cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6221-7394422
Journal Mail Official
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI
Published by LEMIGAS
ISSN : 20893396     EISSN : 25980300     DOI : 10.29017/LPMGB.58.1.1610
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (LPMGB) merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS untuk menyebar luaskan informasi terkait kegiatan penelitian, pengembangan rekayasa teknologi dan pengujian laboratorium di bidang migas. Naskah dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri migas dari dalam dan luar negeri
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB" : 6 Documents clear
Kajian Singkat atas Syarat Kenonkonduktifan Matriks Batuan dalam Model Saturasi Air Archie Heru Atmoko; Bambang Widarsono; Rosidelly
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seperti diketahui secara umum model estimasi saturasi air Archie dibangun dengan anggapan dasar hahwa model tersehut hanva valid pada batupasir yang bebas dari mineral konduktif apa pun. Ketidakpastian dalam pemilihan model saturasi air yang tepat menjadikan bahwa anggapan tersebut harus dikaji kembali dengan pengujian langsung di laboratorium. Tulisan ini menyajikan hasil dari pengukuran sifat kelistrikan dari dua buah percontoh batupasir sintetik berkandungan lempung kaolinit 10%, dan 25% dari volume matriks. Penerapan model Archie dan Waxman & Smits memperlihatkan adanva korelasi yang baik antara saturasi air terestimasi dan data saturasi air yang teramati langsung. Bukti ini memperlihatkan hahwa syarat kenonkonduktifan matriks bagi model Archie tidak perlu diterapkan secara ketat. Dengan demikian telah dibuktikan hahwa model Archie dapat diterapkan untuk batupasir berkandungan mineral konduktif/semi-konduktif sampai pada tingkat yang dapat diterima.
Pengaruh Angka Setana Minyak Solar terhadap Kinerja Mesin Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada motor diesel, temperatur uadar tekan di dalam silinder yang tinggi menvebabkan bahan bakar menvala. Dengan piston udara diisap masuk ke dalam silinder mesin pada langkah isap, kemudian dimampatkan hingga mencapai tekanan yang tinggi pada temperatur yang di atas titik nvala bahan bakar pada langkah kompresi. Pada akhir langkah kompresi, beberapa derajat sebelum titik mati atas bahan bakar diinjeksikan ke dalam udara tekan tersebut. Selama injeksi, minvak solar harus diatomisasikan dengan baik dan tercampur dengan udara yang panas sehingga teriadi penvalaan merata secepatnva di dalam ruang bakar. Tetapi berbeda dengan apa yang terjadi, setelah partikel bahan bakar kontak dengan udara, bahan bakar tidak segera menvala. Ada penundaan penvalaan, jika penundaan penyalaan ini terlalu lama, terlalu banvak bahan bakar dapat terakumulasi yang menvebabkan tingkat kenaikan tekanan terjadi secara tiba-tiha, terjadi detonasi dekat pada awal pembakaran. Agar supava tendensi ketukan berkurang. perlu menurunkan penundaan penvalaan dan sekaligus mengurangi jumlah bahan bakar yang ada ketika pembakaran aktual tetesan pertama dimulai. Periode penundaan penvalaan ini sangat tergantung kepada kualitas penvalaan bahan bakar: yaitu angka setana. Bahan bakar yang mempunvai angka setana yang tinggi memiliki penundaan penyalaan yang lehih pendek, dengan demikian mempunvai tendensi teriadinva ketukan yang rendah. Hasil-hasil penguiian kinerja mesin dengan menggunakan empat percontoh bahan bakar yang mempunvai angka setana rang herbeda-beda menunjukkan pada saat digunakan minyak solar yang mempunvai angka setana lebih rendah bunvi mesin lebih kasar, torsi dan dava lebih rendah sedangkan konsumsi bahan bakar lebih tinggi.
Biodesulfurisasi Limbah Soda Api Noegroho Hadi HS.; Sri Kadarwati
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa jenis bakteri dapat mendegradasi kandungan belerang yang terdapat dalam limbah soda api pada kondisi aerob dan suhu ambien. Bakteri tersebut adalah Pseudomonas sp., Thiobacillus thioparus, Thiobacillus neapolitanus, Thiobacillus sp. Penelitian dilakukan untuk mencari media yang cocok dan murah. dan mempelajari proses desulfurisasi agar diperoleh kondisi operasi yang optimal. Hasil sementara menunjukkan bahwa pada perbandingan antara media dan sampel limbah soda 1:5 hasil yang didapat cukup menjanjikan. Perbandingan ini masih belum optimal dan masih perlu pengujian lanjutan.
Pengaruh Buangan Air Formasi terhadap Zooplankton Marin, Artemia Salina, Leach M.S. Wibisono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengingat langkanya informasi tentang dampak buangan air formasi terhadap zooplankton marin khususnya di wilayah tropis, maka dirasa perlu untuk melakukan studi ini. Dalam penelitian ini menggunakan jenis Artemia salina, Leach sebagai hewan uji, dengan tujuan selain untuk menentukan tingkat toksisitas air formasi yang berasal dari lapangan operasi Mundu juga untuk menentukan jenis- jenis kandungan kimia dan kelas air formasi yang digunakan. Metode uji hayati telah dipakai dengan sistem air tergenang menggunakan air media uji dari Gelanggang Samudra Jaya Ancol (GSA) yang telah disaring dan diukur kualitasnya. Wadah uji terbuat dari bahan gelas disusun dalam 3 baris (ulangan) secara acak berisi campuran air media uji dan air formasi Mundu sebanyak 10 liter kecuali pada perlakuan Kontrol. Tiap ulangan dibuat gradasi konsentrasi dan tiap wadah uji diisi dengan 10 ekor hewan uji. Selama waktu uji tidak diberi aerasi, Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 96 jam perlakuan didapat konsentrasi tanpa dampak (NOEC/ No Observed Effects Concentration) yang berkisar antara 100- 750 ml/liter. Dengan metode Palmer (1911) maka didapat kelas untuk air formasi Mundu termasuk kelas V atau S, S, S, di mana beberapa tahun sebelumnya termasuk kelas III atau S, S, A, Perubahan kelas tersebut diduga karena pengaruh penurunan permukaan fluida dalam reservoir selama waktu dieksploitasi.
Dolomot, Mineral Bermasalah Maximon Shah Arifin
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dolomit dikenal sebagai salah satu jenis mineral karbonat yang mempunyai struktur rhombohedral. Mineral ini relatif mudah diidentifikasi dan biasanya ditemukan bersama batu gamping dan batuan sedimen lainnya di alam. Batuan karbonat yang komposisi dolomitnya dominan juga disebut dolomit. Endapan-endapan mineral timah, bouksit dan perak sering ditemukan berasosiasi dengan dolomit. Dalam 50 tahun terakhir ini dolomit semakin bertambah penting peranannya karena dia juga merupakan batuan induk dan reservoar untuk hidrokarbon. Tidak kurang dari 4 (empat) model. Regional telah diajukan untuk menerangkan asal usul dolomit, antara lain hypersaline, mixed water, deep burial brines dan normal seawater, namun masing-masing model masih mempunyai keterbatasan dalam menjawab asal-usul dolomit secara regional. Salah satu sebab mengapa hal ini terjadi, karena dolomit tidak seperti batugamping, tidak terbentuk sebagai sedimen. Dolomit merupakan produk ubahan dari kalsit dan aragonit. Hal lain dari teka-teki dolomit adalah bahwa sampai saat ini dolomit belum bisa ditiru di laboratorium di suhu rendah. Tulisan ini mencoba mendiskusikan model-model tersebut dan beberapa pertimbangan dalam penentuan pilihan model dolomitisasi.
Reanalisis Cekungan Sedimen Tersier Indonesia; Suatu Tantangan dan Harapan untuk Menunjang Perolehan Cadangan Migas Baru di Masa Mendatang Barlian Yulihanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas ekplorasi migas pada dua dekade terakhir dapat dikatakan masih sangat terbatas di dalam eksplorasi sedimen Tersier terutama yang berada di Kawasan Barat Indonesia. Lebih jauh lagi dapat diuraikan bahwa target eksplorasi hidrokarbon di cekungan-cekungan tersebut terutama hanya difokuskan pada pencaharian perangkap hidrokarbon struktur pada sedimen yang berumur paling tua Miosen Awal, sedangkan eksplorasi migas pada "hydrocarbon plays" yang baru seperti halnya sedimen Paleogen belum di lakukan secara intensif. Sementara itu di sisi lain, pada kurun dua dekade ini usaha penemuan cadangan migas di cekungan sedimen Indonesia semakin sulit. Beberapa masalah penyebab sulitnya menemukan cadangan migas baru di Indonesia antara lain karena: kurangnya inovasi di dalam kegiatan eksplorasi, dalam arti program eksplorasi hanya difokuskan hanya pada target ataupun objektif reservoar yang sudah diketahui. Usaha penemuan hydrocarbon plays baru baik pada cekungan sedimen mature maupun frontier tidak begitu intens. Penerapan konsep-konsep eksplorasi migas baru yang digunakan di Indonesia relatif jauh tertingal dibandingkan dengan yang digunakan di kawasan lainnya di dunia. Usaha penemuan cadangan minyak dimasa mendatang pada cekungan yang sudah terbukti mengandung hidrokarbon dapat dilakukan dengan melakukan reanalisis cekungan sedimen Tersier. Renalisis cekungan ini terutama dilakukan pada cekungan sedimen yang diklasifikasikan sebagai mature basin, selain itu juga diusulkan untuk dilakukan pada cekungan sedimen yang bersifat frontier. Beberapa kegiatan yang diusulkan dalam melakukan reanalisis cekungan sedimen Tersier di Indonesia adalah : evaluasi sistem Terban Paleogen, analisis waktu terjadinya tektonik inversi Miosen, evaluasi stratigrafi sekuen endapan Miosen, dan evaluasi batuan karbonat Tersier.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 2 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 1 (2023): LPMGB Vol. 56 No. 3 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 2 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 1 (2022): LPMGB Vol. 55 No. 3 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 2 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 1 (2021): LPMGB Vol. 54 No. 3 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 2 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 1 (2020): LPMGB Vol. 53 No. 3 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 2 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 1 (2019): LPMGB Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 2 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB Vol. 51 No. 3 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 2 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 1 (2017): LPMGB Vol. 50 No. 3 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB Vol. 49 No. 3 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 2 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB Vol. 48 No. 3 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 2 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 1 (2009): LPMGB Vol. 42 No. 3 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 1 (2006): LPMGB Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB Vol. 24 No. 2 (1990): LPMGB Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB Vol. 23 No. 3 (1989): LPMGB Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB Vol. 21 No. 3 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 2 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB Vol. 20 No. 3 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 2 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 1 (1986): LPMGB Vol. 19 No. 3 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 2 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 1 (1985): LPMGB Vol. 18 No. 3 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 2 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 1 (1984): LPMGB Vol. 17 No. 2 (1983): LPMGB Vol. 15 No. 1 (1981): LPMGB Vol. 14 No. 3 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 2 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 1 (1980): LPMGB More Issue