cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016" : 13 Documents clear
Berbagai Pemeriksaan Penunjang Terkini untuk Diagnosis Intoleransi Laktosa Febyan Febyan; Sri Handawati Wijaya; Sinsanta Ho; Johannes Hudyono
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1444

Abstract

 AbstrakIntoleransi laktosa adalah suatu keadaan ketidakmampuan enzim laktase menghidrolisis laktosa diusus  halus,  umumnya  diderita  oleh  anak  –  anak dan  remaja.  Intoleransi  laktosa  primer  dapat disebabkan oleh berkurang atau tidak adanya aktivitas enzim laktase dan kelainan gen LCT C>T-13910. Intoleransi laktosa sekunder umumnya terjadi akibat infeksi rotavirus. Intoleransi laktosa dapatasimtomatis atau dengan gejala klinis yang bervariasi seperti mual, sakit perut, kembung dan sering flatus. Pemeriksaan penunjang yang umum, antara lain:  tes napas hidrogen, tes toleransi laktosa (TTL) dan tes Gen LCT C>T-13910. Ketiga pemeriksaan ini saling berhubungan satu sama lain. Tes genetik adalah yang paling akurat. Kata kunci: Tes napas hidrogen, intoleransi laktosa Recent Diagnostic Procedures for Lactose Intolerance AbstractLactose intolerance is a condition of lactase enzyme inability to hydrolyze lactosein small intestine, mostly in children and teenagers. Primary lactose intolerance is LCT C>T-13910 gene disorder causing reduction or absence of lactase activity, while secondary lactose intolerance is usually caused by rotavirus infection. This condition can be asymptomatic but may cause nausea, stomachache, and flatulence. Diagnositc laboratory tests such as: hydrogen breath test, lactose tolerance test and LCT C>T-13910 gene test are correlated and complementary with their different sensitivities and specificities. Gene test is the  most accurate test. Keywords: Hydrogen breath test, lactose intolerance   
Diagnosis, Tata Laksana dan Komplikasi Abses Peritonsil Erna M Marbun
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1445

Abstract

AbstrakAbses peritonsil  adalah abses yang paling sering ditemukan di antara abses leher dalam. Sekalipuntonsilitis akut merupakan penyakit yang benigna, abses peritonsil merupakan komplikasi tonsilitis akut, yang dapat mengancam jiwa jika tidak diobati dengan adekuat dan cepat. Abses peritonsildisebut juga Quinsy, abses terjadi di antara tonsil dan kapsulnya, infeksi dapat meluas menyebabkanobstruksi saluran napas, abses dapat pecah, terjadi asfiksi pus dan nekrosis menghasilkan sepsis atau perdarahan. Pengobatan abses peritonsil masih kontroversial. Apakah tonsilektomi harus dilakukan pada saat terjadi abses atau dilakukan setelah infeksi tenang, masih belum terpecahan Kata kunci : Abses peritonsil, Quinsy, tonsilektomi AbstractAlthough acute tonsillitis usually has a relatively benign course, complication  can be life threateningif the treatment is delayed or inadequate. Peritonsillar abscess also kown Quinsy, is a localized deep neck infection that develops between the tonsil and its capsule. The infection can progress to airway obstruction, abscess rupture and asphyxia cause by aspiration of the pus  and necrosis resulting in septicaemia  or  haemorrhage.  The  treatment  may  influence  the  recurrence  rate  of  peritonsillar abscess. The surgical treatment whether abscess tonsillectomy or interval tonsillectomy that should be done in those patients are still controversial Keywords: Peritonsillar abscess, quinsy, tonsilectomy
Efek Statin dalam Menurunkan Angka Kejadian Penyakit Kardiovaskular Nicholas Wijayanto; Andrew Kencana
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1446

Abstract

AbstrakStatin adalah golongan obat penurun kadar lemak yang dikenal juga sebagai penghambat HMG-CoA reductase yang memiliki efek penurunan Low Density Lipoprotein (LDL), anti inflamasi, anti trombotik,  anti  proliferatif,  dan  anti oksidan.  Keuntungan  pemakaian  statin  dalam  menurunkan insiden terjadinya Cardio Vascular Disease (CVD) telah banyak diketahui dari berbagai penelitian. The National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III) 2004 dan American Heart Association (AHA) 2013 merekomendasikan statin sebagai terapi pada CVD, dimana didapatkan jumlah pasien yang layak untuk diberikan terapi statin meningkat pada rekomendasi AHA 2013 dibandingkan NCEP ATP III 2004. Penelitian lain juga memperlihatkan efek positif dari penggunaan statin terhadap insiden CVD pada pasien Peripheral Arterial Disease (PAD), Diabetes Melitus  (DM),  Chronic  Kidney  Disease (CKD), dan  Chronic  Obstructive  Pulmonary  Disease  (COPD). Statin terbukti bermanfaat dalam menurunkan insiden CVD pada berbagai kasus. Kata Kunci: Statin, CVD, AHA, NCEP ATP III AbstractStatins are class of lipid lowering drugs also known as HMG-CoA reductase inhibitor which have Low Density Lipoprotein (LDL)-lowering effect, anti inflammation, anti thrombotic, anti proliferative, and anti oxidant. The advantage  of using statins in lowering the incidence of Cardio Vascular Disease (CVD) has been widely known from various studies. The National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III) 2004 and American Heart Association (AHA) 2013 also recommend statin as therapy for CVD, where AHA 2013 recommendation showed that the number of eligible patients for statin therapy was increased compare to the NCEP ATP III 2004. The other studies also showed the positive effect of statin in reducing the incidence of CVD particularly in patient with underlying disease such as Peripheral Arterial Disease (PAD), Diabetes Mellitus (DM), Chronic Kidney Disease (CKD), and Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Statin has been proven to be beneficial in reducing the incidence of CVD in many cases. Keywords : Statin, CVD, AHA, NCEP ATP III
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan Terapi GERD Suzanna Ndraha; Donny Oktavius; Fransisca Fransisca; Julian Leonard Sumampouw; Ni Nyoman Juli; Ricco Marcel
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1447

Abstract

AbstrakIntroduksi: Penyakit Refluks Gastro Esofagus (PRGE) atau yang lebih dikenal dengan nama Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD), merupakan kondisi yang terjadi bila aliran balik isi lambung ke esofagus memberikan keluhan dan mengganggu kualitas hidup seseorang.Tujuan:  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  faktor-faktor  yang  berhubungan  dengan keberhasilan terapi GERD, serta menguji keefektifan dalam mendiagnosis GERD dengan menggunakan kuesioner GERD Q.Metode: Enam puluh subjek yang memiliki gejala heartburn dan atau regurgitasi didata selama periode Maret-Mei 2015, dengan menggunakan disain analitik kuantitatif observasional. Kuesioner GERD Q terdiri atas enam pertanyaan sederhana meliputi gejala refluks, dispepsia, dan konsumsi obat, skor ≥8 yang mendukung diagnosis GERD. Pasien GERD diterapi selama dua minggu dan diberikan obat sesuai dengan resep dokter dan kontrol kembali.Hasil: Berdasarkan hasil univariat, didapatkan 56,7% (34 subjek) adalah perempuan, gejala klinis heartburn atau regurgitasi saja ditemukan 63.3% (38 subjek), usia < 40 sebanyak 55% (33 subjek), nilai IMT ≥25 ditemukan 66.7% (40 subjek), pemberian terapi PPI dan prokinetik ditemukan 50% (30 subjek), gaya  hidup  sehat  sebanyak  81.7%  (49  subjek),  dan  GERD  Q  post-test yang  membaik sebanyak  66.7%  (40  orang).  Pada  hasil  bivariat  didapatkan  hubungan  yang  bermakna  antarakeberhasilan terapi dengan usia (p 0.028 ,OR 3.667), jenis kelamin (p 0.002; OR 7.667), gejala klinis (p 0.037; OR 3.222), IMT (p 0.033; OR 4.188), dan terapi (p 0.001; OR 7.429).Kesimpulan: Pasien GERD di RSUD Koja yang berusia ≥ 40 tahun, laki-laki, nilai IMT ≥ 25 kg/m2, dan  memiliki  gejala  heartburn  atau  regurgitasi  saja, setelah  diterapi  dengan  PPI dan  prokinetik memiliki keberhasilan terapi yang lebih baik. Tetapi keberhasilan terapi GERD tidak dipengaruhi gaya hidup.Kata kunci: GERD Q, heartburn, regurgitasi, terapi AbstractIntroductions: Gastro Esophageal Reflux Disease (PRGE) or better known as Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) is a condition that occurs when the backflow of gastric contents into the esophagus giving complaints and interfere with quality of life.Objective: This study aimed to analyze the factors associated with the therapeutic efficacy on GERD as well as to test the effectiveness of using questionnaire that are to diagnose, GERD Q.Methods: Sixty subjects with symptoms of heartburn and regurgitation recorded during the period from  March  until  May  2015  using  a  quantitative analytical  observational  design.  Q  GERD questionnaire  consist  of  six  simple questions  include  symptoms  of  reflux, dyspepsia  and  drug consumption, the score ≥8 that support the diagnosis of GERD. GERD patients treated for 2 weeks and was given medication as prescribed and control back.Results: Based on univariate results, 56.7% (34 subjects) were women, the clinical symptoms of heartburn or regurgitation alone found in 63.3% (38 subjects), age <40 were 55% (33 subjects), the value  of  BMI ≥25  was  found  66.7% (40  subjects),  PPI  and  prokinetic therapy  found  50% (30 subjects), a healthy lifestyle as much as 81.7% (49 subjects) and GERD Q post-test were improved as much  as  66.7%  (40 people).  In  the  bivariate  results  of  a significant  association  between  the therapeutic efficacy with age (p 0.028, OR 3667), gender (p 0.002; OR 7,667), clinical symptoms (p 0.037; OR 3.222), BMI (p 0.033; OR 4188), and therapy (p 0.001; OR 7429).Conclusion: Patients GERD in Koja Hospital ≥ 40 years old, male, BMI values ≥ 25 kg / m2, and have symptoms of heartburn or regurgitation alone, after therapy with PPI and prokinetic have a better therapeutic success. But the success of GERD therapy is not influenced by lifestyle. Keywords: Q GERD, heartburn, regurgitation, therapy 
Gambaran Angka Kejadian Kelainan Refraksi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2013 Sehubungan dengan Aktivitas Melihat Gadget Stella Stella; Susanty Dewi WInata; Wiwi Kertadjaya
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1448

Abstract

AbstrakPada era milenium ini, ketergantungan individu pada gadget semakin meningkat. Seringkali terlihat di artikel yang menunjukkan bahwa aktivitas menggunakan gadget berpengaruh pada angka kejadian kelainan refraksi. Pemakaian gadget juga sering dikaitkan dengan munculnya keluhan pada mata seperti mata lelah, kering dan berair. Hal ini yang membuat penulis mulai berpikir bahwa sumber angka kejadian kelainan refraksi dan munculnya keluhan pada mata kemungkinan disebabkan oleh aktivitas melihat gadget yang tinggi. Metode pengambilan sampel dari penelitian ini adalah convenience sampling dan menggunakan analisis univariat menggunakan program SPSS 16. Hasil penelitian dari 106 responden terdiri dari 65 orang yang mengalami kelainan refraksi dan 41 orang yang tidak mengalami kelainan refraksi. Keluhan terbanyak yang dikeluhkan adalah mata lelah dan gatal. Aktivitas responden dalam melihat gadget cukup tinggi, yakni rata- rata 4-6 jam per hari. Didapatkan pada pemakaian gadget lebih dari dua jam, angka kejadian kelainan refraksi lebih tinggi dibandingkan jumlah responden yang tidak memiliki kelainan refraksi. Kata kunci : gadget, kelainan refraksi, mata AbstractAt the time of this millennium era, the individual dependence on gadgets is increasing. We often see articles that show that the activity of using the gadget effect on incidence of refractive errors. The use of the gadget is also often associated with the emergence of eye complaints such as eye fatigue, dryness and poignant. This makes the author began to think that the source of the prevalence of refractive errors and the emergence of complaint to the eye may be caused by high activity of using gadget. Sampling method of this study is convenient sampling and using univariate analysis using SPSS 16. The results of the 106 students made up of 65 people who have refractive errors and 41 people who had not had refractive errors. Time spent in using gadget among students is categorized as  high, approximately  4-6  hours  each day. Obtained on the  use  of gadgets over  2 hours, the prevalence of refractive errors is higher than the number of students who do not have refractive errors. Keywords: gadget, refractive errors, eyes
Karakteristik Pelaku Pelanggaran Seksual Ahmad Ricardo
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1449

Abstract

AbstrakKasus kekerasan seksual di Indonesia berdasarkan data Komnas Perempuan dalam kurun waktu 12 tahun (2001-2012) ada sekitar 4.336 kasus. Di berbagai negara terdapat berbagai defenisi untuk perbuatan yang tidak menyenangkan berkaitan dengan seksualitas, antara lain: sexual offense (pelanggaran seksual), sexual assault (kekerasan seksual), sexual abuse (penyalahgunaan seksual), dan sexual harrasment (pelecehan seksual). Berdasarkan berbagai penelitian yang ada, sekitar 91% kasus dilakukan oleh satu orang pelaku (73% oleh orang yang dikenal, dan 17,6% oleh orang yang tidak dikenal). Sekitar 59% pelaku mengincar korbannya dengan cara menggoda dan menggunakan bujukan/daya tarik. Pada kasus pelanggaran seksual pada anak, sebagian besar pelaku bukan anggota keluarga  namun  dikenal  oleh  korban  (52%  pada  anak  perempuan, 66% pada  anak  laki-laki). Sedangkan orang dewasa lebih sering dilecehkan seksual oleh orang yang tidak dikenal (30% pada wanita, dan 38% pada pria). Sebagian besar (43% ) waktu kejadian pelanggaran seksual antara pukul 6 sore hingga tengah malam. Sedangkan lokasinya kebanyakan (sekitar 37%) terjadi di rumah korban. Respon pelaku dalam menilai perbuatan mereka ketika ditanyai oleh hakim atau orang lain dapat bermacam-macam, antara lain denial (menyangkal), rationalizing (menyalahkan korban, orang lain, atau lingkungan sekitar), amnesia (tidak sadar), minimizing (menyangkal kondisi buruk yang telah terjadi pada korban), making up other story (mengarang cerita lain) dan admitting (mengakui). Kata Kunci:    Pelaku pelanggaran seksual, karakteristik, korban, pelaku. AbstractBased on data from the National Commission of Women, during the 12 years spanning from 2001 to 2012 there were 4,336 reported cases of sexual violence in Indonesia. The definitions of sexual violence vary in different countries, including: sexual offense, sexual assault, sexual abuse, and sexual harassment. Based on existing studies, approximately 91% of cases are performed by one perpetrator (73% by person known by the victim and 17.6% by an unknown stranger). Approximately 59% of perpetrators target victims by way of tempting and the use of persuasion/appeal. In cases of sexual offense of children, most of the perpetrators are not family members but known by the victim (52% girls, 66% of boys). Adults are often sexually abused by strangers (30% in women and 38% men). Most (43%) of the sexual offense incidence occur between 6 pm until midnight. Furthermore, the location is commonly in the victim's home (about 37%). Justification for the perpetrator’s actions when  questioned  by the judge  or  investigator  tend  to  vary.  These  include  denial, rationalizing (blaming the victim, other people, or the environment), amnesia (committed the act unknowingly), minimizing effects (denying that something bad has happened to the victim), making up a different story (concocted a story) and admitting (acknowledge). Key words: Sexual Offender, Characteristic, victim, perpetrator 
Laporan Kasus : Kejadian Hydrocephalus Communicans pada Kasus Fraktur Basis Kranii Fossa Media dengan Meningitis dan Pneumosefalus Feda Anisah Makkiyah
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1450

Abstract

AbstrakKejadian  hydrosephalus  pada  pasien  cedera  kepala  merupakan  kasus  yang sering,  tetapi  dengan penyebab meningitis  insidensinya sangat kecil.  Kasus ini membahas pasien fraktur basis kranii dengan pneumosephalus yang kemudian berkembang menjadi meningitis   dengan komplikasi hidrosefalus. Diagnosis dan intervensi obat-obatan dan  pembedahan akan  mengurangi mortalitas dan morbiditas dari kasus semacam ini. Kata kunci : Hidrosefalus communican, meningitis, fraktur basis kranii fossa media, pneumosefalus AbstrakThe  incidence  of  hydrocephalus  in  patients  with  had  injury  is  frequent, but  with  the  cause  of meningitis the incidence is very rare. This case will discuss about the patients with bases cranii fracture  and  pneumocephalus  that develop  into  meningitis  with hydrocephalus  complications. Diagnosis drugs intervention and surgery will decrease the mortality and morbidity in this case. Keywords : Hidrosefalus communican, meningitis, fraktur basis kranii fossa media, pneumosefalus
Mengenal Berbagai Obat Herbal dan Penggunaannya Susana Elya atieka
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1451

Abstract

AbstrakManusia  sudah  menggunakan  tanaman  sebagai  obat  sejak  dimulainya peradaban,  yang  awalnya dimulai dengan sumber makanan. Seiring dengan perkembangan zaman, tanaman tersebut digunakan sebagai obat . Indonesia merupakan negara agraris yang menghasilkan aneka tanaman yang digunakan untuk pengobatan tradisional. Kita tidak boleh menutup mata akan keberadaan obat bahan alam. Beberapa tahun terakhir ini banyak peneliti yang melirik pada obat bahan alam tersebut mulai dari orang pertanian, kehutanan, kimia, biologi, kedokteran dsb. Namun kadang beberapa hal perlu diluruskan supaya masyarakat mendapat informasi yang benar. Kata kunci : obat bahan alam, tradisional.
Mini Break Intervention in Preventing Asthenopia among Drawing Workers using Standard and Widescreen Size VDT at Construction Company in Jakarta Boy Hidayat; Aria Kekalih; Tri Rahayu
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1452

Abstract

AbstractBackground,Minibreak intervention may solve asthenopia which has a main problem among workers using VDT. Asthenopia is measured with near point convergence (NPC). The purpose of this study was to determine convergence power difference that mini break produces between workers using standard VDT and widescreen VDT. Methods, Sixty six workers were divided into four groups: minibreak and no minibreak intervention in standard VDT users and widescreen VDT users. The difference of NPC before and after 4 hours of VDT exposure and 4 hours of exposure with a 15 minute minibreakwere measured in all groups using RAF ruler.  Results,  Minibreak intervention resulted in a significant difference of convergence power between workers using standard VDT (p=0.000) and widescreen VDT (p=0.000).   But the differences of convergence between standard VDT and widescreen VDT were not significant in those given minibreak (p=0.9694) and those not given (p=0.6251). Conclusion, Mini break intervention produced significant differences in convergence power between both groups but the size of the VDT had no effect. Keywords: Asthenopia, VDT, near point convergence, mini break AbstrakLatar Belakang, Mini break dapat menjadi solusi untuk kelelahan mata yang menjadi masalah utama pada pekerja dengan pekerjaan menggambar menggunakan VDT.  Kelelahan mata dapat diukur dengan mengukurnear point convergence (NPC). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan NPC yang dihasilkan oleh mini break pada pekerja yang menggunakan VDT standar dan wide screen. Metode, Enam puluh enam pekerja dibagi menjadi empat kelompok: mini break dan tanpa mini break pada pekerja VDT  standar dan wide screen. Perbedaan NPC sebelum dan sesudah pajanan VDT selama 4 jam terus-menerus tanpa mini break dan pajanan selama 4 jam dengan mini break 15 menit di tengah-tengah diukur pada semua grup menggunakan RAF ruler. Hasil, Intervensi mini break menghasilkan perbedaan bermakna pada kekuatan konvergensi antara pekerja yang menggunakan   VDT   standar   (p=0.000)   dan   VDT  widescreen   (p=0.000).   Namun   perbedaan konvergensi antara VDT standar dan widescreen tidak berbeda bermakna pada grup yang diberikan mini break (p=0.9694) dan tanpa mini break (p=0.6251). Kesimpulan, Intervensi mini break menghasilkan kekuatan konvergensi yang berbeda antara dua kelompok pekerja, namun hal tersebut tidak dipengaruhi oleh ukuran VDT. Kata kunci: Mata lelah, VDT, pekerja gambar, near point convergence, mini break 
Myasthenic Crisis Care Up to Date William Stevenson
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1453

Abstract

AbstrakMiastenia crisis merupakan komplikasi dari myasthenia gravis ditandai dengan memburuknya kelemahan otot dan dapat mengakibatkan kegagalan pernapasan yang mengancam kehidupan. Airway, Breathing and Circulation life support sangat penting dalam manajemen krisis miastenia disamping pemberian obat-obatan. Pasien dengan miasthenia crisis umumnya memerlukan perawatan di ICU. Artikel ini memberikan update mengenai tatalaksana miasthenia crisis .1 Kata kunci : krisis miasthenic, kegagalan pernafasan, life support, ICU AbstractMyasthenia crisis is a complication of myasthenia gravis is characterized by a worsening of muscle weakness and can lead to life-threatening respiratory failure. Airway, Breathing and Circulation as life support is very important in myasthenic crisis management in addition to the provision of medicines Patients  with  miasthenia  crisis  generally  require  treatment  in  the  ICU. This  article provides an update on the treatment of myasthenia crisis1 Keywords : myasthenic crisis, lifethreatening-respiratory failure, life support, ICU  

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue