cover
Contact Name
Desti Verani
Contact Email
mail@iphorr.com
Phone
+62895356428751
Journal Mail Official
jurnalpti207@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, 3 Kota Bandar Lampung 5247
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues
ISSN : 28074319     EISSN : 28074122     DOI : https://doi.org/10.56922/pti.v4i2
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan meliputi ilmu keparmasian. Penelitain sesuai tren pengobatan sesuai sumber alam di negara tropis. Pengembangan obat dan pendistribusian kepada pelanggan, dan sesuai aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) - Republik Indonesia
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023" : 5 Documents clear
Formulasi sediaan lotion ekstrak daun nangka (Artocarpus Heterophyllus) sebagai repelan terhadap nyamuk aedes aegypti Marcellia, Selvi; Nofita, Nofita; Triyanti, Yesicha
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i2.521

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by a virus that is transmitted through the bite of the Aedes aegypti mosquito which has been infected by the dengue virus from DHF patients. Jackfruit leaf extract containing saponins, flavonoids, alkaloids, terpenoids, steroids and tannins can kill the Aedes aegypti mosquito. Based on the background of the researchers interested in testing the formulation of the Jackfruit Leaf Extract Lotion (Artocarpus heterophyllus) as a repellent against the Aedes aegypti mosquito. Purpose: To determine the effect of repellant extract of jackfruit leaf (Artocarpus heterophyllus) against Aedes aegypti mosquitoes. Method: Extraction of percolation with various tests, including the test of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, steroids, triterpenoid, evaluation of mosquito repellent lotions. Results: The concentration of jackfruit leaf extract (Artocarpus heterophyllus) in lotion preparations was the most effective as a mosquito repellant Aedes aegypti, namely at a concentration of 9% with almost the same effectiveness as the positive control, namely 86% at 30 seconds and per 6 hours got an average of 79 .5% with a statistical test value of p < 0.05. Conclusion: Jackfruit leaf extract in lotion preparation has effectiveness in repelling mosquitoes. Keywords: Dengue Fever; Jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus); Aedes aegypti mosquito Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita DBD. Ekstrak daun nangka yang mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, terpenoid, steroid dan tanin dapat membunuh nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan latar belakang peneliti tertarik untuk melakukan Uji Formulasi Sediaan Lotion Ekstrak Daun Nangka (Artocarpus heterophyllus) sebagai Repelan Terhadap Nyamuk Aedes aegypti. Tujuan: Untuk mengetahui efek Repelan ekstrak daun nangka (Artocarpus heterophyllus) terhadap nyamuk Aedes aegypti. Metode: Ekstraksi perkolasi dengan berbagai uji diantaranya uji alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, triterpenoid, evaluasi lotion anti nyamuk. Hasil: Konsentrasi ekstrak daun nangka (Artocarpus heterophyllus) dalam sediaan lotion yang paling efektif sebagai reppelan nyamuk Aedes aegypti yaitu pada konsentrasi 9% dengan daya efektivitas yang hampir sama dengan kontrol positif yaitu 86% pada 30 detik dan per 6 jam diperoleh rata-rata 79,5% dengan nilai uji statistik p < 0,05. Simpulan: Ekstrak daun nangka dalam sediaan lotion memiliki efektivitas dalam menolak nyamuk.Kata kunci: Demam Berdarah; Daun Nangka (Artocarpus heterophyllus); Nyamuk Aedes aegypti. Kata Kunci: Demam Berdarah; Daun nangka (Artocarpus heterophyllus); Nyamuk Aedes aegypti
Rasionalitas penggunaan obat pada pasien rematoid arthritis di ruang penyakit dalam RSUD Sukadana Kabupaten Lampung Timur Tahun 2019 Saputri, Gusti Ayu Rai; Yasir, Angga Saputra; Sandika, Agung Ngurah Feri
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i2.522

Abstract

Background: Rheumatoid Arthritis (RA) is a chronic systemic inflammatory disease that causes joint destruction, deformity, and disability. Rheumatoid Arthritis causes severe pain and joint destruction, causing suffering and permanent disability, and causing death. The purpose of this study was to determine the Pattern of Drug Use in Patients with Rheumatoid Arthritis in the Internal Medicine Polyclinic of Sukadana Hospital, East Lampung in 2019. This research is a descriptive study in the form of a survey research (observational) with a retrospective method. The design used is cross sectional. The population in this study were all RA patients in the sick in Sukadana East Lampung Hospital from January to December 2019, totaling 99 respondents. The sample in this study were all RA patients in the sick in Sukadana East Lampung Regional Hospital from January to December 2019, totaling 47 respondents. In this study the sampling technique used was simple random sampling. Based on the suitability and rationality of the use of RA drugs for inpatients with Rheumatoid Arthritis in Sukadana Hospital, East Lampung, the results of conformity according to the Formulary of Sukadana East Lampung Hospital are 100% appropriate, while the rationality of treatment according to Indonesian Rheumatology Association 2014 includes 80.85% indication, correct medicine 91.49%, 100% correct dose, and 87.23% correct patient. Purpose: Rational treatment of rheumatoid arthritis to reduce inflammation and inhibit the disease process Method: descriptive research, describing the frequency of indication accuracy, type of drug, dosage, and patient accuracy and in the form of a survey (observational) with a retrospective method, namely research based on the patient's medical record and looking back at events that occurred in the past. Results: The use of RA drugs in Rheumatoid Arthritis patients obtained the right dose. Conclusion: The suitability and rationality of the use of RA drugs for inpatients with Rheumatoid Arthritis at Sukadana Hospital, East Lampung, obtained results according to the Formulary of Sukadana Hospital, East Lampung, which was 100% appropriate, while the rationality of treatment according to the 2014 RPRI included exactly 80.85%, the right drug 91.49%, 100% correct dose, 100% correct method, 100% correct diagnosis and 87.23% correct patient. Keywords: Rheumatoid Arthritis; Rationality; Inpatients Pendahuluan: Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik yang menyebabkan tulang sendi destruksi, deformitas, dan mengakibatkan ketidakmampuan. Penyakit Rheumatoid Arthritis menyebabkan nyeri hebat dan destruksi sendi, menimbulkan penderitaan dan cacat permanen, serta menimbulkan kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pola Penggunaan Obat Pada Penderita Penyakit Rheumatoid Arthritis di Ruang Penyakit Dalam RSUD Sukadana Lampung Timur Tahun 2019.Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dan berupa penelitian survei (observasional) dengan metode retrospektif. Desain yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien RA Di ruang penyakit dalam RSUD Sukadana Lampung Timur sejak Januari - Desember 2019 yang berjumlah 99 responden. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien RA rawat inap di ruang penyakit dalam RSUD Sukadana Lampung Timur sejak Januari - Desember 2019 yang berjumlah 47 responden. Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Berdasarkan kesesuaian dan rasionalitas penggunaan obat RA untuk pasien Rawat Inap penderita Rheumatoid Arthritis di RSUD Sukadana Lampung Timur didapatkan hasil kesesuaian menurut Formularium RSUD Sukadana Lampung Timur adalah 100% telah sesuai, sedangkan rasionalitas pengobatan menurut Rekomendasi Perhimpunan Rheumatoid Indonesia tahun 2014 meliputi tepat indikasi 80,85%, tepat obat 91,49%, tepat dosis 100%, dan tepat pasien 87,23%. Tujuan: Pengobatan rasional pada rheumatoid arthritis untuk mengurangi inflamasi yang terjadi serta menghambat proses penyakit Metode: penelitian yang bersifat deskriptif, menggambarkan frekuensi ketepatan indikasi,jenis obat, regimen dosis, serta ketepatan pasien dan berupa penelitian survei (observasional) dengan metode retrospektif yaitu penelitian yang berdasarkan rekam medik pasien dan melihat ke belakang peristiwa yang terjadi di masa lalu. Hasil: Penggunaan obat RA pada pasien Rheumatoid Arthritis diperoleh dosis yang tepat. Simpulan: kesesuaian dan rasionalitas penggunaan obat RA untuk pasien Rawat Inap penderita Rheumatoid Arthritis di RSUD Sukadana Lampung Timur didapatkan hasil kesesuaian menurut Formularium RSUD Sukadana Lampung Timur adalah 100% telah sesuai, sedangkan rasionalitas pengobatan menurut RPRI 2014 meliputi tepat indikasi 80,85%, tepat obat 91,49%, tepat dosis 100%, tepat cara 100%, tepat diagnosis 100,% dan tepat pasien 87,23%. Kata kunci: Rheumatoid Arthritis; Rasionalitas; Pasien Rawat Inap
Uji aktivitas antifungi ekstrak etanol daun jambu bol (Syzygium malaccense L) dalam sediaan sabun cair kewanitaan terhadap Candida albicans Purnamasari, Rizki; Marcellia, Selvi; Purnama, Robby Candra
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i2.523

Abstract

Background: Indonesia is a country on the equator and is a country with a tropical climate, where tropical countries have high humidity. High humidity causes fungal organisms to easily infect and spread. Candida albicans is a normal flora on the female genitalia that can cause vaginal discharge. Guava leaves (Syzygium malaccense L.) contain alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and steroids that have activity inhibiting the growth of Candida albicans. Purpose: To determine the effectiveness of guava leaf extract as antifungal against Candida albicans. Method: Diffusion of discs and wells with antifungal assay were analyzed by one way ANOVA. The concentrations of guava leaf ethanol extract used were 5%, 30%, 50% and 70% with an average inhibition zone of 0.00 mm, 0.00 mm, 11.37 mm and 13.42 mm. In women's liquid soap preparations used are concentrations of 50% and 70% with an average inhibition zone of 11.43 mm and 13.40 mm. Results: Inhibition zone of guava leaf extract and female liquid soap was 0.000 (P<0.05). Conclusion: Guava leaf ethanol extract in female liquid soap can inhibit the growth of Candida albicans fungus. Guava leaf extract and female liquid soap preparations showed significant differences in inhibition zones. Keywords: Candida albican; Guava leaves; Women's liquid soap   Pendahuluan: Indonesia merupakan sebuah negara yang berada di titik khatulistiwa dan merupakan negara dengan iklim tropis, dimana negara tropis memiliki kelembaban yang tinggi. Kelembaban yang tinggi menimbulkan organisme jamur dapat dengan mudah menginfeksi dan menyebar. Candida albicans merupakan flora normal pada genetalia wanita yang dapat menyebabkan keputihan. Daun jambu bol (Syzygium malaccense L.) mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, dan steroid yang memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan Candida albicans. Tujuan: untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun jambu bol sebagai antifungi terhadap Candida albicans. Metode: Difusi cakram dan sumuran dengan uji antifungi dianalisis one way anova. Konsentrasi ekstrak etanol daun jambu bol yang digunakan yaitu 5%, 30%, 50% dan 70% dengan rata-rata zona hambat 0.00 mm, 0.00 mm, 11.37 mm dan 13.42 mm. Pada sediaan sabun cair kewanitaan yang digunakan yaitu konsentrasi 50% dan 70% dengan rata-rata zona hambat 11.43 mm dan 13.40 mm. Hasil: Zona hambat ekstrak daun jambu bol dan sediaan sabun cair kewanitaan  yaitu 0,000 (P<0,05). Simpulan: Ekstrak etanol daun jambu bol dalam sediaan sabun cair kewanitaan dapat menghambat pertumbuhan fungi Candida albicans. ekstrak daun jambu bol dan sediaan sabun cair kewanitaan menunjukan adanya perbedaan zona hambat yang signifikan.   Kata Kunci: Candida albican; Daun jambu bol; Sabun cair kewanitaan
Waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan di instalasi farmasi Puskesmas Purbolinggo sebagai indikator standar pelayanan minimal puskesmas Saputri, Gusti Ayu Rai; Nurhayati, Robby Candra
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i2.524

Abstract

Background: Community health center prescription services are a supporting factor for quality health services. In addition, public health center prescription services are the minimum standard for pharmaceutical services. The achievement of definite results to improve the quality of life of patients with direct and responsible care to patients related to pharmaceutical preparations is the meaning of pharmaceutical services. Indonesia itself has regulated it in State Law Number 36 of 2009 concerning Health, which explains that pharmaceutical practice includes coaching including quality control of pharmaceutical availability, protection, supply, storage and distribution of drugs, means of delivering drugs based on doctor's prescriptions, drug explanations. service and not to be missed. also the distribution of drugs, modern medicinal ingredients and traditional medicines must be carried out by health workers who have the knowledge and skills under the regulations determined by law. Purpose: To determine the average waiting time for outpatient prescription services at the pharmacy installation of the Purbolinggo Community Health Center. Method: Collecting data through observation with patient variables, patient days of treatment, length of prescription, screening and diagnosis of prescriptions, labeling, drug packaging, drug delivery, and total length of prescription service time in minutes. Results: The average waiting time required to complete a prescription is 9.10 minutes and to complete a finished drug prescription is 2.56 minutes. Conclusion: The waiting time for prescription services has met the minimum service standards, namely 30 minutes of non-concoction recipes and 60 minutes of concoction recipes.   Keywords: Waiting Time; Outpatient Prescription Services; Community Health centers   Pendahuluan: Pelayanan resep puskesmas merupakan faktor penunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Selain itu pelayanan resep puskesmas menjadi standar minimal pelayanan Kefarmasian. Mencapai hasil pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien terkait sediaan farmasi merupakan arti dari pelayanan Kefarmasian. Indonesia sendiri sudah mengaturnya pada Undang-undang Negara Nomor 36 Tahun 2009, tentang Kesehatan menjelaskan bahwa praktek kefarmasiaan meliputi pembentukan termasuk pengawasan mutu kesediaan farmasi, proteksi, pemasokan, restensi dan pengedaran obat, fasilitas pemberian obat berdasarkan resep dokter, pelayanan penjelasan obat dan tidak ketinggalan pula pembentangan obat, bahan obat moderen dan obat tradisional harus dikerjakan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keilmuan dan adikara sesuai dengan ketentuan peraturan yang di tentukan undang-undang. Tujuan: Untuk mengetahui rata-rata waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan di instalasi farmasi Puskesmas Purbolinggo. Metode: Pengumpulan data melalui observasi dengan variabel seorang pasien, hari pasien berobat, durasi waktu pemberian resep, skrining dan diagnosa resep, pemberian etiket, pengemasan obat, penyerahan obat, serta total aktu durasi pelayanan resep dalam itungan menit. Hasil: Rata-rata  waktu  tunggu  yang  dibutuhkan  untuk  menyelesaikan  resep racikan adalah 9,10 menit dan untuk menyelesaikan resep obat jadi adalah 2,56 menit. Simpulan: Waktu tunggu pelayanan resep sudah memenuhi standar pelayanan minimal yaitu resep non racikan 30 menit dan resep racikan 60 menit.   Kata kunci : Waktu Tunggu; Pelayanan Resep Rawat Jalan; Puskesmas.
Formulasi sediaan masker gel antioksidan ekstrak kulit buah kopi (Coffea Canephora) Sukardi, Sukardi; Marcellia, Selvi; Chusniasih, Dewi
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 2 (2023): December Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i2.525

Abstract

Background: Robusta coffee rind (Coffea canephora) contains flavonoids, tannins, and phenolic compounds which are thought to have antioxidant activity. Flavonoids and tannins are compounds that have hydroxyl groups as reducers that can inhibit many oxidation reactions because they are able to donate an electron free radical compounds that function as antioxidants. This study aims to determine the value of the antioxidant activity of the robusta coffee rind extract and to determine the value of antioxidant activity in the preparation of a robusta coffee rind extract gel mask. The method used in the extraction is maceration using 96% ethanol with a yield value of 0,0655%. The results of the phytochemical screening test obtained flavonoids, phenolics, alkaloids, tannins and saponins. The antioxidant activity test of 0,00131%, 0,00262% and 0,00393% robusta coffee extract was carried out using the DPPH method and the IC50 values were 146.2 ppm, 136.7 ppm and 129.3 ppm, respectively. Gel masks are made at the best concentration of antioxidant activity, namely at a concentration of 6%. The 6% robusta coffee fruit skin extract gel mask has met the requirements of organoleptic tests, pH, homogeneity, dispersibility, cream type, adhesion and irritation. The antioxidant activity test of 6% robusta coffee rind extract gel using the DPPH method obtained an IC50 value of 170.40 ppm. The positive control for the mustika Ratu gel mask obtained an IC50 value of 73.15 ppm, and in the negative control an IC50 value was obtained of 386.6 ppm. The IC50 value parameter can be seen from the smaller the IC50 value, the higher the antioxidant activity value. Purpose: In order to know the formulation of the antioxidant gel mask preparation on the skin of robusta coffee berries (Coffea canephora). Method: The sampling technique used in the study used a simple random sampling method, namely sampling in a simple and random way. With UV-Vis spectrophotometry, mortar and stamper, beaker glass, steam dish, water bath, gel mask container, separating funnel, asbestos gauze, parchment paper, stirring rod, macerator, water bath, analyte scale, pH paper, blender, test tube , rotary evaporator, 10 and 50 mL measuring cups, volumetric flask, analytical balance, volume pipette, 250 mL erlenmayer, 1000 mL erlenmayer, cuvette, dropper pipette, 250 mL beaker glass, and oven. Results: smoothed sorting and obtained a dry weight of 315 grams. The percentage of drying shrinkage of the extract obtained was 60.62% as shown in Table 4.1. Conclusion: Test of 6% Robusta coffee fruit peel gel mask (Coffea canephora) has a moderate category of antioxidant with an IC50 value of 170.4 ppm. Keywords: Robusta coffee fruit skin; Antioxidant; DPPH; Gel mask; UV-Vis Spectrophotometry. Pendahuluan:Kulit buah kopi robusta mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan fenolik yang diduga memiliki aktivitas antioksidan. Flavonoid dan tanin merupakan senyawa yang memiliki gugus hidroksil sebagai pereduksi yang dapat menghambat banyak reaksi oksidasikarena mampu mendonor sebuah elektron kepada senyawa radikal bebas yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai aktivitas antioksidan ekstrak kulit buahkopi robusta dan untuk mengetahui nilai aktivitas antioksidan dalam sediaan masker gel ekstrak kulit buah kopi robusta. Metode yang digunakan dalam ekstraksi adalah maserasi menggunakan etanol 96% dengan hasil ekstrak total pelarutnya ialah 0,0655%. Hasil uji skrining fitokimia didapat senyawa flavonoid, fenolik, alkaloid, tanin dan saponin. Uji aktivitas antioksidan ekstrak kopi robusta 0,00131%, 0,00262% dan 0,00393% dilakukan dengan menggunakan metode DPPH diperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 146,2 ppm, 136,7 ppm dan 129,3 ppm. Masker gel dibuat pada konsentrasi terbaik aktivitas antioksidan yaitu pada konsentrasi 6%. Masker gel ekstrak kulit buah kopi robusta 6% telah memenuhi syarat uji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, tipe krim, daya lekat dan iritasi. Uji aktivitas antioksidan gel ekstrak kulit buah kopi robusta 6% dengan menggunakan metode DPPH diperoleh nilai IC50sebesar 170,40 ppm. Pada Kontrol positif masker gel mustika ratu diperoleh nilai IC50 sebesar 73,15 ppm, dan pada kontrol negatif diperoleh nilai IC50 sebesar 386,6 ppm. Parameter nilai IC50 dilihat dari semakin kecil nilai IC50 maka semakin tinggi nilai aktivitas antioksidan tersebut. Tujuan: Agar dapat mengetahui formulasi sediaan masker gel antioksidan pada kulit buah kopi robusta (Coffea canephora). Metode: Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian menggunakan metode simple random sampling yaitu pengambilan sampel dengan cara sederhana dan acak. Dengan alat spektrofotometri UV-Vis, mortir dan stamper, beaker glass, cawan uap, waterbath, wadah masker gel, corong pisah, kassa asbes, kertas perkamen, batang pengaduk, maserator, penangas air, timbangan analit, kertas pH, blender, tabung reaksi,rotary evaporator, gelas ukur 10 dan 50 mL, labu ukur, timbangan analitik, pipet volume, erlenmayer 250 mL, erlenmayer 1000 mL, kuvet, pipet tetes, beaker glass 250 mL, dan oven. Hasil: sortasi dihaluskan dan diperoleh bobot kering sebanyak 315 gram. Persen susut pengeringan ekstrak diperoleh sebesar 60,62 % dilihat pada Tabel 4.1. Simpulan: Uji masker gel kulit buah kopi robusta (Coffea canephora) 6% memiliki antioksidan kategori sedang dengan nilai IC50 sebesar 170,4 ppm. Kata Kunci : Kulit buah kopi robusta; Antioksidan; DPPH; Masker gel; Spektrofotometri UV-Vis

Page 1 of 1 | Total Record : 5