cover
Contact Name
Mawaddah Ar Rachmah
Contact Email
neurona.perdossi@gmail.com
Phone
+6282130377088
Journal Mail Official
baybasalamah@gmail.com
Editorial Address
SEKRETARIAT PP PERDOSSI Apartemen Menteng Square, Tower A Blok R-19 Jl. Matraman nomor 30E, RT.5/RW.6, Kenari, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10430
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Neurona
ISSN : 02166402     EISSN : 25023748     DOI : https://doi.org/10.52386/neurona
Core Subject : Health, Science,
Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSSI) Pusat di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan bulan Maret, Juni, September dan Desember. Bidang studi cakupan NEURONA meliputi: Stroke dan Pembuluh darah Neurotrauma Neuroonkologi Neuro Infeksi Neuro Behavior Neurorestorasi Neuropediatri Gangguan Tidur Nyeri Kepala Neurootologi Neuro Intervensi Neuro Intensif Neurogeriatri Gangguan Gerak Epilepsi Neuro Epidemiologi
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 35 No 3 (2018)" : 11 Documents clear
PENGARUH AKTIVITAS PENGASUHAN CUCU TERHADAP FUNGSI KOGNITIF PADA PEREMPUAN LANSIA Frederica Jovianti; Linda Suryakusuma; Yuda Turana; Yvonne Suzy Handajani
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.6

Abstract

THE IMPACT OF GRANDPARENTING ACTIVITY ON COGNITIVE FUNCTION IN ELDERLY WOMANABSTRACT Introduction: Cognitive impairment is a neurodegenerative process which often experienced by the elderly. One of the factors associated with cognitive function is grandparenting which is common and has become a social norm in Indonesia.Aims: To determine the association between characteristics of the subjects and grandparenting activity with cognitive function in elderly woman.Methods: This study was conducted on July 2016–January 2017 in West Jakarta and as a part of Active Ageing Research in Atma Jaya University. The data were collected through grandparenting activity questionnaire and cognitive function assessment using Mini Mental State Examination (MMSE).Results: Based on 93 participants, the age mean was 67,51±5,058 and majority had education <9 years (54,8%). Data analysis showed that education, grandparenting, the quality of grandparenting, types of grandparenting activity specifically preparing food and/or feeding child and storytelling had a significant association with global cognitive function.Discussions: Physical, social activity, and cognitive stimulation while caring for grandchildren can prevent decline in cognitive function.Keywords: Elderly, cognitive function, grandparentingABSTRAK Pendahuluan: Penurunan fungsi kognitif merupakan suatu proses neurodegeneratif yang sering dialami oleh lansia. Salah satu faktor yang dianggap berpengaruh terhadap fungsi kognitif adalah aktivitas pengasuhan cucu yang masih umum dilakukan dan telah menjadi bagian dari norma masyarakat di Indonesia.Tujuan: Mengetahui hubungan antara karakteristik subjek dan aktivitas pengasuhan cucu terhadap fungsi kognitif pada perempuan lansia.Metode: Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2016–Januari 2017 di Jakarta Barat dan merupakan bagian dari penelitian Active Ageing di Universitas Atma Jaya. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner aktivitas pengasuhan cucu dan pengukuran fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE).Hasil: Penelitian terhadap 93 subjek dengan rerata usia 67,51±5,058 dan sebagian besar berpendidikan <9 tahun (54,8%). Pendidikan, aktivitas pengasuhan cucu, kualitas pengasuhan cucu, serta jenis aktivitas pengasuhan cucu, yaitu menyiapkan dan/atau menyuapi makanan dan membacakan cerita memiliki hubungan yang bermakna dengan fungsi kognitif global.Diskusi: Aktivitas fisik, sosial dan stimulasi kognitif pada saat mengasuh cucu dapat mencegah terjadinya penurunanfungsi kognitif.Kata kunci: Aktivitas pengasuhan cucu, fungsi kognitif, lanjut usia 
PERAN VISUAL EVOKED POTENTIAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE-2 DENGAN DAN TANPA RETINOPATI DIABETIK Bill Jones Tanawal; Melke Joanne Tumboimbela; Corry Novita Mahama
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.7

Abstract

ROLE OF VISUAL EVOKED POTENTIAL IN TYPE-2 DIABETES MELLITUS WITH AND WITHOUT DIABETIC RETINOPATHYABSTRACTIntroduction: Diabetic retinopathy (DR) is a common complication of type-2 diabetes mellitus (T2DM). Minimal functional change of neural layers of the retina occurs before structural changes, thus undetected by funduscopy. This damage could be identified earlier by P100 latency changes in visual evoked potential (VEP).Aims: To find the characteristic  of P100 in T2DM with and without DR, its correlation  with the duration of thedisease and the level of fasting blood glucose (FBG).Methods: A cross sectional analysis study was conducted in Prof. dr. R.D. Kandou Hospital, Manado, from November2017-January 2018. T2DM patients aged 18-60 with visual acuity  >6/60, without neuro-ophtalmological disorders and other metabolic diseases. P100 latency was measured using VEP with reversed checkerboard stimulation.Results: There were 56 subjects with T2DM, mostly were females (57,1%) and age mean was 54,86±5,65 years. Delayed P100 latency occurred in 85,7% subjects. Diabetic retinopathy subjects showed delayed P100 latency on right (92,31%) and left (88%) eyes while T2DM subjects without retinopathy showed delayed P100 latency on both eyes 70%. There were strong and significant positive correlation between the duration of T2DM and P100 latency on the right and left eyes. There was no significant correlation between fasting blood glucose (FBG) level and P100 latency.Discussions: Delayed P100 latency occurs in T2DM patients with and without retinopathy. The duration of T2DMcorrelates with the delay of P100 latency but not with the level of FBG.Keywords: Diabetic retinopathy, P100, type-2 diabetes mellitus, visual evoked potential ABSTRAKPendahuluan: Retinopati diabetik adalah suatu komplikasi yang umum terjadi pada diabetes melitus tipe-2 (DMT2). Sebelum terjadinya perubahan struktural, lapisan neuron retina pasien DMT2 sudah mengalami perubahan fungsional minimal yang tidak terdeteksi dengan funduskopi. Hal ini dapat diidentifikasi lebih dini berdasarkan gambaran latensi gelombang P100 pada pemeriksaan visual evoked potential (VEP).Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik nilai gelombang P100 pada pasien DMT2 dengan dan tanpa retinopati diabetik, serta hubungannya dengan lama penyakit dan kadar glukosa darah puasa (GDP).Metode: Penelitian analitik dengan desain potong lintang terhadap pasien DMT2 yang dirawat di RSUP Prof. dr. R.D. Kandou, Manado periode November 2017-Januari 2018. Subjek berusia 18-60 tahun dengan visus >6/60 tanpa adanya kelainan neuro-oftamologi dan penyakit metabolik lain. Dilakukan perekaman VEP menggunakan stimulasi reversed checkerboard dilanjutkan pengukuran latensi gelombang P100.Hasil: Didapatkan 56 subjek, paling banyak perempuan (57,1%) dan rerata usia 54,86±5,65 tahun. Latensi P100 memanjang pada 85,7% subjek. Pada subjek dengan retinopati ditemukan mayoritas mengalami pemanjangan latensi pada mata kanan (92,31%) dan mata kiri (88%), sedangkan pada subjek tanpa retinopati ditemukan pemanjangan latensi kedua mata adalah 70%. Terdapat hubungan bermakna dengan korelasi positif kuat antara lamanya DMT2 dan latensi P100 kanan dan kiri. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar GDP dan latensi P100.Diskusi: Pemanjangan latensi P100 terjadi pada subjek DMT2 dengan dan tanpa retinopati. Lamanya DMT2 berhubungan dengan pemanjangan latensi P100, tetapi kadar GDP tidak berhubungan dengan pemanjangan latensi P100.Kata kunci: Diabetes melitus tipe-2, P100, retinopati diabetik, visual evoked potential
PENILAIAN KUALITAS HIDUP EORTC QLQ-C30 DAN EORTC QLQ-BN20 PADA PASIEN TUMOR PRIMER INTRAKRANIAL PASCATERAPI Ratih Puspa; Yusuf Wibisono; Henny Ang
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.8

Abstract

QUALITY OF LIFE ASSESSMENT IN PRIMARY INTRACRANIAL TUMOR AFTER TREATMENT USING EORTC QLQ-C30 AND EORTC QLQ-BN20ABSTRACTIntroduction: Increasing number of surviving primary intracranial tumor patients in line with discovery of new treatment will increase the patient’s morbidity.This makes quality of life of patient need to be evaluated.Aims: Assessed quality of life in primary intracranial tumor patients post treatment using European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-C30) along with EORTC QLQ-Brain Cancer Module (EORTC QLQ-BN20).Methods: This was descriptive analytics-cross sectional study. Performed on primary intracranial tumor subjects during Desember 2017-January 2018 at neurology, neurosurgery, and radiotherapy outpatient Dr. Hasan Sadikin central general hospital Bandung. The obtained average value and the relationship between characteristics with quality of life were assessed using cross tabulation and analyzed with Statistical Package for Social Science (SPSS) version 24.0.Results: There were 42 subjects. Highest scale group based on EORTC QLQ-C30 was cognitive function of func- tional scale 81,4+30,2 and quality of life scale 68,3+19,7. Most symptom scale was pain 40,5+35,3. Whereas based onEORTC QLQ-BN20, most symptom was headache 49,2+37,7. Tumor location was factor that affects quality of life.Discussions: Subjects’ quality of life were good based on EORTC QLQ-C30 and EORTC QLQ-BN20. Results were accordance with some previous studies, but assessment has done before and after treatment. Evaluation quality of life should be made before and after treatment. This study only assessed subject after treatment in Outpatient Installation. For future, it is necessary to conduct cohort study for quality of life evaluation.Keywords: EORTC QLQ-BN20, EORTC QLQ-C30, primary intracranial tumor, quality of lifeABSTRAKPendahuluan: Meningkatnya jumlah pasien tumor primer intrakranial yang bertahan hidup sejalan dengan ditemu- kannya terapi baru akan meningkatkan morbiditas pasien. Hal ini membuat kualitas hidup pasien perlu dievaluasi.Tujuan: Menilai kualitas hidup pada pasien tumor primer intrakranial pascatindakan dengan menggunakan Euro- pean Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-C30) bersamaan dengan EORTC QLQ-Brain Cancer Module (EORTC QLQ-BN20).Metode: Penelitian deskriptif analitik yang dilakukan secara potong lintang, dilakukan pada subjek tumor primer intrakranial selama Desember 2017-Januari 2018 di instalasi rawat jalan neurologi, bedah saraf, dan radioterapi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Uji statistik untuk menilai rerata nilai yang didapat serta hubungan karakteristik dan kualitas hidup dengan tabulasi silang, kemudian diolah dengan Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 24.0.Hasil: Didapatkan 42 subjek. Kelompok skala paling tinggi berdasarkan EORTC QLQ-C30 adalah skala fungsional yaitu fungsi kognitif 81,4 + 30,2 dan skala kualitas hidup 68,3 + 19,7. Skala keluhan terbanyak nyeri 40,5+35,3. Sedang- kan berdasarkan EORTC QLQ-BN20, keluhan terbanyak nyeri kepala 49,2+37,7. Lokasi tumor merupakan faktor yang memengaruhi kualitas hidup.Diskusi: Kualitas hidup subjek penelitian baik berdasarkan EORTC QLQ-C30 dan EORTC QLQ-BN20. Hasil sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya, namun penilaian dilakukan sebelum dan setelah tindakan. Evaluasi adanya perubahan kualitas hidup seharusnya dilakukan sebelum dan setelah tindakan. Penelitian ini hanya menilai subjek setelah tindakan di instalasi rawat jalan. Untuk kedepannya, perlu dilakukan penelitian kohort untuk penilaian kualitas hidup.Kata kunci: EORTC QLQ-BN20, EORTC QLQ-C30, kualitas hidup, tumor primer intrakranial
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI NEUROPATI PERIFER TERKAIT HIV DI MANADO Deivy Cirayow; Arthur Hendrik Philips Mawuntu; Herlyani Khosama
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.9

Abstract

FACTORS THAT INFLUENCE HIV ASSOCIATED PERIPHERAL NEUROPATHY IN MANADOABSTRACTIntroduction: There are  several sociodemographic and clinical factors that influence the development of HIV associated peripheral  neuropathy (HIV-PN). Manado has different sociodemographic and clinical characteristics  from other regions. However, the percentage of HIV-PN and its influencing factors are unknown.Aims: To know the percentage of HIV-PN and factors that influence this disorder in Manado.Methods: A crosssectional study conducted in HIV/AIDS clinic R.D. Kandou hospital Manado between November2016–January 2017. Neuropathy evaluation was performed using brief peripheral neuropathy screening (BPNS), neuropathic pain diagnostic questionnaire (DN4), and electroneurography. A Chi-square or Fisher exact test was done to analyze categorical variables, independent T or Mann-Whitney test was done for numerical variables, and linear regression was done in multivariate analysis.Results: 50 subjects were included, most were male (70%), and the mean age was 32.98 (±9.726) years, with HIV- NP percentage was 46%. Age >30 years old, low hemoglobin count, CD4, and low international  HIV dementia scale (IHDS) significantly associated with HIV-NP. Working subjects were 13.6 times more likely to have HIV-PN.Discussion: HIV-PN prevalence was relatively high, influenced by age >30 years old an low hemoglobin, CD4, andIHDS. As a factor, working was escalating the likelihood of NP-HIV by 13.9 times.Keywords: HIV/AIDS, influencing factors, peripheral neuropathyABSTRAKPendahuluan: Neuropati perifer terkait human immunodeficiency virus/HIV (NP-HIV) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor klinis dan sosiodemografis. Manado mempunyai karakteristik yang berbeda dengan daerah lain, namun belum diketahui persentase NP-HIV dan faktor-faktor yang memengaruhinya.Tujuan: Mengetahui persentase NP-HIV dan faktor-faktor yang memengaruhinya di Manado.Metode: Penelitian potong lintang terhadap pasien HIV/AIDS di poliklinik HIV/AIDS RSUP Prof. dr. R.D. Kandou, Manado, pada November 2016–Januari 2017.  Evaluasi neuropati dilakukan menggunakan brief peripheral  neuropathy screening (BPNS), neuropathic pain diagnostic questionnaire (DN4), dan elektroneurografi. Digunakan uji Chi-square atau Fisher exact untuk menganalisis variabel kategorik, uji T independen atau Mann-Whitney untuk variabel numerik, dan regresi linear untuk analisis multivariat.Hasil: Didapatkan 50 subjek yang memenuhi kriteria penelitian dengan mayoritas laki-laki (70%), rerata usia32,98±9,726 tahun, dan mengalami NP-HIV sebanyak 46%. Usia >30 tahun, kadar hemoglobin, jumlah CD4, dan skor international  HIV dementia scale (IHDS) yang rendah berhubungan secara bermakna dengan adanya NP-HIV. Adapun subjek yang bekerja berisiko 13,6 kali lebih besar mengalami NP-HIV.Diskusi: Didapatkan prevalensi NP-HIV yang cukup tinggi dengan dipengaruhi oleh usia >30 tahun serta kadar hemoglobin, CD4, dan skor IHDS yang rendah. Faktor bekerja juga meningkatkan kecenderungan 13,9 kali mengalami NP terkait HIV.Kata kunci: Faktor-faktor yang memengaruhi, HIV/AIDS, neuropati perifer
KORELASI DIAMETER SELUBUNG NERVUS OPTIK DAN MARSHALL CT SCORE DENGAN SKALA KOMA GLASGOW PADA CEDERA KEPALA Rani Maria Yogipranata; Hermina Sukmani
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.10

Abstract

CORRELATION BETWEEN OPTIC NERVE SHEATH DIAMETER AND MARSHALL CT SCORE WITH GLASGOW COMA SCALE IN TRAUMATIC BRAIN INJURYABSTRACTIntroduction: In traumatic brain injury (TBI), non-contrast brain CT scan is able to detect an increase in intracranial pressure, which is crucial in patient’s management. Optic nerve sheath diameter’s (ONSD) measurement is a new method that is expected to assess an increase in intracranial pressure noninvasively. Marshall CT score is a valid instrument, a de facto standard to classify head injury patient which correlates with an increased intracranial pressure.Aims: To see the correlation between ONSD and Marshall CT score with Glasgow Coma Scale (GCS).Methods: This was a retrospective, analytic observational with cross-sectional research’s design taken from the patients’ medical record admitted in Dr. Kariadi Hospital, Semarang, between March-August 2017. Measurement of ONSD and Marshall CT score were done by a radiologist. Rank Spearman’s were used to assess the correlation between variables.Results: There were 34 subjects, the majority were man (67,6%), with highest incidents in less than 30 years age (41,2%) and mostly caused by accident  (76,4%). Statistical analysis showed a moderate negative degree correlation between ONSD and Marshall CT score with GCS.Discussion: Enlargement of ONSD and higher Marshall CT score were correlated negatively related with the GCSin TBI patients with increased intracranial pressure.Keywords: Glasgow Coma Scale, Marshall CT score, optic nerve sheath diameter’s, traumatic brain injuryABSTRAK Pendahuluan: Pada cedera kepala atau traumatic brain injury (TBI), penggunaan CT scan kepala tanpa kontras dapat mendeteksi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (TIK), yang penting bagi tata laksana pasien. Sementara pengukuran diameter optic nerve sheath yang disebut optic nerve sheath diameter (ONSD) merupakan metode baru yang diharapkan dapat menilai peningkatan tekanan intrakranial secara non-invasif. Marshall CT score merupakan instrumen valid dan menjadi standar de facto dalam mengklasifikasikan pasien cedera kepala yang berkorelasi dengan peningkatan TIK.Tujuan: Untuk melihat adanya korelasi antara diameter N. Optikus dan Marshall CT score dengan Skala KomaGlasgow (Glasgow Coma Scale/GCS).Metode: Penelitian analitik observasional retrospektif secara potong lintang dari data rekam medis pasien cedera kepala dewasa yang dirawat di RSUP Prof. Dr. Kariadi, Semarang, pada bulan Maret-Agustus 2017. Selanjutnya kesemua subjek dilakukan pengukuran ONSD pada kedua mata serta penilaian Marshall CT score oleh seorang spesialis radiologi. Dilakukan uji korelasi Rank Spearman’s untuk menilai ketiga parameter tersebut.Hasil: Terdapat 34 subjek yang terutama laki-laki (67,6%) dengan usia terbanyak <30 tahun (41,2%) dan penyebab terbanyak adalah kecelakaan (76,4%). Didapatkan korelasi negatif derajat sedang antara ONSD dan Marshall CT score dengan GCS.Diskusi: Peningkatan diameter optic nerve sheath dan Marshall CT score berkorelasi dengan penurunan skor GCSpada pasien cedera kepala yang mengalami peningkatan TIK.Kata kunci: Cedera kepala, diameter optic nerve sheath, Marshall CT score, Skala Koma Glasgow
PREDIKTOR SYMPTOMATIC INTRACEREBRAL HEMORRHAGE PASCATROMBOLISIS INTRAVENA PADA STROKE ISKEMIK AKUT Al Rasyid; Salim Harris; Mohammad Kurniawan; Rakhmad Hidayat; Taufik Mesiano
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.12

Abstract

PREDICTORS OF SYMPTOMATIC INTRACEREBRAL HEMORRHAGE FOLLOWING INTRAVENOUS THROMBOLYSIS IN ACUTE ISCHEMIC STROKEABSTRACTDespite its effectiveness, the percentage of ischemic stroke patients who received definitive treatment, thrombolysis, never went above 10%, due to one of the reason is the occurrence of severe, post-therapeutic complications, such as symptomatic intracerebral hemorrhage (sICH). Several factors contribute to sICH occurrence are age, severity of stroke, early changes of ischemic sign, hyperglycemia, blood pressure, antiplatelet use and its interval. Patients with highest risk of sICH has been shown to have the greatest benefits from thrombolysis among other subgroup patients, therefore withholding therapy is not a choice. Compliance to the stroke’s guidelines could reduce the risk of complications as well as boost effectiveness of treatment.Keywords: Safety predictors, acute ischemic stroke, thrombolysis, sICH ABSTRAK Walau terbukti efektif, persentase pasien yang dapat dilakukan tindakan definitif stroke iskemik akut berupa trombolisis  tidak  pernah  mencapai  angka  10%,  salah  satunya  disebabkan  pertimbangan  terhadap  komplikasi  berat, seperti symptomatic intracerebral hemorrhage (sICH). Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian sICH antara lain usia, derajat stroke, perubahan tanda iskemik dini, hiperglikemia dan diabetes melitus, tekanan darah, penggunaan antiplatelet, serta waktu pemberian. Pasien dengan risiko sICH tertinggi memiliki keuntungan terbesar dari trombolisis sehingga menunda tindakan bukanlah suatu opsi. Kepatuhan terhadap panduan tindakan dapat mengurangi angka kejadian komplikasi berat.Kata kunci: Prediktor keamanan, stroke iskemik akut, trombolisis, sICH
PALIDOTOMI UNTUK PENYAKIT PARKINSON: LAPORAN 3 KASUS Muhammad Agus Aulia; Adolf Setiabudi; Handrianto Setiajaya; Agus Yunianto; Lukman Ma’ruf
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.13

Abstract

PROFIL PASIEN SINDROM TEROWONGAN KARPAL DI POLIKLINIK SARAF RSUP SANGLAH DENPASAR I Komang Arimbawa; Ni Komang Dewi Mahayani; I Gusti Ngurah Purna Putra; Thomas Eko Purwata
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.14

Abstract

PROFILE OF PATIENT CARPAL TUNNEL SYNDROME IN THE NEUROLOGY CLINIC SANGLAH GENERAL HOSPITAL IN DENPASARABSTRACTIntroduction: Carpal tunnel syndrome (CTS) is the entrapment of the median nerve at the carpal tunnel.Aims: To determine the profile of patients with carpal tunnel syndrome in the Neurology Clinic Sanglah GeneralHospital in Denpasar.Methods: This is a descriptive, cross sectional study. Data was collected during a6-month period from April 2016 to September 2016.Results: Among 25 subjects, 76% were female with mean age 48+10,133 years old, housewives (40%), with working hours of more than 8 hours per day. Most subjects had symptoms on the right hand 68% in the form of tingling sensation (96%), pain (36%), numbness (48%), and hand weakness (24%). Most subject has positive Phalen test (80%), Tinnel (80%), and Flick (76%) and small number had tenar muscle atrophy (28%), impaired sensibility (32%), and decrease in muscle strength (24%). As many as 68% of subjects had distal sensoric latency of median nerve recorded on the 4th digit>3.5msec, while 72% showed ≥0.5 difference of distal sensoric latency between the median nerve and ulnar nerve, while8% showed no response.Discussion: Most patients were female, with dominant complaint was tingling, positive Phalen and Tinnel test, and68% ENMG result shown CTS.Keywords: Carpal tunnel syndrome, electroneuromyography, patient profileABSTRAKPendahuluan: Sindrom terowongan karpal (STK) adalah penjepitan N. Medianus saat melewati terowongan karpal. Tujuan: Untuk mengetahui profil pasien sindrom terowongan karpal di poliklinik saraf RSUP Sanglah, Denpasar. Metode: Penelitian potong lintang terhadap pasien dengan STK yang berobat ke poliklinik saraf RSUP Sanglah,Denpasar secara konsekutif pada bulan April-September 2016.Hasil: Dari 25 subjek, 76% adalah perempuan dengan rerata usia 48+10,133 tahun, ibu rumah tangga (40%) dengan durasi kerja lebih dari 8 jam perhari. Mayoritas keluhan terjadi pada tangan kanan (68%), berupa kesemutan (96%), nyeri (36%), rasa tebal (48%), dan kelemahan otot  tangan (24%). Sebagian besar hasil positif pada tes Phalen (80%), Tinnel (80%), dan Flick (76%), serta sebagian kecil mengalami atrofi otot tenar (28%), gangguan sensibilitas (32%), dan kelemahan otot tangan (24%). Latensi distal sensorik N. Medianus pada perekaman jari IV terutama >3,5ms (68%), perbedaan latensi distal sensorik N. Medianus dan Ulnaris ≥0,5ms (72%), dan tidak ada respons 8%.Diskusi: Sebagian besar sampel adalah perempuan, gejala yang dominan berupa kesemutan, tes Phalen dan Tinnel yang positif, serta hasil ENMG 68% menderita STK.Kata kunci: Elektroneuromiografi, profil pasien, sindrom terowongan karpal
PENGUKURAN TINGKAH LAKU PADA MODEL NYERI NEUROPATIK PERIFER: TIKUS DENGAN CCI (CHRONIC CONSTRICTION INJURY) Hanik Badriyah Hidayati; Paulus Sugianto; Junaidi Khotib; Chrismawan Ardianto; Kuntoro Kuntoro; Mohammad Hasan Machfoed
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.15

Abstract

BEHAVIORAL ASSESMENT OF THE PERIPHERAL NEUROPATHIC PAIN MODEL: RAT WITH CCI (CHRONIC CONSTRICTION INJURY)ABSTRACTNeuropathic pain occurs in 20% of patients with chronic pain. This mainly due to the lack of effective treatment and the presence of drug’s side effects. Animal models have been broadly utilized in validating the therapeutic target and the development of analgesic drugs. Chronic constriction injury (CCI) is a model of peripheral neuropathic pain characterized by allodynia and hyperalgesia. Chronic constriction injury model is produced by loose ligation of the sciatic nerve resulting in nerve damage, thus sensitizes and lowers pain threshold. The pain threshold test is performed by providing a pressure and thermal sensory stimulus that results in observable withdrawal behavior. This article discusses several methods in assessing pain-related behavior on the CCI neuropathic pain model.Keywords: Behavioral, chronic constriction injury, mechanical, neuropathic painABSTRAKNyeri neuropatik terjadi pada seperlima pasien dengan nyeri kronik. Hal ini disebabkan karena terapi nyeri neuropatik masih kurang efektif dan adanya efek samping obat. Model hewan terbukti bermanfaat untuk validasi target dan perkembangan obat analgesik. Chronic constriction injury (CCI) merupakan model nyeri neuropatik perifer dengan karakteristik alodinia dan hiperalgesia. Model CCI dibuat dengan memberikan ligasi longgar pada saraf skiatik yang menyebabkan kerusakan saraf, sehingga terjadi sensitisasi dan ambang nyeri menurun. Tes ambang nyeri dilakukan dengan memberikan stimulus sensorik berupa tekanan dan panas yang akan menghasilkan tingkah laku withdrawal yang bisa diobservasi. Artikel ini membahas penilaian tingkah laku nyeri pada model nyeri neuropatik CCI.Kata kunci: Chronic constriction injury, mekanik, nyeri neuropatik, tingkah laku
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM LUARAN KLINIS PASIEN TETANUS DI RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG Luther Theng; Theresia Christin; Erial Bahar
NEURONA Vol 35 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i3.16

Abstract

FACTORS AFFECTING THE CLINICAL OUTCOME OF TETANUS PATIENTS IN MOHAMMAD HOESIN GENERAL HOSPITAL PALEMBANGABSTRACTIntroduction: Tetanus is a serious health problem with mortality rate up to 60% despite the decreasing incidence rate every year. Knowledge about factors affecting clinical outcome of tetanus patients may reduce mortality rate, better understanding on prevention and management of the disease. The clinical outcomeAim: To know the incidence and factors that affect the clinical outcome of tetanus patients.Method: Retrospective study with cross sectional analytic using hospital-based secondary data. Inclusion criteria were hospitalized tetanus patients within 3 years period (2013-2015) and complete medical record. Incidence, case fatality rate and other which other factors associated with clinical outcome were counted from medical record and analyzed by univariate and bivariate analysis, and logistic regression for multivariate analysis.Result: The incidence rate of tetanus patients in 2013 was (4.28%), 2014 (1.62%), 2015 (2.87%) and the mortality rate reaches 28.41%. From 41 subjects, univariate, bivariate and multivariate analyses were performed. The four selected variables were gender, port d’entrée, onset, and isolation room. Dsicussion: Mortality rate reached 28.41% despite the decreasing incidence every year. Sex, port d’entrée, onset, and isolation room treatment are factors that affect clinical outcome of tetanus patients.Keywords: Clinical outcome, mortality rate, tetanusABSTRAKPendahuluan: Tetanus merupakan masalah kesehatan serius dapat menyebabkan angka kematian mencapai 60% walaupun angka insiden semakin menurun setiap tahunnya. Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi luaran klinis pasien dapat menurunkan angka kematian, upaya pencegahan penyakit dan keberhasilan penatalaksanaan.Tujuan: Mengetahui insiden serta faktor–faktor yang memengaruhi luaran klinis pasien tetanus.Metode: Studi bersifat retrospektif dengan metode potong lintang analitik dengan data sekunder berbasis RS. Kriteria inklusi adalah pasien tetanus yang dirawat sejak tiga periode 2013-2015 dan memiliki data rekam medis lengkap. Insiden, angka kematian dan hal-hal yang diperkirakan berhubungan dengan luaran ditelusuri dari rekam medis kemudian dilakukan analisis univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik.Hasil: Angka insiden tetanus tahun 2013 (4,28%), 2014 (1,62%), 2015 (2,87%) dengan angka kematian rata-rata28,41%. Dari 41 subjek penelitian dilakukan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Empat variabel yang terpilih adalah jenis kelamin, port d’entrée, onset, dan perawatan pasien ruang isolasi.Diskusi: Angka kematian kasus tetanus masih mencapai 28,41% walaupun angka insiden semakin menurun setiap tahunnya. Jenis kelamin, port d’entry, onset, dan perawatan di ruang isolasi merupakan faktor-faktor berpengaruh terhadap luaran klinis pasien tetanus.Kata kunci: Angka kematian, luaran klinis, tetanus

Page 1 of 2 | Total Record : 11