cover
Contact Name
LAILATUL BADRIYAH
Contact Email
lailatulbadriyah0409@gmail.com
Phone
+6281215411992
Journal Mail Official
istisyfa@mail.uinfasbengkulu.ac.id
Editorial Address
Jl. Raden Fatah Selebar Kota Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Journal of Islamic Guidance and Counseling
ISSN : -     EISSN : 30472717     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/istisyfa
Jurnal Istisyfa spesialisasi dalam Bimbingan dan Konseling Islam, dimaksudkan untuk memberikan sarana diskusi dan mengkomunikasikan penelitian orisinal dan isu-isu relevan. Jurnal ini menerbitkan artikel penelitian yang mencakup seluruh aspek konseling, Psikologi, Bimbingan, Kesehatan Mental, Psikoterapi yang masuk dalam konteks Islam.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 3 (2025): Desember" : 10 Documents clear
Strategi Pembelajaran dan Dukungan Lingkungan dalam Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Aisyah Bila Sapitri; Dara Siska; Suci Alima Sundari; Mendo Fikrian Anugrah
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9786

Abstract

This study aims to identify the learning strategies and environmental support applied to children with special needs at SLB N 5 Bengkulu. This research employed a descriptive qualitative approach with the subjects consisting of a teacher and a parent of a speech-impaired student selected through purposive sampling. Data were collected through interviews, observations, and documentation and analyzed using the Miles and Huberman model. The findings reveal that the learning process implements an adaptive curriculum according to the abilities of each type of disability. Visual methods, demonstrations, and sign language are used to facilitate communication and students’ conceptual understanding. The study also found differences in communication patterns between home and school, indicating the need for consistent strategies to optimize language development. Family support and collaboration with teachers play an important role in developing students’ adaptive abilities and independence. In addition, an inclusive school environment, learning facilities, and social interactions among students contribute to the success of education for children with special needs. This study emphasizes that the effectiveness of learning in special schools is influenced by a combination of appropriate learning strategies and support from both the family and school environment. The findings may serve as a reference for developing learning strategies and educational policies for students with special needs in special education schools.
Dinamika Emosional dan Sosial Siswa Remaja dengan Gangguan Pendengaran di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Citra Putria Resmi; Marla Tri Andini; Noven Novi Aharlan; Zekriwan Abarozy
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9789

Abstract

Penelitian ini bertujuan memahami dinamika emosional dan sosial seorangremaja tunarungu melalui studi kasus mendalam terhadap NL, siswi SLBberusia 15 tahun di Kota Bengkulu. Pendekatan kualitatif dengan metodestudi kasus digunakan untuk menggali pengalaman personal, keluarga, danlingkungan sosial yang mempengaruhi proses perkembangan NL. Datadikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi,kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa NL mengalami keterlambatanperkembangan sejak kecil, hambatan komunikasi, serta berbagai bentukbullying dan stigma sosial yang berdampak pada kepercayaan diri danregulasi emosinya. NL sering merasakan kesedihan, kecemasan, danpertanyaan diri terkait kondisi pendengarannya. Namun, dukunganemosional ibu menjadi faktor protektif yang sangat menentukan dalammembantu NL membangun penerimaan diri, kestabilan emosi, danketerampilan sosial. Keluarga berperan besar melalui pendampinganspiritual, pemenuhan kebutuhan emosional, serta penguatan potensi kreatifNL, terutama dalam bidang seni dan fashion yang menjadi sumber harga diridan identitas positifnya. Temuan ini menegaskan bahwa remaja tunarungutidak hanya menghadapi hambatan psikososial, tetapi juga memiliki peluangberkembang ketika mendapatkan dukungan yang tepat. Penelitian inimemberikan kontribusi penting bagi layanan bimbingan dan konseling Islamdalam merancang intervensi yang lebih adaptif dan empatik terhadapkebutuhan remaja dengan gangguan pendengaran.
Perkembangan Sosial Kognitif Anak Tuna Grahita di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Mesal Sabilah; Yulia Puji Astuti; Aulia Sulistiyowati; Xsel Ramadhan Saputra
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9832

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai perkembangan sosial-kognitif seorang anak tuna grahita berinisial (S) dalam konteks pembelajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kondisi awal perkembangan (S) yang menunjukkan hambatan intelektual sejak masa bayi dengan skor IQ 62, yang berdampak pada keterlambatan proses belajar dan kesulitan beradaptasi secara sosial. Ketika berada di sekolah reguler, (S) mengalami penolakan dari lingkungan sosial, menarik diri dari pergaulan, dan tidak mampu mengikuti pembelajaran secara efektif. Keadaan ini menyebabkan rendahnya kepercayaan diri serta keterbatasan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengkaji perkembangan (S) secara komprehensif melalui wawancara mendalam, observasi perilaku sosial dan proses belajar, serta dokumentasi hasil asesmen kecerdasan dan catatan perkembangan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah berpindah ke SLB, perkembangan (S) meningkat secara signifikan dalam aspek kognitif dan sosial. (S) mulai mampu mengikuti instruksi, menunjukkan kemampuan berhitung sederhana, melakukan interaksi sosial yang lebih positif, serta memiliki motivasi belajar yang lebih stabil. Lingkungan sekolah yang suportif, penggunaan strategi pembelajaran yang fleksibel, kegiatan berbasis aktivitas, serta dukungan emosional dan finansial dari keluarga menjadi faktor utama yang mempengaruhi peningkatan perkembangan (S). Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa layanan pendidikan khusus yang tepat dan keterlibatan aktif keluarga menjadi kunci penting dalam mengoptimalkan perkembangan sosial-kognitif anak tuna grahita. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi perbaikan praktik pendidikan inklusif dan intervensi psikopedagogis yang lebih efektif di masa mendatang.
Pola Interaksi Sosial, Strategi Pembelajaran dan Pola Makan Anak Tunarungu: Analisis Kualitatif pada Siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Duta Berlian; Nur Fitri Ananda; Meisheya Bella; Mardiana Mardiana
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi sosial, strategi pembelajaran, danpola makan anak tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu. Pendekatan kualitatifdeskriptif digunakan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadapwali kelas serta observasi ringan terhadap perilaku peserta didik. Hasil penelitian menunjukkanbahwa program Makanan Bergizi (MBG) memberikan dampak positif terhadap perubahan polakonsumsi anak tunarungu, ditandai dengan menurunnya kebiasaan membeli jajanan tidaksehat di sekolah. Dalam aspek sosial-emosional, anak tunarungu memperlihatkan karakteristikkompetitif, kecenderungan mengalami kesalahpahaman komunikasi, dan keterikatan sosial yangkuat dengan teman sesama tunarungu. Keterbatasan dalam memahami bahasa verbal seringmemicu konflik, namun pada situasi nonkompetitif mereka menunjukkan empati dan kemauanmembantu teman sejawat. Pada aspek strategi pembelajaran, anak tunarungu memerlukanpendekatan multisensori, penggunaan media visual, objek konkret, bahasa isyarat, sertagerakan mulut agar mampu memahami materi secara optimal. Selain itu, sebagian anak masihmemiliki hambatan dalam kemampuan menulis dan memahami konsep abstrak. Faktorpenyebab ketunarunguan baik prenatal maupun postnatal turut memengaruhi dinamika sosial,komunikasi, dan emosi anak. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan metodepembelajaran visual, peningkatan kompetensi guru dalam bahasa isyarat, dukungan emosionaldi sekolah, serta kolaborasi intensif dengan orang tua untuk membangun pola pembelajarandan kebiasaan makan yang konsisten bagi anak tunarungu.
Analisis Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pendampingan Keluarga di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Selly Dwi Mayang Sari; Vera Chintia Bela; Ridia Desnika; Tara Utami
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan anak berkebutuhan khusus (ABK) melaluipola pendampingan keluarga di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Bengkulu. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian melibatkan dua subjek anak (OC dan MR) yang dipilih melalui teknik purposive, dengan data diperoleh melalui wawancara mendalam bersama orang tua dan observasi ringan di lingkungan keluarga. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga menjadi pusat pendampingan utama bagi kedua anak, terutama dalam pengawasan, pengaturan rutinitas harian, serta pemenuhan kebutuhan dasar yang belum dapat dilakukan secara mandiri. Riwayat medis dan jenis intervensi yang diterima kedua anak berbeda dan dipengaruhi oleh faktor budaya, akses kesehatan, serta kepercayaan keluarga, sehingga menghasilkan variasi perkembangan motorik, bahasa, dan kemandirian. Selain itu, lingkungan sosial memberikan peran signifikan melalui dukungan tetangga dan partisipasi anak dalam kegiatan masyarakat yang mampu meningkatkan kemampuan sosial dan rasa percaya diri. Namun persepsi sekolah, terutama terkait kemampuan kognitif, turut memengaruhi harapan dan keputusan keluarga dalam memberikan stimulasi lanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendampingan keluarga merupakan elemen kunci dalam perkembangan ABK, sehingga diperlukan pendekatan kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan komunitas untuk menciptakan intervensi yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan.
Potret Kehidupan Sosial dan Aktivitas Sehari-hari Remaja Tunagrahita: Studi Kasus pada DM di Lingkar Barat Bengkulu Nessa Ramadhani; Fixel Khairunaisa; Hedi Olivia Puspita; Hanif Abdur Rasyid
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9790

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari seorang remaja tunagrahita berinisial DM yang tinggal di Lingkar Barat Bengkulu. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kondisi kesehatan, pengalaman pendidikan, pola interaksi sosial, serta aktivitas ekonomi DM saling berhubungan dalam membentuk proses adaptasi dan kemandiriannya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan DM dan keluarganya, observasi terhadap rutinitas harian, serta dokumentasi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan DM yakni riwayat kejang sejak lahir dan adanya bekas operasi di bagian kepala memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan pendidikan dan fungsi sosialnya. DM sempat menghentikan pendidikan pada kelas lima sekolah dasar akibat meningkatnya frekuensi kejang, dan kondisi tersebut turut mempengaruhi ruang gerak serta aktivitas sosialnya hingga masa remaja. Di sisi lain, aktivitas ekonomi berupa berjualan gorengan keliling menunjukkan adanya kemampuan adaptasi dan kemandirian fungsional DM. Aktivitas ini tidak hanya menjadi bentuk kontribusi ekonomi bagi keluarga, tetapi juga menjadi sarana bagi DM dalam melatih tanggung jawab, keterampilan komunikasi dasar, dan penyesuaian diri dalam lingkungan sosial. Dukungan keluarga, terutama dari ayah dan ibunya, menjadi faktor yang paling menentukan dalam proses adaptasi DM. Dukungan tersebut mencakup penyediaan fasilitas seperti kendaraan untuk berjualan, pengawasan kesehatan secara ketat, hingga dorongan emosional yang membantu DM tetap stabil secara psikologis. Namun demikian, penelitian juga menemukan bahwa DM menghadapi berbagai tantangan sosial, seperti keterbatasan interaksi dengan teman sebaya dan pengalaman menjadi sasaran ejekan. Kondisi ini membuat ruang sosial DM cenderung sempit dan kurang mendukung pembentukan identitas sosial yang positif. Selain itu, pola tidur yang tidak teratur dan aktivitas berjualan hingga larut malam menimbulkan risiko bagi kesejahteraan fisiknya. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kehidupan seorang remaja tunagrahita tidak terlepas dari pengaruh kuat aspek kesehatan, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya intervensi, pendampingan, serta program pemberdayaan remaja tunagrahita di tingkat komunitas. 
Perkembangan dan Dukungan Lingkungan terhadap Anak Autis di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Nabila Zahira; Fredela Nesyah; Dhea Aulia; Ramadhan Saputra
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9799

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan anak denganspektrum autisme serta bentuk dukungan lingkungan keluarga dan sekolah dalam konteks pembelajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan seorang anak dengan diagnosis autisme sebagai subjek utama serta orang tua dan guru pendamping sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi perilaku, serta dokumen sekolah yang berkaitan dengan perkembangan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat medis berupa demam tinggi dan kejang berulang sejak masa balita memberikan dampak signifikan terhadap keterlambatan perkembangan, terutama dalam kemampuan bicara dan motorik. Rutinitas harian yang terstruktur, mulai dari aktivitas pagi, olahraga, makan, istirahat, hingga kegiatan religius seperti mengaji dan sholat, terbukti membantu regulasi perilaku dan kestabilan emosi anak. Pada aspek kemandirian, anak menunjukkan perkembangan positif melalui kemampuan bina diri seperti menjaga kebersihan, membuang sampah, bermain sepeda, hingga mengelola preferensi makan dengan baik. Namun demikian, kemampuan interaksi sosial masih terbatas, ditandai dengan kecenderungan bermain sendiri dan menggunakan komunikasi berbasis isyarat di kelas tunawicara. Dukungan keluarga berperan penting melalui pendampingan belajar, pemberian motivasi, dan penguatan emosional, sementara sekolah memberikan stimulus perkembangan melalui strategi pembelajaran adaptif, pemberian reward, serta penciptaan lingkungan belajar yang ramah anak autis. Temuan ini menegaskan bahwa perkembangan anak autis sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, pola asuh keluarga, dan intervensi sekolah. Oleh karena itu, sinergi antara orang tua, guru, dan lingkungan sekitar menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas perkembangan anak autis di SLB, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun kemandirian.
Integrasi pola perilaku, kemandirian, dan Dukungan keluarga dalam pendampingan Anak Autis di sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Tiara Tiara Amelia; Ridho Aji Pangestu
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9793

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam integrasi pola perilaku, tingkat kemandirian, dan bentuk dukungan keluarga dalam pendampingan anak autis, khususnya melalui perspektif konseling Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain deskriptif, penelitian ini melibatkan ibu dari seorang anak autis berusia tujuh tahun bernama Seyna sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, yang diperkuat dengan proses open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seyna memiliki pola perilaku hiperaktif yang muncul sejak usia satu tahun serta menunjukkan kesulitan dalam regulasi perilaku baik di rumah maupun sekolah. Tingkat kemandirian Seyna masih rendah, terutama pada aktivitas perawatan diri seperti bangun pagi, mandi, dan menjalankan rutinitas harian yang masih memerlukan bantuan intensif dari ibu. Selain itu, ditemukan pola makan selektif yang berkaitan erat dengan sensitivitas sensorik, ditandai dengan preferensi kuat terhadap makanan pedas serta penolakan terhadap sayur dan beberapa jenis makanan tertentu. Temuan juga menunjukkan bahwa dukungan keluarga, khususnya ibu, memainkan peran sentral dalam proses pendampingan melalui sikap penerimaan, keikhlasan, dan strategi coping positif yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap seperti “menikmati dan menjalaninya” menjadi bentuk ketabahan emosional yang berpengaruh besar terhadap stabilitas pengasuhan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan perlunya model pendampingan holistik yang mengintegrasikan pemahaman perilaku, pengembangan kemandirian, dan dukungan emosional keluarga. Pendekatan konseling Islam berpotensi menjadi landasan yang memperkuat proses pendampingan melalui nilai sabar, syukur, keteladanan, dan penerimaan, sehingga dapat meningkatkan resiliensi keluarga Muslim dalam menghadapi dinamika pengasuhan anak autis. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan model intervensi yang tidak hanya efektif secara perilaku, tetapi juga bermakna secara spiritual dan psikososial.
Perilaku Sosial Siswa Tunagrahita dan Pengaruh Lingkungan Keluarga di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Asti Ananda; Rama Riansyah; Selvi Wulandari; Delia Agustin Fatihatun Nisa
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9808

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku sosial siswa tunagrahita serta pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan sosialnya di SLB Negeri 5 Bengkulu. Anak tunagrahita secara umum memiliki keterbatasan kognitif yang berdampak pada kemampuan bersosialisasi, regulasi emosi, dan pengambilan keputusan, sehingga memerlukan dukungan intensif dari sekolah dan keluarga. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada seorang siswa tunagrahita berusia 13 tahun. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi sekolah, kemudian dianalisis menggunakan teknik grounded theory yang meliputi open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sosial siswa dipengaruhi secara signifikan oleh pola asuh, kualitas interaksi keluarga, dukungan emosional orang tua, serta kondisi psikologis orang tua, seperti stres dan depresi. Ketidakkonsistenan dalam pengasuhan dan minimnya pengawasan keluarga berkontribusi pada munculnya perilaku maladaptif seperti merokok dan membolos, meskipun siswa tetap menunjukkan potensi positif seperti kesopanan dan aspirasi akademik. Studi ini menegaskan bahwa kolaborasi antara keluarga dan sekolah, termasuk bimbingan konseling Islam, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sosial positif pada anak tunagrahita. Pendampingan keluarga, edukasi pola asuh, dan penguatan dukungan sosial menjadi strategi yang direkomendasikan untuk meningkatkan kemampuan sosial anak secara lebih optimal. AbstractThis study aims to understand the social behavior of students with intellectual disabilities and the influence of the family environment on their social development at SLB Negeri 5 Bengkulu. Students with intellectual disabilities generally have cognitive limitations that affect their ability to socialize, regulate emotions, and make social decisions, thus requiring intensive support from both school and family. This study employed a descriptive qualitative method with a case study approach involving a 13-year-old student with intellectual disabilities. Data were collected through observations, in-depth interviews, and school documentation, then analyzed using grounded theory techniques, including open coding, axial coding, and selective coding. The findings indicate that the student’s social behavior is significantly influenced by parenting patterns, the quality of family interactions, parental emotional support, as well as the psychological condition of parents, such as stress and depression. Inconsistent parenting and limited supervision contribute to the emergence of maladaptive behaviors such as smoking and skipping classes, although the student still shows positive potential, including politeness and academic aspirations. This study highlights that collaboration between family and school, including Islamic counseling guidance, plays an essential role in fostering positive social behavior in students with intellectual disabilities. Family empowerment, parenting education, and strengthening social support are recommended strategies to enhance children’s social abilities more optimally.
Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus Selvia Selvia; Diska Argita; Dini Wulan; Oktori Ramadhan
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam peran keluarga dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui studi kasus pada dua informan, G dan F, yang memiliki karakteristik perkembangan berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, didukung oleh wawancara mendalam dan observasi untuk menggali pola interaksi, bentuk dukungan, serta dinamika pengasuhan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga menjadi faktor utama dalam membentuk kemampuan adaptif, kemandirian, serta perkembangan sosial-emosional anak. G memperoleh dukungan yang konsisten melalui pendampingan, terapi, dan kolaborasi intens dengan sekolah, sehingga ia menunjukkan kemampuan adaptif yang lebih baik. Sebaliknya, F menunjukkan hambatan sosial-emosional dan kemandirian yang lebih rendah akibat kondisi kesehatan serta pola asuh protektif keluarga. Meski demikian, keluarga tetap menjadi pilar utama dalam memastikan keamanan dan kenyamanan anak. Kolaborasi keluarga–sekolah, dukungan emosional, dan lingkungan rumah yang responsif terbukti memperkuat perkembangan kedua anak. Penelitian ini menegaskan bahwa pengasuhan ABK harus bersifat individual, adaptif, dan berbasis kebutuhan masing-masing anak. Selain itu, peran keluarga tidak hanya mencakup pengawasan fisik, tetapi juga membangun struktur emosional, stimulasi sosial, serta kerja sama dengan sekolah untuk mendukung perkembangan akademik maupun nonakademik anak. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi penguatan program bimbingan keluarga dan pendidikan inklusi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10