cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 464 Documents
REVITALISASI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN Sonaesti, Ceratomia; Purwanto, Edi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Semarang Old Town area has a row of historic buildings. Revitalization efforts have been made by the Government since 2017 to increase the attractiveness of the area in order to increase tourism potential in Semarang and to maintain the preservation of cultural heritage buildings. Currently, the condition of this area is getting better and more lively and attracts more visitors. However, so far there are various assumptions regarding of the Semarang Old City Area’s revitalization successness, so it is necessary to conduct a study to find out the problems that still exist to increase the successness of this area’s revitalization. This study was using a a comparative descriptive method. The evaluation results show that the revitalization of this area has not yet fully met the revitalization objectives, because although it has been able to improve its physical, economic and social qualities, it has not yet fully improved from a cultural perspective because there are still several problems, including street furniture, crowds concentrated in one area, volume of vehicles, infrastructure development, many unused buildings, vandalism and building facades differences. This is also not in accordance with the Government's vision of making this area a permanent list of "World Heritage Sites".Abstrak: Kawasan Kota Lama Semarang memiliki deretan bangunan bersejarah. Telah dilakukan upaya revitalisasi oleh Pemerintah terhadap Kawasan ini sejak tahun 2017 untuk meningkatkan daya tarik kawasan tersebut dalam rangka meningkatkan potensi pariwisata di Kota Semarang serta untuk menjaga kelestarian bangunan-bangunan cagar budaya yang ada di kawasan tersebut. Saat ini kondisi Kawasan Kota Lama ini menjadi lebih baik dan lebih hidup serta menarik lebih banyak pengunjung. Namun selama ini terdapat berbagai macam anggapan mengenai keberhasilan revitalisasi Kawasan Kota Lama Semarang, sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui permasalahan yang masih ada untuk meningkatkan keberhasilan revitalisasi Kawasan ini. Evaluasi ini dilakukan dengan metode deskriptif komparasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan ini masih belum sepenuhnya memenuhi tujuan revitalisasi, karena meskipun telah mampu meningkatkan kualias fisik, ekonomi dan sosial, namun belum belum sepenuhnya meningkatkan dari sisi budaya karena masih terdapat beberapa permasalahan antara lain mengenai street furniture, keramaian yang terpusat di satu titik, volume kendaraan, pembangunan infrastruktur, banyak bangunan yang tidak dimanfaatkan, vandalisme serta perbedaan fasad bangunan. Hal tersebut juga belum sesuai dengan visi Pemerintah dalam menjadikan Kawasan ini sebagai daftar tetap “World Site Heritage”.
RETHINKING SOCIABLE GREEN SPACES AMID THE COVID-19 CRISIS: A CASE STUDY OF BATAM, INDONESIA Aguspriyanti, Carissa Dinar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: One of the lasting impacts of the COVID-19 crisis undisputedly is changes in the way people use public spaces including green spaces. Some people despite the social isolation rules still often visit public green spaces to maintain their well-being. This study aimed to rethink how green spaces as a sociable place can be more adaptable to fulfill the new needs of people which have arisen due to the pandemic. Direct-structured observation and semi-structured interviews with purposive sampling were conducted in the park located in Batam, Indonesia. It was revealed that the use of this park as a sociable place has prioritized most on ‘relaxation’ behaviours at one time, followed by ‘affiliation’ and ‘interaction’ behaviours after the pandemic strikes. The ‘affiliation’ activities, nevertheless, were interestingly the top reason for people visiting this park more frequently in a week. The proposed post-pandemic concept of the park as a sociable green space was subsequently conceived around the circulation, furniture, and activity settings with several design strategies as a response to the key issues concerning the social behaviours and health protocol system in this park. Abstrak: Salah satu dampak jangka panjang dari krisis COVID-19 yang tidak terbantahkan adalah perubahan cara orang menggunakan ruang publik termasuk ruang terbuka hijau. Walaupun terdapat aturan isolasi sosial, beberapa orang masih sering mengunjungi ruang terbuka hijau untuk menjaga kesehatan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memikirkan ulang bagaimana ruang terbuka hijau sebagai ruang publik ramah atau tempat bersosialisasi dapat menjadi lebih adaptif untuk memenuhi kebutuhan baru masyarakat yang muncul akibat pandemi. Observasi langsung terstruktur dan wawancara semi terstruktur dengan purposive sampling dilakukan di taman yang terletak di Batam, Indonesia. Studi ini menemukan bahwa penggunaan taman tersebut sebagai ruang publik ramah telah memprioritaskan perilaku 'relaksasi' dalam satu waktu, diikuti oleh perilaku 'afiliasi' dan 'interaksi' setelah pandemi melanda. Namun menariknya, aktivitas yang berkaitan dengan ‘afiliasi’ menjadi alasan utama orang untuk lebih sering mengunjungi taman ini dalam satu minggu. Usulan konsep taman pasca pandemi sebagai ruang terbuka hijau ramah kemudian digagas terkait pengaturan sirkulasi, furnitur, dan aktivitas dengan beberapa strategi desain sebagai respon terhadap isu-isu utama mengenai perilaku sosial dan sistem protokol kesehatan di taman ini.
KONSEP OPTIMALISASI KENYAMANAN TERMAL PADA PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN BAHASA ASING DI BANDA ACEH Misbach, Indra Putra; Bakri, Maysarah; Sumarto, Dony Arief
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In order to support its function, the educational building is required to provide thermal comfort for the user. The thermal comfort affects the learning quality that occurs in the classroom. It is a challenge for the designed objects in a tropical region. Therefore, this design research aims to implement a tropical concept using the passive approach to optimize the building’s thermal comfort. The data is collected through literature review and site studies. This design research produces a designed object that implements the passive approaches through building design and layout, the use of sloping roof, the optimization of the cross-ventilation system, the use of exterior bright color, and outdoor space arrangement.Abstrak: Untuk mendukung fungsinya, bangunan pendidikan dituntut untuk memberikan kenyamanan termal bagi pengguna. Kenyamanan termal mempengaruhi kualitas pembelajaran yang terjadi di ruang belajar. Hal ini menjadi tantangan bagi objek rancangan yang berada di daerah tropis. Oleh karena itu, penelitian perancangan ini berupaya menerapkan konsep tropis dengan pendekatan pasif untuk mengoptimalkan kenyamanan termal pada bangunan. Data dikumpulkan melalui kajian literature dan studi tapak. Penelitian perancangan ini menghasilkan objek rancangan yang mengaplikasikan pendekatan pasif melalui desain bentuk dan tata bangunan, penggunaan atap miring, optimalisasi system ventilasi silang, penggunaan warna cerah pada kulit bangunan serta penyediaan dan penataan ruang luar.   
RUANG BERBAGI ANTARA MANUSIA DAN HEWAN TERNAK YANG ADA DI PINGGIRAN KOTA Sulistyaningrum, Marsya Paramita; Sardjono, Agung Budi; Sari, Suzana Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: There are still many people living on the suburbs who have unique and diverse activities and habits. As in Jetis Trawas Village, Cepoko Village, Gunungpati District, Semarang City, some of these unique activities and habits actually trigger the formation of a space that is used for various activities. One of them that is unique is that there are still many houses that are in the same environment as livestock. The purpose of this study is to determine the pattern of sharing space on the suburbs and the factors that influence the formation of sharing space on the suburbs. Through qualitative research methods can provide a clear picture of sharing space based on the culture of the local community. In addition, this method is motivated by the author in conducting research in order to provide knowledge about things that are not widely known. So in this study, it will be explored and discussed further how this sharing space can be formed in the object of this research. The results of this study in Jetis Trawas Village show that the Sharing Room was formed due to economic factors as well as social interaction factors of the villagers.Abstrak: Masyarakat yang ada di pinggiran Kota masih banyak ditemui memiliki aktivitas dan kebiasaan yang unik dan beragam. Seperti yang ada di Desa Jetis Trawas, Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Aktivitas dan kebiasaan unik ini ternyata memicu terbentuknya ruang yang digunakan untuk berbagai aktivitas. Salah satunya yang unik yaitu masih banyak terdapat rumah tinggal yang berada satu lingkungan dengan hewan ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sharing space yang ada di pinggiran kota dan faktor – faktor yang berpengaruh dalam terbentuknya sharing space di pinggiran kota. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif rasionalistik, kualitatif analisis dengan deskriptif untuk menganalisa suatu objek dengan kondisi di lokasi penelitian. Analisis data menggunakan hasil wawancara dari beberapa warga dengan berbagai golongan umur yang objek penelitiannya sesuai dengan tema penelitian, kemudian hasilnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan melalui wawancara tersebut, diketahui bahwa Sharing Spaceterbentuk karena ketersediaan lahan, faktor ekonomi dan juga faktor sosial. 
INVENTARISASI ARSITEKTUR BANGUNAN CAGAR BUDAYA KANTOR POS SEMARANG (Memikirkan Kembali Peluang Fungsi Kantor Pos di Era Digital) Rukayah, R. Siti; Juwono, Sudarmawan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: During the Dutch colonial period, Daendeles (1808) built a 1000km postal highway from Anyer - Panarukan. Now the road is known as the pantura (north coast route). The main function is to facilitate communication between regions controlled by Daendeles. One of the buildings that influenced the construction of the postal highway was the first post office in Batavia (1746) and the second post office in Semarang (1750). In the city of Semarang, along with the development of the city to the south and the existence of road infrastructure towards the kingdom of Mataram (Surakarta and Jogjakarta), several branch post offices were built in the Bangkong area and the Post Office Jalan Dr. Wahidin. The building is the center of postal services and operations in the city of Semarang and its surroundings. However, along with the development of the postal industry process, it has pushed service rooms to be more efficient, resulting in a reduction in the need for workspaces which results in a lot of space that can be used for other functions. This opportunity to revitalize the old post office building can be integrated with the potential of the Old Town area which has been developed as a mainstay tourism destination for the city of Semarang. Taking into account this potential, the purpose of this paper is to map and inventory the architectural potential of the Semarang post office which is very urgent to do. The method used is to conduct observations and interviews in a structured manner. The focus of the study is on the potential of architecture, including architectural space and character, as well as the potential of the existing environment or area. The result of the building inventory to preserve that not only focuses on the physical building but also how the activities in it are still attached to the function of the building.Abstrak: Pada masa colonial Belanda, Daendeles (1808) membangun jalan raya pos sepanjang 1000km dari Anyer - Panarukan dan kini dikenal dengan jalur pantura. Fungsi utama adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang di kuasai Daendeles. Salah satu bangunan yang berpengaruh terhadap dibangunnya jalan raya pos adalah Kantor pos pertama di Batavia (1746) dan Kantor pos kedua di Semarang (1750). Di Kota Semarang seiring dengan perkembangan kota ke arah Selatan dan telah adanya infrastruktur jalur jalan kearah kerajaan Mataram (Surakarta dan Jogjakarta) maka dibangunlah kantor pos cabang di kawasan Bangkong dan Kantor pos jalan Dr. Wahidin. Bangunan tersebut menjadi salah satu tulang punggung pelayanan dan operasional pos di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. Namun seiring dengan perkembangan proses industri pos telah mendorong ruang pelayanan semakin efisien sehingga terjadi pengurangan kebutuhan ruang kerja yang mengakibatkan banyak ruang yang bisa dimanfaatkan untuk fungsi lain. Peluang ini dapat diintegrasikan dengan potensi kawasan Kota Tua telah dikembangkan sebagai ruang publik dan destinasi pariwisata andalan Kota Semarang. Dengan memperhatikan adanya potensi tersebut tujuan paper ini adalah melakukan mapping dan inventarisasi potensi arsitektur kantor pos Semarang yang sangat mendesak untuk dilakukan. Metode yang dilakukan adalah melakukan survey lapangan dan wawancara secara terstruktur. Adapun fokus kajian adalah pada potensi arsitektur mencakup ruang dan karakter arsitektur, serta potensi lingkungan atau kawasan yang ada. Hasil dari inventarisir bangunan adalah upaya untuk melestarikan yang tidak hanya berfokus pada fisik bangunan saja tetapi juga bagaimana aktivitas di dalamnya masih tetap melekat dengan fungsi bangunannya. 
ANALISA APLIKASI KONSEP ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA SASANA KRIDA RAGA SATRIA PURWOKERTO Rusmaharani, Diyah; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sasana Krida Raga Satria is a sports building located in the GOR in Purwokerto. The building is a multifunctional building, because apart from being functioned as a building that accommodates sports activities, this building is also used as a place for art activities and various other major events. In this study, an analysis of the principles and integrated design strategies of the bioclimatic design will be carried out which is applied to the Sasana Krida Raga Satria building. Based on the results of the analysis, it was found that Sasana Krida Raga Satria has fulfilled the principles and strategies of integrated bioclimatic design as evidenced by the green design approach in the tropics by utilizing solar energy as natural light for the room through skylights, the design of a room with many openings near the roof that functions as a dust filter, sunscreen and natural air circulation. The method used in this research is descriptive qualitative analysis method by collecting data from literature review and field review. The porpuse of this study is to find out the implementation of bioclimatic principles and bioclimatic design strategies in the Sasana Krida building and it can be used as design inspiration that is more aware of the welfare and health of users, integrates with the environment and creates energy-efficient designs.Abstrak: Sasana Krida Raga Satria merupakan gedung olahraga yang terdapat di dalam GOR Kota Purwokerto. Gedung termasuk gedung yang multifungsi, karena selain difungsikan sebagai bangunan yang mewadahi kegiatan olahraga, gedung ini juga dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan kesenian dan berbagai acara besar lainnya. Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis mengenai prinsip-prinsip beserta strategi desain terpadu dari desain bioklimatik yang diaplikasikan ke dalam bangunan Sasana Krida Raga Satria. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa Sasana Krida Raga Satria telah memenuhi prinsip dan strategi desain terpadu bioklimatik yang dibuktikan dengan pendekatan desain hijau di daerah tropis dengan memanfaatkan energi matahari sebagai cahaya alami ruangan melalui skylight, desain ruangan yang banyak bukaan didekat atap yang berfungsi sebagai filter debu, sunscreen dan tempat sirkulasi udara alami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis diskriptif secara kualitatif dengan melakukan pengumpulan data dari kajian pustaka literatur serta tinjauan lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana prinsip dan desain terpadu bioklimatik diterapkan dan diharapkan dapat dijadikan inspirasi desain yang lebih memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan pengguna, terintegrasi dengan ligkungan dan menciptakan desain hemat energi.
PENGARUH LOKASI BANGUNAN TERHADAP BENTUK DAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL DI JAWA BARAT Harapan, Andi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:. West Java has so many topographical area, such as highland (mountain), low land (valley) and coastal area. All of these areas have differently influenced the typology of building system, which coming from their knowledge of local material, cultures, and technology, which have been delivered from their generation.  The knowledge has been developed by times with trial and error process and become the local knowledge of this area (specific area). This paper will be elaborating the buildings (houses) on this 3 topographical area, with focusing on 3 systems of the building (house): lower, upper, and middle system. 3 parts of these building have been observed and created to propose the mapping of construction joint system. On this paper, the map of contraction system (which related to the area) has been explored on 3 traditional villages in West Java: Panjalin village at Majalengka District (located at coastal area), Cikondang village at Bandung District (located at highland area), and Mahmud Village at Bandung District (located at lowland area).Abstrak: Jawa Barat mempunyai geografis yang beragam, terdiri dari area pantai, dataran tinggi (pegunungan) dan dataran rendah. Kondisi geografis yang beragam ini, dihuni oleh masyarakat Jawa Barat yang memberikan ciri khas tersendiri dimana kehidupan tersebut berada, khususnya untuk masyarakat perkampungannya. Uniknya di Jawa Barat terdapat berbagai jenis bangunan tradisional yang mencirikan masyarakatnya, misalnya bangunan tradisional masyarakat di pantai, bangunan tradisional masyarakat di dataran rendah, dan bangunan tradisional masyarakat di dataran tinggi (pegunungan). Untuk itu, pada tulisan ini dilakukan pemetaan bangunan tradisional yang mewakili ketiga area tersebut, dengan melakukan pengamatan dan pengukuran bangunan. Pemetaan dilakukan pada 3 (tiga) lokasi yaitu kampung Panjalin–kabupaten Majalengka (yang mewakili area pantai), Kampung Cikondang–Kabupaten Bandung (yang mewakili area dataran tinggi (pegunungan), dan kampung Mahmud–Kabupaten Bandung (yang mewakili area dataran rendah). Setiap area mempunyai keunikan tersendiri, tetapi juga mempunyai persamaan, seperti konfigurasi bangunan, bentuk fisik bangunan, material, dll, tetapi ada juga perbedaan diadalam dimensi dan beberapa detail bangunan.
KAJIAN KENYAMANANAN VISUAL MELALUI PENCAHAYAAN PADA RUANG KERJA Adji, Agus Ruminto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Basically, humans need light to visually see an object. It is the light that is reflected by these objects so that we can see it clearly and the eyes are comfortable to see. A good workspace is a comfortable workspace to do a job so that work results are optimal. Visual comfort can be achieved if the points of visual comfort are applied optimally, among others, by conformity of the design with the recommended light standards and the arrangement of room layouts in accordance with the distribution of lighting. This paper is a brief study of visual comfort through the lighting system in the room. This paper aims to analyze lighting and furniture layout arrangements in order to obtain design proposals in the process of redesigning the general and staffing subdivision space at the Tegal City DPUPR office.Abstrak: Pada dasarnya manusia memerlukan cahaya untuk melihat secara visual suatu obyek/benda. Cahaya yang dipantulkan oleh objek-objek tersebutlah maka kita dapat melihatnya secara jelas dan mata nyaman untuk melihat. Ruang kerja yang baik adalah ruang kerja yang nyaman untuk melakukan suatu pekerjaan agar hasil kerja optimal. Kenyamanan visual dapat tercapai jika poin-poin kenyamanan visual teraplikasikan secara optimal antara lain dengan kesesuaian rancangan dengan standar terang yang direkomendasikan dan penataan layout ruangan yang sesuai dengan distribusi pencahayaan. Tulisan ini merupakan kajian singkat mengenai kenyamanan visual melalui sistem pencahayaan pada ruang. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa pencahayaan dan penataan layout perabot guna mendapatkan usulan desain pada proses re-desain ruang subbag umum dan kepegawaian pada kantor DPUPR Kota Tegal.
PELESTARIAN ASPEK BENTUK – FUNGSI ARSITEKTUR PURI SAREN AGUNG UBUD - BALI Suryono, Alwin
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Ubud, a dense tourism area originating from a rice field village, has Puri Saren Agung as a pioneer of Architectural Conservation. This paper aims to reveal the meaning of Bale Ukiran and Bale Gede (the main building of Puri Saren Agung), their significant architectural elements, and their conservation concept. Bale Ukiran a magnificent style of traditional Balinese architecture, limasan roof, red brick walls, multilevel open front terrace, its function is a place to receive guests, meetings and residence of the Puri family. The architectural/historical meaning is the splendor of the palace; Balinese cultural meaning of 'mountain - sea' and 'dualism of life' on terraced terraces; The meaning of the 'three layers of nature' in the carved ceiling - brick walls, wooden pillars - granite floor; The meaning of natural harmony on open terraces, wooden beams. Significant architectural elements: Limasan roof, terraced open terraces, carved ceiling-beams-doors-windows, brick walls. The building is maintained by adaptation, its function is preserved. Bale Gede is in the style of traditional Balinese architecture, with a thatch roof, open, its function is the place for Balinese religious/traditional ceremonies for the Puri family. The meaning of the architecture is sacred customary bale; The Balinese cultural meaning of the 'three layers of nature' through gold carvings on the underside of the roof - wooden pillars - granite floor; The meaning of the harmony of nature through the openness of buildings, wooden beams; The meaning of harmony between past and present life through the building remains as the original, the adaptation of the present in gold carvings, white granite floors. Significant architectural elements: Alang-alang roof, open, white floor at the highest level, gold carvings on the lower part of the roof. The building is maintained with few adaptations, its function survives.Abstrak: Ubud, kawasan pariwisata padat yang asalnya desa persawahan, memiliki Puri Saren Agung sebagai pionir Pelestarian Arsitektur. Tulisan ini bertujuan mengungkap makna Bale Ukiran dan Bale Gede (bangunan utama Puri Saren Agung), elemen arsitektur signifikannya, dan konsep pelestariannya. Bale Ukiran megah bergaya arsitektur Tradisional Bali, atap limasan, dinding bata merah, teras muka terbuka bertingkat, fungsinya tempat menerima tamu, pertemuan dan hunian keluarga Puri. Makna arsitektur/sejarahnya kemegahan istana; Makna Budaya Bali ‘gunung - laut’ dan ‘dualisme kehidupan’ pada teras bertingkat; Makna ‘tiga lapisan alam’ pada plafon berukiran - dinding bata, tiang kayu - lantai granit; Makna keharmonisan alam pada teras terbuka, tiang-balok kayu. Elemen arsitektur signifikan: Atap limasan, teras terbuka bertingkat, ukiran plafon-tiang-balok-pintu-jendela, dinding bata. Bangunan dipertahankan dengan adaptasi, fungsinya dipertahankan. Bale Gede bergaya arsitektur Tradisional Bali, atap persisai alang-alang, terbuka, fungsinya tempat upacara keagamaan/adat Bali keluarga Puri. Makna arsitekturnya bale adat sakral; Makna Budaya Bali ‘tiga lapisan alam’ melalui ukiran emas bagian bawah atap - tiang-tiang kayu - lantai granit; Makna keharmonisan alam melalui keterbukaan bangunan, tiang-balok kayu; Makna harmoni kehidupan masa lalu - masa kini melalui bangunan bertahan seperti aslinya, adaptasi masa kini pada ukiran emas, lantai granit putih. Elemen arsitetur signifikan: Atap tajug alang-alang, terbuka, lantai putih level tertinggi, ukiran emas bagian bawah atap. Bangunan dipertahankan dengan sedikit adaptasi, fungsinya bertahan.
PELESTARIAN BUDAYA BALI DALAM ARSITEKTUR TAPAK DAN RESTORAN ARUNA RESORT TEJAPRANA TEGALALANG UBUD – BALI Suryono, Alwin
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Revealing the conservation of Balinese culture forms in the architecture of Site and Aruna Restaurant of Tejaprana resort uses architectural phenomenological approach. The Balinese Culture’s physical-social system is expressed through sensory presence, conceptual systems through goal awareness, and the philosophy through essence awareness. The setting extends from the North-South direction, the Aruna restaurant surrounded by garden in the middle of the site and a temple in the North, preserving the principles of the Balinese Traditional Village setting. The essence of the site order is harmony with the local natural philosophy. Social activities surrounded by gardens in the middle of the site and temple in North form a harmonious-balanced human-nature-God relationship philosophy. The openness of Aruna restaurant is similar to Wantilan's architecture, but with different shape. The pool at the center of the floor and the eight columns around it symbolizes the "natural balance" of the Nawa Sanga concept. The essence of Aruna restaurant is local natural harmony philosophy and spiritual relations, forming a harmonious-balanced human-nature-God relationship philosophy. The principles of traditional village arrangements, Balinese cultural social system, concept of natural balance, bale Wantilan principle, Nawa Sanga concept, Tri Hita Karana philosophy are preserved in the site and Aruna restaurant.).Abstrak: Pengungkapan wujud-wujud Budaya Bali dalam arsitektur Tatanan Tapak dan Restoran Aruna resort Tejaprana dan pelestariannya menggunakan pendekatan fenomenologis arsitektur. Sistem fisik-sosial Budaya Bali diungkap melalui kehadiran inderawi, sistem konsep melalui kesadaran tujuan, dan filosofi melalui kesadaran esensi. Tatanan tapak memanjang arah Utara-Selatan, restoran Aruna dikelilingi taman di tengah tapak dan Pura di Utaranya, melestarikan prinsip tatanan tapak Desa Tradisional Bali, berikut sistem sosial Budaya Bali. Tatanan tapak membentuk Keseimbangan Alam konsep Catur Lokapala. Esensi tatanan tapak adalah keharmonisan-keselarasan dengan alam setempat filosofi Manik Ring Cucupu. Aktivitas sosial dikelilingi taman di tengah tapak dan ibadah di Utaranya membentuk relasi harmonis-seimbang manusia-alam-Tuhan filosofi Tri Hita Karana. Restoran Aruna bersosok terbuka, atapnya bersusun mirip arsitektur Wantilan, namun bentuknya kerucut berlantai dua. Kolam di pusat lantai dan delapan kolom sekelilingnya searah mata angin simbol ‘keseimbangan alam’ konsep Nawa Sanga, memperlihatkan sistem sosial Budaya Bali. Esensi restoran Aruna adalah keharmonisan-keselarasan alam setempat (filosofi Manik Ring Cucupu) dan relasi spiritual, sehingga membentuk relasi harmonis-seimbang manusia-alam-Tuhan (filosofi Tri Hita Karana). Prinsip tatanan desa tradisional, sistem sosial Budaya Bali, konsep keseimbangan alam, prinsip bale Wantilan, konsep Nawa Sanga, filosofi Tri Hita Karana dilestarikan pada tapak dan restoran Aruna.

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026 Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue