cover
Contact Name
Siti Tatmainul Qulub
Contact Email
tatmainulqulub@uinsa.ac.id
Phone
+6285290373455
Journal Mail Official
prodifalak@gmail.com
Editorial Address
Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Ampel, Jl. Jend. A. Yani No. 117 Surabaya 60237. Telp. (031) 8417198. E-mail: prodifalak@gmail.com
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy
ISSN : 27758206     EISSN : 27747719     DOI : https://doi.org/10.15642/azimuth.2020.1.1
Azimuth Journal of Islamic Astronomy merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. Jurnal ini memuat artikel tentang ilmu falak dan ilmu-ilmu terkait.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2023): Januari" : 5 Documents clear
Implikasi Kriteria Neo-Mabims Pada Penentuan 1 Dzulhijjah 1443 H (Studi Kritis Konsep Matla’ dalam Hadis) Hijriyati, Muthiah; Islam, Ahmad Fakhruddin Fajrul
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 4 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v4i1.1494

Abstract

Abstract:        Mabims criteria that have been implemented in Indonesia since Ramadan 1443 Hijriyah have become a new discourse. The criteria for the minimum height of the hilal of  3 degrees and elongation of 6.4 degrees annul the previous criteria, namely the minimum height of the hilal of 2 degrees, elongation of 3 degrees and hilal mucus for 8 hours. This change became a new problem considering that on 29 Dhulqa'dah 1443 H all regions in Indonesia had not yet reached the latest Imkanur rukyah MABIMS criteria. Therefore, this research was conducted aiming to find out the implications of the latest MABIMS criteria on the determination of 1 Dhulhijjah 1443 H with the analysis of Ma'anil Hadith related to Matla' as the theoretical basis used. Using qualitative research methods with data collection by library research. This data is both primary and secondary to be analyzed by interconnecting the theory of ma'anil hadith with the conception of the visibility of the new moon in the latest MABIMS criteria. The results of this study illustrate that the difference in matla' has emerged since the time of the Companions as in the hadith narrated by Kuraib and this becomes the basis for the possibility of different days for certain regions on Earth, as in Saudi Arabia which performs wukuf in Arafah and Eid al-Adha is different from in Indonesia. Of course this is not the first time in Indonesia, but potential conflicts and theoretical weaknesses must be resolved for the common good. Keywords:      Neo-Mabims Criteria, Matla', Ma'anil Hadith   Abstrak:         Kriteria MABIMS yang telah diterapkan di Indonesia sejak Ramadhan 1443 Hijriyah menjadi wacana baru. Kriteria dengan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat, merubah kriteria sebelumnya yaitu tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat dan umur hilal 8 jam. Perubahan ini menjadi masalah baru mengingat pada tanggal 29 Dzulqa'dah 1443 H seluruh wilayah di Indonesia belum mencapai kriteria MABIMS Imkanur Rukyah Baru. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui implikasi kriteria Neo-MABIMS Baru terhadap penentuan 1 Dzulhijjah 1443 H dengan analisis Ma'anil Hadits terkait Matla' sebagai dasar teori yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data berupa studi pustaka. Data ini bersifat primer dan sekunder untuk dianalisis dengan menghubungkan teori ma'anil hadits dengan konsepsi visibilitas hilal dalam kriteria Neo-MABIMS. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa perbedaan matla' telah muncul sejak zaman para sahabat seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Kuraib dan ini menjadi dasar kemungkinan hari yang berbeda untuk wilayah tertentu di Bumi, seperti di Arab Saudi yang melakukan wukuf di Arafah dan Idul Adha berbeda dengan di Indonesia. Tentu ini bukan pertama kalinya di Indonesia, tetapi potensi konflik dan kelemahan teoritis harus diselesaikan untuk kebaikan bersama. Kata Kunci:   Kriteria Neo-Mabims, Matla’, Ma’anil Hadis
Etno-Astronomi pada Candi Pari dan Candi Dermo di Sidoarjo Putra, Ade; Aprilia, Afiyata Vita; Aurellia, Inez; Fahmi, Muchammad; Rohman, Muhammad Atho'ur; Firdiniah, Nur Eka Putri; Dewi, Putri Sita
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 4 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v4i1.2163

Abstract

Etno-astronomi merupakan suatu ilmu cabang dari antropologi budaya yang mencari bukti keterkaitan suatu kebudayaan masyarakat terhadap fenomena-fenomena astronomis. Dalam menjalani kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari budaya. Budaya merupakan sebuah cara hidup yang tumbuh dan berkembang oleh sekelompok orang, kemudian diturunkan pada generasi selanjutnya. Salah satu bentuk dari budaya yang berwujud bangunan adalah candi. Candi adalah sebuah bangunan keagamaan dari masa lalu yang terbuat dari batu atau bata, yang berasal dari peninggalan Hindu-Budha. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat suci pemujaan dewa-dewi ataupun memuliakan buddha. Selain itu candi juga berfungsi menjadi tempat pemujaan, tempat penyimpanan, tempat pendharmaan, tempat pertapaan, tempat petirtaan, dan gapura. Ada dua contoh candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terdapat di Kabupaten Sidoarjo yang jadi objek pada penelitian ini yaitu Candi Pari dan Candi Dermo. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah kebudayaan masyarakat Sidoarjo yang berupa candi tersebut ternyata memiliki nilai-nilai astronomi di dalamnya. Salah satunya adalah arah hadap kedua candi tersebut memiliki kemungkinan yang sangat besar diorientasikan pada matahari pada saat pembuatannya, hal itu dikarenakan nilai azimut candi dan deklinasi candi mendekati nilai azimut dan deklinasi matahari pada waktu equinox.
Verifikasi Keakuratan Aplikasi Penentu Arah Kiblat dengan Metode Bayang-bayang Matahari Hanifah, Umi; Nadiroh, Umi; Chusna, Ufiq Ashfiyatul
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 4 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v4i1.2209

Abstract

menghadap ke arah kiblat. Bagi seseorang yang sedang berada diluar kotanya sendiri pasti bingung dan ragu-ragu untuk menghadap ke arah mana. Pada zaman sekarang perkembangan teknologi sudah sangat maju sehingga ada aplikasi yang bisa digunakan untuk menentukan arah kiblat. Seperti aplikasi Pencari Kiblat, kompas qibla, muslim pro, dan masih banyak lagi. Sebelum adanya aplikasi-aplikasi tersebut pencarian arah kiblat masih menggunakan alat-alat klasik atau cara manual salah satunya menggunakan bayang-bayang matahari. Namun cara tersebut jarang digunakan pada zaman sekarang walaupun bayang-bayang matahari hasilnya lebih akurat. Dikarenakan lebih praktis menggunakan aplikasi yang sudah ada. Tetapi menentukan arah kiblat menggunakan aplikasi belum tentu sesuai. Maka perlu dilakukan penelitian untuk memverifikasi aplikasi tersebut sesuai dengan arah kiblat yang sebenarnya dengan menggunakan bayang-bayang matahari. Metode yang digunakan penulis untuk melakukan penelitian ini yakni metode penelitian lapangan (field research) menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data-data tentang aplikasi yang diuji keakuratannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada sedikit kemelencengan arah kiblat pada ketiga aplikasi tersebut.Kata Kunci: Arah kiblat, aplikasi pencari kiblat, kompas qibla, muslim pro. Abstract: A Muslim, in carrying out prayer services, must face the Qibla direction. For someone who is out of town, they must be confused and unsure which way to face. Nowadays, technological developments are so advanced that there are applications that can be used to determine Qibla direction, such as the Qibla direction finder applications, Qibla compass, Muslim Pro, and many more. Prior to these applications, the search for the Qibla direction still used classic tools or the manual method, one of which was using the sun's shadow. However, this method is rarely used today, even though the sun's shadow results are more accurate. Because it is more practical to use existing applications. However, determining the Qibla direction using an application is not necessarily appropriate. So, it is necessary to research and verify that the application is in accordance with the actual Qibla direction by using the sun's shadow. The method used by the author to conduct this research is the field research method, using a descriptive qualitative approach by collecting data about the application being tested for accuracy. The results of the study show that there is a slight deviation from the Qibla direction in the three applications.Keywords: Qibla direction, qibla finder application, qibla compass, muslim pro.
Akurasi Jam Bencet Pada Waktu Salat Zuhur di Masjid Jami’ Azharul A’wan Desa Pagelaran Malang Jawa Timur Al-Asy’ari, Adhira Firza Fauzi Syam; Kamelia, Berocca Ahmada; Mumtaz, Dewi Atikah; Yulian, Rafli Syahrul; Qulub, Siti Tatmainul
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 4 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v4i1.2210

Abstract

Abstrak: Di era modern yang serba praktis ini, jam bencet / jam istiwa’ hampir jarang kita temui keberadaannya. Karena keberadaannya sudah tergantikan oleh jam digital. Seperti pada Masjid Azharul A’wan Desa Pagelaran, Kab. Malang, Jawa Timur ini, jam bencet ini dahulunya masih sering digunakan. Menurut wawancara takmir masjid dahulu jam bencet biasanya digunakan untuk menentukan awal waktu salat jum'at saja, untuk waktu salat selain zuhur menggunakan perhitungan hisab kontemporer. Penggunaan jam bencet yang harus membutuhkann cahaya sinar matahari membuat jam bencet hanya dapat digunakan pada waktu zuhur saja. Namun, karena tidak ada yang menjadi penerus mengoperasikan jam bencet di masjid tersebut, maka jam bencet tersebut tidak lagi digunakan oleh pengurus masjid dan beralih menggunakan jam digital. Berdasarkan keterangan inilah penulis ingin mengkaji dengan judul Akurasi Jam Bencet Pada Waktu Salat Zuhur di Masjid Azharul A’wan Desa Pagelaran, Kab. Malang, Jawa Timur dengan tujuan agar dapat mengetahui apakah jam bencet tersebut masih bisa digunakan atau tidak, dan mengetahui mengenai tingkat akurasi pada jam bencet tersebut.Kata Kunci: Jam Bencet, Istiwa’, Akurat, Waktu Zuhur Abstract: In this modern era that is all practical, bencet / istiwa' clock is almost rare to find its existence. Because digital clocks have replaced their existence, such as in the Azharul A'wan Mosque, Pagelaran Village, Malang Regency, and East Java, this bencet clock was once still often used. According to an interview with the mosque takmir, the bencet clock was used to determine the beginning of Friday prayer time only for prayer times other than zuhur, using contemporary hisab calculations. The use of bencet clocks that require sunlight means bencet clocks can only be used at zuhur time. However, because there is no successor to replace a local falak to calculate the bencet clock in the mosque, the bencet clock is no longer used by the mosque management and switches to using a digital clock. Based on this information, the author wants to study with the title Accuracy of the Bencet Clock at Zuhur Prayer Time at the Azharul A'wan Mosque, Pagelaran Village, Malang Regency, East Java with the aim of knowing whether the bencet clock can still be used or not, and learning about the level of accuracy of the bencet clock.Keywords: Bencet Clock, Istiwa', Accurate, Zuhur Time  
Perbandingan Arah Candi Gunung Gangsir Dengan Masjid Hidayatullah di Pasuruan Hayati, Atika; Saputro, Bayu Ardi; Rahma, Lintang Putri; Sisilia, Dea Anugrah; Maulana, Muhammad; Dzulfani, Syafina Irlin
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 4 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v4i1.2213

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan arah bangunan Candi Gunung Gangsir dengan arah kiblat Masjid Hidayatullah yang terletak berdekatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kajian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui pengamatan visual dan pengukuran arah menggunakan aplikasi Google Earth, serta penghitungan arah kiblat menggunakan rumus-rumus ilmu falak (hisab). Hasil analisis menunjukkan bahwa arah bangunan Candi Gunung Gangsir dan Masjid Hidayatullah memiliki selisih kemiringan yang sangat kecil terhadap arah kiblat Pasuruan, yaitu sekitar 1 menit 7 detik. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun tidak dibangun berdasarkan prinsip kiblat Islam, orientasi Candi Gunung Gangsir ternyata cukup dekat dengan arah kiblat. Studi ini memberi kontribusi terhadap kajian interdisipliner antara arkeologi, falak, dan kajian budaya.Kata Kunci: arah kiblat, candi, masjid, ilmu falak, Google Earth Abstract: This study aims to compare the direction of the building of Mount Gangsir Temple with the direction of the qibla of the Hidayatullah Mosque, which is located adjacent in Pasuruan Regency, East Java. This study was carried out with a qualitative approach through visual observation and direction measurement using the Google Earth application, as well as calculating the direction of the qibla using astronomy (hisab) formulas. The results of the analysis showed that the direction of the building of Mount Gangsir Temple and the Hidayatullah Mosque had a very small difference in slope to the direction of the Qibla of Pasuruan, which was about 1 minute 7 seconds. These findings show that even though it was not built based on the principle of the Islamic qibla, the orientation of Mount Gangsir Temple turned out to be quite close to the direction of the qibla. This study contributes to the interdisciplinary study of archaeology, falak, and cultural studies.

Page 1 of 1 | Total Record : 5