cover
Contact Name
Teng Sutrisno
Contact Email
tengsutrisno@petra.ac.id
Phone
+6231-2983139
Journal Mail Official
tengsutrisno@petra.ac.id
Editorial Address
Gedung P lantai 5, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya, Jawa Timur 60236, Indonesia.
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : 14109867     EISSN : 26563290     DOI : https://doi.org/10.9744/jtm
Jurnal Teknik Mesin (JTM) merupakan Jurnal Keilmuan dan Terapan Teknik Mesin yang dikelola oleh Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra. JTM terbit pertama pada April 1999. JTM telah mendapatkan akreditasi Jurnal Nasional oleh Dirjen Dikti Depdiknas dengan SK-Nomor: 02/Dikti/Kep/2002, SK-Nomor :43/DIKTI/Kep/2008. JTM diterbitkan setiap bulan April dan Oktober. Tujuan penerbitan jurnal ini antara lain adalah untuk: Menyebarluaskan pengetahuan, pengalaman/terapan dan temuan baru para ilmuwan atau praktisi di bidang teknik mesin. Meningkatkan motivasi para ilmuwan dan praktisi untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu di bidang teknik mesin
Articles 302 Documents
Dinamika Pusat Rotasi Fluida pada Proses Difusi Penggabungan Vorteks Putu Wijaya Sunu
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 1 (2008): APRIL 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to analyze effect of vortex position at center of fluid gyration on diffusion process of vortex merging. This research was done experimentally in a water tank. Vortex was generated with suck fluid through a channel at underside of tank with pump. The distance of the vortex to center of gyration was varied as 4, 6, 8, 10 cm. Data taken with measuring each vortex radius and distance of vortex separation. The result of research showed that vortex residing in centered of fluid rotation has longer diffusion time compared with vortex residing eccentrically and it becomes dominant vortex in process of merging. This matter caused by existence of conservation of angular momentum and influence of shear stress during rotation of vortex. Increase of distance of vortex separation will cause increase diffusion time so that the transport phenomenon will be predominated by diffusion process. Abstract in Bahasa Indonesia: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh posisi vortex pada pusat rotasi fluida terhadap proses difusi penggabungan vortex. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen pada sebuah tangki air. Vortex dibangkitkan dengan menghisap fluida melalui saluran pada bagian bawah tangki dengan pompa. Pengujian dilakukan dengan memvariasikan jarak terhadap pusat rotasi yaitu 4, 6, 8, 10 cm. Data diambil dengan mengukur radius masing-masing vortex dan jarak kedua vortex. Hasil penelitian menunjukan bahwa vortex yang berada dipusat perputaran fluida memiliki waktu difusi yang lebih panjang dibandingkan vortex yang eksentris dan menjadi vortex dominan dalam proses penggabungan. Hal ini disebabkan adanya kekekalan momentum angular dan pengaruh tegangan geser selama rotasi vortex. Peningkatan jarak kedua vortex akan menyebabkan peningkatan waktu difusi sehingga transport fenomena akan didominasi oleh proses difusi. Kata kunci: Penggabungan vortex, waktu difusi, jarak vortex.
Integrasi Parameter Traksi dalam Pengendalian Perilaku Yawing Multi Steering Sistim I.D.G Ary Subagia
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 1 (2008): APRIL 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Steering system is a direction component of vehicle. Steering system has to turn guide wheel and it is also have good handling and stability direction. In the last was developing a multi steering mechanism. The purposed of multi steering develop is control yawing rate when vehicle turn direction. The largest yawing rate is influences over steer, under steer, and confusing phenomenon that made accident. To develop multi steering performance do by traction control using the slip angle balance method and static margin method that use simulation model using Mat-lab soft wear. The conclusion the integration multi steering with traction control are more effective for handling direction of vehicle in low and high speed, because it may drop yawing response in turn direction. Abstract in Bahasa Indonesia: Sistem kemudi adalah komponen pengarah terhadap gerak kendaran. Kemudi harus mampu membelokkan roda pengarah dan memiliki kemudahan pengendalian serta stabilitas arah. Akhir akhir ini telah dikembangkan suatu mekanisme kemudi dengan sistem multi steering. Tujuan pengembangan multi steering adalah mengontrol perilaku yawing yang timbul saat kendaraan berbelok. Perilaku yawing yang besar mengakibatkan terjadinya oversteer, undesteer dan gerak membingungkan yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Dalam peningkatan unjuk kerja system multi steering dilakukan dengan pengontrolan traksi, menggunakan metode sudut slip berimbang dan static margin yang dimodelkan melalui simulasi menggunakan perangkat lunak matlab. Hasil yang dicapai adalah integrasi traksi dengan sistim multi steering sangat effektif dalam mengendalikan perilaku arah gerak kendaraan baik pada kecepatan tinggi maupun rendah karena mampu memperkecil yawing respon yang terjadi pada kendaraan saat berbelok. Kata kunci: Multi steering, yawing, traksi
Struktur Mikro Las Baja C-Mn Hasil Pengelasan Busur Terendam dengan Variasi Masukan Panas Suharno Suharno
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 1 (2008): APRIL 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to study the effect of heat input of submerged arc welding on the microstructure of weld metal made from C-Mn steel. The study focused on the formation of acicular ferrite which could improve weld mechanical properties. The welding process was carried out using various heat inputs, i.e. 3.99 kJ/mm, 3.19 kJ/mm, 2.12 kJ/mm, and 1.77 kJ/mm. Microstructural examinations were performed using optical microscope and scanning electron microscope (SEM). Results show that the weld metal welded with heat input 2.12 kJ/mm produces more acicular ferrite than grain boundary and Widmanstatten ferrite. It is evident that this acicular ferrite nucleates on inclusions in the forms of SiO2, TiO, and Al2O3. Abstract in Bahasa Indoensia: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh masukan panas proses las busur rendam pada struktur mikro logam las baja C-Mn. Struktur mikro dengan bentuk acicular ferrite merupakan struktur yang dapat meningkatkan sifat mekanis logam las. Proses pengelasan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan empat macam masukan panas yang berbeda, yaitu 3,99 kJ/mm, 3,19 kJ/mm, 2,12 kJ/mm, dan 1,77 kJ/mm. Struktur mikro yang terbentuk diuji dengan mikroskop optik dan scanning electron microscope (SEM). Hasilnya menunjukkan bahwa logam las dengan masukan panas 2,12 kJ/mm mempunyai jumlah struktur acicular ferrite lebih besar dari pada grain boundary ferrite dan widmanstatten ferrite. Hal ini disebabkan oleh adanya nukleasi dari inklusi yang berbentuk SiO2, TiO, dan Al2O3. Kata kunci: masukan panas, acicular ferrite, sifat mekanis
Getaran Batang Subsoiler Akibat Gangguan Alami dari Variasi Gaya Potong Tanah Soeharsono Soeharsono; Radite P. A. Setiawan; Tineke Mandang
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 1 (2008): APRIL 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analytical and experiment study on vibratory tillage tools by adding an external energy to the tillage tools has been widely applied. This method would significantly reduce soil’s resistance; unfortunately it uses a lot of energy. Self excited vibration phenomenon on vibrating subsoiler has also been shown experimentally reduce soil’s resistance though not as much as the former. However no analytical study of the latter method can be found. This paper present mathematical derivation of shank-subsoiler’s vibration due to natural excitation of varied cutting forces. Shank-subsoiler was modeled as a single degree of freedom; while the natural excitation of varied cutting force was modeled as a periodic function. This paper also discusses the effect of spring’s elasticity to maximum displacement of the tillage-tools. Therefore, the possibility of decreasing the soil-cutting force for loosening soil’s density due to self exited vibration significantly is visualized. Abstract in Bahasa Indonesia: Studi analitis dan eksperimental terhadap penggetaran tillage tools dengan cara memberikan energi mekanis ke tillage tools telah banyak dilakukan. Walaupun metode ini berhasil menurunkan tahanan tanah secara signifikan, namun penggunaannya berakibat pada kenaikan konsumsi energi secara berlebihan. Penggetaran dengan cara menggunakan metode eksitasi sendiri pada subsoiler getar juga telah banyak dilakukan secara eksperimental. Penggetaran dengan cara ini berhasil menurunkan tahanan tanah. Namun, penurunannya tidak sebesar yang dicapai dengan cara sebelumnya. Kendati demikian, studi analitis terhadap penggetaran dengan cara yang kedua ini belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu, pada makalah ini akan dibahas tentang penurunan persamaan matematik dari getaran subsoiler shank akibat gangguan alami yang timbul karena variasi gaya potong tanah. Getaran subsoiler shank dimodelkan sebagai getaran dari sistem getaran dengan satu derajad kebebasan. Sedang gangguan alami dimodelkan sebagai fungsi periodik. Selain itu pengaruh elastisitas pegas terhadap besar simpangan maksimum dari getaran subsoiler shank juga dibahas pada makalah ini. Berdasarkan persamaan matematik yang telah diturunkan, diungkapkan bahwa pada frekuensi resonansi, subsoil shank akan begetar hebat sehingga diharapkan mampu menurunkan tahanan dan gaya potong yang diperlukan untuk membongkar kepadatan tanah, secara signifikan. Kata kunci: Self excited, vibration, subsoiler shank, tahanan tanah, elastisitas pegas
Perancangan dan Pembuatan Kapal Wisata dengan Motor Generator Listrik Tenaga Surya Sebagai Energi Alternatif Penggerak Propeler Sudiyono Sudiyono; Bambang Antoko
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 1 (2008): APRIL 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of solar energy as an alternative energy is highly supported by the weather at Surabaya and its surroundings. It is supported as well by development of tourism particularly in water sector with the existence of river running along downtown. As we know, the revenue of water sector tourism is much less than the one of industrial. On the river bank, had already developed places of interest such as Submarine Monument, JMP City Mall, Kalimas Tradisional Port, Kayoon Florist Center, etc. One solution to improve water tourism especially river tourism is by designing and producing a tour ship. With solar energy, that will reduce pollution level and bring better atmosphere and environment. Considering the stream of Kalimas river, design constrains implemented for tour ship are: 2 passenger and 1 captain ship with Loa: 3,48 m, Lpp: 2,9 m, B: 1,38 m, T: 0,27 m, v: 3 Knot, and battery recharging time for solar cell is 3,3 hrs starting from empty to fully charged. Abstract in Bahasa Indonesia: Kondisi cuaca wilayah Surabaya dan sekitarnya sangat mendukung untuk mengem¬bangkan pemanfaatan energi matahari sebagai energi alternative, khususnya pada sektor pariwisata terutama pariwisata air yang juga didukung oleh sungai yang mengalir ditengah kota. Melihat pemasukan disektor pariwisata terutama pariwisata air yang masih sangat sedikit dibandingkan dari sector industri, maka untuk meningkatkan pemasukan tersebut dikembangkan beberapa wilayah pinggir sungai sebagai tempat wisata seperti Monumen Kapal Selam, wisata kota (Mall) JMP, pelabuhan tradisional Kali Mas, pasar bunga Kayoon dan lain – lain. Perancangan dan pembuatan kapal wisata merupakan salah satu solusi/usaha untuk lebih mendekatkan pada wisata air terutama wisata sungai. Dengan pembuatan kapal wisata tenaga surya akan semakin mengurangi polusi dan lebih mendekatkan pada suasana lingkungan yang lebih baik. Dengan melihat kondisi sungai Kali Mas, maka dilakukan pendekatan perhitungan dan sekaligus pembuatan kapal dengan batasan: kapal wisata dengan penumpang 2 orang dan 1 nahkoda denagan ukuran Loa: 3,48 m, Lpp: 2,9 m, B: 1,38 m, T: 0,27 m, v: 3 Knot, dan waktu pengisian baterai dari solar sell 3,3 jam pada kondisi baterai kosong sampai penuh Kata kunci: Perancangan kapal, tenaga surya, sel surya (solar cell)
Separasi Aliran Tiga Dimensi pada Kaskade Kompressor Aksial dengan Sudu Berbeda Kelengkungan Herman Sasongko; Heru Mirmanto
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 2 (2008): OCTOBER 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In an axial compressor, it is common to find out a complicated secondary flow (three dimensional flows) which occurred on interaction area between blade boundary layer and hub/ casing boundary layer. This phenomenon to some extent can decrease the compressor pressure. It is due to disturbance generated by this secondary flow affected the flow characteristics on the interaction area. Moreover, it can create a blockage effect and secondary losses which ultimately decreases the compressor pressure. As it has been known, the axial compressor secondary losses plays major parts (50%) on total hydraulic losses while other losses contributed to the total hydraulic losses are annulus wall friction, friction and two dimensional separations on the axial compressor blade profiles. Hence, more serious effort should be devoted to increase the axial compressor performance by reducing the secondary losses. From previous research, geometrical arrangement and cascade compressor configuration have been proved to contribute on development of the secondary flow in an axial compressor. In this paper, the authors conducted three dimension separation flow characteristic visualization in blade passage. The visualization is represented by flow visualization, velocity vector distribution, pressure coefficient distribution (Cp) and pressure losses coefficient distribution (v). The authors also investigated some parameters that affected the cascade compressor configuration performance. One of the parameter is blade camber. The experiment was conducted on blade profile of British 9C7/32,5C50 and 9C7/32,5C50. Those profiles are similar in their geometry but have different camber. Wind tunnel experiments have been conducted with velocity of 20 m/s (Rel = 1.6 x 105). Flow visualization was performed by method of oil flow visualization (OFV) using a mixture compound of titanium powder and bio oil. The pressure distributions along the blades were measured using pressure transducer and inclined manometer. Computational Fluid Dynamics was employed to modeling and analyzing the velocity vector with setting parameter of 3d-dp, segregated, RNG k-ε. By using those methods, the authors capable to visualize flow separation inside blade passage and cascade output. In the cascade configuration, blade camber with fixed load angle has a significant role for the development of three dimensional flow separation (horse shoe vortex appears) in front of the leading edge. This phenomenon was started by the appearance of forward saddle point. This forward saddle point will move if the camber angle is changed. The increasing camber angle from θ = 32.5o to θ = 42.5o shifted the forward saddle point and changed three dimension separation line width. For blade airfoil 9C7/42,5C50, the position of forward saddle point is far away in front of leading edge but almost in line with blade chord line. On the other hand for blade cascade with 9C7/32,5C50, the position of forward saddle point is much closer to the leading edge but far below the blade chord line. The upper shifting of the forward saddle point for blade with higher camber also pushed the low pressure area on the upper side zone further back. It also pushed the high pressure area on lower side in the same direction as the one on the upper side. This phenomenon subsequently increasing the intensity of cross passage flow at the back side of blade passage and curl flow at the trailing edge. This increasing intensity of the secondary flow near hub junction will ultimately increase the blockage effect and total pressure losses. Abstract in Bahasa Indonesia: Pada kompresor aksial, fenomena aliran sekunder tiga dimensi yang sangat rumit terjadi pada interaksi antara lapisan batas sudu dengan lapisan batas hub/casing. Akibat yang ditimbulkan fenomena ini adalah terpengaruhnya karakteristik medan aliran di daerah interaksi tersebut yang pada akhirnya berkaitan dengan efek penyumbatan (blockage effect) serta kerugian sekunder (secondary losses) yang dapat menurunkan tekanan kompresor. Kerugian sekunder diketahui menyumbang sekitar 50% dari total kerugian hidrolis yang terjadi pada kompresor aksial, sementara kerugian akibat friksi pada dinding annulus serta kerugian friksi dan separasi dua dimensi pada profil berkontribusi 30% dan 20%. Dengan demikian, upaya serius untuk mengurangi kerugian aliran sekunder akan banyak membantu meningkatkan kinerja (efisiensi) kompresor aksial. Berdasarkan kajian pustaka beberapa hasil eksperimen, bentuk geometri dan susunan konfigurasi kaskade (cascade) kompresor diduga mempunyai pengaruh signifikan terhadap terbentuknya aliran sekunder. Pada penelitian ini dilakukan visualisasi karakteristik (struktur) separasi aliran tiga dimensi di dalam lorong sudu berupa visualisasi jejak aliran, distribusi vektor kecepatan, distribusi koefisien tekanan (Cp) dan distribusi koefisien kerugian tekanan (v). Parameter yang berpengaruh terhadap susunan konfigurasi kaskade adalah perubahan kelengkungan sudu, sedangkan profil sudu yang digunakan adalah profil sudu British 9C7/32,5C50 dan 9C7/42,5C50 yang secara geometris mirip satu sama lain namun memiliki kelengkungan berbeda. Eksperimen dilakukan pada lorong anginh dengan kecepatan 20 m/s (Rel = 1,6 x 105) dan visualisasi aliran dengan teknik oil flow visualization (OFV) menggunakan campuran serbuk titanium dan minyak nabati. Pengukuran tekanan menggunakan pressure transducer dan inclined manometer, sedangkan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk mempresentasikan vektor kecepatan aliran menggunakan perangkat lunak Fluent 6.0, 3d-dp, segregated, RNG k-ε. Hasil penelitian terbukti mampu memvisualisasikan separasi aliran di dalam lorong sudu maupun di keluaran kaskade. Pada susunan konfigurasi kaskade, kelengkungan sudu pada sudut pembebanan yang tetap, sangat berpengaruh terhadap formasi separasi aliran tiga dimensi (terbentuknya horse shoe vortex) di depan leading edge yang diawali dengan terbentuknya forward saddle point. Pada kaskade 9C7/42,5C50 posisi forward saddle point lebih jauh di depan leading edge namun hampir segaris terhadap chord line sudu, sebaliknya untuk kaskade 9C7/32,5C50 posisi forward saddle point lebih dekat terhadap leading edge tetapi lebih jauh di bawah chord line sudu. Bergesernya lokasi saddle point lebih ke atas untuk sudu yang lebih lengkung juga berakibat bergesernya daerah tekanan rendah pada zona upper side dan daerah tekanan tinggi pada zona lower side lebih ke belakang. Hal inilah yang mendorong penguatan intensitas cross passage flow pada bagian belakang blade passage dan curl flow pada trailing edge sudu. Penguatan intensitas aliran sekunder di dekat hub junction tersebut, berakibat pada menguatnya penyumbatan aliran dan kerugian tekanan total. Kata kunci: Separasi aliran tiga dimensi, blockage effect, secondary losses, saddle point, horse shoe vortex.
Pemodelan, Pengujian, dan Analisis Getaran Torsional dari Perangkat Uji Sistem Poros-Rotor Zainal Abidin; Haleyna Arstianti
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 2 (2008): OCTOBER 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vibrations of rotating machinary can be classified as translational and rotational. The vibrations occurred in rotational direction are commonly classified as torsional vibration. Torsional vibration can cause fatigue damage of shaft, coupling, or gear. In this paper, a method for measuring torsional vibration is proposed. This method uses two incremental encoders and an algorithm to process the data. To show its effectiveness, the method was implemented to measure torsional vibration of a rotor shaft system. The paper also shows the torsional vibration characteristics of of the system. To predict the torsional natural frequencies of the system, a finite elemen model was developed using Ansys Workbench 11 and the results was validite using a torsional FRF test. The measurement was performed a range of rotational speed to enable a spectral map can be constructed. There were two types of flexible couplings used in this work, a hose coupling and a rubber jaw coupling. The results of the experiment show that the proposed method can be implemented very well to measure the torsional vibration of the rotor shaft-system. In addition, the torsional vibration of the rotor shaft system has a similar characteristics to that of translational vibration, in which vibration signal is dominated by component with frequency of 1xRPM. The results also show that the level of torsional vibration depends on the type of flexible coupling being used. Due to low torsional stiffness, hose coupling produce low natural frequencies than those of jaw coupling. As a consequence, hose coupling are liable to higher vibration than jaw coupling. Abstract in Bahasa Indonesia: Getaran yang terjadi pada mesin dapat berupa getaran translasi maupun rotasi. Getaran yang terjadi dalam arah rotasi sering disebut sebagai getaran torsional. Getaran torsional dapat mengakibatkan terjadinya gagal lelah pada poros, kopling, maupun roda gigi. Dalam makalah ini, diusulkan sebuah metode pengukuran getaran torsional dengan dua buah enkoder. Untuk menunjukkan kemampuannya, metode ini diterapkan untuk mengukur getaran torsional pada sebuah perangkat uji sistem poros rotor. Selain itu juga akan ditunjukkan perilaku getaran torsional yang terjadi. Untuk mengetahui frekuensi pribadi torsional obyek uji, dilakukan pemodelan metoda elemen hingga dengan perangkat lunak Ansys Workbench 11, sedangkan untuk memvalidasinya dilakukan pengujian FRF (Fungsi Respon Frekuensi) torsional. Di sini, pengujian getaran torsional dilakukan pada beberapa kecepatan putar sehingga dapat diperoleh grafik spektral map. Dalam pengujian ini digunakan dua jenis kopling fleksibel, yaitu kopling selang dan kopling cakar. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode pengukuran getaran torsional yang diusulkan dapat diterapkan dengan baik pada sistem poros rotor. Selain itu, juga terungkap bahwa karakteristik getaran torsional mirip dengan getaran translasi, dimana getaran didominasi oleh komponen sinyal 1xRPM. Hasil yang diperoleh juga menunjukkan bahwa level getaran torsional yang terjadi dipengaruhi oleh jenis kopling yang digunakan. Karena kekakuannya lebih rendah, kopling selang menghasilkan frekuensi pribadi yang lebih rendah dibandingkan dengan kopling cakar. Akibatnya, level getaran torsional yang terjadi pada kopling selang cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kopling cakar. Kata kunci: Pemodelan, getaran torsional, sistem poros rotor.
Modifikasi Sifat Mekanik dan Ketahanan Korosi Paduan Fe-1,52Al-1,44C dengan Proses Tempiring Ratna Kartikasari; Sutrisna Sutrisna; Suyitno Suyitno; Soekrisno Soekrisno
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 2 (2008): OCTOBER 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aluminum is third of biggest element in the world and cheaper relatively. The Fe-Cr-C alloy is promised alloy to replace the Fe-Cr-C alloy. The purpose of the research is to investigate influence of temperature to microstructure, tensile strength, hardness, and corrosion resistance of Fe-Al-C in the 3.5% NaCl solution. Raw material for casting is low Mn steel, FeMn HC, pure aluminum, slag remover. The melting used low frequency induction furnace which has 50 kg capacity. Hardening at 900oC, and then quenching in the water, the last temper along 1 hour with various temperature; 250oC, 300oC, 350oC, 400oC, 450oC and cooling in the air. Chemical composition, microstructure, tensile strength, hardness, and corrosion resistance of Fe-Al-C in the 3.5% NaCl solution were investigated. The result of the chemical composition investigation showed that Fe-Al-C alloy contained 1.52% Al, and 1.44% C. The microstructure of Fe-1.52 Al-1,44C alloy is ferrite and pearlite. The tensile strength of Fe-1.52 Al-1,44C alloy is 33.77 kg/mm2. The tensile strength raised after hardening process became 74.44 kg/mm2 and turn off again after tempering process. The Vickers hardness investigation showed that the Fe-1.52 Al-1,44C alloy has 232.4 VHN and raised after hardening became 298.7 VHN. Highest corrosion rate is 0,927 mm/year after hardening and lowest is 0.196 mm/year after tempering at 300oC (good category corrosion resistance). Abstract in Bahasa Indonesia: Aluminium merupakan unsur terbanyak ketiga di bumi yang harganya relatif murah. Paduan yang sangat menjanjikan untuk menggantikan Fe-Cr-C adalah Fe-Al-C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur temper terhadap struktur mikro, kekuatan tarik, kekerasan, dan ketahanan korosi paduan Fe-1,52Al-1,44C dalam larutan 3,5% NaCl. Bahan baku peleburan yang digunakan adalah: Baja low Mn, FeMn HC, aluminium murni dan slag remover. Peleburan menggunakan dapur induksi frekwensi rendah kapasitas 50 kg. Hardening pada temperature 900oC, quenching dalam air, dan temper dengan variasi temperatur 250oC, 300oC, 350oC , 400oC, 450oC, selama 1 jam kemudian didinginkan di udara. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian komposisi kimia, uji struktur mikro, uji tarik, uji kekerasan, dan pengujian korosi dalam media 3,5% NaCl. Hasil pengujian komposisi kimia menunjukkan bahwa paduan Fe-Al-C mengandung unsur Al sebesar 1,52% dan C sebesar 1,44%. Struktur mikro yang terbentuk dalam system paduan adalah ferit dan perlit dengan kekuatan tarik sebesar 33,77 kg/mm2. Terjadi peningkatan kekuatan tarik setelah proses hardening yaitu menjadi 74,44 kg/mm2 dan menurun kembali setelah proses temper, dengan kecenderungan semakin rendah dengan semakin tinggi temperatur temper. Nilai kekerasan sebesar 232,4 VHN, dan mengalami peningkatan pada proses hardening yaitu menjadi 298,7 VHN. Laju korosi paling tinggi terjadi setelah hardening yaitu 0,927 mm/th, dan laju korosi terendah terjadi setelah proses temper 300oC sebesar 0,196 mm/th, termasuk katagori baik. Kata kunci: Ferittic stainless steel, paduan Fe-1,52 Al-1,44C, hardening, quenching, temper.
Gasifikasi Tempurung Kelapa Menggunakan Updraft Gasifier pada Beberapa Variasi Laju Alir Udara Pembakaran Fajri Vidian
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 2 (2008): OCTOBER 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coconut shell is exploited to produce charcoal to be sold now. but it has potency for producing energy. At this study coconut shell was exploited to produce gas fuel with gasification process using updraft gasifier. Gasification process was done at condition different air flow rate i.e 70,2 lpm, 91,4 lpm dan 122,4 lpm. The results of experiment showed gasification could produces combustible gas (CO, CH4,H2) continuously during 3 hours operation for every condition of gasification air flow rate. Increasing the air flow rate will increase temperature inside reactor, gas composition, gas flow rate, gasification efficiency and flame temperature of combustion gas producer. Abstract in Bahasa Indonesia: Pemanfaatan tempurung kelapa baru sebatas untuk menghasilkan arang aktif untuk dijual, pada hal tempurung kelapa mempunyai potensi untuk menghasilkan energi. Pada penelitian ini tempurung kelapa dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan bakar gas melalui proses gasifikasi menggunakan updraft gasifier. Proses gasifikasi dilakukan pada laju aliran udara pembakaran 70,2 lpm, 91,4 lpm dan 122,4 lpm. Hasil penelitian menunjukkan proses gasifikasi dapat menghasilkan gas mampu bakar (CO,CH4,H2) secara kontinnyu selama lebih kurang 3 jam operasi. Peningkatan laju aliran udara akan meningkatkan suhu dalam reaktor, komposisi gas, laju aliran gas, efisiensi gasifikasi dan temperatur nyala gas pembakaran yang dihasilkan Kata kunci: Updraft gasifeir, gasifikasi, tempurung kelapa.
Sistem Otomasi Mesin Tempat Parkir Mobil Bawah Tanah dengan Menggunakan Programmable Logic Controller Thiang Thiang; Edwin Sugiarta
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 2 (2008): OCTOBER 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nowadays, number of cars increases more and more. This causes increase in the need of park area for the cars meanwhile there is limited area that can be used as park area for cars. Therefore, this paper describes about design of automatic car parking system, which places underground. This automatic car parking miniature model has 3 levels and each level can store 24 cars. This automatic car parking model is designed by using several actuators like AC motor, stepper motor, pneumatic system and several sensors like photoelectric and limit switch. Programmable logic Controller (PLC) is used as the controller, which controls all hardware. Experiment is done by running the automatic car parking system and experimental results show that the system can run well. Abstract in Bahasa Indonesia: Dewasa ini jumlah mobil semakin meningkat, akibatnya, semakin banyak lahan tanah yang dibutuhkan untuk tempat parkir mobil. Permasalahannya kebutuhan lahan tanah untuk keperluan lain juga meningkat dan ketersediaan lahan tanah kosong juga semakin sedikit. Karena itu pada makalah ini dipaparkan tentang perancangan yang telah dilakukan yaitu pembuatan sebuah contoh mesin model tempat parkir mobil otomatis yang berada di bawah tanah. Contoh model parkir otomatis ini berupa miniatur setinggi 3 tingkat dan dapat menampung mobil sebanyak 24 buah. Pembuatan miniatur mesin tempat parkir mobil otomatis ini menggunakan berbagai jenis aktuator seperti motor AC, motor stepper, penumatic dan beberapa sensor photoelectric, limit switch. Programmable Logic Control (PLC) digunakan sebagai kontroler yang mengontrol semua perangkat keras. Hasil pengujian dilakukan dengan menjalankan sistem parkir mobil otomatis dan sistem dapat berfungsi dengan baik. Kata kunci: Parkir otomatis, PLC, sistem kontrol, aktuator, pneumatic.

Filter by Year

1999 2025