Articles
261 Documents
MAKNA EMIK RUANG PERMUKIMAN ATAS AIR DI PESISIR PANTAI PULAU NAEN
Judy O. Waani;
Octavianus H.A. Rogi;
Alvin J. Tinangon
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14545
Permukiman atas air adalah kawasan yang jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Suku Bajo merupakan suku yang memiliki kebiasaan ini. Pulau Naen merupakan salah satu tempat yang menjadi tempat tinggal mereka selain dari masyarakat Sanger Talaud. Penelitian ini mencakup dua dari tiga desa yang ada di Pulau Naen yaitu Desa Nain atau juga disebut Nain Induk dan Desa Nain Satu. Bagaimana kemudian masyarakat memaknai ruang permukiman mereka merupakan salah satu masalah yang diangkat dalam penelitian ini. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini yaitu mengungkapkan makna emik ruang permukiman atas air di pesisir pantai Pulai Naen. Namun demikian dalam tulisan ini, peneliti hanya akan melaporkan tema-tema yang muncul dalam penelitian ini. Tema-tema ini akan didialogkan untuk membentuk konsep ruang permukiman. Paradigma penelitian ini menggunakan Fenomenologi Husserl dengan metode penelitian kualitatif. Analisis data menggunakan cara induktif dan pengambilan data berdasarkan purposive sampling. Tujuan sampling atau informan yaitu masyarakat yang tinggal di permukiman atas air. Hasil penelitian ditemukan 1) beberapa makna emik dalam tema-tema ruang dari penelitian yaitu a) ruang basudara, b) para-para rumah, c) jual beli rumah, d) perubahan material rumah, e) tampa fufu, f) parkir parao, g) sumur Boki Tibe Tiah, h) rumah tompal, i) kantor hukum tua, j) jalan desa. Secara keseluruhan, tema-tema ruang ini, membentuk konsep yaitu ruang konsensus. 2) Temuan lain yaitu cara masyarakat membentuk rumah dan permukiman didasari dengan konsensus atau kesepakatan antar masyarakat. Konsensus biasanya dimulai dari komunikasi keluarga sehingga masyarakat akan membentuk atau membangun rumah mereka terletak dibelakang rumah orang tua atau keluarga terdekat dan secara linier akan berurut dan menjorok ke arah laut dan bukan ke arah darat. Untuk bangunan umum biasanya dibangun di darat ataupun di atas air tapi harus melalui kesepakan bersama. 3) Ruang konsensus berkaitan dengan kesepakatan bersama antar masyarakat yang didasari dengan aturan tidak tertulis. Aturan tidak tertulis ini dikuasai dan dipahami oleh masyarakat kemudian menjadi dasar tindakan masyarakat dalam pengambilan keputusan untuk membuat ruang-ruang dalam permukiman mereka. Kesepakatan bersama yang kemudian menjadi keputusan ini, lahir dari komunikasi, solidaritas dan kompromi dalam masyarakat.
PENYULUHAN UNTUK PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG DAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN WINANGUN II, LINGKUNGAN 2, MANADO
Judy O. Waani;
Hendriek H. Karongkong
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14546
Kegiatan IPTEKS bagi Masyarakat (IbM) ini berjudul Penyuluhan untuk Penanggulangan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Permukiman Kelurahan Winangun Dua Lingkungan 2 Kota Manado Sulawesi Utara. Tujuan IbM yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran yang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Tujuan lain yaitu untuk melibatkan masyarakat bagaimana mengantisipasi atau menanggulang bahaya kebakaran yang bisa terjadi pada bangunan gedung dan permukiman mereka. Produk lain dari kegiatan ini yaitu menghasikan tulisan ilmiah terkait dengan Sistem Penanggulangan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Permukiman baik dari aspek fisiknya juga pada aspek manusianya. Kegiatan IbM ini dilakukan dengan tiga cara yaitu pendampingan, penyuluhan dan praktek lapangan. Kegiatan ini juga menggunakan nara sumber yang ahli pada bidangnya selain secara teori diberikan oleh dosen yang berasal dari Arsitektur sendiri. Pertumbuhan bangunan berlantai banyak semakin marak di kota-kota besar maupun kota menengah. Kondisi ini bisa dipahami karena bertambahnya penduduk tapi jumlah luasan lahan/tanah tetap. Fenomena tentang pertumbuhan bangunan berlantai banyak, juga terlihat di Kota Manado. Salah satu bahaya yang perlu diantisipasi pada bangunan vertikal dan horizontal adalah kebakaran bangunan. Proteksi kebakaran terhadap bangunan memang dimulai dari perencanaan sampai pada perancangan bangunan. Tujuan perencanaan dan perancangan, terkait dengan keselamatan bangunan untuk 1) protection of life, 2) protection of building, 3) protection of contents, 4) continuity of operation
PELESTARIAN LANSEKAP BUDAYA INDONESIA : MENDOKUMENTASIKAN LANSEKAP VERNAKULAR ETNIS MINAHASA DI WILAYAH PERDESAAN PESISIR PANTAI KECAMATAN KEMA, SULAWESI UTARA
Cynthia E.V. Wuisang;
Joseph Rengkung;
Dwight M. Rondonuwu
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14547
Tulisan ini mengkaji lansekap budaya etnis Minahasa, yang difokuskan pada permukiman masyarakat di wilayah perdesaan. Perdesaan di Tana Minahasa (The Greater Minahasa Region terdiri dari beberapa kabupaten seperti Kabupaten Minahasa Utara, kabupaten Minahasa Induk, Kabupaten Minahasa Selatan dan kabupaten Minahasa Tenggara) memiliki ciri dan karakter lokal yang unik dan bervariasi. Filosofi dan pandangan hidup masyarakat Minahasa telah berakar ratusan tahun dan di ekspresikan secara vertikal dalam hubungan lansekap-manusia dengan Tuhan penciptanya, dalam hubungan horizontal dengan masyarakat lainnya dan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Setiap desa memiliki perbedaan signifikan dalam budaya dan tradisi lokalnya yang tercermin dalam perilaku dan praktek hidup sehari-hari. Penelitian Lansekap Budaya khususnya lansekap vernakular pada masyarakat Minahasa akan dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik lingkungan fisik dan originalitas perspektif /pandangan hidup masa lalu dan sekarang. Rekam jejak budaya Minahasa telah terdokumentasikan dalam berbagai arsip daerah, nasional dan internasional sejak pertama kali didatangi bangsa Eropa di abad 15 dan etnis Minahasa mengalami periodisasi perubahan budaya secara drastis sejak kolonisasi Belanda. Ancaman kehilangan identitas dan tradisinya mendorong untuk dilakukan penelitian dengan menemukan kembali dan memperbaharui tradisi dan budaya asli yang pernah berkembang dengan menggali nilai-nilai tangible dan intangible dalam lansekap budaya pada masyarakat etnis Minahasa yang hidup pada jaman sekarang melalui tradisi dan kearifan lokal yang dimiliki. Riset dilakukan dengan pendekatan etnografi yang secara deskriptif mengkaji pola permukiman (desa) dan ciri arsitektur vernakular yang masih bertahan hingga saat in. Penelitian ini juga menganalisis norma tradisional, kepercayaan dan nilai-nilai hidup yang mendukung praktek perencanaan, desain dan pengelolaan lansekap permukiman berdasarkan konstruksi filosofi mempertahankan dan mengkonservasi lansekap budaya. Hasil riset membuktikan lansekap budaya Minahasa khususnya yang terdokumentasi di Kecamatan Kema masih bertahan dalam tekanan globalisasi dan modernisasi namun masih sangat membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaannya. Untuk itu perlu adanya pengelolaan Konservasi Budaya secara komprehensif, terpadu dan berkelanjutan.
KUALITAS LINGKUNGAN MELALUI PEMBUATAN LUBANG RESAPAN BIOPORI
Amanda S. Sembel;
Dwight M. Rondonuwu
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14548
Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi permasalahan global. Masalah banjir yang melanda berbagai kota di Indonesia termasuk Kota Manado menjadi indikator bahwa telah terjadi penurunan kualitas lingkungan. Kelompok Remaja Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) adalah wadah organisasi Gereja yang dalam tugas dan tanggungjawab melayani di ladang Tuhan terpanggil juga untuk peduli pada peningkatan kualitas lingkungan hidup sebagai Anugerah ciptaan Tuhan yang perlu dijaga dan dipelihara. Generasi muda melalui kelompok remaja GMIM Sinode dapat berpartisipasi dalam memajukan bangsa melalui kegiatan menjaga dan memelihara lingkungan dengan upaya-upaya mengantisipasi dampak pemanasan global yang ditandai dengan masalah-masalah yang muncul saat ini seperti masalah banjir, kekeringan, sampah, dan pemanasan suhu perkotaan. Dengan permasalahan tersebut maka perlu adanya sosialisasi tentang peningkatan sadar lingkungan untuk membangun remaja Sinode GMIM Peduli Lingkungan melalui kegiatan Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB). LRB merupakan rekayasa teknologi tepat guna untuk menanggulangi masalah keterbatasn lahan sebagai daerah resapan air.Tujuan pembuatan LRB yaitu untuk meningkatkan kepedulian generasi muda GMIM terhadap lingkungan sehingga lingkungan menjadi sehat, hijau, dan lestari. Target luaran yang ingin dicapai pada pembinaan dan pendampingan kelompok Remaja Sinode GMIM Kota Tomohon adalah melalui penyuluhan dan pelatihan untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan bagi generasi muda sebagai pilar-pilar gereja masa depan tentang pentingnya memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos serta menerapkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan daya serap air atau konservasi tanah melalui pembuatan lubang resapan biopori di Kota Tomohon.
PERBANDINGAN TRANSFORMASI TIPOLOGIS ANTARA LINGKUNGAN HUNIAN DENGAN POLA PENGADAAN FORMAL DAN POLA PENGADAAN SWADAYA
Dimas Hartawan Wicaksono
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14549
Dari sudut pandang fisik spasial, kawasan hunian adalah penyusun terbesar sebuah kota, sehingga perkembangan wawasan terhadap bagaimana kawasan hunian bertransformasi perlu terus dieksplorasi. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah masih terbatasnya evaluasi dan komparasi terhadap tipe permukiman yang telah berjalan lama, khususnya di Indonesia, dimana setelah menempuh rentang waktu yang panjang beragam transformasi telah terjadi. Penelitian yang dilakukan membandingkan transformasi yang terjadi pada lingkungan perumahan dengan pola pengadaan yang berbeda, yaitu (1) pola pengadaan swadaya - pola pengadaan yang cenderung memberi otonomi bagi masyarakat dalam menentukan huniannya (housing by people/ government as enabler), serta (2) pola pengadaan formal - pola pengadaan yang memberi peran lebih besar bagi pemerintah (government as provider). Pada akhir penelitian ini akan diperbandingkan transformasi yang terjadi pada dua kawasan hunian di Kota Bandung, yaitu kawasan Perumnas Sadang Serang (kawasan hunian yang dikembangkan dengan pola pengadaan formal) dengan transformasi yang terjadi pada perumahan Koperasi Bina Karya (kawasan hunian yang dikembangkan dengan pola pengadaan swadaya). Perbandingan ini akan menggambarkan bagaimana transformasi terjadi pada perumahan masyarakat berpenghasilan rendah yang dikembangkan melalui pengadaan swadaya dan formal di Indonesia, dan menunjukkan perbedaan pola transformasi yang terjadi pada kedua lingkungan hunian. Berdasarkan analisa yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perumahan yang diadakan secara swadaya memiliki tingkat transformasi, ragam transformasi, dan tingkat perubahan fungsi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan perumahan yang diadakan melalui pola pengadaan formal.
PERLETAKAN JALUSI ADAPTIF PADA KORIDOR
Wulani Enggar Sari
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v14i1.15438
Kenyamanan di dalam sebuah bangunan sangat dipengaruhi oleh aliran udara dengan melihat distribusi dan kelajuannya. Bukaan yang dapat digunakan untuk mengalirkan udara di dalam ruang salah satunya adalah jalusi. Karakteristik jalusi ini adalah mengarahkan aliran udara sesuai pola yang disesuaikan dengan desain arsitektur. Perkembangan teknologi bukaan saat ini telah berkembang pada jalusi adaptif yang dapat merespon gangguan yang berasal dari luar bangunan gedung, dalam hal ini sumber gangguan dari koridor. Penggunaan jalusi pada bangunan akan berpengaruh pada pola aliran udara pada hunian dengan upaya perbaikan dan peningkatan kinerja ventilasi alami yang telah ada selama ini. Jalusi ini akan diuji melalui eksperimen model atau maket bangunan rumah susun yang salah satu ruangannya diberikan jenis jalusi yang mempunyai karakter berbeda-beda. Model ruangan merupakan hasil dari studi kodisi bangunan rumah susun sesungguhnya. Penelitian pada ruang hunian dimulai dengan melihat kinerja masing-masing ventilasi, kemudian membandingkan hasil kinerja tersebut. Model yang ditentukan selanjutnya dioptimalkan kinerjanya dengan memodifikasi posisi bukaan dengan tujuan memperoleh posisi perletakan jalusi yang efektif merespon gangguan. Hasil penelitian akan memperlihatkan peneptatan jalusi adaptif.
BERUGAQ SEBAGAI IDENTITAS ARSITEKTUR DESA TANAH PETAK DAYE, LOMBOK UTARA
Franseno Pujianto;
Yenny Gunawan
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v14i1.15442
Arsitektur pada dasarnya senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia penghuninya. Tulisan ini berfokus pada berugaq (bale berkumpul) di Desa Tanah Petak Daye, Lombok Utara. Kebertahanan berugaq (bale berkumpul) di tengah-tengah perubahan yang terjadi di Desa ini, baik di area Tanah Adat (kelompok hunian sangat terikat dengan aturan-aturan adat dan yang berumur ratusan tahun), maupun Tanah Biasa (kelompok hunian lainnya sudah melepaskan diri dari aturan-aturan adat) ini menarik untuk ditelaah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan berugaq masih dipertahankan pada kedua area hunian. Untuk mengetahui penyebabnya, maka pemetaan lapangan mengenai tatanan dan bentuk (fisik-spasial) bangunan berugaq, observasi penggunaan berugaq yang berkaitan dengan kehidupan keseharian masyarakat, serta wawancara dengan tetua adat dan masyarakat mengenai makna berugaq dilakukan di kedua area Desa. Hasil dari pendataan fisik di lapangan dianalisa secara tipologi dan ditelaah dengan data non fisik yang diklasifikasikan berdasarkan culture traits and attributes dari Paul Oliver yang mencakup aktivitas keseharian, mata pencaharian dan ekonomi, sistem sosial dan aturan gender, serta kepercayaan dan nilai yang ada. Penelitian ini mengungkap berugaq masih dipertahankan, digunakan dan diperbaharui oleh masyarakat Desa Tanah Petak Daye karena berugaq mempunyai peran penting, baik dalam kehidupan keseharian masyarakat, maupun sebagai simbol sistem sosial, ekonomi dan kepercayaan masyarakat tersebut. Berugaq merupakan perwujudan fisik dari budaya masyarakat Tanah Petak Daye, Lombok Utara. Dengan kata lain, berugaq merupakan identitas arsitektur dari masyarakat Tanah Petak Daye.
GAYA & KARAKTER VISUAL ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA DI KAWASAN BENTENG ORANJE TERNATE
Hery Purnomo;
Judy O. Waani;
Cynthia E.V. Wuisang
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v14i1.15443
Arsitektur kolonial Belanda merupakan arsitektur yang memadukan antara budaya Barat dan Timur. Arsitektur kolonial Belanda hadir melalui karya arsitek Belanda dan diperuntukkan bagi bangsa Belanda yang tinggal di Indonesia, pada masa sebelum kemerdekaan. Benteng Oranje merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang ada di Ternate. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali lebih dalam tentang gaya dan karakteristik visual bangunan yang ada di kawasan Benteng Oranje. Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian kualitatif-rasionalistik dengan metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan objek/ bangunan pada kawasan Benteng Oranje dan menganalisa gaya dan karakter visual bangunan. Hasil penelitian diperoleh gaya bangunan kolonial di kawasan benteng Oranje dominan dipengaruhi oleh gaya arsitektur peralihan (1890-1915).
KONSEP RUMAH TUMBUH PADA RUMAH ADAT TRADISIONAL DUSUN DOKA, NUSA TENGGARA TIMUR
Ferdy Sabono
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v14i1.15444
Rumah adat (Sa’o) merupakan konsep berhuni yang diterapkan oleh masyarakat Doka dengan menempatkan atau berdampingan dengan unsur tradisional di dalamnya. Dalam tatanan hierarki bentuk dan ruang pada rumah adat dusun Doka selalu terdiri dari ruang Kada Wari (beranda), Teda Wawo (ruang transisi) dan One (ruang inti). Bentuk kepercayaan masyarakat doka menjadikan One sebagai ruang representatif keberadaan leluhur sehingga menduduki peranan penting dalam identitas rumah adat yakni sebagai pusat hunian (core). Kebutuhan penambahan ruang oleh faktor eksternal seperti tingkat ekonomi, status sosial hingga efek modernitas memberikan pengaruh pada keputusan penambahan ruang-ruang baru pada rumah adat. Untuk itu penelitian ini bertujuan mengkaji konsep rumah tumbuh  pada rumah adat Doka serta sejauh mana bentuk penambahan ruang yang dianggap sebagai tindakan kearifan dalam mempertahankan tradisi nilai budaya. Adapun metode penelitian yang digunakan berupa pengamatan langsung terhadap beberapa sampel hunian rumah adat yang memiliki perbedaan dari segi pola pengembangan ruang dan transformasi bentuk material. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep rumah tumbuh pada hunian rumah adat di dusun Doka menganut konsep pengembangan ruang yang mengikat (statis) dan lepasan (dinamis). Konsep pengembangan ruang yang mengikat yakni pada urutan ruang pembentuk utama (Kada Wari, Teda Wawo dan One), perlakukan leveling lantai serta sistem material, struktur dan konstruksi pada One. Sedangkan konsep lepasan terdiri dari penyesuaian terhadap jumlah penghuni, kebutuhan fungsi ruang, sistem pembagian lahan (site) dan kebutuhan akan penggunaan material bahan bangunan terbaru.
LANGGAM ARSITEKTUR CANDI SUKUH
Indri A. Wirakusumah
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v14i1.15445
Arsitektur candi merupakan warisan kebudayaan Indonesia yang masih dapat dikagumi kemegahannya hingga saat ini. Sejarah perkembangannya telah melampaui beberapa abad. Sepanjang perjalanan sejarah arsitektur klasik di Indonesia, candi telah mengalami berbagai macam zaman, Hal ini membentuk karakteristik bentuk candi yang berbeda-beda pada tiap periode. Tulisan ini akan membahas candi yang dibangun pada masa penting sejarah kebudayaan Indonesia yang ditandai dengan latar belakang sejarah menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada abad ke -15, yaitu candi Sukuh yang berlokasi di Desa Berjo, Karangnyar, Jawa Tengah, yang dibangun pada periode yang sama dengan runtuhnya kerajaan Majapahit. Majapahit adalah kerajaan besar pada bagian periode sejarah Indonesia, sehingga candi yang dibangun pada masa ini memiliki bentuk yang signifikan. Candi ini memiliki bentuk yang berbeda dengan candi-candi yang dibangun pada periode sebelumnya. Pada masa ini bentuk candi didominasi oleh susunan berundak yang diakui sebagai salah satu ciri bangunan pada budaya Megalitikum pra-Hindu Jawa, selain itu bangunan candi pada zaman ini kaya ornamen berbentuk relief dan arca yang menggambarkan alat reproduksi wanita dan pria sebagai simbol dua kutub. Perwujudan simbolik ini mengarah pada erotisme yang belum pernah ditemukan pada arsitektur candi masa sebelumnya. Hal ini terjadi sebagai akibat dari pengaruh kepercayaan Tantrayana. Tantrayana adalah kepecayaan yang menggabungkan antara Hindu dan Buddha (Siwa), pada kepercayaan ini banyak digunakan simbol pada ikonografi seni Buddha dan Hindu, selain itu kepercayaan ini juga dikenal bersifat magis dan penuh kerahasiaan. Fenomena ini menjadi menarik untuk ditelusuri lebih lanjut dengan tujuan untuk mengetahui asal mula pemikiran dan peristiwa yang menjadi latar belakang terbentuknya sosok arsitektur candi seperti pada masa akhir kerajaan Majapahit ini. Metoda penelitian memakai pendekatan kualitatif-deskriptif-interpretatif. Hasil temuan yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk candi pada masa akhir kerajaan Majapahit dipengaruhi oleh kepercayaan Tantrayana yang tengah berkembang pada masa tersebut, selain itu dialog juga terjadi dengan kepercayaan yang dianut oleh budaya lokal masyarakat Hindu Jawa. Akibat dari peleburan hal tersebut, maka menghasilkan bentuk yang merupakan hasil integrasi dari aspek aspek tersebut.