FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur’an merupakan jurnal akademik yang diterbitkan 2 kali dalam setahun (Desember dan Juni) oleh Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir STAI Al-Akbar Surabaya. Jurnal ini menerbitkan penelitian, teori, perspektif, paradigma dan metodologi penafsiran serta ilmu-ilmu al-Qur’an dimana proses penyuntingan diperlukan tanpa mengubah maksud dan isi tulisan. Ruang lingkup Firdaus: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur’an adalah (1) Ilmu-Ilmu al-Qur’an; (2) Tafsir; (3) Living Qur’an; (4) Ilmu Kalam; (5) ilmu Balaghah; (6) Filologi; (7) Linguistik E-ISSN : 2987-3134
Articles
42 Documents
AYAT LGBT DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM: (Studi Kitab Al-Mu’tamad Fi Ushul Fiqh Karya Abu Al Husain Al Bashri Al-Mu’tazily)
Munir, Misbahul
FIRDAUS Vol 3 No 01 (2024): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : FIRDAUS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Isu mengenai LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) terus menjadi perdebatan hangat dalam ranah hukum Islam, terutama terkait dengan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perilaku seksual. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat LGBT dari perspektif hukum Islam dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis tekstual Kitab Al-Mu’tamad Fi Ushul Fiqh karya Abu Al Husain Al Bashri Al-Mu’tazily, salah satu tokoh terkemuka dalam tradisi Mu’tazilah. Kajian ini berfokus pada penafsiran ayat-ayat terkait homoseksualitas, bagaimana Al-Qur'an menempatkan perilaku tersebut, serta bagaimana Kitab Al-Mu’tamad Fi Ushul Fiqh menyoroti isu ini dalam konteks hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LGBT dalam kacamata Kitab Al-Mu’tamad dapat digolongkan sebagai af’al al qabih (perbuatan tercela) dalam kategori al ma’siyah, yakni perbuatan yang dibenci Allah. Hal ini diambil berdasarkan redaksi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang mencela perilaku LGBT dengan menggunakan lafadz seperti musrifun (berlebihan), qoumun a’dun (kaum yang melampaui batas), dan qaumun tajhalun (kaum yang bodoh). Perspektif hukum Islam dalam Kitab Al-Mu’tamad menekankan bahwa perilaku LGBT masuk dalam kategori perbuatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip moralitas dan hukum Islam.
Sayyid Qutb: Prinsip dan Idealisme Gerakan
Nabil Amir, Ahmad;
Abdul Rahman, Tasnim
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 3 No 02 (2024): Firdaus: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur’an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v3i02.324
Artikel ini bertujuan menyorot pemikiran Sayyid Qutb dalam konteks idealisme yang dikembangkannya dalam gerakan Ikhwan al-Muslimin. Fikrahnya mempengaruhi secara meluas jaringan aktivis dan penggerak Ikhwan di setiap peringkat dan menyumbang kepada penggemblengan dan pembentukan saf dan lapisan kader yang kental yang membentuk kekuatan dan tenaga penggeraknya yang penting. Kajian ini dibangunkan berasaskan metode sejarah, yang meliputi empat tahap, yakni heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Temuan kajian merumuskan bahawa Sayyid Qutb telah meninggalkan legasi dan pengaruh intelektualnya yang instrumental dalam pergerakan Ikhwan di mana karya-karya dan penulisannya yang produktif telah menyumbang kepada pembentukan idea dan kefahamannya yang menjadi rujukan dan teks wajib dalam gerakan. Ia menjadi sumber inspirasi dalam perjuangan Ikhwan yang dicetuskan dari idealisme dan fikrah yang dilontarkannya tentang aktivisme politik Islam, yang signifikan dan bermakna dalam mencorakkan fikrah revivalis dan kesedaran tentang ideal dan keutamaannya.
Ahlulbait dalam perspektif Al-Sha'rawi (Kajian Kitab Tafsir Khawatir al-Sha'rawi Hiawl al-Qur'an al-Karim)
Nur Hidayah, Nikhmatul;
Rif’ah, Lailatul
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 3 No 02 (2024): Firdaus: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur’an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v3i02.343
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan yang terjadi dalam masyarakat masa kini dalam memahami ahlulbait. Diantara mereka ada yang terlalu mengunggulkan akan ahlulbait dan sebagian yang lain terlalu merendahkannya. Menyadari pentingnya makna ahlulbait yang akan terjadi perbedaan diantara masyarakat masa kini, maka dari keadaan inilah peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai makna ahlulbait perpspektif Sha'rawi dalam Kitab Tafsir Khawatir al-Sha'rawi Hi awl al-Qur'an al Karim. Dengan ini berharap agar para pembaca bisa memahami lebih mendalam tentang ahlulbait Nabi Muhammad saw dengan beberapa pembahasan yaitu: Penafsiran Ahlulbait perspektif al-Sha'rawi dalam kitab Tafsir Khawatir al-Sha'rawi Hiawl al-Qur'an al Karim dan cara menyikapi ahlulbait Rasulullah SAW. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat kajian pustaka (Library research). Adapun dalam metodenya, peneliti menggunakan metode tafsir tematik tokoh. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kitab tafsir Khawatir al-Sha'rawi Hiawl al-Qur'an al-Karim. Al-Sha'rawi lainnya seperti Ana min Sulalat ahlbait. Adapun hasil dari penelitian ini, Sha'rawi mengungkapkan bahwasannya ahlulbait tidak hanya terbatas pada nasab dari pihak pria semata, namun juga mencakup pihak wanita di dalamnya. karena wanita sangat berperan dalam menjaga privasi dan memberikan dukungan. Oleh karena itu, dalam suatu keputusan atau hukum, peran seorang wanita tidak pernah dilalaikan. Adapun lafadz "al-Rijsu" menurut Sha'rawi mempunyai 3 makna, 1. Kotoran fisik, 2. Kekejian moral, 3. Kemunafikan.
Pendapat Prof Quraisy Shihab terhadap Syafa'at Nabi Muhammad SAW
Mas'udah, Lailatul;
Eevina Ananda, Nurul
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 3 No 02 (2024): Firdaus: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur’an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v3i02.344
Petunjuk al-Qur'an tidak hanya terbatas pada ketauhidan dan juga keimanan saja. Melainkan, juga membahas permasalahan sosial, sejarah dan lain-lain. Meskipun. kenyataannya al-Qur'an tidak menjelaskan secara rinci setiap permasalahan tersebut tetapi dibutuhkannya secara penting dalam memahami makna syafa'at yang sebenarnya. Terutama tentang adanya kontroversi terhadap adanya syafa'at Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research, dengan menggunakan pendekatan kualitatif, metode yang peneliti gunakan adalah metode tafsir tematik yaitu suatu cara menafsirkan al-Qur'an dengan mengambil tema tertentu, lalu mengumpulkan ayat-ayat yang terkait dengan tema tersebut. Kemudian dijelaskan satu persatu dari sisi semantisnya dan penafsirannya, dihubungkan satu dengan yang lain, sehingga membentuk suatu gagasan yang utuh dan komprehensip mengenai pandangan al-Qur'an terhadap tema yang dikaji. Dijelaskan dalam surah taha ayat 109 bahwa pada hari kiamat nanti, tidak berguna syafa'at dari siapapun, kecuali bagi seorang yang sudah memperoleh kedudukan disisi Allah dan diberi izin untuknya guna mengajukan syafa'at dan yang diajukan telah memperoleh izin. Dia (Allah) mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka. Pengaruh Syafa'at Nabi Muhammad saw dalam kehidupan sekarang diantaranya: Doa dan permohonan syafa'at, Teladan hidup, Cinta dan penghormatan, Kebahagiaan spiritual dan keterikatan sosial. Makna Syafa'at menurut M. Quraish Shihab adalah upaya untuk memohon ampuanan Allah swt melalui perantara-perantara hamba-Nya yang diberikan otoritas.
Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an Metode Habituasi di Pondok Pesantren Hamalatul-Qur’an
Arifin, Muhammad Zainul
FIRDAUS Vol 3 No 01 (2024): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : FIRDAUS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This study discusses the habituation method of tahfidz al-Qur'an applied at the Hamalatul-Qur'an Islamic Boarding School in Jombang. The habituation method emphasizes oral skills and habituation in memorizing the Qur'an. This research is a qualitative research. Data collection is carried out through observation, interviews and documentation. The data was analyzed through reduction, verification and data analysis by checking the validity of the data through the triangulation method. The results of this study state that the concept of the habituation method is a habit of students to interact with the Qur'an by reading the Qur'an readings according to standards, so as to cause a positive response. These interactions are carried out in every activity such as muraqabah, congregational prayers and other activities. This method has its advantages and disadvantages. The advantage of this method is that students can easily and quickly memorize the Qur'an. However, the disadvantage of this method is that the activity becomes a monotonous activity that makes the students bored and lazy. For this reason, the Islamic boarding school should be able to make a variety of activities so that students do not get bored.
Interdisipliner : Paradigma Kajian Ilmu Sosial-Humaniora dalam Studi Agama Islam
Nakiyah, Lutfiyatun
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 3 No 02 (2024): Firdaus: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur’an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v3i02.350
The interdisciplinary paradigm offers an approach to Islamic religion with a broader scientific insight, namely from a social-humanities perspective. This allows Islamic religious discourse to develop in relevant stages and line with the empirical postulates of knowledge and historical social phenomena. Comprehensive Islamic discourse insight and sholihun likulli zaman are the essences of Islamic teachings. Through an interdisciplinary paradigm, spaces for ijtihad of thought are opened in the process of enriching the development of Islamic studies literature. The interdisciplinary paradigm also allows dialectical space to be formed due to the meeting of various scientific disciplines juxtaposed with the dialectic of Islamic studies literature which is also deeply rooted. Therefore, it will reveal a more comprehensive understanding of Islam regarding the essence of Islamic teachings. This relationship has a clarifying, complementary, affirmative, corrective, verification, and transformative pattern as well as an integrative-interconnective pattern.
Akulturasi Budaya Lokal terhadap Ajaran Islam: Tinjauan Syirik Perspektif Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah
Alfaruq, Husen;
Ali Rahman , Roni
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 3 No 02 (2024): Firdaus: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur’an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v3i02.359
Penelitian ini bertujuan untuk mengkritisi bentuk-bentuk syirik dalam tradisi masyarakat Indonesia akibat akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam, dengan menggunakan kerangka pemikiran Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Esensi utama yang dibahas dalam penelitian ini adalah penguatan tauhid sebagai prinsip fundamental dalam Islam, serta bagaimana kesalahan dalam adaptasi budaya dapat menimbulkan praktik-praktik syirik yang tidak disadari oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menganalisis berbagai tradisi lokal yang mengandung unsur syirik meskipun telah beradaptasi dengan ajaran Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tradisi tersebut dilakukan dengan tujuan mengagungkan Allah dan menjaga solidaritas sosial, namun praktik pemberian sesajen atau doa melalui perantara menunjukkan adanya potensi syirik yang mengaburkan pemahaman kemurnian tauhid. Penelitian ini menyoroti pentingnya memperkuat tauhid dan menanamkan kesadaran akan potensi syirik dalam praktik-praktik peribadatan dan budaya lokal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami syirik yang terjadi tanpa disadari dan mendorong umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan praktik-praktik keagamaan dan melestarikan tradisi demi menjaga kemurnian tauhid.
Perbedaan Qiraat Warsy dan Hafsh Pada Juz 1 (Surat Al-Baqarah Ayat 1-114)
Al Masithoh, Silvinatin;
M. Amir Rifqy;
Ahmad Farih
FIRDAUS Vol. 1 No. 1 (2022): Desember
Publisher : FIRDAUS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ilmu Qiraat adalah salah satu cabang dari ulumul Qur’an, yang artinya menjadi salah satu ilmu terpenting dalam pemahaman terhadap al-Qur’an. Dalam ulumul Qur’an terjadi perbedaan pemaknaan tentang sab’atu Ahruf (tujuh huruf). salah satunya adalah Qiraat Sab’ah yang sedang berkembang seperti sekarang ini. Pada awalnya tidak tidak banyak yang mengenal tentang perbedaan bacaan ini, namun sekarang bacaan Qiraat sudah lebih berkembang bahkan menjadi Qiraah arba’ah Asyra. Pada bacaab Qiraat Sab’ah terdapat tujuh imam dengan masing-masing perawi yang berbeda. Tujuh imam ini memiliki ragam bacaan yang berbeda pada tiap-tiap huruf yang dianggap sulit dalam pengucapannya. Namun untuk kita yang orang Indonesia lebih menganut pada riwayat Imam Hafs salah satu perawi dari Imam ‘Ashim. Perbedaan bacaan ini dikarenakan setiap Rawi memiliki jalur periwayatan yang berbeda, akan teteapi tetap bertemu pada sahabat Nabi atau Tabi’in. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk lebih mengenal perbedaan bacaan yang terjadi diantara para Imam Qiraat. Hal ini ditujukan agar ilmu dalam pembacaan al-Qur’an lebih mendalam dan dapat mengharagi setiap perbedaan yang terjadi. Menggunakan metode library research, mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan pembahasan kemudian dianalisis letak perbedaan bacaan pada setiap ayat dalam surat al-Baqarah. Dengan aaadaanya penelitian ini diharapkan lebih memudahkan untuk dapat membaca surat al-Baqarah dengan riwayat lain serta mengetahui letak perbedaannya.
Nilai Moral Kisah Nabi Ayub dalam Al-Quran (Studi Tafsir Tematik Wahbah Zuhaili dalam Kitab Al-Munir)
Chaliqnasyinda, Risalatul;
Silvinatin Al Masithoh
FIRDAUS Vol. 1 No. 1 (2022): Desember
Publisher : FIRDAUS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan. Pertama, bagaimana penafsiran ayat-ayat terkait kisah Nabi Ayub dalam al-Qur’an menurut Wahbah Zuhaili. Kedua, bagaimana korelasi nilai moral kisah Nabi Ayub dengan konteks kekinian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik telaah dokumen, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitis dalam penelitian kualitatif, yakni menafsirkan dalil-dalil tentang kisah Nabi Ayub kemudian dikaitkan dengan kejadian di era sekarang dan diambil nilai moralnya. Dari hasil penelitian, terdapat gambaran terkait kisah Nabi Ayyub secara keseluruhan pada ayat-ayat yang dipilih untuk dikaji dalam penelitian ini kemudian, ayat tersebut ditafsirkan oleh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Al-Munir yang dijelaskan secara gamblang terkait segi kehidupan Nabi Ayyub, dari masa kejayaannya hingga ketika Nabi Ayyub menerima ujian. Selanjutnya diambil nilai moral dari kisah tersebut serta hikmahnya. Kesimpulannya adalah ada 7 ayat dalam al-Qur’an yang berkenaan dengan kisah Nabi Ayyub dan terpisah dalam 3 surah yang berbeda yaitu QS. Shad [38] : 41-44, QS. Al-Anbiya’ [21] : 83-84 dan QS. Al-An’am [6] : 84. Ketujuh ayat ini memiliki keterkaitan satu sama lain, pada kisah Nabi Ayyub yang kemudian diambil nilai moral.
Pengasuhan Anak Yatim dalam Al-Qur’an Perspektif Hamka Pada Tafsir Al-Azhar
Azizah, Nur;
Kharolina Rahmawati
FIRDAUS Vol. 1 No. 1 (2022): Desember
Publisher : FIRDAUS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Problematika yang muncul adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang bagaimana cara mengasuh anak yatim. Kebanyakan masyarakat menyayangi anak yatim pada saat acara tertentu saja. Sedangkan dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi petunjuk bagaimana cara untuk mengasuh, memelihara dan menyayangi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penafsiran ayat-ayat pengasuhan anak yatim perspektif Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, dan bagaimana role model yang bisa diterapkan dalam pengasuhan anak yatim di panti asuhan dari penafsiran Hamka. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian library research. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Menggunakan teknik pengumpulan data studi dokumentasi, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode maudhu’i. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, penafsiran Hamka tentang ayat-ayat pengasuhan anak yatim dalam Tafsir Al-Azhar yaitu dalam mengasuh anak yatim harus berdasarkan iman kepada Allah. Selanjutnya role model pengasuhan anak yatim yang bisa diterapkan di panti asuhan dari penafsiran Hamka adalah dengan pengasuhan berbasis pembinaan. Kesimpulannya, dalam mengasuh anak yatim harus berlandaskan dengan iman. Keseluruhan ayat tentang anak yatim berisi perintah berbuat baik kepada kepada anak yatim, larangan berlaku buruk terhadap mereka dan perintah memelihara harta mereka sampai mereka dewasa. Kemudian pihak yang berkewajiban merawat anak yatim lebih diutamakan yang memiliki hubungan kerabat, atau jika tidak mampu maka dapat diserahkan kepada pihak selain kerabat yang mampu mengasuhnya, seperti lembaga sosial atau pemerintah. Role model pengasuhan anak yatim yang dapat diterapkan di panti asuhan adalah pengasuhan berbasis pembinaan.