cover
Contact Name
Sudadi
Contact Email
dsudadi@ugm.ac.id
Phone
+62811254834
Journal Mail Official
jka.jogja@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Komplikasi Anestesi
ISSN : 23546514     EISSN : 26155818     DOI : https://doi.org/10.22146/jka.v11i2.12773
Core Subject : Health,
JURNAL KOMPLIKASI ANESTESI (e-ISSN 2354-6514) is a scientific and original journal which published as a forum for various scientific articles including research, literature reviews, case reports and recent book reviews. The presence of this journal, it is hoped that it can provide input of knowledge and knowledge in the field of Anesthesiology and Intensive Therapy for medical personnel.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)" : 11 Documents clear
Patient Controlled Analgesia (PCA) Post Operation Purnomo, Dedi Pujo; Mahmud; Uyun, Yusmein
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7201

Abstract

Pengendalian nyeri pasca bedah merupakan komponen yang penting dalam perawatan pasien setelah pembedahan. Manajemen nyeri yang tidak adekuat berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Pengalaman nyeri pasca bedah, bagi beberapa orang mungkin merupakan pengalaman nyeri yang paling menyakitkan selama hidupnya apalagi jika tidak ditangani secara profesional dan intensif.Penilaian dan pengobatan nyeri telah menjadi prioritas dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah diperkenalkannya regulasi standard dan survey kepuasan pasien terhadap penanganan nyeri dengan metode penilaian kepuasan pasien. Penggunaan PCA secara tepat dan akurat adalah suatu metode yang efektif dan efi sien untuk mengontrol nyeri akut yang berat, dengan penurunan resiko sedasi yang bermakna dan sangat potensial untuk meningkatkan manajeman nyeri pada pasien. PCA adalah suatu metode pemberian obat-obat analgesik dengan menggunakan pompa intravena sesuai dengan kebutuhan pasien dan diatur sendiri oleh pasien, yang bertujuan untuk memberikan analgesi yang adekuat dan dapat mengoptimalkan pemberian analgesi opioid dan meminimalkan efek variabilitas farmakokinetik dan farmakodinamik, tanpa menimbulkan efek samping obat yang membahayakan. PCA adalah proses dimana pasien dapat menentukan kapan dan berapa banyak obat yang mereka terima, atau istilah ini lebih umum digunakan untuk menggambarkan metode untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan peralatan infus elektronik yang memungkinkan pasien untuk memberikan sendiri obat analgesi, biasanya opioid intravena sesuai keperluan.
Trombositopenia Sebagai Prediktor Kematian pada Pasien Sepsis di ICU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Susilo, Heru; FRW, Calcarina; Widodo, Untung
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7202

Abstract

Latar belakang. Trombositopenia pada sepsis dapat terjadi akibat adanya aktivasi trombosit, secara langsung oleh endotoksin atau sitokin proinfl amasi. Keadaan ini selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi platelet dan polipeptida faktor koagulasi, serta meluasnya thrombosis dan deposit fibrin pada mikrovaskular. Trombosis mikrovaskular dan iskemik akan memberikan kontribusi terjadinya cidera jaringan dan sindrom disfungsi organ multipel. Beratnya trombositopenia berhubungan dengan buruknyaluaran pasien sepsis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah trombositopenia mempunyai nilai prediktif untuk kematian pada pasien sepsis di ICU RSUP dr. Sardjito.Metode. Studi kohort retrospektif. Penelitian dilakukan di Instalasi Catatan Medik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama 1 bulan (November 2013). Setelah keluarnya ethical approval dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Subyek: 92 pasien sepsis yang menjalani rawat inap di ICURSUP dr. Sardjito antara bulan Juli 2012 hingga Oktober 2013. Sebanyak 52 pasien dengan trombositopenia dan 40 pasien tanpa trombositopenia. Dicatat skor jumlah trombosit, skor APACHE II dan luaran ICU.Hasil. Luaran meninggal pada kelompok pasien dengan trombositopenia sebanyak 46 pasien (88,5%) dan yang hidup sebanyak 6 pasien (11,5%), sedangkan pasien meninggal pada kelompok tanpa trombositopenia adalah sebanyak 28 pasien (70 %) dan pasien hidup adalah 12 pasien (30%). Hasil ini secara statistik terdapat perbedaan bermakna (p < 0,05; p = 0,027) dengan nilai RR (Risiko Relatif) sebesar 1,3. Terdapat perbedaan bermakna antara skor APACHE II saat masuk ICU, 26,38 ± 7,138 pada kelompokdengan trombositopenia dan 22,02 ± 7,734 pada kelompok pasien tanpa trombositpenia (p=0,006), demikian pula antara skor APACHE II pada kelompok pasien dengan trombositopenia yang meninggal(27,28 ± 6,699) dan yang hidup (19,50 ± 7,176) (p= 0,011). Jumlah trombosit rerata pada kelompok pasien dengan trombositopenia yang meninggal 66,02 ± 40,582 sel/μl sedangkan yang hidup 90,17 ± 42,310 sel/μl (p=0,018).Kesimpulan . Trombositopenia merupakan faktor prediktor kematian pasien sepsis di ICU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dimana pasien dengan trombositopenia mempunyai kemungkinan 1,3 kali lebih besar untuk meninggal dibandingkan pasien tanpa trombositopenia.
Faktor - Faktor Risiko Terjadinya AKI (Acute Kidney Injury) pada Pasien di ICU RSUP Dr. Sardjito Musda, Diva; RW, Calcarina Fitriani; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7205

Abstract

Latar belakang : Kejadian AKI (Acute Kidney Injury) masih mempunyai angka kematian yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis. AKI (Acute Kidney Injury) bisa diprediksi dengan menggunakan kriteria RIFLE (Risk-Injury-Failure-Loss-End stage renal failure). Kejadian AKI cukup tinggi ditemukan di unit rawat intensif. AKI merupakan terminologi baru dari gagal ginjal akut. Terminologi ini dianggap dapat menggambarkan tahapan kerusakan ginjal dari tahap awal sampai terjadinya kegagalan fungsi ginjal. Penggunaan istilah AKI diharapkan dapat mengenali gangguan fungsi ginjal sejak awal. Kriteria AKI menggunakan urin output dan angka kreatinin sebagai parameter pengukuran. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bahwa Sepsis, Hipovolemia, Hipotensi, Operasi jantung, DM, Usia > 60 tahun, penggunaan obat nefrotoksik, Gagal jantung kongestif dan Pre eklampsi berat merupakan faktor risiko terjadinya acute kidney injury (AKI) pada pasien yang dirawat di ICU RSUP dr.SardjitoMetode : Studi kohort retrospektif. Subyek penelitian yaitu 121 pasien yang menjalani rawat inap di ICU RS Sardjito pada bulan januari hingga maret 2013. Pasien yang dirawat di ICU RS Sardjito dengan data lengkap. Tidak ada pasien gagal jantung kongetif yang ditemukan dalam penelitian ini.Hasil : Dari penelitian ini hipotensi (RR 18.46 dan P value 0.0001), PEB (RR 15.85 dan P value 0.0001), dan sepsis (RR 5.32 dan P value 0.001) merupakan faktor risiko yang paling kuat dan secara independen dapat menyebabkan terjadinya AKI pada pasien yang dirawat di ICU RSUP dr Sardjito. Faktor risiko lain yang mempengaruhi terjadinya AKI yaitu hipovolemia, penggunaan obat nefrotoksik, dan usia lebih dari 60 tahun. Sedangkan DM tanpa komplikasi dan operasi jantung bukan merupakan faktor risiko AKI.Kesimpulan : Hipotensi, PEB, dan sepsis merupakan faktor risiko yang paling kuat dan secara independen dapat menyebabkan terjadinya AKI pada pasien yang dirawat di ICU RSUP dr Sardjito. Faktor risiko lain yang mempengaruhi terjadinya AKI yaitu hipovolemia, penggunaan obat nefrotoksik, dan usia lebih dari 60tahun. Sedangkan DM tanpa komplikasi dan operasi jantung bukan merupakan faktor risiko AKI.
Acute Kidney Injury (AKI) sebagai Faktor Prediktor Kematian Pasien di ICU RSUP Dr Sardjito Baskoro, Ronggo; RW, Calcarina Fitriani; Suryono, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7206

Abstract

Latar Belakang: AKI masih mempunyai angka kematian yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis. Prediksi dan diagnosis kejadian AKI dapat dilakukan dengan kriteria RIFLE. Angka kematian AKI di ICU dapat ditekan bila dilakukan deteksi dini. Hingga saat ini belum ada data mengenai angka kejadian pasien AKI di ICU RS Dr. Sardjito, sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui kejadian AKI tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui AKI sebagai faktor prediktor kematian pasien yang dirawat di ICURS Dr. Sardjito.Metode: Rancangan penelitian ini adalah kohort retrospektif. Subyek penelitian berjumlah 112 pasien dan semua adalah pasien yang menjalani rawat inap di ICU RSUP DR Sardjito Yogyakarta dimulai bulan Juni 2013 – Oktober 2013. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien lebih dari 18 tahun dan mempunyai data medis lengkap, sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien yang sudah tegak didiagnosis Chronic Kidney Disease (CKD) baik yang sudah menjalani hemodialisis rutin maupun yang masih menjalani terapi konservatif. Untuk melihat perjalanan kondisi pasien di ICU digunakan diagram fl ow Chart analisis data menggunakan regresi logistik untuk melihat odd ratio dari dampak nilai data karakteristik yang bermakna (p < 0,05) dari kelompok AKI dan Non-AKI. Model multivariabel yang digunakan adalah modelenter.. Nilai p < 0.05 dianggap bermakna secara statistik.Hasil: AKI merupakan faktor prediktor kematian pasien yang dirawat di ICU, dimana ditemukan nilai RR (risiko relatif) sebesar 8,0 yang artinya bahwa pasien pada kelompok AKI mempunyai kemungkinan 8,0 kali lebih besar untuk meninggal dibandingkan pasien pada kelompok Non-AKI. Selain itu juga didapatkanbahwa angka kematian pasien yang menderita AKI dengan kriteria Risk (R) adalah 31,7%, kriteria Injury (I) 75%, dan Failure (F) 71,4%. Kesimpulan: AKI dapat dijadikan prediktor kematian pasien yang dirawat di ICU.
Manajemen Pasien Acute Fatty Liver Of Pregnancy (AFLP) di ICU Handayani, Donna; Sari, Djayanti; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7207

Abstract

Dilaporkan penatalaksanaan pasien di ICU terhadap seorang wanita umur 31 tahun dengan berat badan 50kg dengan diagnosa acute fatty liver of pregnancy (AFLP) post SC atas indikasi fetal disstres. Pasien sebelumnya dirawat di bangsal obsgyn setelah sehari sebelumnya mengalami persalinan dengan seksio sesaria. Pasien terlihat lemah, gelisah dan ikterik/jaundice, dikonsulkan ke ICU dengan diagnosa dibangsal post SC emergency hari 1 atas indikasi fetal disstres, preterm, P2A0, sepsis disertai MODS. Pasien ditransport ke ICU dengan support oksigenasi NRM O2 10 L/mnt. Pada hari ke lima di ICU keadaan mulai membaik dan stabil, hari ke delapan pasien diperbolehkan pindah ke bangsal.
Tata Laksana Pasien Neurotoksik Snake Bite di Perawatan Intensif Marthysal, Audhiaz; Widodo, Untung; Sarosa, Pandit
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7208

Abstract

Pasien laki-laki usia 29 tahun masuk perawatan ICU dengan permasalahan penurunan kesadaran dan apneu setelah diketahui tergigit oleh ular, pasien didiagnosa dengan neurotoksik snakebite. Pasien dilakukan tindakan intubasi dan stabilisasi respirasi dengan pemasangan ventilator mode disesuaikan dengan kebutuhan. Pasien mendapat pertolongan pertama di rumah sakit sebelumnya dengan dilakukan pemberian anti bisa ular, bentuk dan jenis ular tidak diketahui. Setelah di RSUP Sardjito pasien di rawat di ICU selama 13 hari. Selama di ICU manajemen yang dilakukan berupa monitoring hemodinamik dan respirasi, manajemen luka gigitan, manajemen tetraparese dengan menggunakan reversal pelumpuh otot. Permasalah yang timbul selama perawatan berupa pneumonia akibat penggunaan ventilator yang lama, kultur darah dan sputum, perubahan komponen metabolik seperti elektrolit dan albumin. Pasien keluar perawatan ICU dengan perbaikan dari parese otot pernapasan, ekstrimitas, dan komponen metaboliklainnya.
Manajemen Akhir Hayat pada Pasien Kritis dI ICU Nur, Rifdhani Fakhrudin; Suryono, Bambang; Sarosa, Pandit
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7209

Abstract

Telah dilakukan manajemen akhir hayat pada pada seorang perempuan usia 63 tahun, dengan diagnosis ROSC pascahenti jantung, edema serebri difus, asidosis metabolik, anemia, dan hipoalbumin yang dirawat di ICU. Keadaan akhir hayat ditunjukkan dengan adanya tanda-tanda kematian batang otak dan kegagalan fungsional berupa kegagalan usaha nafas yang menetap pada pasien yang dapat menyebabkan kematian pada hari ke-3 perawatan. Dokter menjelaskan tentang kondisi akhir hayat pasien berupa tanda-tanda kematian batang otak, prognosis dan kemungkinan yang akan terjadi dan keputusan yang harus diambilkeluarga mengenai keadaan akhir hayat pada pasien. Keluarga memutuskan menerima kondisi pasien, meminta untuk meneruskan bantuan yang sekarang diberikan namun tidak melakukan pertolongan lanjut jika kondisi memburuk. Rohaniwan melakukan pendampingan berupa bimbingan rohani, konselingspiritual akhir hayat, bimbingan ibadah dan doa untuk pasien. Belum ada komunikasi yang intensif antara tim medis tentang kondisi akhir hayat pada pasien. Pendampingan dilakukan sampai saat kematian dengan mengundang keluarga, tidak melakukan resusitasi jantung paru sesuai permintaan keluarga dan menyatakan kematian pasien di hadapan keluarga.
Sindrom Emboli Lemak (Fat Embolism Syndrome) Fauzani N, Achmad; Sarosa, Pandit; Yudo P, Bhirowo
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7210

Abstract

Emboli lemak merupakan kondisi patologik yang biasa terjadi pada pasien multipel trauma atau bedah ortopedik, tetapi hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi sindrom klinis FES.Walaupun demikian kondisi yang berat seperti FES fulminan akut yang bermanifestasi pada beberapa sistem organ seperti kegagalan pernapasan, disfungsi cerebral, dan terkadang gangguan fungsi ginjal dapat terjadi dengan mortalitas sekitar5-15%. Sampai saat ini diagnosis FES masih mengandalkan kriteria klinis dari Gurd yang sudah ada sejak 40 tahun lalu, dan beberapa peneliti lainnya mencoba mengembangkan scoring untuk diagnosis klinis FES. Perkembangan teknologi diagnostik imaging dan laboratorium dapat membantu diagnostik FES namun belum ada yang cukup spesifik untuk FES. Tatalaksana FES berfokus pada suportif kegagalan fungsi organ, seperti oksigenasi dan ventilasi yang adekwat sesuai beratnya gangguan respirasi dan optimalisasi hemodinamik dangan kecukupan cairan intravaskular. Beberapaobat juga telah diuji untuk terapi FES namun belum ada yang menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Stabilisasi dini dari fraktur dan dan minimal manipulasi intramedullar tulang dipercayadapat menurunkan risiko terjadinya sindrom ini.
Penanganan Perioperatif Diabetes Mellitus Restu S, Meta; Rahardjo, Sri; Mahmud
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7211

Abstract

Diabetes Melitus merupakan penyebab tersering dalam golongan penyakit metabolik. Diagnosis klinis DM umumnya akan dipertimbangkan bila terdapat keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsi, polifagi, lemah dan penurunan BB yang tidak jelas penyebabnya. Pasien diabetes yang akan menjalani pembedahanmemiliki peningkatan angka mortalitas, dan pasien diabetes type 1 sangat beresiko untuk terjadinya komplikasi pasca operasi. Peningkatan prevalensi pasien diabetes yang akan dioperasi dan meningkatnya resiko komplikasi sehubungan dengan penyakit DM membutuhkan pemeriksaan dan pengelolaan perioperatif yang optimal. Data dari berbagai penelitian menunjukkan peningkatan angka kesakitan dankematian penderita DM yang signifikan. Kontrol gula darah yang tepat terbukti menurunkan kejadiankomplikaksi.Perioperatif DM diantaranya dengan melakukan evaluasi klinis pasien, menilai komplikasi serta kegagalanorgan melalui anamnesis dan pemeriksaan penunjang, selanjutnya dinilai status pembedahan pasien apakah emergensi atau elektif. Status pengontrolan gula pasien berdasarkan terapi yang telah diterimapasien harus dinilai. Pasien yang akan menjalani operasi emergensi dilakukan kontrol gula darah secara cepat, diberikan insulin kerja cepat untuk mengontrol keadaan hiperglikemi, dilakukan penilaian dan tatalaksana keadaan hiperglikemi emergensi seperti HHS atau KAD. Pada operasi elektif maka tatalaksana pasien dibagi berdasarkan lama durasi operasi; yaitu kecil, sedang, dan besar, kemudian ditentukan teknik anestesi terbaik untuk prosedur operasi yang akan dijalani.
Peran Ultrasonografi dalam Kegawatdaruratan Al-Munawar, Nira Muniroh; FRW, Calcarina; Jufan, Akhmad Yun
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7212

Abstract

Ultrasonografi (USG) merupakan piranti diagnostik yang memiliki banyak keunggulan, di antaranya menyajikan hasil “real time”, non-invasif, memiliki sensitivitas yang cukup tinggi, dan didukung dengan perlengkapan yang portable. Dengan segala keunggulan itu, USG kini banyak digunakan dalam bidang kegawatdaruratan untuk memberikan diagnostik yang cepat dan akurat sehingga penanganan dini yang sesuai dapat dilakukan. Protokol Rapid Ultrasound in Shock (RUSH) dan Bedside Lung Ultasound inEmergency (BLUE) merupakan protokol yang cukup sederhana dan dapat dilakukan pada situasi gawat darurat, memberikan hasil yang cepat dan sensitif. Dengan cepat dan akuratnya hasil diagnosis yang diperoleh, diharapkan akan memperbaiki outcome pasien instalasi gawat darurat (IGD).

Page 1 of 2 | Total Record : 11