cover
Contact Name
Auliya Ghazna Nizami
Contact Email
auliyanizami@uinsa.ac.id
Phone
+6281915490279
Journal Mail Official
jurnalkomparatif@uinsa.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani No.117, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam
ISSN : -     EISSN : 30261643     DOI : https://doi.org/10.15642/komparatif.v3i2
The Komparatif furnishes an international and regional scholarly forum for research on Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic and other aspects of Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought in all times and places.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2021): Desember" : 5 Documents clear
Hukum Bermain Catur Menurut Mazhab Syafi’i dan Mazhab Maliki Muiz, Moch. Zulkarnain
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v1i2.1125

Abstract

Abstract: This article discusses the laws of playing chess according to the Syafi'i and Maliki schools. This research is library research and qualitative. Data were collected through the books of the mazhab Syafi'i and Maliki scholars, then the collected data were analyzed descriptively comparatively. The Syafi'i school argues that the law of playing chess is makruh as long as it is not accompanied by gambling, dirty speech, and obligatory worship. The Maliki school argues that playing chess is haram because it is similar to dice. Based on the comparative analysis, the Syafi'i school and the Maliki school agree that it is forbidden to play chess if it is accompanied by gambling and if it causes dirty speech and neglects obligatory worship. The two schools differ in their opinion regarding the law of playing chess that the Syafi'i mazhab requires playing chess based on the fiqh rule "everything is allowed" and there is no clear passage about the law of playing chess. Meanwhile, the Maliki school of law forbids playing chess by accepting it with dice games. Keywords: Chess, Syafi'i school, Maliki school, Islamic law, comparative. Abstrak: Artikel ini membahas tentang hukum bermain catur menurut mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki. Penelitian ini adalah penelitian pustaka dan kualitatif. Pengambilan data dilakukan melalui kitab-kitab karya ulama mazhab Syafi’i dan ulama mazhab Maliki, kemudian data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif komparatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum bermain catur adalah makruh jika tidak disertai dengan judi, perkataan kotor dan melupakan ibadah wajib. Mazhab Maliki berpendapat bahwa bermain catur hukumnya haram. Permainan catur sama dengan permainan dadu. Berdasarkan analisis komparatif, mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki sepakat mengharamkan bermain catur jika disertai dengan judi, dan jika menyebabkan keluarnya ucapan kotor dan melalaikan ibadah wajib. Kedua mazhab tersebut berbeda pendapat dalam hal hukum bermain catur, bahwa mazhab Syafi’i memakruhkan bermain catur berdasarkan kaidah fikih “al-ashl fi al-ashya’ al-ibahah/segala sesuatu adalah boleh”, karena tidak ada nas yang secara jelas menjelaskan tentang hukum bermain catur. Sedangkan mazhab Maliki mengharamkan secara mutlak hukum bermain catur dengan mengqiyaskannya dengan permainan dadu. Kata Kunci: Catur, mazhab Syafi’i, mazhab Maliki, hukum Islam, komparasi.
Dinamika Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama: Studi Komparasi Fatwa Pencatatan Perkawinan sani, Kurnia
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v1i2.1673

Abstract

Abstract: This research seeks to find differences and similarities in fatwa products produced by several Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Institutions (LBM NU). This study focuses on fatwas related to the issue of registering marriages. There are still many unregistered marriages in Indonesia, which makes this research interesting. This research is library research. The data collection technique is through collecting documents and relevant data from primary data sources then supported by secondary data sources, then compared by comparing the fatwa of the Bahtsul Masail PWNU Yogyakarta institution and the fatwa of the Bahtsul Masail PBNU institution regarding marriage registration. The results of this study indicate that unregistered marriages raise pros and cons regarding the validity of the marriage. Keywords: Registration of Marriage; Bahtsul Masail NU; Fatwa   Abstrak: Penelitian ini berupaya untuk menemukan perbedaan dan persamaan produk fatwa yang dihasilkan oleh beberapa Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU). Penelitian ini berfokus pada fatwa yang berkaitan dengan isu pencatatan perkawinan. Fakta bahwa di Indonesia masih banyak terjadi perkawinan siri menjadikan penelitian ini menarik. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka. Teknik pengumpulan data yakni melalui mengumpulkan dokumen dan data-data yang relevan dari sumber data primer kemudian ditunjang dengan sumber data sekunder, kemudian dikomparasikan dengan membandingkan fatwa lembaga Bahtsul Masail PWNU Yogyakarta dan fatwa lembaga Bahtsul Masail PBNU mengenai pencatatan perkawinan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkawinan yang tidak dicatatkan menimbulkan pro kontra mengenai keabsahan perkawinan. Kata Kunci: Pencatatan Perkawinan; Bahtsul Masail NU; Fatwa
Hukum Ekspor Ganja menurut Majelis Ulama Indonesia dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Sholikin, Irvan Noor; Faridah, Khalwah; Kharisma, Niawati; Rohmatin, Siti
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v1i2.1925

Abstract

Indonesian Ulema Council (MUI) and Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics. Research data was collected through documentation and interviews and then analyzed comparatively, comparing marijuana export laws according to the Indonesian Ulema Council (MUI) and Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics. This study concluded that the export of marijuana, according to the MUI, is not allowed or called haram. This is based on marijuana exports based on Islamic law, that Islamic law prohibits the consumption of marijuana and its distribution. It is also based on the rule of la dharara wa la dhirara (must not cause harm to oneself, nor harm others). According to Article 18 of Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics, marijuana exports may be carried out if there is permission from the minister to pharmaceutical companies under the provisions of laws and regulations. Keywords: export, Marijuana, Islamic law, MUI, law.  Abstrak: Artikel ini membahas tentang ekspor ganja menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Data penelitian dihimpun melalui dokumentasi serta wawancara kemudian dianalisis dengan komparatif, yaitu membandingkan hukum ekspor ganja menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekspor ganja menurut MUI tidak diperbolehkan atau disebut dengan haram. Hal tersebut didasarkan pada dasarkan ekspor ganja pada pinsip hukum Islam, bahwa hukum Islam mengharamkan konsumsi ganja dan penyalurannya. Hal tersebut juga didasarkan pada kaidah la dharara wa la dhirara (tidak boleh menimbulkan atau menyebabkan bahaya bagi diri sendiri, dan tidak boleh pula membahayakan orang lain). Menurut pasal 18 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ekspor ganja boleh dilakukan bila ada izin dari menteri kepada perusahaan farmasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kata Kunci: ekspor, Ganja, hukum Islam, MUI, undang-undang. 
Hukum Euthanasia menurut Hukum Islam dan Hukum Indonesia Azizah, Noer Azizah; Rosyidah, Mila; Badrussholeh, Badrussholeh; Huri, Daman
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v1i2.1926

Abstract

Abstract: This article discusses euthanasia from Islamic Law and Indonesian law perspectives. This research is a type of library research. The nature of the research uses descriptive and comparative methods. The results of the study resulted in two conclusions. First, Islamic Law explains that euthanasia is an act (jarimah) category of suicide that is included in the crime of criminal acts. In the context of Indonesian law, euthanasia is considered a prohibited act. The act still qualifies as a criminal act, that is, as an act that is threatened with crime for those who violate the prohibition. Second, in the comparative analysis of euthanasia from the perspective of Islamic Law and Indonesian law, there are similarities and differences. The similarity between euthanasia arrangements in Islamic Law and Indonesian Law is that euthanasia is equally categorized as a crime against life. At the same time, the difference between euthanasia in the perspective of Islamic Law and law in Indonesia lies in sanctions. In Euthanasia, according to criminal law in Indonesia, the sanction, as stated in Article 344 of the Criminal Code, is a maximum prison sentence of 12 years, while in euthanasia, according to Islamic law, the sanction is qisas (the perpetrator is killed). Keywords: Euthanasia, Islamic law, MUI, legislation.    Abstrak: Artikel ini membahas tentang euthanasia menurut Hukum Islam dan hukum di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian normatif dan berjenis penelitian pustaka. Sifat penelitiannya dengan menggunakan deskriptif dengan menggunakan metode analisis komparatif. Hasil penelitian menghasilkan dua kesimpulan. Pertama, hukum Islam menjelaskan bahwa euthanasia merupakan suatu tindakan (jarimah) kategori bunuh diri yang termasuk dalam kejahatan tindak pidana. Pada konteks hukum Indonesia, euthanasia dianggap sebagai perbuatan yang dilarang. Perbuatan tersebut termasuk sebagai tindakan pidana yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Kedua, dalam analisis komparatif euthanasia perspektif hukum Islam dan hukum di Indonesia, terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan pengaturan euthanasia dalam Hukum Islam dan Hukum Indonesia adalah euthanasia sama-sama dikategorikan sebagai kejahatan terhadap nyawa. Sedangkan Perbedaan euthanasia dalam perspektif Hukum Islam dan hukum di Indonesia terletak pada sanksi. Euthanasia menurut hukum pidana di Indonesia, sanksinya sebagaimana tercantum dalam Pasal 344 KUHP adalah hukuman penjara paling lama 12 tahun sedangkan euthanasia menurut hukum Islam sanksinya adalah diqisas (pelakunya dibunuh). Kunci: Euthanasia, hukum Islam, MUI, undang-undang.   
Hukm al-Zawaj baina Mukhtalif al-Adyan fi Nadzariyyah al-Fuqaha Dyabat, Etaher Ali Saad
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v1i2.1933

Abstract

Abstract:  This article discusses the jurisprudence of marriage between different religions in the theory of jurists. This normative legal research examines the law of interreligious marriage according to jurists and its effects. The research data was analyzed descriptively. The study concluded that the marriage of a Muslim woman to a Christian is not permissible in Islamic law. About the ruling on a Muslim marrying a woman from a biblical woman, the permissibility of a Muslim marrying a woman in writing is a desire for Islam. Still, this origin is considered with several restrictions, namely: 1- Making sure that she is biblical in the sense that she is a Jew or a Christian who believes in God and His messages and the hereafter and is not an atheist or apostate from her religion, and this is what abounds in the West. 2- To be chaste and immune. 3- There should be no fitna behind the marriage to the Scriptures or specific or likely harm. Concerning the ruling on a Muslim woman marrying a non-Muslim, the scholars are unanimous in prohibiting it. This is because Allah says in Surah Al-Baqarah: Verse 221. Keywords: interreligious marriage, jurists, Muslim, Muslim, jurisprudence.  الملخص:  يناقش هذا المقال عن حكم الزواج بين مختلف الأديان في نظرية الفقهاء. هذا البحث هو بحث قانوني معياري يبحث في قانون الزواج بين الأديان وفقا للفقهاء وآثاره. تم تحليل بيانات البحث بشكل وصفي. وخلصت الدراسة إلى أن زواجَ المسلمةِ من المسيحي غير جائز في الشريعة الإسلامية. وأما حكم زواج المسلم من الكتابية، إباحة زواج المسلم من الكتابية ترغيباً لها بالإسلام، ولكن هذا الأصل معتبر بعدة قيود وهي: 1- الإستيثاق من كونها كتابية بمعنى أنها يهودية أو نصرانية التي تؤمن بالله ورسالاته والدار الآخرة وليست ملحدة أو مرتدة عن دينها، وهذا ما يكثر في الغرب. 2- أن تكون عفيفة محصنة 3- ألا يكون من وراء الزواج من الكتابية فتنة ولا ضرر محقق أو مرجح. وأما حكم زواج المسلمة بغير المسلم، فقد أجمع العلماء على تحريمه. وذلك لقول الله تعالى في سورة البقرة: الآية 221. الكلمات المفتاحية: الزواج بين الأديان، الفقهاء، المسلم، المسلمة، الفقه

Page 1 of 1 | Total Record : 5