cover
Contact Name
Agung Suharyanto
Contact Email
suharyantoagung@gmail.com
Phone
+628126493527
Journal Mail Official
suharyantoagung@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan Universitas Negeri Medan, Jalan Willem Iskandar, Pasar V, Medan Estate, Sumatera UtaraUniversitas Negeri Medan, Jalan Willem Iskandar, Pasar V, Medan Estate, Sumatera Utara, 20221, Telp.(061) 6625973 Fax. (061) 6614002, Mobile: 08126493527 E-mail:anthropos@unimed.ac.id
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
ANTHROPOS: JURNAL ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA (JOURNAL OF SOCIAL AND CULTURAL ANTHROPOLOGY)
ISSN : 24604585     EISSN : 24604593     DOI : 10.24114
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya(Journal of Social and Cultural Anthropology) is a Journal of Social and Cultural Anthropology for information and communication resources for academics, and observers of Social and Cultural Anthropology, Educational Social and Cultural Anthropology/Sociology, Methodology of Social and Cultural Anthropology/Sociology. The published paper is the result of research, reflection, and actual critical study with respect to the themes of Social and Cultural Anthropology/Sociology. All papers are blind peer-review. The scope of Anthropos is the Science of Social and Cultural Anthropology/Sociology. Published twice a year (Juli and January) and first published for print and online edition in July 2015
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2023): Januari" : 9 Documents clear
Titik Temu Tradisi dan Modernisasi: Adaptasi Kultural Pelestarian Wayang Kulit di Era Digital Rosa Novia Sapphira
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.41500

Abstract

Penelitian ini mengargumentasikan upaya dan strategi yang dilakukan Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman dalam melestarikan kesenian wayang kulit di tengah tantangan arus modernisasi. Data diperoleh dengan menggunakan metode kualitatif dari hasil pengamatan, penelitian kepustakaan, dan wawancara. Tulisan ini kemudian menemukan fenomena yang menjelaskan bahwa ternyata modernisasi terhadap tradisi, tidaklah selalu bersifat oposisi. Dalam hal ini, tradisi dan modernisasi yang sering diperdebatkan dan dipandang sebagai sesuatu yang terpisahkan, ternyata dapat berjalan selaras dan memiliki keterkaitan yang luar biasa. Ide awal digitalisasi terhadap pelestarian wayang kulit ini datang dari atensi Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai pusat kebudayaan Jawa Mataram yang banyak menyimpan benda dan warisan budaya yang tentunya bernilai tinggi. Wayang kulit yang ribuan jumlahnya, menjadi salah satu kesenian yang ditransisikan ke dalam bentuk digital, bahkan dalam proses digitalisasi koleksi wayang kulit tersebut Keraton Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman membentuk tim dokumentasi khusus. Harapannya, digitalisasi kesenian wayang kulit ini menjadi sumber informasi mengenai kebudayaan Jawa yang dapat diakses dengan mudah oleh siapapun dan dimanapun melalui internet guna merespon pesatnya perkembangan Teknologi Informasi.Kata Kunci: Wayang Kulit, Tradisi, Digitalisasi, Keraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman.  This study argues for the efforts and strategies made by the Keraton Yogyakarta and the Kadipaten Pakualaman in preserving the art of wayang kulit amidst the challenges of modernization. The data in this article were obtained using qualitative methods from observations, literature research, and interviews. This paper then finds a phenomenon that explains that modernization and tradition are not always on the opposite side. In this case, tradition and modernization, which are often debated and seen as something that is inseparable, can actually go hand in hand and have an extraordinary connection. The initial idea of digitizing the preservation of wayang kulit came from the attention of the Keraton Yogyakarta and the Kadipaten Pakualaman as the center of the Mataram Javanese culture which holds many objects and high-value cultural heritage. Wayang kulit is one of the arts that has been transitioned into digital form. In the process of digitizing the wayang kulit collection, the Keraton Yogyakarta and the Kadipaten Pakualaman formed a special documentation team. The hope is that the digitization of wayang kulit art will become a source of information about Javanese culture that can be accessed easily by anyone and anywhere via the internet in order to respond to the rapid development of Information Technology.Keywords: Wayang Kulit, Tradition, Digitalization, Keraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman 
Relasi Kuasa Majikan dengan Bibik Medan (Bidan) di Desa Bandar Khalipah, Kabupaten Deli Serdang Nur Hidayah Pauzi Harahap; Ratih Baiduri; Rosramadhana Rosramadhana
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.36429

Abstract

Tulisan ini dibuat untuk mengetahui profil bibik Medan (bidan), memahami hubungan kerja antara majikan dengan bibik Medan (bidan) serta menganalisis relasi kuasa yang tercipta antara majikan dengan bibik Medan (bidan). Data-data dikumpulkan melalui penelitian lapangan pada lokasi penelitian di desa Bandar Khalipah, melalui wawancara kepada para pekerja rumah tangga dan dianalisa secara kualitatif. Kajian ini menyimpulkan bahwa, para bibik Medan (Bidan) tersebar  di Desa Bandar Khalipah tepatnya di dusun 1, 7, 8, 9, 10, 11 dan 14 dengan rentang usia 29 sampai dengan 62 tahun. Hubungan kerja yang terjalin antara majikan dengan bibik Medan (Bidan) yang berasal dari Desa Bandar Khalipah adalah hubungan diperatas. Hubungan diperatas (dienstverhoeding) dimana pihak majikan berhak memberikan perintah-perintah yang harus ditaati oleh pihak lainnya. Ciri khas dari hubungan kerja tersebut adalah bekerja di bawah perintah orang lain dengan menerima upah. Relasi kuasa antara majikan terhadap sembilan pekerja rumah tangga “Bibik Medan” (Bidan) di Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan yaitu: Pertama, dari segi perlindungan hukum terhadap pekerja rumah tangga Bibik Medan (Bidan) yang belum secara yuridis diakui di Indonesia. Kedua, upah/gaji dari 9 Bibi Medan (Bidan) dibawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Ketiga, ada majikan yang tidak menambah upah/gaji kalau tidak  diminta oleh Bibi Medan (Bidan). Ke empat, ada juga Bibi Medan (Bidan) yang jam pulang kerja nya tidak sesuai kesepakatan namun Bibi Medan (Bidan) tidak berani mengatakan kepada majikan. Kelima, ada juga Bibi Medan (Bidan) yang mendapatkan cuti Idul Fitri hanya sehari saja. Ke enam, ada juga majikan yang memberikan banyak aturan-aturan yang tidak sesuai kesepakatan dan juga pekerjaan yang tidak sesuai kesepakatan.Kata Kunci: Relasi Kuasa, Majikan, Bidan  This paper was written to find out the profile of Medan's aunt (bidan), to understand the working relationship between the employer and Medan's aunt (bidan) and to analyze the power relationship created between the employer and Medan's aunt (bidan). The data were collected through field research at the research location in the village of Bandar Khalipah, through interviews with domestic workers and analyzed qualitatively. Based on the results of field research, it was found that "Bibik Medan" (Bidan) were scattered in Bandar Khalipah Village, to be precise, in hamlets 1, 7, 8, 9, 10, 11 and 14 with ages ranging from 29 to 62 years. The working relationship that exists between the employer and "Bibik Medan" (Bidan) who comes from the village of Bandar Khalipah is an above level relationship. The relationship is leveled (dienstverhoeding) in which the employer has the right to give orders that must be obeyed by the other party. The distinctive feature of this work relationship is working under the orders of others by receiving wages. The power relationship between the employer and nine domestic workers "Bibik Medan" (Bidan) in Bandar Khalipah Village, Percut Sei Tuan District, namely: First, in terms of legal protection for the domestic worker "Bibik Medan" (Bidan) who has not been legally recognized in Indonesia. Second, the wages/salaries of 9 "Bibik Medan" (Bidan) are below the Regency/City Minimum Wage (UMK). Third, there are employers who do not increase their wages/salary if "Bibik Medan" (Bidan) does not ask for it. Fourth, there was also "Bibik Medan" (Bidan) whose hours were not according to the agreement but "Bibik Medan" (Bidan) did not dare to tell the employer. Fifth, there is also "Bibik Medan" (Bidan) who gets only one day of Eid leave. Sixth, there are also employers who give a lot of rules that are not in accordance with the agreement and also work that is not in accordance with the agreement.Keywords: Power Relation, Employer, Bidan
Tren Museum Date: Perilaku Pemanfaatan Ruang Sosial dalam Perspektif Antropologi Tuffana Farasabila; Jajang Gunawijaya
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.40840

Abstract

Museum seringkali dianggap sebagai tempat memajang koleksi tertentu dengan suasana yang membosankan. Namun saat ini museum mulai dilirik sebagai tujuan rekreasi, salah satu bentuknya adalah museum date yang saat ini banyak dilakukan oleh generasi Z. Museum date merupakan kegiatan kencan dengan cara mengunjungi museum dan menikmati koleksinya. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi bentuk kuasa museum dan agen-agen pendukungnya di balik berkembangnya tren kunjungan dan bagaimana inovasi tata pameran dapat meningkatkan minat berkunjung ke museum. Studi yang menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara mendalam ini menemukan bahwa museum date merupakan momen penciptaan pengalaman unik antara pengunjung dan koleksi yang dipamerkan dengan suasana tertentu, dan tata pameran yang inovatif berdampak pada minat kunjungan serta berpotensi mempengaruhi gaya hidup generasi Z. Selain itu, studi ini memberikan wawasan yang lebih baik kepada museum tentang pentingnya inovasi dalam transfer pengetahuan sejarah untuk menciptakan pengalaman baru bagi pengunjung dalam menikmati museum. A museum is frequently considered an unexciting space to display a particular collection. These days, the museum has made a unique way to interest as a recreation place. Museum-date has been quite a favored activity for gen-Z lately. It is dating activities by visiting museums and enjoying their collections. This research explores its strengths and the supporting agents behind developing the museum’s visit trends and proves that the developed innovation can increase visitors’ interest in visiting the museum. Based on the study method, which conducts observation and depth interviews, museum-date bears a remarkable experience among visitors and displayed-collection in the incredible moment and impacted, innovative exhibition arrangement on visitors’ interest, potentially affecting gen-Z’s lifestyles.
Pertarungan di Ranah Perparkiran (Studi Kasus Titi Rantai, Medan) Lode Wijk Pandapotan Girsang; Fikarwin Zuska
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.39616

Abstract

Tulisan ini mengkaji pertarungan yang terjadi di ranah sosial perparkiran di Kota Medan terkhusus di Kelurahan Titi Rantai. Parkir merupakan suatu ranah sosial yang di gandrungi oleh banyak pihak,seperti; pemuda setempat, organisasi kemasyarakatan, pengawas parkir dan aparat keamanan. Karena pada ranah perparkiran terdapat suatu sumber daya yang memikat dan memicu terjadinya pertarungan antar berbagai pihak. Pertarungan pada ranah sosial akan menghasilkan suatu praktik atau pola pengelolaan parkir. Metode yang digunakan adalah metode penelitian etnografi dengan teknik pengumpulan data melalui percakapan sehari-hari dan melakukan observasi partisipasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertarungan yang terjadi pada ranah parkir menggunakan berbagai ‘modal’ yang memampukan agen untuk memenangkan pertarungan, yaitu modal simbolik, modal ekonomi, modal sosial dan modal budaya. Akumulasi modal dalam jumlah yang lebih besar menjadi penentu pada pertarungan pada ranah parkir, semakin besar akumulasi modal yang dimiliki akan memungkinkan agen/pelaku untuk memenangkan pertarungan pada ranah parkir. Kepemilikan modal dalam ranah parkir juga harus didukung oleh kemampuan agen/pelaku untuk mengaktualisasikan modal yang dimiliki.This paper examines the battle that occurs in the social realm of parking in Medan City, especially in Titi Rantai. Parking is a social domain that is loved by many parties, such as; local youth, civic organizations, parking inspectors and security forces. Because in the realm of parking, there is a resource that attracts and triggers a battle between various parties.  The fight in the social sphere will result in a practice or pattern of parking management. The method used is an ethnographic research  method with data collection techniques through daily conversation and conducting participation observations in April.  The results of this study show that the fight that occurs in the parking lot uses various 'capitals' that enable agents to win the fight, namely symbolic capital, economic capital, social capital and cultural capital. The accumulation of a larger amount of capital becomes decisive in the fight in the parking lot, the greater the accumulated capital owned will allow the agent / perpetrator to win the battle in the parking domain. Capital ownership in the parking lot must also be supported by the ability of agents/actors to actualize their capital.
Orang Malind dan Tanahnya: Membaca Kebijakan Food Estate Melalui Paradigma Ethnoecology dan Ethnodevelopment Dwi Wulan Pujiriyani
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.34951

Abstract

Tulisan ini bertujuan menganalisis praktik pengadaan lahan pangan skala luas dalam skema MIFEE di Merauke Papua sebagaimana didokumentasikan dalam film Mama Malind Su Hilang’. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan analisis isi. Praktik pengadaan lahan dan keterpinggiran masyarakat lokal dianalisis dengan menggunakan dua paradigma utama yaitu paradigma etnoekologi dan paradigma etnodevelopment. Kedua paradigma ini digunakan sebagai kerangka analisis karena memiliki benang merah dalam perspektif yang dibangunnya berkaitan dengan relasi antara manusia dengan alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa food estate merupakan realitas pengabaian terhadap konsep hutan yang dimaknai sebagai sumber kehidupan. Food estate juga merupakan contoh pembangunan yang tidak sensitif terhadap kebutuhan masyarakat lokal serta pembangunan yang mengabaikan nilai-nilai lokal terkait personifikasi hutan yang bukan semata sebagai aset, tetapi sebagai penopang daya hidup bagi masyarakat lokal melalui nilai-nilai non ekonominya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pengadaan lahan pangan skala luas perlu dievaluasi ulang apabila akan dilanjutkan atau diterapkan. Kehilangan tanah bagi masyarakat Zanegi tidak hanya menandai hilangnya sumber penghidupan tetapi juga identitas sebagai komunitas yang memiliki daya hidup dan kemandiriannya sendiri.This paper aims to analyze the practice of large-scale land acquisition under the MIFEE scheme in Merauke Papua as documented in the film Mama Malind Su Hilang '. The method used is descriptive qualitative using content analysis. The practice of land acquisition and the marginalization of local communities were analyzed using two main paradigms, namely the ethnoecological paradigm and the ethnodevelopment paradigm. These two paradigms are used as an analytical framework because they have a common thread in the perspective they build regarding the relationship between humans and nature. The results showed that food estate is the reality of ignoring the concept of forest which is interpreted as a source of life. Food estate is also an example of development that is insensitive to the needs of local communities as well as development that ignores local values related to forest personification which are not only as assets, but as a life support for local communities through their non-economic values. This indicates that the policy for large-scale food land acquisition needs to be re-evaluated if it is to be continued or implemented. The loss of land for the Zanegi people not only marks the loss of their source of livelihood but also an identity as a community that has its own life force and independence.
Menemukan Ruang Keramahtamahan Dalam Media Facebook Henderikus Nayuf
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.33768

Abstract

Fokus dalam penelitian ini adalah upaya menemukan ruang keramahtamahan dalam platform facebook. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan memberi ruang dialektika bagi perspektif etnografi digital. Penelitian dilakukan dengan cara mengobservasi dan memeriksa 25 akun pengguna facebook selama 60 hari. Hasil dari penelitian menunjukkan; 1) platform facebook digunakan sebagai ruang muka–belakang, 2) terbuka ruang bagi nilai-nilai keramahtamahan sebagai bagian dari aktualisasi diri pengguna facebook dalam menaburkan narasi-narasi kemanusiaan. Pada akhirnya, disimpulkan bahwa platform facebook menyediakan ruang yang sangat terbuka untuk kampanye kebaikan melalui salah satu nilai keutamaan manusia, yakni keramahtamahan. The focus of this research is to find a space for hospitality on the Facebook platform. This study uses a phenomenological approach by providing a dialectic space for a digital ethnographic perspective. The research was conducted by observing and checking 25 Facebook user accounts for 60 days. The results of the research show; 1) the Facebook platform is used as a front-back space, 2) space is opened for hospitality values as part of Facebook users' self-actualization in spreading human narratives. In the end, it was concluded that the Facebook platform provides a very open space for good campaigns through one of the values of human virtue, namely hospitality.
Nande-nande Perengge-rengge: Pencari Nafkah, Kesetaraan Gender dan Role Model di Ruang Publik Kota Medan Apriani Harahap; Dita Aulia Putri; Ardiansyah Ardiansyah; Nur Aisyah Nasution; Khalishatun Zahra; Rizky Wahyudi
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.38494

Abstract

Nande-nande perengge-rengge adalah perempuan Karo yang bekerja sebagai pedagang eceran sayur-mayur di Pasar Raya Medan Metropolitan Trade Centre (MMTC) di Kota Medan. Sebagai perempuan Karo, Nande-Nande Perengge-rengge secara kultural seperti mata uang yang memiliki dua sisi, yakni secara kultural berada dibawah laki-laki, dipandang negatif atau mengalami subordinasi perempuan. Disisi lain, secara ekonomi perempuan Karo memegang peranan penting dalam pemenuhan ekonomi keluarga. Tujaun penelitian ini untuk menguraikan kontribusi Nande-nande Perengge-rengge dalam sektor perekonomian keluarga ditengah budaya patriarki dan mengungkapkan peranannya sebagai role model di ruang publik. Metode dalam penelitian ini adalah kulitatif deskriftif dengan menggunakan teknik analisis etnografi (analisis Spradley). Tahapan penelitian ini terdiri dari studi literatur, observasi, wawancara dan dokumentasi. Kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga berada di tangan perempuan Karo Nande-nande Perengge-rengge, mereka menjadi tulang punggung atau sumber pendapatan keluarga (pencari nafkah). Melalui bekerja Nande-nande Perengge-rengge membuktikan posisi perempuan setara dengan laki-laki (bahkan lebih tinggi), mereka dapat memposisikan kembali kedudukannya dalam budaya yang patriarki. Sosok pedagang perempuan Karo yang berdikari sendiri dalam pemenuhan ekonomi keluarga, bisa membuka lowongan kerja bagi perempuan lain, sosok good girls yang sukses, pekerja keras, sederhana dan cerdas di ruang publik inilah yang bisa menjadi role model bagi perempuan lain. Nande-nande perengge-rengge is a Karo woman who works as a vegetable retailer at Pasar Raya Medan Metropolitan Trade Center (MMTC) in Medan City. As a Karo woman, Nande-Nande Perengge-rengge culturally is like a coin that has two sides, namely being culturally under men, viewed negatively or experiencing women's subordination. On the other hand, economically Karo women play an important role in fulfilling the family economy. The purpose of this study is to describe the contribution of Nande-nande Perengge-rengge in the family economy sector in the midst of a patriarchal culture and to reveal its role as a role model in the public sphere. The method in this study is descriptive qualitative using ethnographic analysis techniques (Spradley analysis). The stages of this research consist of literature study, observation, interviews and documentation. Contributions in fulfilling the family's economic needs are in the hands of Karo Nande-nande Perengge-rengge-rengge women, they are the backbone or source of family income and breadwinners. Through the work of Nande-nande Perengge-rengge to prove the position of women as equal to men (even higher), they can reposition their position in a patriarchal culture. The figure of a Karo woman trader who is independent in fulfilling the family economy, can open job vacancies for other women, the figure of good girls who are successful, hardworking, simple and intelligent in the public sphere can be a role model for other women. 
Pagebluk dalam Konstruksi Pengetahuan Kelompok Penghayat Kejawen Kapribaden di Gunung Kawi Yun Damara Maulidiyah; Baiq Lily Handayani
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.35071

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pagebluk dalam konstruksi pengetahuan pada kelompok masyarakat penghayat kejawen di Gunung Kawi. Penggunaan istilah pagebluk kembali digunakan pada saat pandemi COVID-19 yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, catatan lapang, wawancara mendalam, dokumentasi dan juga studi literatur, kemudian dianalisis menggunakan triangulasi sumber. Pagebluk merupakan istilah yang awalnya digunakan oleh masyarakat Jawa pada sebuah wabah yang terjadi hingga mengakibatkan banyak korban jiwa. Pagebluk merupakan fenomena yang dipahami sebagai peristiwa yang kerap terjadi pada beberapa periode tertentu. Sehingga mendapatkan kesimpulan bahwa pagebluk dimaknai sebagai bentuk alam membersihkan dari ketidak harmonisasian, pagebluk merupakan karma atau hukuman oleh Tuhan bagi manusia yang tamak dan pagebluuk merupakan cicle alam sebagai menciptakan- merusak- menciptakan kembali. This research aims to find out Pagebluk in the construction of knowledge in the kejawen community group at Gunung Kawi. The use of the term pagebluk was reused during the COVID-19 pandemic that occurred. The research method used is qualitative research with an ethnographic approach. The data in this study were collected through observation, field notes, in-depth interviews, documentation and also literature studies, then analyzed using source triangulation. Pagebluk is a term originally used by the Javanese community for an outbreak that occurred and resulted in many casualties. Pagebluk is a phenomenon that is understood as an event that often occurs in certain periods. So as to get the conclusion that pagebluk is interpreted as a form of nature cleaning from disharmony, pagebluk is karma or punishment by God for greedy humans and pagebluuk is a natural cicle as creating-destroying-recreating.
Representasi Ideologi Komunisme dalam Perspektif Aktivis Mahasiswa (Studi Life History pada Mahasiswa Universitas di Jawa Barat) Alissa Wiranova; Rina Hermawati
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 2 (2023): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i2.39751

Abstract

Ideologi komunisme kerap jadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Komunisme dinarasikan tidak pernah jauh dari ateisme, sikap keji, dan biadab. Tendensi anti-komunis semacam ini lahir dari doktrin politik Orde Baru yang terlembagakan lewat karya seni, sastra, dan pendidikan formal masyarakat. Melalui studi life history, penelitian ini mengupas persepsi generasi mahasiswa yang seumur hidupnya tak pernah berada di bawah naungan pemerintah Orde Baru secara langsung, tetapi masih kerap berjumpa dengan narasi anti-komunis gubahan negara. Selain itu, generasi mahasiswa juga hidup beriringan dengan derasnya arus informasi, sehingga memungkinkan untuk mereka menerima narasi alternatif yang bersifat netral maupun kontra terhadap versi negara. Hasilnya, persepsi yang mereka miliki umumnya bersifat dinamis dan terus bergerak, mengikuti arus keterbukaan informasi. Perjumpaan pertama mahasiswa dengan ideologi komunisme melalui kewajiban menonton film Pengkhianatan G30S/PKI selalu meninggalkan kesan buruk di dalam benak mereka terhadap ideologi komunisme. Meski begitu, seiring dengan munculnya berbagai narasi alternatif kontra Orde Baru, perlahan mahasiswa mulai mempertanyakan keabsahan representasi ideologi komunisme yang selama ini banyak beredar di Indonesia, bahwasanya komunisme tak lebih daripada ateisme dan kebiadaban. Communism has often been deemed as a latent danger by the people of Indonesia. The ideology itself has always been spoken in a pejorative manner and commonly associated with diabolic entities, atheism, brutality and atrocity. Such popular anti-communistic tendencies derived from political doctrines during the New Order Era (Orde Baru), established within formal institutions, art works, literatures, and education. This study aims to unravel and examine the perception of the current generation of college students who never have lived the experience of the New Order’s governance but are affected by the resonance of its anti-communist doctrines. Results show that there is a dynamic and shifting perceptions among students due to the current wave of information disclosure. The students’ first encounter with ideology of communism is through a docudrama entitled Pengkhianatan G30S/PKI which narrates the Communist Party of Indonesia as the mastermind behind the coup and assassination of six Indonesian Army generals. The docudrama perpetuated the impression of the Indonesian Communist Party as a diabolical entity among thousands of Indonesians, as it did to young Indonesian Students interviewed in this study. Nevertheless, as time went by and accessibility of information progressed, alternative narratives that contradict the New Order anti-communist doctrines were beginning to resurface and cause the students to question the validity of popular anti-communistic notion that has been enforced by the New Order’s government into lives of Indonesians and the nation’s history. 

Page 1 of 1 | Total Record : 9