cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6221-7394422
Journal Mail Official
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI
Published by LEMIGAS
ISSN : 20893396     EISSN : 25980300     DOI : 10.29017/LPMGB.58.1.1610
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (LPMGB) merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS untuk menyebar luaskan informasi terkait kegiatan penelitian, pengembangan rekayasa teknologi dan pengujian laboratorium di bidang migas. Naskah dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri migas dari dalam dan luar negeri
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB" : 6 Documents clear
Etil Ester sebagai Biodiesel Masa Datang E. Suhardono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biofuel atau bahan bakar nabati (BBN) adalah bahan bakar berbasis tanaman, yang dikenal sebagai bahan yang terbarukan dan ramah lingkungan. Biofuel seperti biodiesel, bioetanol ataupun biobutanol (BBN generasi baru)[5], biasanya mempunyai titik nyala yang lebih tinggi daripada bahan bakar fosil[6], sehingga akan lebih aman pada saat disimpan atau dalam pengiriman. Biofuel pada umumnya tidak mengandung sulfur maupun senyawa polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH). Kalaupun ada konsentrasinya sangatlah kecil, jauh lebih kecil dari kadarnya di dalam bahan bakar minyak. Oleh karena itu kandungan sulfur dioksida dan PAH di dalam emisi gas buang sangat kecil. Penggunaan bahan bakar berbasis tanaman ini juga akan menyebabkan berkurangnya emisi karbon monoksida dan partikel padat ke udara. Dalam tulisan ini akan dibahas latar belakang dan cara produksi salah satu jenis biofuel yaitu biodiesel etil ester yang bisa diklasifikasikan sebagai energi hijau karena seluruh bahan bakunya berasal dari tanaman.
Korelasi Antarlaboratorium Fisika Kimia Pabrik Pelumas di Indonesia Subiyanto Subiyanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pabrik pelumas atau Lube Oil Blending Plan (LOBP) dan pabrik pengolahan pelumas bekas tentu harus dilengkapi dengan alat kontrol kualitas bahan baku maupun produknya yaitu laboratorium fisika kimia. Agar laboratorium dapat menjalankan kontrol kualitas dengan baik maka diperlukan akreditasi laboratorium. Berdasarkan pada Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian SNI 19-17025- 2000 (ISO-17025), laboratorium yang telah terakreditasi harus melakukan jaminan mutu hasil pengujian melalui beberapa cara, diantaranya uji banding antarlaboratorium atau disebut uji korelasi, yang harus dilakukan minimal setiap tahun atau dua tahun sekali. Atas dasar usulan yang disampaikan oleh PPPTMGB ”LEMIGAS“ telah disepakati oleh tidak kurang dari 17 laboratorium pelumas untuk mengadakan program korelasi antarlaboratorium pelumas yang akan dilaksanakan setiap tahun dan ditindaklanjuti dengan Temu Karya dan PPPTMGB ”LEMIGAS“ ditunjuk sebagai koordinator. Kesepakatan ini telah direalisasikan mulai tahun 2003 dan dilanjutkan tahun 2004. Pada tahun 2004 ini dilaksanakan Program Korelasi Antarlaboratorium Pelumas Tahap II, yang diikuti oleh 17 Laboratorium peserta. Selain berdasarkan kompetensi tersebut di atas program korelasi ini dimaksudkan untuk memacu setiap laboratorium peserta untuk selalu meningkatkanketelitian dalam pengujian, sehingga dapat dicapai repeatability dan reproducibility yang baik. Dengan peralatan dan operator yang teliti dan andal, membantu pemerintah dalam melindungi konsumen dan membentu pabrik pelumas tersebut dalam pengawasan mutu pelumas atau kontrol kualitas produk sebelum dan sesudah pelumas tersebut beredar di pasar.
Perkembangan Spesifikasi Bensin Indonesia dan Spesifikasi WWFC serta Pengaruhnya Bagi Industri Migas Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi bahan bakar fosil terutama minyak bumi untuk kebutuhan sektor transportasi dan bahan petrokimia belum mampu tergantikan oleh sumber energi lainnya, sehingga diperlukan usaha konservasi. Spesifikasi bahan bakar minyak jenis bensin yang dipasarkan dalam negeri menurut surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 3674 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006 adalah salah satu bahan bakar minyak konservasi energi dengan penambahan ether atau etanol ke dalam bahan bakar bensin. Spesifikasi bensin Indonesia harus dikaji ulang secara berkala untuk disesuaikan dengan perkembangan teknologi mesin, lingkungan hidup, konservasi energi dan beberapa karakteristik dan metode uji harus disesuaikan pula dengan spesifikasi bensin internasional EURO dan dari organisasi pembuat bensin dan mesin otomotif yang dikenal dengan World Wide Fuel Charter (WWFC). WWFC memberikan arah global harmonisasi bensin di seluruh dunia.
Identifikasi dan Karakterisasi Katalis TA-4 Bekas secara Kimia-Fisika dan Biologi Beserta Pemanfaatannya sebagai Limbah Non B3 Edi Gunawan; M. Udiharto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kinerja suatu katalis mempunyai keterbatasan. Selama pemanfaatan berlangsung, secara bertahap akan terjadi penurunan kemampuan kerja katalis. Katalis akan diganti dengan yang baru bila kinerja katalis tidak efektif lagi. Katalis bekas tidak dapat diaktifkan kembali, selanjutnya bahan tersebut berubah fungsi menjadi limbah. Limbah yang berasal dari katalis TA-4 bekas berupa butiran-butiran kecil yang keras dan berwarna hitam. Selama kegiatan kilang berlangsung, secara periodik limbah katalis akan selalu dihasilkan. Dari kegiatan suatu kilang di Pertamina, produksi limbah yang berasal dari katalis TA-4 dapat mencapai 12 ton per tahun. Sebagai limbah hasil kegiatan suatu industri migas, katalis TA-4 bekas tidak boleh langsung dibuang atau dimanfaatkan. Penanganan limbah tersebut, harus mengikuti ketentuan seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 85 Tahun 1999 (PPRI 85/1999). Penanganan diawali dengan identifikasi limbah, yaitu untuk mengetahui apakah limbah eks katalis TA-4 terdaftar dalam kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) atau tidak. Kemudian kajian dilanjutkan ke arah karakteristik limbah. Dalam hal ini pengujian limbah secara kimia-fisika diikuti dengan uji biologi. Apabila hasil analisis tidak memenuhi kriteria sebagai limbah B3, maka terhadap limbah katalis tersebut dapat dilakukan penanganan lebih lanjut. Limbah dapat dibuang di suatu lokasi yang terkontrol atau dapat pula dimanfaatkan menjadi produk lain. Dalam kegiatan ini, limbah katalis yang telah memenuhi kriteria untuk dibuang diusahakan untuk tidak langsung dibuang tetapi dikaji pemanfaatannya. Selama masih dapat dimanfaatkan, limbah tersebut perlu dimanfaatkan menjadi produk yang berdaya guna. Sehubungan dengan pendayagunaan limbah bekas katalis TA-4, dicoba mengkaji pemanfaatan limbah tersebut sebagai bahan campuran pembuatan paving block.
Spesifikasi dan Standar Spesifikasi Minyak Lumas Motor Bensin untuk Kendaraan Subiyanto Subiyanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelumas yang salah satu fungsinya untuk mengurangi gesekan atau keausan suatu logam atau mesin, banyak sekali jenisnya. Pelumas dibuat oleh produsen pelumas berdasarkan rencana penjualan produsen tersebut atas dasar studi yang dilakukan, akan tetapi bisa juga atas permintaan dari konsumen atau pemakai. Pemakai tersebut dapat perorangan, industri atau pabrik pembuat motor atau mesin dan peralatan lainnya. Sebelum diproduksi, formulator menyusun formula pelumas berdasarkan permintaan, misalnya pelumas jenis apa yang akan dibuat, viskositasnya termasuk SAE atau ISO yang mana, serta tingkat mutu unjuk kerja yang mana. Berdasarkan kriteria tersebut, kemudian dipelajari bagaimana komposisi minyak lumas dasarnya, apakah cukup dengan jenis mineral atau sintetik, serta aditif apa saja yang harus ditambahkan agar unjuk kerjanya terpenuhi. Untuk mendapatkan viskositas tertentu, minyak lumas dasar yang digunakan meskipun berasal dari minyak bumi, juga bisa menggunakan beberapa macam jenis minyak lumas dasar, demikian juga bila berasal dari jenis sintetik. Bahan kimia atau aditif yang ditambahkan juga dapat berbeda fungsi atau kegunaannya, walaupun dari jenis bahan yang sama. Misalnya jenis deterjen, dapat dibuat dari senyawa logam kalsium atau magnesium. Sebagai akibatnya setiap produk pelumas yang sama SAE maupuntingkat mutu unjuk kerja API nya, belum tentu hasil uji terhadap suatu karakteristik akan mempunyai nilai yang sama.
Proses Polimerisasi Olefin dan Peranannya dalam Pembuatan Bensin Ramah Lingkungan A.S Nasution; morina morina; Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era tahun 2000an persyaratan lingkungan tentang gas buang kendaraan bermotor akan semakin ditingkatkan. Sehubungan dengan hal tersebut, motor bakar dan bahan bakar telah berkembang secara bersamaan sehingga motor bakar memerlukan suatu bahan bakar yang mempunyai persyaratan tinggi. Persyaratan lingkungan dan tekanan untuk menurunkan polusi dari gas buang telah menyebabkan penyempurnaan desain motor bakar, antara lain pemakaian catalytic converter yang berakibat pula pada peningkatan mutu bahan bakarnya. Peningkatan compression ratio motor bahan bensin akan membutuhkan bahan bakar bensin berangka oktana tinggi dan penurunan polusi gas buang kendaraan bermotor akan membatasi baik komponen hidrokarbon tak jenuh bensin (aromatik, benzena dan olefin) maupun kadar nonhidrokarbonnya (organic sulfur).

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 2 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 1 (2023): LPMGB Vol. 56 No. 3 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 2 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 1 (2022): LPMGB Vol. 55 No. 3 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 2 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 1 (2021): LPMGB Vol. 54 No. 3 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 2 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 1 (2020): LPMGB Vol. 53 No. 3 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 2 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 1 (2019): LPMGB Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 2 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB Vol. 51 No. 3 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 2 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 1 (2017): LPMGB Vol. 50 No. 3 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB Vol. 49 No. 3 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 2 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB Vol. 48 No. 3 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 2 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 1 (2009): LPMGB Vol. 42 No. 3 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 1 (2006): LPMGB Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB Vol. 24 No. 2 (1990): LPMGB Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB Vol. 23 No. 3 (1989): LPMGB Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB Vol. 21 No. 3 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 2 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB Vol. 20 No. 3 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 2 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 1 (1986): LPMGB Vol. 19 No. 3 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 2 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 1 (1985): LPMGB Vol. 18 No. 3 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 2 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 1 (1984): LPMGB Vol. 17 No. 2 (1983): LPMGB Vol. 15 No. 1 (1981): LPMGB Vol. 14 No. 3 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 2 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 1 (1980): LPMGB More Issue