cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Perspektif Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2015)" : 11 Documents clear
PEMANFAATAN MODAL SOSIAL DALAM SEKTOR PERDAGANGAN (Studi Pada Etnis Tionghoa, Batak, Dan Minangkabau Di Kota Medan) Anita Syafitri
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.027 KB)

Abstract

Kota Medan merupakan kota dengan masyarakat yang plural dari segi etnisitas dan juga mata pencaharian. Mata pencaharian terbesar adalah bergerak di sektor perdagangan. Sebesar 20.424 jiwa dari 2.983.868 jiwa penduduk Kota Medan mencari nafkah di sektor perdagangan (PD Pasar Kota Medan, 2013). Perdagangan di Kota Medan juga terlihat unik karena membentuk zona-zona perdagangan berdasarkan etnisitas. Etnis Tionghoa, Batak, dan Minangkabau dipilih menjadi objek penelitian ini dikarenakan ketiga etnis tersebut yang menunjukkan eksistensinya dalam dunia perdagangan di Kota Medan.Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk modal sosial di kalangan pedagang Etnis Tionghoa, Etnis Batak dan Etnis Minangkabau di Kota Medan. Selain itu juga untuk  mengetahui dan menginterpretasi pemanfaatan modal sosial sehingga ketiga etnis tersebut dapat menunjukkan eksistensi perdagangan di Kota Medan. Metode yang peneliti pakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif agar data yang didapat lebih mendalam. Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, observasi partisipatif, wawancara mendalam dan studi kepustakaan.Peneliti menemukan bahwa Etnis Tionghoa, Batak, dan Minangkabau benar-benar memanfaatkan modal sosial dengan baik sehingga mampu mempertahankan eksistensi perdagangan di Kota Medan. Hanya saja modal sosial yang digunakan berbeda antara etnis yang satu dengan etnis yang lainnya. Hal itulah yang membuat Etnis Tionghoa mendominasi di Pasar Petisah, Etnis Batak di Pasar Simalingkar, dan Etnis Minangkabau di Pasar Pusat Pasar. Kata Kunci : Modal Sosial, Perdagangan, dan Etnisitas.
MODAL SOSIAL SISTEM BAGI HASIL DALAM BETERNAK SAPI PADA MASYARAKAT DESA PURWOSARI ATAS, KECAMATAN DOLOK BATU NANGGAR KABUPATEN SIMALUNGUN Syamsul Sanjaya
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.604 KB)

Abstract

Ternak sapi banyak dijumpai dikabupaten Simalungun. Kebanyakan warga yang memelihara sapi   bukan milik sendiri melainkan milik orang lain yang mempercayakan kepadanya untuk dipelihar. Adapun upah atau hasil yang diperoleh dari jerih payahnya dalam memelihara ternak sapi tersebut adalah, apabila sapi yang dipelihara berkembangbiak maka anaknya dibagi dua antara pemilik sapi dan pemelihara sapi, Atau dengan jalan menjual sapi, kemudian keuntungan  dibagi dua. Pemeliharaan dalam bidang ekonomi ini, khususnya dalam pemeliharaan sapi sering masyarakat sebut dengan istilah gaduh sapi. Dalam melaksanakan kerja sama sistem gaduh sapi landasan masyarakat melakukan sistem tersebut hanya berdasarkan kepercayaan diantara keduanya, tidak membuat perjanjian secara terang – terangan dihadapan kepala desa. Pihak pemilik sapi dan pihak pemelihara sapi atau penggaduh sapi, lebih mengutamakan kepercayaan dari pada membuat perjanjian secara terang – terangan karena akan mengurangi kepercayaan di antara keduanya. Padahal dengan dibuatnya perjanjian secara terang – terangan yang memuat beberapa peraturan yang sangat terperinci dan mengikat akan memberikan perlindungan hukum yang baik bagi pelaku usaha. Dari hasil penelitian Jika sampai terjadi sengketa, maka para pihak yang melakukan kerjasama biasanya berusaha menempuh cara penyelesaian yang terbaik yaitu dengan cara musyawarah keluarga atau negosiasi. Hal ini dikarenakan para pelaku usaha adalah keluarga, sahabat, dan tetangga dekat yang memiliki hubungan yang baik di antara keduanya. Kata kunci : Pemilik Sapi, Pemelihara Sapi, Gaduh.
KREATIVITAS DAN KEBERDAYAAN EKONOMI KOMUNITAS UNDERGROUND DI PEMATANGSIANTAR Palti M Butarbutar
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.74 KB)

Abstract

Pada tahun 2009, anggota komunitas underground mendirikan beberapa usaha bisnis yang diharapkan mampu menunjang kehidupan sosial ekonomi mereka, seperti usaha sablon, penyewaan studio musik, pembuatan tato dan mendirikan distro. Hal ini disebabkan oleh kemauan untuk merubah taraf hidup mereka sendiri, mengingat semakin berkurangnya lapangan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan semakin meningkat. Dengan adanya kemauan dan potensi yang dimiliki oleh anggota komunitas underground tersebut, hobi mereka terhadap musik undeground dibuat menjadi usaha bisnis yang menghasilkan uang. Selain itu, usaha bisnis tersebut merupakan tempat bagi mereka untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran agen sosial dalam mengembangkan kreativitas dan keberdayaan sosial ekonomi komunitas underground pada usaha distro UGD MERCH, serta mengetahui bagaimana pemanfaatan jaringan sosial komunitas underground pada usaha distro UGD MERCH tersebut. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran agen sosial pada distro UGD MERCH tersebut merupakan pemegang peran vital pada usaha distro tersebut, karena agen sosial tersebut adalah pengelola tunggal distro tersebut. Selain itu, agen sosial tersebut memiliki peran-peran yang dapat menjalankan usaha bisnisnya, seperti mengembangkan inovasi yang dimilikinya, mengembangkan kewirausahaan, memanfaatkan hobi. Jaringan sosial yang terjalin pada distro UGD MERCH merupakan modal utama dalam menggerakkan dan memberdayakan dalam menghasilkan suatu produk yang dapat memberikan keuntungan kepada pengelolanya. Pemanfaatan yang dilakukan agen sosial terhadap musik underground membawa dampak yang positif kepada anggota komunitas underground itu sendiri, yang dimana perlahan namun pasti mereka tidak distereotipkan sebagai komunitas yang anarkis. Kata kunci: Kreativitas, keberdayaan ekonomi, distro UGD MERCH dan komunitas underground
MODAL SOSIAL KOMUNITAS PETANI KEMENYAN DALAM PELESTARIAN HUTAN KEMENYAN DI DESA PANDUMAAN, KECAMATAN POLLUNG, KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN Elisabeth Christina Ambarita
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.396 KB)

Abstract

Kedekatan hubungan manusia dengan sumber daya alam atau lingkungan membuat mereka memiliki pemahaman yang khusus terhadap lingkungan tempat tinggal mereka. Seharusnya lingkungan juga tidak hanya dijadikan objek untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia, tetapi juga harus ditata dan dipelihara agar terjaga kelestariannya. Oleh karena itu, adanya ikatan antara manusia dan lingkungannya dapat melahirkan pikiran bagaimana manusia mempertahankan kelestarian lingkungannya guna kelangsungan hidup manusia. Setiap daerah memiliki potensi alamnya masing – masing. Seperti wilayah Kecamatan Pollung khususnya desa Pandumaan yang terkenal dengan kemenyannya. Desa ini memiliki pengetahuan mengenai pemanfaatan hutan kemenyan secara tradisional sebagai warisan nenek moyang yang tlah diregenerasikan selama 13 keturunan. Dalam usaha mempertahankan kelestarian hutan ini mendapatkan tantangan seperti kebijakan pemerintah berupa izin pengelolaan tanah adat masyarakat Pandumaan dan desa sekitarnya kepada PT.TPL sehingga lebih dari 300 ha lahan hutan kemenyan telah habis ditebang oleh perusahaan tersebut. Penelitian yang digunakan merupakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan modal sosial komunitas petani kemenyan dalam pelestarian hutan kemenyan di Desa Pandumaan, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan melalui wawancara dan observasi yang diinterpretasikan dalam bentuk narasi. Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah petani kemenyan sebanyak 3 orang ( satu orang pengurus kelompok petani kemenyan) dan satu orang Raja Huta atau ketua patih, satu orang staf BAKUMSU. Penelitian ini menemukan bahwa modal sosial yang dimiliki oleh petani kemenyan di desa ini penting dalam usaha pelestarian hutan kemenyan. Sejak tahun 2009 hingga 2013 ini masyarakat masih tetap berjuang mempertahankan kelestarian hutan kemenyan bersama dengan beberapa lembaga sebagai pendamping seperti KSPPM, BAKUMSU, AMAN, WALHI, dan organisasi sosial lainnya. Kata kunci: modal sosial, petani kemenyan, pelestarian hutan.
Potensi Modal Sosial Buruh Bangunan (Studi Deskriptif Pada Buruh Bangunan di Lingkungan 12 Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang) James Party Samuel
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.85 KB)

Abstract

Potensi modal sosial merupakan kemampuan buruh bangunan untuk bekerja sama membangun modal sosial yang terdiri dari jaringan, nilai dan norma, hubungan sosial, kepercayaan dan institusi untuk mencapai kepentingan dan tujuan bersama. Menumbuh kembangkan modal sosial berarti upaya buruh bangunan untuk bekerja sama membangun dan mengembangkan jaringan sosial, nilai dan norma, hubungan sosial, kepercayaan dan institusi yang sudah tercipta sebelumnya agar dapat menjadi lebih baik lagi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil analisis dan pengolahan data dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa potensi modal sosial yang terdapat pada buruh bangunan berupa negoisasi, jaringan informasi dan relasi, kepercayaan, nilai dan norma, etos kerja yang tinggi dan gotong royong. Usaha mereka untuk menumbuhkembangkannya dengan tetap berkomunikasi, tolong menolong, menjaga kepercayaan dan kejujuran, saling pengertian serta selalu bekerja dengan baik. Para buruh bangunan juga sepakat bahwa dengan potensi modal sosial yang mereka miliki dapat menjamin kelangsungan pekerjaan mereka sebagai buruh bangunan.   Kata kunci: Modal Sosial, Buruh Bangunan
FUNGSI IKATAN PERSAUDARAAN MUSLIM SOCFINDO (IPMS) DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN SOSIAL DENGAN MASYARAKAT SEKITAR Henny Susanty
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.273 KB)

Abstract

Secara umum masyarakat perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba lebih diidentikkan dengan masyarakat yang bersifat geselschaft telah membuat berkurangnya intensitas hubungan sosial yang dialami masyarakat perkebunan sehari-hari dengan masyarakat sekitarnya. Sehingga muncullah IPMS kebun Aek Loba yang merupakan lembaga kemasyarakatan yang dibuat masyarakat perkebunan untuk membangun hubungan sosial dengan masyarakat  sekitar. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil akhir pada penulisan ini bahwa lembaga IPMS berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar dengan membuat berbagai kegiatan-kegiatan sosialnya. Selain itu, penulis juga menemukan terjadinya pergeseran budaya masyarakat pekebunan yang sebenarnya bersifat gemeinschaft berubah menjadi geselschaft terjadi karena tuntutan pekerjaan yang membuat masyarakat perkebunan tidak dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kata Kunci : Fungsi IPMS, Membangun Hubungan Sosial Dengan Masyarakat Sekitar
DIMENSI BUDAYA DAN PENYEBARAN PENYAKIT HIV/AIDS DI PERKUMPULAN KASIH RAKYAT Lydia Melissa Bukit
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.162 KB)

Abstract

HIV/AIDS merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Jumlah orang yang terkena penyakit HIV/AIDS untuk daerah kabupaten Karo mengalami kenaikan. Hal tersebut sangat memprihatinkan melihat masyarakat Tanah Karo yang masih sangat menjunjung tinggi budaya dan norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat tetapi masyarakatnya banyak yang terkena penyakit HIV/AIDS. Metode penelitian yang digunakan adalah peneltian eksplorasi dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada budaya-budaya dan kebiasaan masyarakat Karo yang mempengaruhi perilaku seksual mereka. Budaya Rebu pada tingkatan tertentu mengakibatkan sikap pembiaran terhadap anggota keluarga sendiri yang nantinya mempengaruhi pada minimnya pencegahan penyakit HIV/AIDS. Budaya Patriarkat yang  memprioritaskan kepentingan laki-laki, sehingga mengakibatkan peran perempuan semakin dikucilkan dan tidak bisa memiliki ruang untuk berpendapat termasuk dalam masalah kesehatan seksual Kata Kunci: HIV/AIDS, Budaya Karo, Patriarkat.
PENGETAHUAN DAN PEMANFAATAN METODE PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT DESA SUKA NALU KECAMATAN BARUS JAHE Salmen Sembiring
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.082 KB)

Abstract

Pengetahuan mengenai sakit dan penyakit dalam masyarakat dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisional dan pengaruh perkembangan ilmu medis modern. Sakit disebut dalam dua kategori yaitu bangger dan sakit, bangger yaitu dimana penderitanya dalam kondisi tubuh mengalami disfungsi namun masih sanggup melakukan aktivitas, sedangkan sakit diartikan sebagai kondisi manusia yang mengalami disfungsi bagian tubuh tertentu namun penderitanya tidak mampu melakukan aktivitasnya dalam arti lain penderitanya membutuhkan bantuan orang lain dalam penyembuhannya. Konsep sakit dan penyakit juga banyak diketahui dari perkembangan ilmu kedokteran. Penyakit dalam masyarakat Suka Nalu terbagi ke dalam dua kategori berdasarkan penyebabnya yaitu penyakit naturalistik dan personalistik. Penyakit naturalistik yakni penyakit yang terjadi secara alami seperti perubahan cuaca, gigitan serangga, kecelakaan dan faktor alami lainnya. Sedangkan penyakit personalistik yaitu penyakit yang disebabkan oleh agen tertentu seperti masuknya roh tertentu, kutukan ataupun karena perbuatan orang lain (aji). 
ETOS KERJA DAN GAYA HIDUP PADA MASYARAKAT SLUM AREA ( Studi Kasus Di Gang Ksatria Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimoon ) Yulia Hardianty
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.809 KB)

Abstract

yang ada di Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimoon. Mengenai etos kerja dan gaya hidup masyarakat pinggiran sungai Deli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pemukiman kumuh adalah suatu kawasan di perkotaan yang penduduknya hidup dalam kondisi sosial ekonomi yang rendah dan penduduknya berasal dari pedesaan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan di gang Ksatria, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimoon ditemukan bahwa masyarakat gang Ksatria kelurahan Sei Mati kecamatan Medan Maimoon memiliki penilaian kerja dihayati sebagai bentuk rutinitas hidup. Masyarakat bekerja untuk mencari makan, ungkapan ini jelas tumbuh pada masyarakat yang subsisten dan tradisional, yang artinya masyarakat hanya bekerja untuk memenuhi   kebutuhan dasar mereka, tanpa harus bekerja lebih keras untuk mencapai tingkat produktivitas yang lebih dari itu dan cepat merasa puas. Ini diperjelas dari penelitian bahwa rata‑rata penghasilanmasyarakat gang Ksatria yaitu Rp 500.000 sampai Rp 1.500.000/bulan. Pekerjaan yang paling dominan adalah sebagai buruh bangunan. Jam kerjanya tidak menentu. Terkadang bekerja, terkadang tidak, tergantung borongan. Waktu luang banyak digunakan di warung kopi dan tempat billiard. Sedangkan perempuan (lajang) maupun Ibu – ibunya bekerja sebagai penjahit keset kaki, penjual burger, dan ada sebagai penjaga toko yang sekaligus tukang pijat. plus plus pada malam harinya.  Gaya hidup masyarakat gang Ksatria menunjukkan sesuatu yang lebih. Cara mereka berpakaian, mempunyai asesoris / perhiasan, mempunyai barang elektronik dan perlengkapan rumah yang harganya sebenarnya tidak bisa terjangkau dengan pendapatan yang kecil dan sebagian besar dari masyarakat gang Ksatria memiliki pekerjaan sampingan yang illegal dan tidak halal. Kata kunci : gaya hidup, etos kerja, dan slum area
DAMPAK PEMBANGUNAN INDUSTRI TERHADAP DIVERSIFIKASI MATA PENCAHARIAN, INTERAKSI SOSIAL DAN NILAI PENDIDIKAN PADA MASYARAKAT PERDESAAN Ismi Andari
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.205 KB)

Abstract

Pembangunan merupakan suatu proses yang menunjukan adanya suatu kegiatan mencapai kondisi yang lebih baik di bandingkan kondisi sebelumnya. Kawasan industri baru di kembangkan pada awal 1970-an. Awalnya Pemerintah mengembangkan kawasan industri melalui Badan Usaha Milik Negara keseluruh Indonesia sehingga Provinsi Sumatera Utara juga menjadi bagian pembangunan tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian survei dengan metode pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian terletak di kawasan industri Desa Tanjung Selamat Kecamatan Percut Sei Tuan. Yang menjadi unit analisis dalam penelitian sebanyak 80 responden yang di tentukan dengan rumus dengan radius 100-500 meter dari lokasi industri. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa antara variabel dampak pembangunan industri dengan variabel diversifikasi mata pencaharian, interaksi sosial, dan nilai pendidikan terdapat korelasi yang bersifat positif dan negatif. Pembangunan industri yang terus berkembang telah mampu memberikan peluang kerja,mata pencaharian ganda dan juga perubahan pola pikir bagi masyarakat. Kata Kunci : Pembangunan Industri, Diversifikasi, Interaksi Sosial dan Nilai Sosial

Page 1 of 2 | Total Record : 11