cover
Contact Name
Ivo Christiana Siregar
Contact Email
mattheosagala@gmail.com
Phone
+6281376650009
Journal Mail Official
operator@sttpaulusmedan.ac.id
Editorial Address
Jl. Kapiten Purba 1, Mangga, Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : -     EISSN : 26853493     DOI : https://doi.org/10.47166/sot.v2i1
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, baik bagi para dosen di lingkungan Sekolah Tinggi Theologia Paulus, Medan maupun STT dan institusi lain yang terkait dalam rumpun ilmu Teologi Kristen, di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Lingkup penelitian di SOTIRIA adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru) Teologi Sistematika Teologi dan Kontekstual Pendidikan Agama Kristen SOTIRIA menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 40 Documents
Ketrampilan Komunikasi Interpersonal, Penguasaan Teori Praktik Fisioterapi, dan Kompetensi Profesi Fisioterapis Mahasiswa yang Belajar Praktik Pengalaman Klinis di Rumah Sakit Ortopedi Prof. R. Soeharso Surakarta Sumartinah Sumartinah
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 2, No 2: Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v2i2.14

Abstract

The research is aimed at describing the interpersonal communication skills, the mastery of physiotherapy theory and practice, and the competence of physiotherapist profession of the students of the physiotherapy students conducting clinical practice at the Orthopedics Hospital Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. The research used a qualitative-etnomethodology by describing the process of the students’ clinical practice. Subject of the research were 82 Physiotherapy students who conducted clinical practice at the Orthopedics Hospital Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Data of the research were taken by collecting the clinical status records made by the students, and the use of the documents. The results of the research shows that (1) The interpersonal communication skills of the students of Diploma 3 in Physiotherapy range from Poor, Fair, Fairly Good, to Good (dominated by Fairly Good, and Good categories). Meanwhile, the interpersonal communication skills of the students of Diploma 4 in Physiotherapy range from Poor, Fair, Fairly Good, to Good (dominated by Poor and Good categories). (2) The mastery of physiotherapy theory and practice of the students of Diploma 3 in Physiotherapy range from Fair, Fairly Good, to Good (dominated by Good categories). Meanwhile, the mastery of physiotherapy theory and practice of the students of Diploma 4 in Physiotherapy range from Fair, Fairly Good, Good, to Very Good (dominated by Fairly Good categories). (3) The Competence of Physiotherapist Profession the students of Diploma 3 in Physiotherapy range from Fair, Fairly Good, Good, to Very Good (dominated by Fairly Good, and Good categories). Meanwhile, the Competence of Physiotherapist Profession the students of Diploma 4 in Physiotherapy range from Fair, Fairly Good, Good, to Very Good (dominated by Fair categories). Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan komunikasi interpersonal, penguasaan teori dan praktik fisioterapi, dan kompetensi profesi fisioterapis mahasiswa mahasiswa fisioterapi yang melakukan praktik klinis di Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Penelitian ini menggunakan kualitatif-etnometodologi dengan menggambarkan proses praktik klinis siswa. Subjek penelitian adalah 82 mahasiswa Fisioterapi yang melakukan praktik klinis di Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Data penelitian diambil dengan mengum-pulkan catatan status klinis yang dibuat oleh siswa, dan penggunaan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Keterampilan komunikasi interpersonal dari siswa Diploma 3 dalam Fisioterapi berkisar dari kategori Buruk, Adil, Cukup Baik, hingga Baik (didominasi oleh kategori Cukup Baik, dan Baik). Sementara itu, keterampilan komunikasi interpersonal siswa Diploma 4 dalam Fisioterapi berkisar dari Buruk, Adil, Cukup Baik, hingga Baik (didominasi oleh kategori Buruk dan Baik). (2) Penguasaan teori fisioterapi dan praktik mahasiswa Diploma 3 dalam Fisioterapi berkisar dari Adil, Cukup Baik, hingga Baik (didominasi oleh kategori Baik). Sementara itu, penguasaan teori fisioterapi dan praktik para mahasiswa Diploma 4 dalam Fisioterapi berkisar dari Adil, Cukup Baik, Baik, hingga Sangat Baik (didominasi oleh kategori Cukup Baik). (3) Kompetensi Profesi Fisioterapis mahasiswa Diploma 3 dalam Fisioterapi berkisar dari Cukup, Cukup Baik, Bagus, hingga Sangat Bagus (didominasi oleh kategori Cukup Bagus, dan Baik). Sementara itu, Kompetensi Profesi Fisioterapis mahasiswa Diploma 4 dalam Fisioterapi berkisar dari Wajar, Cukup Baik, Bagus, hingga Sangat Bagus (didominasi oleh kategori Wajar).
Superioritas Yesus Kristus dan Aplikasinya dalam Gereja Masa Kini dalam Surat Ibrani Ester Br Ginting; Joy Sopater Wasiyono
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v5i2.55

Abstract

 The divinity of Jesus Christ is often questioned and debated by certain circles, both past and present. The letter to the Hebrews describes Jesus Christ as the light of God's glory and the image of God's own being. Jesus Christ is the Son of God, who will possess all things that are revealed to be God, and atone for the sins of mankind, is the main channel of revelation, which is higher than the prophets and angels. The description of Jesus as the Great High Priest in the letter to the Hebrews (Hebrews 4:14-16). Priesthood Superiority of Jesus Christ built on the Melchizedek typology. the writer of Hebrews finds congruence between Christ and Melchizedek. Typological results prove that the priesthood of Jesus Christ is superior to the priesthood of Levi, where Christ is a greater priest than the priest of Levi and he himself has been replaced; and only His priesthood can draw sinners closer to God and communicate with God. and the only perfect and final priesthood can offer the atoning sacrifice, once and for all. In Hebrews there are several warnings that also relate to followers of Christ today. We are warned not to waste the salvation that has been handed down to us. Jesus Christ is already seated at the right hand of the Father, and because He will defeat His enemies and establish His kingdom, and we inherit that victory of salvation. We must hold fast to our faith to the end. 
Pandangan Kristen tentang Kebudayaan dan Adat Istiadat di dalamnya Pilemon Bukit
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 2, No 1: Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v2i1.2

Abstract

Humans are creatures that cannot live alone and that is why humans must live in groups. Therefore social scientists call humans social beings. Humans also have thoughts, feelings and desires and human thoughts, feelings and wills are used to be able to live in the social, cultural and natural environment. Human thoughts, feelings and will result in the emergence of adaptation strategies for humans, so they can survive in their social, cultural and natural environment. Social sciences experts adopt the adaptation strategy with culture. Therefore, humans are united with their culture or in other words humans cannot live without their culture, including the customs in it. Thus, Christianity must see, understand and treat humans together with the culture and customs that are in it, so that there are no collisions that should not occur. Abstrak: Manusia itu adalah mahluk yang tidak dapat hidup sendiri dan itu sebabnya manusia itu harus hidup berkelompok. Karena itu para ahli ilmu sosial menyebut manusia sebagai mahluk sosial. Manusia juga memiliki fikiran, perasaan dan kehendak serta fikiran, perasaan dan kehendak manusia itu dipakai agar dapat hidup di lingkungan sosial, budaya dan alamnya. Fikiran, perasaan dan kehendak manusia itu mengakibatkan munculnya strategi adaptasi bagi manusia, sehingga dapat bertahan hidup di lingkungan sosial, budaya dan alamnya. Para ahli ilmu sosial menyebu strategi adaptasi itu dengan kebudayaan. Karena itu, manusia bersatu dengan kebudayaannya atau dengan kata lain manusia tidak dapat hidup tanpa kebudayaannya, termasuk adat istiadat yang ada di dalamnya. Dengan demikian, kekristenan harus melihat, memahami dan memperlakukan manusia bersama-sama dengan kebudayaan dan adat istiadat yang ada di dalamnya, supaya tidak terjadi benturan-benturan yang seharusnya tidak terjadi.
Refleksi Mengelola Tekanan Hidup menurut Mazmur 77 Desti Samarenna
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 4, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v4i1.30

Abstract

Life stress is something that occurs as a result of changes in life. The purpose of this study is to analyze and interpret managing the stresses of life according to Psalm 77, then implement it in the lives of believers today. The biblical manuscript research method is the book analysis method, in this case using a research method that includes exegesis and Bible study to understand the text in Psalm 77. Based on the results of the reflection study of Psalm 77, the following conclusions are drawn: calling on God to convey the struggle, remembering blessings God in the past, strengthen beliefs and divert thoughts that are applied to matters relating to God's actions in the past. Then glorify God and trust him as a release from the struggles and pressures of life by remembering God's loving and generous character. Abstrak Tekanan hidup adalah sesuatu yang terjadi akibat timbulnya perubahan dalam kehidupan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menafsir mengelola tekanan hidup menurut Mazmur 77, lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan orang percaya masa kini. Metode penelitian naskah Alkitab yaitu mentode analisis kitab, dalam hal ini menggunakan metode penelitian yang mencakup eksegesis dan kajian Alkitab untuk memahami teks dalam Mazmur 77. Berdasarkan hasil kajian refleksi Mazmur 77, maka ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: berseru kepada Allah menyampaikan pergumulan, mengingat berkat Allah dimasa lalu, mengokohkan keyakinan dan mengalihkan pikiran yang diterapkan kepada hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan Allah di masa lalu. Kemudian memulikan Tuhan dan memercayainya sebagai pelepas atas pergumulan dan tekanan hidup dengan mengingat karakter Allah yang penuh kasih dan murah hati.
Memahami Hukuman Salib dalam Perspektif Intertestamental sampai dengan Perjanjian Baru Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 3, No 1: Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v3i1.20

Abstract

The crucifixion of Jesus in Golgotha is an event that has an important significance in Christianity. But little is known about how crucifixion could have taken place in a Jewish environment where the matter of crucifixion was never mentioned expensively in the Old Testament. This paper intends to answer questions about the history of the penalty of the cross from the Intertestamental era to the crucifixion experienced by Jesus during the New Testament. Through literature studies, it was revealed that the punishment of the cross came from Persia adopted by the Greeks, and the Romans continued it as a punishment for the rebels by making the prisoners suffered greatly before his death. For Christianity, the punishment of the cross experienced by Jesus has more meaning than the punishment carried out by innocent people, that is as a substitute punishment that should be experienced by sinful humans. Abstrak Penyaliban Yesus di Golgota merupakan peristiwa yang memiliki makna penting dalam kekristenan. Namun tidak banyak diketahui bagaimana penyaliban bisa terjadi di lingkungan bangsa Yahudi yang mana hal penyaliban tidak pernah disebut secara ekspilis dalam kitab Perjanjian Lama. Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan mengenai sejarah hukuman salib sejak era Intertestamental hingga penyaliban yang dialami oleh Yesus pada masa Perjanjian Baru. Melalui studi pustaka dikemukakan bahwasanya hukuman salib berasal dari Persia yang diadopsi oleh bangsa Yunani, dan bangsa Romawi meneruskannya sebagai hukuman bagi para pemberontak dengan membuat pesakitan sangat menderita sebelum kematiannya. Bagi kekristenan, hukuman salib yang dialami Yesus memiliki makna lebih dari sekadar hukuman yang ditangung oleh orang yang tidak bersalah, yaitu sebagai hukuman penganti yang seharusnya dialami oleh manusia yang berdosa.
Kewajiban Seorang Anak dalam Menghormati Orang Tua Ditinjau dari Efesus 6:2 Holong P Simamora; Faogosokhi Ndruru
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v6i1.57

Abstract

The research aims to show a child's obligation to respect their parents according to Ephesians 6: 2. This research is based on the argument that parents are God's representatives towards their children regarding His authority and His love. This research shows that when children respect their parents, it means they heed and acknowledge the authority that God has given to their parents, and the child is obliged not only to obey but also love and respect their parents. So because the authority of parents over children is God's authority that God delegated to them, then in the life of the Israelites who received God's promises, children's obedience to parents was given such importance as is seen in the Bible. This research uses the exegesis method to produce interpretations and construct them in the form of principles of children's obligations to their parents.
Peranan Pemuda dalam Meningkatkan Kualitas Ibadah di BNKP Jemaat Hilisawato Simalingkar Medan Rosmawati Ndraha
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 2, No 2: Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v2i2.8

Abstract

This study aims to determine whether youth play a role in improving the quality of worship at the Hilisawato Simalingkar Congregation in Medan, to determine the extent of youth involvement in worship services towards improving the quality of worship at the Hilisawato Simalingkar Congregation in Medan. To obtain the required data, this research was conducted with qualitative methods, namely by conducting observations and interviews. The subjects observed by researchers were the Reverend BNKP Hilisawato Simalingkar Medan Church, the BNKP Assembly, the BNKP Youth. The instrument used in this study was the technique of reading and taking notes. Then the data analysis technique used is exposure technique. The results of this study are as follows. First, it is absolutely necessary to involve the youth participating in youth to improve the quality of worship. Secondly, It is impossible to get quality worship without a quality service. Third, Pastors should increase the number of advisory personnel to equip youth before being deployed in worship services so that quality is maintained. Fourth, worship is not just a religious ritual ceremony that must be beautiful only from its aesthetics, but worship involves a lifestyle that is reflected in the behavior of everyday life so that worship becomes a living, holy and pleasing worship to Him. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemuda berperan untuk meningkatkan kualitas Ibadah di BNKP Jemaat Hilisawato Simalingkar Medan, untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan pemuda di dalam pelayanan Ibadah menuju peningkatan kualitas ibadah di BNKP Jemaat Hilisawato Simalingkar Medan. Untuk memperoleh data yang diperlukan, penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif yaitu dengan melakukan observai dan wawancara. Adapun Subjek yang diamati oleh peneliti ialah Pendeta BNKP Jemaat Hilisawato Simalingkar Medan, Majelis BNKP, Pemuda BNKP. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik membaca dan mencatat. Lalu teknikanalisa data yang digunakan adalah teknik pemaparan. Hasil Penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, Adalah mutlak melibatkan pemuda berperan serta pemuda untuk meningkatkan kualitas ibadah. Kedua, Adalah mustahil untuk mendapatkan ibadah yang berkualitas tanpa Pelayan Ibadah yang berkualitas pula. Ketiga, Pendeta hendaknya menambah personil pembina dalam memperlengkapi pemuda sebelum diterjunkan dalam pelayanan ibadah sehingga kualitasnya tetap terjaga. Keempat, Ibadah bukan sekedar upacara ritual keagamaan yang harus indah hanya dari estetikanya saja, tetapi ibadah menyangkut gaya hidup yang tercermin dalam perilaku hidup sehari-hari sehingga ibadah itu menjadi ibadah yang hidup, kudus dan berkenan kepadaNya.
Kajian Biblika Tentang Allah Tritunggal Untuk Menyikapi Keimanan Terhadap “Tuhan Yang Maha Esa” Dalam Bingkai Iman Kristen ferdinan pasaribu; anetrin sakkiadat
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v5i1.44

Abstract

Pemahaman manusia akan Allah tetap saja terbatas karena Allah itu tak terbatas adanya dan kemungkinan besar pemahaman manusia pun bisa berbeda walau sumbernya sama. Hal pertama menyangkut istilah KeAllahan.    Istilah “Trinitas” atau “Trinity” tidak ada di dalam Alkitab.   Istilah yang ada adalah Keallahan (Divinity atau Godhead).   Istilah Trinitas muncul sebagai hasil usaha manusia (gereja) memanahami Allah di dalam Alkitab. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan berbagai literatur. Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini ialah untuk memberikan pengetahuan mengenai Tuhan yang Esa.
Sastra Satire Kitab Yunus: Analisis Naratif Prolog dan Epilog Kitab Yunus Muryati Muryati; Gernaida Pakpahan; Junifrius Gultom
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 3, No 2: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v3i2.25

Abstract

The anomaly of Jonah's attitude in rejecting God's call (Jonah 1) and his anger at Nineveh's conversion caused various opinions on the genre of his book. This encourages the need to produce new findings to narrow the view of experts by placing the book of Jonah as satire literature. The purpose of this research is to describe the satire elements contained in the prologue and epilogue of the book of Jonah. The method used in this research is a narrative approach using a modified method that departs from the four narrative elements namely the narrator, character (characterization), point of view, and storyline then combined with some elements of general interpretation in it. through the narrative analysis method, the researcher sees the text as a "mirror" that projects a certain picture, namely the world of narratives that provides benefits to explore the forms and elements of the prologue and epilogical satire texts of the book of Jonah. The results showed that Irony underlies all elements of satire spread in articles 1 and 4. Researchers classify the elements of irony as personification, repetition, hyperbole, sarcasm, paronomasia, and parody. These characteristics indicate Jonah 1 and 4 are narratives containing satire. The implication of the teaching of the church by referring to the didactic values in the satire of the story of Satire Jonah can be used as a reference for learning the truth of God's Word. Abstrak Anomali sikap Yunus dalam menolak panggilan Tuhan (Yunus 1) dan kemarahannya pada pertobatan Niniwe menimbulkan beragam pendapat pada genre kitabnya. Hal ini mendorong adanya kebutuhan untuk menghasilkan temuan baru guna mempersempit pandangan para pakar dengan menempatkan kitab Yunus sebagai sastra satire. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur satire yang terdapat dalam prolog dan epilog kitab Yunus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan naratif menggunakan modifikasi metode yang berangkat dari empat unsur narasi yaitu narator, karakter (penokohan), sudut pandang, dan alur cerita lalu dikombinasikan dengan beberapa elemen penafsiran umum di dalamnya. melalui metode analisis naratif peneliti melihat teks sebagai sebuah “cermin” yang memproyeksikan gambaran tertentu, yaitu dunia narasi yang memberikan manfaat untuk mengeksplorasi bentuk dan unsur satire teks prolog dan epilog dari kitab Yunus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ironi mendasari semua unsur satire yang tersebar di pasal 1 dan 4. Peneliti mengelompokkan unsur ironi adalah personifikasi, repetisi, hiperbola, sarkasme, paronomosia dan parodi. Karakteristik ini mengindikasikan Yunus 1 dan 4 adalah narasi yang mengandung satire. Implikasinya terhadap pengajaran gereja dengan merujuk pada nilai-nilai didaktis dalam satire kisah Satire Yunus dapat dijadikan rujukan untuk mempelajari kebenaran Firman Tuhan.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match dalam Pendidikan Agama Kristen Rinto Hasiholan Hutapea
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 3, No 1: Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v3i1.16

Abstract

This study aims to determine the concept of using a make a match type of cooperative learning model in learning Christian Religious Education. The method used in this research is descriptive qualitative method. The study results obtained illustrate that the use of a make a match type of cooperative learning models in classroom learning, can increase learning motivation and student learning outcomes. In dealing with the problem of low Christian Religious Education teachers and students’ learning motivation towards Christian Religious Education subjects, the use of a make a match type of cooperative learning model is an alternative choice in teaching. Using this learning model in overcoming these problems, Christian Religious Education teachers need some effort so that its implementation can be effective. These efforts are: first, a Christian Religious Education teacher needs to increase creativity. Second, Christian Religious Education teacher need to pay attention to their competence in teaching. Third, Christian Religious Education teacher have the principle of continuing to learn and develop themselves according to current needs. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Kajian hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam pembelajaran di kelas, dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar peserta didik. Guru PAK dalam menghadapi masalah rendahnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap mata pelajaran PAK, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match menjadi alternatif pilihan dalam mengajar. Penggunaan model pembelajaran ini dalam mengatasi persoalan tersebut, guru PAK memerlukan beberapa upaya agar pelaksanaannya menjadi efektif. Upaya tersebut adalah: pertama, seorang guru PAK perlu meningkatkan kreativitas. Kedua, guru PAK perlu untuk memperhatikan kompetensi diri dalam mengajar. Ketiga, guru PAK memiliki prinsip untuk terus belajar dan mengembangkan diri sesuai kebutuhan pada masa kini.

Page 1 of 4 | Total Record : 40