cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
Perbandingan risiko fraktur berdasarkan Indeks Singh dan Fracture Risk Assessment pada penderita autoimun yang mendapat terapi steroid di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Dytha Putri Harwani; Maryatun Hasan; Dedy Syahrizal; Safrizal Rahman; Suryawati Suryawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 23, No 1: April 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v23i1.31127

Abstract

Abstrak. Penyakit autoimun adalah sekelompok penyakit yang ditandai dengan tidak berfungsinya sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan hilangnya toleransi terhadap antigen diri sendiri. Penggunaan steroid jangka panjang menyebabkan efek yang kompleks terhadap tulang. Patah tulang belakang dan tulang pinggul merupakan karakteristik dari osteoporosis yang diinduksi oleh steroid. Metode yang relatif mudah untuk dilakukan dan cukup akurat untuk melihat risiko fraktur adalah menggunakan Indeks Singh pada foto polos panggul dan penilaian menggunakan kuesioner Fracture Risk Assessment (FRAX). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan risiko fraktur berdasarkan Indeks Singh dan FRAX pada penderita autoimun yang mendapat terapi steroid. Jenis penelitian ini adalah analitik obervasional dengan desain cross sectional, dilaksanakan di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh, pada bulan Desember 2020 hingga Januari 2021 dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian didapatkan dari 45 responden, sebanyak 35 orang (77,8%) mengalami Osteopenia (Grade 4-5) berdasarkan Indeks Singh dan sebanyak 42 pasien (93,3%) mengalami risiko fraktur rendah berdasarkan penilaian FRAX score. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square didapatkan P value=0,000, yang menunjukkan terdapat perbedaan risiko fraktur antara penilaian menggunakan metode Indeks Singh dan metode FRAX score pada penderita autoimun yang mendapat terapi steroid di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.   Kata kunci: Penyakit Autoimun, Steroid, Risiko Fraktur, Indeks Singh, FRAX Score Abstract. Autoimmune disease is a group of diseases characterized by improper immune system. This condition causes the body to lose its tolerance to its own antigen. The use of steroid over a long period of time can affect the bones. Spinal and pelvic bone fracture are the characteristic of steroid-induced osteoporosis. The accurate and easily used method to see the risk factors of having bone fracture is by using Singh Index based on the result of pelvic bone x-ray, and by using FRAX questionnaire. This study aims to compare the risk factors of having bone fracture by using Singh index and FRAX score on patients with autoimmune diseases that were prescribed with steroid therapy. This is an analytical observational study with cross-sectional design. This study was carried out in Zainoel Abidin Hospital, Banda Aceh, from December 2020 to January 2021 with purposive sampling method. The result of this study with 45 respondents found that 35 patiens (77,8%) had osteopenia (Grade 4-5) based on the Singh Index and 42 patiens (93,3%) had low fracture risk based on the FRAX score. The result of bivariate analysis using the Chi-Square test obtained P value=0.000, which indicated that there was a difference in fracture risk between assessments using the Singh Index method and the FRAX score method in autoimmune patients receiving steroid therapy at Zainoel Abidin Hospital, Banda Aceh. Keywords: autoimmune disease, steroid, risk for bone fracture, Singh index, FRAX score 
Satu laporan kasus sifilis laten lanjut dalam kehamilan yosep - prabowo; Qaira Anum
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 23, No 1: April 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v23i1.27722

Abstract

Sifilis laten lanjut tidak menunjukkan gejala dan hanya menunjukkan hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Sifilis pada kehamilan dapat menyebabkan abortus berulang, morbiditas dan mortalitas neonatus. Satu kasus, pasien perempuan yang telah menikah usia 34 tahun dengan kehamilan ke 3 usia kehamilan 22-23 minggu, tidak ada mengeluhkan bercak kemerahan pada telapak tangan, kaki maupun bagian tubuh lainnya. Riwayat didiagnosis dan mendapatkan terapi sifilis juga tidak ada. Status dermatologikus dan venereologikus dalam batas normal. Hasil pemeriksaan laboratorium VDRL/RPR reaktif 1:2. TPHA reaktif 1:160. Perempuan hamil dengan tes serologik sifilis positif tanpa ada riwayat pengobatan sebelumnya harus dianggap terinfeksi sifilis laten lanjut dan harus mendapatkan terapi. Benzatin penisilin merupakan terapi utama dalam pengobatan sifilis pada wanita hamil. Reaksi alergi dan reaksi Jarisch-Herxheimer tidak menghalangi pemberian obat tersebut. Evaluasi kembali secara klinis serta serologis pada 1, 3, 6, 9 dan 12 bulan setelah pengobatan sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan pengobatan. Jika titer nontreponemal meningkat atau tidak menurun empat kali dalam 6-12 bulan setelah pengobatan, maka pengobatan dianggap gagal.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Stigma Masyarakat Terhadap Infeksi HIV/AIDS di Indonesia: Literature Review Inggrit Thalasavia Utami; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; Nining Lestari; Burhannudin Ichsan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 23, No 1: April 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v23i1.24678

Abstract

AbtsrakHIV/AIDS merupakan permasalahan kesehatan yang sudah berkembang dengan mendunia. Salah satunya negara Asia yang mempunyai kasus HIV tertinggi yaitu Indonesia. Tingginya kejadian HIV/AIDS tentu erat kaitannya dengan permasalahan sosial di masyarakat, akibatnya penderita HIV/AIDS merasa dikecam. Kecaman tersebut salah satunya yaitu stigma. Stigma merupakan perilaku individu yang mencerminkan bahwa dirinya lebih baik dari yang lain. Pentingnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS dapat membantu menurunkan stigmatisasi pada pasien HIV/AIDS. Tujuan: memberikan pemahaman mengenai kaitan pengetahuan dengan stigma pada kejadian infeksi HIV/AIDS di Indonesia. Metode: Analisa data yang dilakukan dengan menggunakan database dari Pubmed, Google Schoolar, Science Direct dan Garuda. Hasil: didapatkan secara keseluruhan 3.459 penelitian. Sesudah dilakukan screening, didapatkan hasil 16 artikel untuk dilakukan review. Dari hasil yang diperoleh, yakni: Pengetahuan dan Stigma mempunyai makna yang relevan pada usia, pekerjaan dan pendidikan. Kemudian untuk usia, pekerjaan dan pendidikan dapat mempengaruhi seseorang terstigmatisasi pada penderita HIV/AIDS. Abstract HIV/AIDS is a health problem that has grown worldwide. One of the Asian countries with the highest HIV cases is Indonesia. The high incidence of HIV/AIDS is certainly closely related to social problems in society, as a result, people living with HIV/AIDS feel criticized. One of these criticisms is stigma. Stigma is an individual's behavior that reflects that he is better than others. The importance of knowledge about HIV/AIDS can help reduce stigmatization in HIV/AIDS patients. Objective: to provide an understanding of the relationship between knowledge and stigma on the incidence of HIV/AIDS infection in Indonesia. Methods: Data analysis was carried out using databases from Pubmed, Google Scholar, Science Direct and Garuda. Results: a total of 3,459 studies were obtained. After screening, 16 articles were obtained for review. From the results obtained, namely: Knowledge and Stigma have meanings that are relevant to age, occupation and education. Then for age, occupation and education can affect a person being stigmatized in people with HIV/AIDS.
Analisis skor hasford sebagai prediktor respons molekuler mayor pada penderita chronic myeloid leukemia yang mendapat terapi nilotinib Muhammad Riswan; Irwandi Irwandi; Muhammad Fuad; Saddam Emir Pratama
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 23, No 1: April 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v23i1.31236

Abstract

Abstrak. Pendahuluan: Chronic myeloid leukemia (CML) merupakan neoplasma myeloproliferative clonal ditandai dengan ekspansi sel punca sumsum tulang pluripoten yang tidak terkendali. Saat ini Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) digunakan sebagai terapi untuk pasien CML fase kronik. Nilotinib adalah TKI generasi kedua yang diberikan pada pasien CML yang gagal memberikan respons terapi pada pemberian TKI generasi pertama. Skor Hasford merupakan skor prediktor prognostik dan dapat digunakan untuk menilai respons terapi, termasuk respons molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan skor Hasford terhadap respons molekuler mayor (RMM) pada penderita CML yang mendapat terapi nilotinib. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional komparatif kategorik dengan desain potong lintang yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Skor Hasford dihitung berdasarkan formula yang menggunakan usia pasien, ukuran limpa, jumlah trombosit, eosinofil, basofil, dan jumlah blast darah. Pemeriksaan BCR-ABL1 kuantitatif digunakan sebagai penanda RMM. Data dianalisis dengan menggunakan Chi-square test dan Fisher exact test. Kedua variabel yang dianalisis dinyatakan berhubungan apabila memiliki p-value  0,05. Hasil: Sebanyak 15 penderita CML yang mendapat terapi nilotinib terlibat dalam penelitian ini dengan distribusi skor Hasford 11 pasien (risiko rendah), 4 pasien (risiko sedang), dan 0 pasien (risiko berat). RMM didapatkan pada 3 pasien (20%) dari keseluruhan jumlah sampel. Tidak terdapat adanya hubungan antara skor Hasford dengan RMM pada pasien CML fase kronik yang mendapat terapi nilotinib dengan nilai p-value 0.637. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara skor Hasford dengan RMM pada pasien CML fase kronik yang mendapat terapi nilotinib. Kata kunci: CML, skor Hasford, nilotinib, respons molekuler mayor, RMM Abstract. Introduction: Chronic myeloid leukemia (CML) is a clonal myeloproliferative neoplasm characterized by uncontrolled expansion of pluripotent bone marrow stem cells. Currently, Tyrosine Kinase Inhibitors (TKIs) are used as therapy for chronic phase CML patients. Nilotinib is a second-generation TKI given to CML patients who fail to respond to therapy with the first-generation TKI. The Hasford score is a prognostic predictor score and can be used to assess response to therapy, including molecular response. This study aimed to assess the relationship between the Hasford score and the major molecular response (MMR) in CML patients receiving nilotinib therapy. Methods: This research is a categorical comparative observational study with a cross-sectional design conducted at the Regional General Hospital dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. The Hasford score is calculated based on a formula that uses the patient's age, spleen size, platelet count, eosinophils, basophils, and blood blast count. Quantitative BCR-ABL1 assay was used as a marker of MMR. Data were analyzed using Chi-square test and Fisher exact test. The two variables analyzed are stated to be correlated if they have a p-value 0.05. Results: A total of 15 patients with CML who received nilotinib therapy were involved in this study with a Hasford score distribution of 11 patients (low risk), 4 patients (moderate risk), and 0 patients (severe risk). MMR was obtained in 3 patients (20%) of the total sample. There was no relationship between Hasford score and MMR in chronic phase CML patients receiving nilotinib therapy with p-value of 0.637. Conclusion: There was no relationship between Hasford score and MMR in chronic phase CML patients receiving nilotinib therapy. Keywords: CML, Hasford score, nilotinib, major molecular response, MMR
Upaya Memperkecil Komplikasi Spektrum Plasenta Akreta Adhi Pribadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 23, No 1: April 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v23i1.25833

Abstract

Abstrak            Spektrum plasenta akreta (SPA) meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada seorang ibu hamil. Seksio sesarea berulang merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya SPA. Mortalitas sering terjadi pada keadaan perdarahan masiv pada tindakan seksio sesarea emergensi tanpa diagnosis SPA yang tepat pada antenatal care. Persiapan preoperasi yang kurang baik terutama jumlah cadangan darah yang tidak mencukupi mengakibatkan kematian maternal terutama di perifer atau rumah sakit dengan sarana yang kurang lengkap. Selain itu faktor tenaga medis yang kurang berpengalaman cukup menentukan karena akan meningkatkan individual stress yang meperburuk performa seorang operator.            Deteksi dini merupakan kunci untuk mengurangi operasi dengan SPA yang tidak terduga. Deteksi dini menggunakan ultrasonografi merupakan tindakan lini pertama. Operasi terhadap kasus dengan SPA sebaiknya dilakukan di rumah sakit tersier atau yang mempunyai tim tenaga medis telah terlatih penanganan SPA. Pembentukan tim medis diperlukan terutama berasal dari obstetrikus, anestesi, perawatan intensif serta bedah vaskuler. Kata Kunci: Spektrum Plasenta Akreta, Deteksi Dini, Ultrasonografi.  Abstract            Placental accreta spectrum (PAS) increases morbidity and mortality in a pregnant woman. Recurrent caesarean section is a major risk factor for PAS. Mortality often occurs in the state of masive hemorrhage in the emergency caesarean section act without a proper PAS diagnosis in antenatal care. Poor preoperative preparations, especially the insufficient amount of blood reserves result in maternal death, especially in peripheral or hospitals with incomplete means. In addition, the factors of less experienced medical personnel are quite decisive because it will increase individual stress that worsens the performance of an operator.            Early detection is key to reducing operations with PAS that are unexpected at the time of caesarean section. Early detection using ultrasound is a first-line action. Surgery on cases with PAS should be done in tertiary hospitals or those that have a team of medical personnel who have trained in PAS handling. The formation of a medical team is needed mainly between obstetrics, anesthesia, intensive care and vascular surgery. Keyword: Placenta Accreta Spectrum, Early Detection, Ultrasound.

Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue