cover
Contact Name
Teng Sutrisno
Contact Email
tengsutrisno@petra.ac.id
Phone
+6231-2983139
Journal Mail Official
tengsutrisno@petra.ac.id
Editorial Address
Gedung P lantai 5, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya, Jawa Timur 60236, Indonesia.
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : 14109867     EISSN : 26563290     DOI : https://doi.org/10.9744/jtm
Jurnal Teknik Mesin (JTM) merupakan Jurnal Keilmuan dan Terapan Teknik Mesin yang dikelola oleh Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra. JTM terbit pertama pada April 1999. JTM telah mendapatkan akreditasi Jurnal Nasional oleh Dirjen Dikti Depdiknas dengan SK-Nomor: 02/Dikti/Kep/2002, SK-Nomor :43/DIKTI/Kep/2008. JTM diterbitkan setiap bulan April dan Oktober. Tujuan penerbitan jurnal ini antara lain adalah untuk: Menyebarluaskan pengetahuan, pengalaman/terapan dan temuan baru para ilmuwan atau praktisi di bidang teknik mesin. Meningkatkan motivasi para ilmuwan dan praktisi untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu di bidang teknik mesin
Articles 302 Documents
Perancangan Sistem Suspensi Aktif pada Kendaraan Roda Empat Menggunakan Pengendali Jenis Robust Proporsional Integral dan Derivatif Totok R. Biyanto; Yerri Susatio
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 8 No. 2 (2006): OCTOBER 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The comfortable of vehicle has cloce corelation with suspension system. Suspension system should capabe to isolated or reduce the vibration at body of vehicle which is caused of inproper road surface. One methode to improve suspention system is by using active suspention. This paper will describes how the design of active suspention using robust Proporsional, Integral and Derivative controller. The result of this research shown that active suspension could reduced the vibration on vehicle's body more than 99%. Abstract in Bahasa Indonesia : Tingkat kenyamanan kendaraan sangat erat hubungannya dengan sistem suspensi kendaraan. Sistem suspensi kendaraan harus mampu mengisolasi atau mengurangi getaran yang terjadi pada body kendaraan akibat ketidakrataan dari permukaan jalan. Untuk mendapatkan sistem suspensi yang optimal, maka sistem suspensi perlu adanya modifikasi, dan salah satu alternatifnya yaitu sistem suspensi aktif. Makalah ini akan membahas mengenai bagaimana perancangan sistem suspensi aktif dirancang dengan menggunakan pengendali robust Proporsional, Integral dan Derivatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rancangan sistem suspensi aktif tersebut mampu meredam gangguan jalan terhadap getaran pada body kendaraan hingga mencapai lebih daripada 99% lebih. Kata kunci: Pengendali robust PID, suspensi aktif.
Pengaruh Kelembaban Adherend pada Durabilitas Perbaikan Komposit Masri Masri; Sugiman Sugiman
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 8 No. 2 (2006): OCTOBER 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this paper, the effect of moisture on the durability of composite repair is investigated using fracture mechanics approach. The specimens of double cantilever beam were made from two composites adherend (fiberglass/unsaturated polyester) bonded by epoxy adhesives. The adherend were immersed in the distillate water to gain moisture and then dried in different drying conditions at room temperature (RT) for 12 hours followed by 100 oC for 15 minutes, 50 oC for 5 hours and 100 oC for 2.5 hours. The spesimen was wedged tested in both dry and wet condition in room temperature. The results show that the lower moisture about 2.8%wt according to drying temperature 100 oC give the better durability followed by drying temperature of 50 oC and room temperature. The indication is shown by stable crack growth at higher fracture energy and also by low crack speed at higher fracture energy. Whereas, for wet testing, the better result is reached by drying temperature of 50 oC (moisture contents of 4,4 %wt) and for dry temperature of 100 oC give the worst result. The contradiction suggested that drying temperature for adherend of composite repair should not higher than 100 oC. Abstract in Bahasa Indonesia : Dalam paper ini pengaruh kelembaban pada perbaikan durabilitas komposit fiberglass/polyester telah diselidiki dengan pendekatan fracture mechanics. Spesimen berupa Double Cantilever Beam yang terbuat dari dua adherend komposit fiberglass/polyester yang direkatkan dengan perekat epoxy. Adherend direndam dalam air distilat untuk memperoleh kelembaban dan kemudian dikeringkan dengan beberapa suhu pengeringan, yaitu suhu kamar selama 12 jam diikuti dengan 100 oC selama 15 menit, 50 oC selama 5 jam dan 100 oC selama 2,5 jam. Spesimen diuji baji pada kondisi kering (lingkungan udara) dan kondisi basah (lingkungan air). Hasil pengujian menunjukkan bahwa untuk pengujian kering, kelembaban yang rendah sesuai dengan suhu pengeringan 100 oC memberikan durabilitas yang lebih baik diikuti dengan suhu pengeringan 50 oC dan kemudian pada suhu kamar. Hal tersebut ditunjukkan dengan energi patah yang relatif cukup tinggi dan juga kecepatan retak yang rendah pada energi patah tinggi. Sedangkan pada pengujian basah, hasil yang lebih baik diperoleh pada suhu pengeringan 50 oC (kelembaban 4,4%) dan suhu pengeringan 100 oC memberikan hasil yang terendah. Hal ini menyarankan bahwa suhu pengeringan seharusnya tidak pada atau lebih tinggi dari 100 oC untuk kondisi lingkungan basah. Kata kunci: Perbaikan, kelembaban, pengeringan, double cantilever beam, uji baji, durabilitas.
Analisa Ketangguhan dan Struktur Mikro pada Daerah Las dan HAZ Hasil Pengelasan Sumerged Arc Welding pada Baja SM 490 Anang Setiawan; Yusa Asra Yuli Wardana
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 8 No. 2 (2006): OCTOBER 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Submerged Arc Welding (SAW) is one of method for welding process which used for the extensions of heavy construction, for example bridge construction. Broadness usage of SAW caused by welding process can be done automatically and have high reliability. Microstructure and toughness properties of weld metal were influenced by many factors such as chemical composition, heat input, filler, fluks, etc. This research aim to study influence of heat input. Welding Process was carried out using SAW with the material is SM 490, filler type used was EH 14 and the heat input were varied at 2,1 kJ/mm, 3,16 kJ/mm and 4,3 kJ/mm. The Results of this research show that an increase on heat input leads to coarsening the microstructure on the weld metal. A maximum percentage of Acicular Ferrite and hence the highest impact toughness were achieved at weld metal with heat input 2,1 kJ/mm where it's 50 joule with transition temperature -10 oC. The highest toughness with transition temperature 20 oC were obtained at heat input 3,16 kJ/mm where toughness was 117 joule. Abstract in Bahasa Indonesia : Pengelasan dengan menggunakan metode Sumerged Arc Welding (SAW) adalah pengelasan yang banyak digunakan untuk penyambungan konstruksi berat, misalnya jembatan, perpipaan den bangunan. Luasnya penggunaan metode ini dikarenakan dapat dilakukan secara otomatis dan memiliki keandalan yang tinggi. Struktur mikro dan ketangguhan las dipengaruhi oleh banyak faktor seperti komposisi kimia logam las, input panas, filler, fluks dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur mikro dan ketangguhan hasil pengelasan SAW pada bahan baja karbon rendah. Percobaan dilakukan menggunakan bahan baja SM 490 dan filler jenis EH 14 sedangkan input panas yang digunakan adalah 2,1 kJ/mm, 3,16 kJ/mm, dan 4,3 kJ/mm. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya pembesaran ukuran butir logam induk untuk setiap penaikan input panas. Pada heat input 2,1 kJ/mm menunjukkan jumlah Ferit Accicular yang lebih banyak, sehingga memberikan nilai ketangguhan las tertinggi pada suhu transisi -10 0C sebesar 50 joule dan pada suhu 20 0C ketangguhan las tertinggi pada masukan panas 3,16 kJ/mm sebesar 117 joule. Kata kunci: Sumerged arc welding, ketangguhan, input panas.
Peningkatan Sifat Mekanik Paduan Aluminium A356.2 dengan Penambahan Manganese (Mn) dan Perlakuan Panas T6 Arino Anzip; Suhariyanto Suhariyanto
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 8 No. 2 (2006): OCTOBER 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aluminum Alloy A356.2 is one of aluminum alloys that is suitable to be used as a car wheel - rim material. This is because it has some benefits such as lightweight material, corrosion resistance material, interesting color but its mechanical properties do not meet criteria of JIS H 5202. For that reason, to meet the standard its mechanical properties need to be improved. Mechanical properties of this alloy can be improved using many ways; one of these is by changing its chemical composition. In this research, Mn element is added to alloy A356.2 containing Mn 0.05%w originally. Mn addition to the alloy is commenced from the amount of 0.2%w, 0.4; 0.6; 0.8; 1.0; 1.2; 1.4 and finally 1.6%w. After this, some tests are conducted to these new alloys including tensile test, hardness test, impact test and micro - structural test. Test results show that the change of material mechanical properties occurs due to Mn addition and heat treatment T6 to these alloys. The optimum mechanical properties are obtained with the addition of 1.2%w Mn to the alloy. In this condition, the alloy has Ultimate Tensile Stength of 31.58 kg/mm2, elongation of 7.54%, hardness test of 90.74 HVN and impact test of 5.88 J/cm2 and these results fulfill JIS H 5202 standard. Abstract in Bahasa Indonesia : Paduan Aluminium A356.2 merupakan salah satu paduan aluminium yang cocok dipakai untuk material velg-racing mobil. Karena paduan ini mempunyai beberapa kelebihan seperti; ringan, tahan korosi dan warnanya menarik, tetapi sifat mekaniknya belum memenuhi standar JIS H 5202. Oleh karena itu maka sifat mekaniknya perlu ditingkatkan. Sifat mekanik paduan dapat ditingkatkan dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan mengubah komposisi kimia dan perlakuan panas. Pada penelitian ini dilakukan penambahan unsur Mn ke dalam paduan A356.2 sehingga kandungan Mn yang semula 0.05%w dinaikkan menjadi; 0.2, 0.4; 0.6; 0.8; 1.0; 1.2; 1.4 dan 1.6%w. Setelah itu diberi perlakuan panas T6, kemudian dilakukan uji kekuatan tarik, kekerasan, impak dan pengamatan struktur mikro. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sifat mekanik paduan, naik akibat adanya penambahan Mn dan perlakuan panas T6. Sifat mekanik optimum diperoleh ketika kandungan Mn sebesar 1,2%w. Pada kondisi ini mempunyai nilai Ultimate Tensile Stength 31.58 kg/mm2, elongation 7.54%, kekerasan 90.74 HVN dan kekuatan impak 5.88 J/cm2, dan telah memenuhi standar JIS H 5202. Kata kunci: Paduan Aluminium, ultimate tensile strength, kekerasan, kekuatan impak
Karakteristik dan Visualisasi Aliran Dua Fasa pada Pipa Spiral Damawidjaya Biksono
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 8 No. 2 (2006): OCTOBER 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The flow of air-water mixtures has been investigated in a horizontal spiral pipe. The effect of flow in the spiral pipe will be used to identify the location bubble transition. The purpose of present study is to understand characteristics of the air - water mixture flow in a horizontal spiral pipe. Measurements of pressure losses and bubble distribution of cross section spiral pipe were carried out for air-water by means of manometer and digital video, respectively. As a result, it is shown that the friction of air-water mixture is greater than that of water, and a location of bubble flow can be identified. Abstract in Bahasa Indonesia : Penelitian aliran udara-air di dalam pipa spiral horizontal telah dilakukan. Efek aliran di dalam pipa spiral dipakai untuk melihat letak lokasi perubahan gelembung udara. Tujuan dari studi ini adalah untuk menjelaskan karakteristik aliran campuran udara-air yang mengalir di dalam pipa spiral horizontal. Pengukuran kerugian tekanan dan letak lokasi penyebaran gelembung udara-air pada penampang melintang pipa, masing-masing menggunakan manometer dan digital video. Hasil koefisien gesek campuran udara-air lebih besar dibandingkan koefisien gesek pada air dan letak posisi aliran udara dapat dijelaskan. Kata kunci: Aliran dua fasa, pipa spiral.
Pengaruh Diameter Kawat Kumparan Alat Penghemat Energi yang Berbasis Elektromagnetik Terhadap Kinerja Motor Diesel Houtman P. Siregar
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 9 No. 1 (2007): APRIL 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As we have known that nowadays for solving the crisis of energy in Indonesia, many works have been done to search the alternative sources of energy. Simultaneously the researchers try to create the apparatus which can save the fuel consumption for automobiles. Purpose of the considered research is to compare the effect of change in diameter of wire winding of fuel saver, which is based on electromagnetic to the performance of the diesel engine. Diameters of the wire winding, which is used in the proposed research, are 0.25 and 0.35 mm. The performance of fuel saver, which has been designed, is tested in the laboratory of the internal combustion engine rig. Performance of the produced fuel saver which is installed in the fuel line of internal combustion engine rig is compared to the performance of the standard internal combustion engine rig (without installing fuel saver in the fuel line of internal combustion engine rig). Speed of the engine and number of coil windings of fuel saver are chosen as the testing variables for the proposed research. The proposed research has succeeded to produce the fuel saver, which is based on electromagnetic for saving the automotive fuel consumption. Results of the research show that the fuel saver which is produced can save fuel consumption about 30.79% especially for number of winding 4000 coils and diameter of wire 0.35 mm. In addition the produced fuel saver can reduce the opacity of the emission gas. Abstract in Bahasa Indonesia : Sebagaimana yang telah diketahui bahwa dengan semakin menipisnya persediaan bahan bakar serta mahalnya harga bahan bakar akhir-akhir ini di Indonesia, maka para peneliti terus berusaha mencari sumber-sumber energi alternatif. Secara bersamaan para peneliti berusaha juga menemukan peralatan yang dapat menghemat pemakaian bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh perubahan diameter kawat kumparan alat penghemat bahan bakar yang berbasis elektromagnetik terhadap konsumsi energi motor diesel. Diameter kawat kumparan yang digunakan dalam penelitian adalah 0,25 dan 0,35 mm. Pengamatan dilakukan dengan menguji kinerja mesindipasang peralatan penghemat bahan bakar dan tidak dipasang alat penghemat bahan bakar (mesin standar). Sebagai variabel pengujian adalah putaran mesin, dan banyaknya lilitan yang digunakan pada kumparan alat penghemat bahan bakar yang dirancang. Penelitian ini telah berhasil merancang alat penghemat bahan bakar solar yang berbasis elektromagnetik dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan diameter kawat 0,35 mm dan jumlah lilitan kumparan 4000 lilitan memberikan penghematan bahan bakar sekitar 30,79% dibandingkan dengan mesin diesel standar. Disamping itu penambahan penghemat bahan bakar dalam penelitian ini mengurangi opasitas (kehitaman) dari gas buang motor diesel yang diuji. Kata kunci: Induksi medan elektromagnetik, konsumsi bahan bakar, jumlah lilitan, putaran mesin, opasitas.
Perilaku Perambatan Retak pada Aluminium Paduan A2024-T351 dengan Menggunakan Spesimen CTS Husaini Husaini
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 9 No. 1 (2007): APRIL 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fracture behavior of aluminum alloys under mixed mode (Mode I+II) loading was studied. Fracture tests were carried out on A2024-T351 aluminum. Compact-tension-shear specimen was employed and angle between loading axis and the crack surface was varied from 90°(mode I) to 0°(mode II). The crack extension (crack initiation and propagation) behaviors observed by a video microscope. Under a load with relatively high mode II components, the shear type crack initiation preceded the opening type crack propagation. Final fracture was occurred by shearing instability in the pure mode II loading. These experimental results were explained qualitatively by using finite element analysis. The critical values of stress intensity factors at crack initiation under mode II dominant conditions become smaller than those predicted by the maximum hoop stress criterion. It was also found that the rolling direction and small holes existing ahead of the crack-tip influence the crack extension behaviors. Abstract in Bahasa Indonesia : Penelitian ini membahas studi tentang perilaku retak aluminium paduan pada pembebanan mode campuran (mixed mode) (Mode I+II). Uji retakan dilakukan pada material aluminium paduan A2024-T351. Sudut antara arah pembebanan dan permukaan retakan dari spesimen Compact-tension-shear yang digunakan divariasikan dari 90°(mode I) sampai 0°(mode II). Perilaku dan arah perambatan retak diamati dengan video microscope. Pada pembebanan dengan komponen mode II relatif tinggi, maka inisiasi retakan jenis geseran terjadi lebih dahulu kemudian diikuti dengan jenis perambatan retak terbuka. Patah akhir terjadi karena ketidakstabilan geseran pada pembebanan mode II. Hasil eksperimental ini akan dijelaskan secara kualitatif dengan menggunakan analisa metode elemen hingga. Harga kritis dari faktor intensitas tegangan pada inisiasi retakan pada pemebebanan dimana mode II lebih dominan menjadi lebih kecil dari pada yang diprediksikan dengan kriteria tegangan hoop maksimum (maximum hoop stress criterion). Juga diperoleh bahwa arah pengerolan dan lubang-lubang kecil yang ada didepan ujung retak mempengaruhi perilku arah perambatan retak. Kata kunci: Aluaminum paduan, perilaku perambatan retak, analisa FEM, pembebanan mode campuran.
Karakterisasi Ball Mill Import pada Industri Semen di Indonesia Ratna Kartikasari; R. Soekrisno; M. Noer Ilman
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 9 No. 1 (2007): APRIL 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to investigate the characteristics of import Ball Mill which is used at cement mills in Indonesia. There were two kind of import Ball Mill from PT. Semen Gresik, Tbk that used in this research which are A type (Ø 30 mm) and B type (Ø 40 mm). Visual investigation, chemistry composition, distribution of hardness, and microstructure photograph was conducted characterize these ball mill. Visually, the import Ball Mill has rough surface, white coloring when cut off, and small cracks at all specimens. Type A ball mill contains of 2,934% C, 11,231% Cr, and 0,177% Mo, where type B Ball Mill contains of 2,693% C, 12,31% Cr, and 1,103% Mo. Both are martensitic white cast iron ASTM A532 Class II type A. The surface are harder then the its core. The highest hardness on the surface are 720,82 kg/mm2 (type A) and 746,5 kg/mm2 (type B), where as lowest hardness on the core are 631,1 kg/mm2 (type A) and 544,0 kg/mm2 (type B). Microstructure investigation shows Perlit, Cementit, and Martensit. Abstract in Bahasa Indonesia : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Ball Mill import yang digunakan oleh pabrik semen di Indonesia. Bahan yang digunakan adalah ball mill import di PT. Semen Gresik, Tbk dari 2 merk berbeda, yaitu merk A (f 30 mm) dan merk B (f 40 mm). Karakterisasi Ball Mill import dilakukan dengan pengamatan visual, uji komposisi kimia, uji distribusi kekerasan dan foto struktur mikro. Secara visual terlihat bahwa Ball Mill import memiliki permukaan kasar, hasil potongan berwarna keputihan dan terdapat retakan-retakan kecil pada semua specimen. Hasil uji komposisi kimia menunjukkan bahwa Ball Mill import f 30 mm mengandung 2,934% C, 11,231% Cr, dan 0,117% Mo sedangkan f 40 mm mengandung 2,693% C, 12,313% Cr dan 1,103 Mo, termasuk dalam kelompok Martensitic white cast iron ASTM A532 Class II Type A. Hasil uji distribusi kekerasan menunjukkan bagian permukaan lebih keras dibandingkan bagian pusat dengan nilai kekerasan tertinggi 720,82 kg/mm2 (f 30 mm) dan 746,5 kg/mm2 (f 40 mm) sedangkan nilai kekerasan terendah 631,1 kg/mm2 (f 30 mm) dan 544,0 kg/mm2 (f 40 mm). Hasil pengamatan foto struktur mikro menunjukkan bahwa struktur terdiri dari Perlit, Cementit dan Martensit. Kata kunci: ASTM A532, bola penggiling, besi tuang putih martensitik.
Pengaruh Parameter Proses Pelapisan Nikel Terhadap Ketebalan Lapisan Bambang Santosa; Martijanti Syamsa
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 9 No. 1 (2007): APRIL 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nickel plating process by using electric current (electroplating) is a most widely applied plating in industry as a final result or basic plate for further processes. Nickel plating process can be applied to products such as medals aimed at protecting basic metal (copper) against corrosion and to keep their surfaces with shinning color throughout their life. The plate thickness to be produced on medals' surfaces would be influenced by some plating process parameters, among others, current density, temperature, and plating time. The research method used was experimental method by conducting thickness test on the nickel-plated medals by varying plating time (5, 10, 15 minutes), current density (0.28, 0.35, 0.42 ampere), and temperature (400C, 500C, 600C) parameters. Plating time, temperature, and current density parameters used during the plating process would have influence on nickel plate results qualitatively, where the bigger current density and the higher applied temperature, the thicker nickel plate produced on medals' surfaces. From the results of test it was obtained that the highest value of plate thickness was 82 µm on 0.42 ampere for a plating time of 15 minutes and at temperature of 600C. Abstract in Bahasa Indonesia : Proses pelapisan nikel dengan menggunakan arus listrik (electroplating) merupakan salah satu pelapisan yang paling banyak digunakan pada industri sebagai hasil akhir atau lapisan dasar untuk proses selanjutnya. Proses pelapisan nikel dapat diaplikasikan untuk produk seperti pada medali yang bertujuan untuk melindungi logam dasar (tembaga) dari korosi dan permukaannya mempunyai warna yang mengkilap selama masa pakainya. Tebal lapisan yang dihasilkan pada permukaan medali ini akan dipengaruhi oleh beberapa parameter proses pelapisan, diantaranya rapat arus, temperatur dan waktu pelapisan. Metode penelitian yang digunakan adalah metoda eksperimental dengan melakukan pengujian ketebalan terhadap medali yang telah dilapis nikel dengan menvariasikan parameter waktu pelapisan (5, 10, 15 menit), rapat arus (0,28, 0,35, 0,42 amper) dan temperatur (40oC, 50oC, 60oC). Parameter waktu pelapisan, temperatur dan rapat arus yang digunakan selama proses pelapisan ini akan mempengaruhi hasil lapisan nikel secara kuantitas, dimana semakin lama waktu pelapisan, semakin besar rapat arus dan semakin tinggi temperatur yang digunakan maka semakin tebal lapian nikel yang dihasilkan pada permukaan medali. Dari hasil pengujian diperoleh nilai tertinggi untuk tebal lapisan adalah 82 µm pada 0.42 amper dengan waktu pelapisan 15 menit dan temperatur pelapisan 60oC. Kata kunci: Pelapisan, tebal lapisan, rapat arus, temperatur, waktu pelapisan.
Analisis Umur dan Keausan Pahat Karbida untuk Membubut Baja Paduan (ASSAB 760) dengan Metoda Variable Speed Machining Test Hendri Budiman; Richard Richard
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 9 No. 1 (2007): APRIL 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A tool life is an important data in planning a machining process. In this research, an experiment was done to study life and wear of carbide cutting tool used in turning process of an alloy steel of ASSAB 760. Cutting speed was varied with other cutting variables (federate and depth of cut) was set fixed. Graphical method was used in the analysis to determine n exponential (n=0.378) and a constant of Taylor Tool Life (CT=379). An equation of Taylor Tool Life was obtained as VT0,378=379, which give A value of tool life of 140.33 minutes at low cutting speed and 14.756 minutes at high cutting speed. Abstract in Bahasa Indonesia : Umur pahat merupakan suatu data permesinan yang sangat penting dalam perencanaan permesinan. Dalam penelitian ini dijelaskan percobaan menentukan umur dan keausan pahat karbida untuk membubut baja paduan (ASSAB 760), sehingga dapat dimanfaatkan untuk melengkapi data permesinan mengenai umur pahat. Penelitian dilakukan dengan memperhatikan pengaruh kondisi pemotongan, dimana kecepatan potong divariasikan sedangkan kondisi pemotongan lain, seperti gerak makan dan kedalaman pemakanan tetap. Tujuan penelitian ini adalah menentukan umur pahat karbida yang digunakan untuk memotong baja paduan. Metoda grafik digunakan untuk analisa percobaan, untuk mendapatkan nilai eksponen n (n=0,378) dan konstanta umur Pahat Taylor CT (CT = 379 ). Persamaan umur Pahat Taylor yang dihasilkan adalah VT0,378=379. Hasil penelitian mendapatkan umur pahat untuk kecepatan potong rendah adalah 140.33 menit dan pada kecepatan potong tinggi 14,756 menit Kata kunci: Pahat potong karbida, baja paduan, umur pahat, keausan pahat, pembubutan

Filter by Year

1999 2025