cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 623 Documents
Penggunaan Asam Kresilat Topikal pada Lesi Kulit yang Aktif Berproliferasi Wiwi Kertadjaja
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i65.1663

Abstract

Cresylic acid is a common disinfectant used in hospitals. This study reported several cases where cresylic acid was used topically for the treatment of skin hyperkeratosis. Skin hyperkeratosis and plantar pedis caused by clavus were healed after application of cresylic acid for two weeks to two months. The patients did not require surgical removal of the lesion. The disease did not recur at the same location for a long period of time (one year). This may be due to antimicrobial activities of active agents in the cresylic acids such as phenol compounds or their derivates and benzalkonium chloride. However, application of cresylic acid for two weeks on a non-hyperplastic pigmentous nevus did not change the appearance of the lesion. The reported cases indicated that cresylic acid can be explored as an alternative for the treatment of skin hyperkeratosis.Keywords: Cresylic acid, active skin lesions
Terapi Ulkus Kaki Diabetes dengan NPWT (Negative Pressure Wound Therapy) Ronald Winardi Kartika
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1665

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah suatu kondisi serius seumur hidup yang merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Dokter umum sering menemukan pasien dengan diabetes melitus. Lima belas persen dari pasien dengan diabetes mellitus akan menderita ulkus kaki diabetik. Pasien dengan ulkus di kaki memiliki risiko tinggi untuk amputasi dan angka kematian semakin meningkat. Kaki diabetik berisiko tinggi dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan skrining yang sederhana dan ulkus kaki selanjutnya dapat dicegah. Mengenal pasti secara awal dari kaki diabetik berisiko tinggi dan pengobatan yang tepat pada waktunya akan menyelamatkan kaki dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penyakit arteri perifer, neuropati, deformitas, riwayat amputasi sebelumnya dan infeksi merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap perkembangan ulkus kaki diabetik. Mengenal pasti secara awal dari kaki berisiko tinggi penting untuk mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas. Pendekatan interprofesional (yaitu, dokter, perawat, dan spesialis perawatan kaki) sering diperlukan untuk mendukung kebutuhan pasien. Terapi terbaru untuk penanganan ulkus kaki diabetik adalah dengan tekanan negatif yang diaplikasikan pada ulkus kaki diabetik. Dengan alat ini cairan eksudat bisa dihisap secara aktif oleh alat tersebut sehingga sangat membantu proses penyembuhan. Di laporkan tiga serial kasus dari pemakaian tekanan negatif pada ulkus kaki diabetes dengan hasil yang baik Kata kunci: ulkus kaki diabetik, luka kronik, terapi luka tekanan negatif
Gambaran Penyakit Ginjal Kronik dan Komplikasinya di RSUD Koja Periode Juli-November 2017 Suzanna Ndraha; Jean Nadya PR; Marshell Tendean; Mardi Santoso
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1678

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya proporsi dan jenis komplikasi pasien PGK di Penyakit Dalam RSUD Koja. Penelitian ini bersifat observasional, dengan mengambil sampel secara consecutive sampling pada unit rawat jalan dan rawat inap Penyakit Dalam RSUD Koja selama Juli – November 2017. Didapatkan 261 subyek, 149 (57,09%) laki-laki dan 112 (42,91%) perempuan, dengan rentang usia antara 18–72 tahun, dengan jumlah terbanyak pada kelompok usia 45-65 tahun (62,45%),stadium PGK terbanyak adalah stadium V (62,.07%), sebanyak 74,33% memiliki komplikasi, terbanyak adalah ensefalopati uremik 94,64%, anemia 88,7% dan volume overload 88,1%. Di bagian rawat jalan dan Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Koja periode Juli–November 2017 sebanyak 74,33% dari pasien PGK memiliki komplikasi, komplikasi terbanyak adalah ensefalopati uremik (94,64%) diikuti oleh anemia 88,7% dan volume overload 88,1%. Kata Kunci : komplikasi, penyakit ginjal kronik, ensefalopati uremik
Perbedaan Jumlah Telur Cacing Usus pada Selada (Lactuta sativa) yang Segar dan yang Disimpan selama Satu Minggu di Lemari Es Nur Zahidah Nadzirah bt. Mohd Pauzi; Esther Sri Majawati
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1679

Abstract

Selada (Lactuta sativa) merupakan sayuran yang sering dikonsumsi secara mentah. Kebiasaan masyarakat gemar menyimpan bahan mentah di dalam lemari es karena tidak mau berulang kali ke pasar. Suhu bisa memengaruhi cepat atau lambatnya telur cacing menetas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi telur cacing usus pada selada dan melihat apakah ada perbedaan bermakna jumlah telur yang ditemukan pada selada segar dan selada yang disimpan selama satu minggu di dalam lemari es. Penelitian bersifat observasional dan kemudian dianalisis secara statistik. Diambil sebanyak 44 sampel selada dari penjual yang berbeda dari pasar tradisional di Tanjung Duren dan kawasan sekitarnya. Parameter yang diperiksa pada penelitian ini adalah telur cacing usus yang dapat dilihat pada pemeriksaan mikroskopik serta membandingkan hasil pemeriksaan antara selada segar dan selada yang disimpan selama satu minggu. Dari 44 bagian sampel selada segar yang diperiksa didapatkan telur cacing pada 24 sampel (55%) dan pada 44 bagian sampel selada yang disimpan satu minggu didapatkan telur cacing pada 20 sampel (45%). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara telur cacing usus yang didapatkan pada selada segar dan selada yang disimpan satu minggu di dalam lemari es. Kata kunci: selada, telur cacing usus, pemeriksaan mikroskopik, Lactuca sativa
Prevalensi Komplikasi Operasi Katarak dengan Teknik Fakoemulsifikasi di Rumah Sakit Family Medical Center Periode Januari -Desember 2016 Silvia Gunawan; Michael Indra Lesmana; Gracia J.M.T Winaktu
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1680

Abstract

Fakoemulsifikasi adalah teknik operasi katarak yang paling sering digunakan. Tujuan dari fakoemulsifikasi adalah untuk memeroleh tajam penglihatan tanpa koreksi dengan waktu sembuh yang cepat serta komplikasi bedah minimal. Akan tetapi, tindakan fakoemulsifikasi dapat menimbulkan komplikasi intraoperasi maupun pascaoperasi. Desain penelitian yang digunakan deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif, yaitu melihat rekam medik pasien periode Januari – Desember 2016. Total sampling sebanyak 165 buah mata yang dioperasi di Rumah Sakit Family Medical Center. Dari hasil penelitian didapatkan lebih banyak penderita perempuan (53,9%) daripada laki -laki (46.1%), dengan rentang usia 40-79 tahun. Komplikasi didapatkan pada 21 mata (12,7%) dan tidak mengalami komplikasi 144 buah mata (87,3%). Komplikasi intraoperasi yang terjadi, 1 buah mata pada iris adalah traumatik. Komplikasi pascaoperasi yang terjadi adalah 3 buah mata mengalami sindroma mata kering, 5 buah mata mengalami edema kornea, 8 buah mata mengalami sindroma toksik segmen anterior, 1 buah mata mengalami hipertensi okuli, dan 3 buah mata mengalami kekeruhan kapsul posterior. Dari hasil penelitian didapatkan komplikasi tertinggi yaitu sindroma toksik segmen anterior dengan angka kejadian 4,8% (8 buah mata), dan edema kornea 3,0% (5 buah mata). Sindroma toksik segmen anterior dan edema kornea merupakan komplikasi yang reversibel, membaik dalam 1-2 minggu pascaoperasi. Kata Kunci: katarak, fakoemulsifikasi, komplikasi, sindroma toksik segmen anterior, edema kornea
Gambaran Makroskopik Mata Katarak Tikus Putih yang Ditetesi Umbi Bawang Dayak (Eleutherine americana) Margaretha Meytha M; Erma Mexcorry Sumbayak; Ninik Wibawani
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1681

Abstract

Katarak adalah penyakit multifaktorial. Stres oksidatif dan usia diduga sebagai faktor utama pemicu terjadinya katarak. Adanya senyawa yang mempunyai aktifitas antioksidan diharapkan dapat mencegah terjadinya katarak. Bawang dayak (Eleutherine americana) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan naphtoquinone yang memiliki senyawa antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pemberian tetesan bawang dayak dapat memperbaiki kondisi mata tikus yang mengalami katarak. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan sampel 24 ekor tikus ( Rattus norvegicus ) umur 9 hari yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok yang masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus. Kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan diinduksi dengan natrium selenit 25µmol/kgBB secara subkutan. Kelompok perlakuan (kelompok kontrol negatif, kontrol positif, kelompok perlakuan dari hari pertama induksi, dan kelompok perlakuan dari hari kelima induksi) ditetesi satu tetes ekstrak umbi bawang dayak pada mata tikus kanan dan kiri secara berturut -turut selama 16 hari. Setelah hari ke 23, mata diamati secara makroskopis pada semua kelompok. Uji one way anova p < 0,01. Gambaran makroskopik kelompok kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif dan terjadinya katarak dengan perlakuan tetesan ekstrak umbi bawang dayak satu hari setelahnya tidak berbeda bermakna, namun berbeda bermakna dengan kelompok katarak dengan perlakuan tetesan ekstrak umbi bawang dayak setelah 5 hari. Sari umbi bawang dayak berpengaruh dalam mencegah katarak pada konsentrasi 0,5 g/ml. Kata kunci : bawang dayak, natrium selenit, katarak, Eleutherine americana
Gambaran Faktor-Faktor yang Terkait dengan Kejadian Carpal Tunnel Syndrome pada Ibu Rumah Tangga di Desa Guji Baru Mariska Nada Debora; Suparto Suparto; Irvan Tanpomas
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1682

Abstract

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah sindrom akibat penekanan nervus medianus di dalam terowongan karpal di pergelangan tangan. Komplikasi jangka panjang dari CTS meliputi penurunan fungsi tangan, kerusakan saraf dan otot, rasa sakit, cacat, kelemahan dan hilangnya sensibilitas yang persisten di daerah distribusi nervus medianus. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian CTS pada ibu rumah tangga yang mencuci pakaian menggunakan tangan di desa Guji Baru. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini ada 100 orang. Sebanyak 33 orang (33%) menderita CTS. Kelompok usia dengan persentase tertinggi yang mengalami CTS adalah usia 40 –45 tahun yaitu 10 orang (30%). Lama kerja dengan persentase penderita CTS tertinggi ½ jam – 1 jam yaitu sebanyak 29 orang (88%). Obesitas ditemukan pada 20 orang (60%). Diabetes ditemukan pada 3 orang (9%). CTS dikeluhkan pada saat hamil oleh 7 orang (21%). Semua responden mencuci pakaian dengan posisi janggal (100%). Dari 100 orang, 33 orang menderita CTS. Kata kunci: sindrom terowongan karpal, ibu rumah tangga, mencuci pakaian, posisi pergelangan tangan
Modifikasi Alat Pelindung Kaki dalam Mencegah Timbulnya Ulkus Kaki pada Penderita Diabetes Melitus Hartanto Hartanto
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1683

Abstract

Kaki tersusun atas tulang, otot, sendi, ligamentum, sistem limfe dan sistem neurovaskular yang sangat penting dalam mendukung aktivitas dalam kehidupan manusia. Kaki terdapat di distal tubuh dan memiliki struktur rangka khusus, sehingga pada saat menjalankan fungsinya akan terpapar terhadap lingkungan. Hal ini menyebabkan kaki rentan mengalami trauma, baik dari lingkungan maupun dari dalam tubuh. Ulkus plantar merupakan salah satu komplikasi kronis pada kaki penderita diabetes melitus yang tidak ditangani dengan baik. Terapi medikamentosa masih merupakan pilihan utama pada ulkus plantar, namun tindakan pencegahan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pemulihan dan pencegahan kejadian ulkus plantar. Pemanfaatan alat pelindung kaki merupakan salah satu bagian dari tindakan pencegahan yang penting. Kaki penderita diabetes melitus mengalami perubahan struktur makro maupun mikro sehingga tidak dapat menggunakan alat pelindung kaki biasa seperti yang digunakan oleh orang sehat. Oleh karena itu, perlu dilakukan modifikasi pada bagian-bagian alat pelindung kaki yang sesuai dengan kebutuhan penderita. Penggunaan modifikasi alat pelindung kaki merupakan salah satu tindak pencegahan yang telah terbukti dapat mengurangi tekanan plantar pada area spesifik di kaki, sehingga kejadian luka baru atau perburukan luka dapat dicegah. Kata kunci : ulkus plantar, modifikasi alat pelindung kaki, tekanan plantar
Tatalaksana Terkini Demam pada Anak Carlson Carlson; Bella Kurnia; Ariani Dewi Widodo
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1684

Abstract

Demam merupakan sebuah proses alamiah yang timbul sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen, namun terkadang suhu yang terlalu tinggi seringkali menjadi suatu dilema sendiri yang menimbulkan kekhawatiran pada orangtua. Demam terjadi karena peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi oleh Interleukin-1 (IL-1). Terdapat berbagai variasi kisaran suhu normal pada anak menurut tempat pengukurannya. Tatalaksana demam yang terutama yaitu pemberian antipiretik seperti parasetamol atau ibuprofen. Beberapa studi menemukan bahwa penggunaan metode kombinasi antipiretik memberikan efek antipiretik yang lebih tinggi, namun hal ini belum dapat direkomendasikan karena belum ada studi mengenai keamanannya. Metode kompres hangat juga dapat diberikan sebagai terapi tambahan untuk membantu menurunkan demam pada anak. Penggunaan antipiretik sesuai dosis yang direkomendasikan ditambah dengan kompres hangat sudah terbukti lebih efektif untuk menurunkan demam pada anak terutama di 30 menit pertama. Kata Kunci : Demam, Interleukin-1, Kompres, Tepid Sponging
Aspek Patologi dan Diagnosis Polip Kolorektal Shintia Christina
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1685

Abstract

Polip kolorektal merupakan benjolan yang sering ditemukan di saluran cerna, dibandingkan polip lain di saluran pencernaan. Polip kolorektal ada yang bersifat neoplastik, ada juga yang bukan. Polip yang neoplastik dapat berprogresi menjadi maligna. Klasifikasi polip kolorektal menurut WHO adalah adenoma, serrated dan hamartoma. Semua tipe tersebut mempunyai prognosis dan tata laksana yang berbeda. Endoskopi sering dilakukan pada pasien dengan polip kolorektal, tetapi apa yang ditemukan dari endoskopi tidak bisa membedakan tipe dari polip tersebut, sehingga diperlukan pemeriksaan patologi anatomi untuk kepastian tipe polip. Kata kunci : polip kolorektal, patologi, anatomi.

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 2 (2026): Maret Vol 32 No 1 (2026): Januari Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue