Melintas An International Journal of Philosophy and Religion
The aim of this Journal is to promote a righteous approach to exploration, analysis, and research on philosophy, humanities, culture and anthropology, phenomenology, ethics, religious studies, philosophy of religion, and theology. The scope of this journal allows for philosophy, humanities, philosophy of culture and anthropology, phenomenological philosophy, epistemology, ethics, business ethics, philosophy of religion, religious studies, theology, dogmatic theology, systematic theology, theology of sacrament, moral theology, biblical theology, and pastoral theology.
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 21 No. 2 (2005)"
:
14 Documents
clear
Absolutisme Negara dan Lembaga Agama: Pasca Aufklärung di Eropa Barat
Kristiyanto, Eddy
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1443.544 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1024.211-230
Along her history, the Catholic Church has hardly been able to get rid of political interests and power. The struggle to do so had in fact led her to even deeper involvement in the political world. Particularly in the ear after the Enlightenment the Church was more and more subordinated to the state by means of various juridical measures. The tensions between the state and the church, however, more often than not turned out to be a blessing in disguise, for thereby the Church was compelled to revisit her essential mission: to deal only with the moral and religious dimension of the civil society. It is this mission which calls for the Church to be continuously involved in the human affairs.
DIALOG IMAJINER DENGAN HANS KELSEN TENTANG "KEADILAN"
Kusumohamidjojo, Budiono
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.846 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1025.231-236
This articlewas written in 1987 and was not published to date. It deals withKelsen's concept of justice that is based on his theory of pure law. Kelsen's work was written in the speculative tradition of the European Staatsrecht, which does not necessarily resemble constitutional law in the English analytical tradition. The positive law that governs the daily life should be the result of legal studies that in turn has to be liberated from political interests. For that sake man has to revert to the Grundnorm, by means of continuous application of teleology (which is commensurate with the term "hermeneutics" in modern philosophy). Kelsen was concerned about the trend of formalism as a short cut in the pursuit of justice, which could fire back on the coherence of the social process.
A NEW MODERNITY: Living and Believing in an Unstable World
Schreiter, Robert J.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (281.866 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1021.143-187
Dalam situasi tak stabil saat ini konsep postmodernitas dan multikulturalisme tak lagi banyak berguna. Pluralitas dan fragmentasi hanya menarik saat kondisi sosial stabil dan aman, saat keragaman kultural tampil sebagai aneka pilihan. Yang dibutuhkan kini adalah rasa keutuhan baru. Namun berbagai jalur pencarian keutuhan saat ini macam fundamentalisme, romantisisme, universalisme dan "splitting" ternyata juga tak cukup realistis menghadapi kompleksitas tuntutan jaman.Artikel ini mengusulkan konsep "modernitas baru", yang mengandung prinsip reflektivitas, kesadaran atas kaburnya batas-batas, kemampuan menerima hibriditas, dan orientasi kosmopolitan. Berdasarkan itu diusulkanlah konsep kekatolikan baru, yakni kekatolikan yang kosmopolitan dan tidak etnosentris; mengandung keutuhan iman yangmenampilkan kepenuhan kemanusiaan dan mempromosikan rekonsiliasi; serta mampu menciptakan masyarakat komunikasi yang mengelola kompleksitas dunia manusia secara lebih konstruktif.
ON THE AFRICAN CONCEPT OF TRANSCENDENCE: CONFLATING NATURE, NURTURE AND CREATIVITY
Opara, Chioma
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.716 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1022.189-200
Makalah ini hendak mendekonstruksi polaritas antara natur yang dianggap pasip, liar dan feminin dan kultur yang yang dianggap dinamis, maskulin. Sambil menolak tesis Beauvoir, tubuh perempuan dikembalikan sebagai mekanisme generatif dan konstruktif yang bersifat transenden. Bumi yang perempuan dan perempuan yang membumi adalah proyeksi abstrak tubuh bangsa Afrika sendiri. Ketercabikan perempuan parallel dengan nasib bangsa Afrika yang dimutilasi oleh perang, kemiskinan, penyakit, kolonialisme dan postkolonialitas. Dalam kerangka pandang Afrika, natur dan kultur adalah matriks dari keperempuanan yang berkodrat nurture yang mengandung kemampuan prokreasi dan kreativitas.
Chronicles - August 2005
Tedjoworo, Hadrianus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (88.848 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1027.259-269
'Chronicles' is a journal column of "MELINTAS" which contains information about the various events, congresses, conferences, symposia, necrologies, publications, and periodicals in the fields of philosophy and theology.
RELIGION, CULTURE AND IDENTITY REVISITED
Sugiharto, Bambang
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (92.133 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1023.201-210
Yang telah cenderung mengakibatkan agama dan kebudayaan rentan terhadap konflik adalah persoalan identitas. Identitas budaya atau pun agama tak mesti dipahami dari sudut prinsip non-kontradiktoris atau pun dipastikan sebagai suatu substansi tetap. Juga tidak harus dipahami berdasarkan kesamaan prinsip formal, pengelompokan sosial, atau pun berbagai bentuk batas. Hal-hal ini terlampau cair, tumpang-tindih dan kontekstual untuk memahami identitas. Perbedaan cara pandang kehidupanlebih merupakan perkara "bagaimana" daripada "apa"; lebih soal bagaimana berbagai unsur yang sama digunakan dengan cara yang berbeda dan dalam berbagai konteks yang berragam. Maka, barangkali identitas lebih tepat bila dilihat dari sudut "kepedulian yang sama", yang dalam perjalanan sejarah perlu selalu dikaji ulang kembali kepentingan dan maknanya.
A NEW MODERNITY: Living and Believing in an Unstable World
Schreiter, Robert J.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1021.143-187
Dalam situasi tak stabil saat ini konsep postmodernitas dan multikulturalisme tak lagi banyak berguna. Pluralitas dan fragmentasi hanya menarik saat kondisi sosial stabil dan aman, saat keragaman kultural tampil sebagai aneka pilihan. Yang dibutuhkan kini adalah rasa keutuhan baru. Namun berbagai jalur pencarian keutuhan saat ini macam fundamentalisme, romantisisme, universalisme dan "splitting" ternyata juga tak cukup realistis menghadapi kompleksitas tuntutan jaman.Artikel ini mengusulkan konsep "modernitas baru", yang mengandung prinsip reflektivitas, kesadaran atas kaburnya batas-batas, kemampuan menerima hibriditas, dan orientasi kosmopolitan. Berdasarkan itu diusulkanlah konsep kekatolikan baru, yakni kekatolikan yang kosmopolitan dan tidak etnosentris; mengandung keutuhan iman yangmenampilkan kepenuhan kemanusiaan dan mempromosikan rekonsiliasi; serta mampu menciptakan masyarakat komunikasi yang mengelola kompleksitas dunia manusia secara lebih konstruktif.
ON THE AFRICAN CONCEPT OF TRANSCENDENCE: CONFLATING NATURE, NURTURE AND CREATIVITY
Opara, Chioma
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1022.189-200
Makalah ini hendak mendekonstruksi polaritas antara natur yang dianggap pasip, liar dan feminin dan kultur yang yang dianggap dinamis, maskulin. Sambil menolak tesis Beauvoir, tubuh perempuan dikembalikan sebagai mekanisme generatif dan konstruktif yang bersifat transenden. Bumi yang perempuan dan perempuan yang membumi adalah proyeksi abstrak tubuh bangsa Afrika sendiri. Ketercabikan perempuan parallel dengan nasib bangsa Afrika yang dimutilasi oleh perang, kemiskinan, penyakit, kolonialisme dan postkolonialitas. Dalam kerangka pandang Afrika, natur dan kultur adalah matriks dari keperempuanan yang berkodrat nurture yang mengandung kemampuan prokreasi dan kreativitas.
RELIGION, CULTURE AND IDENTITY REVISITED
Sugiharto, Bambang
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v21i2.1023.201-210
Yang telah cenderung mengakibatkan agama dan kebudayaan rentan terhadap konflik adalah persoalan identitas. Identitas budaya atau pun agama tak mesti dipahami dari sudut prinsip non-kontradiktoris atau pun dipastikan sebagai suatu substansi tetap. Juga tidak harus dipahami berdasarkan kesamaan prinsip formal, pengelompokan sosial, atau pun berbagai bentuk batas. Hal-hal ini terlampau cair, tumpang-tindih dan kontekstual untuk memahami identitas. Perbedaan cara pandang kehidupanlebih merupakan perkara "bagaimana" daripada "apa"; lebih soal bagaimana berbagai unsur yang sama digunakan dengan cara yang berbeda dan dalam berbagai konteks yang berragam. Maka, barangkali identitas lebih tepat bila dilihat dari sudut "kepedulian yang sama", yang dalam perjalanan sejarah perlu selalu dikaji ulang kembali kepentingan dan maknanya.