cover
Contact Name
Khabibur Rohman
Contact Email
khabibur.rohman@uinsatu.ac.id
Phone
+6285735358515
Journal Mail Official
jurnalmartabat@gmail.com
Editorial Address
Gd. LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Jl. Mayor Sujadi Timur, No. 46, Kedungwaru - Tulungagung
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak
Core Subject : Education, Social,
The scope of Martabat: Journal of Women and Children includes research on violence against women and children, the roles, empowerment, and existence of women from various perspectives, gender equality, child education, child psychology, and child development.
Articles 135 Documents
Peran Rumah Aspirasi "TITIS" dalam Mendampingi Perempuan Korban Kekerasan
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.1.210-239

Abstract

Kekerasan merupakan sebuah mata rantai yang sulit untuk dihapuskan. Fenomena pandemi covid-19 menjadi salah satu katalis dalam tindak kekerasan terhadap perempuan. Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan jumlah tertinggi kasus kekerasan terhadap perempuan. Akan tetapi, Kabupaten Kebumen pada tahun 2020 justru mengalami penurunan kasus. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kebumen adalah dengan mendirikan Rumah Aspirasi Perempuan “TITIS”. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan lebih jauh lagi terkait peran Rumah Aspirasi Perempuan yang telah didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam mendampingi korban kekerasan dan mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan kajian pustaka dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber. Rumah aspirasi perempuan titis memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan pendampingan terhadap korban-korban kekerasan sekaligus memberikan konseling. Kasus kekerasan berbasis gender dan anak di Kabupaten Kebumen pada tahun 2020 mengalami penurunan dari tahun 2019. Hal ini dikarenakan banyak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak melapor kepada pihak layanan sosial atau dalam hal ini Rumah Aspirasi Perempuan “Titis” maupun kepada layanan sosial yang berada dibawah naungan Dispermades P3A Kabupaten Kebumen. Korban kekerasan cenderung untuk langsung menempuh jalur hukum dan melaporkan kasus kekerasan tersebut ke aparat kepolisian setempat. Selain itu, kurangnya pengetahuan masyarakat menjadi salah satu penyebab rendahnya laporan yang masuk ke rumah aspirasi perempuan titis. Oleh sebab itu, rumah aspirasi titis bekerja sama dengan pemerintah desa guna mendapatkan data tambahan terkait kekerasan terhadap perempuan agar dapat memberikan pendampingan korban. Kata kunci : Kekerasan, Perempuan, Rumah Aspirasi, Kabupaten Kebumen.
Handling Compassion Fatigue in Complaint and Referral Unit Volunteers: Case Study of Komnas Perempuan
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.240-263

Abstract

The spiking exposure of traumatic events faced by workers and volunteers in handling violence against women has the potential to lead to compassion fatigue. This research sought to describe the experience and protective factors of compassion fatigue in Complaint and Referral Unit volunteers who provide services to female victims of violence in Komnas Perempuan. A total of 3 respondents participated in this study through online interview. Thematic analysis is performed to analyze the data. The result suggested that the participants had compassion fatigue symptoms, which included burnout and secondary traumatic stress symptoms. The experience of burnout included physical and emotional exhaustion as well as guilt and helplessness. Whereas secondary traumatic stress was expressed in preoccupation of thoughts about victim’s violence case and projection in personal relationships. Nevertheless, these symptoms had been resolved due to protective factors such as personal characteristics (educational background and self-care) and social support (personal and professional support from the organization). This study added to our knowledge on how to create supportive system for volunters who provide services for victims of violence against women.
Kekerasan Non-fisik Media pada Artis Gisella Anastasia (Analisis Wacana Kritis Sara Mills)
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.264-288

Abstract

Abstract: The increasing violence against women makes the issue of gender will continue to be interesting to study. The forms of violence committed against women are also increasingly diverse, one of which is non-physical violence through the news media. Women are often treated unfairly and even harassed their dignity in news discourse. This paper will describe the styles of two media that are quite popular in Indonesia, namely Detik.com and Media Indonesia in constructing news about the hot video of artist Gisella Anastasia. Then the discourse construction will be analyzed using Sara Mills' critical discourse analysis. Sara Mills' critical discourse analysis will analyze the discourse building holistically which includes the position of the subject-object and also the position of the writer-reader in the news. The results of the study reveal that the position of the subject and the author is dominated by men to convince the public that women are the cause of the hot video case. The tendentious narratives aimed at women by the two media in constructing discourse further exacerbate the framing inherent in women. Keywords: Gisella Anastasia, Sara Mills Critical Discourse Analysis, Sara Mills Critical Discourse Analysis Abstrak: Meningkatknya kekerasan pada perempuan membuat isu tentang gender akan terus menarik untuk dikaji. Bentuk kekerasan yang dilakukan pada perempuan juga semakin beragam, salah satunya kekerasan non fisik lewat media pemberitaan. Perempuan kerap diperlakukan tidak adil bahkan dilecehkan martabatnya dalam pewacanaan berita. Tulisan ini akan menguraikan gaya dua media yang cukup populer di Indonesia yaitu Detik.com dan Media Indonesia dalam mengkonstruksikan berita tentang video panas artis Gisella Anastasia. Kemudian konstruksi wacana akan dianalisa dengan menggunakan analisis wacana kritis Sara Mills. Analisis wacana kritis Sara Mills akan menganalisa bangunan wacana secara holistik yang meliputi posisi subjek-objek dan juga posisi penulis-pembaca dalam pemberitaan. Hasil penelitian mengungkapkan posisi subjek maupun penulis dikuasai oleh laki-laki untuk meyakinkan publik bahwa perempuan sebagai penyebab terjadinya kasus video panas. Narasi tendensius yang ditujukan bagi perempuan oleh kedua media dalam mengkonstruksikan wacana semakin memperburuk framing yang melekat pada perempuan. Kata Kunci: Gisella Anastasia, Analisis Wacana Kritis Sara Mills, Critical Discourse Analysis Sara Mills
Penguatan Identitas Gender pada Siswa Laki-laki Melalui Kehadiran Guru Laki-laki di Tingkat PAUD
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.289-309

Abstract

Abstract: Gender identity typically aware at the age of two and will strengthen until about five years old. It is important for parents and teacher of early childhood education to provide knowledge and strengthen children's gender identity so that their gender identity develops according to their gender. Teachers in schools play an important role in strengthening gender identity. Unfortunately, today's society is not much aware of the importance of it and teachers of early childhood education are still considered as women's professions. This article aims to explain the importance of the presence of male teachers on the strengthen of gender identity in early childhood students. This study used a literature review method with thematic analysis techniques. The results of the research analysis showed that society still gives a stigma that early childhood teachers must be women because they have more patience and so on. It creates a sense of prestige and shame for men to become early childhood teachers. On the other hand, male teachers are very much needed at the early childhood education level because male teachers have a role that cannot be replaced by female teachers, especially in the formation and strengthening of gender identity for male students, including providing challenging games for male students, giving examples of assertive behavior, and other attributes that show male gender roles in front of male students. Keywords: Early childhood education, gender identity, male student, male teacher. Abstrak: Identitas gender mulai terbentuk pada usia dua tahun dan akan menguat sampai sekitar usia lima tahun. Penting bagi orang tua dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk memberikan pengetahuan dan penguatan tentang identitas gender anak agar identititas gendernya berkembang sesuai dengan jenis kelamin yang dimiliki. Guru di sekolah memberikan pengaruh penting bagi penguatan identitas gender. Namun sayangnya masyarakat saat ini belum banyak yang menyadari pentingnya hal itu dan guru PAUD masih di anggap sebagai profesi perempuan. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan pentingnya keberadaan guru laki-laki terhadap pembentukan identitas gender pada siswa PAUD. Penelitian ini menggunakan metode literature review atau studi pustaka dengan teknik analisis tematik. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa masyarakat masih memberikan stigma bahwa guru PAUD haruslah perempuan karena memiliki kesabaran lebih dan lain-lain. Hal ini memunculkan rasa gengsi dan malu bagi laki-laki untuk menjadi guru PAUD. Di sisi lain, guru laki-laki sangatlah diperlukan di tingkat pendidikan anak usia dini karena guru laki-laki memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh guru perempuan khususnya dalam pembentukan dan penguatan identitas gender bagi siswa laki-laki, diantaranya pemberian permainan yang menantang bagi anak laki-laki, pemberian contoh perilaku tegas, serta atribut lain yang menunjukkan peran gender laki-laki dihadapan siswa laki-laki. Kata kunci: Identitas gender, guru laki-laki, PAUD, siswa laki-laki.
Penguatan Resilensi Perempuan Melalui Modal Sosial di Era Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi Covid-19
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.310-336

Abstract

Abstract: The increasing issue of gender responsiveness to women's burdens as a result of COVID-19 has become the background for the implementation of women-based community empowerment under the name "Patali Gumbira". The implementation of women's empowerment "Patali Gumbira" has become one of the issues to prepare women in adapting to the new habits of COVID-19. To build women's resilience based on social capital, their knowledge, experience, and aspirations in responding to the impact of COVID-19. In this study, the Feminist Participatory Action Research (FPAR) approach was used, which made women the center for critical, independent, and creative thinking. The findings in this study indicate that the empowerment of "Patali Gumbira" is a form of means of women's social resilience through a structured framework of education, advocacy, and economic systems utilizing social networks, one of which is strengthening the organization of PKK women in the village public sphere. This strengthening effort is driven by the inclusion of various training including 1) strengthening women's motivation in facing adaptation to new habits due to COVID-19; 2) strengthening women's leadership in an effort to build their potential capabilities; 3) advocacy in the prevention and handling of cases of violence against women, and 4) hairdressing soft skills training as an opportunity for women's business services on an ongoing basis. Efforts to overcome social impacts during the COVID-19 pandemic are strengthening women's resilience and becoming confident in building a sense of belonging. Keywords: Covid 19, Social Capital, Social Resilience, Women Empowerment Abstrak: Meningkatnya isu responsif gender terhadap beban perempuan sebagai dampak COVID-19, menjadi latar belakang terselenggaranya pemberdayaan masyarakat berbasis perempuan dengan nama “Patali Gumbira”. Pelaksanaan pemberdayaan perempuan “Patali Gumbira” ini menjadi salah satu isu mempersiapkan perempuan dalam adaptasi kebiasaan baru COVID-19. Dalam upaya membangun resiliensi perempuan tersebut berdasarkan modal sosial pengetahuan, pengalaman, dan aspirasi mereka dalam menyikapi dampak COVID-19. Pada penelitian ini digunakan pendekatan Feminist Participatory Action Research (FPAR), yang menjadikan perempuan sebagai sentral untuk befikir kritis, mandiri serta kreatif. Temuan dalam kajian ini menunjukkan bahwa, pemberdayaan “Patali Gumbira” menjadi bentuk sarana resiliensi sosial Perempuan melalui kerangka sistem edukasi, advokasi dan ekonomi yang terstruktur memanfaatkan jejaring sosial salah satuanya penguatan organisasi Ibu-ibu PKK di ranah publik desa. Upaya penguatan ini didorong dengan termuatnya berbagai pelatihan diantaranya: 1) penguatan motivasi perempuan dalam menghadapi adaptasi kebiasaan baru akibat COVID-19; 2) penguatan kepemimpinan perempuan dalam upaya membangun kemampuan potensinya; 3) advokasi dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan, dan 4) pelatihan softskill tata rambut sebagai peluang jasa usaha perempuan secara berkelanjutan. Upaya mengatasi dampak sosial di masa pandemi COVID-19 menjadi penguatan resiliensi para perempuan dan menjadi keyakinan dalam membangun rasa memiliki. Kata kunci: Covid 19, Modal Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Resiliensi sosial
Polemik Work From Home (WFH) Bagi Perempuan Bekerja di Tengah Digitalisasi Teknologi dan Pandemi
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.377-399

Abstract

Abstract: Social distancing are a form of policy that made by the government in order to prevent the spread of the COVID-19 virus. This method, that was made by Indonesian government has implications for the method of working in the pandemic era, namely working from home. The application of social distancing then causes an increase in household activities that increase women's responsibilities in parenting and household work. Through the concept of symbolic violence, this article tries to explain the impact of social distancing restrictions on working women. This article finds that symbolic violence occurs through habitus that shapes women's mindsets so that they feel that caregiving and household work are women's responsibilities. This article also finds various gender inequalities that are increasingly visible with the social distancing restrictions that implemented by Indonesian governement. Keywords: Gender; pandemic; symbolic violence Abstrak: Pembatasan jarak sosial menjadi salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah persebaran COVID-19. Metode ini dijalankan di Indonesia yang berimplikasi pada metode bekerja era pandemi yaitu work from home atau bekerja dari rumah. Penerapan social distancing kemudian menyebabkan bertambahkan kegiatan rumah tangga yang memperbesar tanggung jawab perempuan dalam kerja pengasuhan dan kerja rumah tangga. Melalui konsep kekerasan simbolik artikel ini mencoba memaparkan dampak dari pembatasan jarak sosial pada perempuan bekerja. Artikel ini menemukan bahwa kekerasan simbolik terjadi melalui habitus yang menyusun pola pikir perempuan sehingga merasa kerja pengasuhan dan kerja rumah tangga merupakan tanggung jawab perempuan. Artikel ini juga menemukan berbagai ketimpangan gender yang semakin terlihat dengan adanya pembatasan jarak sosial yang dilakukan di Indonesia. Kata kunci: Gender; kekerasan simbolik; pandemi
Subordinasi dan Sudut Pandang Perempuan Suku Malind Marga Mahuze dalam Film the Mahuzes (2015): a Feminist Standpoint Theory
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.337-360

Abstract

Abstract: Documentary films are one of the most suitable media to be used as a reference in seeing reality. Like the reality of subordination and women's point of view in The Mahuzes. In general, this film tells the story of the conflict that occurred between the Malind clan Mahuze in Merauke and corporations that entered their territory through the Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) program, besides that there were horizontal conflicts between tribal members. This study aims to analyze the form of subordination and women's point of view seeing the problems of indigenous peoples dealing with corporations which are shown by the documentary film The Mahuzes in the perspective of Feminist Standpoint Theory. This study uses a qualitative approach and a critical paradigm by collecting data from various relevant sources. Events involving or relating to women were analyzed using three basic concepts of Feminist Standpoint Theory, namely standpoint, situated knowledge, and sexual division of labour. The results of the study indicate that women in The Mahuzes are a marginalized group, forced to take responsibility for the domestic space, and are limited to take part in the public sphere. Even so, they have a broad and comprehensive perspective in viewing horizontal conflicts between clan members and vertically between clans and corporations. Keywords: Subordinate; Feminist Standpoint; MIFEE; The Mahuze Abstrak: Film dokumenter menjadi salah satu media yang paling sesuai untuk dijadikan sebagai rujukan dalam melihat realitas. Seperti realitas subordinasi dan sudut pandang perempuan dalam The Mahuzes. Film ini, secara garis besar berkisah tentang konflik yang terjadi antara suku Malind marga Mahuze di Merauke dengan korporasi yang masuk ke wilayah mereka melalui program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), selain itu terdapat konflik horizontal antar anggota suku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk subordinasi dan sudut pandang perempuan melihat permasalahan masyarakat adat berhadapan dengan korporasi yang ditampilkan oleh film dokumenter The Mahuzes dalam perspektif Feminist Standpoint Theory. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma kritis dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber yang relevan. Agedan-agedan yang melibatkan atau berkaitan dengan perempuan dianalisis dengan menggunakan tiga konsep dasar Feminist Standpoint Theory, yaitu standpoint, situated knowledge, dan sexual division of labour. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perempuan dalam The Mahuzes merupakan kelompok yang terpinggirkan, dipaksa untuk bertanggung jawab pada ruang domestik, dan terbatas untuk berkiprah di ruang publik. Meskipun begitu, mereka memiliki sudut pandang yang luas dan menyeluruh dalam melihat konflik horizontal antar anggota marga maupun vertikal antara marga dan korporasi. Kata kunci: Subordinasi; Feminist Standpoint; MIFEE; The Mahuze
Kata Netizen tentang Kesetaraan Gender dalam Sentimen Warganet Twitter
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2021.5.2.434-458

Abstract

Abstract: Gender equality is one of the goals in the Sustainable Development Goals. However, until now Indonesia is still having difficulties in achieving this goal. According to the United Nations Development Program (UNDP) data, Indonesia's Gender Inequality Index (GII) is ranked 107 out of 189 countries. In addition, according to The Global Gender Gap Index 2021 data by the World Economic Forum (WEF), Indonesia is ranked 105th out of 153 countries. This shows that Indonesia is still lagging behind in terms of gender equality. Therefore, this study aims to analyze the sentiments of Indonesian twitter netizens regarding gender equality in 2018-2021 and its accuracy. Data was collected from primary data, scraping twitter data with the keywords #kesetaraan and #gender in Indonesian. The method used is Lexicon-based Sentiment Analysis with AFINN-111 dictionary translated into Indonesian. The results obtained are that the percentage of positive sentiments tends to decrease from year to year except for 2021. On the contrary, the negative sentiments of Twitter tend to increase. This is due to controversial articles in RKUHP, RUU Cipta Kerja, Covid-19 pandemic, and the online gender-based violence. This shows that the gender equality in Indonesia is still minimal and needs to be improved. Keywords: AFINN-111, gender equality, lexicon-based sentiment analysis, text mining, twitter Abstrak: Kesetaraan gender termasuk tujuan pada Sustainable Development Goals. Namun hingga saat ini Indonesia masih kesulitan dalam mencapai tujuan tersebut. Menurut data United Nations Development Programme (UNDP), nilai Gender Inequality Index (GII) Indonesia menempati peringkat 107 dari 189 negara. Selain itu, menurut data The Global Gender Gap Index 2021 dari World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati posisi ke-105 dari total 153 negara. Hal ini membuktikan gender di Indonesia masih belum setara. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentiment netizen twitter Indonesia mengenai kesetaraan gender pada 2018-202i dan akurasinya. Data dikumpulkan dari data primer yaitu scraping data twitter dengan keyword #kesetaraangender dan #gender dalam Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah Lexicon-based Sentiment Analysis dengan bantuan kamus AFINN-111 yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia pada software python. Hasil yang diperoleh adalah persentase sentimen positif netizen twitter cenderung menurun dari tahun ke tahun kecuali 2021, sebaliknya sentimen negatif netizen twitter cenderung meningkat setiap tahun. Hal ini dikarenakan adanya pasal yang mengandung kontroversi pada Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), RUU Cipta Kerja, adanya pandemi Covid-19, dan maraknya kekerasan berbasis gender online. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesetaraan gender di Indonesia masih minim dan perlu untuk ditingkatkan kedepannya. Kata kunci: AFINN-111, kesetaraan gender, lexicon-based sentiment analysis, text mining, twitter
Self-compassion dan Non-suicidal Self-injury pada Wanita Dewasa Awal
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2022.6.2.334-359

Abstract

Non-suicidal Self-Injury (NSSI) merupakan bentuk perilaku melukai diri sendiri, tanpa ada niatan untuk bunuh diri. Biasanya NSSI dilakukan ketika individu sedang menghadapi stressor yang memicu emosi negatif. NSSI merupakan fenomena klinis, dikarenakan tidak membantu menghasilkan penyelesaian masalah yang efektif dan membuat individu cenderung semakin larut dalam emosi negatif. Self-compassion adalah proses pemahaman tanpa kritik, terhadap penderitaan, kegagalan atau ketidakmampuan diri. Penelitian ini dilakukan guna memahami bagaimana gambaran self-compassion pada individu yang melakukan NSSI dan bagaimana self-compassion berhubungan dengan perilaku NSSI. Pendekatan penelitian ini adalah studi kualitatif, berupa studi kasus yang dilakukan pada dua wanita dewasa awal (24 tahun dan 23 tahun) yang melakukan NSSI minimal dalam satu tahun terakhir. Keduanya melakukan NSSI dalam bentuk utama yakni menyakiti bagian kepala. Data dianalisis mengunakan within-case analysis untuk menelaah kasus tiap individu, lalu kemudian dilakukan cross-cases analysis untuk membandingkan kedua kasus. Hasilnya menunjukan bahwa pada kedua individu yang melakukan NSSI, self-compassion-nya cenderung rendah. Dimana rendahnya self-compassion mengaktivasi emosi negatif yang semakin kuat, sehingga partisipan melakukan NSSI untuk menyalurkan emosi negatif tersebut. Pentingnya peran self-compassion dapat menjadi faktor potensial untuk mencegah perilaku NSSINon-suicidal Self-Injury (NSSI) merupakan bentuk perilaku melukai diri sendiri, tanpa ada niatan untuk bunuh diri. Biasanya NSSI dilakukan ketika individu sedang menghadapi stressor yang memicu emosi negatif. NSSI merupakan fenomena klinis, dikarenakan tidak membantu menghasilkan penyelesaian masalah yang efektif dan membuat individu cenderung semakin larut dalam emosi negatif. Self-compassion adalah proses pemahaman tanpa kritik, terhadap penderitaan, kegagalan atau ketidakmampuan diri. Penelitian ini dilakukan guna memahami bagaimana gambaran self-compassion pada individu yang melakukan NSSI dan bagaimana self-compassion berhubungan dengan perilaku NSSI. Pendekatan penelitian ini adalah studi kualitatif, berupa studi kasus yang dilakukan pada dua wanita dewasa awal (24 tahun dan 23 tahun) yang melakukan NSSI minimal dalam satu tahun terakhir. Keduanya melakukan NSSI dalam bentuk utama yakni menyakiti bagian kepala. Data dianalisis mengunakan within-case analysis untuk menelaah kasus tiap individu, lalu kemudian dilakukan cross-cases analysis untuk membandingkan kedua kasus. Hasilnya menunjukan bahwa pada kedua individu yang melakukan NSSI, self-compassion-nya cenderung rendah. Dimana rendahnya self-compassion mengaktivasi emosi negatif yang semakin kuat, sehingga partisipan melakukan NSSI untuk menyalurkan emosi negatif tersebut. Pentingnya peran self-compassion dapat menjadi faktor potensial untuk mencegah perilaku NSSI.
Analisis Peran Ganda Mahasiswi Program Doktor
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 6 No 1 (2022)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2022.6.01.1-24

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memeroleh gambaran yang komprehensif tentang bagaimana para perempuan yang sedang menempuh studi doktoral menjalani peran ganda sebagai ibu, istri, dosen sekaligus mahasiswa. Sampel pada penelitian ini adalah para mahasiswi S3 program studi Pendidikan Dasar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pilihan para dosen perempuan untuk melanjutkan studi pada jenjang doktoral bukanlah pilihan mudah. Konstruksi sosial yang terbangun di masyarakat menganggap bahwa meski seorang perempuan memiliki karir di ruang publik, dia tetap tidak bisa lepas dari peran domestik. Sehingga para mahasiswi program doktoral tersebut harus menjalani banyak peran sekaligus. Selain itu, para perempuan yang menempuh studi doktoral tersebut harus menerima sejumlah konsekuensi seperti jauh dari keluarga, mendapat kecaman dari masyarakat sekitar atau rekan kerja, menjalani banyak peran sekaligus, menghemat pengeluaran rumah tangga, dan lain sebagainya. Selain diperlukan affirmative action, diperlukan pula dukungan dari pasangan dan keluarga agar para perempuan tersebut sukses menjalani peran ganda sebagai mahasiswi pada program doktoral.

Page 9 of 14 | Total Record : 135