cover
Contact Name
Firman Ali Rahman
Contact Email
firmanalirahmanlombok@gmail.com
Phone
+6287802501414
Journal Mail Official
firmanalirahmanlombok@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Grand Muslim 2 No R2, Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, NTB, Indonesia
Location
Kab. lombok barat,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Bioindikator: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
ISSN : -     EISSN : 30636264     DOI : https://doi.org/10.71024/bioindikator
Biondikator: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi is a scientific publication forum that focuses on the development and application of biology and biology education. This journal accommodates various research and scientific studies covering various aspects of biology, such as cell and molecular biology, ecology, genetics, zoology, botany, microbiology, and biotechnology. In addition, this journal also pays special attention to innovation in biology education, including teaching strategies, curriculum development, learning evaluation, educational technology, and environment-based learning. Biondikator aims to be the main reference for academics, researchers, and practitioners in the fields of biology and biology education, while also playing an active role in improving the quality of learning and understanding of biology at various levels of education.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024" : 5 Documents clear
Analisis Limbah Tambang Emas Konvensional Di Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat Lalu Kinayung Purbajati; Anis Syakiratur Rizki; Heri Murtawan; Samsul Bahri; Alfian Pujian Hadi
Bioindikator: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Yayasan Tajuk Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71024/bioindikator/2024/v1i2/78

Abstract

Gold mining in Sekotong District has raised concerns among the government. This gold mining should not be allowed to continue continuously, because it can disrupt the continuity of the ecosystem. One of the main problems is the disposal of mining waste which has damaged the environment. This article was written using the library research method, namely by codifying scientific sources from various journals and articles with the same data and then combining them to obtain information about the impact of gold mining waste in the Sekotong area, West Lombok, West Nusa Tenggara. The wide distribution of mercury and cyanide is due to the fact that these two chemicals are very efficient in processing gold ore. However, both of them are also chemicals that are very dangerous for the environment. In addition, the distribution of heavy metals resulting from waste from traditional gold mining is greatly influenced by soil conditions, such as temperature and rock disintegration. Various biological and microbiological processes can concentrate metals in the soil, and heavy metal contamination usually accumulates at depths of up to 75 cm above the soil surface. Mercury and manganese waste resulting from gold processing can enter river ecosystems, dissolve in the water, and sink to the bottom of the water, where they will accumulate in sediment. This waste not only settles in sediment, but some of it will also enter the body tissues of biota that live in river waters.
Keanekaragaman Tumbuhan Paku Di Kawasan Twa Kerandangan Kabupaten Lombok Barat Hidiyatul Fithi; Siti Diana Fathia; Hasan Basri; Ervina Titi Jayanti
Bioindikator: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Yayasan Tajuk Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71024/bioindikator/2024/v1i2/82

Abstract

Taman Wisata Alam Kerandangan adalah salah satu kawasan konservasi yang terletak di desa Senggigi, Lombok Barat. Lanskap eksotis dan beragam flora maupun fauna menjadi ciri khas yang membedakan taman wisata ini. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi yang berisi penjabaran terkait keanekaragaman tumbuhan paku di kawasan TWA Kerandangan. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode jelajah kombinasi dengan plot, yaitu dengan menjelajahi kawasan TWA dari halaman depan menuju air terjun Goa Walet dan membuat plot ukuran 5m x 5m untuk setiap stasiun tempat pengambilan data tumbuhan paku. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yaitu menghitung INP dan H´ tumbuhan paku yang didapatkan, and documentation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat di kawasan TWA Kerandangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat13 jenis tumbuhan paku antara lain Adiantum raddianum C. Presl, Christella dentata (Forssk.) Brownsey & Jermy, Cystopteris fragilis (L.) Bernh., Elaphoglossum crassifolium (Gaudich.) W.R. Anderson & Crosby, Microsorum pustulatum (G.Forst.) Copel., Nephrolepis biserrata, Odontosoria chinensis (L.) J.Sm., Platycerium bifurcatum C.Chr, Polypodium vulgare, Pteridium aquilinum (L.) Kuhn, Pteris biaurita L., Pteris ensiformis Burn., Selaginella sp. Berdasarkan hasil analisis data didapatkan INP stasiun 1 didominasi oleh C. fragilis (63,17%), C. dentata (51,03%), dan A. raddianum (45,95%). INP stasiun 2 didominasi oleh jenis P. aquilinum (56,14%), dan INP pada stasiun 3 didominasi oleh E. crassifolium (97,57%) dan Selaginella (53,22%). Nilai indeks keanekaragaman tumbuhan paku di TWA Kerandangan membuktikan bahwa keanekaragaman jenis tumbuhan paku dari setiap stasiun termasuk ke dalam kategori sedang dengan nilai 1,0 < H´ < 3 dimana H´ pada stasiun 1 ialah 1,70, stasiun 2 yaitu 1,69, dan stasiun 3 yaitu 1,24.
Analisis Vegetasi Tumbuhan Bawah Metode Garis Menyinggung Dan Titik Menyinggung Di Hutan Kampus IPB Dramaga Taufik Arianto; Firman Ali Rahman; Masyarani Sulaiman; Yuliantin; Sulistijorini
Bioindikator: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Yayasan Tajuk Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71024/bioindikator/2024/v1i2/119

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi tumbuhan bawah di Hutan Kampus IPB Dramaga menggunakan dua metode utama, yaitu garis menyinggung (line intercept) dan titik menyinggung (point intercept). Kedua metode ini diterapkan untuk membandingkan keefektifan dalam mengukur parameter ekologi seperti kerapatan, frekuensi, dominansi, dan indeks keanekaragaman tumbuhan bawah. Data dikumpulkan di lokasi yang mewakili kondisi ekosistem hutan kampus dengan tingkat gangguan yang minimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode garis menyinggung lebih efektif dalam menggambarkan distribusi vegetasi secara horizontal, sementara metode titik menyinggung memberikan presisi tinggi dalam estimasi tutupan relatif. Vegetasi tumbuhan bawah di kawasan ini didominasi oleh spesies tertentu yang memiliki adaptasi tinggi terhadap lingkungan hutan kampus. Studi ini memberikan wawasan penting tentang pemilihan metode yang sesuai untuk analisis vegetasi di kawasan hutan buatan serta kontribusi spesies tumbuhan bawah dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Hasilnya dapat menjadi acuan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di lingkungan kampus dan kawasan serupa.
Analisis Vegetasi Tumbuhan Bawah Metode Garis Menyinggung Di Hutan Pendidikan Gunung Walat Firman Ali Rahman Ali; Taufik Arianto; Masyarani Sulaiman; Yuliantin; Sulistijorini
Bioindikator: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Yayasan Tajuk Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71024/bioindikator/2024/v1i2/120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi tumbuhan bawah di Hutan Pendidikan Gunung Walat menggunakan metode garis menyinggung (line intercept). Metode ini dipilih karena keefektifannya dalam mengukur keanekaragaman, dominansi, dan distribusi tumbuhan bawah di habitat alami. Data dikumpulkan dengan cara mencatat jenis tumbuhan yang melintasi garis transek, dilengkapi dengan pengukuran kerapatan, frekuensi, dan tutupan relatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi tumbuhan bawah di kawasan tersebut memiliki keanekaragaman yang tinggi dengan distribusi yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, kelembapan, dan struktur tanah. Spesies dominan yang ditemukan memberikan gambaran tentang dinamika ekosistem dan perannya dalam menjaga keseimbangan ekologi hutan. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan hutan pendidikan, sekaligus mendukung implementasi metode analisis vegetasi yang efektif dan efisien.
Analisis Sebaran Spasial Kontribusi Ekosistem Mangrove Sebagai Blue Carbon Dalam Implementasi FOLU Net Sink Di Pulau Lombok Anis Syakiratur Rizki; Alfian Pujian Hadi; Nuzuly Ilmia Cerminand; Mai Rizali; Baiq Farista; Arben Virgota
Bioindikator: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Yayasan Tajuk Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71024/bioindikator/2024/v1i2/289

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki peran strategis sebagai penyerap karbon (blue carbon) yang signifikan dalam mendukung mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran spasial kontribusi ekosistem mangrove sebagai blue carbon dalam konteks implementasi FOLU (Forestry and Other Land Use) Net Sink di Pulau Lombok. Metodologi yang digunakan melibatkan analisis data penginderaan jauh, pemetaan spasial, serta penghitungan stok karbon berdasarkan parameter biogeofisik mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran ekosistem mangrove di Pulau Lombok tidak merata dengan potensi karbon tertinggi ditemukan pada kawasan dengan luas ekosistem mangrove tertinggi, hasil ini menunjukkan bahwa Kabupaten Lombok Timur memiliki luasan mangrove terbesar yang tersebar di Mangrove Gili Lawang (429,18 ha) dan Gili Sulat (683,30 ha), serta beberapa lokasi lain seperti Gili Petagan (79,34 ha), Seruni Mumbul (11,27 ha), dan Teluk Jor (66,69 ha). Estimasi potensi simpanan karbon tertinggi terdapat di Gili Sulat dengan total sebesar 110.537 ton, dan Gili lawang mencapai 69.428,4 ton. Potensi yang besar pada simpanan dan serapan karbon ini berkontribusi terhadap nilai jasa ejosistem dengan estimasi terbesar ditemukan pada ekosistem mangrove Gili Sulat (Rp30,39 miliar) dan Gili Lawang (Rp19,09 miliar). Estimasi potensi blue karbon ekosistem mangrove pulau Lombok dapat dipengarhi oleh faktor seperti luas area, jenis vegetasi, dan kondisi ekosistem menjadi penentu utama estimasi simpanan carbon (carbon sink), serapan karbon diosida (CO2), dan produksi oksigen (O2).

Page 1 of 1 | Total Record : 5