cover
Contact Name
Mawaddah Ar Rachmah
Contact Email
neurona.perdossi@gmail.com
Phone
+6282130377088
Journal Mail Official
baybasalamah@gmail.com
Editorial Address
SEKRETARIAT PP PERDOSSI Apartemen Menteng Square, Tower A Blok R-19 Jl. Matraman nomor 30E, RT.5/RW.6, Kenari, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10430
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Neurona
ISSN : 02166402     EISSN : 25023748     DOI : https://doi.org/10.52386/neurona
Core Subject : Health, Science,
Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSSI) Pusat di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan bulan Maret, Juni, September dan Desember. Bidang studi cakupan NEURONA meliputi: Stroke dan Pembuluh darah Neurotrauma Neuroonkologi Neuro Infeksi Neuro Behavior Neurorestorasi Neuropediatri Gangguan Tidur Nyeri Kepala Neurootologi Neuro Intervensi Neuro Intensif Neurogeriatri Gangguan Gerak Epilepsi Neuro Epidemiologi
Articles 299 Documents
FISTULA ARTERIOVENOSUS FASIALIS PADA KEHAMILAN Risky Ilona Saputra; Kumara Tini
NEURONA Vol 35 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i4.33

Abstract

 FACIAL ARTERIOVENOSUS FISTULA IN PREGNANCYABSTRACTArteriovenosus fistula (AVF) of superficial temporal artery is rarely found. We report a case of 34 years old women, with facial AVF during her third pregnancy. The patient was admitted to the hospital with complain of pulsating headache, tinnitus, and pulsating mass on the left preauricular  region. Arteriovenosus fistula diagnosis was confirmed by Digital Substraction Angiography (DSA), showing the left superficial temporal artery as the feeding artery. The headache and tinnitus was diminished immidiately after embolization procedure followed by ligation surgery.Keywords: Arteriovenosus fistula, pregnancy, superficial temporal arteryABSTRAKFistula arteriovenosus (FAV) pada arteri temporalis superfisialis (ATS) jarang ditemukan. Dilaporkan kasus seorang perempuan berusia 34 tahun yang mengalami FAV fasial dalam kehamilan anak ketiganya. Pasien mengeluhkan nyeri kepala berdenyut, tinnitus, dan massa berdenyut pada area preaurikularis kiri. Pemerikasan digital substraksi angiografi (DSA) mengkonfirmasi adanya FAV, dengan feeding artery berasal dari ATS kiri. Setelah tindakan embolisasi dan operasi penutupan fistula, keluhan nyeri kepala dan tinnitus menghilang.Kata kunci: Arteri temporalis superfisialis, fistula arteriovenosus, kehamilan
PERAN INTERVENSI MINIMAL TIPE ABLASI RADIOFREKUENSI DALAM PENANGANAN NYERI KRONIK Yusak Mangara Tua Siahaan; Hugo Dwiputra Wiradarma
NEURONA Vol 35 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i4.34

Abstract

 THE ROLE OF RADIOFREQUENCY ABLATION AS MINIMAL INTERVENTION IN MANAGING CHRONIC PAINABSTRACTChronic pain is one of the most common complaints in everyday clinical practice. These complaints not only cause disruption to physical functioning, but also to social, mental, and economic functions. Recent studies have demonstrated the potential of interventional therapy, including radiofrequency (RF) ablation in the management of chronic pain. The objective of this procedure is to cause lesions in the neural network that inhibits the transmission of pain signals to the brain. Radiofrequency ablation shows higher levels of pain control and less minimal side effects, thus may be one of the preferred therapy in the management of chronic pain.Keywords: Ablation, chronic pain, radiofrequencyABSTRAKNyeri kronik merupakan salah satu keluhan yang sering ditemui pada praktik klinis sehari-hari. Keluhan ini tidak hanya mengakibatkan gangguan pada fungsi fisik, tetapi juga terhadap fungsi sosial, mental, maupun ekonomi. Penelitian terkini menunjukkan potensi terapi intervensi, termasuk ablasi radiofrekuensi (RF) dalam mengatasi nyeri kronik. Prin- sip kerja prosedur ini adalah dengan memimbulkan lesi pada jaringan saraf sehingga menghambat transmisi sinyal nyeri menuju otak. Ablasi RF menunjukkan tingkat kontrol nyeri yang lebih tinggi dengan efek samping yang lebih minimal, sehingga dapat menjadi salah satu terapi pilihan dalam penanganan nyeri kronik.Kata kunci: Ablasi, nyeri kronik, radiofrekuensi
PEMANFAATAN ALPHA LIPOIC ACID SEBAGAI INHIBITOR DEGENERASI PROTEIN TAU UNTUK PENCEGAHAN CHRONIC TRAUMATIC ENCEPHALOPATHY Gunawan, Rudy; Utami, Nastiti Bekti; Putri, Gusfita Trisna Ayu; Romadhon, Nadia Jean; Muflikhatun, Khanif; Munawir, Al
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.36

Abstract

     THE USE OF ALPHA LIPOIC ACID AS TAU PROTEIN DEGENERATION INHIBITOR ON PREVENCE CHRONIC TRAUMATIC ENCEPHALOPATHYABSTRACTIntroduction: Chronic traumatic encephalopathy (CTE) is progressive neurodegenerative syndrome caused by repeated blunt object injury affects the head. This condition results in degeneration of tau, a protein that can help stabilize and support certain structures in brain’s cells, including internal transport system of the brain’s cell. Repeated injuries cause the degeneration of tau proteins that proteins misfold and change their form and then become free radicals cause neuron death. Alpha lipoic acid (ALA) is one of the antioxidant can bind free radicals and regenerate antioxidant vitamin C, vitamin E, and coenzyme Q10.Aim: To exam the effectiveness of alpha lipoic acid to inhibit the degeneration of tau protein in immunohistochemistry experimental animals’s brain.Methods: Experimental study in vivo of CTE model in rat by dropped 245g load on the head at 35cm height. 28 rats were randomly assigned to 7 groups; normal group without treatment, negative control group is given NaCl 0.9% 1.5mL, positive control group is given citicholine 6.75mg, group A is given ALA 1.0125mg, group B is given ALA 2.025mg, group C is given ALA 4.05mg, group D is given ALA 8.1mg and received 30 days CTE treatment. Experiment was conducted in May 2017 at Medical Faculty University of Jember. Tau protein degeneration were scored immunohistochemically.Results: Group D showed the closest to normal, while group A showed most tau protein degeneration (190.25±26.89) compared to normal group (53.25±43.39). Group D also showed lower tau protein score compared to positive control significantly.Discussion: Alpha lipoic acid is able to inhibit the progression of tau protein degeneration on immunohistochemistry staining of animal’s brains in CTE model.Keyword: Alpha lipoic acid, chronic traumatic encephalopathy, tau proteinABSTRAKPendahuluan: Chronic traumatic encephalopathy (CTE) adalah sindrom neurodegeneratif progresif akibat cedera berulang benda tumpul yang mengenai kepala. Cedera berulang tersebut menyebabkan degenerasi protein tau, yaitu protein yang dapat membantu menstabilkan dan mendukung struktur tertentu dalam sel otak, termasuk sel dari sistem transportasi internal. Akibatnya, protein tau gagal melipat dan mengubah bentuk, sehingga menjadi radikal bebas yang dapat menye- babkan kematian neuron. Alpha lipoic acid (ALA) adalah salah satu senyawa antioksidan yang mampu mengikat radikal bebas dan meregenerasi antioksidan vitamin C, vitamin E, dan koenzim Q 10.Tujuan: Mengetahui efektivitas pemberian alpha lipoic acid dalam menghambat progresivitas degenerasi protein tau pada gambaran imunohistokimia otak hewan coba.Metode: Studi eksperimental in vivo model CTE pada tikus dengan dijatuhi beban 245g di kepala pada ketinggian35cm. Terdapat 28 tikus yang dibagi menjadi 7 kelompok, yaitu: kelompok normal tanpa perlakuan, kelompok kontrol (-) diberikan NaCl 1,5mL, kontrol (+) diberikan sitikolin 6,75mg, kelompok A diberikan ALA 1,0125mg, kelompok B diberi- kan ALA 2,025mg, kelompok C diberikan ALA 4,05mg, serta kelompok D diberikan ALA 8,1mg dan mendapat perlakuan CTE selama 30 hari. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2017 di Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Pemeriksaan skor degenerasi protein tau berdasarkan gambaran imunohistokimia.Hasil: Kelompok D dengan dosis tertinggi 8,1mg merupakan gambaran degenerasi protein tau paling sedikit mendekati normal, sedangkan kelompok A dengan dosis terendah 1,0125mg merupakan gambaran degenerasi protein tau paling banyak (190,25±26,89), jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok normal (53,25±43,39). Demikian pula kelompok D dengan kontrol positif menunjukkan skor degenerasi protein tau kelompok D lebih rendah dibandingkan dengan kontrol positif secara bermakna.Diskusi: Pemberian ALA dosis tinggi mampu menghambat progresivitas degenerasi protein tau pada gambaran imunohistokimia otak hewan coba yang mengalami cedera kepala berulang.Kata kunci: Alpha lipoic acid, chronic traumatic encephalopathy, protein tau
ANALISIS KADAR AMILOID BETA PLASMA DENGAN GANGGUAN KOGNITIF PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 Syafrita, Yuliarni; Amir, Darwin; Decroli, Eva; Susanti, Restu
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.38

Abstract

   ANALYSIS OF PLASMA LEVELS OF BETA AMYLOID WITH COGNITIVE IMPAIRMENT IN TYPE 2 DIABETES MELLITUSABSTRACTIntroduction: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) and Alzheimer’s disease are two kind of neurodegenerative disease that related with age. Patients with DM show a tendency to develop Alzheimer’s disease, but there is no single marker for predicting a DM case will develop into Alzheimer’s disease. Amyloid cascade beta disturbance is one factor involved in the pathogenesis of DM disease as well as in Alzheimer’s disease, and still believed to be the main factor causing Alzheimer’s dementia.Aims: This research was aimed to determine the correlation between beta amyloid plasm level and demographic factors with the occurrence of cognitive dysfunction in type 2 diabetes mellitus patients.Methods: This was a cross-sectional design study on patients with DM in special DM clinic at M Djamil and Ibnu Sina hospital, Padang, between August—October 2016. Cognitive function was examined using the Montreal Cognitive Assessment Indonesian version (MoCA-Ina). Beta amyloid level was measured by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) technique. Beta amyloid diagnostic ability was analyzed by using receiver operating characteristics (ROC). The correlation between the variables were analyze by using Chi-square, and p value p<0.05 was considered to be significant. To determine the strongest variables which correlated to cognitive dysfunction, logistic regression analysis were performed.Result: 65 subjects included in this study, where cognititve dysfuntion were present in 35 patients (58.3%). There were significant correlation between disease duration and low levels of 42 beta amyloid in plasma (Aβ42) with the occur- rence of cognitive dysfunction. The multivariate analysis showed that the disease duration, followed by low levels of Aβ42 and education level were the variables correlated with cognitive dysfunction.Discussion: There were a correlation between low levels of 42 beta amyloid in plasma with the occurrence of cog- nitive dysfunction in type 2 diabetes mellitus patients.Keywords: Beta amyloid, cognitive impairment, demographic factors, type 2 DMABSTRAKPendahuluan: Penyakit diabetes melitus tipe 2 (DM) dan penyakit Alzheimer adalah dua penyakit neurodegeneratif yang sering berhubungan dengan usia. Pasien dengan DM menunjukkan kecenderungan untuk menderita penyakit Alzheimer, namun belum ada satupun penanda untuk memprediksi kasus DM yang akan berkembang menjadi penyakit Alzheimer. Gangguan kaskade amiloid beta merupakan faktor yang terlibat pada patogenesis penyakit DM maupun pada penyakit Alzheimer, dan sampai sekarang masih dipercaya sebagai faktor utama yang menyebabkan demensia Alzheimer.Tujuan: Mengetahui hubungan kadar amiloid beta plasma dan faktor demografi dengan gangguan fungsi kognitif pada penderita DM.Metode: Penelitian dengan desain potong lintang ini, terhadap pasien DM yang berobat di Poliklinik khusus diabetes RSUP Dr. M Djamil dan RS Islam Ibnu Sina, Padang, pada periode Agustus–Oktober 2016. Penilaian gangguan kognitif menggunakan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina), dinyatakan terganggu jika nilai <26.Kadar amiloid beta diperiksa dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan kemampuan diagnostik amiloid beta dianalisis dengan receiver operating characteristics (ROC). Hubungan antar variabel diuji dengan Chi- square, dikatakan bermakna bila nilai p≤0,05. Dilakukan analisis regresi logistik untuk menentukan variabel yang paling kuat hubungannya dengan gangguan fungsi kognitif.Hasil: Didapatkan 65 subjek dengan rerata usia 61,62+7,6 tahun dan sebanyak 53,8% mengalami gangguan fungsi kognitif. Didapatkan hubungan yang bermakna antara lama sakit dan rendahnya kadar Aβ42 plasma dengan terjadinya gangguan kognitif. Pada analisis multivariat diketahui bahwa urutan kekuatan variabel yang berhubungan dengan terjadinya gangguan fungsi kognitif adalah lama sakit, rendahnya kadar Aβ42 plasma, dan tingkat pendidikan.Diskusi: Terdapat hubungan antara lama sakit dan rendahnya kadar Aβ42 plasma dengan terjadinya gangguan kognitif pada penderita DM.Kata kunci: Amiloid beta, DM tipe 2, faktor demografi, gangguan kognitif
EFEK PEKERJAAN RUMAH TANGGA DALAM PENCEGAHAN PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA PEREMPUAN BERPENDIDIKAN RENDAH Shalim, Christina Permata; Rahadian, Julia; Turana, Yuda
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.39

Abstract

   EFFECTS OF HOUSEWORK IN PREVENTION OF COGNITIVE DECLINE IN ELDERLY WOMEN WITH LOW EDUCATIONABSTRACTIntroduction: Physical activities have a role in preventing or slowing down cognitive decline. In Indonesia, physical activity in the elderly women is dominated with house work chores.Aims: This study was aimed to determine the relationship between house chores with cognitive function in elderly women.Methods: A cross sectional analytic descriptive of 65 women aged 60 years and over with highest education level of junior high school that live in Kalianyar, West Jakarta, between October to November 2014. Physical activity was measured by questionnaire about nine housework activities that Indonesian women usually do and cognitive function was assessed by Mini-Mental State Examination (MMSE).Results: In this study of 65 subjects with a mean age of 64.31 years and low education level, there was a significant relationship between the higher amount of physical activity and better cognitive level. The types of physical activity that had a significant relationship with better cognitive function was cooking, grocery shopping, and washing dishes, with the frequency of cooking and grocery shopping had a significant relationship.Discussion: Cooking and grocery shopping activity have a relationship with better cognitive function.Keywords: Cognitive function, daily physical activity, elderly, house choresABSTRAKPendahuluan: Aktivitas fisik dianggap memiliki peran dalam pencegahan atau perlambatan penurunan fungsi kognitif. Di Indonesia, aktivitas fisik pada lansia perempuan didominasi dengan pekerjaan rumah tangga.Tujuan:  Mengetahui  hubungan  aktivitas  fisik pekerjaan  rumah  tangga  terhadap  fungsi  kognitif  pada  lansia perempuan.Metode: Penelitian deskriptif analitik potong lintang terhadap lansia (>60 tahun) perempuan yang mengenyam pendidikanakhir paling tinggi tamat SMP dan tinggal di Kelurahan Kalianyar, Jakarta Barat, pada bulan Oktober-November 2014. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner sembilan aktivitas pekerjaan rumah tangga yang dilakukan lansia perempuan Indonesia dan penilaian fungsi kognitif menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE).Hasil: Pada penelitian terhadap 65 subjek dengan rerata usia 64,31 tahun berpendidikan rendah, terdapat hubungan bermakna antara jumlah aktivitas fisik yang dilakukan dengan fungsi kognitif yang lebih baik. Adapun jenis aktivitas fisik yang memiliki hubungan bermakna dengan fungsi kognitif yang lebih baik adalah memasak, berbelanja, dan mencuci piring, terutama frekuensi memasak dan berbelanja yang lebih sering memiliki hubungan secara bermakna.Diskusi: Aktivitas memasak dan berbelanja berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih baik.Kata kunci: Aktivitas fisik sehari-hari, fungsi kognitif, lansia, pekerjaan rumah tangga
PERAN PENANDA MOLEKULER PADA TERAPI GLIOMA Malueka, Rusdy Ghazali; Yudiyanta, Yudiyanta; Asmedi, Ahmad
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.40

Abstract

   ROLE OF MOLLECULAR MARKER IN GLIOMA THERAPYABSTRACTGliomas are the most common primary Central Nervouus System (CNS) tumors in adults.  Nowdays, glioma classification has been changed from morphological based to molecular based classification. Isositrat dehydrogenase (IDH) muttion gene, chromosome 1p19q codeletion, O6-methylguanine-DNA-methyltransferase (MGMT) promoter methylation, epidermal growth factor receptor (EGFR) amplification, and vascular endothelial growth factor (VEGF) expression play important role in glioma management. These markers are important to be identified to help the diagnosis, determine the prognosis, predict the success of therapy, and develop targeted therapy and chemotherapy of glioma.IDH 1 and 2 gene mutation correlate with better outcome. 1p19q chromosome codeletion also a good prognosis indicator and strong predictor of chemosensitivity. MGMT gene expression level and methylation promoter gene status has a predictive value for glioblastoma patients who are treated with alkylation treatment, such as temozlamide. EGFR gene mutation correlates with aggressiveness and poor prognosis. VEGF over-expression is also comparable with the increasing stage of tumor. Clinical trial show promising therapeutic and safety for patients treated with anti-VEGF therapy, such as bevacizumab.Keywords: Chemotherapy, glioma, molecular marker, targeted therapyABSTRAKGlioma adalah tumor primer susunan saraf pusat (SSP) yang paling umum pada orang dewasa. Klasifikasi glioma saat ini beralih dari pedoman berbasis morfologi ke kriteria molekuler. Terdapat beberapa penanda (marker) molekuler yang berperan pada glioma, yaitu mutasi gen isositrat dehidrogenase (IDH), kodelesi kromosom 1p19q, metilasi promotor O6-metilguanin-DNA-metiltransferase (MGMT), amplifikasi epidermal growth factor receptor  (EGFR), serta ekspresi vascular endothelial growth factor (VEGF). Hal ini penting untuk diidentifikasi untuk membantu diagnosis, menentukan prognosis, memprediksi keberhasilan terapi, serta untuk pengembangan terapi target dan kemoterapi.Adanya mutasi pada gen IDH 1 dan 2 berkaitan dengan prognosis yang lebih baik. Demikian pula kodelesi kromosom 1p19q merupakan indikator prognosis yang baik dan prediktor kuat kemosensitivitas. Tingkat ekspresi dan status metilasi promotor gen MGMT memiliki nilai prediktif pada pasien glioblastoma yang diobati dengan obat alkilasi, seperti temozolomid. Mutasi gen EGFR berkaitan dengan agresivitas dan prognosis yang buruk. Demikian pula over- ekspresi VEGF pada glioma sebanding dengan peningkatan derajat tumor. Uji klinik menunjukkan manfaat terapeutik serta keamanan yang sangat menjanjikan bagi pasien dengan terapi anti-VEGF, seperti bevacizumab.Kata kunci: Glioma, kemoterapi, penanda molekuler, terapi target
GANGGUAN MEMORI EPISODIK PADA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL DAN NONTEMPORAL Koestoer, Clara Krishanti; Bintoro, Aris Catur; Pudjonarko, Dwi
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.41

Abstract

  EPISODIC MEMORY DISORDER IN TEMPORAL AND NONTEMPORAL LOBE EPILEPSYABSTRACTIntroduction: Memory is the most defected cognitive function in neurological problems including epilepsy. Amnesia, refers to episodic memory impairment (EMI), which components are regulated by various areas related to brain lobes especially the temporal lobe. EMI represents a major cognitive component in temporal lobe epilepsy (TLE) but also encounter in focal epilepsy outside the temporal lobe.Aim: To prove the difference between EMI that occurs in TLE and nontemporal lobe epilepsy (NTLE) patients.Method: A cross-sectional study on epilepsy patients in Neurology Clinic of dr. Kariadi Hospital, Semarang from November 2016 until January 2017. Subjects were devided into TLE and NTLE group based on clinical semiology and electroencephalography (EEG). Interviews and questionnaires were done to the characteristics of subjects which can aggravate EMI, and memory tests was performed using Word List Memory Task, Word List Memory Recall, and Word List Memory Recognition. Statistical analysis using Chi-square test and multivariate logistic regression.Results: Subjects obtained were 43 respondents consisting of 21 TLE and 22 NTLE subjects. Significant difference of EMI occurrence was shown in TLE compared to NTLE, especially on delayed recall component. Patients with history of epilepsy >10 years tend to have a significant EMI, while patients with first seizure >10 years old do not tend to have EMI with or without other confounding factors.Discussion: There are differences in the occurrence of EMI on the TLE and NTLE independently, especially delayed recall.Keywords: Episodic memory impairment, temporal lobe epilepsyABSTRAKPendahuluan: Memori merupakan fungsi kognitif yang paling rentan terkena gangguan neurologis termasuk epilepsi. Salah satunya adalah amnesia, merujuk pada gangguan memori episodik (GME) yang komponennya diatur oleh berbagai area terkait lobus otak terutama lobus temporal. Gangguan memori episodik (GME) mewakili komponen kognitif utama pada epilepsi lobus temporal (ELT), namun juga tidak jarang ditemui pada epilepsi fokal di luar lobus temporal.Tujuan: Mengetahui perbedaan GME pada penderita epilepsi lobus temporal dengan epilepsi lobus nontemporal (ELNT).Metode: Penelitian potong lintang terhadap pasien epilepsi yang berobat ke Poli Saraf RSUP dr. Kariadi, Semarang pada bulan November 2016 hingga Januari 2017. Subjek dikelompokkan menjadi ENT dan ELNT berdasarkan gambaran semiologi klinis dan elektroensefalografi (EEG). Dilakukan wawancara dan pemakaian kuesioner terhadap karakteristik subjek yang dapat memperberat GME, serta tes memori menggunakan Word List Memory Task, Word List Memory Recall, dan Word List Memory Recognition. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square dan uji multivariat dengan regresi logistik.Hasil: Didapatkan 43 subjek yang terdiri dari 21 subjek ELT dan 22 subjek ELNT. Didapatkan subjek yang mengalami GME pada ELT lebih banyak secara bermakna dibandingkan ELNT, terutama pada komponen delayed recall. Subjek yang menderita epilepsi >10 tahun cenderung mengalami GME secara bermakna, sedangkan subjek yang mengalami serangan awal pada usia >10 tahun lebih cenderung tidak mengalami GME, baik secara independen maupun bersama-sama dengan faktor perancu yang lain.Diskusi: Terdapat perbedaan terhadap terjadinya GME pada ELT dan ELNT secara independen, terutama pada komponen delayed recall.Kata kunci: Epilepsi lobus temporal, gangguan memori episodik
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DAN FERITIN DENGAN GAMBARAN KONDUKSI SARAF PADA ANAK TALASEMIA BETA MAYOR Dewi, Windy Krisanti Kusuma; Gamayani, Uni; Lailiyya, Nushrotul; Reniarti, Lelani; Sekarwana, Nanan
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.42

Abstract

    CORRELATION BETWEEN HAEMOGLOBINE AND FERRITIN LEVEL WITH NERVE CONDUCTION STUDY IN CHILDREN WITH BETA THALASSEMIA MAJORABSTRACTIntroduction: Beta thalassemia major is inherited hemoglobin synthesis disorder found in thalassemia belt, including Indonesia. Peripheral neuropathy is one of its underdiagnosed neurological complications results in poor management of the patients.Aims: To identify correlation between hemoglobin and ferritin serum with Nerve conduction study (NCS) in Beta thalassemia major patients.Methods: This was a cross-sectional study involving children with beta thalassemia major aged 8-14 years, who regularly underwent blood transfusions in Hasan Sadikin Hospital, Bandung. Nerve conduction study of motor and sensory nerves of all limbs were conducted to the patients. Data was analyzed using Spearman’s correlation analysis.Results: Fifty subjects were included in this study with the mean hemoglobin level (SD) of 6.99 (0.87)g/dL and the mean blood ferritin level (SD) of 3.925 (1.993)μg/L. Based on NCS, most of the subjects had polyneuropathy and 46.94% had axonal demyelinating lesions in sensory and motor nerves. Among patients with neuropathy, there was a statistically significant negative correlation  between mean hemoglobin level and the numbers of the abnormal  nerves and also a statistically significant positive correlation between mean blood ferritin level and the numbers of the abnormal nerves.Discussion: The lower ferritin serum level, the less nerve involved based on NCS.Keyword: Beta thalassemia, ferritin, hemoglobin, nerve conduction study, neuropathyABSTRAKPendahuluan: Talasemia beta mayor merupakan suatu kelainan sintesis hemoglobin yang herediter yang banyak ditemukan di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Salah satu komplikasinya adalah neuropati perifer yang sering tidak terdiagnosis, sehingga penyandangnya tidak mendapatkan tata laksana yang adekuat.Tujuan: Mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dan feritin serum dengan gambaran konduksi saraf (nerve conduction study/NCS) pada penyandang talasemia beta mayor.Metode: Studi potong lintang terhadap penyandang talasemia berusia 8-14 tahun yang rutin menjalani transfusi darah di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Dilakukan pemeriksaan NCS motorik dan sensorik pada keempat ekstremitas. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil: Diperoleh 50 subjek dengan rerata kadar hemoglobin 6,99+0,87g/dL dan kadar feritin serum 3.925+1.993μg/L. Berdasarkan pemeriksaan NCS, sebagian besar subjek mengalami polineuropati yang 46,94% di antaranya berupa gambaran demielinasi aksonal sensorik motorik. Pada subjek dengan neuropati perifer didapatkan korelasi negatif yang bermakna antara kadar hemoglobin dengan jumlah keterlibatan saraf pada NCS dan korelasi positif yang bermakna antara kadar feritin serum dengan jumlah keterlibatan saraf pada NCS.Diskusi: Semakin rendah kadar feritin serum, maka semakin sedikit jumlah saraf yang terlibat pada NCS, dan sebaliknya.Kata kunci: Feritin, hemoglobin, nerve conduction study, neuropati, talasemia beta mayor
LIMB-SHAKING SEBAGAI MANIFESTASI YANG JARANG DARI TRANSIENT ISCHEMIC ATTACK AKIBAT STENOSIS BERAT ARTERI KAROTIS Tini, Kumara
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.43

Abstract

  LIMB-SHAKING AS A RARE MANIFESTATION OF TRANSIENT ISCHEMIC ATTACK ASSOCIATED WITH SEVERE CAROTID ARTERI STENOSISABSTRACTLimb-shaking is a rare manifestation of Transient Ischemic Attack (TIA), commonly occurs when a severe carotid stenosis causes a cerebral hypoperfusion. Male 53 years of age experienced repeated limb-shaking within a week of left hand and arm accompanied by a vision of light sparks. Brain Magnetic Resonance Imaging (MRI) and Magentic Resonace Angiography (MRA) showed chronic watershed infarct at right fronto-parietal lobes and 80-90% severe stenosis of right internal carotid artery with digital subtraction angiography (DSA) showed 70% stenosis at the same site. Carotid Artery and Stenting (CAS) was done a week after and symptoms disappeared subsequently. Recognizing this rare symptom of severe carotid stenosis is very important since appropriate management can minimized the risk of future stroke.Keyword: Carotid stenosis, Limb-shaking, TIAABSTRAKLimb-shaking adalah manifestasi yang jarang dari transient ischemic attack (TIA), biasanya terjadi akibat hipoperfusi serebri pada stenosis berat arteri karotis. Laki-laki 53 tahun mengalami limb-shaking berulang dalam seminggu pada lengan dan tangan kiri disertai melihat percikan sinar. Magnetic resonance imaging (MRI) dan magnetic resonance agiography (MRA) kepala menunjukkan infark di area watershed lobus fronto-parietal kanan dan stenosis 80-90% di arteri karotis interna kanan, serta digital substraction angiography (DSA) menunjukkan stenosis 70% pada lokasi yang sama. Keluhan hilang setelah pasien dilakukan tindakan revaskularisasi carotid artery and stenting (CAS) seminggu kemudian. Pengenalan gejala yang jarang dari stenosis berat arteri karotis ini sangat penting, karena dengan penanganan yang tepat dapat mengurangi terjadinya stroke.Kata kunci:  Limb-shaking, stenosis karotis, TIA 
PERBEDAAN KUALITAS HIDUP BERDASARKAN SHORT FORM-36 ANTARA PENDERITA STROKE ISKEMIK SERANGAN PERTAMA DENGAN KEDUA Hassa, Nazwan; Hartono, Jimmy Eko Budi; Pudjonarko, Dwi
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.44

Abstract

  DIFFERENCES QUALITY OF LIFE BASED ON SHORT FORM–36 BETWEEN FIRST AND SECOND ATTACK ISCHEMIC STROKE PATIENTSABSTRACTIntroduction: Stroke is the biggest cause of physical disability, emotional, and social life in adults. The recurrent stroke let to decreased the quality of life.Aims: To know whether there is a difference in quality of life based on the Short Form-36 (SF-36) between first and second attack ischemic stroke patients.Methods: Observational analytic with retrospective cross sectional study in Neurology Polyclinic Dr. Kariadi Hospital, Semarang form July-September 2016. Inclusion criteria are patients with first or second attack of ischemic stroke, level education at least elementary school, age between 50-70 years old, and last attack 4 week or less before the sampling conducted. Quality of life were scored based on SF-36 between first and second attack patients. T-test and Mann- Whitney were used to analyze the data.Results: Fifty subject (25 in each group) included with mean age 57.72 (51-65) and 60.24 (51-70) years old in first attack and second attack group respectively. Older age showed lower quality of life score. The quality of life score is lower in older, stroke onset >1 year, and lower education. There was significant quality of life score difference between first and second attack group. Quality of life patients with first attack is better significantly compared to the second attack group in functional and physical domain, energy, and total score.Discussion: There is a significant difference in quality of life based on the SF-36 between first and second attack ischemic stroke patients.Keywords: Ischemic stroke, quality of  life, SF-36ABSTRAKPendahuluan: Stroke merupakan penyebab terbesar ketidakmampuan fisik, emosi, dan kehidupan sosial pada orang dewasa. Serangan stroke berulang menyebabkan peningkatan risiko penurunan kualitas hidup.Tujuan: Mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien stroke iskemik serangan pertama dan kedua berdasarkan Short Form-36 (SF-36).Metode: Penelitian analitik observasional secara potong lintang retrospektif di Poliklinik Neurologi RSUP Dr. Kariadi, Semarang pada bulan Juli-September 2016. Kriteria inklusi adalah pasien stroke iskemik serangan pertama atau kedua, berpendidikan minimal SD atau sederajat, berusia antara 50-70 tahun, dan mengalami serangan stroke terakhir minimal 4 minggu sebelum penelitian. Dilakukan penilaian skor kualitas hidup berdasarkan SF–36 antara pasien stroke iskemik serangan pertama dengan kedua. Analisis menggunakan uji T-tes dan Mann-Whitney.Hasil: Terdapat 50 subjek yang terdiri dari masing-masing 25 subjek pada kelompok dengan stroke iskemik serangan pertama dan kelompok dengan serangan kedua dengan rerata usia 57,72 (51–65) tahun dan 60,24 (51–70) tahun. Usia yang semakin meningkat menunjukkan skor kualitas hidup semakin menurun. Skor kualitas hidup lebih rendah pada usia yang lebih tinggi, lama menderita stroke >1 tahun, dan pendidikan yang lebih rendah. Didapatkan perbedaan bermakna antara rerata skor kualitas hidup pasien stroke serangan pertama dan kedua. Kualitas hidup subjek pada serangan stroke pertama lebih baik secara bermakna dibandingkan pada kelompok serangan kedua, dalam domain fungsi dan peranan fisik, energi, serta total skor secara keseluruhan.Diskusi: Terdapat perbedaan bermakna kualitas hidup berdasarkan SF-36 antara pasien stroke iskemik serangan pertama dengan kedua.Kata kunci: SF-36, skor kualitas hidup, stroke iskemik

Page 4 of 30 | Total Record : 299