cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 624 Documents
Preface Amerta Volume 40, Nomor 2, Tahun 2022 BRIN
AMERTA Vol. 40 No. 2 (2022)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendix Amerta Volume 40, Nomor 2, Tahun 2022 BRIN
AMERTA Vol. 40 No. 2 (2022)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi Desa Dawan Berdasarkan Rekaman Prasasti Prasi A I Wayan Srijaya; Kadek Dedy Prawirajaya R.
AMERTA Vol. 42 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2024.1100

Abstract

Abstract. The Existence of Dawan Village Based on Records of Prasi Inscriptions A. Inscriptions are one of the sources with very good authenticity value. This is because the inscriptions were issued directly on the orders of the king or ruler. Inscriptions, as written sources  revealing various aspects of past life, are written using different scripts and languages. Some use the Prenagari script and Sanskrit, Old Javanese script and the Old Javanese, Old Balinese script and the Old Balinese, and so on. In this study, the inscription used to reveal the existence of Dawan Village is the Prasi A inscription issued in the Çaka year of 1070 (1148 AD) by King Sri Maharaja Jayasakti. This king was one of the rulers of the ancient Balinese kingdom who, during his reign, issued many inscriptions. This Prasi A inscription was issued by the king at the request of karaman i besan whose agricultural land was taken over by karaman i dahwan/dawan. karaman i besan request was granted by the king so this inscription was issued. Since then, karaman i besan has received the king’s grace to strengthen the previous king’s grace. Apart from that, the inscription also includes a sapatha, or curse, for anyone who dares to violate this gift so that they will be punished, along with an appeal to the gods. Keywords: Dawan Village, Sri Maharaja Jayasakti, 9-14th Century   Abstrak. Prasasti merupakan salah satu sumber yang memiliki nilai autentitas sangat baik. Hal ini disebabkan karena prasasti dikeluarkan langsung atas perintah raja atau penguasa. Prasasti sebagai sumber tertulis dalam mengungkap berbagai aspek kehidupan masa lalu, ditulis dengan menggunakan aksara dan bahasa yang berbeda-beda. Ada yang memakai aksara Prenagari dan bahasa Sansekerta, aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno, aksara Bali Kuno dan bahasa Bali Kuno, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, prasasti yang digunakan untuk mengungkap eksistensi Desa Dawan adalah Prasasti Prasi A yang dikeluarkan tahun  1070 S (1148 M) oleh raja Sri Maharaja Jayasakti. Raja ini merupakan salah satu penguasa kerajaan Bali Kuno yang selama memerintah mengeluarkan banyak prasasti. Prasasti Prasi A ini, dikeluarkan raja atas permohonan karaman i besan yang lahan pertaniannya diambil alih oleh karaman i dahwan/dawan. Permohonan untuk mengatasi pengambilan lahan milik karaman i besan dikabulkan oleh raja sehingga dikeluarkanlah prasasti ini. Sejak saat itu karaman i besan mendapat anugrah raja untuk menguatkan kembali anugrah raja sebelumnya. Selain itu, dalam prasasti disertakan pula sapatha atau kutukan kepada siapa saja yang berani melanggar anugerah ini agar mendapat sanksi disertai pula seruan kepada dewa-dewa. Kata kunci: Desa Dawan, Sri Maharaja Jayasakti, Abad ke-9-14
Dinamika Ekonomi di Lintasan Kereta Api Cirebon—Kadipaten pada Abad ke 19–20 M Rus Yanti; Dewangga Eka Mahardian; Iwan Hermawan; Katrynada Jauharatna
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.1995

Abstract

Abstract. The Economic Dynamics along the Cirebon-Kadipaten Railway Route in the 19th–20th Centuries. The Dutch East Indies government built many facilities and infrastructures related to the economy. The railway line, which began construction in the 19th century, became one of the driving forces that transformed the Cirebon—Kadipaten region into bustling economic centres. Cirebon-Kadipaten is one of the ancient routes formerly traversed by trains from the Dutch company Semarang-Cheribon Stroomtram Maatschappij (SCS), leaving behind many archaeological traces. The SCS route also enlivened the economic centres along its western path, such as sugar factories and markets. The ebbs and flows of the economy along the western route and its impact on urban development remain unknown. Through literature reviews and field surveys, this paper identifies economic centres along the western SCS route and assesses the extent to which this route impacted urban development in an effort to reconstruct local history. The research results indicate active economic centres peaking in the early 20th century. Sharp economic fluctuations began occurring in the late 20th century due to economic decline, affecting the takeover of economic assets, decreased trading activities, and repurposing of economic buildings. This decline ultimately marked the end of the economic golden age along the western route (Kadipaten) coinciding with the demise of the railway line that supported it, and urban development entered a stagnant phase. These setbacks eventually marked the end of the economic golden age along the western route (Kadipaten) coinciding with the demise of the railway line that supported it, and urban development remained stagnant. However, there were tendencies towards eastern development again at the beginning of the millennium, reminiscent of the 19th century, characterized by bustling local markets, local artisans, and Pecinan shophouses.   Keywords: Cirebon, Semarang Cheribon Stroomtram, Kadipaten, railway, economic centres   Abstrak. Pemerintah Hindia Belanda membangun banyak sarana dan prasarana yang berkaitan dengan perekonomian. Jalur kereta api yang mulai dibangun pada abad ke-19 menjadi salah satu motor penggerak yang mengubah daerah Cirebon--Kadipaten menjadi kantung-kantung ekonomi yang tidak pernah sepi. Cirebon—Kadipaten merupakan salah satu jalur kuno yang dulu pernah dilintasi kereta api buatan perusahaan Belanda bernama Semarang-Cheribon Stroomtram Maatschappij (SCS) yang banyak meninggalkan bukti arkeologis. Lintasan SCS juga turut meramaikan kantung-kantung ekonomi yang dilaluinya di jalur barat, seperti pabrik gula dan pasar.  Bagaimana pasang surut perekonomian di jalur barat dan dampaknya terhadap perkembangan kota, masih belum diketahui. Melalui studi pustaka dan survei lapangan, tulisan ini mengidentifikasi kantung-kantung ekonomi di sepanjang jalur barat SCS dan menakar sejauh mana jalur tersebut berdampak terhadap perkembangan kota sebagai upaya rekonstruksi sejarah lokal. Hasil penelitian menunjukkan kantung-kantung ekonomi aktif dan mencapai puncaknya pada awal abad ke-20. Fluktuasi ekonomi yang tajam mulai terjadi pada akhir abad ke-20 sebagai imbas dari kemunduran ekonomi (malaise) yang berdampak pada pengambilalihan aset ekonomi, penurunan aktivitas perdagangan, serta pengalihfungsian bangunan-bangunan ekonomi. Kemunduran tersebut pada akhirnya menandai berakhirnya masa keemasan perekonomian di jalur barat (Kadipaten) bersamaan dengan matinya jalur kereta api yang menghidupinya, dan perkembangan kota berada pada fase stagnan, tetapi ada kecenderungan pada awal millennium, perkembangan tersebut kembali ke arah timur, seperti pada abad ke-19, yang ditandai dengan berkembangnya keramaian di pasar-pasar lokal, pengrajin lokal, dan ruko-ruko di Pecinan.  Kata kunci: Cirebon, Semarang Cirebon Stroomtram, Kadipaten, kereta api, kantung ekonomi
Prasasti Tanduk dari Mendapo Rawang Kerinci: Genealogi, Migrasi, dan Relasi Leluhur Orang Kerinci Hafiful Hadi Sunliensyar
AMERTA Vol. 42 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2024.2945

Abstract

Abstract. The Horn Inscription from Mendapo Rawang Kerinci: Genealogy, Migration, and Relation of the Ancestors of Kerinci Society. The horn inscription is a typical inscription with a limited distribution in the Southern Sumatra region. These inscriptions were written using local scripts such as the Ulu Script, Lampung Script, and Incung Script. The existence of horn inscriptions in Kerinci has been researched since the Colonial Era by Voorhoeve (1941). However, the result of their research is still limited to transliterating inscriptions. Digitization of the horn inscriptions by the British Library through the EAP117 program in the Mendapo Rawang Kerinci makes it possible to re-read the horn inscriptions. These digitalized inscriptions are the Depati Awal-Depati Janggut Inscription, the Datuk Kitam Inscription, and Depati Sungai Laga Inscription. This research aims to transliterate and translate these horn inscriptions and interpret their contents. The method in this research consists of data collection, pre-analytic or data processing, analysis, and interpretation. The result of this research is that the horn inscriptions from Mendapo Rawang contain information about the origin of the ancestors of the local community who came from other settlements through the migration process. They built a new community in a new settlement with matrimony and socio-political relations. The result of the matrimony relation is explained in genealogical text clearly. The Mendapo Rawang’s inscriptions also contain information about the hierarchy of the system of community leadership consisting of dipati and manti. In addition, the inscriptions suggest the regional socio-political relation between the leaders of the community in Kerinci and Jambi Sultanate through the agent who held the title jenang. Keywords: Horn Inscription, Mendapo Rawang, Incung Script, Kerinci, Jambi Sultanate   Abstrak. Prasasti tanduk merupakan prasasti yang khas dengan sebaran terbatas di Kawasan Sumatra Bagian Selatan. Prasasti ini umumnya ditulis menggunakan aksara lokal, seperti Aksara Ulu, Aksara Lampung, dan Aksara Incung Kerinci. Keberadaan prasasti tanduk di Kerinci telah diteliti sejak era Kolonial, seperti yang dilakukan oleh Voorhoeve (1941). Namun demikian, penelitian yang dilakukan masih sangat terbatas pada alih aksara prasasti. Digitalisasi prasasti tanduk oleh British Library melalui program EAP117 memungkinkan untuk membaca kembali prasasti tanduk di Kerinci terutama dari wilayah adat Mendapo Rawang. Prasasti-prasasti yang didigitalisasi tersebut adalah Prasasti Depati AwalDepati Janggut, Prasasti Datuk Kitam, dan Prasasti Depati Sungai Laga. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan alih aksara dan alih bahasa dua prasasti tanduk tersebut serta melakukan interpretasi terhadap kandungan isinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pengumpulan data, pra-analisis atau pengolahan data, analisis dan interpretasi isi prasasti. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah prasasti tanduk dari Mendapo Rawang berisi tentang asal usul leluhur komunitas yang berasal dari permukiman lain melalui proses migrasi. Mereka membentuk komunitas baru di permukiman baru melalui relasi perkawinan dan sosial-politik. Hasil relasi perkawinan dijelaskan secara jelas melalui teks genealogi. Prasasti dari Mendapo Rawang juga menjelaskan hirarki sistem kepemimpinan komunitas adat yang terdiri dari dipati dan manti. Sebagai tambahan, prasasti tersebut juga mengindikasikan adanya relasi sosial-politik regional antara pemimpin komunitas di Kerinci dengan Kesultanan Jambi melalui agen yang disebut jenang. Kata Kunci: Prasasti Tanduk, Mendapo Rawang, Aksara Incung, Kerinci, Kesultanan Jambi
Candi Keboireng: Aspek Keagamaan dan Kronologinya Muhammad Azzam Al Haq; Niken Wirasanti
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.3002

Abstract

Abstract. Keboireng Temple: Its Religious Aspects and Chronology. Various aspects of the existence of temples can be studied, one of which is the religious background underlying the construction of the temple. Generally, the identification of the religious background of temple buildings can be based on the presence of the main deity statue worshipped in the temple. However, not all temples are rediscovered in intact condition, one of which is the Keboireng Temple. Therefore, the identification of the religious background of Keboireng Temple is carried out by utilising the data of decorative elements (kāla), written source data (inscriptions and ancient manuscripts), and toponyms. The kāla of Keboireng Temple is unique because it is depicted grasping and biting an object until it bends. Such a depiction of kāla is not commonly found. The Mūla Maluruŋ inscription mentions the existence of a place of worship of Bhairawa, one of the terrifying manifestations of the Hindu deity Śhiva, in Kapulungan. Other data sources were used to find the connection between the toponym of Kapulungan and Keboireng Temple. The analysis of the unique depiction of kāla, the description in the Mūla Maluruŋ inscription, and the identification of the Kapulungan toponym lead to the conclusion that Keboireng Temple in its original context was a temple for followers of the Bhairawa sect that flourished during the Siŋhasāri period. Keywords: Keboireng Temple, Religious Background, Kāla Ornament, Kapulungan, Bhairawa   Abstrak. Terdapat berbagai aspek yang dapat dikaji mengenai keberadaan candi, salah satunya adalah latar keagamaan yang mendasari pembangunan candi tersebut. Pada umumnya, identifikasi latar keagamaan bangunan candi dapat didasarkan pada keberadaan arca utama yang dipuja di candi. Namun, tidak semua candi ditemukan kembali dalam keadaan utuh, salah satunya adalah Candi Keboireng. Oleh karena itu, identifikasi latar keagamaan Candi Keboireng dilakukan dengan memanfaatkan data ragam hias (kāla), data sumber tertulis (prasasti dan naskah kuno), dan toponimi. Kāla Candi Keboireng memiliki keunikan karena digambarkan menggenggam dan menggigit sebuah objek hingga bengkok. Penggambaran kāla tersebut tidak umum dijumpai. Prasasti Mūla Maluruŋ menyebutkan adanya tempat pemujaan Bhairawa, salah satu manifestasi Dewa Śiwa dalam agama Hindu yang berwujud mengerikan, di Kapulungan. Sumber data lain digunakan untuk mencari keterkaitan antara toponimi Kapulungan dengan Candi Keboireng. Analisis terhadap penggambaran kāla yang unik, keterangan dalam prasasti Mūla Maluruŋ, serta identifikasi atas toponimi Kapulungan menghasilkan kesimpulan bahwa Candi Keboireng dalam konteks aslinya merupakan sebuah kuil untuk penganut aliran Bhairawa yang berkembang pesat pada masa Siŋhasāri.  Kata kunci: Candi Keboireng, Latar Keagamaan, Kāla, Kapulungan, Bhairawa
Meninjau Ulang Candi Boyolangu sebagai Pendharmaan Gayatri Rajapatni Muhamad Satok Yusuf
AMERTA Vol. 42 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2024.3076

Abstract

Abstract. The Re-interpretation of The Boyolangu Temple as The Place of Worship of Gayatri Rajapatni. This research attempts to criticize the experts’ debate on the location of Gayatri Rajapatni’s place of worship. Most experts identify this place as Boyolangu Temple in Tulungagung Regency, East Java. This research uses a qualitative descriptive approach involving data collection, processing, analysis, and interpretation. Comparative analysis was conducted on the Prajñāpāramitā statue in the Boyolangu Temple with the Siŋhasāri-style statue. Contextual analysis considers the context of the position of the river as a real and political boundary during the period of the Ancient Mataram and Siŋhasāri-Majapahit. The research findings indicate that two temples are dedicated to Rajapatni in different places and built at different times. The first temple, named Prajñāpāramitāpuri, was built in Kamal Pandak in 1287 Saka (1365 AD). The current location of Kamal Pandak is now Asem Kandang Village, Pasuruan Regency, downstream of the Brantas River. The temple structure has collapsed and has been converted into the tomb of Mbah Damarwulan. The second temple, named Wiśeṣapura at Bhayālangö, was built in 1291 Saka (1369 AD). The location of Bhayālangö is still preserved as the name of a village and sub-district in Tulungagung Regency, upstream of the Brantas River. Wiśeṣapura Temple in Bhayālangö is now known as Boyolangu Temple or Gayatri Temple. The construction of these two temples was a claim of King Hayam Wuruk’s hegemony to reunite the Java island, which had been divided into two kingdoms during the reign of King Airlangga. The discovery of the Prajñāpāramitā statue at Boyolangu Temple represents a Buddhist goddess statue from the Siŋhasāri period, transformed into a Rajapatni embodiment statue during the Majapahit era. Keywords: Boyolangu Temple, The Place of Worship of Rajapatni, Wiśeṣapura ri Bhayālangö, Transformation of Position, Prajñāpāramitā Statue   Abstrak. Penelitian ini berupaya mengkritisi perdebatan para ahli mengenai tempat pendharmaan Gayatri Rajapatni. Mayoritas ahli menyebut tempat tersebut sebagai Candi Boyolangu di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data. Analisis perbandingan dilakukan terhadap arca Prajñāpāramitā di Candi Boyolangu dengan arca bercorak Siŋhasāri. Analisis kontekstual mempertimbangkan konteks kedudukan sungai sebagai pembatas nyata dan politis pada masa Mataram Kuno dan Siŋhasāri-Majapahit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua candi pendharmaan Rajapatni di dua tempat berbeda dan dibangun pada waktu yang berbeda. Candi pertama bernama Prajñāpāramitāpuri yang didirikan di Kamal Pandak pada tahun 1287 S (1365 M). Lokasi Kamal Pandak sekarang menjadi Desa Asem Kandang, Kabupaten Pasuruan di hilir Sungai Brantas. Bangunan candi telah runtuh dan sekarang diubah menjadi makam Mbah Damarwulan. Candi kedua bernama Wiśeṣapura di Bhayālangö yang dibangun pada tahun 1291 S (1369 M). Lokasi Bhayālangö masih lestari menjadi nama desa dan kecamatan di Kabupaten Tulungagung, di hulu Sungai Brantas. Candi Wiśeṣapura di Bhayālangö sekarang dikenal sebagai Candi Boyolangu atau Candi Gayatri. Pembangunan dua candi tersebut sebagai klaim hegemoni Raja Hayam Wuruk untuk menyatukan kembali pulau Jawa yang pernah dibelah menjadi dua pada masa Airlangga. Adapun temuan arca Prajñāpāramitā di Candi Boyolangu merupakan arca dewi Buddhis dari periode Siŋhasāri yang ditransformasikan kedudukannya sebagai arca perwujudan Rajapatni pada masa Majapahit. Kata kunci:  Candi Boyolangu,  Pendharmaan  Rajapatni,  Wiśeṣapura  ri  Bhayālangö,  Transformasi Kedudukan, Arca Prajñāpāramitā
Cover Amerta Volume 41, Nomor 1, Tahun 2023 BRIN
AMERTA Vol. 41 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preface Amerta Volume 41, Nomor 1, Tahun 2023 BRIN
AMERTA Vol. 41 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interpretasi Ragam Hias Naga pada Candi Naga Panataran: Sebuah Kajian Semiotik Peirce Kyra Andhayu Noer; Dwi Pradnyawan
AMERTA Vol. 42 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2024.3119

Abstract

Abstract. Interpretation of Serpent Decorative Patterns in the Panataran Naga Temple: A Peircean Semiotic Study. Decorative patterns are an integral component of temple architecture. Their presence is to depict the identity and significance of a temple. Among the various decorative patterns, mythological creatures such as serpents are typical features used in temple architecture. This is evident in the Naga Temple located in the Panataran Temple Complex. This research examines the decorative patterns found in the Naga Temple, along with their meanings, which can be linked to the function of the Naga Temple. This effort was undertaken by interpreting the meaning of the decorative patterns at Naga Temple using Peirce’s Semiotic theory, referencing the story of Samudramanthana from the Adiparwa Book. It is important to note that the presence of serpent motifs at Naga Temple does not entirely depict the Samudramanthana story. This argument is supported by the absence of the depiction of Asuras, which are integral to the Samudramanthana narrative. However, the presence of a serpent figure in the decorative patterns of the Naga Temple symbolises the mythology surrounding serpent creatures. This is related to the serpent being a sacred intermediary creature between the upper and lower worlds. The interpretation of the serpent decorative patterns then influences the function of the Naga Temple. Through the presence of signs in the form of serpent decorative patterns, the Naga Temple can be interpreted as a “connecting place” that bridges profane and sacred activities in the worship rites within the Panataran Temple Complex. Keywords: Naga Temple, Serpent Decorative Patterns, Semiotics, Connecting Structure   Abstrak. Ragam hias merupakan salah satu komponen dalam arsitektur candi. Keberadaan ragam hias menjadi sebuah penyerta yang dapat menggambarkan identitas dan pemaknaan sebuah candi. Diantara variasi ragam hias, makhluk mitologi berupa naga menjadi ragam hias khas yang digunakan dalam arsitektur candi. Hal ini tampak pada Candi Naga yang berada di Kompleks Percandian Panataran. Penelitian ini menelisik bagaimana variasi ragam hias yang ada di Candi Naga, beserta pemaknaannya yang dapat dikaitkan dengan fungsi Candi Naga. Upaya tersebut dilakukan dengan menginterpretasi makna ragam hias di Candi Naga menggunakan teori Semiotik Peirce dengan mengacu cerita Samudramanthana yang terdapat pada Kitab Adiparwa. Keberadaan ragam hias Naga pada Candi Naga tidak sepenuhnya merupakan penggambaran atas cerita Samudramanthana. Argumen tersebut didukung fakta bahwa tidak adanya penggambaran Asura yang menjadi pelengkap cerita Samudramanthana. Ikon naga sendiri dalam ragam hias di Candi Naga merupakan tanda dari adanya mitologi mengenai makhluk naga. Hal ini berkaitan dengan hewan naga yang menjadi makhluk perantara dunia atas dan bawah yang disucikan oleh masyarakat. Adanya interpretasi ragam hias naga tersebut kemudian mempengaruhi fungsi Candi Naga. Oleh sebab itu, Candi Naga dapat dimaknai sebagai “tempat penghubung” yang menghubungkan aktivitas profan dan sakral dalam ritus peribadatan di Kompleks Percandian Panataran. Kata Kunci:  Bangunan Penghubung, Candi Naga, Ragam Hias Naga, Semiotik

Page 3 of 63 | Total Record : 624