Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak
The scope of Martabat: Journal of Women and Children includes research on violence against women and children, the roles, empowerment, and existence of women from various perspectives, gender equality, child education, child psychology, and child development.
Articles
135 Documents
Pengaruh Kehadiran Anak dan Jumlah Anak terhadap Kebahagiaan Orang Tua
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.127-152
Abstrak: Kehadiran anak merupakan dambaan bagi setiap pasangan yang telah menikah. Tidak sedikit pasangan yang menginginkan anak yang banyak. Keinginan tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor baik sosial ekonomi, budaya juga agama. Banyak negara yang memiliki keyakinan dan budaya yang kuat bahwa memiliki anak dapat membawa kebahagiaan. Pemenuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan. Jumlah anak yang banyak sering kali menjadi masalah bagi orang tua karena dapat mengurangi konsumsi mengurangi waktu luang bagi perempuan. Namun pada beberapa pasangan banyak yang mengharapkan memiliki anak yang banyak. Maka dari itu, makalah ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kehadiran anak dan jumlah anak terhadap kebahagiaan orang tua. Berdasarkan hasil analisis, pengaruh kehadiran anak dan jumlah anak bergantung pada kondisi sosial ekonomi dari pasangan atau orang tua tersebut. Semakin banyak anak kadang bisa meningkatkan kesejahteraan, kepuasan juga kebahagiaan bagi orang tua jika kondisi sosial ekonominya baik. Banyaknya jumlah anak sangat mempengaruhi kondisi kepuasan, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi perempuan dibandingkan laki-laki. Banyaknya anak dan kehadiran anak bagi orang tua juga dipengaruhi oleh aspek agama, dimana ada beberapa keyakinan juga agama yang pronatalis atau mendukung kelahiran.
Penguatan Pendidikan Perempuan (Peran Perempuan dalam Agama, Keluarga, dan Kehidupan Sosial di Masa Modern)
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.1-35
Abstrak: Perempuan diangkat derajatnya setelah Islam datang, sehingga Islam memberikan hak yang sama antara pria dan wanita dalam hal pendidikan. pendidikan sangatlah dibutuhkan bagi setiap perempuan karena perempuan akan menjadi pendidikan utama bagi anak-anaknya, dan menjadi pendamping bagi suaminya serta dilingkungan masyarakat perempuan juga membutuhkan pendidikan. dalam hal pendidikan pria dan wanita adalah sama, hal ini merupakan buah revolusi begitupun sebaliknya. Adanya pendidikan memberikan hal positif bagi kaum laki-laki maupun perempuan untuk mengukir sejarah dimasa yang akan datang karena perempuan adalah pendamping yang harus berjuang bersama untuk memajukan bangsa serta meyongsong masa depan yang cerah dan perempuan bukanlah sosok bayangan yang harus ada dibelakang laki-laki. Sering kali perempuan dianggap pembawa malapetaka bagi dunia maupun lawan jenisnya padahal perempuan juga memiliki kewajiban untuk memajukan pendidikan bagi mereka yang tertindas. Maka dari itu perempuan sangatlah dihargai dan dihormati di dalam Islam karena merupakan suatu anugerah yang membawa kehidupan baru. Dalam kajian keislaman perempuan diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan agar mereka mampu menjalankan hak dan kewajibannya baik sebagi perempuan pada umumnya maupun sebagai seorang istri. Kata Kunci: Pendidikan Perempuan, Peran Perempuan, Masa Modern
Rekam Jejak Perjuangan Rohana Kudus: Relevansi, Feminisme Liberal dan Islam Memandangnya
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.153-176
Abstrak: Sejarah dan budaya patiarki yang sudah mengental sulit untuk di pisahkan dari kehidupan masyarakat seluruh dunia termasuk Indonesia, khusunya di daerah Minangkabau. Gebrakan emansipasi wanita sontak di gaungkan para feminisme dan tokoh pergerakan keperempuanan salah satunya Rohana Kudus, seorang feminisme muslim dari Minangkabau. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis, hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam sangat dekat dengan konsep kesetaraan gender, terbukti beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama, adapun praktik diskriminasi pada perempuan tidak dibenarkan, Upaya yang dilakukannya dalam pemberdayaan perempuan membawa dampak begitu besar pada masa itu, melalui jalur Pendidikan seperti mendirikan sekolah bagi perempuan Kerajinan Amai Setia (KAS) dan Surat Kabar Sunting Melayu, berhasil membuat perempuan mandiri secara intelektual dan perekonomian, relevansinya dengan Gerakan perempuan saat ini ialah banyaknya LSM, PSW diperguruan tinggi, ruang pengaduan bagi perempuan dan anak, beridirnya YJP, Webinar tentang isu-isu gender yang berkembang saat ini dsb, Feminisme Liberal di gunakan dalam membaca pergerakan yang dilakukan oleh Rohana kudus terkait isu Pendidikan, yang mana kala itu perempuan mengalami keterbatasan pada akses Pendidikan sontak membuat perempuan termarjinalkan, memasukkannya kedalam golongan feminisme liberal.
Building Harmony among Polygamic Family
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.177-209
Abstract: Poligami adalah; ”Ikatan perkawinan yang membolehkan seorang laki-laki memiliki lebih dari satu wanita sebagai istrinya di waktu yang bersamaan”. Poligami juga merupakan suatu bentuk perkawinan yang tidak dilarang oleh agama Islam, namun kebolehannya bukan berarti mempermudah seseorang untuk berpoligami, melainkan mewajibkannya untuk memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dan alasan-alasan yang rasional, sebagaimana yang telah ditentukan dalam beberapa undang-undang yang berlaku di Indonesia, salah satu ketentuannya ada dalam ”Kompilasi Hukum Islam”. Dalam relasi keluarga poligami seringkali mengalami berbagai permasalahan salah satunya adalah ketidak-rukunan dan ketidakadilan (nafkah lahir maupun batin). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola interaksi keluarga poligami dengan menggunakan pendekatan silaturahmi dalam membangun kerukunan keluarga. Pendekatan silaturahmi ini diharapkan mampu menjadi pendekatan persuasif bagi keluarga poligami untuk menjalin komunikasi secara harmonis, sehingga tujuan perkawinan sakinah, mawaddah warohmah tetap bisa dicapai.
Does Marriage Require Knowledge? Experiences of Women Participating in Pre-Marriage Education
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.83-113
Today the phenomenon of getting married at a young age is rising and shown through social media. According to Islamic religious rules, there are many pros and contras against this phenomenon, especially related to marriage. It has led to various pre-marriage educational programs as a means of understanding and preparing for marriage. This study aimed to explore the experiences of a single woman in emerging adulthood who participates in Pre-Marriage Talk Class. This study used a qualitative approach with the snowball sampling technique. A total of 5 respondents participated in this study, and data were collected through an online interview. The respondent’s answers were then analyzed thematically. The results showed that Pre-Marriage Talk Class provides additional knowledge, awareness, and mindset to participants, including 1) knowledge about the age of marriage; 2) knowledge about the vision and mission of getting married; 3) awareness of knowing the self; 4) knowledge of managing the self and environment, and 5) changing mindset. From the results, we can conclude that Pre-Marriage Talk Class is a suitable program for emerging adults who want to gain knowledge and skills related to themselves, how to manage self and environment, as well as an overview of the dynamics of married life that can be anticipated
Stereotype terhadap Tokoh Utama Perempuan dalam Novel Alun Samudra Rasa karya Ardini Pangastuti Bn
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.60-82
Abstrak: Konflik yang terjadi antara laki-laki dan perempuan menekankan adanya labeling negatif yang tercipta atau stereotip terhadap perempuan selama ini, merupakan salah satu bentuk perubahan sosial dan kemerosotan kualitas moral manusia yang beradab dan beradab. Selain itu, stereotip dapat mengarah pada praktik diskriminatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk stereotype tokoh utama wanita dalam novel Alun Samudra Rasa karya Ardini pangastuti Bn. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis dalam novel Alun Samudra Rasa. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah novel Alun Samudra Rasa. Penelitian ini memfokuskan perhatian pada representasi stereotip tokoh utama wanita dalam novel Alun Samudra Rasa. Adanya stereotip dapat menimbulkan kesenjangan dan diskriminasi pada tokoh utama perempuan. Setelah menganalisis data dapat disimpulkan bahwa dalam novel terdapat bentuk stereotip atau pelabelan negatif terhadap tokoh utama perempuan yang dilakukan oleh laki-laki bahkan perempuan yang digambarkan dalam konflik dalam novel.
Pria sebagai Privileged Allies dalam Gerakan Feminis HeForShe untuk Memperjuangkan Hak Pekerja Wanita di Indonesia
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.400-433
Abstract: Gender inequality is a problem faced throughout the world, including in Indonesia, where the patriarchal system causes women to often get injustice from various sectors, especially the work sector. In 2014, UN Women initiated the formation of HeForShe by making men as agents of change so that women can live equally without discrimination. This research then aims to see why the HeForShe organization involves men in efforts to address gender inequality in Indonesia. This research also uses qualitative methods with various data sources from the HeForShe organization, the Government of Indonesia and the Ministry of PPPA. The theory used is Liberal Feminists with the concept of men as privileged allies. The results of this study indicate that men as privileged allies in the struggle for the rights of women workers in Indonesia. The support provided by Indonesian men currently varies from learning about gender equality to building movements to support the elimination of violence against women. It is through this contribution that women's voices will be heard and gender equality actions will be better realized. Keywords: Indonesia, Gender Inequality, HeForShe, Privileged Allies, Equality, Rights of Women Workers Abstrak: Ketidaksetaraan gender merupakan permasalahan yang dihadapi di seluruh dunia termasuk di Indonesia dimana sistem patriarki menyebabkan wanita seringkali mendapatkan ketidakadilan dari berbagai sektor terutama sektor pekerjaan. Pada tahun 2014, UN Women menginisiasikan terbentuknya HeForShe dengan menjadikan pria sebagai agen perubahan agar wanita bisa hidup setara tanpa diskriminasi. Penelitian ini kemudian bertujuan untuk melihat mengapa organisasi HeForShe melibatkan pria dalam upaya penanganan ketidaksetaraan gender di Indonesia. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan berbagai sumber data dari organisasi HeForShe, Pemerintah Indonesia serta KemenPPPA. Teori yang digunakan adalah Feminis Liberal dengan konsep pria sebagai privileged allies. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pria berperan sebagai privileged allies dalam perjuangan hak pekerja wanita di Indonesia. Dukungan yang diberikan pria Indonesia saat ini sangat beragam mulai dari mempelajari mengenai kesetaraan gender sampai membangun gerakan untuk mendukung penghapusan kekerasan terhadap wanita. Melalui kontribusi inilah suara wanita akan lebih didengar dan kesetaraan gender akan terwujud dengan lebih baik. Kata Kunci: Indonesia, Ketidaksetaraan Gender, HeForShe, Privileged Allies, Kesetaraan, Hak Pekerja Wanita.
Kesejahteraan Psikologis Ibu Yang Memiliki Anak Disleksia (Studi Kasus Pada Film Wonderful Life)
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 6 No 1 (2022)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2022.6.01.126-151
Anak merupakan harapan orang tuanya, orang tua mengaharapkan yang terbaik untuk anaknya seperti tumbuh menjadi anak yang sehat, normal, dan pintar. Perkembangan anak berjalan berbeda beda dan terkadang orang tua tidak mengetahui gangguan yang dimiliki oleh anak. Ketika anak memasuki masa sekolah gangguan pada anak ini mulai terlihat, salah satunya adalah gangguan disleksia yaitu gangguan dalam membaca dan menulis. Orang tua yang memiliki Anak dengan gangguan disleksi akan berdampak pada keadaan psikologis orang tuanya. Penelitian ini merupakan gambaran bagaimana keadaan psiologis orangtua yang memiliki anak dengan ganguan disleksia. Penelitian ini merupkan penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan sumber penelitan melalui film Wonderful Life dengan data penunjang yaitu buku dan data penunjang lainya.
Sex Reassigment Surgery sebagai Penentuan Ulang Status Gender dalam Kajian Maqashid Syariah
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.459-487
Abstract: Postgenderism is a social movement about understanding the balance between men, women and nature. The development of the times and technological advances has brought people to various conditions with various attitudes to life, including a new way of looking at humans regarding gender status. This is intended as a space for human potential by eliminating gender status biologically and psychologically because it is considered an arbitrary limitation space. Postgenderism faces the limitations of social constructionist views on gender and sexuality, as well as the possibility of gender transcendence through social and political means that can be resolved by means of technology. Maqashid Syariah is here to provide a bridge of thought in viewing discourses and phenomena that move with the times. This is as a role in providing a legal footing that is oriented to the benefit of the people. In order to provide a sharp analysis, this study uses a qualitative library research with the theory of Maqashid Syariah. The method used in this research is descriptive analytical by describing a problem, and qualitative analysis with reference to the literature and applicable legal provisions. So that through the research method used, the use of Sex Reassigment Surgery technology as a re-determination of gender status can be studied using the Maqashid Syariah theory which legally has benefits or brings new problems in its implementation in social life. Keywords: Maqashid Syariah Postgender, Sex Reassigment Surgery, Technology Abstrak: Postgenderisme adalah gerakan sosial tentang memahami keseimbangan antara laki-laki, perempuan dan alam. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa manusia pada berbagai kondisi dengan berbagai sikap hidup, termasuk cara baru dalam memandang manusia mengenai status gender. Hal ini dimaksudkan sebagai ruang bagi potensi manusia dengan menghilangkan status gender secara biologis dan psikologis karena dianggap sebagai ruang pembatasan yang sewenang-wenang. Postgenderisme menghadapi batasan pandangan konstruksionis sosial tentang gender dan seksualitas, serta kemungkinan transendensi gender melalui sarana sosial dan politik yang dapat diselesaikan dengan sarana teknologi. Maqashid Syariah hadir untuk memberikan jembatan pemikiran dalam melihat wacana dan fenomena yang bergerak mengikuti perkembangan zaman. Hal ini sebagai perannya dalam memberikan pijakan hukum yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Guna memberikan analisis yang tajam, penelitian ini menggunakan penelitian library research bersifat kualitatif dengan teori Maqashid Syariah. Metode yang dipakai di dalam penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan memaparkan mengenai suatu permasalahan, dan analisa kualitatif dengan acuan literatur dan ketentuan hukum yang berlaku. Sehingga melalui metode penelitian yang digunakan tersebut, penggunaan teknologi Sex Reassigment Surgery sebagai penentuan ulang status gender dapat dikaji menggunakan teori Maqashid Syariah yang secara muatan hukum memiliki kebermanfaat ataupun membawa permasalahan baru dalam implementasinya di kehidupan sosial. Kata kunci: Maqashid Syariah Postgender, Sex Reassigment Surgery, Teknologi
Risiko KDRT terhadap Anak sebagai Dampak Ketegangan Sosial Akibat Pandemi Covid-19
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.361-376
Abstract: Various drastic and sudden changes caused by the COVID-19 pandemic have an impact on economic and social implications that affect various aspects of life, including life in the family. Increased social tensions arise in line with economic imbalances and self-isolation as a result of the pandemic, so that it has the potential to create ideal conditions involving Domestic Violence (KDRT) against children by parents. This study sought to monitor this potential by using a survey-based study to determine the relationship between parental experience (n=150) with increased social tension and risky behavior patterns towards children. The results obtained will be analyzed contextually with existing research, namely regarding the factors of Domestic Violence (KDRT) against children. The results obtained indicate a relationship between social tension and risky behavior of parents towards their children. Keywords: Pandemic, domestic violence, social tension Abstract: Berbagai perubahan drastis dan mendadak yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 berdampak pada implikasi ekonomi dan sosial yang mempengaruhi beragam aspek kehidupan, termasuk kehidupan dalam keluarga. Peningkatan ketegangan sosial muncul sejalan dengan adanya ketidakseimbangan ekonomi dan isolasi diri yang merupakan dampak dari pandemi, sehingga berpotensi untuk menciptakan kondisi ideal yang melibatkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak oleh orang tua. Penelitian ini berusaha mengawasi potensi terjadinya hal tersebut dengan menggunakan studi berbasis survei untuk menentukan hubungan antara pengalaman orang tua (n=150) dengan peningkatan ketegangan sosial dan pola perilaku beresiko terhadap anak. Hasil yang didapatkan akan dianalisis secara kontekstual dengan penelitian yang telah ada, yaitu mengenai faktor-faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak. Hasil temuan yang didapatkan menunjukkan adanya hubungan antara ketegangan sosial dan perilaku berisiko orang tua terhadap anak. Kata Kunci: Pandemi, KDRT, ketegangan sosial