cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2022): Februari" : 7 Documents clear
Kritik Metafisika: Studi Komparatif Pemikiran Heidegger (1889-1976 M) dan Suhrawardi (1154-1191 M) Muhammad Arif
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.179

Abstract

Heidegger dan Suhrawardi memiliki pendapat yang seirama dalam mengonsepsikan kritik metafisika. Menurut mereka Ada itu hanya dapat tersingkap melalui interaksi langsung, ontological-existential dalam bahasa Hidegger dan idlafah isyraqiyah dalam bahasa Suhrawardi. Persamaan gagasan dari dua tokoh yang berbeda zaman dan tradisi ini jelas sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut, sehingga artikel ini mengulas tentang apa saja persamaan dan perbedaan dari dua filsuf tersebut. Artikel ini memiliki keunikan tersendiri dibanding penelitian-penelitian yang ada, karena masih belum ditemukan penelitian yang mengkomparasikan pemikiran kedua filsuf tersebut. Bahkan, pada umumnya penelitian yang ada lebih menempatkan pemikiran Suhrawardi sebagai kajian tasawuf falsafi dalam dimensi logika, epistemologi, metafisika, dan bukan kritik metafisika sebagaimana menjadi tema utama artikel ini. Terakhir, artikel ini menemukan bahwa Heidegger dan Suhrawardi memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Perbedaan antara keduanya tampak dalam pijakan berpikir, orientasi pemikiran, dan pandangan keduanya tentang keakuan performatif, sementara dalam gagasan kritik metafisika, keduanya berada di garis yang sama.
Istifham dalam Surah Al-Qiyamah: Suatu Kajian Kebahasaan Muhamad Erpian Maulana
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.185

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji istifham dalam surah al-Qiyamah.  Keindahan bahasa Al-Qur’an lahir sebagai tantangan kepada orang Arab ketika itu untuk menandinginya. Ilmu balaghah sebagai salah satu disiplin ilmu yang mengkaji keindahan bahasa, di dalamnya membahas tentang istifham, yaitu pertanyaan yang termasuk pada kajian kalam insha’i. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan jenis data berupa studi kepustakaan. Data analisis yang digunakan adalah deskriptif-analisis. Penulis menemukan bahwa terdapat enam jenis istifham dalam surah al-Qiyamah. Di antaranya dengan huruf hamzah yang berfungsi untuk membenarkan dengan jumlah empat, Aina yang merujuk pada pertanyaan tempat dengan jumlah satu dan kata Ayyana yang merujuk pada sesuatu yang dahsyat dan bersifat akan datang dengan jumlah satu. Istifham dengan hamzah pada surah ini telah keluar dari makna asalnya, karena indikasi dan konteks lain yang menuntut melahirkan makna yang berbeda.
Melihat Tuhan dalam Perspektif Ilmu Kalam dan Tasawuf Abdul Munim Cholil
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.197

Abstract

“Melihat Tuhan” merupakan satu tema yang menghiasi kajian keislaman. Pakar ilmu kalam masih berpolemik hingga saat ini. Sementara kaum sufi menerima tema ini secara lebih terbuka. Artikel ini akan membahas tentang integrasi ilmu kalam dan tasawuf terkait tema itu. Di sini, penulis tidak disibukkan dengan perdebatan tentang boleh atau tidaknya melihat Tuhan. Namun sampai pada pembahasan “kemungkinan” dan dari pintu mana konsep Melihat Tuhan menjadi kajian epistemologis yang menarik hingga saat ini. Ketika ahli kalam berhenti di depan pintu tanzîh (penyucian Allah dari segala cacat dan keserupaan dengan makhluk), maka kita menemukan para sufi melewati pintu itu. Yang menarik adalah bagaimana para sufi menghadirkan 'pintu' menuju ru'yatullah melalui konsep mahabbah. Namun dengan tetap menjadikan temuan para ahli kalam sebagai “rumah kembali” ketika berhadapan dengan shubuhat (kerancuan epistemik). Di sini penulis akan memakai pendekatan eksistensialisme Heidegger untuk memasuki ruang “kesadaran sufi” sehingga doktrin sufi bisa dipahami secara lebih empati, karena sifatnya yang jauh dari jangkauan psikolog-antropolog yang materialsitik.
Menelaah Ulang Kodifikasi Struktur Ayat dan Surah Al-Qur’an Rasm Uthmani Aspandi Aspandi; Muhammad Sarkoni
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.203

Abstract

Penulisan Al-Qur’an di masa Uthman b. Affan memunculkan mushaf yang disebut dengan mushaf Uthmani. Namun di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat. Sebagian ulama mengatakan bahwa susunan baik ayat atupun surah merupakan hasil ijtihad, dan ulama lain mengatakan bahwa susunan tersebut merupakan tauqifi dari Nabi. Penelitian ini bertujuan menelaah ulang apakah susunan ayat ataupun surah Al-Qur’an merupakan tauqifi atau ijtihad. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kajian kepustakaan dengan menganalis konten-konten yang berkaitan dengan objek penelitian, yang didapatkan dari pendokumentasian data-data. Dari penelitian ini ditemukan bahwa susunan surah maupun ayat dalam Al-Qur’an seluruhnya merupakan tauqifi dari Nabi Muhammad Saw. Hal ini dibuktikan dengan data bahwa Nabi senantiasa mengulang-ulang hafalannya di hadapan malaikat Jibril, yang artinya Nabi begitu hati-hati dalam menjaga susunan ayat dan surah Al-Qur’an. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an baik dari struktur surah dan ayat semuanya murni tauqifi Nabi Muhammad Saw.
Islam dan Media Massa: Pengarusutamaan Moderasi Islam Pada Situs Tafsiralquran.id Abdullah Falahul Mubarok; Yoga Irama
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.210

Abstract

Seiring berjalannya waktu polemik-polemik beragama masih terus bermunculan. Akar masalahnya adalah keberadaan kelompok radikalisme yang masih tumbuh subur, sehingga aktivitas moderasi harus terus dilakukan agar bisa menjaga keragaman dan kesatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu artikel ini berusaha mengkaji tentang model pengarusutamaan moderasi Islam pada situs Tafsiralquran.id. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori media massa milik Marshall McLuhan. Data-data yang diteliti diperoleh dari aktivitas observasi terhadap data-data, baik yang terdapat pada buku, jurnal, media sosial (internet) ataupun platform lain. Adapun hasil temuan dari penelitian ini adalah model pengarusutamaan moderasi Islam dalam Tafsiralquran.id menggunakan format konten tulisan artikel pendek yang membahas seputar term moderasi dan model berislam yang proporsional, toleransi, dan jauh dari aspek kekerasan. Ini bertujuan memberikan pemahaman dan role model berislam yang benar kepada pembaca, yang di dalamnya juga dielaborasi dengan pembahasan seputar tafsir dari ayat-ayat al-Quran dan dikontekstualisasikan dengan isu-isu terbaru yang sedang ramai diperbincangkan.
Historisitas dan Nilai Religius Shalawat Lam Yahtalim dalam Kitab Maraqi Al-'Ubudiyah Karya Syekh Nawawi Al-Bantani Moh. Ashif Fuadi; Muhammad Aslambik
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.211

Abstract

Di antara banyak jenis shalawat, terdapat shalawat yang dikenal dengan nama shalawat Lam Yahtalim. Shalawat ini dapat kita temukan di sebuah kitab yang ditulis oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang berjudul Marāqi al-'Ubūdiyah Sharh Alā Bidāyat al-Hidāyah Li al-Imām Al-Ghazali, sebuah kitab yang menjadi atau penjelas dari kitab Bidāyatul Hidāyah karya Abu Hamid Al-Ghazali. Tulisan ini menggunakan pendekatan sejarah (historical approach) dan metode kajian pustaka (literature review), dan metode penelitiannya berupa deskriptif dan juga naratif. Tulisan ini menjelaskan profil singkat dari Syekh Nawawi Al-Bantani yang merupakan tokoh penting munculnya shalawat Lam Yahtalim. Penelitian menghasilkan kesimpulan tentang dasar jejak historis penulisan syair yang kemudian menjadi bacaan shalawat Lam Yahtalim. Selain itu juga menjelaskan nilai religius dalam shalawat tersebut yang berisi tentang keistimewaan-keistimewaan (kekhususan) yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. yang terkandung di dalam setiap bait demi bait. Selain itu juga menjelaskan tentang alasan dari mengapa para ulama menjadikan dan menganjurkan bacaan shalawat Lam Yahtalim tersebut sebagai bacaan untuk menghindarkan seorang Muslim dari bahaya kebakaran api, pencurian, dan bencana atau musibah yang lainnya.
Motivasi Qur’ani Santri Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an (PPTQ) Fatchussalam Surabaya dalam Menghafal Al-Qur’an: Sebuah Kajian Living Qur’an Kusroni Kusroni
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.578

Abstract

Interaksi antara umat muslim dengan kitab sucinya, al-Qur’an, dalam lintasan sejarah Islam, selalu mengalami perkembangan yang dinamis. Pembacaan al-Qur’an menghasilkan pemahaman yang beragam sesuai kemampuan masing-masing, dan pemahaman tersebut melahirkan perilaku yang beragam pula sebagai tafsir al-Qur’an dalam praksis kehidupan, baik pada dataran teologis, filosofis, psikologis, maupun kultural. Dalam ranah kajian “Qur’anic Studies” ada satu pendekatan yang disebut dengan Living Qur’an. Tulisan ini, dengan berpijak pada konsep tersebut, berupaya mengungkap motivasi para santri tahfiz di PPTQ Fatchussalan Surabaya yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. Motivasi ini menurut penulis merupakan salah satu dari bentuk al-Qur’an yang “hidup” (Living Qur’an) di tengah-tengah komunitas pesantren. Penelitian ini menemukan bahwa, motivasi para santri PPTQ Fatchussalam dalam menghafal al-Qur’an banyak dipengaruhi oleh pemahaman dan penghayatan serta pengamalan dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. Pemahaman mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadis nabi saw. ini diperoleh di pesantren, sekolah, dan di rumah. Pemahaman dan penghayatan ini kemudian termanifestasikan dalam aktivitas mereka menghafal al-Qur’an di pesantren

Page 1 of 1 | Total Record : 7