cover
Contact Name
Abdul Qawwiy Nasrun
Contact Email
anabdulqawwiy@gmail.com
Phone
+6281241972604
Journal Mail Official
anabdulqawwiy@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta, 55821
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Moderasi
ISSN : 28092376     EISSN : 2809221X     DOI : 10.14421
Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Societies merupakan jurnal akademik yang didedikasikan untuk menerbitkan artikel-artikel akademik berkualitas peneliti muda (mahasiswa S1, S2, dan S3). Jurnal ini dikeluarkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Redaksi menerima tulisan di bidang ilmu-ilmu Ushuluddin, meliputi Akidah dan Filsafat Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Sosiologi Agama, Antropologi Agama, Studi Agama-agama, dan Politik Islam dan Muslim Societies.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "vol. 4 no. 2 (2024)" : 6 Documents clear
Kritik Matan Hadis atas Hukuman bagi Orang Murtadin: Kontekstualitas Hermeneutika Fazlur Rahman Adinda Fatimah Rahmawati
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.01

Abstract

There is a notable difference between the consequences for apostates as stated in the Qur’an and the Hadith. The Qur’an mentions that apostates will be replaced by people who are better and will face eternal punishment in the afterlife. In contrast, the Hadith prescribes the death penalty for apostates in this world. For Muslims, it is essential to study the application of apostasy laws in the current context. This study employs a descriptive analysis using Fazlur Rahman’s hermeneutic approach to Hadith. Rahman’s principle emphasizes that Islamic law should be understood according to the context of the times. His approach applies a situational interpretation of Hadith, encouraging Muslims to reevaluate the elements of Hadith and their relevance today. Rahman suggests several strategic steps: first, understanding the literal meaning of the Prophet’s Hadith; second, examining the historical and social context during the Prophet’s time, including the reasons for the Hadith’s revelation (asbab al-wurud); and third, considering relevant instructions in the Qur’an. This approach allows scholars to distinguish the underlying legal objectives (ratio legis) from specific legal rulings and to formulate the ideal moral principles of the Hadith. The study finds two main points. First, while the wording in the Qur’an and Hadith differs, Qur’anic consequences apply when apostates do not cause harm, whereas Hadith consequences apply when apostates create disorder or damage. Second, the Hadith prescribing the death penalty is authentic, but its application is not universal; it is context-dependent and relevant only under certain circumstances.   Abstrak Terdapat perbedaan antara konsekuensi bagi orang murtad antara redaksi Al-Quran dan redaksi hadis. Dalam Al-Quran disebutkan bahwasanya orang yang murtad akan digantikan dengan kaum yang jauh lebih baik dan orang yang murtad dimasukkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (hukuman akhirat). Sementara hadis menyebutkan bahwa bagi pelaku murtad akan dikenai hukuman mati (hukuman duniawi). Sebagai seorang muslim, perlu untuk mengkaji lebih dalam terhadap pemberlakuan hukuman bagi pelaku murtad pada konteks saat ini. Penelian ini menggunakan  analisis deskriptifdengan pendekatan hermeneutika  Fazlur Rahman terhadap hadis. Hermeneutika Fazlur Rahman menerapkan penafsiran situasional terhadap hadis dan menegaskan bahwa umat Islam perlu untuk melakukan revaluasi terhadap unsur yang terkandung dalam hadis dan penafsirannya sesuai dengan kondisi saat ini. Ia mengisyaratkan adanya beberapa langkah strategis. Pertama, memahami makna teks hadis Nabi, kemudian memahami latar belakang situasionalnya, yakni menyangkut situasi Nabi dan masyarakat pada periode Nabi secara umum, termasuk dalam ini adalah asbab al-wurud. Di samping itu juga memahami petunjuk-petunjuk Al-Qur’an yang relevan. Dari sini akan dapat dipahami dan dibedakan nilai-nilai nyata atau sasaran hukumnya dari ketetapan legal spesifiknya, dan dapat dirumuskan prinsip ideal moral dari hadis tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dua point utama yakni : pertama, Redaksi yang disebutkan dalam Al-Quran dan redaksi dalam hadis memang berbeda. Namun pada penggunaannya, konsekuensi bagi orang murtad sebagaimana yang tertulis dalam Al-Quran diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut tidak membuat kerusakan ataupun kekacauan bagi kelompok lainnya. Sementara konsekuensi yang disebutkan dalam hadis diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Kedua, hadis hukuman mati bagi pelaku murtad dibuktikan shahih. Namun dalam penggunaannya redaksi hadis ini tidak bisa digunakan pada semua zaman, melainkan hanya pada konteks-konteks tertentu saja.
Analisis Sinonimitas Makna Nūr, Ḍiyā’, dan Sirāj dalam Al-Qur'an: Kajian Linguistik Semantik Berdasarkan Tafsir Al-Kasysyāf ANWAR FAHMI
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.03

Abstract

This article is motivated by the use of the words nūr, ḍiyā', and sirāj which are often translated as "light". Although all three have similar basic meanings, each word is used in a different context, raising the question of whether these words are synonymous or have significant differences in meaning. The purpose of this research is to try to uncover the meaning and synonyms of each word by analyzing it through the Tafsir Al-Kasysyāf approach by al-Zamakhsyarī. This research uses a qualitative method with a library research approach. The analysis was carried out using a semantic approach, which focuses on the relationship of meaning between words and the context in which they are used in the verses of the Qur'an. The results of the analysis show that the three terms have a basic meaning as "light", but there are differences in their use. The word nūr refers more to light that is soft and reflective, such as the light of the moon or the light of Allah's guidance that is spiritual. While the word ḍiyā' describes a more intense light and has a hot element, such as sunlight that shines strongly and burns. Meanwhile, the word sirāj refers to a source of light that emits its own rays, such as the sun itself which is referred to as sirāj in the Qur'an. Artikel ini dilatarbelakangi dengan adanya penggunaan kata-kata nūr, ḍiyā’, dan sirāj yang sering diterjemahkan dengan istilah “cahaya”. Meskipun ketiganya mempunyai makna dasar serupa, namun setiap kata digunakan dalam konteks yang berbeda, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah kata-kata ini memiliki sinonim atau justru memiliki perbedaan makna yang signifikan. Adapun tujuan dari penelitian ini berusaha mengungkap makna dan sinonim masing-masing kata tersebut dengan menganalisisnya melalui pendekatan Tafsir Al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyarī. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan semantik, yang berfokus pada relasi makna antar kata serta konteks penggunaannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga istilah tersebut memiliki arti dasar sebagai “cahaya”, namun terdapat perbedaan dalam penggunaannya. Kata nūr lebih mengarah pada cahaya yang bersifat lembut dan pantulan, seperti cahaya bulan atau cahaya petunjuk Allah yang bersifat spiritual. Sedangkan kata ḍiyā’ menggambarkan cahaya yang lebih intens dan memiliki unsur panas, seperti cahaya matahari yang bersinar kuat dan membakar. Sementara itu, kata sirāj merujuk pada sumber cahaya yang memancarkan sinarnya sendiri, seperti matahari itu sendiri yang disebut sebagai sirāj dalam Al-Qur’an.
Al-Iklīl Fī Istinbāṭ Al-Tanzīl: an Analysis of Al-Suyūṭī’s Interpretation Of Criminal Verses Turkey Al Zhafir
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.jm.2024.42.02

Abstract

This study explores Al-Iklil fi Istinbat al-Tanzil by Jalaluddin al-Suyuti, focusing on his interpretation of criminal verses in the Qur'an. Using a qualitative method based on literature review with content analysis, this study identifies al-Suyuti's textual-normative approach in deriving legal provisions (istinbat) from verses on adultery, theft, false accusations, murder, and armed robbery. His concise interpretation reflects classical Islamic legal principles such as justice, crime prevention, and social protection, but lacks social-historical context. This study argues that although Al-Iklil provides a fundamental normative framework, its application in modern Islamic criminal law requires contextual reinterpretation in line with contemporary legal systems and human rights standards. This work remains relevant as a legal-ethical reference in the corpus of Islamic jurisprudence.
Pendekatan Sains dalam Kajian Hadis menurut Syamsul Anwar: Interkoneksi Hadis Haji Wada dan Data Astronomi Carla Adiba
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.%x

Abstract

Abstract This study analyzes the interconnectedness of the science approach in the study of hadith according to Syamsul Anwar with a focus on the reconstruction of the chronology of the Farewell Hajj. The method used is qualitative descriptive-analytical through the collection of hadith related to the Prophet's departure and verification with astronomical data of Zulkaidah-Zulhijah 10 H, then analyzing the results of Syamsul Anwar's thoughts through the framework of Karl Mannheim's sociology of knowledge. This research finds that Syamsul Anwar's principle of integration-interconnection, which dialogues the science of hadith with astronomy, is not a thought that emerged in a vacuum, but rather a product of thought constructed by his social position, his intellectual background, and his attachment to the generation and culture (Generationszusammenhang) of Muhammadiyah intellectuals.   Abstrak Penelitian ini menganalisis pendekatan interkoneksi sains dalam kajian hadis pandangan Syamsul Anwar, berfokus pada rekonstruksi kronologi Haji Wada’. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis melalui pengumpulan hadis terkait keberangkatan Nabi dan verifikasi dengan data astronomi Zulkaidah–Zulhijah 10 H. Pembacaan terhadap pemikiran Syamsul Anwar melalui kerangka sosiologi pengetahuan Karl Mannheim. Penelitian ini mendapati prinsip integrasi-interkoneksi Syamsul Anwar, yang mendialogkan ilmu hadis dengan astronomi, bukanlah pemikiran yang muncul dalam ruang hampa, melainkan produk pemikiran yang dibangun oleh posisi sosialnya, latar belakang intelektualnya, dan keterikatannya pada generasi dan budaya (Generationszusammenhang) para intelektual Muhammadiyah.  
Moderasi Beragama di Ruang Digital: Analisis Kritis atas Akun Instagram @kemenag_ri dalam Lingkungan Siber Islam Reziq Mahfuz.Ma.Iballa; Muhammad Rikza Muktafa
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.05

Abstract

This article examines how the Instagram account @kemenag_ri represents and disseminates religious moderation narratives within Indonesia's contemporary cyber-Islamic environment. The central issue is the gap between the religious moderation policy mandate formally established by the Ministry of Religious Affairs since 2019 and the communicative practices carried out through its official social media channels. Using a qualitative approach combining netnography and content analysis, this study analyzes 1,442 posts published by @kemenag_ri between January 1, 2023 and November 4, 2024, focusing on 57 posts tagged #ModerasiBeragama as the main unit of analysis. The analytical framework draws on Gary R. Bunt’s Cyber-Islamic Environment concept and the four official religious moderation indicators: national commitment, tolerance, anti-violence, and accommodation of local traditions. The study finds that religious moderation narratives have yet to occupy a dominant position in the account’s digital communication. The hashtag #ModerasiBeragama appeared in only 57 posts (around 4 percent of the total), far fewer than hashtags centered on the Minister's personal figure, which appeared in 116 posts. More than half of the tagged posts contained no substantive representation of the four indicators, suggesting that the hashtag functions more as a programmatic label than a content marker. Among indicators that did appear, tolerance dominated (26 posts), while anti-violence and national commitment each appeared in only 9 posts. Audience engagement further shows that comment sections were dominated by pragmatic institutional inquiries rather than substantive discussion of moderation values. These findings indicate that digital religious authority is not automatic, but earned through meaningful and relevant communication. Artikel ini mengkaji bagaimana akun Instagram @kemenag_ri merepresentasikan dan mendiseminasikan narasi moderasi beragama dalam lingkungan siber Islam Indonesia kontemporer. Isu yang menjadi titik tolak penelitian ini adalah kesenjangan antara mandat kebijakan moderasi beragama yang telah diresmikan Kementerian Agama sejak 2019 dengan praktik komunikasi digital yang dijalankan melalui kanal media sosial resminya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis netnografi dan analisis konten, penelitian ini menganalisis seluruh 1.442 unggahan akun @kemenag_ri sepanjang 1 Januari 2023 hingga 4 November 2024, dengan fokus pada 57 unggahan bertagar #ModerasiBeragama sebagai unit analisis utama. Kerangka analitis yang digunakan adalah konsep Cyber-Islamic Environment Gary R. Bunt dan empat indikator moderasi beragama resmi Kementerian Agama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi lokal. Penelitian ini menemukan bahwa narasi moderasi beragama belum menempati posisi dominan dalam pola komunikasi digital akun @kemenag_ri. Tagar #ModerasiBeragama hanya muncul dalam 57 unggahan (sekitar 4 persen dari keseluruhan), jauh di bawah tagar berbasis figur Menteri Agama yang tercatat dalam 116 unggahan. Lebih dari separuh unggahan bertagar #ModerasiBeragama tidak memuat representasi substantif atas keempat indikator moderasi beragama, sehingga tagar tersebut lebih berfungsi sebagai penanda identitas program daripada penanda tema konten. Di antara indikator yang muncul, toleransi mendominasi representasi (26 unggahan), sementara anti-kekerasan dan komitmen kebangsaan masing-masing hanya hadir dalam 9 unggahan. Pola keterlibatan audiens pun menunjukkan bahwa kolom komentar pada postingan bertagar tersebut lebih diramaikan oleh pertanyaan seputar isu pragmatis kelembagaan daripada diskusi substantif tentang nilai-nilai moderasi beragama. Temuan ini memperlihatkan bahwa legitimasi otoritas keagamaan negara di ruang digital tidak terbentuk secara otomatis, melainkan bergantung pada kemampuan institusi membangun komunikasi yang relevan, reflektif, dan bermakna bagi audiens digitalnya.
Implementasi Moderasi Beragama dalam Perspektif Wasathiyyah pada Masyarakat Multikultural di Sangatta Utara Muhammad Alfian; Ramdanil Mubarok; Muhammad Khoirun Nizam
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.06

Abstract

This study aims to examine how religious moderation is understood and practiced from a wasathiyyah perspective within the multicultural community of RT 16, Jalan Teluk Rawa, North Sangatta, East Kutai Regency. The study employed a descriptive qualitative approach to explore community members’ understandings, practices, supporting factors, and challenges related to religious moderation. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving religious leaders, the head of RT 16, and community members as research informants. The findings reveal that religious moderation is generally understood as a balanced religious attitude characterized by tolerance, respect for differences, and rejection of extremism and radicalism. This understanding is reflected in everyday practices through interfaith mutual cooperation, community deliberation, joint social activities, and inclusive interactions among people of different religious backgrounds. The implementation of religious moderation is strengthened by the active role of religious leaders, a strong culture of mutual cooperation, government support, and inclusive religious activities. However, its sustainability is challenged by the spread of radical narratives through social media, limited digital literacy among some community members, and the influence of identity politics. Overall, the findings demonstrate that wasathiyyah principles provide an important normative foundation for strengthening social cohesion and sustaining peaceful interreligious relations within a multicultural community. The study contributes to the understanding of how wasathiyyah principles can be translated into everyday social practices to foster religious moderation and strengthen community resilience against divisive influences. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana moderasi beragama dipahami dan dipraktikkan dari perspektif wasathiyyah dalam komunitas multikultural RT 16, Jalan Teluk Rawa, Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi pemahaman, praktik, faktor pendukung, dan tantangan masyarakat dalam menerapkan moderasi beragama. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh agama, ketua RT 16, dan anggota masyarakat sebagai informan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama pada umumnya dipahami sebagai sikap keberagamaan yang seimbang, ditandai dengan toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta penolakan terhadap ekstremisme dan radikalisme. Pemahaman tersebut diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari melalui kegiatan gotong royong lintas agama, musyawarah masyarakat, kegiatan sosial bersama, dan interaksi inklusif antarpemeluk agama yang berbeda. Penerapan moderasi beragama diperkuat oleh peran aktif tokoh agama, budaya gotong royong yang kuat, dukungan pemerintah, serta kegiatan keagamaan yang inklusif. Namun, keberlangsungannya menghadapi tantangan berupa penyebaran narasi radikal melalui media sosial, keterbatasan literasi digital pada sebagian anggota masyarakat, dan pengaruh politik identitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip wasathiyyah memberikan landasan normatif yang penting dalam memperkuat kohesi sosial dan mempertahankan hubungan antarumat beragama yang damai dalam komunitas multikultural. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman mengenai bagaimana prinsip-prinsip wasathiyyah dapat diterjemahkan ke dalam praktik sosial sehari-hari untuk memperkuat moderasi beragama dan ketahanan masyarakat terhadap berbagai pengaruh yang dapat memecah belah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6