Articles
310 Documents
PERANCANGAN PROTOTIPE SMART BUILDING BERBASIS ARDUINO UNO
Maratur Gabe Simanjuntak;
Fakhrudin Rizal Batubara
Singuda ENSIKOM Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1103.245 KB)
Terkadang kita harus meninggalkan rumah dalam keadaan kosong untuk waktu yang lama dan kita sering berpikir untuk menghidupkan lampu di suatu ruangan di rumah kita ketika malam hari dan mematikannya ketika pagi hari. Tekadang kita juga lupa untuk mematikan sebuah alat elektronik ketika kita meninggalkan rumah dan kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk kembali dan mematikannya. Kita dapat mengatasi masalah tersebut dengan membangun sebuah smart building. Tulisan ini membahas perancangan prototipe smart builing. Smart building yang dirancang yaitu sebuah bangunan yang terintegrasi dengan sebuah perangkat yang dapat dapat memantau dan mengontrol peralatan listrik pada bangunan tersebut. Perangkat tersebut terhubung ke jaringan komputer, sehingga dapat dikendalikan melalui jarak jauh. Prototipe yang dirancang akan bertindak sebagai sebuah web server yang menampilkan sebuah halaman web kepada client yang berisi status peralatan listrik dan tombol untuk mengatur peralatan listrik tersebut. Prototipe akan mengontrol peralatan listrik berdasarkan perintah yang dikirim oleh client. Client adalah aplikasi web browser yang ada pada perangkat yang digunakan untuk mengontrol prototipe. Hasil dari proses perancangan adalah sebuah prototipe yang dapat menghidupkan atau mematikan peralatan listrik dari jarak jauh melalui jaringan internet menggunakan aplikasi web browser.
EVALUASI KINERJA ALGORITMA HISTERESIS HARD HANDOFF PADA SISTEM SELULER
Rudolf Parulian Gurning;
Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (263.177 KB)
Kuat sinyal yang diterima dari mobile station (MS) merupakan salah satu kriteria yang umum digunakan untuk menginisiasikan suatu handoff. Pada algoritma handoff, handoff diinisiasikan jika kuat sinyal yang diterima pada base station (BS) yang akan dituju lebih kuat berdasarkan nilai histeresisnya daripada kuat sinyal dari base station yang sedang melayaninya. Oleh karena itu, pemilihan nilai histeresis sangat penting dalam mengoptimasi performa suatu handoff. Tulisan ini membahas tentang pengaruh nilai suatu histeresis yang ditentukan sebagai parameter pembanding untuk mengetahui daerah probabilitas handoff, probabilitas transisi handoff, base station menangani MS dan degradasi link. Nilai histeresis menunjukkan pengaruh jarak terjadinya suatu handoff. Jika histeresis (h) terlalu kecil, maka daerah handoff akan semakin dekat dengan base station yang sedang melayani. Jika histeresis (h) terlalu besar maka jarak daerah handoff dari base station serving akan semakin jauh. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa jarak minimum dan maksimum agar handoff bekerja dengan baik pada BS dengan jarak 2000m adalah diantara 1100m sampai 1500m.
ANALISIS PENGGUNAAN SECOND CARRIER UNTUK MENGATASI KONGESTI JARINGAN 3G
Mudhin Mudhin;
Rahmad Fauzi
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (917.248 KB)
Sejak pertama kali diperkenalkannya layanan 3G, pemintaan akan layanan berbasis paket data semakin meningkat dengan pesat. Sebagai gambaran saat ini jenis trafik yang mampu ditangani oleh 3G ada dua jenis yaitu R99 dan HSDPA yang semuanya hanya ditangani oleh satu carrier. Dengan menggunakan satu carrier ini berakibat menurunnya kapasitas sel dan kualitas sinyal. Dengan demikian perlu adanya tambahan carrier yang berfungsi membagi jenis trafik, sehingga carrier yang kedua dikhususkan untuk melayani data saja. Dalam Tugas Akhir ini penulis menganalisis bagaimana penggunaan second carrier dan bagaimana mengatasi kongesti yang terjadi pada 3G. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan second carrier adalah peningkatan performa dan pembagian trafik yang lebih baik.Perencanaan jaringan yang sesuai untuk jaringan 3G adalah dengan mempertimbangkan jumlah pengguna pada site. Apabila kepadatannya sudah cukup tinggi dapat dilakukan peningkatan dengan menambahkan second carrier.
RANCANG BANGUN ANTENA YAGI 2,1 GHz UNTUK MEMPERKUAT PENERIMAAN SINYAL 3G
Abdullah Habibi Lubis;
Rahmad Fauzi
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (754.261 KB)
Antena adalah suatu alat yang digunakan untuk memancarkan gelombang elektromagnetik atau menerima gelombang elektromagnetik. Provider layanan 3G (Third Generation) dengan keterbatasan jaringan yang dicakupnya menjadikan kebutuhan akan penguatan perolehan sinyal sangat besar. Antena Yagi adalah salah satu pilihan penguatan perolehan sinyal. Antena Yagi memiliki komponen utama yaitu sebuah Driven element yang merupakan dipole aktif dan sebuah Element yang berfungsi untuk memantulkan pancaran dari Driven element. Penelitian ini membahas tentang rancang bangun antena Yagi 2,1GHz untuk memperkuat penerimaan sinyal 3G. Antena ini ditujukan untuk menjadi media bantu dalam memperkuat penerimaan sinyal 3G demi memaksimalkan perolehan sinyal dan koneksi. Adapun parameter antena diuji sebagai titik ukur kemampuan antena, Setelah pengujian dan analisa data diperoleh bahwa parameter yang diuji berupa pola radiasi, beamwidth, gain dan transfer data. Pertama kali yang akan diukur adalah level sinyal maksimum yang diperoleh tanpa menggunakan antena Yagi. Pengukuran antena dilakukan pada dua tempat yang berbeda. Jarak pertama antara tempat pengukuran dengan BTS ±5,57 km dan yang kedua ±5755,2 meter.
ANALISIS KEANDALAN TRANSFORMATOR DAYA MENGGUNAKAN METODE DISTRIBUSI WEIBULL (STUDI KASUS TRANSFORMATOR DAYA GI. TITI KUNING PT. PLN PERSERO)
Jhon Cristian Napitupulu;
Panusur S.M.L Tobing
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 3 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (603.29 KB)
Keandalan merupakan kemampuan sistem atau komponen untuk memenuhi fungsi yang dibutuhkan dalam kondisi tertentu selama rentang waktu yang spesifik. Keandalan transformator daya dipengaruhi oleh tingkat kegagalannya. Jurnal ini membahas tentang analisis keandalan transformator daya berdasarkan nilai TTF (Time To Failure). Kegagalan transformator daya di sub-sistem transmisi tidak hanya mengurangi keandalan transformator daya tetapi juga memiliki efek yang signifikan terhadap kualitas daya. Untuk meningkatkan keandalan utilitas, analisis kegagalan dan tingkat, asal kegagalan dan penyebab kerusakan fisik harus dianalisis dan dipelajari. Metode yang digunakan dalam menganalisis adalah Distribusi Weibull. Distribusi Weibull telah banyak digunakan sebagai metode matematika untuk menghitung laju kegagalan, keandalan, dan memprediksi waktu sisa umur peralatan apapun. Dengan menggunakan program matlab, didapat nilai MTTF (Mean Time To Failure) transformator daya gardu induk titi kuning PT. PLN Persero adalah 0,4327 tahun, nilai rata-rata laju kegagalan (λ ) adalah 2,3113 %/tahun.
STUDI PERBANDINGAN BELITAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI TIGA FASA PADA SAAT PENGGUNAAN TAP CHANGER (Aplikasi pada PT.MORAWA ELEKTRIK TRANSBUANA)
Bayu Sianipar;
Panusur S.M.L Tobing
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 3 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (170.768 KB)
Untuk memenuhi kualitas tegangan pelayanan sesuai kebutuhan konsumen (PLN Distribusi), tegangan keluaran transdormator harus dapat dirubah sesuai keinginan. Untuk hal itu, maka pada salah satu kedua sisi belitan transformator dibuat tap (penyadap) untuk merubah perbandingan belitan (ratio) transformator. Tulisan ini membahas mengenai ketepatan perbandingan belitan pada transformator distribusi pada saat penggunaan tap changer, dan analisa ketepatan perbandingan pada toleransi 1%. Jumlah belitan sekunder transforamator dihitung/diukur secara manual dengan menggunakan alat penghitung jumlah belitan transformator. Kemudian besarnya belitan primer perhitungan diperoleh dengan mengalikan jumlah belitan sekunder terhadap persamaan perbandingan tegangan yang besarnya sama dengan perbandingan belitan. Setelah itu akan dihitung jumlah belitan primer pengukuran dengan mengalikan nilai belitan sekunder dengan data hasil pengukuran (transformator turn ratio). Dengan memperhatikan perbedaan antara hasil analisa belitan perhitungan dan belitan pengukuran, maka didapat hasil bahwa pada beberapa transformator jumlah belitan primernya perlu dilakukan penambahan belitan agar tegangan keluaran dari transformator tersebut sesuai dengan tegangan keluaran yang diharapkan.
PERENCANAAN SISTEM PENERANGAN JALAN UMUM DAN TAMAN DI AREAL KAMPUS USU DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TENAGA SURYA (APLIKASI PENDOPO DAN LAPANGAN PARKIR)
Donny Ticcos Benaya;
Surya Tarmizi Kasim
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 3 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (290.266 KB)
Sistem penerangan jalan umum adalah pelayanan yang menerangi jalan umum dimana penerangan ini lampu hanya dinyalakan pada malam hari, penerangan jalan umum menggunakan lampu merkuri dan memakan daya yang besar dalam menerangi jalanan selama malam hari hingga waktu menjelang pagi, sehingga tidak efisien dalam penggunaan daya. Pemanfaatan energi matahari merupakan satu diantara sumber energi yang dapat dimanfaatkan untuk penerangan jalan di perkotaan maupun pedesaan. Lampu penerangan jalan (PJU) tenaga matahari berbasis LED jenis hi-power yang sangat terang, hemat energi dan tahan lama menggunakan panel surya/solar cell sebagai sumber yang berfungsi menerima cahaya (sinar) matahari yang kemudian diubah menjadi listrik melalui proses photovoltaic. Lampu Jalan Tenaga Surya ( PJU Tenaga Surya) secara otomatis dapat mulai menyala pada sore hari dan padam pada pagi hari dengan perawatan yang mudah dan efisien selama bertahun-tahun. Secara keseluruhan sistem ini dirancang untuk penyediaan cahaya penerangan umum dengan sumber energi terbarukan, bebas biaya perawatan dan berumur ekonomis lama. Dengan sistem pemasangan yang cepat dan mudah, PJU LED Tenaga Surya dapat menjadi solusi yang cepat dalam mengatasi kebutuhan penerangan jalan umum. Kata Kunci : Solar Cell, Modul Surya, Lampu LED, Baterai, Controller, Lampu Penerangan Jalan Umum
PERBANDINGAN KUAT MEDAN LISTRIK DI BAWAH SALURAN TRANSMISI 150 KV ANTARA G.I. T.KUNING DAN G.I. BERASTAGI BERDASARKAN PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE BAYANGAN
Syafril Ramadan;
Hendra Zulkarnain
Singuda ENSIKOM Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (249.954 KB)
Kuat medan listrik yang dihasilkan saluran transmisi dapat menimbulkan dampak yang merugikan terhadap penduduk yang berada di sekitar saluran transmisi tersebut. Pengukuran secara periodik perlu dilakukan untuk melihat apakah kuat medan listrik tersebut masih berada pada ambang batas yang diizinkan. Dalam tulisan ini, dilakukan perbandingan hasil perhitungan kuat medan listrik dengan pengukuran yang telah dilakukan oleh PT PLN P3B Sumatera UPT Medan. Perhitungan dilakukan dengan metode bayangan dan bantuan software MATLAB. Hasil pengukuran dan perhitugan kuat medan untuk beberapa titik tinjau masih di bawah standar ambang batas kuat medan listrik yang diizinkan. Perbedaan rata-rata kuat medan listrik antara perhitungan dan pengukuran adalah sebesar 145 % untuk menara 01-02 dan 21% untuk menara 11-12. Kata Kunci: kuat medan listrik, metode bayangan, saluran transmisi
ANALISIS UNJUK KERJA EKUALIZER PADA SISTEM KOMUNIKASI DENGAN ALGORITMA LEAST MEAN FOURTH BASED POWER OF TWO QUANTIZER (LMF-PTQ)
Ginda Utama Putri;
Rahmad Fauzi
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 3 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (952.532 KB)
Abstrak Karakteristik kanal komunikasi yang tidak ideal menimbulkan terjadinya distorsi pada sinyal informasi yang melewatinya. Distorsi tersebut dapat mengakibatkan kenaikan Symbol Error Rate (SER) data informasi hasil deteksi di sisi penerima. Teknik ekualisasi adalah proses pengolahan sinyal yang digunakan untuk mengatasi Intersymbol Interference (ISI). Intersymbol Interference (ISI) adalah sebuah fenomena masalah yang selalu ada dalam komunikasi dengan transmisi data yang berbasiskan simbol. Paper ini menganalisis tentang kinerja ekualizer adaptif dengan algoritma Least Mean Fourth based Power OF Two Quantizer (LMF-PTQ) dalam mengatasi noise dan ISI. Agar ekualizer adaptif dapat bekerja dengan baik, maka parameter-parameter ekualizer perlu diatur terlebih dahulu. Berdasarkan hasil pemrosesan simulasi diperoleh besar SER untuk sinyal yang dipengaruhi oleh Fading Rayleigh dan AWGN menggunakan ekualizer pada saat SNR = 15 sampai 27 adalah 0.8067 sampai 0.7094, pada pengujian panjang filter (N) mulai 20 sampai 41 maka nilai SER yang dihasilkan adalah 0.6856 sampai 0.7171 dan untuk pengujian step size mulai dari 0.001 sampai 0.032 maka nilai SER yang dihasilkan adalah 0.8242 sampai 0.6849.
ANALISIS KINERJA TRAFIK VIDEO CHATTING PADA SISTEM CLIENT-CLIENT DENGAN APLIKASI WIRESHARK
Rayhan Yuvandra;
Muhammad Zulfin
Singuda ENSIKOM Vol 3, No 3 (2013)
Publisher : Singuda ENSIKOM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (472.946 KB)
Teknologi Video chat adalah salah satu media komunikasi yang memberikan kemudahan pengguna untuk dapat melihat wajah lawan bicara dalam chatting dengan menggunakan kamera yang terdapat di notebook atau perangkat komputer. Video chat juga membutuhkan jaringan internet sebagai media transmisinya. Salah satu aplikasi untuk video chat adalah skype. Skype adalah software aplikasi komunikasi suara berbasis IP dengan teknologi P2P ( peer to peer ) melalui internet antara sesama pengguna Skype. Paper ini membahas tentang pengaruh lamanya waktu chatting antara client A dengan client B berdasarkan pengujian yang dilakukan. Pengujian dilakukan dengan pengcapturan data menggunakan software wireshark. Parameter QoS yang dianalisis berupa delay, packet loss dan throughput. Hasil analisa data dari percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa pada saat melakukan video chat diperoleh delay rata-rata sebesar 0,72 sec, packet loss yang bernilai 0 %, sedangkan nilai throughputnya akan semakin turun seiring dengan lamanya waktu chatting.