cover
Contact Name
Khamsil Laili
Contact Email
khamsillaili@gmail.com
Phone
+6287866203050
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Articles 275 Documents
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam dalam Menghadapi Tantangan di Era Digital Restu Alfaris; Putri Alayda Nabilla; Siti Aisyah Gunawan; Riska Silviana Azzahra; Sri Yanti; Achmad Junaedi Sitika
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of digital technology has significantly transformed various aspects of human life, including education. This condition requires Islamic education to adapt by developing a curriculum capable of addressing contemporary challenges while maintaining the fundamental values of Islamic teachings. This study aims to analyze the challenges faced by Islamic education in the digital era and examine relevant curriculum development strategies to respond to these changes. The study employed a qualitative approach using a library research method. Data were collected from books, scientific journals, articles, and other relevant literature discussing Islamic education curriculum development in the digital era. Data analysis was conducted descriptively through the processes of data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the main challenges of Islamic education in the digital era include the rapid flow of information, low digital literacy, changes in students' learning patterns, and the need to improve teachers’ competencies. Curriculum development should focus on integrating technology into learning, strengthening character education, enhancing digital literacy, and improving educators’ competencies. Therefore, the Islamic education curriculum is expected to produce generations who are faithful, possess noble character, adapt to technological advancements, and are prepared to face global challenges. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Kondisi ini menuntut pendidikan Islam untuk melakukan adaptasi melalui pengembangan kurikulum yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan yang dihadapi pendidikan Islam di era digital serta mengkaji strategi pengembangan kurikulum yang relevan dalam menghadapi perubahan tersebut. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui kajian berbagai buku, jurnal ilmiah, artikel, dan sumber literatur yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum pendidikan Islam di era digital. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui proses pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan utama pendidikan Islam di era digital meliputi derasnya arus informasi, rendahnya literasi digital, perubahan pola belajar peserta didik, serta tuntutan peningkatan kompetensi guru. Pengembangan kurikulum pendidikan Islam perlu dilakukan melalui integrasi teknologi dalam pembelajaran, penguatan pendidikan karakter, peningkatan literasi digital, serta pengembangan kompetensi pendidik. Dengan demikian, kurikulum pendidikan Islam diharapkan mampu menghasilkan generasi yang beriman, berakhlak mulia, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan siap menghadapi tantangan global.
Pelatihan, Pengembangan, dan Manajemen Karir Training Effectiveness - Career Path & Talent Development Juan Areza Fernanda; Singgih Puji Raharjo; Arfiani Yulianti Fiyul
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid advancement of technology and globalization has triggered significant disruptions in the skills required in the modern workforce, resulting in a widespread skills gap phenomenon. Amid organizational demands to continuously adapt and remain competitive, employees face psychological challenges such as anxiety, mental exhaustion, and fears of losing the relevance of their competencies. This conceptual article examines the urgency of strategically integrating training, development, and career management through a more humanistic and human-centered approach. Through a literature review and synthesis of contemporary Human Resource Management theories, this study explores key factors influencing training effectiveness, including the 70:20:10 Model, Andragogy Theory, and the Kirkpatrick-Phillips Evaluation Model, as well as the role of talent development through the 9-Box Matrix, Dual Career Paths, and Individual Development Plans (IDPs). The findings indicate that the effectiveness of human resource development can no longer be measured solely by financial Return on Investment (ROI); rather, it should be assessed by the extent to which organizations humanize their workforce through the alignment of strategic business objectives with employees' personal aspirations. Empathetic integration through Individual Development Plans (IDPs) is shown to serve as a vital bridge in developing resilient, adaptive talent with high levels of intrinsic satisfaction in a VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) environment. Kemajuan teknologi dan globalisasi yang pesat telah memicu gangguan yang signifikan dalam keterampilan yang dibutuhkan dalam tenaga kerja modern, mengakibatkan fenomena kesenjangan keterampilan yang meluas. Di tengah tuntutan organisasi untuk terus beradaptasi dan tetap kompetitif, karyawan menghadapi tantangan psikologis seperti kecemasan, kelelahan mental, dan ketakutan kehilangan relevansi kompetensi mereka. Artikel konseptual ini mengkaji urgensi mengintegrasikan pelatihan, pengembangan, dan manajemen karir secara strategis melalui pendekatan yang lebih humanistik dan berpusat pada manusia. Melalui tinjauan literatur dan sintesis teori Manajemen Sumber Daya Manusia kontemporer, penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi efektivitas pelatihan, termasuk Model 70:20:10, Teori Andragogi, dan Model Evaluasi Kirkpatrick-Phillips, serta peran pengembangan bakat melalui Matriks 9-Kotak, Jalur Karir Ganda, dan Rencana Pengembangan Individu (IDP). Temuan tersebut menunjukkan bahwa efektivitas pengembangan sumber daya manusia tidak lagi dapat diukur hanya dengan Return on Investment (ROI) finansial; sebaliknya, itu harus dinilai dengan sejauh mana organisasi memanusiakan tenaga kerja mereka melalui penyelarasan tujuan bisnis strategis dengan aspirasi pribadi karyawan. Integrasi empati melalui Rencana Pengembangan Individu (IDP) terbukti berfungsi sebagai jembatan vital dalam mengembangkan talenta yang tangguh, adaptif dengan tingkat kepuasan intrinsik yang tinggi dalam lingkungan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity).
Analisis Relevansi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran SKI dalam Menghadapi Tantangan Era Digital Salsabila Mudzakir; Rahma Nabiilah Nuraniyyah; Riadah Amanda Damayanti; Syariful Alamsyah; Shaila salsabilla; Afiyatun Kholifah
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the relevance of the Merdeka Curriculum in the subject of Islamic Cultural History (SKI) in facing the challenges of the digital era. The research employed a qualitative approach using the library research method through the review of various scientific journals, books, and relevant educational documents. The findings indicate that the Merdeka Curriculum has strong relevance in supporting more flexible, student-centered, and 21st-century competency-based SKI learning. The implementation of this curriculum encourages the development of digital literacy, creativity, critical thinking, and students’ religious character through contextual and innovative learning. However, its implementation still faces challenges related to teachers’ digital competencies and limited technological facilities in several madrasahs. Therefore, the Merdeka Curriculum can become an important strategy in developing adaptive SKI learning in the digital era. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dalam menghadapi tantangan era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research melalui kajian berbagai jurnal ilmiah, buku, dan dokumen pendidikan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memiliki relevansi yang kuat dalam mendukung pembelajaran SKI yang lebih fleksibel, berpusat pada peserta didik, serta berbasis kompetensi abad ke-21. Implementasi kurikulum ini mampu mendorong penguatan literasi digital, kreativitas, berpikir kritis, dan pembentukan karakter religius peserta didik melalui pembelajaran yang kontekstual dan inovatif. Namun, penerapannya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan kompetensi digital guru dan sarana teknologi pendidikan di beberapa madrasah. Dengan demikian, Kurikulum Merdeka dapat menjadi strategi penting dalam mengembangkan pembelajaran SKI yang adaptif terhadap perkembangan era digital.
Hak Mendahului dalam Antrean: Studi Fikih Kontemporer Terhadap Legalitas Fasilitas Jalur Prioritas dan VIP di Ruang Publik Rizka Fitrahyani; Zulfadli; Rizky Akbar Muhaimin; Siti Aisyah; Ali Imran Sinaga
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the legality of priority and VIP lane facilities in public spaces from a contemporary Islamic jurisprudence perspective. The phenomenon of priority and VIP lanes in public services such as hospitals, airports, banks, and government agencies often raises debates between the demands for service efficiency and the principle of justice in queues. This study uses a library research method with a normative approach through analysis of the Qur'an, hadith, classical Islamic jurisprudence books, and contemporary Islamic jurisprudence literature. The results of the study indicate that the concept of queues has a value basis in QS. Al-Kahfi verse 48 about saffan (orderly rows), QS. Al-Furqan verse 32 about tartil (orderly process), and the hadith regarding the priority of the first row and the prohibition of taking someone else's place. Priority and VIP lanes are considered permissible if they are provided based on need and benefit, for priority groups such as the elderly, people with disabilities, pregnant women, and emergency conditions. Conversely, priority and VIP privileges granted solely due to position, wealth, or social privileges potentially conflict with the principles of justice, equality of rights, and the goal of sharia in safeguarding the public interest and are therefore unacceptable. Penelitian ini bertujuan menganalisis legalitas fasilitas jalur prioritas dan VIP di ruang publik dalam perspektif fikih kontemporer. Fenomena jalur prioritas dan VIP pada layanan publik seperti rumah sakit, bandara, perbankan, dan instansi pemerintahan sering memunculkan perdebatan antara tuntutan efisiensi pelayanan dan prinsip keadilan dalam antrean. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif melalui analisis Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab fikih klasik, serta literatur fikih kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep antrean memiliki landasan nilai dalam QS. Al-Kahfi ayat 48 tentang saffan (barisan yang teratur), QS. Al-Furqan ayat 32 tentang tartil (keteraturan proses), serta hadis mengenai keutamaan saf pertama dan larangan mengambil tempat orang lain. Jalur prioritas dan VIP dinilai dibolehkan apabila diberikan atas dasar kebutuhan dan kemaslahatan, untuk yang prioritas seperti bagi lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan kondisi darurat. Sebaliknya, prioritas dan VIP yang diberikan semata-mata karena jabatan, kekayaan, atau privilese sosial berpotensi bertentangan dengan prinsip keadilan, kesetaraan hak, dan tujuan syariat dalam menjaga kemaslahatan publik maka itu tidak dibenarkan.
MSDM Modern: Kompetensi, Industri 5.0, dan Isu Kontemporer Ayu Anix Matunisa; Girana Zalfa Abdu; Arfiani Yulianti Fiyul
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid advancement of technology has driven a radical paradigm shift from conventional Human Resource Management (HRM) toward adaptive and modern HRM in the Industry 5.0 era. Distinguishing itself from Industry 4.0 which heavily focused on automation, Industry 5.0 champions a human-centric philosophy that reinstates humans at the center of innovation. This paper aims to analyze the transformation of modern HRM, future competency development models, the integration of Artificial Intelligence (AI) and People Analytics, and organizational strategies in addressing various contemporary issues such as hybrid working and employee well-being. The method employed is a descriptive literature review, examining various regulations, global reports, and scientific journals. The discussion highlights that AI implementation and HR digitalization significantly enhance administrative efficiency and the accuracy of evidence-based management. However, the adoption of smart technology also triggers critical challenges, including digital skill gaps, transformational workloads, and issues regarding ethics and data privacy. This paper concludes that the success of modern HRM in the Industry 5.0 era is determined not merely by technology adoption, but by a symbiotic balance between advanced digital systems (augmented intelligence) and human capital capacity building through continuous upskilling and reskilling cycles, psychologically safe work environments, and human-centered leadership. Perkembangan teknologi yang sangat pesat mendorong pergeseran paradigma Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) konvensional menuju MSDM modern yang adaptif di era Industri 5.0. Berbeda dengan Industri 4.0 yang berfokus pada otomatisasi, Industri 5.0 mengusung filosofi human-centricity yang menempatkan manusia kembali sebagai pusat inovasi. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisis transformasi MSDM modern, model pengembangan kompetensi masa depan, integrasi Artificial Intelligence (AI) dan People Analytics, serta strategi organisasi dalam menghadapi berbagai isu kontemporer seperti kerja hibrida (hybrid working) dan kesejahteraan karyawan (employee well-being). Metode yang digunakan adalah studi literatur deskriptif dengan menelaah berbagai regulasi, laporan global, dan jurnal ilmiah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa implementasi AI dan digitalisasi HR secara signifikan meningkatkan efisiensi administrasi dan akurasi pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based management). Namun, adopsi teknologi cerdas ini memicu tantangan berupa kesenjangan kompetensi digital (digital skill gap), beban kerja ganda (transformational workload), serta isu etika dan privasi data. Artikel ini menyimpulkan bahwa keberhasilan MSDM modern di era Industri 5.0 tidak hanya ditentukan oleh adopsi teknologi cerdas, melainkan oleh keseimbangan simbiotik antara kecanggihan sistem digital (augmented intelligence) dengan penguatan kapasitas modal insani melalui siklus upskilling dan reskilling, lingkungan kerja yang aman secara psikologis, serta kepemimpinan yang berpusat pada manusia (human-centered leadership).