cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
HUBUNGAN TINGKAT SINDROM DEPRESI DENGAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF PADA MAHASISWA UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH Nurjannah Nurjannah; Subhan Rio Pamungkas
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v13i3.3419

Abstract

Abstrak. Depresi pada mahasiswa cenderung dapat menimbulkan efek negatif pada fungsi kognitif yang akhirnya dapat mempengaruhi prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat sindrom depresi dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Penelitian ini bersifat analitik menggunakan cross sectional design. Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability quota sampling dan sebanyak 400 orang responden dipilih dari setiap fakultas di Unsyiah. Data IPK berdasarkan data dari pusat informasi Unsyiah sedangkan sindrom depresi diukur menggunakan Beck Depression Inventory (BDI). Data dianalisis menggunakan Chi Square (χ2) untuk mengetahui adanya hubungan antara sindrom depresi dan IPK mahasiswa (α=0,05).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh responden, terdapat 222 responden (55,5%) tanpa gejala depresi, 106 (26,5%) dengan gejala depresi ringan dan 72 (18%) dengan gejala depresi sedang serta tidak ada responden yang mengalami gejala depresi berat. Tidak terdapat hubungan antara tingkat sindrom depresi dengan IPK (p=0,214). Mahasiswa non eksakta memiliki rata-rata skor BDI yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok mahasiswa eksakta (p=0,044). Dapat disimpulkan bahwa sebagian kecil mahasiswa mengalami gejala depresi ringan dan sedang, akan tetapi hal ini tidak berhubungan dengan IPK. Disarankan bahwa walaupun persentase yang mengalami gejala depresi sedikit, namun ini menjadi data awal untuk screening, diagnosa dan penatalaksanaan sindrom depresi pada mahasiswa dimasa mendatang. Abstract . Students with depressive symptoms are more likely to have negative effects in cognitive functioning and, consequently, academic performance. This study examines the relation between depressive symptoms and Grade Point Average (GPA) of students at University of Syiah Kuala (Unsyiah). The study was analytics using cross sectional design. Non probability quota sampling was used and 400 respondents were selected from all faculties at Unsyiah. Academic performance was measured using GPA from the university data office and the depressive symptoms were measured using Beck Depression Inventory (BDI). Chi Square (χ2) analysis was performed to examine the relation between depressive symptoms and academic performance in this group (α=0,05). Results showed that out of all respondents, 222 students (55,5%) had no depressive symptoms, 106 (26,5%) with mild depressive symptoms, 72 (18%) suffered from moderate depressive symptoms and no one suffered from severe depressive symptoms. There was no relation between depressive symptoms and academic performance in this study group (p=0,214). Students of social sciences had significantly higher score of BDI than of students of non social sciences (p=0,044). It concluded that a few students experienced depressive symptom, but it has no relation with academic performances. It is suggested that eventhough the number of student had depressive symptom is low, it can be used as initial data for screening, diagnose and treatment for students with depression in the future.
PERAN INTERFERON GAMMA PADA INFEKSI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS Nur Wahyuniati; M.Imun M.Imun
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i2.18005

Abstract

Abstrak. Penyakit tuberkulosis masih tetap merupakan masalah kesehatan yang utama di dunia. Penyakit ini menyebabkan angka kesakitan yang tinggi pada jutaan penduduk dunia setiap tahunnya. Mycobacterium tuberkulosis (M.Tb) memiliki kemampuan aktifitas replikasi dan metabolisme yang tinggi dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di dalam fagosit profesional. Respon imun seluler sangat berperan penting untuk proses eliminasi M. Tb. Sel TH1 yang teraktivasi akan mengeluarkan interferon gamma yang akan mengaktivasi makrofag. Interferon gamma memiliki peran yang sangat penting dalam imunitas protektif terhadap infeksi M.Tb.Kata kunci: Tuberkulosis, Mycobacterium tuberculosis, respon T­H1, Interferon gamma Abstract. Tuberculosis remains a major health problem in the world. This disease causes a high morbidity rate in millions of the world's population each year. Mycobacterium tuberculosis (M.Tb) has high replication and metabolism activity and has the ability to survive in professional phagocytes. Cellular immune responses play an important role in the elimination process of M. Tb. The activated TH1 cell will secrete interferon gamma that leads to activation of macrophages. Interferon gamma has a very important role in protective immunity against infection M.Tb.  Keywords: Tuberculosis, Mycobacterium tuberculosis, TH­1 response, Interferon gamma
Karakteristik pasien diabetes melitus tipe-2 pada poliklinik rawat jalan Krishna Wardbana Sucipto; Hendra Zufry
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Prevalensi   Diabetes Melitus Tipe-Z   dari tahun  ketahun  semakin  meningkat,  yang temyata didahului  oleh berbagai  faktor  resiko  penyakit  kardiovaskuler   seperti   kegernukan,    hipertensi,   dislipidemia    yang  pada dasarnya diawali   oleh  resistensi  insulin.   Tujuan penelitian  ini  adalah   untuk  mengetahui    prevalcnsi    pasien Diabetes Melitus Tipe-2  di poliklinik   rawat jalan  Penyakit  Dalam  RSUZA  pasca  bencana  tsunami  dan  beberapa  karakteristiknya. Penelitian   ini  bersifat deskrlptif  retrospektlf  untuk semua  pasien    Diabetes  Melitus   Tipe-2  yang berobat jalan  di poliklinik rawatjalan   pada periode Juni 2005-Maret 2006.  Pengarnbilan   data dilakukan  melalui  penelusuran  rekam medis rawat jalan  RSU.Dr.Zainoel   Abidin  Banda Aceh.  Dari 2606 pasien  yang  datang  berobat jalan pada periode penelitian   dijurnpai   900  pasien (35%)  didiagnosis  sebagai   penderita  Diabetes   Melitus Tipe-2  (DMT2),   sebagian besar  berjenis  kelamin   perempuan,   berada ctikelompok   usia  40-60  tahun,  menggunakan  obat  hipcglikemia   oral, serta menggunakan asuransi   ASKES. Peneliti  juga  mendapatkan   prevalensi    amputasi   kaki diabetik sebesar 4,6 %. (JKS 2008; 2: 67-72)Kata kunci : karakteristik,  diabetes melitus,  RSUZAAbstract.  The  prevalence  of Type 2 Diabetes  Mellitus   has increased   recently, apparently    it was began  from some risk factors of cardiovascular  disease  such as obesity,   hypertension,  dislipidemia,     that  basically  caused by insulin resistance.  The  objective   is  to  know  the  prevalence   of  patient  with  Type  2  Diabetes  Mellitus  in outpatient department of internal  medicine, School of Medicine  Syiah Kuala University/Zainoel    Abidin Hospital Banda Aceh after Tsunami  Disaster  and  its  characteristic.   This  is retrospective    descriptive    research  to all  Type 2  Diabetes Mellitus  who  were  treated  in  out  patient  department   of  internal   medicine  from  June  2005-March  2006.   Data collecting  has been done through medical  record of out patient department  in  Dr. Zainoel   Abidin   Hospital Banda Aceh. From 2606 of outpatient  in observation period,  there was 900 patients  (35%)  diagnosed  with Type 2 Diabetes Mellitus,   most of them were women,  in age of 40 -  60 years old,  used oral  hypoglycemia   drugs,  and with  health insurance.  The author also  found that the incidence of amputated diabetic food was 4,6%.  (JKS 2008; 2: 67-72) Key word:  characeristic, diabetes melitus, RSUZA
KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU: SEBUAH TINJAUAN KASUS Tgk Puspa Dewi Dewi; Meyla Risilwa
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kehamilan ektopik terganggu adalah suatu kehamilan yang mengalami abortus ataupun ruptur dengan tempat implantasi abnormal. Angka kejadian ini dapat meningkat seiring dengan adanya risiko berupa faktor infeksi genitalia interna. Kami melaporkan satu kasus kehamilan ektopik terganggu pada tuba kiri wanita 26 tahun yang datang dengan keluhan nyeri perut kiri. Pasien datang dengan diagnosis awal kehamilan ektopik yang mengalami tanda akut abdomen saat menjalani perawatan rumah sakit. Tanda akut abdomen ini dianalisis dengan pemeriksaan fisik, laboratorium maupun USG transvaginal sehingga ditegakkan kehamilan ektopik terganggu. Kemudian, pasien disegerakan menjalani tindakan operatif yaitu laparotomi salpingektomi.Kata Kunci: Kehamilan Ektopik Terganggu, risiko Abstract. Ruptured ectopic pregnancy is a pregnancy that had abortion or rupture with abnormal implantation sites. The incidence increased because of risk factor like internal genitalia infection. We report a case of woman, 26 y.o had diagnosis of ectopic pregnancy in the left fallopian who presenting left abdominal pain. Patient present with early diagnosis of ectopic pregnancy who had signs of acute abdomen while undergoing hospital treatment. Signs of acute abdomen were analyzed by physical examination, laboratory and transvaginal ultrasound that confirmed  ruptured   ectopic   pregnancy. Then.  patient   underwent  laparotomy  salpingektomi operative action. Keywords: Ruptured ectopic pregnancy, risk
Profil lower endoskopi gastrointestinal di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara Periode Januari 2017-Desember 2018 Muhammad Sayuti
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v20i3.18642

Abstract

Perkembangan tekonologi endoskopi telah menggantikan banyak prosedur operasi dengan kelebihan melihat langsung permukaan mukosa sehingga dapat menyediakan infromasi yang jauh lebih besar. Endoskopi berevolusi dari yang berjenis kaku dengan kemampuan yang terbatas ke endoskopi yang berjenis lentur dan lebih canggih dengan kemampuan pencitraan yang lebih baik, dan dapat melakukan intervensi terapeutik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil lower endoskopi gastrointestinal di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara periode Januari 2017 – Desember 2018. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif retrospektif. Sampel diambil menggunakan teknik Total Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data rekam medik pasien di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara sebanyak 90 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan kategori jenis kelamin perempuan sebanyak 52 orang (57,8%), mayoritas rentang usia 40-60 tahun sebanyak 37 orang (41,1%). Diagnosis pre operasi terbanyak didapatkan hematochezia dengan jumlah 17 orang (18,9%) dan hemoroid interna grade II dengan diagnosis post operasi terbanyak dengan jumlah 12 orang (13,3%). Capaian scope terbanyak di caecum dengan jumlah 53 orang (58,9%) dan jarak temuan terbanyak di rektum sebanyak 39 orang (43,3%). Hasil temuan terbanyak berupa tumor dengan jumlah 16 kasus (17,8%) dan durasi operasi paling banyak dengan rentang waktu 46-60 menit sebanyak 36 kasus (65,5%). Berdasarkan biopsi disimpulkan 70% tindakan kolonoskopi tidak dilakukan biopsi dengan jumlah 63 kasus.
GAMBARAN KEBUTUHAN HIDUP PASIEN SKIZOFRENIA DAN GANGGUAN PSIKOTIK LAINNYA MENURUT DIRINYA DAN PELAKU RAWAT DI POLI RAWAT JALAN JIWA RSUD. DR. SOETOMO SURABAYA TAHUN 2017 M. Fata Fatihuddin; Khairina Khairina; Lilik Djuari
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i1.11207

Abstract

Abstrak. Setiap makhluk hidup mempunyai kebutuhan, tidak terkecuali manusia.  Kebutuhan tersebut menjadi dasar dan syarat untuk keberlangsungan hidup manusia. Adanya penyakit didalam tubuh dapat menyebabkan perubahan pemenuhan kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis. Karena beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar dari biasanya. Tujuan utama dari terapi pada skizofrenia adalah pemulihan. Pemulihan dapat dicapai baik dari segi fungsi mental maupun fisik. Terdapat empat faktor penilaian dalam menentukan terapi pemulihan termasuk diantaranya hilangnya gejala, fungsi pekerjaan, kehidupan mandiri, dan relasi yang perlu melibatkan peran pasien skizofrenia sendiri, pelaku rawat, maupun masyarakat (Lieberman dan Murray, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan hidup pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya menurut dirinya sendiri dan menurut pelaku rawatnya. Dan membandingkan gambaran kebutuhan hidup pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya menurut dirinya dan pelaku rawatnya.Subjek penelitian mencakup 30 pasien skizofrenia dan pelaku rawatnya yang berobat jalan di poli jiwa RSUD. Dr. Soetomo pada bulan November-Desember 2017. Pemilihan subjek dilakukan secara konsekutif menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini mengambil data dari wawancara dan kuesioner dari instrumen Camberwell Assessment of Need Short Appraisal Schedule (CANSAS). Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional cross-sectional dan chi square untuk mengolah datanya.Perbandingan jenis kelamin laki-laki dan perempuan pada pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya adalah 1,1:1. Umur pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya (73,3%) berkisar antara 19-39 tahun. Sebagian besar pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya belum menikah (53,33%). Pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya memiliki pekerjaan menjadi ibu rumah tangga (30%) bagi yang perempuan dan (16,7%) tidak bekerja. 50% dari pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya terdiagnosa skizofrenia paranoid, dan sudah menyandang lama sakit lebih dari 5 tahun (63,3%). Hubungan kekerabatan dari pelaku rawat pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya sebesar 56,7% adalah orang tua. Didapatkan beberapa kebutuhan pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya yang tidak terpenuhi dalam penelitian ini menurut pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya dan menurut pelaku rawatnya. Dari 22 pertanyaan CANSAS, kebutuhan pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya yang dilaporkan pelaku rawatnya lebih tinggi daripada menurut pasien skizofrenia. Pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya dan pelaku rawatnya menilai adanya masalah akomodasi, perawatan rumah, telefon/alat komunikasi, aktivitas sehari-hari dan kesehatan fisik yang dinilai tinggi dalam pemenuhan kebutuhan hidup pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Tidak adanya hasil yang bermakna (p0,05) dalam penelitian ini yang berarti tidak adanya perbedaan dalam menilai kebutuhan hidup menurut pasien skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya dan menurut pelaku rawatnya. Diharapkan instrumen ini bisa digunakan untuk pemantauan kebutuhan pasien skizofrenia apakah pasien skizofrenia mempunyai masalah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya ke depannya. Kata Kunci: Skizofrenia, Kebutuhan hidup, Pelaku asuh, Instrumen CANSAS Abstract. Background: Every human being has a need that becomes the basis and conditions for the sustainability of his life. The presence of disease in the body can cause changes in the needs, both physiological and psychological. The main goal of therapy in schizophrenia is restoration. Recovery can be achieved both in term of mental and physical function. There are four assessment factors in determining revobertu including loss of symptoms, occupational function, independent living, and relationships that need to involve the role of self-schizophrenic, caregiver, and community. And the recovery is related to the needs of people with schizophrenia.Objective: To determine the description of the needs schizophrenia and other psychotic disorders according to theirself and according to their caregiver. And to compare the description of the needs of a schizophrenic person and other psychotic disorders according to theirself and according to their caregiver.Materials and Method: The subjects include 30 people with schizophrenia and 30 their caregiver(S). who went to the hospital in RSUD. Dr. Soetomo in November-Desember 2017. Subject selection is done consecutively and use inclusion and exclusion creteria. This study takes data from interviews and questionnaires from the Camberwell Instrument assessment of need short appraisal schedule (CANSAS). Used the analitic observasional study cross-sectional and chi square descriptibe study to process the data.Result: The male and female sex ratioin schizophrenia patient and other psychotic disorders is 1.1: 1. Schizophrenia and other psychotic disorders age is ranged from 19-39 years (73.3%). Most of the schizophrenia and other psychotic disorders are unmarried (53.33%). People with schizophrenia and other psychotic disorders have a job of being housewives (30%) for women and (16.7%) not working. 50% of schizophrenic outcomes and other psychotic disorders are diagnosed with paranoid schizophrenia, and have been sick for more than 5 years (63.3%). The relationship of caregiver of schizophrenia and other psychotic disorder is parent (56,7%). Some needs of schizophrenic and other psychotic disorders are not met in this study according to schizophrenia and other psychotic disorders and according to their caregiver.Conclusion: From 22 CANSAS questions, the need of people with schizophrenia and other psychotic disorders reported by caregivers is higher than according to schizophrenics. People with schizophrenia and other psychotic disorders and their caregiver(s) assess the problem of accommodation, home care, telephones / communication devices, daily activities and physical health are highly rated in the needs of people with schizophrenia and other psychotic disorders. The absence of significant results (p 0.05) in this study meant that there was no difference in viewpoints in assessing the schizophrenic needs of the schizophrenic life according itself and according to the caregiver. In addition, It is expected that this instrument can be used to monitor the needs of people with schizophrenia whether people with schizophrenia have problems in their future life needs. Keywords: Schizophrenia, life needs, caregiver, CANSAS instrumen
PERBEDAAN DERAJAT AGLUTINASI PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ANTARA ERITROSIT TANPA PENCUCIAN DENGAN PENCUCIAN PADA PENDERITA TALASEMIA Vivi Keumala Mutiawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Pasien talasemia sering mendapatkan transfusi darah selama masa pengobatan. Derajat aglutinasi golongan darah dapat dilihat pada waktu pemeriksaan golongan darah. Pemeriksaan golongan darah dengan metode slide selama ini tidak dilakukan pencucian untuk eritrositnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan derajat aglutinasi golongan darah yang tidak dilakukan pencucian dengan pencucian terhadap sel eritrosit yang diperiksa pada penderita talasemia. Penelitian cross sectional ini dilakukan pada bulan Juli 2010 di Bagian DDD RSHS Bandung. Sampel penelitian adalah 37 orang penderita talasemia yang diperiksa golongan darah ABO dan Rhesus dengan metode slide. Semua sampel diperiksa golongan darah sebelum sel eritrosit dilakukan pencucian, kemudian diperiksa kembali setelah sel eritrositnya dilakukan pencucian dengan larutan fisiologis. Data hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan metode chi square test. Perbandingan antara golongan darah dengan anti-A, anti-B dan anti-Rh diantara eritrosit yang tidak dilakukan pencucian dengan pencucian terdapat perbedaan yang signifikan. (Nilai p 0,001, 0,001 dan 0,039). Hasil penelitian menunjukan perbedaan derajat aglutinasi pemeriksaan golongan darah yang tidak dilakukan pencucian dengan pencucian sel eritrosit pada penderita talasemia.  Abstract. Thalassemia patients often receive blood transfusion. Degree of agglutination of blood group examination to determine blood type. During this time there was no examination of blood group slides methods done without washing erythrocyte. The aim of this study is to determine the differences in the degree of agglutination of the blood group between unwashed and washed erythrocytes of the thalassemia patients. This cross sectional study was conducted in DDD RSHS Bandung on July 2010. Thirty-seven thalasemia patients samples are checked for ABO blood groups and Rhesus slide method. The samples were not washed and washed with saline. The results were analyzed by chi square test. Comparation between anti-A, anti-B dan anti-Rh among erythrocyte not washed and washed was significant. (p value 0,001, 0,001 and 0,039). There are differences in the degree of agglutination of blood group examination of washed and unwashed erythrocytes in thalassemia patients.
Astrocytoma Fahrul Amri
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstnk.   Astrocytoma  merupakan  tumor otak yang  paling sering terjadi  pada anak, dengan frekuensi lebih dari setengah jumlah  keganasan pada sistem saraf primer.  Insidensi   tahunan  mencapai 14 kasus baru per 1000000 anak dibawah   usia 15   tahun.  Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan CT scan dan pemeriksaan Head and spine MRI.  Penanganan Astrocytoma disesuaikan dengan lokasi dan grade dari tumor tersebut.   IO.year survival rate untuk astrocytoma cerebellar low-grade yang dapat diangkat lengkap mendekati  100%.  (JKS 2009,·2:97-100)Kata Kunci :  AstrocytomaAbstract. Astrocytoma is the most common brain tumor of childhood, more than 50%  tumor on primary nervous system. Annual incident reach 14  new cases per 1:000.000   children under 15  years old, Diagnose is  made based on clinical   symptoms,  physical examination, CT Scan  and Head and Spine MRI.  Management of Astrocytoma  is based on the location and grade of the tumor.   IO-year   survival rate for low  grade Cerebellar Astrocytomas, which are resected completely,  is near 100%.   (JKS 2009;2:97-100)Key word : Astrocytoma
KEMOPREVENSI UNTUK PENCEGAHAN KANKER : FAKTA ATAU MITOS? Nanda Ayu Puspita
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.Kemoprevensimasihmenjadiberdebatan dalam dunia kedokteran. Seperti halnya pencegahan penyakit pada umumnya, kemoprevensi diarahkan untuk menghambat atau memutarbalikkan proses perubahan sel-sel normal menjadi sel-sel ganas (karsinogenesis), dengan memanfaatkan pengetahuan tentang patogenesis kanker, tahapan perkembangan sel kanker, dan penemuan biomarker sebagai penanda kanker. Berbagai uji klinis telah menunjukkan hasil negative maupun hasil positif kemoprevensi, untuk pencegahan kanker payudara, kanker kolon,kanker prostat, dan berbagai macam kanker lainnya. Akan tetapi, sampai saat ini kemoprevensi masih belum bisa diterima secara luas, bukan hanya karena hasil akhirnya yang masih menjadi tanda tanya, namun juga perlu mempertimbangkan keuntungan dan kerugian pemberian kemoprevensi yang notabene akan diberikan pada populasi yang tergolong sehat. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengupas kedua sisi kemoprevensi, untuk dapat memberikan gambaran dibalik pro dan kontra pencegahan kanker. (JKS 2016; 2: 112-119) Kata kunci : Kemoprevensi, kanker.Abstract. The experts are still debating about cancer chemoprevention. With regards to the prevention of disease, the aim of chemoprevention is to inhibit or reverse the development of cancerous cells from healthy and normal cells (carcinogenesis), by exploiting the advance knowledge of cancer pathogenesis, cancer cell development, and the discovery of cancer biomarkers. A vast number of clinical trials have reported both side of negative and positive results from chemoprevention, for reducing the incidence of breast cancer, colon cancer, prostate cancer, and many more. Nevertheless, chemoprevention is not widely accepted, attributed to the big question of the endpoint to demonstrate the meaningful preventive effect, and the risk-and-benefit of chemoprevention, as the intervention is given to relatively healthy population. Accordingly, this review will expose both aspects of chemoprevention, in order to provide a wider picture behind the controversial of cancer chemoprevention. (JKS 2016; 2: 112-119)Keywords : Chemoprevention, cancer.
Isolasi, Identifikasi Dan Uji Resistensi Antibiotika Mikroorganisme dari Sputum Penderita Batuk Kronis Azwar Azwar; Liza Salawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolasi, Identifikasi Dan Uji Resistensi Antibiotika Mikroorganisme dari Sputum Penderita Batuk Kronis

Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue