cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Singuda ENSIKOM
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 310 Documents
RANCANG BANGUN ANTENA SUSUN MIKROSTRIP PATCH SEGIEMPAT DUAL BAND (2,3 GHz DAN 3,3 GHz) DENGAN PENGGUNAAN STUB Hadratul Hendra; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 30 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.836 KB)

Abstract

Untuk dapat mendukung teknologi Broadband Wireless Acces (BWA) diperlukan antena yang compatible dan mampu bekerja pada pita frekuensi lebar, salah satu antena yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut adalah antena mikrostrip. Tulisan ini  membahas antena susun mikrostrip patch segiempat dengan penggunaan stub yang memiliki dua frekuensi kerja yaitu pada frekuensi 2,3 GHz dan 3,3 GHz.  Antena mikrostrip ini menggunakan sebuah Printed Circuit Board (PCB) double layer dengan substrat berbahan FR-4. Software yang digunakan dalam merancang antena ini adalah AWR 2004, software ini diperlukan dalam perancangan antena agar diperoleh nilai VSWR dan bandwidth yang diinginkan. Dari hasil yang diperoleh, didapatkan nilai VSWR sebesar 1,46 untuk frekuensi 2,3 GHz dengan bandwidth sebesar 127 MHz (2.271  –  2.398 MHz) dan 1,42 untuk frekuensi 3,3 GHz dengan bandwidth sebesar 525 MHz  (2.999 – 3.524 MHz) dan pola radiasi yang didapat omnidirectional.
STUDI PERANCANGAN ANTENA MIKROSTRIP PATCH ARRAY SEGITIGA TRIPLE – BAND ( 2,3 GHz, 3,3 GHz DAN 5,8 GHz ) Ibrahim Sinaga; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 30 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.086 KB)

Abstract

Antena triple-band merupakan antena alternatif yang dapat digunakan untuk sistem radio yang bekerja pada tiga kanal frekuensi yang berbeda jauh. Ketika tiga frekuensi kerja terpisah dengan jarak yang cukup jauh, sebuah struktur patch triple-band dapat dirancang untuk menghindari penggunaan antena yang terpisah. Antena mikrostrip adalah salah satu solusi antena triple-band yang dapat dikembangkan, karena memiliki bentuk sederhana, unjuk kerja yang baik dan mudah dalam instalasinya. Pada tulisan ini dirancang antena mikrostrip patch array segitiga yang bekerja pada frekuensi 2,3 GHz, 3,3 GHz dan 5,8 GHz. Hasil perancangan dievaluasi dan dioptimasi menggunakan Applied Wave Research (AWR) Microwave 2004. Nilai Voltage Standing Wave Ratio (VSWR), gain dan bandwidth yang diperoleh dengan parameter input frekuensi yang direncanakan adalah berturut – turut 1,536, 6,42 dB, 121 MHz untuk frekuensi 2,35 GHz,  1,976, 6,51 dB, 86 MHz untuk frekuensi 3,35 GHz dan 1,707, 6,12dB, 131 MHz untuk frekuensi 5,85 GHz.
PERBANDINGAN METODE GABUNGAN DAN METODE KECENDERUNGAN (REGRESI LINIER) UNTUK PRAKIRAAN KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK WILAYAH SUMATERA UTARA Mursyid Yazid; Riswan Dinzi
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 29 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.655 KB)

Abstract

Prakiraan kebutuhan energi listrik diperlukan untuk mengetahui kebutuhan energi listrik di tahun mendatang sehingga dapat dilakukan pencegahan agar tidak terjadi defisit energi listrik. Tulisan ini membandingkan dua metode prakiraan kebutuhan energi listrik yaitu metode gabungan dan metode kecenderungan (regresi linier). Kedua metode ini dibandingkan hasil perhitungan jumlah pelanggan dan konsumsi energi listrik untuk wilayah Sumatera Utara tahun 2011 sampai 2013 dan prakiraan kebutuhan energi listrik tahun 2014 sampai 2018. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan jumlah pelanggan dan konsumsi energi listrik, metode gabungan lebih baik daripada metode regresi linier dikarenakan hasil prakiraan dengan metode gabungan lebih mendekati data aktual daripada metode regresi linier. Prakiraan jumlah kebutuhan energi listrik selama setahun untuk wilayah Sumatera Utara pada tahun 2018 dengan metode gabungan adalah sebesar  12.130,050 GWh, sedangkan dengan metode regresi linier adalah sebesar 11.650,635 GWh
STUDI PERANCANGAN ANTENA MIKROSTRIP DIPOLE DUAL-BAND FREKUENSI 2,3 GHz DAN 3,3 GHz UNTUK APLIKASI BROADBAND WIRELESS ACCESS Yahya Ahmadi Brata; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 30 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.903 KB)

Abstract

Antena mikrostrip merupakan jenis antena yang terus berkembang pada teknologi komunikasi mobile, hal ini dikarenakan antena mikrostrip memiliki beberapa keuntungan diantaranya bentuk fisik yang kecil dan massa yang ringan.Tulisan ini membahas tentang perancangan antena mikrostrip dipole yang memiliki dua frekuensi kerja yaitu pada frekuensi 2,3 GHz dan 3,3 GHz yang dapat diaplikasikan untuk teknologi Broadband Wireless Access (BWA).  Antena mikrostrip ini menggunakan sebuah Printed Circuit Board (PCB) double layer dengan substrate berbahan FR-4. Perancangan dan simulasi antena menggunakan bantuan software simulator struktur frekuensi tinggi. Hasil yang diperoleh dari perancangan antena yaitu VSWR sebesar 1,41 untuk frekuensi 2,35 GHz dengan bandwidth sebesar 242 MHz (2232 – 2474 MHz) dan 1,24 untuk frekuensi 3,35 GHz dengan bandwidth sebesar 359 MHz  (3166 - 3525 MHz). Gain yang diperoleh sebesar 1,77 dB untuk frekuensi 2,35 GHz dan 2,50 dB untuk frekuensi 3,35 GHz dengan pola radiasi omni-directional.
Pengaruh Hujan terhadap Tegangan Lewat Denyar Isolator Piring Terpolusi Alfonso Manogari Siregar; Syahrawardi Syahrawardi
Singuda ENSIKOM Vol 10, No 28 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.106 KB)

Abstract

Di permukaan isolator akan dilapisi polutan–polutan yang berasal dari lingkungan sekitar dan air hujan akan mengikis polutan tersebut. Tulisan ini membahas tentang pengaruh curah hujan yang beragam terhadap tegangan lewat denyar pada isolator piring dalam keadaan bersih dan terpolusi garam NaCl. Curah hujan yang diberikan pada isolator didapat melalui pemodelan hujan buatan. Isolator dihujani melalui alat pemodelan hujan buatan selama 1 menit yang bernilai 4,6 mm. Proses penghujanan dilakukan pada 10 tahap yang berentang 1 menit hingga 10 menit. Data yang diperoleh memperlihatkan bahwa isolator bersih bila diberi hujan maka  menunjukkan penurunan tegangan lewat denyar sebesar 3 kV dan timbulnya kadar polutan sebesar 0,012 mg/cm2. Sedang pada isolator terpolusi yang dihujani menunjukkan semakin lama isolator diterpa hujan maka semakin kecil kadar polutan sisa dan semakin besarnya tegangan lewat denyar pada isolator tersebut. Kenaikkan tegangan lewat denyar pada isolator sebesar 1,8% sampai 19% dan penurunan kadar polutan sebesar 5% sampai dengan 56,5%.
STUDI PENGATURAN TEGANGAN PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV YANG TERHUBUNG DENGAN DISTRIBUTED GENERATION (STUDI KASUS: PENYULANG TR 5 GI TARUTUNG) Andika Handy; Zulkarnaen Pane
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 29 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.519 KB)

Abstract

Kehadiran Distributed Generation (DG) yang telah meluas pada jaringan distribusi memberikan keuntungan dan kerugian tersendiri. Salah satu kerugian tersebut adalah sulitnya mempertahankan nilai tegangan yang memadai akibat aliran daya yang tidak satu arah (uniflow). Diperlukan pengaturan tegangan untuk menjaga nilai tegangan berada pada variasi standar yang diizinkan sebesar +5% dan -10% dari tegangan nominal di seluruh jaringan distribusi dan variasi sebesar ±5% dari tegangan nominal pada titik hubung antara DG dan jaringan distribusi. Dalam Tulisan ini, membahas tentang studi pengaturan tegangan menggunakan On-Load Tap Changer (OLTC) transformator dan kapasitor bank pada jaringan distribusi 20 kV penyulang TR 5 Gardu Induk Tarutung yang terhubung dengan PLTM Aek Hutaraja 2 x 3 MW dalam keadaan beban puncak menggunakan bantuan program komputer. Dari hasil studi pengaturan tegangan tersebut didapatkan bahwa saat jaringan belum terhubung dengan DG dibutuhkan pengaturan tegangan dengan kapasitor bank yang mempunyai rating total sebesar 1.375 KVAR dan posisi tap OLTC pada tap 5 (157,5 kV), sedangkan ketika terhubung dengan DG hanya dibutuhkan pengaturan tegangan menggunakan OLTC pada posisi tap 7 (153,8 kV) untuk mendapatkan nilai tegangan pada standar yang telah diizinkan.
STUDI ALIRAN DAYA PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV YANG TERINTERKONEKSI DENGAN DISTRIBUTED GENERATION (STUDI KASUS: PENYULANG PM.6 GI PEMATANG SIANTAR) Rimbo Gano; Zulkarnaen Pane
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 29 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.201 KB)

Abstract

Distributed Generation (DG) dapat didefinisikan sebagai pembangkit tenaga listrik dengan skala kecil yang ditempatakan pada sisi beban dan diinterkoneksikan pada jaringan distribusi. Dengan adanya DG pada jaringan distribusi maka akan berdampak pada operasi sistem distribusi itu sendiri. Untuk mengetahui kondisi operasional sistem jaringan distribusi yang terinterkoneksi dengan DG perlu dilakukan studi aliran daya. Pada Tulisan  ini dilakukan studi aliran daya pada jaringan distribusi 20 kV penyulang PM.6 GI Pematang Siantar yang terinterkoneksi dengan PLTM Aek Silau 2 dan PLTmH Tonduhan menggunakan program komputer. Pada saat kondisi kedua pembangkit tidak beroperasi, aliran daya bergerak satu arah dari GI Pematang Siantar menuju pusat-pusat beban, serta tegangan di sepanjang saluran mengalami penurunan, di ujung saluran pada bus 869 sebesar 9,92% dengan posisi tap 1 (165,75 kV) pada transformator daya 2. Sebaliknya dengan beroperasinya kedua pembangkit aliran daya tidak bergerak satu arah lagi, serta tegangan di sepanjang saluran  mengalami kenaikan dibanding tanpa adanya DG, di ujung saluran pada bus 869 hanya mengalami penurunan sebesar 3,92% dengan posisi tap 5 (156,75 kV). PLTM Aek Silau 2 mampu untuk melayani seluruh beban daya aktif pada penyulang PM.6, tidak dengan PLTmH tonduhan hanya mampu untuk melayani beban di sekitarnya.
PERANCANGAN ANTENA MIKROSTRIP ARRAY PATCH SEGITIGA DUAL- BAND ( 2,4 GHz dan 3,3 GHz) DENGAN STUB PADA SALURAN PENCATU Eden Herdani; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 30 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.038 KB)

Abstract

Kebutuhan akan antena saat ini semakin berkembang pesat sehingga menyebabkan teknologi perancangan antena juga harus semakin meningkat. Tulisan ini  membahas tentang  perancangan antena mikrostrip array patch segitiga dual band dengan penambahan  stub pada saluran pencatunya yang memiliki dua frekuensi kerja yaitu pada frekuensi    2,4 GHz untuk aplikasi WLAN dan 3,3 GHz yang dapat diaplikasikan untuk teknologi WiMAX.  Antena mikrostrip ini menggunakan sebuah Printed Circuit Board (PCB) dengan substrat berbahan FR-4. Antena mikrostrip memiliki beberapa keuntungan diantaranya bentuk fisik yang kecil dan massa yang ringan. Perangkat lunak yang digunakan dalam perancangan antena ini adalah simulator AWR Microwave 2004, software ini diperlukan dalam perancangan antena agar diperoleh nilai VSWR dan bandwidth yang diinginkan.  Dari hasil simulasi, didapatkan nilai VSWR sebesar 1,43 untuk frekuensi 2,4 GHz dengan bandwidth sebesar 135 MHz  (2.378 MHz – 2.513 MHz) dan 1,48 untuk frekuensi 3,3 GHz dengan bandwidth sebesar 81 MHz  (3.289 MHz – 3.370 MHz). Nilai gain yang diperoleh untuk frekuensi 2,4 GHz adalah sebesar 5,58 dB dan 5,05 dB untuk frekuensi 3,3 GHz dengan pola radiasi yang didapat uni-directional.
PENGARUH POSISI STUB ISOLATOR TERHADAP DISTRIBUSI TEGANGAN PADA ISOLATOR PIRING GELAS Andi Hidayat; Syahrawardi Syahrawardi
Singuda ENSIKOM Vol 10, No 28 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.156 KB)

Abstract

Isolator rantai secara umum digunakan dalam sistem transmisi dan distribusi tenaga listrik. Isolator memiliki fungsi mekanis sebagai penopang konduktor dan fungsi elektrik sebagai pemisah antara kawat penghantar dengan menara. Isolator piring berbahan gelas akan mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh perubahan cuaca yang tajam, arus surja, dan flashover. Kerusakan isolator piring gelas akan meninggalkan bongkol (stub) yang dapat memperpendek jarak rambat isolator. Pengaruh tersebut memungkinkan terjadinya perubahan besaran distribusi tegangan pada tiap unit isolator piring. Dalam penelitian ini dilakukan percobaan terhadap letak posisi stub yang berbeda dari tiap unit isolator untuk mengetahui pengaruhnya terhadap distribusi tegangan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan 8 (delapan) unit isolator piring gelas dan 1 (satu) unit stub isolator dengan menggunakan elektroda bola-bola sebagai indikator tembus listrik. Jarak dari elektroda bola-bola sebesar 2 mm yang di isolasi oleh dielektrik udara. Dari hasil eksperimen diperoleh bahwa impedansi total pada unit isolator yang rusak (stub) akan mengalami penurunan disebabkan terpecahnya bahan dielektrik gelas akan menaikkan nilai kapasitansi dan menurunkan nilai resistansi. Sehingga terpecahnya isolator berbahan gelas akan mempengaruhi besarnya persentase distribusi tegangan yang terdapat pada suatu rentengan isolator rantai dan persentase distribusi tegangan akan naik untuk isolator lain yang berada satu tingkat dari isolator yang mengalami kerusakan untuk posisi isolator lain yang menuju ground
STUDI ALIRAN DAYA PADA SISTEM KELISTRIKAN SUMATERA BAGIAN UTARA (SUMBAGUT) 150 kV DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE POWERWORLD VERSI 17 Adly Lidya; Yulianta Siregar
Singuda ENSIKOM Vol 11, No 30 (2015)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.628 KB)

Abstract

Studi aliran daya dilakukan untuk mengetahui profil tegangan, aliran daya aktif dan daya reaktif serta rugi-rugi jaringan pada masing-masing busbar yang bermanfaat dalam operasional sistem kelistrikan. Pada tulisan  dibahas mengenai studi aliran daya pada sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara (SUMBAGUT) 150 kV pada kondisi normal saat seluruh pembangkit dan seluruh beban yang ada beroperasi dengan menggunakan Software PowerWorld Simulator versi 17 dengan metode analisisnya menggunakan metode Newton-Rhapson. Hasil studi aliran daya yang diperoleh untuk sistem dalam kondisi normal adalah tegangan bus paling rendah di Bus Rantau Prapat yaitu sebesar 139,670 kV. Total daya pembangkit adalah sebesar 2509.3 MW dan 2030.7 MVar. Total daya beban adalah sebesar 2456 MW dan 1834 MVar. Total rugi-rugi jaringan adalah sebesar 53.3 MW dan 196.7 MVar dengan nilai rugi-rugi jaringan tertinggi yaitu pada transmisi Sei Rotan – Tebing Tinggi sebesar 8.82 MW dan 29.62 MVar.