cover
Contact Name
Setyo Nurwaini
Contact Email
sn164@ums.ac.id
Phone
+6287836559013
Journal Mail Official
usadha@ums.ac.id
Editorial Address
Faculty of Pharmacy, Universitas Muhammadiyah Surakarta jln Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Usadha Journal of Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28279905     DOI : 10.23917/usadha
Core Subject : Health, Science,
The Usadha Journal of Pharmacy aims to present up-to-date research, surveys, and literature reviews encompassing various domains of pharmaceutical sciences. These domains include pharmacology, pharmacokinetics, formulation technology, optimization of excipients, standardization of extracts and herbal products, determination of pharmacological activities in natural sources, drug synthesis and development, molecular biology, antibiotic screening, metabolite profiling and quantification, clinical pharmacy, and health and environmental concerns. Each edition of the journal will cover these aspects comprehensively. The publication will encompass a wide range of topics, including chemistry, biochemistry, biotechnology, pharmacology, and many aspects of pharmaceutical research. It will feature communications, complete research papers, reports, and reviews, providing comprehensive coverage in these fields.
Articles 262 Documents
IN VITRO ANTIOXIDANT AND ANTI-AGING ACTIVITY OF KESUM LEAVES (Polygonum minusHUDS.) ETHANOL EXTRACT Aji Winanta; Salwa Dwi Agustin S; Dhiva Andarika Fitri; Tresna Sriwahyuni Gumilang
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i2.315

Abstract

Skin aging is a biological process in humans characterized by the skin becoming rough or scaly, dry, black spots appearing, dull, and even wrinkles. The study was conducted to determine the biological activity of kesum leaves (Polygonum minus Huds.) as an anti-aging active ingredient in vitro. The process of making the extract using the maceration method. Secondary metabolites were identified using a phytochemical screening test. Antioxidant activity was measured using the free radical scavenging test of 2,2-azino-bis(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)(ABTS). The inhibitory effect of skin-degrading enzymes was measured by the percentage of inhibition of the collagenase enzymes. Based on phytochemical screening, the ethanolic extract of kesum leaves contains flavonoids, saponins, and tannins. The results of the antioxidant activity of kesum leaves have an IC50value of 41.46 g/mL and are included in the category of strong antioxidants. The results of collagenase enzyme inhibition showed that at concentrations of 50, 100, and 200 g/mL, collagenase activity could inhibit collagenase activity by 83%, 82%, and 82%. Based on the results of the research that has been carried out, it was found that the ethanol extract of the tested kesum leaves has antioxidant activity and has the potential to anti-aging.
EVALUASI DRUG RELATED PROBLEM (DRPs) PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSU ISLAM KLATEN PERIODE NOVEMBER 2021-OKTOBER 2022 Nabilla Marisya Affifah Putri; Tista Ayu Fortuna; Ni Nyoman Yudianti Mendra
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i2.318

Abstract

Demam tifoid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi organisme Salmonella typhi. Ketidaktepatan pemberian terapi pada pasien dapat meningkatkan resiko kejadian Drug Related Problems (DRPs). Tingginya kejadian (DRPs) dapat mempengaruhi keberhasilan terapi pada pasien, sehingga penelitian ini sangat penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat kejadian DRPs yang meliputi kategori efek samping, interaksi pengobatan, dosis terlalu rendah serta dosis terlalu tinggi pada pasien demam tifoid di instalasi rawat inap periode November 2021-Oktober 2022. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif, dimana peneliti akan mengevaluasi pengobatan demam tifoid yang didapatkan oleh pasien. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling berdasarkan kriteria inklusi pasien meliputi usia lebih dari 18 tahun, pasien demam tifoid dengan atau tanpa penyakit penyerta dan pasien dengan rekam medis yang lengkap. Kiteria eksklusi meliputi pasien dengan data rekam medis yang tidak terbaca dan pasien dengan penyakit penyerta infeksi. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 67 pasien, sebanyak 36 pasien (53,73%) mengalami DRPs dan 31 pasien (46,27%) tidak mengalami DRPs. Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah levofloksasin 67 pasien (100%), kemudian diikuti dengan ampisilin 3 pasien (4,48%) serta sefiksim 3 pasien (4,48%). Penggunaaan terapi suportif yang paling banyak diberikan adalah parasetamol 67 pasien (100%). Jumlah DRPs yang terjadi sebanyak 65 kasus dengan rincian kategori dosis terlalu rendah 13 kasus (20%), dosis terlalu tinggi 2 kasus (3,08%), efek samping 14 kasus (21,54%), dan interaksi obat 36 kasus (55,38%).
EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DAERAH SURAKARTA TAHUN 2022 Hanessa Febriani Farisca Rachim; Ambar Yunita Nugraheni
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i2.319

Abstract

Infeksi saluran kemih merupakan penyakit adanya mikroorganisme didalam urin yang berpotensi menyerang saluran kemih. Prevalensi ISK menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014 terdapat sekitar 180.000 kasus per tahun. Terapi ISK paling utama adalah antibiotik dan seringkali disertai terapi suportif. Penggunaan terapi memungkinkan terjadinya drug related problems yang menyebabkan kegagalan pengobatan sehingga perlu dievaluasi untuk dapat meningkatkan ketepatan dalam penggunaan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian drug related problems meliputi masalah obat terkait indikasi (indikasi tanpa obat dan obat tanpa indikasi); efektivitas terapi (ketidaktepatan penggunaan obat dan kontraindikasi), dosis (dosis kurang dan dosis lebih) dan interaksi obat pada pasien ISK rawat inap di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2022. Jenis penelitian ini adalah non eksperimental dan dianalisis secara deskriptif. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, dengan kriteria inklusi yaitu pasien anak maupun dewasa yang menjalani rawat inap dengan diagnosa ISK atau sistitis, pasien tanpa diagnosa infeksi lain, pasien memperoleh minimal 2 obat, memiliki data rekam medik lengkap meliputi nomor rekam medik, identitas pasien (nama, jenis kelamin, usia, dan berat badan (untuk anak)), diagnosis, gejala, data karakteristik obat (nama obat, dosis, frekuensi, rute dan tanggal pemberian), dan hasil laboratorium (jika ada). Data dianalisis berdasarkan pedoman IAUI (2020), Kulkarni (2019), BNF (2021), BNFC (2019), MIMS (2023), Drug Interaction Checker (drugs.com), dan Stockley Drug Interaction Handbook (2008). Hasil penelitian dari 97 pasien infeksi saluran kemih di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah angka kejadian drug related problems indikasi tanpa obat (8,25%), obat tanpa indikasi (23,71%), ketidaktepatan penggunaan obat (3,09%), kontraindikasi (5,15%), dosis kurang (22,68%), dosis lebih (29,90%), interaksi obat (78,35%).
AKTIVITAS IMUNOMODULATOR EKSTRAK ETANOL 70% DAUN TALOK (Muntingia calabura L.) TERHADAP RESPON IMUN NON SPESIFIK PADA MENCIT JANTAN GALUR SWISS WEBSTER Tanti Azizah Sujono; Muh. Fakhrudin
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i1.320

Abstract

Daun talok (Muntingia calabura L.) dengan kandungan flavonoid memiliki aktivitas antioksidan sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pengobatan alternatif dan agen imunostimulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas imunomodulator ekstrak etanol 70% daun talok (EEDT) terhadap respon imun non spesifik. Penelitian eksperimental dengan  rancangan acak lengkap (RAL) dengan variabel bebas peringkat dosis EEDT 50, 100 dan 200 mg/kgBB selama 7 hari secara peroral. Uji respon imun non spesifik ini menggunakan metode bersihan karbon dan indeks organ limfoid yang dilakukan pada mencit. Data dianalisis menggunakan uji parametrik one way ANOVA untuk indeks fagositik dan indeks organ limfoid. Hasil uji bersihan karbon menunjukkan bahwa EEDT dosis 50 mg/kgBB tidak berefek imunostimulan dengan indeks fagositik 1,165; dosis 100 mg/kgBB bersifat imunostimulan sedang dengan indeks fagositik 1,311; sedangkan EEDT dosis 200 mg/kgBB bersifat imunostimulan kuat dengan indeks fagositik 2,839. Peningkatan bobot limpa pada hasil uji indeks organ limfoid menunjukkan adanya efek ekstrak etanol 70% daun talok terhadap aktivitas imunostimulan. Hasil skrining fitokimia EEDT terbukti mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Berdasarkan hasil yang didapat maka disimpulkan bahwa pemberian EEDT 100 dan 200 mg/kgBB selama 7 hari menunjukkan aktivitas imunostimulan.
UJI EFEKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR Norhikami Norhikami; Arini Fadhilah
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i1.321

Abstract

Inflamasi adalah respon imun tubuh yang bekerja terhadap rangsangan fisik, kimia, maupun zat berbahaya atau mikrobiologi. Obat antiinflamasi golongan NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs) atau golongan steroid umumnya mempunyai banyak efek samping. Daun kelor (Moringa oleifera L.) adalah tanaman tropis yang bisa dijadikan referensi alternatif dalam menurunkan peradangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas antiinflamasi daun kelor pada tikus jantan galur Wistar yang diinjeksi subplantar dengan karagenin 1%. Lima kelompok perlakuan masing-masing 5 ekor tikus jantan galur Wistar dengan bobot antara 150-250 gram. Kelompok I Na-CMC 0,5% (kontrol negatif) digunakan sebagai pembanding dan pembawa untuk pembuatan larutan kontrol positif dan larutan ekstrak uji, kelompok II natrium diklofenak 15 mg/KgBB (kontrol positif), dan sebagai kelompok perlakuan yaitu kelompok III, IV, dan V diberi ekstrak etanol daun kelor (EEDK) dosis 25, 50, dan 100 mg/KgBB. Pengamatan dilakukan selama 6 jam dari jam ke-0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 dengan mengukur tebal udema kaki tikus dengan jangka sorong digital, kemudian dihitung rata-rata ± SD (mm). Data dianalisis dengan SPSS uji statistik ANOVA dan uji lanjut LSD. Ekstrak etanol daun kelor (EEDK) dosis 25, 50, dan 100 mg/KgBB mempunyai aktivitas antiinflamasi dalam menurunkan udema kaki tikus. Dosis 100 mg/KgBB mempunyai aktivitas penurunan inflamasi paling baik dan rata-rata penurunan inflamasinya pada jam ke-1 hingga ke-6 menunjukkan  nonsignifikan (p > 0,05) dengan tebal udem paling rendah pada jam ke-6 yaitu 4,82±0,10 mm sebanding dengan kontrol positif (4,81±0,17 mm). Ekstrak etanol daun kelor disimpulkan memiliki efektivitas antiinflamasi dalam menurunkan peradangan pada udema kaki tikus.
PROFIL PEMAKAIAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH ORTHOPEDI DI PEKANBARU MEDICAL CENTER Aulia Fitri; Husnawati Husnawati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i2.322

Abstract

Dalam bidang bedah, antibiotik profilaksis merupakan antibiotik yang diberikan sebelum, saat dan hingga 24 jam pasca operasi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi luka operasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penggunaan antibiotik profilaksis dalam mencegah terjadinya infeksi pasca bedah orthopedi di rumah sakit Pekanbaru Medical Center(PMC). Jenis penelitian yang dilakukan adalah observasional dengan studi deskriptif menggunakan data retrospektif, dengan teknik purposive sampling terhadap 41 data rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah kombinasi cefazolin 44,11% dan amikasin 32,35%. Hanya 25% pasien yang menerima antibiotik profilaksis tepat waktu pemberian 2-0 jam sebelum operasi.
TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI RSUD SALATIGA Irvan Saputra; Niken Dyahariesti
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i2.331

Abstract

Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) sekarang ini merupakan suatu kebutuhan bagi fasilitas kesehatan untuk mendukung pelayanan kesehatan. Instalasi Farmasi Rumah Sakit tidak bisa terlepas dari proses pelayanan kesehatan ke pasien. Orientasi akhir dari pelayanan kesehatan adalah memberikan pelayanan yang maksimal demi keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini mengevaluasi tingkat kepuasan penggunaan SIMRS terhadap pelayanan farmasi dan menerapkan sistem informasi manajemen farmasi di RSUD Kota Salatiga guna meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan pengambilan data secara prospektif menggunakan metode purposive sampling dengan 30 responden yang memenuhi kriteria. Responden adalah petugas Instalasi Farmasi RSUD Kota Salatiga. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang sudah valid dan reliabel. Terdapat 4 indikator dalam kuesioner yaitu kualitas sistem, kualitas informasi, kepuasan pengguna dan lingkungan organisasi. Hasil kuesioner diolah dan dikategorikan ke dalam berbagai tingkat kepuasan dari responden. Hasil penelitian didapatkan tingkat kepuasan petugas instalasi farmasi pada indikator kualitas sistem 74%, kualitas informasi 74%, kepuasan pengguna 70%, dan lingkungan organisasi 76%. Tingkat kepuasan secara keseluruhan sebesar 73% masuk kategori cukup.
GAMBARAN TERAPI ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RST. DR. ASMIR SALATIGA Nanda Ariyanto Putri; Dian Oktianti
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i2.335

Abstract

Peningkatan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik ≥140 mmHg/ ≥90 mmHg setelah dua kali pengukuran secara terpisah dapat disebut sebagai hipertensi. Pengobatan hipertensi tunggal dan hipertensi disertai diabetes mellitus memerlukan perhatian khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran obat antihipertensi yang digunakan pada pasien rawat jalan yang menderita hipertensi tunggal serta hipertensi dan diabetes mellitus (DM) tipe 2. Penelitian deskriptif dengan pengambilan data rekam medis secara retrospektif. Kriteria inklusi penelitian ini adalah pasien hipertensi rawat jalan usia 26-65 tahun pada bulan Mei-Juni tahun 2023, sedangkan kriteria eksklusi adalah data rekam medis yang tidak lengkap. Data diambil secara purpossive sampling, dan diperoleh 60 rekam medis yang memenuhi kriteria. Sebanyak 53,33% penderita hipertensi tunggal adalah perempuan dan 53,33% hipertensi dengan DM tipe 2 diderita oleh laki-laki, serta banyak dialami pada usia 56-65 tahun. Pada pasien hipertensi tunggal menggunakan 1 obat (16,67%), 2 obat (70%) dan 3 obat (13,33%). Pasien hipertensi dengan DM tipe 2 menggunakan 1 obat (46,66%), 2 obat (36,67%) dan 3 obat (16,67%). Obat yang digunakan pada kedua kelompok adalah golongan diuretik, CCB, ARB dan beta-blocker. Penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi tunggal yang paling banyak yaitu 2 obat CCB + ARB (70%) dan untuk hipertensi dengan DM tipe 2 paling banyak menggunakan 1 obat yaitu ARB (33,33%).
EVALUASI ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT INAP EKSASERBASI AKUT PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) Febryo Arief Rachmawan; Lilla Prapdhani Agni Hajma
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i3.346

Abstract

Penyakit PPOK menjadi penyakit tidak menular paling banyak ke-7 yang diderita oleh pasien di Jawa Tengah pada tahun 2021. PPOK dengan eksaserbasi memerlukan terapi antibiotik dikarenakan adanya perburukan gejala pada pasien. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan kegagalan terapi dan resistensi antibiotik. Tujuan pada penelitian ini yaitu mengevaluasi gambaran penggunaan antibiotik dan menganalisis ketepatan pemilihan antibiotik berdasarkan tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, dan tepat dosis pada pasien PPOK eksaserbasi akut di instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah di Surakarta tahun 2022. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Desember 2023. Penelitian ini termasuk penelitian non eksperimental menggunakan metode deskriptif dan teknik penelusuran catatan rekam medik secara retrospektif. Data yang didapatkan sebanyak 46 sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil menunjukkan antibiotik yang digunakan untuk pasien PPOK eksaserbasi akut di Instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah di Surakarta tahun 2022 yaitu ampisilin sulbactam (54,35%), levofloksasin (50%), ciprofloksasin (17,39%), azitromisin (17,39%), meropenem (15,22%), seftriakson (6,52%), gentamisin (4,35%), piperacilin tazobactam (2,17%), ceftazidime (2,17%), dan doksisiklin (2,17%). Hasil evaluasi penggunaan antibiotik yaitu 91,30% tepat indikasi, 96,44% tepat pasien, 76,60% tepat obat, dan 32,90% tepat dosis.
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS FISIK SEDIAAN PEMBERSIH WAJAH EKSTRAK DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) SERTA AKTIVITAS ANTIBAKTERINYA TERHADAP Propionibacterium acnes Devi Mardiyanti; Willi Wahyu Timur
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i3.349

Abstract

Bakteri gram positif berbentuk batang Propionibacterium acnes adalah penyebab pembentukan jerawat. Jerawat muncul ketika kelenjar minyak kulit sangat aktif dan dapat menyebabkan timbunan lemak yang terlalu banyak menutupi pori-pori kulit. Pembersih wajah dikenal lebih praktis dan lebih populer sebagai pengganti antijerawat. Pembersih wajah juga murah dan mudah digunakan untuk membuat busa yang lembut di wajah. Produk herbal daun salam dapat digunakan untuk membersihkan wajah tanpa merusak kulit. Studi ini bertujuan untuk menentukan pembersih wajah antijerawat yang mengandung ekstrak daun salam dengan konsentrasi F1 (5%), F2 (10%) dan F3 (15%) yang paling efektif dalam menghentikan pertumbuhan bakteri P. acnes. Uji sifat fisik meliputi organoleptis, pH, viskositas, ketinggian busa, dan iritasi dilakukan metode draize, dengan pengamatan selama 24, 48, dan 72 jam. Sediaan pembersih wajah dari ekstrak daun salam memiliki daya hambat terhadap bakteri P. acnes tertinggi pada F3 (15%), dengan lebar daerah hambat rata-rata 17,55 ± 0,10 mm, dibandingkan dengan konsentrasi 5% sebesar 16,95 ± 0,61 mm. F3 memiliki aktivitas antibakteri yang sebanding dengan klindamisin sebagai kontrol positif. Analisis ragam menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) menunjukkan adanya perbedaan secara nyata berdasarkan nilai lebar daerah hambatnya.

Page 10 of 27 | Total Record : 262