cover
Contact Name
Fairuz Rifani
Contact Email
fairifani@gmail.com
Phone
+6281320419383
Journal Mail Official
ophthalmol.ina@gmail.com
Editorial Address
Gedung Baile, Lantai 1 Ruang 101 - 103 Jl. Kimia No 4, Menteng, Jakarta
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ophthalmologica Indonesiana
ISSN : 01261193     EISSN : 2460545X     DOI : 10.35749
Core Subject : Health,
Ophthalmologica Indonesiana is an open accessed online journal and comprehensive peer-reviewed ophthalmologist journal published by the Indonesian Ophthalmologist Association / Perhimpunan Dokter Spesialis Mata (PERDAMI). Our main mission is to encourage the important science in the clinical area of the ophthalmology field. We welcome authors for original articles (research), review articles, interesting case reports, special articles, clinical practices, and medical illustrations that focus on the clinical area of ophthalmology medicine.
Articles 869 Documents
Pola Fikir dan Perilaku Pembelajaran Tjahjono D Gondhowiardjo
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 44 No 2 (2018): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v44i2.168

Abstract

Terdapat beberapa hal positif dalam edisi kali ini, yang terkait dengan perkembangan majalah kita bersama ini; yaitu adanya dua sumber makalah yang berbeda dari rutinitas selama ini. Makalah pertama, berasal institusi pelayanan nun jauh di ujung timur negeri kita yang tercinta ini, yang walaupun hanya berupa telaah kepustakaan, namun menampilkan bahasan perkembangan teknologi yang relatif mutahir sebagai penatalaksanaan suatu keadaan klinis yang berpotensi mempunyai prevalensi yang cukup tinggi. Namun, ironi-nya belum banyak dilaporkan oleh sejawat yang berada di kota besar atau institusi pendidikan sekalipun; hal itu mungkin disebabkan karena keterbatasan kemampuan klinis untuk mengenali gejala dan petanda, ataupun karena ketiadaan alat diagnostik. Makalah kedua, adalah laporan penanganan kasus Orbital Cellulitis, berasal dari disiplin THT, namun terkait erat dengan profesi kita dengan topik yang dapat dikatagorikan sebagai kegawatan mata, yang apabila tidak dikenali dan ditangani dengan tepat dapat menyebabkan kebutaan, atau bahkan kematian. Sejalan dengan itu, telaah kepustakaan mengenai Methanol-induced Toxic Optic Neuropathy dapat di- katagori-kan juga sebagai kegawat daruratan mata. Kedua keadaan ini, tidak jarang kita jumpai, secara tidak langsung menunjukkan rendahnya tingkat pengetahuan dan kondisi sosial masyarakat kita; dan tentunya merupakan bagian dari tugas kita dalam memberikan penyuluhan kesehatan mata. Kedua makalah ini, perlu kita pahami dan dalami dengan sebaik-baik nya, sehingga kita mampu melakukan penanganan dan tindakan dengan tepat dan cepat untuk menghindari terjadi nya kebutaan pada pasien kita. Prinsip dasar dan tujuan suatu teknologi baru adalah “lebih baik (better), lebih cepat (faster), dan lebih murah (cheaper)” dari teknologi baku yang telah digunakan selama ini. Di bidang kedokteran maka penerapan teknologi tentunya harus di dasari dengan prinsip “saver (aman, tidak merugikan pasien)”. Oleh karena itu, semakin canggih suatu teknologi, maka akan tampak semakin sederhana; namun sebagai pengguna (user) seharusnya sebelum diterapkan, kita harus terlebih dahulu memper-luas dan mendalami pengetahuan dasar dan terapan yang terkait dengan teknologi baru tsb. Sedikitnya terdapat beberapa prinsip yang harus kita sadari; suatu teknologi akan berhasil guna secara optimal bila diterapkan pada suatu sistem (techno-system) dan infra-struktur (techno-structure) yang sesuai, karena teknologi dikembangkan oleh seorang pemikir (techno-logist) sesuai dengan filosofi yang di anut-nya (techno- sophy). Pada suatu kebaharuan yang bersifat keterampilan, diperlukan pelatihan tindakan (wetlab); asistensi tindakan dan supervisi untuk memastikan keamanan tindakan dan optimalisasi hasil tindakan. Sesuai dengan tingkat kesulitan dan keamanan tindakan, maka diperlukan pengakuan keterampilan tsb (sertifikat kompetensi). Secara ilmiah, suatu evaluasi/publikasi hasil teknologi baru harus di-dasar-kan pada metodologi yang benar sehingga didapatkan kesimpulan yang sahih, dan dapat dipertanggung jawabkan....
Anti-Vascular Endothelial Growth Factor (Anti-VEGF) in Central Retinal Vein Occlusion : Are Loading Dose Necessary ? Andi Arus Victor
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 1 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i1.171

Abstract

Background : Ranibizumab (anti-VEGF) given monthly for six doses, is effective in central retinal vein occlusion (CRVO). However, the cost and adherence to complete Ranibizumab regiment is a burden for developing countries. Aim : To present two CRVO cases with satisfactory outcome after partial regiment of ranibizumab injections. Case presentation : A 52-year old male came with sudden, painless visual decline of the left eye (LE). Best corrected visual acuity (BCVA) was 0.4. Relative afferent pupillary defect (RAPD) was positive on LE. Anterior segment was normal. Fundus examination revealed a cup-disc ratio (CDR) of 0.4, macular edema (ME), scattered hemorrhages, dilated and tortuous retinal veins. Patient was diagnosed with CRVO and was given two monthly injections before stopping treatment. Patient came with worsened VA, was then given another injection. After 6 months, his BCVA was 0.8. Similarly, a 32- year old male came with sudden painless decline of vision of LE (BCVA 0.15). Anterior segment was normal. Fundus examination showed CDR of 0.3, ME, multiple scattered pre-retinal hemorrhages, dilated and tortuous retinal veins. Patient was similarly diagnosed with CRVO of LE and given two monthly injections. Final BCVA after six months follow-up was 0.9. Conclusion : Both cases showed improvement in VA despite having partial regiment of ranibizumab injections.
Current Therapy of Diabetic Macular Edema Bevacizumab, Triamcinolone Acetonide, and Laser Photocoagulation Gladys Kusumowidagdo; Randy Sarayar; Kartika Rahayu; Gitalisa Andayani
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 1 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i1.172

Abstract

Background: Diabetic macular edema (DME) is the main cause of visual impairment in diabetic retinopathy (DR). Current gold standard therapy of DME is macular laser photocoagulation (MPC). Growing evidences have shown benefits of intravitreal anti-VEGF agents (i.e bevacizumab) and intravitreal corticosteroids (i.e triamcinolone acetonide). Aim: To compare the visual acuity (VA) improvement of patients with DME, treated with intravitreal bevacizumab (IVB), a combination of IVB and intravitreal triamcinolone (IVB/IVT), and MPC. Method: A comprehensive PubMed® and Cochrane® databases search was conducted on May 4th, 2017 using appropriate keywords (diabetic macular edema, bevacizumab, triamcinolone, and laser photocoagulation using their MeSH terms). Studies were filtered using inclusion criterions (clinical trials, RCT, meta-analysis, systematic review, English, humans, and publication within 10 years) Results: Three studies (2 systematic reviews and 1 RCT) were found suitable. From these results, all studies showed favoring effects of IVB when compared to IVB/IVT combination and MPC in short term period (up to 6 months). However, there was no significant improvement of VA beyond this period in all groups. Conclusion: IVB appears to be superior to IVB/IVT and MPC in improving VA during 6 months follow- up period. Future systematic reviews and meta-analysis are required on the effect of IVB and MPC combination in cases of DME.
Comparison of Visual Acuity and Central Macular Thickness in Neovascular Age-related Macular Degeneration Patients with Subretinal and Intraretinal Fluid Treated with Intravitreal Bevacizumab Novia Rahayu; Elvioza Elvioza; Aria Kekalih
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 1 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i1.173

Abstract

Purpose: To compare visual acuity (VA) and central macular thickness (CMT) outcome of loading dose intravitreal bevacizumab treatment between neovascular AMD patients with character of predominant subretinal and intraretinal fluid. Methods: Prospective study of loading dose intravitreal bevacizumab treated age-related macular degeneration, of which has a baseline macular morphology of subretinal or intraretinal fluid. VA, CMT, and their changes were evaluated during and after loading dose was completed. Results: Thirty eight eyes (38 patients, mean age 66,95 years) were enrolled. 20 eyes were in subretinal fluid (SRF group) and 18 intraretinal fluid (IRF) group. Mean VA at baseline eventually was significantly different where SRF group (56,41 letters) were better than IRF group (43,72 letters). No statistically significant difference of mean VA change or CMT change between group, however VA in SRF group remained higher and CMT in SRF group were lower than IRF group. Conclusion: Neovascular AMD, with both SRF and IRF at baseline, benefits from loading dose intravitreal bevacizumab treatment although mean visual acuity and mean central retinal thickness are better in those with SRF.
The Effect of Badminton in Myopia Progression Among Children in Yogyakarta Banu Aji Dibyasakti; Suhardjo Suhardjo; Tri Wahyu Widayanti; Zaenal Muttaqien
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 1 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i1.174

Abstract

Objectives : to observe the effect of badminton in myopia progression among children in Yogyakarta. Methods : This is a cohort study involving 139 eyes from 77 children. The subjects were divided into 2 groups: badminton (n=73) and control (n=66) group. The refractive error was measured by using auto- refractometer with additional cycloplegic agent (1% cyclopentolate). Myopia progression between baseline and 6 month follow up in each group were compared by using Paired T-Test Analysis. The difference of myopia progression in both group were compared by using Independent Sample T-Test Analysis. The relative risk of myopia progression by playing badminton was analysed by using 2x2 table analysis. Results : The mean refractive error in the badminton group was -1.03 ± 0.62 D (baseline) and -1.07 ± 0.64 D (6 months), while in the control group was -1.11 ± 0.66 D (baseline) and -1.24 ± 0.69 D (6 months). There was significant difference in the mean refractive error between baseline and 6 months in each group (p<0.05). Myopia progression in badminton group was 0.04 ± 0.10D, while in control group 0.12 ± 0.22. There was significant difference in myopia progression between two groups (p<0.05). Badminton is also significant protective factor against myopia progression in children (RR: 0.329 (0.157-0.687); p<0.05), even though another factor such as near-work, outdoors activities, and hereditary factor could confound the progression. Conclusion : Children who are routinely playing badminton show less myopia progression. There is statistically significance but not clinically significant difference in myopia progression between two groups. Playing badminton is a protective factor towards myopia progression
Kesesuaian Pengukuran Reading Acuity dengan Menggunakan Cicendo Word Reading Chart dan dengan Menggunakan Bailey Lovie Word Reading Chart Konvensional Kukuh Prasetyo; Susanti Natalya; Andrew M H Knoch
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 1 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i1.175

Abstract

Pendahuluan : Tajam penglihatan baca dekat adalah salah satu fungsi penglihatan yang dapat diukur menggunakan beberapa isntrumen. Tajam penglihatan baca dekat dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa. Kartu tes baca dekat yang tersedia saat ini yang tersedia berbahasa Inggris (Bailey Lovie Word reading chart). Cicendo Word Reading Chart adalah kartu tes baca yang menggunakan Bahasa Indonesia dan memiliki notasi pengukuran LogMAR, M, dan notasi M yang digunakan p;ada jarak baca normal 40 cm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pengukuran tajam penglihatan baca dekat tantara dua kartu tes baca tersebut. Metode : Penelitian ini adalah penelitian cross sectional yang mengukur kesesuaian antara dua kartu tes baca dekat. Perbedaan rerata (mean difference) antara kedua pengukuran digambarkan dalam bentuk kurva Bland- Altman. Sampel dari penelitian ini adalah residen Ilmu Kesehatan Mata yang berada di PMN RS Mata Cicendo. Tiga refraksionis mengukur tajam penglihatan jauh dan tajam penglihatan baca dekat melalui dua pengukuran. Hasil : Terdapat 49 sampel pada penelitian ini. Perbedaan rerata antara dua pengukuran adalah 0.0078 dengan batas kesesuaian (limit of agreement) -0.118 hingga 0.113. Koefisien korelasi yang diperoleh adalah 0.35 dengan p value 0.001 sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat korelasi yang bermakna secara statistik pada pengukuran dengan menggunakan kedua kartu tes baca dekat tersebut. Kesimpulan : Cicendo Word reading chart dapat digunakan sebagai instrument pemeriksaan tajam penglihatan baca dekat pada lingkungan klinis untuk pasien yang hanya dapat berbahasa Indonesia dengan jarak baca normal 40 cm.
Pergeseran Pola Penyebab Kebutaan dalam Kaitan Analisa Biaya Kesehatan Tjahjono D Gondhowiardjo
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 1 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i1.177

Abstract

Secara global telah diterima bahwa perkembangan kemampuan ekonomi suatu Negara, berjalan parallel dengan peningkatan usia harapan hidup masyarakat-nya. Saat ini, usia harapan hidup penduduk Indonesia, berkisar antara 69 tahun (pria) dan 72 tahun (wanita). Kondisi demograpik ini secara tidak langsung akan terkait dengan pergeseran distribusi pola penyakit, terutama pergeseran pola penyakit berdasarkan infeksi menjadi pola penyakit/keadaan degeneratif yang terkait dengan gaya hidup. Hal itu dapat terlihat pada edisi ini, yang di-dominasi oleh makalah segment posterior yang terkait dengan peningkatan usia harapan hidup dan degenerasi (age related macular degeneration), atau kondisi yang secara tidak langsung merupakan refleksi gaya hidup (Diabetes Mellitus atau kualitas viskositas darah). Kondisi tsb memperlihatkan bahwa, walaupun jaringan bolamata bersifat sangat spesifik dan merupakan suatu kompartemen yang relatif terpisah dengan adanya sawar darah-bolamata, namun tetap terkait dengan berbagai kondisi sistemik; sehingga bolamata dapat menjadi “jendela” kondisi sistemik. Pergeseran pola penyebab kebutaan ke sisi segmen posterior, menuntut peningkatkan peralatan diagnostik digital dan peralatan intervensi yang lebih canggih, seperti foto-koagulasi laser, vitrektomi dan penggunaan berbagai jenis gas, yang tentunya menuntut keterampilan khusus baik bagi operator maupun paramedis-nya; serta pengobatan anti vascular endothelial growth factor (anti VEGF) secara serial yang relatif mahal, sebagaimana ketiga makalah yang ditampilkan. Pergeseran pola penyakit tsb, secara tidak langsung menuntut kita, baik sebagai insititusi pelayanan ataupun pendidikan, maupun sebagai individu untuk ikut menyesuaikan diri, terutama dalam mengembangkan pola fikir untuk selalu dapat memberikan yang terbaik bagi pasien-pasien kita. Namun sayangnya, tanpa sadar kita telah membuat dinding-dinding pembatas yang cenderung membatasi upaya pencapaian tujuan; dan yang relatif dibuat tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi lokal. Berbagai batasan tsb, baik yang terjadi secara internal, maupun external telah membelenggu kita terhadap kemungkinan menumbuhkan daya inovasi maupun kreativitas untuk pengembangan keilmuan demi kemaslahatan masyarakat. Pada era jaminan kesehatan saat ini, pengobatan anti VEGF awalnya mendapat pembiayaan, namun kemudian di hentikan karena pembiayaan terhadap upaya pencegahan kebutaan yang dianggap terlalu tinggi. Hal itu terjadi, antara lain karena penolakan terhadap bukti ilmiah yang menyatakan bahwa sekalipun preparat anti VEGF dengan harga yang lebih murah, terdaftar untuk kondisi lain; namun terbukti tidak ada perbedaan effektivitas dibandingkan dengan jenis obat yang spesifik untuk kelainan mata yang lebih mahal. Selain itu, karena pengabaian pernyataan Badan Kesehatan Dunia yang menyatakan bahwa obat tsb termasuk obat essential untuk pencegahan kebutaan. Penghentian pendanaan itu, merupakan ironi karena di berbagai Negara tetangga dengan pendapatan domestik yang lebih tinggi, justru memperbolehkan penggunaan obat tsb. Di berbagai Negara maju, dasar penentuan prioritas pendanaan pemerintah dibuat berdasarkan kajian biaya penatalaksaan / tindakan langsung, serta kerugian akibat terjadi pengabaian karena hilangnya potensi individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam sisi sosial dan ekonomi bagi Negara (health technology assessment / HTA), berjalan lurus dengan besaran nilai prevalensi, dan Year of Lost Life due to Disability (YLD) serta (disability of activity loss / DALY) akibat suatu kondisi / penyakit. Nilai YLD dan DALY menampilkan besaran kehilangan produktivitas individu, akibat suatu penyakit dan dampaknya pada besaran biaya kesehatan yang harus ditanggung; data tersebut dibandingkan dengan nilai serupa untuk penyakit/keadaan lain, seperti stroke, gangguan kardio-vaskular, berbagai jenis kanker dll.
Status Penglihatan Pasien Makroadenoma Hipofisis Pasca Bedah Transphenoid Reny Setyowati; Adiguno Suryo Wicaksono; Rahmat Andi Hartanto; Indra Tri Mahayana; Suhardjo Prawiroranu
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 2 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i2.178

Abstract

AIM: The main aim of surgery in pituitary macroadenoma are restoration of visual acuity and visual field defects by decompression of the optic chiasm. Pituitary macroadenoma has slow growth pattern. This study describes the visual status of patients with pituitary macroadenoma and the post operative results. METHODS: Retrospective, descriptive interventional study of patients with pituitary adenoma underwent transphenoid surgery at Dr Sardjito General Hospital, Yogyakarta. RESULTS: There were 7 patients age 29-65 years old, mean age was 42 years old, consist of 3 male and 4 female and were followed-up varies between 1 until 6 months. There was history of previous transphenoid surgery in 1 patients. Duration of patient’s complaint varies between 1 until 36 months and the mean duration was 12 months. In 6 patients there were bitemporal hemianopia and 1 patients had general depression visual field defect. Visual acuity pre operative was between 0,003 until 1,0 , and the mean visual acuity was 0,1 (right eye) and 0,18 (left eye). Visual acuity post operative was between no light preception until 1,0 , and the mean visual acuity was 0,27 (right eye) and 0,19 (left eye) but there were no statistically significant differences. Fundus examination reveal optic atrophy in all patients. CONCLUSION: Transphenoidal surgery is the treatment of choice in patients with pituitary macroadenoma. Prolonged duration of symptoms and delay of surgery may impact the visual status KEYWORDS: Visual status, visual field defect, pituitary macroadenoma, transphenoid surgery, post operative
Perbandingan Efisiensi dan Keamanan Fakoemulsifikasi Transversal-Longitudinal Sistem Peristaltik dengan Sistem Venturi pada Katarak Derajat Sedang-Keras Maulia Fitra Purnama; Bondan Harmani; Syska Widyawati; Amir Shidik; Aria Kekalih
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 2 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i2.181

Abstract

Tujuan: Untuk membandingkan tingkat efisiensi dan keamanan antara teknologi Ellips FX-sistem Peristaltik dan Ellips FX-sistem Venturi pada fakoemulsifkasi katarak derajat sedang keras. Metode: terdapat 48 pasien yang terseleksi untuk dilakukan randomisasi di RSCM pada periode January 2016 – Juni 2016. Dilakukan pengukuran densitas sel endotel dan ketebalan kornea sentral. Efisiensi dinilai dari effective phaco time (EFX). Mesin fakoemulsifikasi yang digunakan adalah Signature Ellips FX®. Hasil :nilai median phaco time kedua grup tidak berbeda signifikan (190 vs 184 detik, p>0.05). Penurunan densitas sel endotel dan peningkatan ketebalan kornea sentral tidak berbeda signifikan. Tidak ada komplikasi yang terjadi pada penelitian ini. Kesimpulan: tingkat efisiensi dan keamanan pada Ellips FX-Peristaltik and Ellips FX-Venturi adalah sama. Kata kunci: densitas sel endotel, ketebalan kornea sentral, transversal, ellips FX, peristaltik, venturi.
Pneumatic Retinopexy in Rhegmatogenous Retinal Detachment : Case Series Fauzan Teuku Banta; Ari Djatikusumo; Elvioza Elvioza; Gitalisa Andayani; Anggun Rama Yudhanta; Mario Marbungaran Hutapea; Andi Arus Victor
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 2 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i2.184

Abstract

In the case of rhegmatogenous retinal detachment (RRD), pneumatic retinopexy is an alternative choice besides scleral buckling and pars plana vitrectomy. This case series describes two cases of RRD with superotemporal tear treated succesfully with pneumatic retinopexy. The expandable gas used in this study was 0.4 cc perfluoropropane (C3F8) gas, patient’s head is immediately positioned face down (prone), then slowly turned into an upright position in accordance with the tear for 1-3 days. Laser retinopexy using an argon laser is performed after the retina is properly reattached. Ten months after pneumatic retinopexy, the VA of RE in case I remained at 6/18 with reattached retina. At four weeks, VA of RE in case II was at 3/60 with reattached retina. VA of both cases was relatively satisfactory with retinal reattachment in a single procedure. The anatomical and functional success of pneumatic retinopexy is related to macular status before surgery, retinal detachment area, phakic status, or the presence of PVR and high myopia.