cover
Contact Name
Noor Hasanah
Contact Email
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Phone
+6282350565148
Journal Mail Official
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Editorial Address
Jalan Jenderal Ahmad Yani KM. 4,5 Kel. Kebun Bunga Kec. Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin 70235
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Tashwir: Jurnal Penelitian Agama dan Budaya
ISSN : 23389702     EISSN : 30321166     DOI : https://doi.org/10.18592/jt
The focus of this journal is on important and actual issues regarding Islam, social and culture, such as; Religious Values, and Local Wisdom Issues, Islam Integration, History of Islam and Turats. o Contemporary Islamic Religious Social Phenomena o Islamic Spirituality o Religious Values o Local Wisdom Issues o Islam Integration o History of Islam dan Turats.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 113 Documents
MEREBUT RUANG IBADAH: STUDI KASUS KONFLIK PENUTUPAN PAKSA PONDOK PESANTREN WARIA AL-FATAH YOGYAKARTA Masthuriyah Sa'dan
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7491

Abstract

Abstract: The concept of transgender Islamic boarding schools is different from the general concept of Islamic boarding schools. in Yogyakarta, there is a transgender Muslim community that gathers in one forum, namely the Al-Fattah Yogyakarta transgender Islamic boarding school. Every weekend, the transgender Muslim community gathers and holds religious activities. Due to the unique existence of transgender Islamic boarding schools, these pesantren often have regional, national and international guests for various purposes. Starting from surveys, research, collaborative program activities, sharing experiences to transgender empowerment. Transgender Islamic boarding schools also have complexities that are a source of conflict. Conflict is something natural (natural) and is a very typical phenomenon in the type of human relations at every level, from the interpersonal to the global level. The cause of the emergence of conflict is that there are threatened interests and values so that conflicting needs are not fulfilled. It is at this level of conflict that a solution is needed, scientists offer a way of conflict resolution as a peaceful way that satisfies the two warring parties to end the conflict.Keywords: Religious Activities; Human Relations; Transgender Islamic Boarding Schools. Abstrak: Konsep pondok pesantren waria berbeda dengan konsep pondok pesantren pada umumnya. di Yogyakarta, terdapat komunitas muslim waria yang berkumpul dalam satu wadah yaitu pondok pesantren waria Al-Fattah Yogyakarta. Setiap akhir pekan, komunitas muslim waria berkumpul dan mengadakan kegiatan keagamaan. Karena eksistensi pondok pesantren waria yang unik, pesantren ini seringkali kehadiran tamu baik regional, nasional hingga internasional untuk beragam tujuan. Mulai untuk survei, penelitian, kerjasama kegiatan program, sharing pengalaman hingga pemberdayaan waria. Pondok pesantren waria juga memiliki kompleksitas yang menjadi sumber konflik. Konflik merupakan sesuatu yang alami (natural) dan merupakan fenomena yang sangat tipikal dalam jenis hubungan antar manusia pada setiap tingkatan, dari tingkat inter-personal sampai global. Penyebab dari munculnya konflik adalah adanya kepentingan dan nilai-nilai yang terancam sehingga kebutuhan yang berkonflik tidak terpenuhi. Pada tataran konflik inilah jalan penyelesain dibutuhkan, ilmuwan menawarkan jalan resolusi konflik sebagai suatu cara damai yang memuaskan kedua pihak yang bertikai untuk mengakhiri konflik.Kata Kunci: Aktivitas Keagamaan; Hubungan Manusia; Pesantren Waria.
URGENSI PEMBATASAN UMUR PERKAWINAN DALAM UNDANG-UNDANG NO 16 TAHUN 2019 TENTANG PERKAWINAN (PERSPEKTIF SADD ADZ-DZARÎ’AH) Nor Fadillah
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7492

Abstract

Abstract: The marriage constitution in the article 7 No 16 of 2019, “A marriage is only permitted if a man and a woman have reached the age of 19”. The age restriction in marriage is not clearly stated and determined in either Al-Qur’an or Hadis as it is stated in the constitution. So based on this issue, this research tries to examine the correlation of theory Sadd Adz-Dzari’ah on the article 16 of 2019 Marriage Age Restriction. This type of research is a normative legal research based on constitution and analytical approaches, then analyze it qualitatively. Based on the result of this research could be concluded that, the age restriction is not found technically written in the Al-Qur’an and Hadis, however it is said in the Al-Qur’an and Hadis to carry out the marriage when someone reaches the puberty and adequate enough to do so. The marriage which carried out by ignoring the age restriction will bring out some damage toward psychology, social, reproduction health, some risk at giving birth and divorce. The quality of those damages might be included as dzari’ah criteria which most likely (ghalabah dzhon) issue some harms and must be avoided is to restrict the age, age restriction is an important thing in the household life, because it’s one of the supporting factor to achieve the marriage purpose in which to build the sakinah mawaddah warahmah family.Keywords: The Correlation of Age Restriction; Marriage. Abstrak: Undang-Undang Perkawinan pada pasal 7 No 16 Tahun 2019, “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun”. Pembatasan umur dalam perkawinan ini tidak disebutkan dan ditentukan secara jelas dalam nash, maka dari sinilah penelitian ini berangkat, yakni berusaha untuk mengkaji korelasi teori Sadd Adz-Dzari’ah  terhadap Undang-Undang  No 16 Tahun 2019 tentang pembatasan umur perkawinan, Jenis penelitian ini adalah hukumnormatif dengan pendekatan Undang-Undang dan analitis dan menganalisisnya secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu pembatasan umur dalam perkawinan memang tidak ditemukan secara tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi dalam Al-Qur’an dan hadis menyebutkan anjuran pernikahan untuk orang yang sudah baligh serta mampuuntuk menikah. Perkawinan yang dilaksanakan dengan mengabaikan pembatasan umur akan melahirkan dampak negatif yaitu dari segi psikologis, sosial, kesehatan reproduksi, resiko ketika melahirkan, dan perceraian. Kualitasdampak negatif tersebut termasuk kriteria  dzari’ah yang kemungkinan besar (ghalabah dzon) akan terjadi dan harusdicegah dengan cara memberikan pembatasan umur, pembatasan umur merupakan hal yang penting karena ia menjadi salah satu faktor yang mendukung tercapainya tujuan dari perkawinan yaitu membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah.Kata Kunci: Korelasi Pembatasan Umur; Perkawinan.
ANALISIS KONTRASTIF BAHASA: URGENSI MEMAHAMI BUDAYA DALAM KAJIAN BAHASA ARAB Mursyidatul Awaliyah
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7493

Abstract

Abstract: There is one expression that states that language indicates one's identity, there is also language indicating nation. Language and culture have a coordinative relationship characterized by the quality of the reciprocal relationship between the two, and a subordinate that reflects one quality of the relationship that is only one-sided, meaning that it is the culture that influences the language, and not the other way around. Because of the close relationship between language and culture, there are some experts who equate the relationship between the two inseparable things like two sides of a coin. When learning a foreign language, we also indirectly learn the culture of the language we are learning. Because language reflects the culture of a person. Similarly, when studying Arabic, we also learn the cultural form of native Arabic speakers. Contrastive analysis is very useful in the interests of the development of the language itself, as well as useful for understanding the cultures of other countries through linguistic differences. Contrastive analysis also contributes to the translation to be more accurate in expressing intent in the source language text.Keywords: Arabic; Contrastive Analysis; Culture; Indonesian Language. Abstrak: Ada satu ungkapan yang menyatakan bahwa bahasa menunjukkan identitas seseorang, ada juga bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan koordinatif yang dicirikan dengan kualitas hubungan timbal balik antara keduanya, dan subordinatif yang mencerminkan satu kualitas hubungan yang hanya sepihak, artinya budayalah yang mempengaruhi bahasa, dan bukan sebaliknya.  Karena eratnya hubungan bahasa dan kebudayaan, ada sebagian pakar yang menyamakan hubungan keduanya dua hal yang tidak dapat dipisahkan seperti dua sisi mata uang. Ketika mempelajari bahasa asing maka secara tidak langsung kita juga mempelajari budaya dari bahasa yang kita pelajari. Karena bahasa mencerminkan budaya sesorang. Demikian pula ketika mempelajari bahasa Arab kita juga belajar bgaimana budaya dari penutur asli bahasa Arab. Analisis kontrastif sangat berguna untuk kepentingan pengembangan bahasa itu sendiri, serta berguna untuk memahami budaya negara lain melalui perbedaan linguistik. Analisis kontrastif juga berkontribusi pada terjemahan agar lebih akurat dalam mengekspresikan maksud dalam teks bahasa sumber.Kata Kunci: Analisis Kontrastif; Budaya; Bahasa Arab; Bahasa Indonesia.
NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DALAM AJARAN TASAWUF Mushofa Mushofa
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7501

Abstract

Abstract: This paper explains that Sufism is a positive human therapy in dealing with various problems encountered in all aspects of life. Then Sufism is also a way of how humans can be close to their Lord. When the heart is close to God, then by itself, humans will always be close to goodness, good deeds, good attitudes, and behavior. At this point humans can avoid all ugliness, immoral acts, and bad behavior such as corruption. Departing from this, it is important to describe "Anti-Corruption Values in Sufism". After conducting a study and analysis, it is concluded that corruption is a crime that must be avoided by all elements of society, because its impact is very detrimental to the interests of many people. The inculcation of anti-corruption values must be carried out to fortify and shape the character of the community. Sufism is present as an alternative and a spirit that can be offered in suppressing the number of corruptions. Through the teachings of honesty, zuhudan, qana'ah, tawakal, wara' and gratitude, the community will become Muslim individuals, pious believers.Keywords: Sufism; Corruption; Human Therapy. Abstrak: Tulisan ini menjelaskan bahwa tasawuf menjadi terapi positif manusia dalam menghadapi berbagai persoalan yang ditemui dalam semua aspek kehidupannya. Kemudian tasawuf juga sebagai jalan bagaimana manusia dapat dekat dengan Tuhannya. Ketika hati sudah dekat dengan Tuhan, maka dengan sendirinya, manusia akan selalu dekat dengan kebaikan, amal shaleh, sikap dan prilaku yang baik. Pada titik inilah manusia bisa menghindarkan diri dari segala kejelekan, perbuatan maksiat serta perilaku yang buruk seperti korupsi. Berangkat dari sinilah kiranya penting untuk diuraikan tentang “Nilai-Nilai Anti Korupsi Dalam Ajaran Tasawuf”. Setelah dilakukan kajian pustaka dan analisis kualitatif, maka disimpulkan bahwa korupsi adalah sebuah tindak kejahatan yang harus dihindari oleh semua elemen masyarakat, karena dampaknya sangat merugikan hajat orang banyak. Penanaman nilai-nilai anti korupsi wajib dilaksanakan untuk membentengi dan membentuk karakter masyarakat. Tasawuf hadir menjadi sebuah alternatif dan spirit yang  bisa ditawarkan dalam menekan angka korupsi. Melalui ajaran kejujuran, kezuhudan, qana’ah, tawakal, wara’ dan syukur  masyarakat akan menjadi individu-individu yang muslim, mukmin yang solih.Kata Kunci: Tasawuf; Korupsi; Terapi Manusia.
UNIVERSALITAS ISLAM: MELURUSKAN PANDANGAN BIFURKASI ANTAR ILMU Noor Hasanah; Mardhiya Agustina
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7511

Abstract

ABSTRACTThe classification of knowledge is not intended as a bifurcation between general science and religious science. Bifurcation can lead to the misconception that non-religious science is separate from Islam. Whereas in the Islamic intellectual tradition, harmonious unity between science is always maintained. Science is a single entity because the source of all knowledge is the One (al-ahad). The meaning is the concept of science in Islam boils down to the concept of monotheism. Science must be able to bring people closer to the Creator, acknowledge His greatness, encourage people to do good deeds, transform people to be authoritative and respected and be able to offer solutions to crises. So, studying a science does not mean leaving a study of other sciences. This is what is meant by the holistic integration of science. This research is a qualitative research with library method. The focus of this research is to reread the basic principles of science, trace their roots and prove their integration.  Keywords: Universality of Islam, Bifurcation, SciencesABSTRAKKlasifikasi ilmu pengetahuan bukan dimaksudkan sebagai bifurkasi antara ilmu umum dan ilmu agama. Bifurkasi dapat memunculkan kesalahan konsepsi bahwa ilmu non agama adalah terpisah dari Islam. Padahal dalam tradisi intelektual Islam, kesatuan yang harmonis antar ilmu senantiasa dijaga. Ilmu adalah kesatuan tunggal karena sumber dari segala ilmu adalah Yang Esa (al-ahad). Maknanya, konsep ilmu dalam Islam bermuara pada konsep tauhid. Ilmu harus dapat mendekatkan manusia kepada Sang Khalik, mengakui keagungan-Nya, mendorong manusia untuk melakukan amal shaleh, mentransformasikan umat menjadi berwibawa dan disegani serta mampu menawarkan solusi terhadap krisis. Sehingga, mempelajari suatu ilmu tidak berarti meninggalkan kajian atas ilmu yang lainnya. Inilah yang dimaksud dengan integrasi ilmu secara holistik. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode pustaka riset. Fokus penelitian ini adalah untuk membaca ulang prinsip dasar ilmu pengetahuan, melacak akar dan membuktikan keterpaduannya.  Kata Kunci: Universalitas Islam, Bifurkasi, Ilmu
AKULTURASI BUDAYA LOKAL DAN ISLAM PADA TRADISI MAPANRERITASI DI PANTAI PAGATAN KALIMANTAN SELATAN Huriyah Huriyah
TASHWIR Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v11i1.9338

Abstract

Abstract: Cultural acculturation is a merger between cultures, so as to produce a new culture without losing the original culture. Culture is formed from traditions carried out by the community. The acculturation of local culture with Islam in the implementation of mapanreritasi has experienced cultural integration with adjustments to Islamic law in the process of its implementation and meaning. A qualitative method with the type of ethnographic design used in this study. The validity of the data uses emic data because it explains phenomena that occur in a community from the point of view of the local community through interview methods related to the implementation of mapanreritasi local culture. To analyze the results of the data findings used using triangulation techniques. This method is used to test the validity of the data obtained from the mapanreritasi local culture. The culture of the mapanreritasi tradition is an expression of gratitude for the people of Tanah Bumbu Regency with those who work as fishermen from the Bugis tribe for the seafood given by Allah SWT, and expect abundant results the following year, and ask for safety to avoid danger when fishermen are in the middle of the sea.Keywords: Cultural Acculturation, Islam, Mapanreritasi Traditions Abstrak: Akulturasi budaya merupakan suatu penggabungan antar budaya, sehingga menghasilkan budaya baru tanpa menghilangkan budaya aslinya. Kebudayaan terbentuk dari tradisi yang dilakukan oleh masyarakat. Akulturasi budaya lokal dengan Islam pada pelaksanaan mapanreritasi telah mengalami integrasi budaya dengan penyesuaian pada syariat Islam pada proses pelaksanaan dan pemaknaanya. Metode kualitatif dengan jenisnya rancangan etnografis yang digunakan dalam penelitian ini. Keberlakuan data menggunakan data emik karena menjelaskan fenomena yang terjadi pada suatu masyarakat dari cara pandang masyarakat daerah tersebut melalui metode wawancara terkait pelaksanaan budaya lokal mapanreritasi. Untuk menganalisis hasil data temuan digunakan menggunakan teknik triangulasi. Cara ini dilakukan dalam menguji kevaliditasan data yang diperoleh dari budaya lokal mapanreritasi. Kebudayaan tradisi mapanreritasi sebagai ungkapan kesyukuran masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu dengan yang berprofesi sebagai nelayan dari Suku Bugis atas hasil laut yang diberikan Allah SWT, dan mengharapkan hasil melimpah pada tahun berikutnya, serta memohon keselamatan agar terhindar dari bahaya saat nelayan di tengah laut.Kata Kunci: Akulturasi Budaya, Islam, Tradisi Mapanreritasi 
DAMPAK ANONYMOUS CHAT TELEGRAM TERHADAP PENYEBARAN MEDIA CYBERSEX DI KALANGAN MAHASISWA UIN ANTASARI Ahmad Mahdiani; Saamil Thalib
TASHWIR Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v11i1.9423

Abstract

 Abstract: Cybersex has become a growing sexual phenomenon. People from various backgrounds, including students with internet access, are able to engage in cybersex. Cybersex involves typing or observing sexual behaviors through applications or features such as Anonymous Chat. This research aims to describe and understand individuals' experiences in using Anonymous Chat Telegram as a medium for cybersex among students at UIN Antasari. This research adopts a qualitative method and a phenomenological approach, assisted by a Google Form distributed to several student whatsapp groups at UIN Antasari with 21 respondents. From the research findings, several impacts of the anonymous chat feature on the spread of cybersex among UIN Antasari students were identified, including psychological, religious, social, and cultural impacts. To address these issues, a proactive approach is needed from educational institutions, families, and society to promote a better understanding of ethics and values in sexual relationships. This will help prevent UIN Antasari students, and society in general, from being trapped in harmful cybersex behaviors.Keywords: Cybersex, Anonymous Chat, student. Abstrak:  Cybersex telah menjadi fenomena seksual yang semakin berkembang. Orang dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa yang memiliki akses internet, memungkinkan mereka untuk terlibat dalam cybersex. Cybersex melibatkan mengetik atau mengamati perilaku seksual melalui aplikasi atau fitur seperti Anonymous Chat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami pengalaman individu dalam menggunakan Anonymous Chat Telegram sebagai media cybersex di kalangan mahasiswa UIN Antasari. Penelitian ini menggunakan metode kulitatif dan pendekatan fenomenologi, penelitian ini dibantu oleh google form yang disebarkan kebeberapa grup whatsapp mahasiswa UIN Antasari dengan 21 respomden. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa dampak dari fitur anonymous chat terhadap penyebaran cybersex dikalangan mahasiswa UIN Antsari, seperti damapak psikologis, agama, sosial dan budaya. Dari permasalah tersebut perlu dilakukan pendekatan yang lebih proaktif dari lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat untuk mempromosikan pemahaman yang baik tentang etika dan nilai-nilai dalam hubungan seksual. Hal ini akan membantu mencegah mahasiswa UIN Antasari pada khususnya dan masyarakat pada umumnya agar tidak terjebak dalam perilaku Cybersex yang merugikan.Kata kunci: Cybersex, Anonymous Chat, mahasiswa.
PERMAINAN TRADISIONAL BALOGO PADA MASYARAKAT KALIMANTAN SELATAN DALAM KARYA SASTRA Sri Normuliati; Nida Urahmah
TASHWIR Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v11i1.9476

Abstract

Abstract: This study aims to describe the traditional game of the people of South Kalimantan called balogo in literary works. This study uses qualitative research with descriptive methods. The data collected are in the form of words, phrases, sentences, dialogues of the characters and paragraphs related to the depiction of the traditional balogo game. After the data is collected, the data will be analyzed using descriptive methods. In the analysis process, the research data obtained will be described in detail. After the data analysis process, the last activity is to provide conclusions on research results. From the research that has been done, obtained research results about: (1) The shape of the logo in the form of an animal or other shapes such as the shape of a kite, (2) The interaction of the characters in playing balogo related to the process of playing the logo, (3) Messages from balogo game to be careful when hitting the logo so that the logo that is hit does not enter other people's pages, and (4) The existence of the balogo game for children divides the story into two groups, namely the East Antasan children's group who plays the logo and the children's group Western Antasan who is not interested in playing logoKeywords: Traditional Games; Balogo; Literary Works. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan permainan tradisional masyarakat Kalimantan Selatan yang bernama balogo dalam karya sastra. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata, frasa, kalimat, dialog para tokoh dan paragraf yang berhubungan dengan penggambaran permainan tradisional balogo. Setelah data terkumpul, data akan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Pada proses analisis, data penelitian yang didapatkan akan dideskripsikan secara detail. Setelah proses analisis data, kegiatan terakhir adalah memberikan kesimpulan terhadap hasil penelitian. Dari Penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil penelitian tentang: (1) Bentuk logo yang berbentuk binatang atau bentuk-bentuk lainnya seperti bentuk layang-layang, (2) Interaksi para tokoh dalam bermain balogo yang berkaitan dengan proses bermain logo, (3) Pesan dari permainan balogo agar berhati-hati dalam memukul logo agar logo yang dipukul tidak masuk halaman orang lain, dan (4) Eksistensi permainan balogo bagi anak-anak bagi dalam cerita yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok anak Antasan Timur yang memainkan logo dan kelompok anak Antasan Barat yang tidak tertarik bermain logo.Kata Kunci: Permainan Tradisional; Balogo; Karya Sastra.
FRIKSI PEMIKIRAN GERAKAN KESETARAAN GENDER (FEMINISME): PRO DAN KONTRA Riskina Salsabila
TASHWIR Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v11i1.9718

Abstract

Abstract: Feminism is a thought movement that was born and developed in the West. Over time, feminism developed simultaneously in various parts of the world and began to be adopted in various countries. This movement demands gender equality, equal rights and justice for women. The development of the idea of feminism gave rise to various responses among the public. Many of them are pro with the idea of feminism, but not a few of them are against this idea. This study aims to find out the background of the differences in views between the two opinions (pros and cons), and to analyze why there is a clash in viewing the feminist movement between the two opinions. This research method uses library research, using a comparative or comparative approach. Based on the results of the research, it can be concluded that the differences of opinion between the two opinions (pros and cons) towards the feminist movement are based on historical backgrounds and different thoughts. Pro-feminists think that the gender equality movement needs to be carried out, this is motivated by the dark history of the patriarchal system in the West so they want justice. Therefore, the logic of their thinking also wants equality. Meanwhile, the counter-feminists, who in general come from Conservative Muslims, think that from the point of view of Islamic history, Islamic law really protects and safeguards women's rights. Moreover, the narrative conveyed by the feminist movement is contrary to the teachings of Islam, because it allows women to act freely and even secularly. Conservative Muslims think not only using logic, but standards of action related to right and wrong referring to religious teachings.Keywords: Feminism, Friction, Pros, Cons.Abstrak: Feminisme merupakan sebuah gerakan pemikiran yang lahir dan berkembang di Barat. Seiring berjalannya waktu feminisme berkembang secara bersamaan diberbagai penjuru dunia dan mulai diadopsi diberbagai negara. Gerakan ini menuntut kesetaraan gender, persamaan hak dan keadilan bagi perempuan. Bekembangnya ide feminisme melahirkan berbagai respon dikalangan masyarakat. Banyak diantara mereka yang pro dengan ide feminisme, namun tidak sedikit diantara mereka yang kontra dengan ide ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang perbedaan pandangan antara dua opini (pro dan kontra), serta untuk menganalisa mengapa terjadi benturan dalam melihat gerakan feminisme diantara kedua opini tersebut. Metode penelitian ini menggunakan penelitian library research, dengan menggunakan pendekatan komparatif atau perbandingan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwasannya perbedaan pendapat antara kedua opini (pro dan kontra) terhadap gerakan feminisme didasari oleh latar belakang sejarah dan pemikiran yang berbeda. Kalangan pro feminis menganggap bahwa gerakan kesetaraan gender perlu dilakukan, hal ini dilatarbelakangi oleh sejarah kelam sistem patriarki di Barat sehingga mereka menginginkan keadilan. Oleh karena itu, logika pemikiran mereka pun menginginkan kesetaraan. Sedangkan kalangan kontra feminis yang secara garis besar berasal dari kalangan Islam Konservatif menganggap bahwasannya dalam kacamata sejarah Islam, syariat Islam sangat melindungi dan menjaga hak-hak perempuan. Terlebih narasi yang disampaikan oleh gerakan feminisme bertolak belakang dengan ajaran agama Islam, karena membiarkan perempuan berlaku bebas bahkan sekuler. Kalangan Islam konservatif berfikir tidak hanya memakai logika, namun standar perbuatan yang berkaitan dengan benar dan salah mengacu pada ajaran agama.Kata kunci: Feminisme, Friksi, Pro, Kontra
AL-WASATHIYYAH UNTUK GEN-Z: PERSPEKTIF HABIB HUSEIN JA'FAR AL-HADAR Annisa Annisa
TASHWIR Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v11i1.9739

Abstract

Abstract: The concept of al-wasathiyyah has now become the direction or school of Islamic thought for the benefit of the Islamic world at this time. This shows that Muslims should take the middle way, not to be extreme and not to be fanatic in religion. This research uses qualitative methods with library research. Data was collected using exploratory methods, interpretation, and analysis. After the data is collected, it is then analyzed using a descriptive content analysis technique. The results of the research found are Habib Husein Ja'far al Hadar's thoughts in conveying wasathiyyah is very necessary considering the many threats of radicalism, racism and fanaticism, especially the Z-gen which is easily provoked. In the social, cultural and religious context, it is important for Gen-Z to understand and respect existing diversity, uphold the values of moderation in religion, and work together in creating a harmonious and tolerant environment. From Habib Ja'far's delivery, it was very easy for various groups to accept. The media that he often uses in preaching is social media.Keywords: Al-Wasathiyyah, Habib Ja’far, Gen-Z. Abstrak: Konsep al-wasathiyyah saat ini telah menjadi arah atau aliran pemikiran Islam untuk kepentingan dunia Islam pada saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa hendaknya umat Islam mengambil jalan tengah, tidak ekstrim dan tidak juga selayaknya bersikap fanatik dalam beragama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka (library research). Data dikumpulkan menggunakan metode eksploratif, interpretasi, dan analisis. Setelah data terkumpul, lalu dilakukan analisis menggunakan teknik descriptive analysist content (analisis deskriptif konten). Hasil penelitian yang ditemukan adalah pemikiran Habib Husein Ja’far al Hadar dalam menyampaikan tentang wasathiyyah sangat diperlukan mengingat banyaknya ancaman radikalisme, rasisme dan fanatisme terkhusus gen-Z yang mudah terprovokasi. Dalam konteks sosial, budaya, dan agama, penting bagi gen-Z untuk memahami dan menghormati keragaman yang ada, menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi dalam beragama, dan bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang harmonis dan toleran. Dari penyampaian Habib Ja’far sangat mudah di terima berbagai kalangan. Adapun media yang sering ia gunakan dalam berdakwah adalah media sosial.Kata Kunci: Al-Wasathiyyah, Habib Ja’far, Gen-Z.

Page 5 of 12 | Total Record : 113