Musnad : Jurnal Ilmu Hadis
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis, publishes articles in hadis science and ulumul hadis, especially hadith and ulumul hadis studies, living hadith, hadith manuscripts, hadith in the Indonesian context, classical and contemporary hadith thinking, hadith hermeneutic thinking, hadith study research methodology, hadith and information technology, hadith and the media. The journal can be accessed publicly, which means that all content is provided freely accessible without charge to either the user or the institution. Users are allowed to read, download, copy, distribute, print, search, or cite to the full text of the article did not have to ask permission from the publisher or author. Musnad : Jurnal Ilmu Hadis published twice a year (Juli and Desember) by Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat - LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura. Musnad : Jurnal Ilmu Hadis accommodates critical thinking and is open to all circles (academics, religious leaders, intellectuals and students) with the specifications of studies and research in the field of hadis science and ulumul hadis, especially hadith and ulumul hadis studies, living hadith, hadith manuscripts, hadith in the Indonesian context, classical and contemporary hadith thinking, hadith hermeneutic thinking, hadith study research methodology, hadith and information technology, hadith and the media. The Journal serving as a medium for exploring critical thinking on field of hadis science and ulumul hadis, especially hadith and ulumul hadis studies, living hadith, hadith manuscripts, hadith in the Indonesian context, classical and contemporary hadith thinking, hadith hermeneutic thinking, hadith study research methodology, hadith and information technology, hadith and the media.
Articles
6 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1 No 2 (2023): Desember"
:
6 Documents
clear
RELIGIOUS POLICY IN THE COVID-19 PANDEMIC AND THE PROPHET’S HADIS
Fatichatus Sa'diyah
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56594/musnad.v1i2.163
This article discusses the arguments of the Prophet’s hadis which are textually contrary to government policies, especially during the covid-19 pandemic. Since the outbreak of covid-19 in early 2020, the government has provided many religious policies for Muslims that have had a lot of impact on their religious behavior. Among them are getting used to praying at home because many mosques are closed, getting used to praying dhuhur on Friday because Friday prayers are abolished, not shaking hands because it will cause physical contact with each other, not attending to pay respects to Muslim brothers who died. While all these behaviors are contrary to the textual meaning of the Prophet’s hadis. For example, regarding the threat who leave Friday prayers, the virtue of praying in congregation at the mosque, the virtue of shaking hands when meeting each other, the virtue of carrying out joint obligations in the form of final respect for Muslim brothers who died. Judging by using the theory of structural functionalism popularized by Robert K Merton, it is explained that the basic assumption is that every structure in a social system is functional with respect to the other parts Therefore, this article concludes that between the two realities –religious policies during a pandemic and religious narratives in hadis– do not cause conflict, in fact there is a relationship between one and the other. This is even more so if the traditions are understood using a contextual approach.
ḤADĪTH ZAWĀID DALAM SUNAN IBN MĀJAH
Mohammad Lutfianto
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penulis memfokuskan penelitian ini terhadap ḥadÄ«th- ḥadÄ«th zawaid yang ada dalam kitab Ibn MÄjah, tentang contoh- contoh ḥadÄ«th- ḥadÄ«th zawaid yang terdapat kitab Ibn MÄjah dan hal-hal yang berkaitan dengan ḥadÄ«th zawaid, seperti kualitas perawi dan kualitas ḥadÄ«th- ḥadÄ«th tersebut. hadÄ«th zawÄid adalah hadÄ«th- ḥadÄ«th yang lebih pada kitab tertentu (hadÄ«th- ḥadÄ«th yang tidak terdapat dalam al- kutub al-khamsah). Jumlah ḥadÄ«th dalam kitab Sunan Ibn Mâjah sebanyak 4.341 hadis. Dari jumlah itu, 3.002 hadis juga diriwayatkan dalam al-kutub al-khamsah, baik seluruh matan maupun sebagiannya. Sisanya, sebanyak 1.339 hadis adalah hadis zawâ’id/ di luar hadis yang terdapat dalam al-kutub al-khamsah. Kualitas perawi dari ḥadÄ«th-ḥadÄ«th zawÄid yang dibahas kebanyakan berstatus á¹£adÅ«q. Namun ada pula yang thÄ«qah, á¸a`if, majhÅ«l bahkan matrÅ«k. Adapun kualitas sanadnya juga beragam ada yang bersanad ḥasan, á¸aif ataupun musalsal.
ETIKA DALAM BERTAMU
Fitrotun Nafsiyah
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56594/musnad.v1i2.185
Misi Islam ialah menyebarkan rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam, maka akhlak mulia tidak hanya diperuntukkan bagi sebagian orang atau golongan, tetapi kepada seluruh umat manusia, bahkan seluruh ciptaan Allah swt. Seorang muslim harus memperlakukan saudara muslim lainnya dengan baik dan diharamkan untuk menyakitinya. Namun, seiring dengan hilangnya semangat berbagi di zaman ini. Ucapan salam ini sebegitu mudah ditinggalkan oleh sebagian umat yang kurang peduli dan dengan serta merta berubah menjadi ucapan salam yang lain, baik itu dengan ucapan good morning (selamat pagi), selamat siang, atau sejenisnya. Tentunya seorang muslim tidak akan rela apabila syariat yang penuh berkah lagi manfaat ini kemudian diganti dengan ucapan-ucapan lain. Bersumber dari adanya latar belakang tersebut penulis mengangkat rumusan masalah sebagaiberikut; 1) Bagaimana pandangan hadis terhadap mengucapkan salam dalam etka bertamu ? Adapun tujuan masalah dari penelitian ini adalah 1) Supaya pembaca menetahui pandangan hadis terhadap mengucapkan salam ketika bertamu. Penelitian ini penulis menggunakan metode takhrij hadis tematik, tematik konseptual merupakan metode dan cara mengumpulkan hadis yang berhubungan dengan tema yang secara eksplisit tidak disebutkan dalam hadis. Setelah menganalisis mengucapkan salam sebagai etika bertamu yang kaitannya erat dengan akhlak sosial. Penulis menyimpulkan bahwa unsur yang terkandung dalam mengucapkan salam di antaranya perbuatan etika yangharus di praktekkah. Mengucapkan salam ketika bertamu sangatlah dianjurkan dalam islam,dan etika tersebut juga sangat di benarkan dalam berinteraksi sesama kaum muslim.
HADIS MUKHTALIF DAN CARA MEMAHAMINYA
takwalloh takwalloh;
Abdurrohman Abdurrohman
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56594/musnad.v1i2.152
Penelitian ini dilatar belakangi akan adanya persoalan cara memahami hadis yang tampak bertentangan atau bahkan dianggap bertentangan namun pada esensinya tidak bertentangan yang membuat resah masyarakat karena terlanjur menyakini khabar(hadis) tersebut dan dampaknya akan banyak hadis Nabi yang tidak dapat dipakai karena sudah dianggap bertentangan tanpa mencarikan jalan penyelesaian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang “cara memahami hadis yang tampak saling bertentangan†dengan maksud agar lebih cermat dalam memahami petunjuk hadis Nabi. Hasil dari penelitian ini yaitu: pertama, hadis mukhtali>f ialah ada dua hadis atau lebih yang secara lahir maknanya saling kontradiksi dan untuk menghilangkan kontradiksi itu maka keduanya dikompromikan (al- jam’u). kedua, Adapun cara Penyelesaian dan memahami hadis mukhtalif yaitu antara lain: 1. al-jam’u (kompromi), 2. Na>sikh wa al-Mansu>kh (meniaakan salah satunya), 3. tarji>h} (menggulkan salah satunya), 4. al-tawqi>f (mendiamkan keduanya). Ketiga, dalam Langkah al-jam’u, beberapa ulama memang sedikit berbeda, namun secara garis besar dapat disimpulkan bahwa penyelesaian dengan metode ini ialah dengan perangkat kebahasaan yakni takhs}i>s} al-‘amm, taqyi>d al-mut}laq, tafsi>r al-mujmal/mubham, hingga ikhtila>f al-muba>h}. Keempat, dalam memahami hadis melalui metode al-jam’u ini, ada empat pendekatan, yaitu pendekatan linguistik, kontekstual, korelatif, dan ta’wi>l.
ASPEK INFORMATIF PERFORMATIF HADIS SHUHRAH DALAM FILM NYENTRI: FILM PENDEK DARI HADIS RASULULLAH SAW
Fatichatus Sa'diyah;
Mohammad Lutfianto;
Takwallo Takwallo
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya perilaku Shuhrah yang semakin hari semakin banyak dilakukakan oleh manusia. Perilaku Shuhrah merupakan cara berpakaian manusia yang tidak seperti biasanya agar terlihat berbeda dengan bertujuan untuk menarik perhatian orang lain dan berlagak sombong. Perilaku Shuhrah ini merupakan perilaku yang tidak disukai oleh Nabi SAW dan bahkan disebutkan bahwasanya AllÄh SWT mengancam untuk memakaikan pakaian kehinaan di akhirat terhadap pelaku Shuhrah di dunia. Penelitian ini mengacu pada pengidentifikasian objek resepsi aspek fungsi Informatif dan performatif Hadis Shuhrah yang ada pada Film “Nyentri: Film Pendek dari Hadis RasulullÄh SAWâ€. Berdasarkan fokus penelitian yang telah dirumuskan, maka secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau mengidentifikasi aspek informatif dan aspek performatif sebagai bagian daripada salah satu metode living hadis resepsi terhadap hadis Shuhrah dalam film “Nyentri: Film Pendek dari Hadis RasulullÄh SAWâ€. Untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan tersebut, penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif jenis studi kasus sebab bertujuan untuk mendeskripsikan aspek informatif dan performatif atau bentuk resepsi hadis yanga ada dalam film “Nyentri: Film Pendek dari Hadis RasulullÄh SAWâ€. Hasil temuan atau kesimpulan pada penelitian ini adalah adanya hadis Shuhrah yang dibacakan oleh salah satu tokoh dalam film tersebut sehingga diidentifikasi sebagai resepsi aspek fungsi informatif, setelah penelusuran dilakukan terhadap hadis tersebut, ditemukan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibn MÄjah dan AbÅ« DawÅ«d dalam kitabnya. Selanjutnya adalah respon para tokoh terhadap hadis Shuhrah yang telah dibacakan dalam film tersebut sehingga hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai resepsi aspek fungsi performatif.
HISTORIOGRAFI HADIS PADA ABAD KE-11 H DALAM KITAB AL-BADR AL-TALI’ BI MAHASIN MAN BA’DA AL-QARN AL-SABI’ KARYA MUHAMMAD AL-SYAUKANI
farkhi khakim
Musnad : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini ditulis untuk mengetahui historiografi, pemikiran, dan metode yang digunakan Muhammad al-Syaukani pada kitab Al-Badr Al-Tali’ Bi Mahasin Man Ba’da Al-Qarn Al-Sabi’ tokoh abad ke-11. Metode yang digunakan adalah histori deskriptif analitis dengan studi pustaka, adapun obyek kajian yang diteliti adalah Al-Badr Al-Tali’ Bi Mahasin Man Ba’da Al-Qarn Al-Sabi’. Dari penelitian ini menunjukkan hasil bahwa dalam pemikiran Muhammad al-Syaukani berlandaskan pada madhab Syi’ah zaidiyah, walaupun dari beberapa gurunya juga mempengaruhi madhab ahli al-sunnah. Kitab Al-Badr Al-Tali’ Bi Mahasin Man Ba’da Al-Qarn Al-Sabi’ merupakan bentuk dari beberapa anggapan orang bahwa setelah abad ke-6 tidak ada mujtahid yang masih terus berlanjut, bahkan al-Syaukani mengumpulkan data sampai abad ke-13 H. Dalam kitab al-Syaukani menggunakan metode sesuai urutan huruf hijaiyah seperti kamus bahasa.