cover
Contact Name
Hidayat Panuntun
Contact Email
hidayat.panuntun@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dtk.sv@ugm.ac.id
Editorial Address
Gedung Perpustakaan SV UGM, Sekip Unit V, Jl. Persatuan, Blimbing Sari, Caturtunggal, Kec. Depok, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Geospatial Science and Technology
ISSN : 3031576X     EISSN : -     DOI : -
Journal of Geospatial Sciences and Technology (JGST) is a national and international peer-reviewed journal published by Department of Earth Technology, Vocational College, Universitas Gadjah Mada and covers all aspects and information on scientific and technical advances in geospatial sciences and technology. Journal of Geospatial Sciences and Technology publishes high quality, peer-reviewed scientific papers, unique contributions in geospatial application ranging from the integration of instruments, methodologies and technologies and their application in the earth sciences, engineering, and other natural sciences. We expect the author who submitted in our journal to certify that the paper is original, has not been published before, and is not being considered for publication elsewhere.
Articles 29 Documents
Evaluasi Ketelitian Perhitungan Volume Stockpile Batu Bara Menggunakan Foto Udara Unmanned Aerial Vehicle Berdasarkan Variasi Tinggi Terbang dan Jumlah Ground Control Point (Studi Kasus: PT Putra Perkasa Abadi, Jobsite PT Bukit Asam, Tbk.) Lailla Khoirriyah
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 3 No 2 (2025): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i2.23893

Abstract

Dalam operasional pertambangan, pengelolaan stockpile batu bara penting untuk menjamin akurasi pelaporan keuangan dan efisiensi produksi. Salah satu kendala utama adalah pengukuran volume yang kurang efisien. PT Putra Perkasa Abadi saat ini masih menggunakan Terrestrial Laser Scanner (TLS) yang meskipun akurat, memiliki kekurangan seperti biaya tinggi dan risiko keselamatan. Sebagai alternatif, teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) menawarkan solusi yang lebih efisien, namun akurasinya sangat dipengaruhi oleh tinggi terbang dan jumlah Ground Control Point (GCP). Studi ini bertujuan menentukan konfigurasi optimal GCP dan tinggi terbang untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pengukuran volume stockpile. Studi dilaksanakan pada Februari 2025 dengan variasi GCP (0, 3, 4, 5, dan 6) dan tinggi terbang (60 m, 70 m, dan 80 m) dengan GSD masing-masing 1,55 cm/piksel, 1,78 cm/piksel, dan 2,09 cm/piksel. Data diproses melalui tahapan align photos, georeferencing, dan build dense cloud. Volume dihitung menggunakan metode cut and fill dan dibandingkan dengan data TLS untuk memperoleh deviasi. Hasil menunjukkan bahwa semakin banyak GCP, deviasi volume semakin kecil dan stabil, dengan hasil terbaik pada 6 GCP (deviasi -0,871% hingga -1,495%). Deviasi terbesar terjadi pada 3 GCP di ketinggian 70 meter sebesar 1,941%. Tinggi terbang juga berpengaruh, di mana 60 meter menghasilkan deviasi paling rendah dan konsisten di semua konfigurasi GCP. Sebaliknya, tinggi 70 meter menunjukkan deviasi besar dan tidak konsisten meskipun RMSE rendah.
Pemetaan Jalur Evakuasi Tsunami Di Pesisir Pantai Kabupaten Kulon Progo Menggunakan Metode Closest Facility Eka Sekar Masyithoh; Rochmad Muryamto
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 3 No 2 (2025): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i2.25064

Abstract

Wilayah pesisir Kabupaten Kulon Progo, yang meliputi Kapanewon Temon, Wates, Panjatan, dan Galur, berpotensi terdampak tsunami dengan ketinggian hingga 20 meter. Tsunami tersebut dipicu oleh gempa megathrust dengan magnitudo > 8 di zona subduksi selatan Pulau Jawa. Ancaman tingginya korban jiwa memerlukan upaya mitigasi, khususnya melalui penyusunan jalur evakuasi yang tepat. Ketidaktepatan jalur serta minimnya informasi estimasi waktu tempuh berpotensi menimbulkan keterlambatan evakuasi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jalur evakuasi tercepat menuju lokasi evakuasi terdekat dan mengestimasi waktu tempuh dari setiap jalur evakuasi. Metode diawali dengan konversi hasil pemodelan inundasi tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi data vektor untuk mengidentifikasi wilayah terinundasi dan tempat evakuasi yang aman. Wilayah permukiman dan objek wisata pantai digunakan sebagai titik awal evakuasi, sementara tempat evakuasi yang aman sebagai titik akhir. Penentuan jalur evakuasi dilakukan menggunakan metode Closest Facility pada Network Analyst dengan skenario kecepatan berjalan kaki, berlari, dan menggunakan sepeda motor. Hasil identifikasi menunjukkan adanya tiga objek wisata pantai dan 185 wilayah permukiman terinundasi dengan total luas 1.101,354 ha. Penentuan jalur menghasilkan total enam jalur dari objek wisata pantai dan 370 jalur dari permukiman. Rata-rata waktu tempuh evakuasi dengan berjalan kaki, berlari, dan menggunakan sepeda motor berturut-turut adalah 60,34 menit, 21,87 menit, dan 8,01 menit.
Pemanfaatan Data Batimetri untuk Identifikasi Perubahan Dasar Laut pada Area Pertambangan Timah di Laut Penyusuk, Pulau Bangka Vivy Wahyu Wijayanti; Bambang Kun Cahyono
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 3 No 2 (2025): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i2.25240

Abstract

Pulau Bangka memiliki potensi sumber daya alam laut, termasuk pertambangan timah yang aktif di Laut Penyusuk. Aktivitas ini menimbulkan dampak serius terhadap ekosistem, terutama perubahan topografi dasar laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan topografi dasar laut menggunakan data hasil pengukuran singlebeam echosounder dual frekuensi . Data diperoleh dari survei batimetri pada 30 Agustus 2023 dan 12 September, serta pasang surut prediksi dari Pushidros. Data diuji menggunakan metode TVU sesuai IHO S-44 edisi 6.2.0 tahun 2024. Interpolasi kedalaman dilakukan dengan metode kriging, sedangkan estimasi volume menggunakan metode average end area . Hasil analisis menunjukkan adanya pendalaman pada zona dalam di area A dengan rata-rata 0,33 meter Ketika diukur dengan frekuensi tinggi dan 0,52 meter Ketika diukur dengan frekuensi rendah, sementara zona dangkal mengalami pendangkalan rata-rata sebesar 0,37 meter ketika diukur dengan frekuensi tinggi dan 0,25 meter ketika diukur dengan frekuensi rendah. Area B mengalami pendangkalan rata-rata 0,13 meter. Hal ini menunjukkan bahwa penambangan timah berdampak langsung terhadap topografi dasar laut.
Perbandingan Algoritma Macro Dan Cloth Simulation Filtering Untuk Penyaringan Data Point Cloud Dari Foto Udara Pada Area Dengan Dominasi Vegetasi Yohananda Maria Mendhieta; Catur Aries Rokhmana
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 3 No 2 (2025): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i2.26889

Abstract

PT Timah merupakan perusahaan pertambangan timah dengan segmen usaha dari eksplorasi hingga pemasaran. Eksplorasi PT Timah membutuhkan Digital Terrain Model (DTM) untuk pemodelan geologi dan perhitungan cadangan timah. PT Timah masih menemukan keterbatasan susunan Macro untuk penyaringan data point cloud pada area eksplorasi dengan dominasi vegetasi di Desa Kota Kapur. Sementara itu, algoritma Cloth Simulation Filtering (CSF) yang lebih efisien dari segi biaya belum pernah diterapkan sehingga kinerjanya belum diketahui. Proyek akhir ini bermaksud membandingkan algoritma Macro dan CSF untuk penyaringan data point cloud dari foto udara. Perbandingan berfokus pada area dengan dominasi vegetasi di Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah di Desa Kota Kapur. Data sekunder berupa point cloud, ortofoto, dan 20 titik uji digunakan. Data point cloud kemudian dibagi menjadi tiga area. Proses penyaringan dilakukan dengan penyesuaian parameter kedua algoritma pada ketiga area. Gridding DTM menggunakan metode binning (minimum value). Kedua DTM dianalisis melalui perbandingan visual dan hitung ketelitian vertikal mengacu pada SNI 9135-1:2022. Penyaringan data point cloud menggunakan algoritma Macro menghasilkan 5.002.791 titik, sedangkan algoritma CSF menghasilkan 39.772.434 titik. Visual DTM Macro tampak lebih halus, sedangkan visual DTM CSF tampak lebih kasar pada berbagai kondisi area. Hitung ketelitian vertikal DTM Macro menghasilkan LE90 0,908 m, memenuhi standar peta skala 1:5.000 pada kelas 3. Sementara itu, DTM CSF menghasilkan LE90 1,439 m, melebihi ambang batas SNI 9135-1:2022. Dengan demikian, DTM Macro lebih akurat secara vertikal dibanding DTM CSF pada area dengan dominasi vegetasi di IUP PT Timah di Desa Kota Kapur.
Evaluasi Ketelitian Perhitungan Volume Uji Petik Overburden Berdasarkan Variasi Tinggi Terbang pada Foto Udara Menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Syafira Nurhaliza; Erlyna Nour Arrofiqoh
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 4 No 1 (2026): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i1.23993

Abstract

Uji petik merupakan kegiatan pengukuran volume sampel tumpukan overburden sebagai monitoring dan kontrol manajemen produksi perusahaan. PT Putra Perkasa Abadi Jobsite PT Bukit Asam Tbk melakukan uji petik menggunakan GNSS metode Real Time Kinematic (RTK). Akan tetapi, pengukuran menggunakan alat ini cenderung kurang efisien secara waktu sehingga diperlukan metode alternatif. Metode fotogrametri menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dapat melakukan akuisisi data secara cepat, serta menghasilkan resolusi spasial tinggi dengan biaya terjangkau. Salah satu parameter yang ditentukan dalam perencanaan pengukuran adalah tinggi terbang. Tinggi terbang mempengaruhi kualitas foto udara yang akan berpengaruh pada volume yang dihasilkan. Tujuan proyek akhir ini untuk membandingkan hasil volume UAV dengan GNSS metode RTK, serta menentukan tinggi terbang optimal dalam pengukuran volume uji petik overburden.Akuisisi data dilakukan dengan tiga variasi tinggi terbang, yaitu 30 meter, 40 meter, dan 50 meter. Pengukuran GCP dan ICP menggunakan metode RTK dengan jumlah titik GCP sebanyak lima buah dan ICP sebanyak enam buah. Foto udara diolah menggunakan Agisoft Metashape, kemudian point cloud diekspor ke Surpac untuk dihitung volumenya. Hasil perhitungan volume dianalisis melalui uji t untuk mengetahui signifikansi perbedaan antar tinggi terbang dan kedua metode pengukuran. Hasil perhitungan volume tinggi terbang 30 meter sebesar 340,92 m3 dengan waktu akuisisi data foto udara selama 4 menit, tinggi terbang 40 meter sebesar 340,68 m3 dengan waktu pengambilan data 2 menit dan 351,83 m3 untuk tinggi terbang 50 meter dengan waktu pemotretan selama 1 menit. Uji statistik t antar tinggi terbang menunjukkan nilai volume antara tinggi terbang 30 meter dengan 40 meter tidak memiliki perbedaan secara signifikan. Sementara itu, hasil dari perhitungan volume menggunakan alat GNSS metode RTK sebesar 328,26 m3 sehingga diperoleh selisih volume antara UAV dengan GNSS metode RTK untuk tinggi terbang 30 meter sebesar 3,79%, tinggi terbang 40 meter sebesar 3,66%, dan 7,09% untuk tinggi terbang 50 meter. Hasil uji statistik t antara UAV dengan GNSS metode RTK menunjukkan volume tinggi terbang 40 meter tidak memiliki perbedaan signifikan dengan GNSS metode RTK. Berdasarkan waktu akuisisi data foto udara dan hasil dari uji statistik t, tinggi terbang optimal yang disarankan untuk pengukuran volume uji petik tumpukan overburden adalah 40 meter.
Perbandingan Hasil Perhitungan Volume Menggunakan Fotogrametri Sudut Tegak dan Sudut Miring (Studi Kasus: Dome Nikel PT Weda Bay Nickel) Ahmad Husni Haris Ramadhan
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 4 No 1 (2026): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i1.24025

Abstract

PT Weda Bay Nickel (WBN) merupakan salah satu perusahaan pertambangan nikel yang melakukan pemantauan produksi dengan menghitung volume tumpukan material (dome). PT WBN menggunakan fotogrametri sudut tegak yang dinilai efisien untuk banyak dome, sedangkan perusahaan mitra menggunakan metode terestrial GNSS karena keterbatasan alat. Nilai volume dari setiap perusahaan dievaluasi nilai densitasnya dengan Interval Densitas Material (IDM) untuk menentukan data volume yang digunakan dalam catatan stock opname. Jika densitas dari PT WBN lebih mendekati IDM, maka volume dari PT WBN digunakan dan sebaliknya. Akibatnya terjadi masalah inkonsistensi data volume yang digunakan dalam catatan stock opname. Kajian ini membandingkan dan menguji salah satu metode alternatif untuk meminimalisir permasalahan tersebut, yaitu fotogrametri metode sudut miring, yang andal dalam akuisisi data objek kompleks. Kegiatan ini berlokasi di tempat penyimpanan material tambang nikel, yaitu Permanent Ore Stationary (POS) 12 PT WBN, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Indonesia. Objek yang digunakan adalah dome nikel sebanyak 5 buah. Metode yang digunakan untuk akuisisi fotogrametri yaitu metode sudut tegak dan fotogrametri sudut miring 45° , 60°, dan 75° dengan menggunakan mode Post Processing Kinematik (PPK), serta menggunakan metode terestrial dengan GNSS sebagai pembanding. Kajian ini juga membahas mengenai uji akurasi horizontal dan vertikal, uji volume serta uji densitas. Berdasarkan hasil perhitungan RMSE volume dan RMSE densitas pada lima buah dome, metode sudut 75° menunjukkan nilai terkecil yaitu secara berurutan 461,836 m3 dan 0,080 ton/m3. Menunjukkan keakuratan dan kedekatan terhadap data terestrialnya, sementara itu nilai RMSE volume dan RMSE densitas terbesar berada pada sudut 60° dengan nilai berurutan yaitu 597,217 m3 dan 0,121 ton/m3. Hal ini memperkuat fakta bahwa data citra sudut miring mampu meningkatkan ketepatan model 3D, baik dari segi volume maupun segi kepadatan materialnya serta dapat direkomendasikan untuk meminimalisir terjadinya inkonsistensi perhitungan volume dome nikel.
Pengaruh Jumlah dan Distribusi Ground Control Point (GCP) terhadap Tingkat Akurasi Pengukuran Volume Metode Fotogrametri pada Pekerjaan Uji Petik Overburden (Studi Kasus: PT Putra Perkasa Abadi, Jobsite PT Bukit Asam, Tbk.) Laurensia Ayu Anggraeni; Ruli Andaru
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 4 No 1 (2026): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i1.24160

Abstract

Penggunaan metode fotogrametri berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) semakin luas diterapkan dalam pengukuran volume overburden di industri pertambangan. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi akurasi hasil pengukuran adalah jumlah serta distribusi Ground Control Point (GCP) pada proses triangulasi udara. Penelitian ini dilaksanakan di PT Putra Perkasa Abadi Jobsite PT Bukit Asam, Tbk., dengan enam variasi jumlah GCP (0, 1, 2, 4, 5, dan 6 titik) serta pengujian distribusi merata dan tidak merata pada konfigurasi 2 GCP, dengan menggunakan tujuh Independent Check Point (ICP) pada setiap pemrosesan datanya. Data diolah menggunakan metode SFM-MVS Photogrammetry, sedangkan perhitungan volume dilakukan dengan metode Cut and Fill berdasarkan batas area dari hasil pengukuran GNSS RTK sebagai acuan permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi 6 GCP menghasilkan akurasi terbaik dengan selisih volume 3,76%, serta ketelitian geometrik CE90 0,0344 m dan LE90 0,0510 m. Namun, penggunaan minimal 4 GCP dengan distribusi merata telah memenuhi standar Badan Informasi Geospasial (BIG, 2021) dengan selisih volume 6,31%. Sebaliknya, konfigurasi tanpa GCP menghasilkan selisih volume terbesar (8.571,45%) dengan CE90 6,1055 m. Selain jumlah, distribusi GCP juga memengaruhi akurasi, pada 2 GCP, distribusi merata menurunkan selisih volume hingga 6,83% dibanding 316,70% pada distribusi tidak merata. Oleh karena itu, direkomendasikan penggunaan minimal 4 GCP dengan distribusi merata untuk memperoleh akurasi volume overburden yang lebih baik menggunakan metode fotogrametri UAV, sehingga menghasilkan pengukuran yang akurat dan efektif.
Identifikasi Perubahan Morfologi Kubah Lava Gunung Merapi Menggunakan DEM dari Foto Udara Tahun 2024-2025 Jefry Ryan Yanuar Choiri; Rochmad Muryamto; Andika Bayu Aji
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 4 No 1 (2026): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i1.27905

Abstract

Mount Merapi, located on the border of Central Java Province and the Special Region of Yogyakarta, is one of the most active volcanoes in Indonesia, characterized by repeated growth and reduction of lava domes. Morphological changes in the lava domes, particularly the central and southwest domes, play a crucial role in the generation of lava collapses and pyroclastic density currents that pose serious threats to surrounding settlements. Therefore, continuous monitoring of lava dome morphology, volume changes, and extrusion rates is essential for volcanic hazard assessment and mitigation. This study aims to map the morphological changes of Mount Merapi’s lava domes in both 2D and 3D, calculate volume variations, and analyze lava extrusion rates during the period from March 2024 to April 2025. The study utilized aerial photographs acquired by Unmanned Aerial Vehicles (UAVs) operated by the Center for Geological Disaster Technology Research and Development (BPPTKG). The aerial images were processed using Agisoft Metashape to generate orthophotos, Digital Elevation Models (DEMs), and tiled 3D models. Geometric accuracy was assessed based on the Regulation of the Head of the Geospatial Information Agency No. 18 of 2021. Volume changes were calculated using the cut and fill method, while extrusion rates were derived from volume differences between observation periods. The resulting 3D models were visualized through web-based scenes using ArcGIS Online, allowing interactive online access. The results indicate that the central lava dome experienced unstable changes, with two periods of volume reduction followed by a renewed growth phase. In contrast, the southwest lava dome exhibited significantly larger volume changes and higher extrusion rates, particularly between July 2024 and April 2025. These findings suggest that the southwest lava dome was the most active dome during the observation period and played a dominant role in controlling the morphological dynamics of Mount Merapi.
A Geographic Information System Mobile Application for Road Traffic Crash Data Collection, Management and Analysis Jude Ubaka Odinfono; Manuel Ndebele; Adekunle Oluseyi Afolabi; Moses Olaniran Olawole
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 4 No 1 (2026): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i1.29579

Abstract

The study addressed the issue of road traffic crashes in developing countries like Nigeria by developing a mobile app called Geographic Information System-Road Traffic Crash Data (GIS-RTCD). The app developed and tested in Southwest Nigeria is designed to transform the collection and management of real-time road traffic crash data by replacing the traditional paper-based method known for its imprecise, missing, contradictory, and disparate data. The app, accessible on Android and iPhone platforms, uses an Epicollect5-implemented mobile user interface, web server, PostgreSQL-based database, Apache Tomcat/Geoserver application/GIS server, and OpenLayers-implemented web service for map data visualization. The app provides precise crash location determination through GPS/geospatial mapping, digitally structures data collection, prevents data duplication, and eliminates labour-intensive tasks associated with manual data processing. The study recommends replacing manual crash data recording systems in Nigeria with the GIS-RTCD app to standardize crash data records and enhance comprehensive data collection for national analysis and research.

Page 3 of 3 | Total Record : 29