DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA
FOCUS AND SCOPE Journal of Dialektika is a professional, double-blind peer-reviewed international journal devoted to promoting scholarly knowledge and exchanging academic research and professional findings on all aspects of English such as English literature, second or foreign language (ESL/EFL) learning, including translation studies. To this end, Dialektika publishes theoretical and empirical studies in the form of original research, research reviews, case studies, conceptual frameworks, and innovative educational and social ideas with both regional and global perspectives. Dialektika has a clear preference for manuscripts with a solid theoretical foundation and tangible educational and research implications. We, therefore, invite original submissions from around the world that fit within this aim. Authors are encouraged to submit complete, unpublished, original, and full-length articles that are not under review elsewhere. The online version of the journal is free to access and download.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI"
:
10 Documents
clear
Efektivitas Komunikasi Verbal dan Non Verbal Dalam Komunikasi antar Budaya
christian purba;
Chontina Siahaan
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.3835
Communication develops in line with increasingly advanced technology. Communication carried out by the community is only limited to talking regardless of whether the interaction is effective or not. This research was conducted to find out the communication patterns that are usually carried out by the people of East Jakarta, represented by thirty-seven participants with sixteen of them being students of the Indonesian Christian University. Using the questionnaire method to obtain data this research uses a qualitative approach with a descriptive method. The results showed that the communication pattern of the people of East Jakarta had a habit of using verbal methods combined with nonverbal methods. This is done because he wants the message conveyed orally or in writing to be clearly received and the feelings or emotional messages from the communicator are conveyed properly. Thirty-two people admitted that they often interacted with people from different cultures with various interaction locations, namely schools, cafes, campuses, social media, churches, and even while playing video games. In intercultural communication conducted by participants with a percentage of 81.1% with 30 people claiming to prefer using Indonesian because it makes it easier to interact, but in contrast to participants who prefer to adapt their language to the other person. This is done to provide a sense of comfort to the communicant in interacting.
Mistik-Romantik pada Novel Drama dari Krakatau Karya Kwee Tek Hoay: Representasi Sastra Bencana
Heri Isnaini
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.3970
Artikel ini membahas konsep mistik-romantik pada tragedi bencana meletusnya gunung Krakatau pada novel Drama dari Krakatau karya Kwee Tek Hoay. Novel ini terinspirasi oleh novel Baron Edward Bulwer-Lytton yang berjudul The Last Day of Pompeii yang diterbitkan tahun 1834. Drama dari Krakatau karya Kwee Tek Hoay disajikan dengan konsep realis yakni dengan menampilkan deskripsi meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883. Artikel ini bertujuan menunjukkan konsep tersebut dengan menganalisisnya berdasarkan tataran tanda dalam konvensi novel. Mistik-romantik dalam novel ini dimaknai sebagai peristiwa yang digambarkan dalam perpektif sastrawan atas peristiwa bencana yang terjadi melalui kacamata karya sastra. Meletusnya gunung berapi Krakatau yang menewaskan puluhan ribu orang dan membuat bencana lain tersebut diposisikan sebagai bagian intertekstualitas oleh Kwee Tek Hoay dalam sudut pandang sastra. Sekaitan dengan itu, sastra dapat dipahami sebagai dokumen sejarah yang menggambarkan peristiwa secara jujur. Akhirnya, artikel ini menunjukkan novel Drama dari Krakatau sebagai alat dokumentasi tentang peristiwa bencana dengan balutan romansa cerita khas novel Melayu Tionghoa. Kata Kunci: Krakatau, Kwee Tek Hoay, mistik-romantik, novel, sastra bencana Abstract This article discusses the mystical-romantic concept of the tragedy of the eruption of Mount Krakatau in the novel “Drama dari Karakatau” by Kwee Tek Hoay. The novel was inspired by Baron Edward Bulwer-Lytton's novel The Last Day of Pompeii published in 1834. The drama from Krakatau by Kwee Tek Hoay is presented with a realist concept, namely by displaying a description of the eruption of Mount Krakatau in 1883. This article aims to demonstrate the concept by analyzing it based on the state of signs in the novel convention. The mystics in this novel are interpreted as events depicted in the literati's perspective of catastrophic events that occur through the lens of literary works. The eruption of the Krakatau volcano that killed tens of thousands of people and made another disaster was positioned as part of intertextuality by Kwee Tek Hoay from a literary point of view. Related to it, literature can be understood as a historical document that describes events honestly. Finally, this article shows the novel “Drama dari Krakatau” as a tool for documentation of catastrophic events wrapped in the romance of stories typical of Chinese Malay novels. Keywords: Krakatau, Kwee Tek Hoay, mystic-romantic, novel, disaster literature
Conceptual Blending dalam Kalimat Jenaka Bahasa Jawa
Zindi Nadya Wulandari
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.3980
Abstrak Bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat suku Jawa untuk berkomunikasi, sehingga wajar jika banyak ditemukan fenomena-fenomena kebahasaan yang terjadi pada penggunaan bahasa Jawa pada masyarakat penutur bahasa Jawa. Salah satu fenomena yang kerap ditemukan dalam penggunaan atau penuturan bahasa Jawa adalah fenomena kalimat jenaka yang digunakan untuk komedi atau lawakan. Kalimat jenaka merupakan humor yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mempermudah masuknya informasi atau suatu pesan yang ingin disampaikan. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengungkapkan makna dari kalimat jenaka digunakan oleh masyarakat suku Jawa dalam bertutur sehari-hari. Data dalam penelitian berupa data tertulis yang dikutip dari laman internet. Peneliti menggunakan teknik catat yang digunakan untuk mencatat kalimat jenaka bahasa Jawa yang akan dianalisa. Kemudian data tersebut dianalisa menggunakan teori konseptual blending oleh Fauconnier. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa kalimat jenaka dalam bahasa Jawa tidak jarang mengandung kosa kata yang bermakna ganda dan makna yang terkandung dalam kalimat jenaka tersebut cenderung bersifat implisit atau tersirat. Selain itu, kalimat jenaka dalam bahasa Jawa juga bisa digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan isi hati, sebagai sarana untuk bercanda, bahkan sebagai kalimat sindiran. Kata kunci: kalimat jenaka, bahasa Jawa, blending konseptual Abstract This study is a qualitative research that aims to reveal the meaning of witty sentences used by Javanese people in daily speech. The data in the study are written data quoted from the internet pages. The researcher uses a note-taking technique that is used to record the Javanese humorous sentences that will be analyzed. Then the data was analyzed using the conceptual blending theory by Fauconnier. The results of the data analysis show that witty sentences in Javanese often contain vocabularies that have multiple meanings and the meanings contained in these witty sentences tend to be implicit or implied as a satire. Keywords: witty sentences, Javanese, conceptual blending
The Impact of Liberal Feminism Movement in A Promptbook He and She
Sunarti Desrieny Tambunan;
Ratna Safitri
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.3997
Liberal feminism is a universal approach in which women and men are equal in basic rights such as education, work, financial security, voting and many more. This research aims to find out the impact of emancipation movement in a promptbook entitled He and She play using Tong and Botts’ theory. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The result shows that most of the characters in the promptbook accept the movement, except Keith, Ruth’s boyfriend, who thinks women in his era act like superiors because of the movement. He does not accept it by showing that his girlfriend cannot have a higher position than him. She cannot work and just stay at home after they get married. At the end, he will only cut his girlfriend’s half-life. This movement can give good or bad impact for the society or surroundings, especially the men. For those who are old-fashioned thinking, this can be a threat.
Pengelompokan Kosakata Bahasa Inggris yang Salah Dilafalkan oleh Para Mahasiswa dalam Sesi Perkenalan Diri
Gunawan Tambunsaribu;
Yules Orlando Sianipar
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.4003
Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan kosakata yang memiliki ciri bunyi yang sama yang dilafalkan salah oleh para mahasiswa dan menemukan faktor yang sangat dominan membuat para mahasiswa masih sulit melafalkan kelompok kosakata tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling dalam memilih partisipan. Partisipan yang dipilih adalah 40 orang mahasiswa Universitas Gunadarma jurusan Teknik Informatika. Para partisipan adalah mahasiswa yang sedang belajar mata kuliah Bahasa Inggris Bisnis 2 di semester genap 2020-2021. Dari hasil penelitian, penulis mengelompokkan kosakata yang dilafakan salah oleh para mahasiswa ke dalam 9 kelompok kosakata berdasarkan ciri bunyi yang sama yakni; 1) Kelompok kata dengan huruf ‘gh’, 2) Kelompok kata dengan huruf ‘sh’, 3) Kelompok kata dengan huruf ‘al’, 4) Kelompok kata dengan huruf yang tak ‘e’ berbunyi, 5) Kelompok kata dengan huruf ‘ir’ , 6) Kelompok kata dengan huruf ‘k’ tak berbunyi, 7) Kelompok kata dengan huruf ‘ph’, 8) Kelompok kata dengan huruf ‘c’ berbunyi /s/, dan 9) kelompok kata dengan huruf ‘g’ berbunyi /dʒ/. Faktor yang paling mempengaruhi mahasiswa menemukan kesullitan dalam melafalkan kosakata bahasa Inggris adalah faktor bahasa pertama mereka yaitu bahasa Indonesia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan para siswa dalam melafalakn kosakata dengan lebih baik dan fasih. Hasil penelitian ini juga dapat berguna bagi para instruktur/guru bahasa Inggris sebagai bahan materi ajar khususnya pada mata kuliah speaking dan pelafalan. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan oleh peneliti lainnya sehubungan dengan kajian pelafalan bahasa. Kata kunci: Pelafalan Bahasa Inggris, Kelompok Kosakata, Mahasiswa
WACANA IMIGRAN DAN PEKERJA ASING DI INDONESIA: STUDI ANALISIS WACANA BERBASIS LINGUISTIK KORPUS
Irham Irham
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.4008
Kebijakan pemerintah tentang undang-undang imigrasi dan pekerja asing berdampak pada pemberitaan di media Indonesia, baik cetak maupun daring. Pembeirtaan dibanjiri dengan isu imigran dan pekerja asing. Beberapa dari media tersebut memberikan pemberitaan yang bernuansa positif, beberapa yang lain memberitakan kebijakan tersebut dalam frame negatif. Artikel hendak membahas fenomena penggunaan kata imigran dan pekerja asing dalam media di Indonesia dengan menggunakan pendekatan analisis wacana berbasis linguistik korpus. SEALANG dan Corpora Collection adalah dua korpus yang digunakan sebagai sumber data dalam penelitian ini diasmping dari media daring Kompas, Jawapos, dan Republika. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, kata imigran dan pekerja asing memiliki dimensi medan makna yang relatif berbeda dari beberapa hasil penelitian serupa sebelumnya. Perbedaan medan makna dapat disebabkan oleh konteks kejadian di mana kata tersebut muncul, misalnya, konteks sosial dan politik.
Subject-Verb Agreement Errors in The Narrative Writing of The First Semester of English Literature Students: A Case Study
Lisbeth Sirait
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.4023
Abstract This study aimed at identifying the subject-verb agreement errors in 15 students’ narrative writing of the first semester of English literature. Descriptive qualitative method was used in conducting this study. The data of the study were collected through the use of The Pear Film as the instrument. The data obtained through the instrument were analyzed by classifying the errors into rules of Subject Verb Agreement(SVA) proposed by Azar (2003). The result of data analysis showed that error on the singular subject takes singular verb was 35 sentences. It was followed by plural subject takes a plural verb 6 sentences, sometimes phrases come between a subject and a verb. These phrases do not affect the agreement of the subject and verb 3 sentences, There + be + subject 3 sentences and collective nouns 2 sentences. Based on these findings, it is suggested to the teachers of English to use many various teaching methodologies to help the students understand the SVA rules and apply them in their studies. Key words: subject verb agreement, error, narrative, writing.
The Use of Code Switching and Code Meshing in Today's Youth Speech
Yules Sianipar;
Gunawan Tambunsaribu
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.4025
Young people today tend to use informal language in communicating orally and in writing, in expressing themselves in front of their community or friends, but at the same time they will change their use of language into formal language when they interact with people whose position or position is above them, whether they realize it or not. The use of informal language in expressing themselves by young people is called "code-meshing", the change in the language used is called "code-switching". This research is qualitative research that uses "screenshot chat" of these students in their "WhatsApp" group and also in a private "chat" with researchers as research data, which later be classified as "code-switching" and also how they express themselves by using informal language which will later be classified as "code-meshing". The code-switching action taken is based on the understanding of the language that these students have, they understand not only Indonesian but also understand foreign languages and their respective regional languages, not only the standard language they can use but also non-standard or non-standard languages. usually called 'slang' language they understand it. Code-meshing arises because of a sense of comfort in the way a speaker expresses it. This happens because they feel comfortable using words to express themselves that they still can't let go of.
Metafora Dalam Kajian Linguistik, Sastra, dan Terjemahan: Sebuah Pengantar
Srisna J. Lahay
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.4026
Pada makalah ini penulis bertujuan untuk menunjukkan bagaimana metafora dianalisis dalam kajian linguistik, sastra, dan terjemahan. Penulis menguraikan teori dan metodologi penelitian yang digunakan untuk menganalisis metafora dalam tiga artikel ilmiah, yaitu artikel dengan judul “An Analysis on the Use of Metaphor in a News Article about Corruption” oleh Srisna J. Lahay (2020), yang meneliti penggunaan metafora dalam sebuah artikel tentang korupsi di surat kabar Republika, “Metafora dalam Ragam Bahasa Puisi (Pendekatan Teori Cognitif Linguistik)” oleh Rizka Hayati (2016), yang mengkaji penggunaan metafora dan maknanya dalam puisi karya Chairil Anwar dan Joko Pinurbo, dan “Kajian Terjemahan Metafora yang Menunjukkan Sikap dalam Buku Motivasi The Secret” oleh R. Hendrastuti, M. R. Nababan, dan Tri Wiratno (2013), yang meneliti teknik penerjemahan, kualitas terjemahan, dampak teknik terjemahan, dan alasan teknik penerjemahan memengaruhi kualitas terjemahan metafora yang menunjukkan sikap dalam buku motivasi The Secret dan terjemahannya. Dapat disimpulkan bahwa dalam tiga penelitian tersebut digunakan teori tentang metafora yang sama, yaitu Knowles dan Moon (2006) serta Lakoff dan Johnsen (2003); data yang dikumpulkan dalam ketiga penelitan itu sama, yaitu data berupa kata, frase, atau kalimat yang memuat metafora dari sumber tertulis; dan beberapa langkah penelitian yang dilakukan juga sama.
Keberagaman Bahasa dan Budaya Sebagai Kekayaan Bangsa Indonesia
Ramot Peter;
Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 9 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33541/dia.v9i1.4028
Keberagaman bahasa dan budaya di Indonesia merupakan anugerah besar dari Tuhan bagi Indonesia. Dalam kehidupan bermasyarakat, pertemuan antar bahasa dan budaya tidak dapat terelakkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan cenderung menimbulkan konflik sosial baik vertikal maupun horizontal. Untuk mengatasi konflik sebagai dampak keberagaman tersebut, pemerintah mencanangkan program dan gerakan pendidikan karakter. Program dan gerakan tersebut belum maksimal memberikan dampak sehingga dunia pendidikan perlu dilibatkan mulai dari Pendidikan dasar, menengah, hingga Pendidikan tinggi. Untuk mendukung program dan gerakan pendidikan karakter dalam pendidikan tinggi, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang diatur dalam nomor: 43/dikti/kep/2006 tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi dan undang-undang No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Dalam kebijakan-kebijakan tersebut, bahasa Indonesia termasuk dalam kelompok matakuliah pengembangan kepribadian sebagai penguatan karakter semangat kebangsaan melalui pembelajaran bahasa Indonesia. Diharapkan dengan dicanangkannya kebijakan-kebijakan tersebut dapat menyemarakkan program dan gerakan pendidikan karakter untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar diharapkan dapat membangun karakter masyarakat Indonesia agar semakin mencintai bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa di tengah keberagaman bahasa dan budaya daerah. Menguatnya karakter kebangsaan dalam berbahasa Indonesia diharapkan dapat meningkatkan ketahanan nasional dalam menghadapi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik dari dalam maupun luar negeri.