The fast growing technology in automotive has made possible to replace convensional transmission system on motorcycle with automatic transmission system to ease the rider. The development of automatic transmission system on motorcycle is intended to replace the convensional transmission system (semi automatic) with automatic transmission system by using microcontroller as brain of the new system. The final project used ATMEL 89C51 microcontroller to recieve pulse from wheel rotation sensor as a reference to energise DC motor to change transmission gear. This system used first gear at speed 0-18 kh/h, second gear at speed 19-37 km/h, third gear at speed 38-60 km/h and fourth gear at speed above 60km/h. The result of the experiment shown that the respons of this automatic transmission system is slower than convensional system. The experiment had shown that to reach velocity from 0 to 60 km/h, the automatic transmission system need 14.73 seconds, meanwhile convenssional system need 13,59 seconds. Abstract in Bahasa Indonesia : Kemajuan teknologi dibidang otomotif memungkinkan sistem tranmisi konvensional pada kendaraan bermotor roda dua diganti dengan sistem transmisi otomatis agar mempermudah pengguna dan tidak mengabaikan kenyamanan dalam berkendara. Pengembangan Sstem Transmisi Otomatis pada sepeda motor ini bertujuan mengganti sistem transmisi konvensional (semi otomatis) menjadi otomatis, dengan menggunakan mikrokontroler sebagai otak utama sistem. Mikrokontroler ATMEL C51 menerima pu1sa dari sensor putaran roda sepeda motor sebagai acuan untuk menggerakkan motor DC sebagai pengubah gigi transmisi. Pada sistem ini sudah ditentukan untuk gigi 1 bekerja pada kecepatan 0-18 km/jam, gigi 2 bekerja pada kecepatan 19-37 km/jam, gigi 3 bekerja pada kecepatan 38-60 km/jam dan gigi 4 bekerja pada kecepatan 60 km/jam ke atas. Dari percobaan yang telah dilakukan di dapatkan bahwa respon dari sistem transmisi otomatis ini lebih lambat dibandingkan dengan sistem konvensional. Untuk kecepatan dari 0 hingga 60 km/jam pada kondisi jalan lurus, dengan sisten transmisi otomatis memerlUkan waktu 14,73 detik, sedang untuk sistem konvensional memerlukan waktu hanya 13,59 detik. Kata kunci : Automatic, Motorcycle, Transmission System.
Analisis Kecepatan Bottom Block Terhadap Struktur Mikro Produk Direct Chill Casting Soejono Tjitro; Dhendi Darmawan Sutedjo
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 2 (2004): OCTOBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Direct chill casting process is used to produce to ingot. To produce to ingot is influenced such as bottom block speed. The objective of this research is to examine to ingot's microstructures. To use to bottom block speed is 57 mm/min and 67 mm/min. The pouring temperature of melt aluminum alloys is 750oC. Water flow rate is constant. Testing specimen is round shape which diameter and length each 70 mm and 400 mm. Microstructures on longitudinal and transversal round is investigated. Generally, microstructures of product of Direct Casting Process is non-uniform dendritic. Grain shape of 67 mm/minute bottom block rate is larger than 57 mm/minute bottom block rate. Abstract in Bahasa Indonesia : Proses Direct Chill Casting digunakan untuk menghasilkan ingot. Proses pembuatan ingot ini dipengaruhi antara lain kecepatan bottom block. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh kecepatan bottom block terhadap struktur mikro ingot. Kecepatan bottom block yang digunakan 57 mm/menit dan 67 mm/menit. Temperatur tuang paduan aluminium 750oC. Debit air konstan. Spesimen uji berbentuk round dengan diameter 70 mm dan panjang 400 mm. Struktur mikro yang diamati pada ke arah longitudinal dan transversal round. Struktur mikro yang dihasilkan proses direct chill casting secara umum adalah dendritik yang tidak seragam. Bentuk butir kecepatan bottom block 67 mm/menit lebih besar daripada kecepatan bottom block 57 mm/menit. Kata kunci: direct chill casting, struktur mikro, kecepatan bottom block.
Analisis Sinyal Getaran untuk Menentukan Jenis dan Tingkat Kerusakan Bantalan Bola (Ball Bearing) Suhardjono Suhardjono
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 2 (2004): OCTOBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An Engineer can determine accurately the type and the level of engine faults using vibration-signal, like a doctor investigates his/her patient by analyzing the hart beat. Vibration is a response of a mechanical system caused by both excitation forces and the changes of operating conditions that vary within certain limits. The excitation forces introduced by several sources such as contact between moving elements, unbalanced mass, misalignments, ball bearing defects, which is the topic of this research may be arised. There are two kinds of bearing defects, local and distributed defects. The most cases of local defects are the defect of inner and outer raceway also rolling elements. Moreover the most cases of distributed defects are the unroundness of inner and outer raceway, missalignment of inner and outer raceway, ununiformed ball dimension. Furthermore, for many machine elements such as ball bearing, the vibration has a typical level, and its frequency spectrum has a characteristic shape when the machine is in good condition or defect. The most popular and the latest sophisticated method to detect bearing defect is computer-based vibration monitoring. This method analyzes the measured vibration-signal in both time and frequency domain. An experiment to detect the type and the level of ball bearing defects has been done in bench grinding machine by changing such a certain defect of bearing elements. A comparison of the vibration-signal of the good condition and the defect one can be determined the type and the level of such a bearing defect. In general the result of this experiment showed that the vibration-signal of the good bearing is a harmonic, but the defect one has a random signal. For determining the type of defect of bearing elements, the frequency must be synchronized with the calculation of bearing parameters such as inner and outer raceway diameters, number of balls and number of rotations. The application of this research is the vibration monitoring for predictive maintenance. Abstract in Bahasa Indonesia : Seorang Insinyur (Engineer) mesin dapat mendeteksi jenis dan tingkat kerusakan mesin dengan sinyal getarannya bak seorang dokter mendeteksi penyakit pasiennya dengan menganalisa denyut/detak jantungnya. Getaran merupakan respon dari sebuah sistem mekanik baik yang diakibatkan oleh gaya eksitasi yang diberikan maupun perubahan kondisi operasi sebagai fungsi waktu. Gaya yang menyebabkan getaran ini dapat ditimbulkan oleh beberapa sumber misalnya kontak/benturan antar komponen yang bergerak/berputar, putaran dari massa yang tidak seimbang (unbalance mass), misalignment dan juga karena kerusakan bantalan (bearing fault) yang akan menjadi topik penelitian ini. Jenis kerusakan bantalan bola baik akibat kerusakan lokal maupun yang terdistribusi ditunjukkan oleh adanya getaran dengan frekuensi tertentu yang muncul, sedangkan tingkat kerusakan pada umumnya diketahui dari besarnya amplitude getarannya. Metode yang paling mutakhir untuk mendeteksi kerusakan pada bantalan bola adalah dengan mengukur karakteristik getarannya baik dalam domain waktu maupun domain frekuensi yang terjadi pada arah radial. Percobaan untuk mengetahui dan mempelajari spektrum getaran akibat kerusakan bantalan bola ini dilakukan pada mesin gerinda bangku dengan mengganti beberapa jenis bantalan yang sengaja dirusak. Analisis perbandingan sinyal getaran antara bantalan bola yang berkondisi baik (normal) dan yang dibuat cacat pada komponennya secara bertingkat sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan jenis dan tingkat kerusakan bantalan bola tersebut. Secara umum hasil dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa sinyal getaran untuk bantalan yang baik mendekati harmonik (sinusoidal), sedangkan yang rusak sinyal getarannya berbentuk stokastik (random). Untuk menentukan jenis kerusakan lintasan dalam, luar atau kerusakan bola harus disinkronkan antara frekuensi getaran dan perhitungan yang berdasarkan data dari parameter bantalannya, yaitu diameter lintasan dalam atau luar, jumlah bola dan putaran poros. Aplikasi hasil penelitian ini adalah monitoring getaran (vibration monitoring) untuk "predictive maintenance". Kata kunci: kerusakan bantalan, sinyal getaran, vibration monitoring, predictive maintenance.
Pemodelan Simulasi Berbasis Fuzzy Controller Terhadap Perilaku Yaw Rate dengan Pengendalian Sudut Steer Roda Belakang (4WS) Wajan Berata; I D.G Ary Subagia
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 2 (2004): OCTOBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Four Wheels Steering System drives (4ws) are increase ones quality of chassis system as propose improve the handling quality and increase the safety, comfortable, and stability control at the highest of vehicle speed. At the time of vehicle move yaw-rate will arise out because caused by tire characteristic and it is give effect to loss of handling quality and stability of vehicle. As control the effort of vehicle performance cause by yaw-rate effect on chassis system that it is use turn the rear wheel of vehicle, which capable to make an opposite direction or same direction with front wheel steering. The controlling of rear wheel turn on 4WS system is used side-slip control method and DC motor of position angle actuator so real yaw-rate will always neutral position of yaw. In this research is applicative the simulation modeling that conducted by utilize the fuzzy controller from Mat-Lab 6.5. As the result of the modeling simulation turn direction rear wheel give a most advance and effect to vehicle in handling the stability and yaw rate effort, so vehicle always stable when turn effort. Abstract in Bahasa Indonesia : Sistem kemudi 4WS (Four Wheel Steering System) adalah pengembangan dari sistem chassis dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pengendalian dan peningkatan keamanan, kenyamanan, dan stabilitas kendaraan dengan meningkatnya kecepatan kendaran. Yaw-rate yang timbul pada saat kendaraan bergerak karena perilaku dari karakteristik ban memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap hilangnya kualitas pengendalian dan kestabilan kendaraan. Sebagai upaya pengendalian dari perilaku yang terjadi pada kendaraan akibat yaw-rate pada sistem chassis diberikan pengendalian berupa gerakan roda belakang yang mampu bergerak belok berlawanan ataupun searah dengan gerak belok roda depan dengan mempergunakan metode pengendalian sudut side-slip dan menerapkan actuator penggerak motor DC sehingga kendali sudut yaw yang terjadi dapat selalu dikontrol agar mendekati yaw-rate netral dari kendaraan. Aplikasi metode tersebut dilakukan dengan pemodelan simulasi mempergunakan fuzzy controller dari Mat-Lab 6.5. Sebagai hasil dari pemodelan simulasi didapatkan bahwa dengan memberikan sudut belok pada roda belakang memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam mengendalikan perilaku yaw-rate yang terjadi sehingga diperoleh kestabilan kendaraan yang baik. Kata kunci: stabilitas kendaraan, sudut belok roda depan, sudut belok roda belakang, fuzzy logic, yawing.
Peningkatan Unjuk Kerja Desain Flexible Shield untuk Pompa Sabun Dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga Willyanto Anggono
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 2 (2004): OCTOBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The flexible shield is a part of the pump system that dispenses soap-product. The function of the flexible shield is to protect the soap pump from intruding water. Investigation on performance of the current design flexible shield found that the current design of the flexible shield has not succeeded yet because there are no enough vertical reaction force in the upper part of the flexible shield after the deformation 9 mm to return to its rest position by itself (the requirement is 10 mm deformation). In the real experiment, the product must contain enough vertical reaction force on the upper part area of the flexible shield to return to its rest position independently. At that situation, there is no minimum turning point in the force against displacement graph. In the Ansys simulation, this condition is illustrated by the same graph force against displacement as the real experiment. To eliminate the locking mechanism during the deformation, the discontinuity should not exist, which means there should be no minimum turning point in the force against displacement graph. The combination of material and geometry are two very influencing factors to the performance of new design flexible shield. From the analysis using Finite Element Method, it is discovered that the displacement position of the minimum turning point in the force against displacement graph of the new design concept is bigger than the current design, which matches our requirement. The force-displacement relationship graphs the minimum turning point position (11 mm displacement). Abstract in Bahasa Indonesia : Flexible shield adalah bagian sistem pompa untuk mengeluarkan suatu produk sabun cair, disamping itu flexible shield juga berfungsi untuk memproteksi pompa sabun dari kemasukan air. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa desain flexible shield yang ada saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal ini disebabkan gaya reaksi vertikal pada flexible shield yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan flexible shield ke posisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 9 mm. Sedangkan kebutuhan desain flexible shield adalah dapat kembali keposisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 10 mm. Pada percobaan sesungguhnya, agar flexible shield dapat kembali ke posisi semula, keadaan tersebut digambarkan dengan tidak adanya nilai minimum turning point pada grafik gaya sebagai fungsi perpindahan (force against displacement graph). Pada simulasi dengan menggunakan metode elemen hingga (ANSYS 5.7), kondisi tersebut diilustrasikan dengan grafik gaya sebagai fungsi perpindahan, sama seperti pada percobaan sesungguhnya. Minimum turning point pada force against displacement graph ini menggambarkan mekanisme penguncian yang menyebabkan flexible shield tidak dapat kembali ke posisi semula setelah terjadinya deformasi 9 mm. Untuk meniadakan pengaruh mekanisme penguncian selama proses deformasi, maka pada force against displacement graph haruslah tidak terdapat minimum turning point. Kombinasi material dan geometri adalah dua faktor yang sangat berpengaruh pada performansi desain flexible shield yang baru. Dengan menggunakan analisa dari Metode Elemen Hingga, dapat diketahui force against displacement graph dari setiap desain baru yang akan dibuat, sehingga dapat diketahui performansi dari setiap desain yang ada. Pada akhirnya desain baru dapat diketahui unjuk kerjanya dengan posisi minimum turning point 11 mm (melebihi dengan kebutuhan desain yang ditentukan). Kata kunci : flexible shield, metode elemen hingga, minimum turning point, grafik gaya sebagai fungsi perpindahan.
Vertical-Axis Differential Drag Windmill Tedjo Narsoyo Reksoatmodjo
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 6 No. 2 (2004): OCTOBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eventhough the development of national electricity in Indonesia rapidly in- creased, but in reality it does not reach the remote villages. The reason is that the establishment of electricity network to reach the remote villages is much more expensive than the revenues gained from the customers. Indonesia as an archipelagos stretch along the equator, the wind to be the source of energy blows throughout the years both in lands and seas. Therefore a simple small scale wind power generator is considered to be the best solution to provide electricity for the remote village communities. Abstract in Bahasa Indonesia : Walaupun pembangunan perlistrikan nasional cukup pesat, namun pada kenyataannya belum dapat menjangkau desa-desa terpencil. Hal ini disebabkan biaya untuk pembangunan jaringan transmisi listrik ke desa-desa terpencil jauh lebih mahal daripada pendapatan yang diperoleh dari pelanggan di desa-desa ter- pencil tersebut. Indonesia sebagai negara kepulauan, angin merupakan sumber energi yang tersedia sepanjang tahun baik di darat maupun di lautan. Oleh sebab itu suatu pembangkit listrik tenaga angin (PLTAn) berskala kecil dengan konstruksi sederhana dan mudah pemeliharaannya merupakan solusi yang bisa dioperasikan sendiri oleh masyarakat pedesaan. Kata kunci: pembangkit tenaga listrik, turbin angin, turbin angin deferensial sumbu vertical.

Filter by Year

1999 2025