cover
Contact Name
Ichsan Setiawan
Contact Email
ichsansetiawan@usk.ac.id
Phone
+6285220189228
Journal Mail Official
depik@usk.ac.id
Editorial Address
Faculty of Marine and Fisheries Universitas Syiah Kuala Jalan Meureubo No. 1, Kopelma Darussalam Banda Aceh, 23111, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan
ISSN : 20897790     EISSN : 25026194     DOI : 10.13170/depik
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan is a peer review international journal, this journal is publishing high-quality articles in aquatic sciences and fisheries in general. The aim of the journal is to publish and disseminate the current or new findings of the research, and give a significant contribution to the development of fisheries and aquatic sciences in several topics, but not limited to: Fisheries (Aquaculture, Capture Fisheries, Fish Processing) Aquatic Ecology (Freshwater, Marine, and Brackishwater) Aquatic Biology (Fish, Mollusk, Crustacean, Plankton, Coral reefs) Oceanography.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2014): August 2014" : 10 Documents clear
Konsentrasi merkuri dan hubungannya dengan indeks kepadatan keong popaco (Telescopium telescopium) di Kao Teluk, Halmahera Utara Ardan Samman; Djamar T.F. Lumban Batu; Isdradjad Setyobudiandi
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1471

Abstract

Abstract. The objective of thepresent study was to evaluate the mercury concentration at Kao Bay, North Halmahera and its relationship to density index of snail T. telescopium. Samplings were conducted at three locations in estuarine Balaitin, Cibok, and Kobok Rivers The samples were processed and analyzed for Standard procedure of Atomic Absorption Spectrophotometry(AAS). The results showed that the mercury concentration in the water were ranged between 0.000239 to 0.000560 ppm, and mercury concentrations in sediment were ranged from 0.003 to 0.08 ppm and 0.06 to 0.15 ppm in the snail mussel. In general the concentration of mercury in the waters, sediment and snail mussel are stil below of quality standardsbythe U.S. EnvironmentalProtection Agencyandquality standard ofthe World Health Organization/Food andAgriculture Organization(WHO/FAO). There is a strong relationship between mercury concentration and density of snail, where the concentration of mercury was lower when the density index of snail higherKeywords: Mercury concentration; Marine water; sediment and density index of mud wakls (T. telescopium).Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi merkuri pada air laut, sedimen dan keong popaco (T. telescopium), serta hubungannya dengan indeks kepadatan. Sampling dilakukan pada tiga stasiun yaitu di muara Sungai Balaotin, Cibok dan Kobok. Analisis konsentrasi merkuri menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi merkuri pada air laut pada ketiga stasiun di Perairan Kao Teluk berkisar antara 0,000239-0,000560 ppm. Konsentrasi merkuri pada sedimen berkisar antara 0,003-0,08 ppm. Konsentrasi merkuri pada keong berkisar antara 0,06-0,15 ppm. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut, dan US Environmental Protection Agencytentang baku mutu sedimen, serta World Health Organization/Food and Agriculture Organization (WHO/FAO) tentang keamanan pangan maka kandungan merkuri pada air, sedimen dan keong popaco masih berada dibawah baku mutu yang ditetapkan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara konsentrasi merkuri pada air dan sedimen dengan indek kepadatan keong popaco, dimana pada kepadatan tinggi maka kandungan merkuri cenderung rendah. Kata kunci : Konsentrasi merkuri; Air laut; Sedimen; Indeks kepadatan
Karakteristik morfologi teritip spons Indonesia Sulistiono .; Mujizat Kawaroe; Hawis Madduppa; Romanus Edy Prabowo
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1553

Abstract

Abstract. Research on the sponge barnacle of Indonesia is very rare, and this study is aimed to describe the morphological characteristics of sponge barnacles and their specific relationship with their sponge host species. This research was a survey and sponge samples were collected by tearing apart any available sponge found in three sampling locations, typically coral reef areas of Weh Island, Seribu Islands, and Karimunjawa Islands. Sponge barnacles contained in sponge samples were observed using stereo microscope and scanning electron microscope, and species identification was determined based on the morphological description of Darwin (1854), Pilsbry (1916), Martin dan Davis (2001), and Kolbasov (1993). Four species of sponge barnacles were found consisting of Acasta cyathus, Acasta fenestrata, Euacasta dofleini, and Membranobalanus longirostrum. Specific relationships of barnacle and its sponge host were found between Euacasta dofleini and Haliclona sp. and between Membranobalanus longirostrum and Suberites sp. respectively. Keywords : sponge; barnacle; acasta; membranobalanus; biodiversityAbstrak. Penelitian teritip spons Indonesia jarang dilakukan sejak kelompok ini pertama kali dideskripsikan hingga saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji karakter morfologi teritip spons Indonesia dan untuk mengkaji hubungan spesies spesifik teritip terhadap spons. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilaksanakan sejak Oktober sampai Desember 2012 di tiga lokasi yaitu Pulau Weh, Kepulauan Seribu, dan Kepulauan Karimunjawa. Metode penelitian menggunakan metode survei dan titik pengambilan sampel dipilih berdasarkan keberadaan spons. Sampel diamati menggunakan mikroskop stereo dan mikroskop elektron kemudian diidentifikasi berdasarkan deskripsi Darwin (1854), Pilsbry (1916), Martin dan Davis (2001), dan Kolbasov (1993). Hasil penelitian didapatkan empat spesies teritip spons yaitu Acasta cyathus, A. fenestrata, Euacasta dofleini, dan Membranobalanus longirostrum. Terdapat hubungan spesies spesifik antara teritip dan spons inang yaitu antara teritip E. dofleini dan spons Haliclona sp. dan antara teritip M. longirostrum dan spons Suberites sp. Kata kunci : teritip; spons; acasta; membranobalanus; biodiversitas
Status pencemaran dan kandungan logam berat pada simping (Placuna placenta) di Pesisir Kabupaten Tangerang Anna Rejeki Simbolon; Etty Riani; Yusli Wardiatno
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1455

Abstract

Abstract. The objective of study was to analyze the status of water pollution and heavy metal content on water, sediment and scallop in Tangerang Coastal Waters. The Storet index method was used to determine the status of pollution. Sampling was conducted for three times at two months interval. The content of heavy metals in water, sediment and scallop analyzed descriptively based on the applicable regulations. The results showed that the status of Tangerang Coastal Water was classified as moderate and hight polluted. The content of Pb in scallop from Cituis Coastal has been exceeded the quality standards established by BPOMand WHO, so it is not sutible to consump.Keywords: pollution status; heavy metals; P.placenta; Tangerang Coastal Waters. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status pencemaran perairan di Pesisir Kabupaten Tangerang dan kandungan logam berat pada air, sedimen dan simping di Pesisir Kabupaten Tangerang. Metode yang digunakan untuk mengetahui status pencemaran yaitu dengan metode indeks Storet. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga kali dengan interval waktu dua bulan. Kandungan logam berat di air, sedimen dan simping dianalisis secara deskriptif berdasarkan peraturan yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perairan Pesisir Kabupaten Tangerang tergolong tercemar sedang hingga berat. Kandungan logam berat Pb pada simping di Perairan Cituis telah melampaui baku mutu yang ditetapkan baik menurut BPOM tahun 2009 maupun WHO, sehingga tidak baik untuk dikonsumsi.Kata kunci: Status pencemaran; Logam berat;P.placenta;Pesisir Kabupaten Tangerang
Struktur komunitas tiram dagingdi perairan estuaria Kuala Gigieng, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh Chitra Octavina; Fredinan Yulianda; Majariana Krisanti
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1469

Abstract

Abstract. The oysters (Ostreidae) isone of economically important bivalves for urban community in Kuala Gigieng, Aceh Besar District. Presently, the quality and quantity of oyster is decreased over the years by intensive exploitation and water pollution. Therefore, theobjective of the present study was to analyze population structure and habitat condition of oystersin estuary area of Kuala Gigieng, Aceh Besar District, Aceh Province. The sampling was conducted at three locations during August to September 2013. The sampling locations were determined based on anthropogenic activities. A total of two genus of oysters were recorded during the study i.e Crossastrea with four species (C. gigas, C. iridescens, C. angulata, C. virginica) and and Ostrea edulis with one species (O. edulis). The highest density (39 ind m-2)of oysters were found at undisturbed and less pressure environment. The distribution pattern of Ostreidae in the Kuala Gigieng water was clustered where frequency of occurrence wasin small class size of 24 mm to 37.20 mm with optimum harvested of 32.27 mm. The growth of the oysters was relatively slow as shown by the maximum length (Lmaks) that can only reach 37.91-72.81 mm within 0 to 3.42 years. Generally, oysters population structure and habitat conditions in Kuala Gigieng Water was declined over the yeras. Therefore, it is a crucially needed to plan a management strategy for oysters with regulation on fishing, shellfish farming and waste disposal regulation to ensure the oysters population remains sustain.Keywords : Environment factors; fishing, growth; Kuala Gigieng; Oyster; population structureAbstrak. Tiram daging (Ostreidae) merupakan salah satu kerang yang memiliki  nilai ekonomi penting bagi masyarakat Kuala Gigieng. Namun, kualitas dan kuantitas tiram menurun akibat eksploitasi dan pencemaran perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur populasi dan kondisi habitat tiram di perairan estuaria Kuala Gigieng Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Sampling dilakukan pada tiga lokasi selama bulan Agustus hingga September 2013.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua genus tiram di perairan Kuala Gigieng yaitu Crassostrea dan Ostrea dengan total 5 spesies (C. gigas, C. iridescens, C. angulata, C. virginica and O. edulis). Kepadatan tertinggi berada pada lokasi yang tekanan penangkapan dan lingkungannya yang rendah. Pola penyebaran tiram daging di Kuala Gigieng cenderung mengelompok. Frekuensi ukuran selang kelas tiram terbanyak yang ditemukan yaitu 24-37,20 mm dengan ukuran layak tangkap yaitu 32,27 mm. Pertumbuhan tiram daging di Kuala Gigieng tergolong lambat, hal ini ditunjukkan dengan panjang maksimal (Lmaks) yang mampu dicapai kerang ini hanya 37,91-72,81 mm dalam waktu 0-3,42 tahun. secara keseluruhan, struktur populasi tiram daging dan kondisi habitat di Kuala Gigieng mulai menurun. Oleh karen itu, diperluka pengaturan pengelolaan sumberdaya tiram dengan melakukan pengaturan penangkapan, budidaya tiram, dan pembuangan limbah agar sumberdaya tiram di Kuala Gigieng tetap lestari.Kata kunci : Faktor lingkungan; Kuala Gigieng; penangkapan; pertumbuhan; struktur populasi; tiram daging,
Sebaran kandungan CO2 terlarut di perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna August Daulat; Mariska Astrid Kusumaningtyas; Rizki Anggoro Adi; Widodo Setiyo Pranowo
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1538

Abstract

Abstract. Biogeochemical cycles in coastal ecosystem is influencing the water quality and it is further affect on productivity and sustainability of coastal waters. Carbondioxide is one of the important parameter in biogeochemical cycles in coastal waters, it is formed as DIC (Dissolved Inorganic Carbon) in water and TOC (Total Organic Carbon) in sediment. The purpose of this research was to determine the distribution concentration of dissolved CO2 in the southern coastal waters of Natuna Islands. Insitu measurement was conducted for some parameters of water qualities both physical (i.e. temperature and turbidity) and chemical (i.e. DO, pH and salinity) parameters. DIC was analyzed in LIPI laboratory using Giggenbach titration method, while TOC in sediment was analyzed in Proling Laboratory, Institut Pertanian Bogor. The water quality of the southern coastal waters of Natuna Islands generally in a good condition according to the Ministry of Environment Decree, Number 51, year 2004. The results showed that spacial distribution of DIC ranged from 1.9 to  2.3 mol/kg, while TOC content of the water was ranged from 0.25 g/kg to 1.19 g/kg. Sediment distributions were dominated by sandy, silty sand, sandy silt and coral reefs, therefore the sediment has potencial as organic carbon storage and indicates a good productivity.Keywords: Carbondioxide; Dissolved Inorganic Carbon; Total Organic Carbon; Natuna Islands Abstrak.  Siklus biogeokimia yang terjadi pada ekosistem pesisir dapat mempengaruhi kualitas perairan dan berfungsi sebagai penunjang keberlanjutan dan kesuburan perairan. Karbondioksida adalah salah satu parameter penting dalam siklus biogeokimia di perairan pesisir baik berupa DIC (Dissolved Inorganic Carbon) di dalam air maupun berupa TOC (Total Organic Carbon) di dalam sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran kandungan CO2 terlarut di perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna. Pengukuran insitu dilakukan terhadap beberapa parameter kualitas air baik fisika (temperatur dan kecerahan) maupun kimia (DO, pH dan salinitas). Metode titrasi Giggenbach digunakan untuk analisis DIC di laboratorium LIPI, sedangkan TOC dalam sedimen dianalisis di laboratorium Proling, IPB. Kualitias air di perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna secara umum masih berada dalam kondisi baik berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004. Hasil penelitian menunjukan sebaran spasial parameter kandungan CO2 dengan kandungan DIC berkisar antara 1,9-2,3 mol/kg, sedangkan kandungan TOC perairan berkisar antara 0,25-1,19 g/kg. Sebaran sedimen didominasi oleh pasir, pasir lanau, lanau pasiran dan terumbu karang yang berpotensi besar menyimpan karbon organik didalam sedimennya dan mengindikasikan kesuburan perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna tergolong baik.
Pemodelan hidrodinamika arus pasang surut Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Asep Sandra Budiman; Alan F. Koropitan; I Wayan Nurjaya
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1536

Abstract

Abstract. Mayalibit Bay has an unique topography due to it has only one way long canal , narrow, and devious that connecting to open sea. Study on the water mass dynamics concerning to elevation and tidal current in Mayalibit Bay was conducted by constructing the 2D numerical hydrodynamics model which was simulated for 30 days to describe the pattern of elevation and water current which was resulted from tidal processes. The 2D hydrodynamic equation was employed by finite difference methods. Validation result showed that the model has a good performance and it was relevance to in-situ measurement. The pattern of elevation and water current from many tide periods had been spatially analyzed. Generally, simulation showed that there was a significant difference between the elevation and water currents pattern inside and outside the bay during high and low tides.. Elevation and water current have higher value during highg tide (maximum 0.35 m and 0.2 m/s) than low tide period (maximum 0.14 m and 0.1 m/s ) with the velocity of water current was faster at ebb-tide or low tide. The water current in entry canal has higher value than in any part of the bay which themaximum velocity was varied from 1.6 m/s (flood-tide) to 3.7 m/s (ebb-tide). The direction of current during high tide flows was dominantly to the West-Northwest or enters the bay by following its geometric and to the East-Southeast or exits from the bay during the ebb-tidesKeywords :  Tidal; quasi-enclosed waters; numerical models; finite difference  Abstrak. Teluk memiliki topografi yang unik karena hanya memiliki satu celah atau jalur panjang, sempit, dan berkelok yang menghubungkannya dengan laut terbuka. Kajian dinamika massa air terkait elevasi dan arus pasang surut di Teluk Mayalibit telah dilakukan dengan membangun sebuah model numerik hidrodinamika 2D yang disimulasi selama 30 hari untuk menggambarkan pola elevasi dan arus akibat pasang surut. Persamaan hidrodinamika 2D diselesaikan dengan metode beda hingga. Hasil validasi menunjukkan bahwa model telah memiliki performa yang cukup baik dan relevan bila diverifikasi dengan hasil pengukuran di lapangan. Pola elevasi dan arus dalam beberapa periode pasang surut dianalisis secara spasial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara elevasi dan pola arus di dalam dan di luar teluk selama periode pasang purnama dan pasang perbani. Elevasi dan arus memiliki nilai yang lebih tinggi pada saat pasang purnama (maksimum 0,35 m dan 0,2 m/detik) dibandingkan dengan pada saat pasang perbani (maksimum 0,14 m dan 0,1 m/detik) dengan kecepatan arus yang lebih tinggi pada saat surut. Arus di jalur masuk teluk memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan bagian manapun di dalam teluk, dimana kecepatan maksimumnya bisa mencapai 1,6 m/detik (pasang) sampai 3,7 m/detik (surut). Arah arus dominan di dalam teluk pada saat pasang adalah Barat - Barat Daya atau masuk ke dalam teluk mengikuti geometrinya dan ke Timur-Tenggara atau ke luar teluk pada saat surut.
Tutupan karang dan komposisi ikan karang didalam dan luar kawasan konservasi pesisir timur Pulau Weh, Sabang Riany Hastuty; Yonvitner .; Luky Adrianto
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1468

Abstract

Abstract. The study was conducted onApril to October 2013 in marine protected areas of Weh Island. The samplings were done at10 siteswhere 6 sitesare situatedinside of conservation areas, while 4 sites are situated outside of conservation areas. The purpose ofthis study was to evaluate coral covers andreef fish composition. Point intersept transect(PIT), underwater visual census (UVC) and fish catches were used to examine coral covers, abudance and biomass of reef fish. The results showed that average of coral covers, abudance and biomass of target fishes inside conservation were 54%, 1,662 ind/ha and 408.78 kh/ha, respectively, while than outside conservation was 33.05%, 1,058 ind/ha and 307.77 kg/ha, respectively. Total of reef fish species and the catch were increased from previous years, for example there are 60 species in 2010 and it was increased to 83 species in 2013. In addition the fishermen catches were increased slightly from 3.03 kg/trip in 2008 to 3.6 kg/trip in 2013. It is concluded that the coral condition and reef fish composition in the conservation are much better compared to outside of conservation areas.Keywords : Marine protect area; reef fish; Weh Island Abstrak. Penelitian ini dilakukan pada April sampai Oktober 2013 di Kawasan Konservasi Perairan Pesisir Timur Pulau Weh yang terdiri dari 10 stasiun dimana 6 stasiun berada didalam kawasan konservasi dan 4 stasiun diluar kawasan konservasi.Penelitian ini bertujuan untuk menilai persentase tutupan karang dan komposisi ikan karang. Sampling menggunakan transek titik dan underwater visual sensus (UVC) dan hasil tangkapan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kondisi tutupan karang, kelimpahan dan biomassa ikan target dikawasan konservasi yaitu 54%, 1.662 ind/ha dan 408,78 kg/ha, secara berurutan, sedangkan diluar kawasan konservasi adalah 33,05%, 1.058 ind/ha dan 307,77 kg/ha biomassa ikan target.Jumlah jenis ikan karang di kawasan konservasi meningkat, yaitu 60 jenis tahun 2010 menjadi 83 jenis pada tahun 2013 dan rata-rata hasil tangkapan tahun 2008 yaitu 3,03 kg/trip dan tahun 2013 yaitu 3,6 kg/trip. Dapat disimpulkan bahwa kondisi karang dan komposisi jenis dan ukuran ikan lebih baik di dalam kawasan konservasi berbanding diluar kawasan.Kata kunci: Kawasan Konservasi; Ikan karang; Pulau Weh
Analisis Keberlanjutan Perikanan Ikan Terbang di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Riana Sri Fitrianti; Moh. Mukhlis Kamal; Rahmat Kurnia
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1470

Abstract

Abstract. The objective of the present study was to assess fisheries sustainability of flying fish in Takalar, South Sulawesi using RAPFISH analysis which is composed of four dimensions (ecological, economic, social, and technological).The results of sustainability analysis show that sustainability index in Takalar is 30.93, indicates that the status of flying fish commodities was less sustainable. Monte Carlo analysis results revealed that fisheries sustainability index is strongly stable. Leverage analysis results showed that there were 10 sensitive attributes of 15 existing attributes. Ten sensitive attributes should be of concern to policy makers and become policy priorities in the management of flying fish in Takalar.Hence, arrangement and the implementation of policies on sustainable flying fish fishery in Takalar is cricually needed. Keywords : Sustainability status of Flying fish; RAPFISH; Takalar; South Sulawesi Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status keberlanjutan sumberdaya ikan terbangdi Selat Makassar.Metode yang digunakan adalah metode analisis RAPFISH dengan menggunakan 4 dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan perikanan ikan terbang di Kabupaten Takalardikategorikankurang berkelanjutan karena nilai indeks yang dihasilkan hanya sebesar 30.93. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa dari total 15 atribut yang digunakan, teridentifikasi 10 atribut sensitif yang mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan perikanan ikan terbang yaitu: jangkauan daerah penangkapan, ukuran ikan yang tertangkap, ikan yang tertangkap sebelum dewasa, pasar utama telur, harga jual, sumber modal kerja, pemanfaatan traditional ecological knowledge, sistem ponggawa-sawi, pola kerja, dan perubahan alat tangkap bale-bale. Sedangkan 5 atribut yang tersisa dikategorikan tidak sensitif.Dengan demikian, penyusunan dan penerapan kebijakan yang dapat memperbaiki kondisi keberlanjutan perikanan ikan terbang di Kabupaten Takalar dianggap perlu dilakukan.Kata kunci :Status Keberlanjutan Ikan Terbang; RAPFISH; Kabupaten Takalar; Sulawesi Selatan
Karakteristik pantai Taman Nasional Wakatobi dalam mendukung potensi wisata bahari: Studi kasus Pulau Wangiwangi Dini Purbani; Yulius .; Muhammad Ramdhan; Taslim Arifin; H.L. Salim; Nadya Novianti
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1539

Abstract

Abstract. Wakatobi Regency with its capital Wangiwangi Island has a great potential of natural resources, i.e.  sloping white sandy beach which strategically stretched out from north to south. The purpose of  this research is to identify beach type, to make a map of beach type in Wangiwangi island  and to identify potential of object tourism.  The metodology of this research is using field observation and the Geographical Information System (GIS). The field obervation was used to measure the beach’s width, length and slope.  The tools used in research are geological compass and applicable measurement equipment. The result of field obervation was used to make spasial analysis to get Map of beach characteristic. Processing of beach map characteristic using ARC GIS 9.3. The lithology of Wangiwangi island beach is limestone, its morphology is of high relief and low relief and there are three types of its characteristic, (they are); sandy beach, sandy beach with fragment coral and cliff beach. The locations of sandy beach are at waha and cemara beach. The location of Sandy beach with fragment coral are at Wapia beach, in Patuno island, in Matahora island and for cliff  beach are at Weki beach, in Kapotan island, at Buni beach and Batutobengko beach. The sandy beach and sandy beach with fragment coral are suitable for coastal tourism such as swimming, sunbathing and fishing.Keywords: Geographical Information System (GIS); beach characteristic; Wangiwangi Island; coastal tourism. Abstrak. Kabupaten Wakatobi dengan pusat pemerintahan di Pulau Wangiwangi memiliki sumberdaya alam yang sangat potensial dengan pantainya yang landai dan berpasir putih, membujur dari utara ke selatan dan posisinya sangat strategis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan jenis pantai di Pulau Wangiwangi dan memetakan kondisi pantai di Pulau Wangiwangi serta mengidentifikasikan potensi wisatanya . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung dan analisis spasial. Pengamatan observasi langsung diterapkan untuk mengukur lebar pantai, panjang pantai dan berm menggunakan alat ukur meteran, sedangkan kemiringan pantai dengan kompas geologi. Hasil dari pengamatan pantai digunakan untuk membuat  analisis spasial sehingga diperoleh Peta jenis karakteristik pantai. Proses pengolahan mengunakan ARC GIS 9,3. Kondisi  pantai  Pulau Wangiwangi berdasarkan geologi (litologi penyusun)  didominasi oleh Batu Gamping Koral (Limestone), morfologi terdiri atas Relief Tinggi dan Relief Sedang sedangkan karakteristik pantai Pulau Wang-Wangi  terdiri dari  Pantai berpasir,. Pantai berpasir bercampur fragmen karang dan. Pantai bertebing karang. Lokasi Pantai Berpasir di Pantai Waha dan Pantai Cemara. Pantai Berpasir bercampur fragmen karang berada di Pantai Wapia, Pantai Patuno, Pulau Matahora, sedangkan Pantai bertebing karang tersebar di Pantai Weki, Pulau Kapotan, Bungi dan Batutobengko. Potensi wisata pantai dapat diusulkan pada jenis pantai berpasir dan pantai berpasir bercampur fragmen karang. Objek wisata antara lain berenang, berjemur dan memancing.
Kandungan logam berat dalam sedimen di Perairan Teluk Wawobatu, Kendari, Sulawesi Tenggara Edward .
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1537

Abstract

Abstract. Examination of heavy metals content in sediment ofWawobatu  Bay Waters, Kendari wasconducted in June2011. Sediment sampleswere collectedusing gravitycoreat 5research stations. Heavymetals content weremeasuredusingAtomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The purpose of this research wasto examine the heavy metals content in sediment and to predict the quality of sediment based on index analysis approach (geoaccumulation index and pollution load index). The results showed that Pb was rangedfrom 3.704 pp to 21.892 ppm, Cd was 0.784-1,385 ppm, Cu was 3,451-12,193 ppm, and 24.838 ppm, to 69.973 ppm and 37.289 ppm to 72.329 ppm for Zn and Ni, respectively. It is concluded that the content of the theseheavy metals were lower compared to threshold value stated by The Stated Ministry Office for Life Environment 2004 and Ontario sediment Guideline 2008. In general the heavy metals content in Station 4 was higherthanthe other stations. This iscaused by the differences insediment texture in each station, whilestation 4 is situated  in estuary and it has a black clayssediment texture. In addition, the content of Ni  washigher than the others examined heavy metals.Based on I-geo values that thesediment in this waters is categorized asunpolluted  by Pb, Cu, Zn, and Ni (I-geo0), and moderate polluted category by Cd (1I-geo2). In addition,based on PLI values, sediments of Wawobatu bay was unpolluted by Pb, Cu, Zn,  Ni and Cd.Keywords: Heavy metals; sediments; Wawobatu Bay; Kendari Abstrak. Pengamatan kandungan logam berat dalam sedimen diPerairanTeluk Wawobatu, Kendari telah dilakukan pada bulan Juni 2011. Contoh sedimen diambil dengan menggunakan gravity core pada 5 stasiun penelitian. Kandungan logam berat diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Tujuan  penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat dalam sedimen serta memprediksi kualitas sedimen berdasarkan pendekatan analisis indeks (Indeks geoakumulasi dan  Indeks Beban Pencemaran).Hasilnya menunjukkan, kandungan Pb berkisar  3,704-21,892 ppm, Cd  0,784-1,385 ppm, Cu  3,451-12,193 ppm, Zn  24,838-69,973 ppm, dan Ni  37,289-72,329 ppm. Kandungan ke lima logam tersebut masih lebih rendah dari nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup 2010 dan baku mutu sedimen Ontario (Ontario Sediment Guideline) 2008. Kandungan logam berat dalam sedimen di Stasiun 4 lebih tinggi dibandingkan dengan Stasiun lainnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tekstur sedimen di masing-masing stasiun. Stasiun 4 berada di muara sungai dan mempunyai sedimen dengan tekstur  berupa lumpur berwarna hitam.Kandungan logam Ni lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain, hal ini menunjukkan adanya masukan sedimen dari Teluk Kendari dan Teluk Lasolo yang terbawa oleh arus, disamping yang berasal dari darat yang masuk melalui aliran sungai. Berdasarkan nilai indeks geoakumulasi (I-geo)sedimen di perairan ini termasuk kategori tidak tercemar oleh Pb, Cu, Zn, dan Ni (I_geo0), dan tercemar sedang oleh Cd (1I_geo2).Namun berdasarkan nilai indeks beban pencemaran (PLI), sedimen di perairan ini belum tercemar oleh logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, dan Ni.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2014 2014