cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
TUBERKULOSIS INTRAOKULAR Prilly Astari
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i3.18023

Abstract

Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman dari kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis. TB paling banyak menyerang organ paru-paru, namun sekitar 20% dapat melibatkan organ tubuh lainnya, termasuk mata. Infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis pada struktur di dalam mata dinamakan TB intraokular. Terdapat beberapa kontroversi terkait terminologi, diagnosis, dan terapi yang mengakibatkan prevalensi TB intraokular sangat beragam, pemilihan tes diagnostik yang berbeda – beda, serta durasi terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang berbeda – beda. Kata kunci: imunologi, infeksi, koroiditis, tuberkulosis, uveitis Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria, Mycobacterium tuberculosis. TB typically affects the lungs, but it can also affect other organs, including the eyes. Infection by Mycobacterium tuberculosis inside the eye is called intraocular TB. There are several controversies related to the terminology, diagnosis, and therapy that result in varying prevalence of intraocular TB, different selection of diagnostic tests, and different duration of Anti-TB therapies.  Keywords: choroiditis, immunology, infection, tuberculosis, uveitis
Pola kuman dan efektifitas antibiotika pada iufeksi kaki diabetik di RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tahun 2001-2005 Krishna Wardhana Sucipto
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Kaki Diabetik   merupakan   kornplikasi   yang paling mengesalkan     baik   bagi   pasien   maupun   dokter   yang merawatnya.   Keberhasilan   pengelolaan   pun dipengaruhi   banyak  faktor, antara  lain  berarnya  infeksi,   macam  dan derajat keganasan   kuman,   tersedianya    antibiotika    yang  tepat  dan   lain-lain.    Tujuan   penelitian    ini   adalah   untuk  melihat   pola kuman yang terdapat pada pasien kaki   diabetik terinfeksi  di RSU  Dr. Zainoel   Abidin   Banda Aceh   serta  melihat efektifitas   Antibiotika   terhadap isolat kuman  yang tumbuh.   Penelitian    ini   menggunakan    desain   seri  kasus  terhadap semua penderita  kaki  diabetik  terinfek:si  yang dirawat di  ruang rawat Ilmu Penyakit Dalam   RSU.Or.Zainoel    Abidin Banda Aceh  dari tanggal l Januari  2001-   31   Desember   2005.   Dilakukan   kultur pus dari lesi   kaki diabetik  terinfeksi, pada  semua   pasien kaki diabetik   yang dirawat dalam   periode tersebut oleh   Laboratorium   Mikrobiologi.      Kemudia dilakukan   test  kepekaan  antibiotika terhadap  isolat   kuman  yang tumbub.    Hasil   yang  didapatkan   selama periode penelitian   didapatkan 262  spesimen yang ditumbuhi   kuman, terdiri  dari  225  (85,8  %) spesimen yang ditumbuhi  satu isolat  dan 37  (14,2  %) spesimen  dengan isolat ganda.  Dengan kuman gram negat.if205   (68,6  %) dan 94(31,4   %) kuman gram positif.  Kuman yang terbanyak   adalah  Pseudomonas Aeroginosa dan  Staphylococcus aureus .Lima antibiotika dengan efektifitas tertinggi dalam penelitian ini  secara berturutan adalah  Imipenem, Amikacin,  Nitrofurantoin,  Oxacillin dan  Vancomicin,    Kesimpulannya    adalah   Pseudomonas    aerogenosa dan  Staphylococus   aureus  merupakan   kuman'    terbanyak pada lesi  kaki diabetik terinfeksi  di  RSU. Dr.Zainoel Abidin   Banda Aceb dari  tahun 2001-2005.   Imipenem merupakan antibiotika  dengan efektifitas  tertinggipada  periode  tersebut. (JKS 2008; 3: 129-130) Kata kunci : Antibiotika,  kuman,  kaki diabetik Abstract.Diabetic    foot  is  the most common   complication   of diabetes.   It takes  a long  time  treatment. The successful treatment is  influenced   by many factors,  such as the degree of severity,  types  and  virulence of bacteria,  availability   of the antibiotics,   etc.  The objective is examining    the bacterial   pattern which  is  isolated   from the infected diabetic  foot from diabetic  patients in Dr.  Zainoel  Abidin  General Hospital  and examining the  efficacy of antibiotics  related to the isolate.   Cases serial  research on patients who had  been hospitalized in  Internal   Medicine Department   ward of Dr. Zainoel  Abidin  General  Hospital   since  1   January 2001- 31   December   2005.  We cultured the specimens  from infected diabetic  foot then we conducted the antibiotics sensitivity   test to each bacteria  isolate.  During the period of research we found   that there were 225  (85,8%)   specimens   contained one  isolate  and 37  (14,2%)    specimens contained double isolate.  Negative stain bacteria were founded in 205  (68,6%) specimens  and 94  (31,4%)   specimens contained positive stain bacteria. Most specimens contained Pseudomonas aerogenosa and Staphyloccus aureus.  The highest efficacy of Antibiotics are Imipenem, Amycacin, Nitrofurantoin,  Oxacillin and Vancomycin.   The conclusion   are Pseudomonas aerogenosa and Staphyloccus aureus were  the common bacteria   that isolated  from the infected diabetic foot in Dr. Zainoel Abidin General Hospital Banda Aceh from 2001  to 2005. Imipenem  was the highest efficacy antibiotics on that period.  (JKS 2008; 3: 129-130) Key word:  bacteria, antibiotic, diabetic food
Gangguan Jantung pada Anak Penderita Talasemia Mayor Herlina Dimiati; Silvia Yasmin Lubis
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Talasemia Mayor (TM) memerlukan transfusi berulang secara teratur akibat sistem eritropoisis yang tidak efektif. Transfusi kronis menyebabkan penumpukan zat besi pada jantung. Kelebihan besi, peningkatan curah jantung dan faktor lain berupa mekanisme imun dan perubahan pembuluh darah dianggap sebagai faktor pemicu terjadinya gangguan jantung. Gangguan jantung merupakan penentu utama prognosis dan kelangsungan hidup pada anak penderita TM. Deteksi dini gangguan jantung noninvasif  berupa EKG, ekokardiografi serta MRI T2 star (T2*), dapat mencegah terjadinya gagal jantung dengan pemberian kelasi besi adekuat pada anak yang beresiko.Abstrak. Thalassemia Major (TM) require repeated transfusions regularly due eritropoisis system ineffective. Chronic transfusions lead to a cumulation of iron in the heart. Excess iron, increased cardiac output and other factors such as immune mechanisms and changes in the blood vessels is considered a contributing factor in the occurrence of heart problems. Heart disorders are a major determinant of prognosis and survival in children with TM. Early detection of noninvasive cardiac disorders such as ECG, echocardiography and MRI T2 star (T2 *), can prevent the occurrence of heart failure in the provision of adequate iron chelation in children who are at risk.
BILATERAL MORGAGNI HERNIA IN INFANT, A RARE TYPE IN CONGENITAL DIAPHRAGMATIC HERNIA: A CASE SERIES Agung Wibawanto; Yopie Afriandi Habibie; Arman Arman
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i2.8988

Abstract

Abstrak. Hernia Diafraghma Kongenital (HDK) merupakan kelainan kongenital yang jarang ditemukan pada bayi. Hernia Morgagni bilateral merupakan kasus yang sangat jarang ditemukan. Kami melaporkan kasus ini karena lokasi hernia Morgagni yang bilateral yang sangat jarang dijumpai (kanan dan kiri). Kami laporkan dua kasus dari HDK. Kasus pertama bayi perempuan usia 4 bulan dengan keluhan usus halus dan hati lobus kiri berada di dalam rongga dada yang berhubungan dengan defek anterior dari hernia diafraghma. Kasus kedua neonatus perempuan usia 22 hari datang dengan keluhan distress pernafasan, sesak nafas dan muntah. Pendekatan insisi subcotal dilakukan pada kedua pasien, dan defek dari hernia diafrahgma ditutup dengan menggunakan goretex pacth dengan hasil yang sangat baik. Pasca operasi, kedua pasien dengan kondisi sbaik, dan dipulangkan dari rumah sakit tanpa komplikasi. Berbagai macam teknik tindakan operasi telah dipaparkan, dan pendekatan dengan tindakan laparotomy telah menjadi salah satu standar teknik operasi. Tindakan ini dapat memungkinkan untuk mereduksi dan melihat isi dari hernia diafraghma tersebut, memudahkan untuk prosedur operasi dalam merepair bileteral hernia diafraghmatika. Dan sekaligus juga dapat mengkoreksi jika terdapat kelainan malrotasi dari usus halus. (JKS 2017; 2: 94-104)Kata Kunci : Bilateral Morgagni Hernia, kondisi klinis non spesifik, pendekatan abdominal.Abstract. Congenital diaphragmatic hernia (CDH) is a rare congenital anomaly in infant. Bilateral Morgagni Hernia is an absolute rarity. We describe this case because of the absolute rarity of bilateral localization in Morgagni hernia.We present 2 case series of CDH, First case a 4-month-old baby girl was an intrathoracic bowel and left lobe liver associated with anterior diaphragmatic defects in a symptomatic. Second case was a 22 days neonates girl, presented with respiratory distress, shortness of breath and vomiting. Subcostal incision were done for both patients, defect was repair with goretex pacth with a good result. Postoperatively, both of patient enjoyed an uneventful course and was discharged home without any further events. Numerous approaches have been described and, particularly the significance of laparatomy has been emphasized as an operative technique. This allows easy reduction and inspection of contents, allows access and repair of bilateral hernias, and corrects an associated malrotation if present. (JKS 2017; 2: 94-104)Key Words : Bilateral Morgagni Hernia, Non spesific Presentations, Abdominal Approach.
EFEK PEMBERIAN KELOPAK KERING BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) TERDAHAP TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN DIASTOLIK PADA WANITA LANJUT USIA PENDERITA HIPERTENSI Yusni Yusni; Syahrul Syahrul
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskuler setiap tahun menjadi masalah utama di negara maju dan negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit kardiovaskuler menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992 dan 1995 merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 26,3 persen, sedangkan berdasarkan data di ru­mah sakit di Indonesia angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah tahun 2005 sebesar 16,7%.Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) tahun 2000, 50% penyakit kardiovaskuler disebabkan oleh hipertensi. Di seluruh dunia angka prevalensi hipertensi dari tahun ketahun semakin meningkat dan angka kematian akibat hipertensi cukup tinggi. Berbagai upaya dilakukan untuk mengobati dan menurunkan angka insiden hipertensi, antara lain dengan pemberian oat-obatan herbal dan salah satunya adalah pemberian kelopak kering bunga rosella (Hibiscus sabdariffa Linn).  Desain penelitian: eksperimental laboratoris dengan rancangan time series. Subjek penelitian adalah 15 wanita lansia: 8 orang untuk kelompok kontrol dan 7 orang untuk kelompok perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah teh rosella sebanyak 2x2 gram/hari, yaitu: pagi dan sore hari setelah makan, selama 3 minggu. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan sebelum pemberian perlakuan, minggu I, II dan III setelah perlakuan. Analisa data menggunakan: uji normalitas, uji homogenitas dan uji ANOVA. Tempat dan waktu penelitian: Unit Pelaksana Teknis (UPTD) Rumoh Sejahtera Banda Aceh, Juni-Desember 2011. Hasil penelitian didapatkan rata-rata dan nilai p tekanan darah sistolik kelompok perlakuan minggu I, II dan III, adalah: (175,11±7,25; P=0,20, 150,61±4,44 p=0,01, 150,77±6,62; p=0,01), tekanan darah diastolik minggu I, II dan III, adalah: (89,08±7,60 p=0,06, 88,46±6,57; p=0,01, 88,12±4,13 p=0,00). Kelopak kering bunga rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada wanita lanjut usia penderita hipertensi sehingga rosella dapat dijadikan sebagai obat herbal untuk pengobatan hipertensi. Abstract. The increasing prevalence of cardiovascular disease each year to be a major problem in both developed and developing countries including Indonesia. Cardiovascular disease according to the Household Health Survey (Survey) 1992 and 1995 is the leading cause of death in Indonesia. Based on Household Health Survey (Survey) in 2001, deaths from heart and blood vessel disease by 26.3 percent, while the data on the ru ¬ hospital in Indonesia, the death rate from cardiovascular disease in 2005 was 16.7%. Based on data from the Global Burden of Disease (GBD) 2000, 50% are caused by hypertensive cardiovascular disease. Worldwide prevalence of hypertension increased from year to year and the mortality rate from hypertension is high enough. Various attempts were made to treat hypertension and reduce the number of incidents, among others, by giving oat herbal medicines and one of them is the gift of dried flower petals roselle (Hibiscus sabdariffa Linn.) This research was: an experimental laboratory with time series design. Subjects were 15 elderly women: 8 people to a control group and 7 for the treatment group. The treatment given was rosella tea as much as 2x2 g / day, in the morning and evening after meals, for 3 weeks. Blood pressure checks performed prior to treatment, the week I, II and III after treatment. Analysis of data use: test of normality, homogeneity test and ANOVA test. Place and time of the study: Technical Implementation Unit (UPTD) Rumoh Prosperous Banda Aceh, June-December 2011. The results obtained and the average systolic blood pressure value p-week treatment groups I, II and III, are: (175.11 ± 7.25, P = 0.20, p = 4.44 150.61 ± 0.01 , 150.77 ± 6.62, p = 0.01), diastolic blood pressure of weeks I, II and III, are: (89.08 ± 7.60 p = 0.06, 88.46 ±6.57; p = 0.01, 88.12 ± 4.13 p = 0.00). Dried flower petals rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) can lower systolic and diastolic blood pressure in hypertensive elderly women that roselle can be used as herbal medicine for the treatment of hypertension.
PEMBERIAN ASI DAN MP-ASI TERHADAP PERTUMBUHAN BAYI USIA 6 – 24 BULAN Agus Hendra Al Rahmad
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i1.7982

Abstract

Kekurangan gizi pada bayi akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. Usia 0 – 24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dan sekaligus periode kritis. Kebutuhan dapat terpenuhi dari pemberian ASI serta dukungan MP-ASI. Penelitian bertujuan untuk mengukur tingkat hubungan pemberian ASI dan MP-ASI dengan pertumbuhan bayi pada usia 6 – 24 bulan. Penelitian dilakukan secara cross sectional sejak Februari – Maret 2016 di Lamreueng Aceh Besar. Sampel yaitu bayi usia 6 – 24 bulan yang dipilih secara random. Data identitas sampel dan responden, pemberian ASI dan MP-ASI dilakukan secara wawancara dan observasi, sedangkan data pertumbuhan melalui pengukuruan antropometri TB/U. Hasil penelitian menunjukan hubungan signifikan antara pemberian ASI (p= 0,000, OR= 21,0) dan pemberian MP-ASI (p= 0,006, OR= 6,5) dengan pertumbuhan bayi 6 – 24 bulan. Kesimpulan, rendahnya pemberian ASI eksklusif dan kurang baiknya pemberian MP-ASI berhubungan dengan banyaknya anak yang tidak dapat tumbuh secara normal. Disarankan, perlu dilakukan konseling dan penyuluhan secara komprehensif oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI.
ADENOCARCINOMA DENGAN MUTASI EGFR Fajriah Fajriah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i1.11216

Abstract

Abstrac. Lung cancer is one of the leading causes of death worldwide. Global Cancer Statistic shows the average age of lung cancer is 70 years. Based on the PIONEER study showed high EGFR (Epidermal Growth Factor receptor) mutations in lung adenocarcinoma. EGFR mutations are found more in females than males, more commonly found in nonsmokers, with racial asia. EGFR mutations occur in exons 18, 19, 20, 21. EGFR examination is recommended for lung cancer type adenocarcinoma and type of squamous cell carcinoma.Keyword : Adenocarcinoma kanker paru, mutatasi EGFR  Abstrak. Kanker paru merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Global Cancer Statistic menunjukkan usia rata-rata kanker paru adalah 70 tahun. Berdasarkan studi PIONEER menunjukkan mutasi EGFR (Epidermal Growth Factor receptor) tinggi pada Adenocarcinoma paru. Mutasi EGFR ditemukan lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki, lebih sering ditemukan pada bukan perokok, dengan rasasia. Mutasi EGFR terjadi pada exon 18, 19,20,21. Pemeriksaan EGFR di anjurkan untuk kanker paru jenis adenocarcinoma dan jenis squamous cell carcinoma. Keyword : Lung Cancer, Adenocarcinoma, EGFR Mutation
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Daun Klausena (Clausena anisata Hook.f.) Hanifah Yusuf
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Daun klausena (Clausena anisata Hook.f) termasuk familia Rutaceae, telah digunakan masyarakat Sumatera Barat dan Jawa untuk menghilangkan nyeri, baik nveri kepala, nyeri gigi, rematik dan demam. Secara klinik penggunaan obat tradisional tidak diakui, bila belum terbukti secara ilmiah tentang khasiat maupun keamanannya. Karena belum adanya bukti tentang keamanannya, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dosis letalis 50 (LD 50) ekstrak etanol daun klausena pada tikus putih. Penelitian eksperimental laboratorik ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (n = 5) dengan hewan percobaan tikus putih (Rattus nrvergicus) jantan dan betina sehat, galur wistar, umur ± 2 bulan, dan berat badan ± 200 g. Enam kelompok tikus putih diberi ekstrak etanol daun klausena secara oral, dengan 5 tingkatan dosis (0,55 mg, 1,1 mg, 2,2 mg, 4,4 mg dan 8,8 mg/ 200 g BB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kematian tikus putih 3 ekor  pada dosis 4,4 mg/200 g BB dan 5 ekor pada dosis 8,8 mg/200 g BB ekstrak etanol daun klausena. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun klausena tidak toksik dengan nilai LD 50 = 17036,85 mg/ kg BB secara oral. Pada pemeriksaan mikroskopik terhadap organ utama kelompok hewan yang mendapatkan dosis tertinggi (8,8 mg/200 g BB) terlihat adanya perubahan berupa degenerasi sel, nekrosis dan pendarahan. Abstract. The leaves of klausena plant (Clausena anisata Hook.f), belongs to Rutaceae family has been used by the people in West Sumatera and Java to treat the pain, like headache, toothache, rheumatism and fever. The used of this medicinal plant is not recognized clinically, because it has not been tested scientifically, primary about it's pharmacological activity and safety. Because their safety has not been proven, therefore this research has been done for knowing the lethalic dose 50 (LD50) of ethanolic extract from the leaves of klausena in rats. The experimental laboratoric research has been done, using Completely Randomized Design (n = 5) and as experimental animal used male and female rats (Rattus norvegicus), wistar strain, fine, approximately 2 months age and weighed 200 g. Six groups of rats has been treated orally with the ethanolic extract from the leaves of klausena (Clausena anisata Hook.f) in five level doses (0,55 mg, 1,1 mg, 2,2 mg, 4,4 mg dan 8,8 mg/ 200 g Body Weight of rat). The result showed 3 rats at dose 4,4 mg/200 g  and 5 rats at doses 8,8 mg/200 g Body Weight of rat were died. The obtained indicated the ethanolic extract from the leaves of klausena is not toxic in rats and the value of lethalic dose is 17036, 85 mg / kg Body Weight, orally. Microscopically, at the high dose on experimental animal primary organ has been found some changes, like degeneration; necroses and bleeding of cells.
Peningkatan kualitas hidup penderitarinitis alergi paska imunoterapispesifik Teuku Husni T.R
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Masalah   utama penderita    rinitis alergi   (RA) adalah   gangguan   kualitas   hidup.   Saat ini  belum banyak penelitian   manfaat lmunoterapi Spesifik  (ITS) bagi  kualitas   hidup.   Tujuan penelitian menilai perubahan   kualitas hidup setelah  menjalani    ITS  selama   3  bulan,   6 bulan   dan 12  bulan   dibanding kondisi    sebelumnya.     Dilakukan studi  retrospektif  pra  dan paska  ITS  pada  15   orang   penderita  RA  yang  memenuhi  kriteria   subjek,    dengan ganguan  kualitas  hidup selama    12  bulan.  Diagnosis   RA berdasarkan     anamnesa,  tes  kulit cungkit,  total skor gejala   hidung  (SGH)  menurut Okuda dan penilaian  kualitas hidup menurut  kuesioner   semikuantitatip  ARIA­ WHO 2001.  Hasil   menunjukkan  terdapat  perbaikan   total   SGH  sangat bermakna  (p0.001)      setelah     3  bulan dibandingkan pra ITS. Setelah 6 bulan, temyata tidak menunjukkan perbaikan bermakna dibanding 3  bulan ITS (p=0.477).   Namun  setelah  12  bulan,   total  SGH   menunjukkan  perbedaan  bermakna  dibanding  3   bulan  ITS (p=0.019).   Derajat kualitas  hidup menunjukkan  peningkatan   sangat bermakna (p0.001)    baik  setelah  3  bulan,  6 bulan  maupun  12  bulan dibanding pra ITS, walaupun interval  penyuntikan   telah berlangsung    2 bulan sekali dan pemakaian   obat  antihistamin    (AH­1)  menunjukkan     penurunan    sangat  bermakna   (p0.002).  Tidak  terdapat perubahan kualitas hidup baik 6 bulan maupun  12  bulan  dibanding  3  bulan pra ITS. Kesimpulan    :   Imunoterapi Spesifik  alergen   debu  rurnah  dan   tungau     pada  subjek    RA,   terutama   3   bulan   pertama,   telah   mampu meningkatkan  derajat kualitas hidup serta menurunkan    total skor gejala hidung secara sangat  bermakna.  (JKS2008; 1:7-12) Kata kunci :  Rinitis alergi,   imunoterapi spesifik,   kualitas hidupAbstract.   The main problem in allergic rhinitis sufferers is  the quality of life (QOL).   Until today there is  only a few studies that focuses on the benefits of specific   immunotherapy   (SIT)  to quality of life  improvement.  This study  is intended  to evaluate  the  QOL  changes  after 3,   6   and  12 month  of  SIT  compared  to  the  previous condition. A­retrospective   study is conducted on pre and post SIT to 15 allergic rhinitis  patients  who meet the subject criteria, with QOL disturbance   is along the period of 12 months. Allergic rhinitis  diagnosis   is based on medical  history,  skin prick test, Okuda's  total nasal  score system (TNSS) and QOL disturbance according to the ARIA­WHO  2001­semiquantitative   questionnaire.  Study result shows a significant  improvement  of the TNSS (p0.001) after undergoing 3  month therapy compared to pre SIT condition.  A six month therapy doesn't   show significant changes compared to the 3  month  SIT  (p=0.477),   but after  12 month therapy there  is a significant improvement  compared to 3  month SIT (p0.019).  Quality of life had improved significantly   after 3, 6  or 12 month therapy compared to pre SIT condition,  even though  with the 2 month injection interval  and the usage of antihistamine (AH­1),   it  still shows a significant improvement (p0.002). There were no QOL changes at 6 and12 month therapy compared to the 3 month post SIT.  Conclusion: Specific Immunotherapy  using  house dust and mite  at allergic  rhinitis   subjects  especially  in the  first  3   month  has  proven  to  improve  the  subject's   QOL condition  and to decrease the total nasal score significantly. (JKS 2008; 1:7-12) Keywords:  Allergic rhinitis,  specific immunotherapy, quality of life
HUBUNGAN MEROKOK DENGAN DERAJAT PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK Liza Salawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract


Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue